Rabu, 06 Agustus 2008

Tunas Muda Punya Kebanggaan


HARUS diakui bahwa SSB Tunas Muda telah ikut merubah wajah sepakbola di Kota Kupang, bahkan mungkin di NTT. Hampir sebagian besar klub di Kota Kupang, kini memiliki pemain-pemain jebolan SSB Tunas Muda. Tak heran kalau sang pelatih sekaligus manajer tim, Anton Kia, bangga salah satu tim peserta Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini.

"Kali ini SSB Tunas Muda akan turun dengan pemain berusia 19 tahun ke bawah. Kami akan menurunkan pemain yunior untuk menambah pengalaman mereka. Para pemain ini juga akan memperkuat PSKK di El Tari Cup dan kejuaraan tiga kota di Darwin bulan September nanti. Menjadi sebuah kebanggaan ketika saya bisa menampilkan pemain-pemain yunior yang akan berhadapan dengan seniornya di klub lain," ujar Anton.

Kebanggaan Anton memang beralasan. Lihat saja kontribusinya dengan menyumbangkan 13 pemain jebolan SSB Tunas Muda untuk tim pra PON XVII 2008. Tak hanya itu, Leandro, Alderon, Pinto Abrao, Thomas Gotha, Dentox, Ardy Ora, Ardiles Kana, Ridwan, Jems dan lainnya yang kini bermain untuk Platina FC adalah mantan anak didiknya. Pinto Fernandez dan Marcel Bitol di Britama Kupang juga adalah jebolan SSB Tunas Muda dan beberapa klub lainnya.

"Saya bangga mereka bisa bermain bersama klub lain, yang artinya pembinaan kami berhasil. Ada beberapa pemain yang sempat buat saya kecewa karena hengkang tanpa permisi. Tapi itu bukan soal, karena di SSB Tunas Muda, selalu saja ada pemain muda yang akan muncul," ujar Anton.

Soal persaingan dengan tim sarat pengalaman lainnya di Dji Sam Soe-Pos Kupang 2008 ini, Anton mengatakan tidak ada persoalan. Dia sangat yakin, kalau skil lebih dipandu stamina bagus dari anak didiknya ini akan membuat klub lain kerepotan. "Kami tidak ada beban, karena beban justru ada di tim lain, apalagi kalau mereka menganggap remeh kami. Kami akan buat kejutan," ujar Anton yang mengantar tim ini menjadi juara Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2006. (eko)

Platina FC Siap Bersaing



SEPAKBOLA Kota Kupang kini diwarnai dengan kehadiran klub baru, Platina FC. Mengusung nama besar Platina Komputer di belakangnya, tim asuhan Helmon Liko ini kini siap bersaing dengan klub-klub lama dalam Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 yang akan kembali digelar tanggal 23 Agustus mendatang.

Manejer Platina, Melkisedek L Madi, memang bukan sekadar mencari keberuntungan dengan klubnya yang belum genap berusia setahun ini. Dia tetap yakin dengan komposisi pemain yang dimilikinya. Leandro, Ridwan, Valendra, Thomas Gotha, Pinto Abrao Ximenes, Ardiles Kana dan Ardy Ora tahun 2006, membawa SSB Tunas Muda menjadi juara Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup. Tidak cukup sampai di situ. Bergabungnya pemain PSN Ngada, Hendro Toda, Justinus Jabur, Frans Sabon, Thadeus Wala dan Us, membuat skuad ini sangat komplet. Komposisi ini masih juga memiliki Hery Nuwa (Perss SoE), Zola, Yoasap Maudaka, Novan, Nelis, Atus dan lainnya yang sudah tidak asing lagi dalam sepakbola Kota Kupang.

Artinya, dengan skuad ini, Melkisedek Madi dan Helmon Liko tidak perlu ragu memasang target. Tapi ternyata mereka tidak mau gegabah memasang ambisi. "Semua tim yang ikut turnamen ini sangat kuat. Kalau ada yang bilang Platina diunggulkan, kami hanya bisa bilang dukunglah dalam doa, biar anak-anak bermain dengan baik," ujar Melkisedek Madi.

Dalam beberapa kali ujicoba melawan Britama Kupang, Britama SoE hingga tim PON XVII Papua Barat, Platina FC memang selalu menuai hasil positif. Tapi, banyaknya pemain bintang yang dimiliki membuat Helmon Liko dan Melkisedek Madi tampaknya harus hati-hati menentukan skuad utama.


Dan, yang utama adalah membangun komunikasi yang baik antara pelatih, pemain dan ofisial. Karean ketika tidak ada keharmonisan dalam tim hanya karena arogansi pemain, pelatih atau ofisial, maka jangan harap akan menjadi pemenang meski bertaburan bintang. (eko)

AS Roma Yakin Juara


MENJADI runner-up pada Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007, klub asal Kuanino-Kupang, AS Roma yakin akan menjadi juara pada tahun 2008 ini. Keyakinan itu didasari motivasi tinggi dan skuad yang makin komplet. Demikian dikatakan manajer AS Roma, Buce Lioe di Kupang, Kamis (31/7/2008).

"AS Roma selalu memiliki keyakinan untuk menjadi yang terbaik। Jadi kalau ditanya apa target yang ingin dicapai, saya katakan bahwa kami ingin juara," ujar Buce Lioe.

Di bawah racikan Zeth Adoe, Buce yakin AS Roma akan bisa bersaing dengan baik. Buce dan Zeth Adoe yang pernah membawa Perss SoE menjadi juara El Tari Memorial Cup 2000 itu yakin bahwa penambahan pemain baru dalam skuadnya membuat kekuatan AS Roma makin besar.

Secara terpisah, Zeth Adoe mengatakan, AS Roma selalu ingin menjadi idola pecinta sepakbola di Kota Kupang. Untuk itu, agar tetap mengambil hati pendukung mereka, bagi Zeth Adoe, tak ada cara lain selain menjadi yang terbaik.

"AS Roma mengutamakan kualitas. Dengan skil pemain di atas rata-rata, kami sudah komplit di semua lini. Sekarang yang kami benahi adalah menjaga kekompakan dalam pertandingan," jelasnya.

Menurutnya, beberapa pemain senior seperti Hasim Pintar, Yus Ressie, Decky Kadja, Manek, Ferry Awang, Susilo dan lainnya masih tetap menjadi andalan di samping pemain yunior yang bakal bergabung. "Ada beberapa pemain yang hengkang ke klub lain, tapi itu bukan masalah. Pemain baru yang bergabung memiliki kualitas yang sama, bahkan ada yang lebih bagus," ujar Zeth Adoe. (eko)

Sabtu, 26 Juli 2008

Bonus, Penghargaan Atas Prestasi

PRESTASI atlet-atlet NTT pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII 2008 di Kalimantan Timur tidak setinggi PON XVI 2004 lalu di Palembang, Sumatera Selatan. Kali ini, 47 atlet NTT dari tujuh cabang olahraga membawa pulang tiga medali emas, empat perak dan enam medali perunggu. Tahun 2004 lalu, NTT merebut delapan emas, empat perak dan empat perunggu.
Tapi, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika melepas para atlet ke Kaltim tidak menargetkan berapa medali yang harus dibawa pulang. Lebu Raya hanya menjanjikan bonus Rp 50 juta untuk satu keping medali emas, Rp 35 juta untuk perak dan Rp 25 juta untuk perunggu.
Kala itu, semua atlet bersukacita. Besarnya bonus yang dijanjikan ini adalah yang terbesar dalam sejarah pemberian bonus kepada atlet yang berprestasi. Tapi, Lebu Raya dan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si tidak hanya sampai di situ. Kejutan kembali dibuat saat akan menyerahkan bonus yang dijanjikan itu.
Menggandeng masyarakat olahraga dan pengusaha di NTT, bukan hanya uang yang diberikan kepada tiga peraih medali emas, tapi satu unit rumah tipe 38 pun diberikan.
Tidak hanya itu, Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, yang juga Ketua Umum Pengprop TI NTT ikut memberikan bonus kepada dua atlet taekwondo peraih medali perunggu. Pemkab TTU pun ikut memberikan bonus kepada Ana Yunita Gelu yang merebut medali emas cabang kempo. Danrem 161 Wirasakti Kupang, Kolonel (Inf) Winston Simanjuntak sebagai Ketua Umum Pengprop Pertina NTT juga ikut memberikan bonus uang kepada atlet tinju peraih medali.
Bonus bagi seorang atlet adalah penghargaan. Mereka memang atlet amatir yang tujuannya adalah mengejar prestasi, bukan uang. Mereka berolahraga karena hobi yang mengantar mereka menjadi berprestasi, bukan karena profesi. Tapi ketika mereka tampil di arena, nama daerah dikumandangkan, NTT ada di antara deretan nama daerah lain di Indonesia.
Kita tidak pernah tahu dengan apa mereka pergi ke tempat latihan. Kita juga tidak pernah tahu bahwa mereka rela meninggalkan rekan sebayanya untuk sekadar bersenda gurau atau keluarganya, bahkan mungkin sekolah atau kuliahnya untuk berlatih. Kita tidak pernah tahu berapa waktu dan berapa biaya yang mereka keluarkan untuk mencapai prestasi demi nama NTT ini. Kita biasanya hanya melihat mereka kalau sudah ada di arena pertandingan.
Mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, tak tanggung-tanggung memberikan rumah kepada Eduard Nabunome, Hermensen Ballo dan Tersiana Riwu Rohi yang merebut medali di PON XIII 1993. Dengan kewenangan yang dimilikinya, Musakabe juga mengangkat Hermensen Ballo, Tersiana Riwu, George Hadjoh dan lainnya menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pengangkatan atlet berprestasi tidak hanya sampai di situ. Berikutnya, Yakoba Lobang, Melky Blegur, Anton Fallo, Isak Petruzs, Yohanes Naben, Nelci Tolaik dan lainnya diperjuangkan pengangkatannya menjadi PNS.
Artinya, ketika para pejabat ini memberikan bonus kepada para atlet, mereka bukan sedang mencari sensasi. Mereka tidak sedang mencari nama atau ketenaran, tapi mereka sadar bahwa sudah seharusnya mereka lakukan hal itu. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional mendukung apa yang sudah dilakukan Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si ini. Undang- undang ini menekankan bahwa anggaran dari APBD untuk olahraga termasuk di dalamnya untuk pembinaan dan bonus kepada atlet berprestasi sifatnya adalah wajib.
Bonus, adalah penghargaan. Bonus bukan memanjakan para atlet. Bonus diberikan untuk memacu prestasi. Ketika Pemprop NTT mengalokasikan Rp 500 juta saja untuk bonus, maka kita harus mendukungnya. Artinya, lebih baik uang diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya daripada habis dikorupsi atau digunakan untuk sesuatu yang tidak ada guna gananya. *

Selasa, 15 April 2008

Mandiri boyong piala bergilir Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2005

MANDIRI FC memboyong piala bergilir invitasi Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup I
setelah mengalahkan QFC BTN Kolhua 1-0 di babak final di Stadion
Oepoi-Kupang, Kamis (8/9) petang. Gol tunggal Mandiri dipersembahkan kapten
kesebelasan, Pieter Fomeni.
Pertandingan antara Mandiri melawan QFC yang disaksikan lebih dari 5.000
penonton berlangsung menarik. Di luar dugaan, QFC yang didukung ribuan
suporternya memaksa lini belakang Mandiri pontang-panting menghalau bola.
Tanpa beban, anak-anak QFC mengajak lawannya bermain terbuka. Absennya
libero kawakan, Lambert Kadju akibat akumulasi kartu kuning cukup
mempengaruhi soliditas lini belakang Mandiri.
Us dan Mad Ivan terpaksa melakukan sapu bersih untuk menahan serbuan QFC.
Namun, tidak hadirnya salah seorang strikernya, Meku membuat lini depan QFC
kurang bergigi. Dalman yang menggantikan Meku kurang kompak berduet dengan
Vicky. Di babak pertama, Vicky seharusnya bisa mencetak gol kalau dia tidak
terlalu lama memainkan bola.
Mandiri yang menurunkan for-masi terbaiknya berusaha meng-atur ritme
permainan 2x45 menit tersebut. Berkumpulnya para pemain sayap di tengah
membuat mereka kesulitan melewati pertahanan Petrus Lisnahan dkk yang
berlapis. Fanus Patipelohi yang menyerang lewat sayap lebih sering memainkan
bola sendirian. Jarang ia memberikan umpan kepada Zulkifly Umar.
Pieter Fomeni yang bertugas sebagai pengatur serangan pada pertandingan ini
bermain cemerlang. Terhitung dua kali umpan matangnya seharusnya bisa diubah
Zulkifly maupun Fanus menjadi gol. Namun, Dody Lisnahan yang berdiri dingin
di bawah mistar gawangnya selalu berhasil memetik bola.
Serangan beruntun Mandiri baru membuahkan hasil tiga menit menjelang turun
minum. Menerima umpan lambung dari Adi Here, Pieter yang masuk dari lini
kedua berhasil lolos dari jebakan offside Petrus Lisnahan. Pieter yang
pantas disebut sebagai man of the match pada pertandingan final ini dengan
mudah menyontek bola ke gawang Dody Lisnahan.
Gol tersebut disambut histeris ribuan pendukung Mandiri yang memadati tribun
bagian kiri stadion. Sebaliknya penonton QFC yang mengenakan seragam
merah-merah hanya terpana seolah-olah tidak percaya dengan gol itu.
Kedudukan 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua, pertandi-ngan yang dipandu Wasit Her-man Wila dibantu Yaya
Huru dan Ferdinand Takoy itu tetap berlangsung ketat. QFC BTN tak
henti-hentinya menekan la-wannya yang lebih diunggulkan. Sejumlah
pergantiaan pemain dilakukan kedua tim.
Lima belas menit menjelang bubar, Pelatih QFC BTN, Nof-rianto Lisnahan terus
memberi-kan instruksi dari tepi lapangan agar pemainnya tidak menurun-kan
tempo pertandingan. Hasil-nya cukup bagus karena perta-hanan Mandiri sempat
kedodor-an menghadapi mobilitas Edi Atolan dan serbuan Vicky. Namun,
tumpulnya lini depan QFC membuat kiper Mandiri, Ronald Mukhtar dengan mudah
mengamankan gawangnya.
Mandiri FC sebenarnya bisa menambah gol kalau saja kerja sama lini depannya
berjalan apik. Kerja sama satu dua dari Pieter dan Zulkifly pada menit ke-76
nyaris membuahkan hasil. Namun, Fanus yang menerima umpan silang Pieter
terlanjur offside. Skor 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga akhir
pertandingan. Wasit Herman Willa sempat mengeluarkan tiga kartu kuning
masing-masing untuk Vicky Lisnahan (QFC BTN) dan dua kartu kuning bagi
pemain Mandiri, Gazali dan Nelson Sula. (eko)

Ferdinandus Atolan, Pemain terbaik
TAK ada yang menyangka kalau QFC BTN bakal bermain di final invitasi
sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup I 2005. Menempatkan diri sebagai
underdog dan targetnnya lolos ke delapan besar, mereka malah mampu
menyingkirkan tim-tim favorit lainnya.
Salah satu sosok di balik sukses QFC BTN adalah gelandang, Ferdinandus
Atolan. Kualitasnya memainkan bola pas-pasan. Namun kecerdasan, naluri serta
mobilitasnya di lapangan membuat playmaker sekelas Pieter Fomeni dan Bambang
Tokan harus angkat topi padanya. Dia tahu kapan harus memainkan bola, kapan
memberi umpan dan kapan mencetak gol. Dia pun bermain bersih. Jarang
mengasari lawan.
Tak salah kalau panitia me-nempatkan mahasiswa Fakultas Filasafat
Administrasi (FFA) Universitas Widya Mandira Ku-pang ini sebagai pemain
terbaik. "Luar biasa. Saya tidak pernah menyangka akan mendapat pre-dikat
sebagai pemain terbaik. Terima kasih kepada teman-teman di QFC yang
mendukung saya selama pertandingan," ujar bujangan kelahiran Atambua-Belu 7
Februari 1982 ini.
Edi, begitu dia biasa disapa tidak merasa dirinya sebagai yang terbaik. Ia
hanya ingin berbuat berbuat sesuatu untuk klub dengan bermain maksimal. Edi
sangat mengharapkan agar turnamen makin banyak digelar di Kupang sehingga

Pamalas latihan

LAI barapa bulan sa su PON। Orang laen su latihan tiap hari, Nelson Sante sa. Tiap hari makan tidor, kalo sonde pi baganggu orang pung ana nona yang ada balopas di Jalan El Tari. Baptua dudu kukuru’u di pinggir jalan sambel maale jagong bakar dia pung adi parampuan pung.
Padahal, baitua ni orang harap ko bisa iko maen sampe di PON supaya bisa dapat madali. Ais, su barapa kali PON baitua bagitu-bagitu sa na. Nelson memang dari dulu su jadi petinju, ma dia pung latihan tu bagitu-bagitu सा. Padahal kalo mau bilang, atlet laen dong samua su latihan. Sonde taku ujan, angin ato panas pokoknya dong tetap latihan। "Orang tu bagitu Nelson. Jang
sama ke lu yang hanya tunggu PON. Nanti deka-deka baru lari sala-sala. Kalo model bagini, jangan ‘kan PON, iko pertandingan di lokal sa mangkali sonde juara. Ini batul kawan. Tapi kalo adi benar-benar mo jadi patinju, lu mus latihan su, supaya nae di ring jang kana papoko sampe mulu dong pica ancor," Nelis mulai kas nasehat sang Nelson.
Nelis simpai di kempo, jadi baitua tau betul. Nelis deng dia pung murid su latihan dari taon lalu. "Ko ais daerah laen ada latihan lu sonde, terakhir sampe sana dong makan lu manta-manta," Nelis baomong tarus.
"Bagini kawan dong. Beta sebenarnya mau pi latihan tarus. Ma ko ais kitong ontong di cape sa. Coba bosong bayangkan. Kitong latihan stenga mati ma aer bawa sandiri. Lebe bae barenti," Nelson mulai buka suara.
"O berarti lu muka doi. Lu kalo mau harap doi sa lebe bae barenti jadi atlet. Lu pinda di profesional sa. Beking malu-malu sa. Karja hanya mo harap doi. Lu kira ini paroyek ko," Aleks yang iko lari mulai tamba dia pung.
Kana serang dari dia pung kawan dong Nelson langsung diam. Dia pung kawan dong sonde mau ungkit-ungkit lai.Sonde sampe satu minggu, Nelis pi cari Nelson lai, ma baitua sonde ada di rumah.
"Nelson sakarang sonde kanal barenti. Malam sa baru tidor. Dari pagi buta sampe sore dia latihan tarus. Mau ada palatih ko sonde baitua sonde mau tau," Nelson pung Mama Ina Nelis.
Batul ju. Sonde lama Nelson, Aleks, Petu deng Polce datang. Dong samua baru pulang latihan. "Sakarang bagini. Kitong samua, mau palatih ko atlet ko, latihan bae-bae. Biar orang dong tau bilang kitong ini ju bisa menang. Jang tiap kali pi kas kaluar doi banya ma pulang pikol muka babangka. Ini su sonde batul," Nelis yang paling tua kas nasehat। "Batul ju e. Kalo mau

latihan harap doi, sonde akan dapa apa-apa. Lia sa ke dolo. Orang latihan tinju hanya pake batang pisang ma bisa dapat juara," Polce tamba deng dia pung mengong। (sipri seko)

Baras puruk

ABIS makan siang, ke biasa, Nelson dudu ko pangku kaki di rebis ruma. Baitua mo barenti sadiki, kas lurus urat dong yang su cape karja। Kalo su bagitu, baitua biasa dudu minum es teh sambel baca koran। Parlente ma mati sa. "Lu baca apa sa ko sarius mamati. Dari tadi beta liat lu baca barita menarik ko apa. Sampe beta datang sa, lu son tau," Aleks yang panasaran deng Nelson mulai tanya.
Aleks sebenarnya mo pi pasar ko beli gula deng baras, ma bagitu lewat Nelson pung ruma, dia langsung singga. Itu su biasa. Dong kalo su bakatumu urusan nagara ko dinas ko apa parsetan, yang penting carita dolo baru buat dong pung kagiatan. Kalo su bagitu andia te aer karas dong son lama su mangalir maso dong pung karongkongan। Karja su lupa samua. "Lu baca ini dolo kawan. Kamarin hanya ada barita bilang ada orang kas masok gula sambunyi-sambunyi Ini hari lai ada barita bilang baras ada rusak lai. Baru lu mo tau, baras dong su puruk ulat pono, baru mo bagi kas rakyat dong. It su karmana tu," Nelson su kas jalas.
"Ko, mana beta lia," Aleks ju panasaran. Asik baca koran, son lama, Ferdy, Nelis deng Marten muncul. Dong tiga su tau, kalo su siang dudu bacarita di Nelson pung rumahKo ais dingin na. Pohon Mahoni deng Advokad pele matahari. "Berarti batul su. Tadi beta di atas oto dengar orang dong bacarita in barita। Ma dong bilang polisi su tahan samua it gula Batul ko sonde tu. Sakarang polisi yang ame ali it soal," Aleks kas komentar ma lia di Ferdy pung punggung ke ada kambung, dia langsung tanya. "Apa tu," Aleks raba लंग्सुंग
Sudah, aer keras langsung mangalir, ma carita tamba rame. Aleks lupa pi beli gula deng baras lae. Padahal maitua ada tunggu di ruma. Baras di ruma su tenga satu mok sa.
"Parsetan deng itu. Bosong mo pusing ju parcuma. Kalo su sampe polisi dong, beta yakin lama it masalah su ilang lae. Itu masala su bukan barang baru. Mala beta dengar bilang ada oknum polisi yang barmaen ju. Paya o, kalo su bagitu, sa pa o yang mo lawan. Lu baru strep mera dua mana mo pi pareksa yang su sanior, karmana," Nelis son mo tau. "O, katong urut-urut, kasus gula ju banyak. Dulu bet dangar ada tangkap gula ju ma tau it kasus bilang kas stop ko apa ko. Tajkuju su ilang. Tau lae yang ini nanti ilang lae ko bisa nae pangadilan. Lia sa bapa. In ada kasus baras lae," Aleks pasimis.
"Makanya sakarang kotong harus iko it kasus tarus. Lu bayangkan, sa, दोंग bilang it baras untuk raskin. Karmana ko barang su puruk baru kas masyarakat. Alasan macam-macam. Kana aer laut na, apa na. Pokonya, beta nanti bilang kapala desa dong supaya pareksa bae-bae dulu baras raskin yang mo bagi pi katong. Kalo beras su rusak na kas pulang sa," Nelson omong ke
tau-tau sa. "O, katong biar miskin bagini ju manusia. Jang kas sama katong ke binatang tarus kas katong baras rusak," Aleks ju sambong dia pung. (sipri seko)

Minggu, 02 Maret 2008

Wagub minta perhatian Pemkab TTS dan TTU



ATAMBUA, PK -- Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, meminta Pemerintah Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU) untuk turut membantu memikirkan persoalan yang dihadapi warga Belu selatan. Banjir yang terjadi di kali Benanain merupakan imbas dari kerusakan alam di dua daerah itu.
Ketika berdialog dengan ribuan pengungsi korban banjir Benanain di kantor Camat Malaka Barat di Besikama, Jumat (29/2/2008), Wagub menyatakan prihatin atas bencana banjir yang dialami ribuan warga Malaka Barat.
Setelah melihat kondisi warga, kata Lebu Raya, pemprop dapat mengambil kesimpulan bahwa penanganan persoalan banjir Benanain ini tidak bisa dibebankan hanya kepada Pemkab Belu saja, tetapi juga harus melibatkan Pemkab TTS dan TTU karena banjir Benanain juga merupakan banjir kiriman dari kedua daerah tersebut.
"Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus terjadi. Karena banjir ini merupakan kiriman dari wilayah TTU dan TTS, maka kita perlu duduk bersama membahasnya. Makanya saya minta supaya Pemkab TTS dan TTU ikut membantu dengan melakukan reboisasi di kawasan hulu. Kalau kawasan hulu tetap dibiarkan seperti sekarang ini, maka imbasnya tetap dialami warga di hilir," kata Lebu Raya.
Lebu Raya juga meminta kepada warga ketiga kabupaten ini untuk membudayakan semangat menanam dan menghentikan penebangan hutan. "Jangan kita tebang pohon untuk mendapatkan beras 10 kg, sementara anak cucu kita yang menanggung akibatnya," kata Lebu Raya.
Dia mengatakan, sambil proses penjajakan untuk dialog antara Pemkab Belu, TTS dan TTU, Pemprop NTT melalui Dinas Kimpraswil NTT akan melanjutkan pembangunan tanggul sampai ke titik aman.
Turut hadir pada saat itu, Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili, Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan, Camat Malaka Barat, Remigius Asa, S.H, anggota DPRD NTT, Nelson Matara, S. SoS, mantan Ketua Bappeda NTT, Ir. Esthon Foenay, dan sejumlah pejabat kabupaten dan propinsi NTT. Atas Pemprop NTT, Lebu Raya menyerahkan bantuan kepada para pengungsi Benanain.
Wakil Bupati Belu, Gregorius Mau Bili, atas nama korban banjir menyampaikan terima kasih kepada wagub yang datang melihat kondisi warga, termasuk bantuan yang sudah diberikan, baik kebutuhan makanan maupun kesehatan.
Menurut Mau Bili, untuk sementara warga belum bisa pulang ke rumahnya karena keadaan alam belum menentu.
"Saya juga perlu sampaikan bahwa selama ini Pemkab Belu sudah berupaya dengan membangun tanggul sepanjang 7,2 kilometer dan hasilnya ada beberapa daerah yang selama ini jadi langganan banjir sekarang sudah aman. Kita lagi berencana untuk melanjutkan pembangunan tanggul sepanjang 3,4 kilometer di wilayah Lasaen sehingga warga tidak resah lagi," kata Mau Bili. (yon)

Kami butuh rumah panggung
LANGIT Besikama, ibu kota Kecamatan Malaka Barat, Belu, Jumat (29/2/2008), terik menyengat. Ribuan pengungsi korban luapan banjir kali Benanain sibuk mengurus perabot. Ada kaum ibu yang sibuk mengurus anak yang lagi menangis, sebagian lagi sibuk mencuci pakaian dan memasak.
Bunyi sirene dari mobil patroli LLAJ Kabupaten Belu meraung-raung membuyarkan kesibukan. Semua warga berdiri menatap iringan mobil yang masuk ke lokasi pengungsi. Dari balik kendaraan yang ada, muncul Wagub NTT, Drs. Frans Lebu Raya, didampingi Wabup Belu, drg. Gregorius Mau Bili, Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan, dan puluhan pejabat.
Para pejabat ini disambut Camat Malaka Barat, Remigius Asa, S.H, yang sejak pagi hari mengatur warga untuk menyambut kedatangan rombongan dari propinsi ini.
Dengan peluh yang terus menetes Wagub langsung menemui warga yang ditampung di tenda-tenda yang disediakan Pemerintah Kabupaten Belu.
"Bapa, mama, anak-anakku sekalian, kamu sudah makan atau belum? Kapan kamu tinggalkan kampung dan tinggal di lokasi ini? Bagaimana dengan kesehatan kamu semua, apakah baik-baik atau tidak," demikian Lebu Raya menyapa warga di tenda pengungsian.
Pertanyaan Wagub Lebu Raya ini disambut warga dengan serentak, "Kami baik-baik saja. Kami sudah makan." Wagub terus mengunjungi lokasi penampungan lainnya dengan pertanyaan yang sama, menanyakan persediaan bahan makanan, tikar, kesehatan anak-anak. Menurut jawaban mereka, semuanya tersedia dengan baik.
"Kamu sekalian harus tabah ya. Percayalah kami tidak akan tinggal diam. Kami berusaha mengatasi persoalan yang dihadapi bapa mama, juga anakku sekalian ini," hibur Lebu Raya.
Kerinduan warga untuk menyampaikan unek-unek kembali terungkap saat dialog yang dipandu Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili. Dalam dialog penuh keakraban ini warga menyampaikan harapannya kepada Wagub agar memperhatikan persoalan yang dihadapi warga saat ini.
Mundus Fahik meminta agar tanggul yang ada ditinggikan lagi 2-3 meter. Dengan tanggul yang ada saat ini, banjir akan tetap meluap apabila intensitas hujan di TTU dan TTS tinggi.
Selain itu, dia meminta perhatian soal adanya gagal panen pasca banjir. Ribuan hektar lahan disapu banjir sehingga warga terancam kelaparan dalam tahun ini.
Sementara Yohanes Seran alias Fukun Bere Bria mengusulkan pembuatan rumah panggung. Rumah model ini sudah terbukti aman ketika terjadi banjir.
"Pak Wagub, kami minta kalau bisa tidak dibangun tanggul saja, tetapi perlu juga dibangun rumah panggung. Selama ini kami sudah sengsara dengan banjir, maka harapan satu-satunya adalah rumah panggung ini," kata Seran.
Hal senada diutarakan Kepala Desa Sikun, Yosep Seran Seko. Dia meminta agar pemprop memikirkan pembangunan rumah panggung sehingga warga tidak resah.
Terkait persoalan warga ini, Pemerintah Kecamatan Malaka Barat telah membuat beberapa rekomendasi kepada Pempropi NTT, yakni penanganan DAS Benanain secara komprehensif dan terpadu, rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat banjir, peninggian bibir tanggul yang semula 2,5 meter dinaikkan menjadi 3,5 meter sepanjang 7,2 km, perluasan jaringan listrik di desa-desa yang belum terjangkau agar memudahkan evakuasi warga bila terjadi bencana banjir pada malam hari, pembangunan rumah panggung.
Terhadap harapan dan rekomendasi dari Kecamatan Malaka Barat ini, Wagub Lebu Raya menyatakan akan menindaklanjutinya. (yon)

Kristal juara SFPD Cup 2008



KLUB Kristal Saphire mengukuhkan dirinya menjadi yang terbaik dengan menjuarai turnamen futsal Suzuki Flexi Platina Dispora (SFPD) Cup 2008. Dalam final di GOR Flobamora Kupang, Minggu (24/2/2008) malam, Kristal Saphire menang 5-2 atas Platina A.
Kristal Saphire bukan saja menjadi juara dalam turnamen ini. Kesuksesan anak-anak asuhan Johni Lumba dan Michlen ini dilengkapi dengan terpilihnya pemain mereka, Charles Lapaan menjadi pemain terbaik. Kristal Saphire berhak atas piala bergilir, piala tetap dan bonus Rp 2,5 juta. Sementara Platina A yang menempati posisi kedua menerima uang Rp 1,5 juta.
Posisi ketiga ditempati oleh Ine Rie. Anak-anak asal Kabupaten Ngada ini mengalahkan klub AMIB. Atas prestasinya, Ine Rie mendapat uang tunai Rp 1 juta dan sebuah piala tetap. AMIB yang menerima uang tunai Rp 500 ribu juga menempatkan pemainnya, Dentox sebagai top skore. Dentox mengumpulkan 24 gol mengalahkan striker Platina A, Atus yang mengoleksi 23 gol.
Pimpinan Platina Komputer, Melkisedek Lado Madi, yang mewakili para sponsor dalam sambutannya mengatakan terima kasihnya kepada klub peserta yang mengikuti turnamen ini. Tingginya animo masyarakat Kota Kupang terhadap futsal, kata Madi, membuat para sponsor akan terus menggelar event yang lebih bergengsi. "Tahun depan turnamen ini akan kembali kita gelar. Mungkin dalam waktu dekat juga akan ada turnamen futsal lagi. Untuk itu, kami berharap agar semua klub peserta ini berlatih lebih serius lagi, agar bisa meraih prestasi seperti Kristal Saphire yang hari ini telah menjadi yang terbaik," ujar Madi.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhammad S Wongso dalam sambutannya ketika menutup event tersebut mengatakan bangganya terhadap Mitra Sportindo Event Organizer dan para sponsor yang menggelar event tersebut. "Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri untuk menggelar sebuah event. Untuk itu, atas nama Pemerintah Propinsi NTT, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia dan para sponsor yang sangat sukses menggelar event ini. Untuk adik-adik peserta gunakan event-event yang digelar ini untuk meraih prestasi yang lebih berprestasi. Saya sangat bangga, karena lewat futsal ini, hampir semua generasi muda di Kota Kupang ini bersatu dalam semangat kebersamaan," kata Wongso.
Pimpinan Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni dalam laporannya mengatakan, terima kasihnya atas dukungan semua pihak yang ikut menyukseskan event SFPD Cup 2008. Menurut Pieter, turnamen tersebut disponsori oleh Suzuki, Flexi, Platina Komputer, Dispora NTT, SKH Pos Kupang, Timor Express, Rote Ndao Pos, Koran Madika dan DMWS Radio. (eko)
Hasil SFPD Cup 2008
Juara I : Kristal Saphire
Juara II : Platina A
Juara III: Ine Rie
Juara IV: AMIB
Pemain Terbaik : Charles Lapaan (Kristal Saphire)
Top skore : Dentox (AMIB)

SYALOM