Sabtu, 13 September 2008

Kembalikan Pabrikku...



Oleh Frans Krowin

DI tahun 1980-an ketika Nusa Tenggara Timur (NTT) belum semaju saat ini, pemerintah propinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Ben Mboi membuat gebrakan yang hingga kini masih membekas di hati masyarakat. Dalam keterbatasan saat itu, Ben Mboi menghadirkan sebuah industri kimia dasar, yakni pabrik semen yang dikelola manajemen PT Semen Kupang.

Gaung pendirian pabrik itu menembus jauh sampai ke desa-desa. Di desa-desa, di mana dua tiga orang berkumpul, Semen Kupang menjadi salah satu bahan cerita yang hangat. Ketika itu Ben Mboi dipuji setinggi langit. Bagi warga NTT, membangun pabrik semen di NTT merupakan spirit yang digelorakan untuk memacu daerah ini agar maju dan berkembang seperti daerah lainnya di Indonesia.

Pabrik itu dibangun tahun 1982. Tak lama berselang, pembangunannya rampung. Sekitar Mei 1983, pabrik itu mulai uji coba operasi. Dan, 14 April 1984, pabrik itu diresmikan pengoperasiannya oleh Presiden RI, Soeharto.

Setahun, dua tahun pabrik itu berjalan kebutuhan akan semen di daerah ini mulai terpenuhi. Semen Kupang perlahan-lahan mengambil alih permintaan terhadap semen dari luar seperti Gresik dan Tonasa. Penguasaan pasar pun demikian adanya. Semen Kupang praktis menjadi satu-satunya semen, yang pada waktu itu, menguasai pasar daerah ini. Bahkan dalam perjalanannya pemasarannya merambah hingga ke Papua New Guinea (PNG).

Akan tetapi, kejayaan pabrik tersebut tak bertahan lama. Dalam perkembangannya, nasib pabrik itu bukannya membaik, malah memburuk. Pabrik itu terus dililit persoalan dari tahun ke tahun, hingga akhirnya berhenti beroperasi karena bangkrut. Ironisnya, pabrik itu bangkrut di saat usianya genap 25 tahun. Kita tentunya meratapi nasib pabrik ini. Sudah dibangun dengan susah payah oleh putera-putera terbaik NTT, sudah dikembangkan secara baik pula oleh manajemen pendahulu pabrik itu, tetapi akhirnya, di tangan putera-putera terbaik NTT pula, pabrik ini bangkrut. Sulit dipercaya.

Sekarang semua orang berteriak, semua orang menuntut agar pabrik itu segera dikembalikan ke peran awalnya sebagai penunjang akselerasi pembangunan di daerah ini. Tapi apakah mungkin? Sementara sampai saat ini, pemerintah belum menunjukkan keseriusannya mengembalikan keberadaan pabrik itu seperti dulu. Sampai kapan kita menunggu? Padahal, tuntutan dan desakan kemajuan semakin sulit kita bendung.

Tak perlu ada jawaban diplomatis dari siapa pun tentang ini. Yang dibutuhkan warga Flobamora sekarang adalah bagaimana pabrik semen Kupang kembali seperti dulu, bisa beroperasi dan membantu warga, minimal menetralisir harga semen yang kini melonjak tak terkendali.

***
Kasus yang dialami PT Semen Kupang saat ini sesungguhnya cerminan dari perjalanan panjang pertumbuhan sektor industri di daerah ini. Pada tahun 1970-an, di NTT sudah ada industri atau pabrik. Kita sebut misalnya pabrik sabun di Waiwerang, Adonara, Kabupaten Flores Timur dengan merek madame, pabrik sabun di Maumere, Sikka dengan merek matahari.

Sabun yang diproduksi di Waiwerang warnanya hijau. Jadi, kalau mandi tidak pakai sabun madame rasanya tidak bersih. Sabun madame itu adalah salah satu simbol kemajuan kala itu. Pabrik sabun itu bahan bakunya dari kopra, daging buah kelapa yang dikeringkan dengan cara dipanggang pada teriknya mentari.

Ada juga pabrik pengalengan ikan beku di Maumere milik PT Bali Raya, yang hancur berantakan ketika gempa bumi menerjang Maumere pada tahun 1992 silam.

Masih dalam konteks masa lalu, di Maumere, tepatnya di wilayah Nangahure, ada pabrik pengupasan kapas. Pabrik itu milik PT Perkebunan IV. Ibu-ibu di desa-desa di Flores Timur dan Ende selalu bilang harus ke Maumere untuk beli benang dari pabrik itu.

Tahun-tahun berikutnya, hadir lagi pengalengan ikan di Maumere. Pabrik itu dibangun karena NTT sangat potensial akan ikan. Tapi nasib pabrik ini pun lagi-lagi hanya seumur jagung. Pabrik itu berhenti beroperasi, entah karena apa.

Sementara di Pulau Timor, lain lagi ceritanya. Ada industri aneka dupa wangi di Kupang, yaitu pabrik pembuatan minyak cendana. Pabrik itu namannya Tropical Oil. Dulu, pabrik ini ada di Batakte. Pabriknya mengalami masa keemasan saat memproduksi minyak cendana, sekitar tahun 1990-an. Pabrik ini pun tak panjang usianya. Produksinya lambat laun meredup, bersama semakin kurangnya populasi kayu cendana, yang tumbuh dan berkembang di tanah milik para usif ini.

***
Bila merunuti timbul tenggelamnya kisah pabrik berskala kecil ini, sebenarnya kita bisa mendapatkan benang merah tentang pertumbuhan industri di daerah ini. Di saat NTT masih dalam serba keterbatasan, anak-anak kandung daerah ini mampu melakukan sesuatu yang baru bagi masyarakat. Dulu, ketika orang yang bersekolah, orang yang berpendidikan sarjana hanya segelintir orang, mereka mampu mengharumkan nama daerah ini dengan menghadirkan beberapa pabrik, meski usianya hidup begitu singkat.

Tapi sekarang, saat semua sudah maju, putera-puteri NTT banyak yang telah berpendidikan tinggi, yang terjadi justeru sebaliknya. Potensi yang ada tak mampu digali dan dikelola hingga menjadi kebanggaan masyarakat dan daerah ini.

Pertumbuhan industri yang dulunya pernah dirintis oleh generasi terdahulu, kini tak dapat ditumbuhkembangkan lagi oleh generasi sekarang. Bahkan potensi yang dulunya menjadi andalan daerah ini, kini hanya tinggal nama.

Potensi ternak, misalnya, sampai saat ini NTT hanya berpredikat sebagai salah satu gudang ternak di Indonesia. Tapi potensi itu hanya tetap menjadi potensi, karena sampai sekarang, pemerintah belum mampu menghadirkan sesuatu yang bisa mengolah potensi itu untuk menghasilkan produk ikutannya. Pabrik kulit, misalnya, sampai sekarang hanya ada di Jawa. Padahal, tak sedikit bahan baku pabrik tersebut dipasok dari NTT.

Pada diskusi membangun lokaekonomi NTT, Rabu, 18 Juni 2008, di Redaksi Pos Kupang, Alaimudin Kamaludin, salah seorang pengusaha yang menggeluti usaha pembuatan sepatu, menuturkan, setiap kali membeli bahan baku pembuatan sepatu di Surabaya, ia selalu dicerca dengan penilaian NTT bodoh.

Penilaian itu muncul karena bahan yang dibeli untuk membuat sepatu itu, justru didatangkan dari NTT. Jadi, NTT mengirim kulit ternak ke Surabaya, setelah itu dikembalikan lagi ke NTT dalam bentuk bahan jadi, dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. "Mengapa kita tidak membangun industri pengolahan kulit di NTT? NTT kan punya potensi dan itu sangat mungkin. Kita pasti bisa," tuturnya.

Selain itu, NTT punya potensi untuk budidaya jagung. Tapi optimalisasi potensi itu hingga kini belum dilakukan. Padahal, jika jagung dikembangkan secara baik, itu bisa menjadi sumber untuk industri pakan. "Bukankah selama ini, pakan ternak masih kita datangkan dari Jawa," tantang Alaimudin.

Berbicara tentang industri, kita harus akui bahwa yang ada di NTT ini hanya berskala mikro, kecil dan menengah (MKM). Data yang diperoleh Pos Kupang menyebutkan, dalam lima tahun terakhir, jumlah industri MKM di daerah ini cenderung bertambah.

Pada tahun 2003, sebanyak 40.893 unit usaha, tahun 2004, naik menjadi 42.481 unit usaha, 2005 bertambah lagi menjadi 47.326 unit usaha, tahun 2006 berkurang jadi 44.656 unit usaha, kemudian tahun 2007 naik lagi jadi 47.120 unit usaha.

Menilik banyaknya industri MKM ini, jumlahnya boleh dibilang cukup mencengangkan. Hanya nilai investasinya tak seberapa. Khusus tahun 2007, dari 47.120 unit usaha, jumlah tenaga kerja yang diserap 97.077 orang, nilai investasi Rp 1.426.685.710,58. Sementara nilai produksi Rp 830.943.971,38 dan nilai bahan baku Rp 473.638.063,69.

Jenis industri yang ada, yakni industri sandang, seperti konveksi, tenun ikat, usaha sepatu dan lainnya. Industri pangan, seperti pengolahan dendeng, abon, dodol, madu, minyak kelapa, usaha tahu tempe, es, pengolahan daging beku, sirup, minyak atsiri (minyak kayu putih), industri pengolahan kopi, industri pengolahan ikan, dan industri gerabah. Industri logam dan elektronik, seperti perbengkelan dan pandai besi. Industri kerajinan, seperti tenun ikat, anyaman, dan pembuatan sasando.

Yang jadi pertanyaan, apakah kita cukup dengan industri MKM yang ada selama ini? Puaskah kita dengan eksistensi MKM itu, padahal perkembangannya demikian seret, tak seperti yang kita harapkan?

Di saat NTT memasuki usia emas tahun ini, kita perlu membangun komitmen untuk melakukan yang terbaik bagi daerah ini. Kita merajut kembali mimpi-mimpi para pendahulu untuk menghadirkan pabrik-pabrik sesuai potensi yang ada di NTT, meski pabrik itu berskala kecil. Hal itu untuk melecut pembangunan daerah ini, mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat agar terus berkembang. Untuk itu, Pemerintah Propinsi NTT di bawah kepemimpinan Gubernur Drs. Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Ir. Esthon Foenay, tampil sebagai lokomotif untuk memulainya dengan rencana dan aksi guna mewujudkan mimpi NTT yang lebih baik di masa-masa mendatang. (Pos Kupang/13/9/2008)

Jumat, 12 September 2008

19 Atlet PPLP Dipulangkan

SEBANYAK 19 atlet Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTT dipulangkan ke daerah asalnya. Alasannya, karena tidak ada peningkatan prestasi dan juga usia yang sudah lewat.

Demikian dikemukakan tim independen PPLP NTT, Drs. Nurdin Badu, M.For (koordinator), Drs. Lambert Tukan, M.M (anggota) dan Drs. Lukas M Boleng, M.Kes (anggota) di Sekretariat KONI NTT, Selasa (9/9/2008).

Menurut Nurdin, atlet yang dipulangkan berasal dari cabang atletik lima orang, tinju (4), pencaksilat (8) dan sepaktakraw dua atlet. Mereka yang dipulangkan, yakni dari atletik, Christian Bana, Katarina Banu, Melidianus Tampani, Marthen Baunsele dan Fransiskus Radja. Cabang tinju, Erens Neolaka, George Banabera, Mathias Banik, dan Reverson Abineno. Cabang pencaksilat, Leosius Klau Taek, Dedimus Leda, Zainudin Hasan, Apolonius Laboni, Yanuarius Sika, Matheus Asa, Abdul Gafur Bolos dan Muhamad Bunga. Sementara dari cabang sepaktakraw, yakni Roslina Dida dan Sara Do Rego.
"Untuk cabang pencaksilat, atlet yang ada di PPLP semuanya dipulangkan. Selain karena umur, juga karena dalam pemantauan kami dari empat cabang yang ada di PPLP, prestasi pencaksilat tidak ada peningkatan. Semua atlet yang dipulangkan ini biaya pemulangannya ditanggung pengelola PPLP, termasuk surat pindah sekolah," jelas Nurdin.

Untuk mengisi kekosongan ini, kata Nurdin, telah dilakukan proses seleksi dan pemantauan. "Proses seleksi sudah kami lakukan dengan mengundang daerah- daerah membawa atlet agar diuji kemampuan umum dan kecabangannya. Kami juga melakukan pemantauan dari beberapa kejuaraan dan ada beberapa atlet yang direkomendasikan untuk bergabung. Pemanggilannya nanti setelah proses pemulangan ini selelasi," jelas Nurdin. (eko)

Minggu, 07 September 2008

Listrik Bekin Susah

DUDUK di bawa pohon tambaring, Ama Jola maloe ana sakola dong ada maen bola. Baptua sonde tau mau beking apa. Mata ke masih barat buka.

Baptua paksa bangun sa na. Tadi malam baptua tidor lat na. Ko listrik mati dari jam anam, bilang jam sapuluh mau idop. Tau-tau jam seblas lewat baru manyala. Andia ko baptua karja sampe amper siang.

Ma andia, Ina Feok sonde mau tau. Paling lama jam anam lu musti bangun na. Ama Jola ju sonde mau baribut na. Dari pada kapala pusing, lebe bae iko sa, bangun sadiki baru tidor lai to. Makanya baptua beking dadegu deka pohon tambaring, supaya kalo sonde tahan na langsung tidor di situ.
Dudu sonde sampe stenga jam, takuju baptua dengar bunyi oto pemadam ngeok- ngaok lewat. "Apa yang tabakar e." Ama Jola tanya Ina Feok yang ada bacuci piring. "Sonde tau, beta dengar bilang ruma yang tabakar."

Ina Feok omong balom abis, Ama Mata su batarea dari jao. "We bosong pi liat itu rumah do, rata dengan tanah. Oto pemadam mau siram ma sonde ontong, menit sa su barisi."

"Ko kanapa ko bisa tabakar e." Ina Feok kalo su bagini paling cerewet na.
"Dong bilang lilin jato dari atas almari, pegang kana ispare langsung nae su. Listrik mati na, andia ko dong bakar lilin."

Dengar Ama Mata bilang listrik pung gara-gara, Ama Jola malompat bangun ke do'i kas badiri dari atas dadegu. "Itu su, kitong malam-malam karja sonde bisa tenang. Listrik tau kanapa ko mati tarus. Kitong pung barang-barang di kantor su ancor samua, ko ais listrik takuju-takuju mati sa na. Dari taon pi taon tau dong bekin apa sa ko doi banyak-banyak sonde bekin bae itu barang dong." Ama Jola mangomel panjang na.

"Itu su ama e. Beta tadi mau pi tarek rambut di Noni pung salon su sonde bisa na. Beta sampe di sana mamtua ju dengar lagu pake ha pe sa, ko ais mau karja listrik mati na. Andia ko beta pung rambut masih tasiram bagini." Ina Feok omong ma ada bagoyang rambut na.

"Lu hanya ingat itu sa. Orang omong yang penting lu inga mau bastel sa. Lu pi bamasak do." Ama Jola yang masih kakodok su nae dara na.

Ina Feok sonde mau basambung mulut, malenggang pi dapur. Ma andia, tau to parampuan pung mulut, mangomel tarus. "Lu andia ko sonde mau beta iko baomong, supaya takuju na baajak ko pi maorok laru su."

Ama Jola sonde toe. Rokok GG merah dia ame ko bakar pake Ama Mata pung petek. Itu asap kaluar dari mulut deng idong su knalpot oto taon antoni dong. "Beta su bilang mai tua ko ini bulan jang bayar listrik do. Biar dong datang tagi baru lia. Tarlambat bayar denda, listrik mati ko barang rusak, mana dong mau ganti. Beta ju ada mata-mata sang dong deng itu uang denda. Beta mau kastau beta pung parte wartawan ko cari tau do. Dong bilang denda ma sonde ada koitansi. Bayar 15 ribu ma di koitansi 13 ribu, itu dua ribu dong bawa pi mana sonde jalas."

Ama Mata yang memang buta huruf hanya tanganga sa. Bapa tua kalo su baomong bagitu hanya dengar sa, ma andia, Ama Jola pung GG merah dong ilang satu-satu. Omong pi-omong datang, dong dua diam-diam su manghadap laru dua botol. Ina Feok pung ikan karing yang jamur di atas para-para, dong su pake buat sabat na.

"Beta mau usul sa, Pe El En tu ganti nama sa. Perusahaan Listrik Negara jadi Pakaneo Listrik Negara. Ko ais urus sonde tau bae-bae na. Kalo listrik mati, takuju orang pung rumah tabakar, sapa yang tanggung. Itu orang dong harus tau diri sadikit. Lia orang dong manangis harus iko rasa, biar supaya berubah sadikit." Tau to kalo laru yang baomong! (sipri seko)

Pertahankan Kehormatan Olahraga


Oleh Sipri Seko

JOHNI Asadoma tak pernah melupakan mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe yang memberinya uang Rp 250 ribu pada tahun 1993. Saat itu ada program dari Musakabe untuk mendata kembali semua atlet yang pernah mengharumkan nama NTT di tingkat nasional maupun internasional. Prestasi mereka dihargai meskipun kecil nilainya.

Johni tidak mendapatkan bonus sepeserpun dari Pemerintah Propinsi (pemprop) NTT saat masih aktif bertinju. Padahal, Johni Asadoma adalah atlet NTT dengan prestasi membanggakan. Dialah atlet NTT pertama yang merebut medali emas SEA Games XII 1983 di Singapura. Dia juga menjadi atlet NTT pertama yang ikut Olimpiade. Johni akhirnya gantung sarung tinju saat masih berjaya karena dia lulus masuk Akabri. Artinya, dia tidak pernah meninggalkan NTT.
Tidak demikian dengan Eduardus Nabunome, Osias Kamlasi, Ahmad Sake, Oliva Sadi, Fery Subnafeu, Kamilus Lero, Mansyur Yunus, Yules Pulu. Tak puas dengan perhatian daerah yang minim, bersama ratusan atlet asal NTT lainnya, mereka hijrah ke daerah lain.

Ada rasa sakit hati dari para pengurus olahraga di NTT melihat mereka pindah tanpa kompensasi. Keringat yang mengalir saat membina mereka seperti tak dihargai. KONI NTT tidak punya kuasa untuk menahan mereka. Demi masa depan, biarkan mereka memilih! Dan, di daerah baru prestasi mereka tidak surut.

***
MELALUI olahraga prestasi, kehormataan Nusa Tenggara Timur tegak berdiri. Sampai detik ini.Sejak pertama kali mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) V tahun 1961 di Bandung. Prestasi dicatat Wempy Fonay yang menyabet satu medali perak dari nomor lempar cakram dan medali perunggu dari tolak peluru.

Di PON VI, Wempy Foenay menguasai nomor lempar cakram nasional dengan rekor 33,2 meter dan baru pecah pada tahun 1973 oleh atlet DKI Jakarta, Sri Numini. Prestasi nasional sebenarnya sudah dicatat Wempy sejak zaman Propinsi Sunda Kecil. Ia menjadi juara I Piala Angkatan Perang 1955, medali perak PON IV 1958 di Makassar dan lainnya. Untuk tingkat internasional, Wempy merebut medali perunggu Asian Games 1964 di Jakarta dan juara I Ganefo di Jakarta.

Selain Foenay, NTT memiliki sejumlah olahragawan legendaris seperti Mathilda Fanggidae, Mace Siahainenia, Rony Mello, Ratmini, Welmince Sonbay, Theo Rodja, Ruben Ludji, Amos Kamesah, Eduardus Nabunome, Hermensen Ballo dan

nama lain yang merupakan terbaik Indonesia di kelas dan nomornya. Dengan peralatan sederhana, sarana prasarana terbatas dan tanpa bonus, para atlet NTT yang termotivasi bisa keliling Indonesia tanpa keluar biaya, berlatih tekun dan mengharumkan nama Flobamora.

Sekarang sudah berubah. Kalau dulu olahraga sekadar sport atau untuk kesehatan, sekarang cakupannya sangat luas. Olahraga mengandung unsur bisnis dan hiburan. Fakta menunjukkan olahraga tidak lagi bermakna tunggal.

Pierre de Coubertin, pria Perancis yang memelopori penyelenggaraan Olimpiade tahun 1896 di Athena Yunani mungkin tidak membayangkan ajang Olimpiade begitu berkembang seperti sekarang ini. Di Indonesia, Presiden Soekarno memelopori penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) sebagai sarana pemersatu anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Setiap kali digelar, hati tiap atlet ikut bergetar. Ada rasa bangga yang tulus. Ada kehormatan yang menyelimuti sanubari. Mereka berlaga tak sekadar demi kebanggaan daerah, tapi juga mempertebal semangat nasionalisme. Waktu berlalu, muncul suasana baru. Yang kokoh justru primordial. Rasa bangga dan ambisi penguasa daerah menjadi prioritas. Dari sisi atlet pun demikian. Banyak yang tak peduli lagi di mana ia lahir dan dibina. Orientasi bergeser, prestasi tinggi mesti diimbangi takaran komersial dan materi. Banyak atlet terkontaminasi tuntutan gaya hidup. Mereka bersedia membela satu daerah asal mendapatkan penghasilan besar. Akibatnya, pembinaan atlet menjadi terbengkalai.

Tudingan penyelenggaraan PON hanya hura-hura nasional menghabiskan ratusan miliar memang benar. Kualitas dan prestasi PON terus menurun. Yang semakin menonjol justru seremonial dan permainan politik. Bukti lainnya, prestasi olahraga Indonesia di aras dunia anjlok. Kalau Johni Asadoma dan Hermensen Ballo pernah ikut Olimpiade, di Olimpiade Cina bulan Agustus 2008, Indonesia tanpa atlet tinju. Situasi semacam itu juga terjadi di NTT. Prestasi olahraga Flobamora menurun bila merujuk pada hasil PON terakhir.

***
APA yang kita lakukan sekarang? Sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, ada kewajiban pemerintah untuk mengalokasikan dana bagi olahraga. Dana bukan hanya untuk pembinaan tapi penghargaan atas prestasi atlet. Perintah UU tersebut belum sepenuhnya direalsisasikan di NTT.

Prestasi spektakuler di PON XVI 2004 sirna begitu saja ketika gelombang hijrah atlet-atlet terbaik NTT tidak bisa dibendung. Pengalaman pahit itu kiranya tidak terulang. Ada beberapa catatan kecil bagi pengurus dan pelaku olahraga NTT pada ulang tahun ke-50 propinsi ini.

Pertama, pembinaan yang fokus. KONI NTT sudah menetapkan cabang super prioritas, prioritas, unggulan dan non unggulan atau olahraga prestasi dan olahraga masyarakat. Tapi melihat sejarah prestasi NTT, fokus pembinaan harus lebih diarahkan untuk cabang olahraga atletik dan beladiri. Untuk beladiri harus ada skala prioritas, merujuk pada prestasi yang telah dicapai. Di sini alokasi anggaran untuk cabang atletik dan beladiri haruslah yang terbesar. Impian kita dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, NTT sungguh menjadi barometer prestasi cabang atletik dan beladiri. Seperti Kota Kudus di Jawa Tengah terkenal sebagai kota yang melahirkan atlet bulutangkis tingkat dunia, atlet atletik dan beladiri (tinju, kempo, taekwondo, silat, dan lainnya) harus lahir dari NTT.

Kedua, bidang penelitian dan pengembangan dimaksimalkan. Buat dan petakan potensi olahraga berdasarkan daerah. Bila perlu dirikan laboratorium olahraga di NTT. Ini dengan target menjadikan NTT sebagai model pembinaan cabang atletik dan beladiri bagi Indonesia. Tirulah Kuba yang lebih miskin dari NTT namun merupakan laboratorium tinju dunia atau Brasil yang menjadi idola tua muda sejagat karena prestasi sepakbolanya yang menyihir.

Ketiga, perbanyak try out. Di Indonesia, cabang bulutangkis selalu mempersembahkan medali di ajang internasional. Mereka berprestasi karena sudah biasa ikut ajang internasional. Suhu dan tekanan pertandingan saat Olimpiade, Asian Games atau SEA Games sudah jadi kebiasaan mereka. Atlet-atlet NTT harus dibiasakan dengan iklim pertandingan yang ketat.

Keempat, apresiasi terhadap atlet dan pelatih. Gebrakan pasangan Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay memberikan bonus besar kepada atlet peraih medali PON XVII dan Porcanas VIII harus dipertahankan. Lihat saja kebanggaan semu anak-anak NTT ketika melihat Fery Subnafeu dkk merebut medali emas bagi Kalimantan Timur di PON XVII lalu. Jangan terulang! Keringat dan darah yang mengalir saat berlatih di NTT harus menjadi kebanggaan Bumi Flobamora bukan untuk orang lain. Takkan ada yang memrotes atau marah kalau mereka yang berprestasi dihargai bukan hanya sebatas bonus uang, tapi disediakan lapangan kerja.

Kelima, jadikan olahraga sebagai kebanggaan daerah. Hanya olahraga yang bisa mengibarkan panji Flobamora di Indonesia dan dunia. Tugas ini menjadi tanggungjawab seluruh masyarakat NTT. Di usia emas tahun 50 tahun, saatnya NTT Bangkit lagi di bidang olahraga. Kehormatan itu harus kita pertahankan dan tingkatkan lagi sesuai tuntutan zaman. Salam Olahraga! **

Jumat, 05 September 2008

Sunat Perempuan

Tanya:

Dok, mohon penjelasannya mengenai sunat perempuan. pa benar perempuan bisa disunat, apanya yang dipotong? Apa ada efek dari kesehatan juga... Terima kasih, Dewi

JAWAB :
Masih banyak yg kontra dan pro... tapi secara medis sebenarnya "tidak ada yang dipotong", seandainya ada tindakan adalah kalau masih ada kulit yang menutup klitoris, maka tinggal dibeset sedikit sehingga si klitoris terbuka .... hanya itu. Dan perlu diketahui sebagian besar wanita klitorisnya sudah terbuka dari tutupnya.... hanya sebagian kecil sekali yang kadang masih menutup...

Dr.Ferry.
(astaga.com)


Bila Babi Bertato


TATTO di tubuh manusia mungkin sudah biasa. Tapi apa jadinya jika seorang artis justru mentatoo binatang babi? Pastinya luar biasa. Itulah yang dilakukan Wim Delvoye, warga Belgia yang tinggal di Beijing, China.

Hasilnya, Pusat Pameran Shanghai telah setuju untuk memamerkan karya tatoo di tubuh babi tersebut untuk acara Contemporary Art Exhibition 2008. Tentunya dengan syarat, babi-babi tersebut tidak berperilaku buruk.


Menurut People, Wim memelihara delapan ekor babi sejak kecil dan mentatoo-nya. Menyebut karyanya sebagai 'Art Farm', dua diantara karya tatoonya adalah logo Louis Vitton. "Melihat karya kecil tumbuh bersama dengan babi-babi itu sangat luar biasa," katanya.

Seorang juru bicara untuk Galeri New Beijing mengatakan bahwa babi-babi hidup itu tidak untuk dijual, tapi kulit mereka kemudian nanti bisa terjual hingga 60,000 poundsterling/satu ekor babi.

Konon, selama pameran berlangsung ke delapan babi itu harus mengenakan tabir surya untuk menghindari teriknya panas matahari. Wah.. wah... wah... (astaga.com)

Selasa, 02 September 2008

Simplisius Paji Abe Spektakuler


LUAR biasa! Pujian ini patut diberikan kepada atlet cacat NTT, Simplisius Paji Abe. Setelah sukses merebut medali emas nomor lari 100 dan 200 meter, atlet tunadaksa ini kembali merebut medali emas nomor lompat jauh Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) 2008 dalam lomba di Stadion Utama Palaran, Samarinda-Kalimantan Timur, Rabu (6/8/2008).

Wakil Sekretaris Umum KONI Propinsi NTT, Eduard Setty, dari Samarinda, usai lomba mengatakan, dengan hasil ini, maka Simplisius sudah berhasil merebut tiga medali emas. Simplisius merebut medali emas lompat jauh tunadaksa, dengan jarak lompatan, 5,05 meter. Medali perak direbut Rasydin (Aceh), dengan jarak lompatan 4.82 meter dan perunggu, Decky dari Sulawesi Utara, dengan jauh lompatan 4,70 meter.
`
"Ini adalah hasil yang sangat spekatuker. Seorang atlet cacat bisa merebut tiga medali emas sama seperti yang diraih atlet normal. Saya pikir prestasi ini harus dihargai dengan sepantasnya," ujar Setty.

Simplisius yang dihubungi melalui pelatihnya, Budi, tidak mau berkomentar banyak tentang prestasi yang diraihnya tersebut. "Dia hanya ingin berbuat yang terbaik bagi NTT sesuai kemampuan yang dimilikinya. Dia hanya ingin agar dengan prestasi yang telah dicapainya ini mendapat perhatian dari pemerintah. Dia tidak butuh sanjungan dan pujian, tapi dia ingin diberikan pekerjaan yang layak sesuai dengan sertifikasi yang dimilikinya, yakni service alat-alat elektronika," ujar Budi.

Menurut Eduard Setty, selain prestasi Simplisius, NTT juga mendapat tambahan satu medali perak dan satu perunggu. Medali perak direbut Maria Kolloh dari nomor lari 400 meter tunarungu dan perunggu oleh Tanty Yosefa juga dari 400 meter tunarungu. Medali emas nomor ini direbut oleh Sulastri dari Jambi.

"Peluang merebut medali masih terbuka bagi NTT, karena besok (hari ini) Damianus dan Lembert masih akan tampil di nomor lompat jauh tunadaksa. Saat ini mereka sangat siap untuk bertanding, sehingga kita harapkan jangan ada halangan non teknis seperti Sarlin Amalo yang cedera kaki," ujar Setty. (eko)

Data Diri
Nama : Simplisius Paji Abe
Lahir : Adonara, 13 Mei 1981
Ketrampilan : Service eletronika
Cabang : Atletik
Prestasi : Porcanas 2004 di Palembang, medali emas lari 100 meter dan lompat jauh. ASEAN Paragame 2005, medali emas lari 100 meter dan lompat jauh, medali perak lari 200 meter. Porcanas 2008 di Samarida, medali emas lari 100, 200 meter dan lompat jauh.

Porcanas XIII 2008, NTT Peringkat 18


HINGGA pertandingan dan perlombaan, Kamis (7/8/2008), NTT berada di posisi 18 klasemen sementara perolehan medali Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) XIII 2008. NTT meraup tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. Demikian diinformasikan Wakil Sekretaris Umum KONI Propinsi NTT, Eduard Setty, dari Samarinda, Kalimantan Timur.

"Pada perlombaan hari ini (kemarin) Lambertus dan Damianus tidak berhasil merebut medali di nomor lompat jauh. Demikian juga dengan Victor Haning dari cabang catur. Dengan demikian, semua atlet NTT sudah selesai bertanding dan akan membawa pulang tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu," jelasnya.

Tiga medali emas NTT semuanya disabet Simplisius Paji Abe dari cabang atletik nomor lari 100 dan 200 meter serta nomor lompat jauh. Medali perak direbut Maria Kolloh dari nomor lari 400 meter sedangkan perunggu oleh Tanty Yosefa juga dari nomor lari 400 meter putri tunarungu. Dalam Porcanas XIII 2008 ini, NTT membawa sepuluh atlet, yakni dari cabanga atletik, Simplisius Paji Abe, Damianus Kia Masan, Lambert Sabon Blaon, Sarlin Amalo, Maria Kolloh, Tanty Yosefa, Heidi Julia Rafael dan Alexander Amtiran. Dari cabang catur, Victor Haning dan Samuel Killa.

"Atlet NTT akan kembali ke Kupang tanggal 10 Agustus ini. Mereka akan langsung disambut Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay dan semua pengurus KONI di Bandara El Tari Kupang. Belum ada keputusan berapa dan berupa apa bonus yang diberikan kepada para peraih medali, tapi yang jelas pasti akan ada bonus yang diberikan," kata Setty. (eko)

Senin, 01 September 2008

Mandi di Kali Kaca

AMA Tobo su pake celana renang deng reben. Tua rencana mo pi mandi di Pante Kelapa Lima. Dia rencana dar ruma pake itu pakian memang. Ko mo pusing apa ju eee. Biar orang di jalan lia heran deng tahedek ju tua son farduli.

"Lu son malu sadiki ko. Maksot apa hanya pake itu celana color sa. Mo pasmen ko. Ato mo bekin kaco itu ana muda di jalan sana," Ina Feok omong dia pung laki. Ma Ama Tobo son huhe ju. Tua mala maken bagaya, maken PeDe.

"Ma..mi. Bisa antar sang beta ko," Ama Tobo basengaja ajak dia pung bini. Dia pung cara tu supaya Ina Feok jang talalu bacuriga deng dia. Ma Ina Feok maken manyala. "Ko lu mo pi bagatal na neu," maitua masparak Tobo dengan suara ton tinggi.


Ma Tobo pung cara omong tu laen lai. Dia bilang kalo mau na pulang mandi langsong singga pi toko apa ko untuk beli gelas deng piring. Ini karena su berapa hari dong makan taro di landas sa. Ko piring samua su pica na.

Pas jalan, Tobo tanya Ina Feok. Mo pi mandi di Pante Kelapa Lima, Pante LLBK, Pante Lasiana ato Kali Dendeng. Kalo samua pante Ina Feok bilang dia su parna pi. " Ketong pi Kali Dendeng sa. Bisa ko bu," ini kali dia panggel Ama Tobo sebage bu.

"Beta ju satuju. Ko itu tampa be belom perna pi na. Ketong pi lia. Bilang pamarenta dong mo bekin sebagai kolam renang untuk warga kota," Tobo anggok kapala ulang-ulang. Partama karena dia son perna pi. Kadua banya orang bacerita bilang itu tampa baek. Tiap hari libur deng hari Minggu samua orang kas ponu.

Dong dua laki bini ju pergi. Kamudian di deng puas di itu tampa. Maitua ju bilang kalo pamarenta dong mo pake sebagai obyek wisata musti benahi deng baek. Bekin itu tampa ganti, kamar WC deng hal laen. Musti ju kas tunjuk itu tampa untuk ana kici deng orang besar dong mo mandi. Trus Ina Feok bilang lai, pamarenta kas orang yang kalola tu deng baek. Jang sampe hanya kas bunyi peluit sa. Sama deng patugas parkir dong.

Kalo yang namanya fasilitas umum tu, pelayanan musti kasi deng baek. Kalo orang datang na layani deng baek. Patugas dong jang basuka mara karena nanti orang dong bisa lari.

Pas pulang dong dua laki bini maen jalan lenggang kangkong sambel bapelok. Ma ini kali Tobo son pake pakean renang lai. Ko ada maitua. Kalo mo iko mau nanti tau sa to. Maitua bisa masparak, bisa ju nae tangan. Lia maitua bagitu Tobo rencana mo pi lapor polisi. Sakarang tu dunia aga tabale. Bini dong yang maen papoko laki. Kacian-kacian de lu. (thomas duran)

Mari Urus Halaman Rumah Kita

Oleh Paul Burin

"KUPANG sebagai kota tua yang bermodal gede menjadi kota besar yang cantik, memang asli banget tidak didukung warga kotanya. Kesadaran warga sebagai anak tanah untuk ikut mendukung program merawat, sambil mengembangkan kotanya serta ikut bebersih dan berbenah-benah, demi keasrian lingkungan hidup sang kota, rasanya masih jauh dari harapan normal".

Itulah kritikan wartawan senior Rudy Badil melalui tulisannya di Harian Kompas edisi Senin 17 Oktober 2005.
Di bagian lain tulisannya yang diberi judul "Anak Tanah Kota Kupang" itu Rudy Badil melanjutkan kritiknya, "... Kupang sebenarnya tambah tahun tambah kumuh, juga rada ngacak tata kotanya. Kota itu boleh dikata tidak ada apa-apanya lagi dalam urusan konservasi dan pelestarian alam kotanya. Bangunan hunian, perkantoran, dan gedung lainnya kebanyakan hanya merupakan hiasan kota tanpa kejelasan makna artistiknya, serta tidak karuan sentuhan inti estetikanya. Celakanya lagi, kerumunan bangunan orang kota itu sama sekali tidak diimbangi dengan keteduhan dan kehijauan tanaman lingkungan perkotaannya".

Dalam beberapa kali diskusi terbatas, Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra menyebut kota Kupang sebagai kota yang "tidak berjenis kelamin". Tidak terlihat gairah penghuni kota untuk memoles kota ini agar terlihat jelas sebagai "kampung halaman" orang NTT. Bangunan-bangunan di kota ini tidak punya "makna artistik", meminjam istilah Rudy Badil.

Juga tidak ada lagi bekas-bekas yang menandakan bahwa kota ini menyimpan sejarah suku Helong dan rajanya sebagai penghuni pertama. Padahal, nama kota ini diambil dari Nai Kopan/Lai Kopan, Raja Helong. Belanda menyebut Kopan ini dengan Koepan dan dalam perkembangan bahasa menjadi Kupang (http://www.kotakupang.com/webkota/).

Kita tidak boleh melupakan sejarah. Apalagi mengabaikan pemilik nama kota ini, Raja Lai Kopan. Nenek moyang tak boleh dibuat marah, sebab kita bisa kualat.


***
Dua hari setelah kita merayakan HUT ke-63 RI, tiga bangunan toko di Jalan Siliwangi, rubuh di saat subuh menjelang. Ambruknya toko di "halaman rumah raja Helong" itu tentu bukan karena Raja Lai Kopan murka. Itu akibat ibukota propinsi ini mungkin salah urus. Pantai tak lagi diberi ruang yang cukup agar ombak bisa mendatangkan keindahan dan kenyamanan bagi warga.

Ambruknya tiga bangunan toko itu pertanda bahwa manusia tidak boleh melawan alam. Manusia harus menyesuaikan diri dengan alam. Jika kita terus bertahan dan "melawan" gulungan ombak sepanjang Jalan Siliwangi itu, maka entah apa yang terjadi 10, 20 atau 30 tahun yang akan datang.

Kawasan sepanjang Siliwangi merupakan kawasan kota tua. Punya nilai sejarah dan patut dilestarikan. Langkah-langkah yang diambil adalah melakukan konservasi dan revitalisasi. Konservasi adalah upaya untuk mengembalikan dan kemudian mempertahankan fungsi dan citra dari suatu kawasan bersejarah. Sedangkan revitalisasi adalah upaya meningkatkan dan memperbaiki kondisi lingkungan agar kekhasannya tetap ada.

Pemerintah Kota Kupang pun telah mengidentifikasi kawasan ini untuk segera ditangani. Ada beberapa kawasan yang masuk dalam kategori penanganan, yakni kota tua, kawasan Lasiana, kawasan Kuanino, kawasan Jalan El Tari dan rumah dinas Walikota Kupang.

Tetapi melalui serangkaian penelitian, Pemkot Kupang menetapkan Kawasan Kota Tua sebagai prioritas. Pertanyaannya, apakah upaya ini sudah diwujudkan? Rasanya masih jauh dari harapan. Kita belum melihatnya mulai dari kawasan Benteng Concordia, Kali Dendeng, koridor Jalan Soekarno bagian utara, koridor Jalan Sukarno bagian selatan, koridor Jalan Siliwangi, Pantai Kampung Solor dan koridor Jalan Garuda.

Dalam buku penyusunan detail engineering design, disebutkan bahwa penataan kawasan Kota Kupang, terutama kawasan kota tua harus dilakukan karena merupakan kawasan bersejarah. Tempat ini, dulu kala dihuni suku Helong, kemudian orang Cina, warga asal Pulau Solor dan etnis Arab. Orang Helong menghuni kawasan yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan LLBK.

Etnis Cina yang berdagang di sana membentuk pemukiman di wilayah LLBK, dekat Benteng Concordia. Pelaut-pelaut asal Solor menghuni kawasan pantai yang saat ini disebut Kampung Solor. Sedangkan etnis Arab yang juga datang berdagang dan menyebarkan agama, menempati kawasan di Kelurahan Air Mata. Di sinilah masjid pertama Al Kudus dibangun.

Pusat-pusat pemukiman tua itu pun membekas melalui bangunan-bangunan rumah ibadah. Di Kelurahan Air Mata, berdiri masjid pertama, Al Kudus. Di kawasan LLBK ada Gereja (tua) Kota Kupang.

Dari beberapa fakta sejarah ini kita mencatat bahwa wilayah ini memiliki sejumlah kelebihan. Di sini menjadi awal kota ini, menjadi pusat perdagangan dan pariwisata. Juga aktivitas religius ditunjukkan dengan keberadaan fasilitas keagamaan masjid, gereja dan kelenteng.

Yang kita harapkan adalah kerja keras pemerintah untuk menata kawasan ini agar tetap mempertahankan kelestariannya. Tentunya wilayah lain di kota ini perlahan tapi pasti mulai ditata pula.

Pemerintah dapat menata kota ini dari aspek fasilitas bagi pejalan kaki, menyediakan fasilitas penyeberangan dan tempat tunggu angkutan, drainase yang baik, menyediakan tempat-tempat sampah, lampu jalan, papan nama dan petunjuk arah serta menghindari kawasan kumuh yang semakin terasa di kota ini. Juga menanam pohon dan membuat taman kota.

Kupang sebagai ibukota Propinsi NTT, "kampung halamannya" orang NTT tidak boleh kehilangan halamannya. Sebab kota bukan kerumuman bangunan bertingkat. Kota, sejatinya adalah halaman yang harus punya halaman. Halaman tempat anak-anak kota bermain bola kaki, bermain bola kasti atau bola voli. Agar anak-anak kota tak hanya manfaatkan waktu hujan untuk main bola di jalan-jalan raya.

Lasiana harus diurus dengan benar dan profesional agar layak menjadi teras samping timur kota ini. Di sana tetamu kita dari mancanegara, pun kita sendiri yang ingin menikmati jagung bakar, bisa berjemur diri di pantai nan indah itu. Pantai Namosain, Pantai Teddy's, juga demikian. Jangan tutup pemandangan ke arah pantai. Janganlah mendirikan bangunan bertingkat menghalangi pandangan ke pantai. Pantai adalah hak semua orang untuk menikmatinya setiap saat.

Kawasan Penfui, halaman rumah kita yang menjadi saksi kecamuk Perang Dunia butuh penataan agar asri dan bernilai. Bunker-bunker Jepang yang tidak diurus itu kita pugar karena itu situs bersejarah. Intinya, pada usia emas NTT tahun ini tak haruslah kita berpikir berbuat sesuatu yang mewah. Mari mulai menata ibu kota kita, Kupang, agar halamannya indah, sejuk nan asri. Mewujudkannya menjadi kota yang manusiawi sampai 50, 100, bahkan hingga 1.000 tahun yang akan datang.*

SYALOM