Kamis, 06 November 2008

Sehari di Beranda Oepoli (3)

Posisi di Pohon Asam

Oleh Benny Dasman
DI
OELBINOSE. Angin senja menusuk kulit. Dingin. Tarsi, pengendali roda empat, menepikan kendaraan. Dia memberi pengumuman singkat. "Sebentar lagi kita memasuki kawasan di luar jangkauan. Ini tempat sinyal terakhir. Lebih baik te kita telepon memang. Waktunya 15 menit."

Tarsi langsung beraksi. Sambil menikmati horison sore dan 'moleknya' Gunung Mutis, kegiatan pencet-memencet hand phone (HP) melemaskan jemari yang kaku. Ber-SMS ria, telepon. Asyik sendiri-sendiri.

Romo Bento tak ketinggalan. Berhalo-halo dengan kolega di Kefamenanu dan Kupang. Mengabarkan rute perjalanan sudah sampai di Oelbinose, Miomaffo Barat. Juga mengecek kendaraan yang membawa genzet dan bahan bangunan lainnya apakah sudah keluar dari Kefamenanu atau belum. Rencananya berjalan berbarengan. Kelangkaan BBM (solar) di Kefamenanu saat itu membuat skenario perjalanan gagal.

Silvester, lain lagi. Ogah ber-SMS, telepon. Si kepala plontos itu memanfaatkan waktu bercuap-cuap melalui handy talky (HT). Bermain kata-kata dengan teman lama di pos-pos perbatasan. Bahasa Tetum, Porto, campur aduk. Romo Bento juga ikut nimbrung. Ternyata yang bercuap-cuap di baliknya teman lama di Naibonat. Bertemu lagi, meski lewat udara. Betapa senangnya.

Dead line waktu yang diberikan Tarsi sudah habis. "Ayo kita cabut lagi," Tarsi mengingatkan. HP diamankan. Tak diutak-atik lagi sampai di Oepoli. Selepas Oelbinose, Tarsi berujar lagi, "Kita sudah memasuki kawasan di luar jangkauan. Aman, orang tidak mengganggu kita lagi. Kita nikmati perjalanan ini."

Selepas Aplal, saya mencoba mengaktifkan HP. Ternyata benar, tak ada sinyal. Komunikasi putus. Tarsi benar, kawasan itu benar-benar di luar jangkauan. Diksi 'di luar jangkauan' pun menjadi bumbu perjalanan. "Coba di Kefa tadi kita beli memang dengan sinyal bae, pasti tidak di luar jangkauan. Sekarang ini di luar jangkauan semua. Bagaimana kalau ha'rim saya telepon," Silvester membuka guyonan. "Kalau pun ada sinyal, jawab saja di luar jangkauan. Sebab ini kawasan di luar jangkauan," Tarsi menjawab sahabat karibnya itu.

Saya menyela. Di Manggarai lain lagi. Kalau orang membeli HP, baba pemilik toko menanyakan kepada si pembeli. "Di tempatmu ada sinyal atau tidak. Jangan sampai di luar jangkauan." Dasar pembeli, sudah kebelet memiliki HP. "Kalau baba ada jual sinyal, bungkus sekalian saja dengan HP-nya," jawab si pembeli. Ha..ha..ha. Semuanya terbahak.

***
DI OEPOLI, situasi tetap prihatin, di luar jangkauan. HP dibuka, yang nongol SMS. Tak bisa dibalas. "Hari sudah malam. Besok saja baru kita balas SMS-nya. Pergi di pohon asam sana, pohon sinyal. Lima kilometer arah barat Oepoli ini," ujar Romo Bento, Senin (13/10/2008) malam.

'Penderitaan' Oepoli semakin lengkap. Semuanya terisolasi. Darat, laut dan udara. Malam gelap gulita. Tak ada listrik. Andalkan lampu teplok. Bangun pagi hidung berasap, hitam.

"Kami di sini benar-benar menderita. Kalau mau telepon, SMS, berkeringat dulu. Jalan jauh pergi ke tempat sinyal di pohon asam. Kalau saya telepon Pak Benny di Kupang, misalnya, posisi saya saat itu di pohon asam. Kalau kita sudah di pohon asam, ya bisa habiskan waktu sampai satu jam. Balas SMS, telepon dan sebagainya," kenang Romo Bento.

Romo Bento mengakui, sekitar 3.000 pelanggan potensial di Oepoli jika telkomsel melebarkan jangkauannya. "Ya, cukup migrasikan satu Base Transceiver Station (BTS) di sini, kerinduan warga Oepoli bisa terjawab. Ini peluang bagi telkomsel atau operator lainnya. Tapi, kendalanya itu tadi, sarana transportasi sangat buruk. Orang bangun BTS di sini makan ongkos. Pikir-pikir juga," katanya.

Tak ingin berlarut dalam litani keprihatinan Romo Bento, Tarsi, Silvester, Frangky pergi 'menemui' sinyal di pohon asam. Melepas kangen dan rindu di sana. Hari itu, Selasa (14/10/2008), saya dan Romo Bento beragenda lain. Bertamu di rumah Frans Bria di Pantai Oepoli. Mendengar curhat para prajurit penjaga Pulau Batek. Mereka tak mengeluh soal komunikasi. "Di Batek sinyal bagus. Tak ada masalah. Persoalannya kalau kami kehabisan BBM (solar). Genzet tak bisa dihidupkan. HP tak bisa di-cash. Itu saja," ujar Joanico dos Santos, penembak jitu.

Hari Rabu (15/10/1008) pagi, ditemani Tarsi, saya berkesempatan 'bertamu' di pohon asam, pohon sinyal. Dua kilometer selepas Oepoli, ada kawasan ditumbuhi pohon asam. Berbuah lebat. "Sinyalnya bukan di pohon asam yang ini, pak. Ke barat lagi, tiga kilometer," ujar Tarsi menjawab pertanyaanku.

Tarsi menepikan kendaraan. Sudah sampai. "Ini dia pak pohon asamnya," katanya. Pemandangan dari tempat ini sangat tampan. Pulau Batek bersanding jelas. Gulungan ombak Pantai Oepoli terlihat garang. "Jalan ini terus ke Naikliu. Berabu tebal. Sampai di sana abunya tebal begini," Tarsi menjelaskan.

Duduk di bawah pohon asam, pohon sinyal, jari-jemari beraksi. Saya dan Tarsi asyik sendiri-sendiri. Ber-SMS, telepon. Tak ada yang rahasia. Saya berhalo-halo ke Kupang. Biasa, mengabarkan kepulangan kepada maitua. Tapi tak masuk, di luar jangkauan. Ganti SMS, bisa. Tarsi pun tak kalah. Telepon ke Kefamenanu dan sebagainya. Lebih lama. Sepertinya kami sedang mengikuti perlombaan telepon. Semua bersuara keras.

Tak langsung pulang, saya dan Tarsi mengamat-amati situasi di sekitar pohon sinyal itu. Pohon asam itu rindang, berbuat lebat. Asyik untuk berteduh. Di bawah pohon itu ada bekas bakaran api. "Biasa, untuk menghangatkan badan kalau orang datang ke sini malam-malam," ujar Tarsi yang mengaku sudah beberapa kali mendatangi pohon sinyal itu.

Di sekitar pohon sinyal itu ada kebun. "Dulu, kebun ini ada pagarnya. Tapi sekarang tak ada. Kayu-kayunya sudah dicopot untuk bakar di bawah pohon ini. Dilakukan oleh orang yang datang bertelepon malam-malam," tutur Tarsi.

Setiap hari, aku Tarsi, orang mendatangi pohon sinyal itu. Banyak orang datang berkelompok. Tentara-tentara penjaga perbatasan, kata Tarsi, juga datang ke pohon sinyal ini untuk berkomunikasi. "Lebih banyak datang siang atau sore hari. Kalau malam hari, orang datang berkelompok. Sendirian takut," cerita Tarsi.

"Mengapa? Ada penunggunya? Jin?" tanyaku. Tarsi menyebut alasannya. Pernah, katanya, seorang pemuda datang sendirian ke pohon sinyal ini. Malam hari. "Ketika sang pemuda itu mulai menelepon dan menyapa halo, dari atas pohon terdengar suara jawaban, halo.... Suara perempuan. Tapi orangnya tak ada. Sampai beberapa kali perempuan itu menjawab," kisah Tarsi.

Sang pemuda itu pun tak melanjutkan temu kangennya. Dengan ha'rim. Dia memilih langkah seribu meninggalkan lokasi. "Pemuda itu lari terbirit-birit, ketakutan. Siapa pun kalau mengalami keanehan seperti itu, pasti takut. Bisa-bisa mati konyol karena menabrak pohon-pohon yang ada di sekitar sini. Lari tanpa arah takut jin," ujar Tarsi sambil tertawa.

Berita ini cepat tersiar di seantero Oepoli. Dan, orangpun ogah menemui pohon sinyal itu sendirian pada malam hari. "Percaya atau tidak, ceritanya begitu. Tapi, saya yakin pohon asam ini ada penunggunya. Jin perempuan," tukas Tarsi. Bulu kudukku berdiri.

Pohon sinyal, episod terakhir petualangan saya di Oepoli. Keterpencilan, keterisolasian, membuat semuanya bermakna. "Halo..., posisi saya di pohon asam sekarang," Romo Bento membuka percakapan ketika menelepon saya dari Oepoli, Senin (3/11/2008) lalu. Memoriku tentang Oepoli disegarkan kembali. Saya pun menjawab Romo Bento, "Ke Oepoli aku kan kembali." (habis)

Sehari di Beranda Oepoli (2)

Seharusnya 'Oelupa' atau 'Oepilu'

Oleh Benny Dasman

SAYA
'menyapa' bumi Oepoli dari bukit Tataum-Netemnanu. Hamparan sawah tak bertepi membentang luas di hadapanku. Subur. Pun laut biru berarus garang. Sebuah ikon untuk melegendakan Oepoli sebagai 'tanah terjanji.'

'Dikawal' Romo Bento dan Servas, warga Tataum, saya berusaha melengkapi koleksi tentang Oepoli. Di utara memperlihatkan rumah-rumah warga Netemnanu beratapkan daun rumbia. Berdinding bebak. Sejuk di musim panas, prihatin di musim hujan. Bocor!

Panorama yang memperlihatkan buah keterpencilan dan keterisolasian. Membiarkan warga melakoni hidup dengan karakter keras. Tak cukup sebagai magnet untuk menarik perhatian sang 'bos' di singgasana. Padahal butuh sedikit sentuhan saja, eksotisme Oepoli, yang kini berhabitat alamiah, akan berubah menjadi 'surga.' Banyak orang merebutnya.

"Sentuhan dari siapa. Pejabat saja jarang ke sini. Sehabis panen lahan sawah ini 'libur' karena ketiadaan air. Kalaupun ada yang mengelolanya untuk menanam sayur, dia pasti kewalahan untuk menjaga ternak liar. Hanya sekali panen saja. Tapi hasilnya bisa memenuhi kebutuhan dua tahun ke depan," ujar Servas, Selasa (14/10/2008) pagi.

Servas menggelengkan kepala. Tanda keprihatinan. Menatap jauh memandang tanah kelahiran yang membentang luas di hadapannya. "Kami begini saja, bertani sekenanya. Tak ada penyuluhan-penyuluhan. Berdasarkan apa yang kami tahu. Kalau sudah panen, ya hasilnya dijual, murah. Yang lainnya disimpan," tuturnya.

Pemandangan di Netemnanu Selatan tak jauh berbeda. Tak ada profil rumah mentereng. Citra keterbatasan dan keterpencilan semakin tampak. Tapi mereka bukan orang 'terpencil.' Mereka tampil agresif menangkap 'mangsa' seperti rusa, babi hutan, 'mencabik-cabik' dagingnya, menampilkan profil manusia yang berpotensi. Daya jelajah memburu rusa menampilkan daya pukau yang luar biasa.

Sayang, keterbatasan sarana dan prasarana serta keuangan memaksa lahan subur Oepoli masih "menggigil kedinginan." Menanti sentuhan teknologi. Padahal, dengan sedikit saja polesan 'gincu' teknologi, potensi-potensi yang masih tidur itu sejatinya sangat layak dijual. Realitasnya memang seperti itu. Tapi fakta berbicara lain. Komoditi dijual murah, menyerah di tangan renternir. Itu potensi di darat.

***
Pesona laut, lebih wah lagi. Eksotik, Bentangan laut dihiasi batu-batu warna dan pasir putih yang bersih. Aset wisata itu makin disempurnakan keberadaan hijauan bakau. Sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung. "Di sini bisa dijumpai ratusan spesies burung di mana beberapa jenis di antaranya bersifat endemik. Belum lagi di Pulau Batek," ujar Frans Bria, warga Oepoli.

Dari deretan panjang potensi wisata itu ternyata semuanya masih 'menggigil.' Tak banyak yang terekspos ke permukaan. Nyaris tak terdengar. Tak banyak dijamah. Melengkapi penderitaan Oepoli sebagai kawasan perbatasan terpencil.

Pemkab Kupang dan masyarakat setempat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal. Gemerincing dolar sangat jauh dari kesan riuh. Bahkan, bisa disebut sunyi senyap. Ini tantangan besar bagi Pemkab Kupang untuk mendandan Oepoli sebagai kawasan perbatasan pesona wisata.

Bahwa masih ada 'surga' pariwisata lain selain Taman Nasional Komodo. Dan, surga itu adalah Oepoli. Ini bukan mimpi.

"Pantai Oepoli ini sangat berpotensi untuk 'disulap' menjadi obyek wisata. Apalagi dekat Pulau Batek. Kalau orang ke Oepoli, pasti ke Batek juga. Bisa dikemas sepaket," ujar Yan Benu, warga Kefamenanu, pengawas proyek di Batek.

Yan Benu tidak bombastis. Sebuah pernyataan murni lahir dari rasa kekaguman menyata. Ternyata Pantai Oepoli bisa menaut hati para wisatawan yang maniak berpetualang. "Karena keterbatasan struktur-infrastruktur, khususnya akses jalan menuju Oepoli, potensi wisata yang ada masih tertidur pulas. Jangankan dikunjungi wisatawan, nama obyek itu saja belum sampai ke telinga mereka," kata Yan Benu dengan nada getir.

Ya, Oepoli, menyembulkan daratan yang subur. Pantai yang eksotik. Sayang, perlu perjuangan berat untuk menikmatinya menjadi berharga. Jalan akses menuju Oepoli sangat jauh dari kesan layak karena kurang dijelajahi kendaraan umum. "Kami memang sangat miskin infrastruktur. Ini kendala terberat kami dalam membangun Oepoli sehingga tetap terisolir," ujar Romo Bento jujur.

***
Selain Oepoli, di wilayah Kabupaten Kupang masih terdapat bentangan dataran rendah yang cukup luas dan subur. Sebut saja dataran rendah Tarus, Oesao, Nunkurus, Pariti, dan Sulamu. Juga masih tertidur pulas. Tapi, dari semuanya, Oepoli menyimpan keprihatinan yang mendalam. Padahal wilayah di Kecamatan Amfoang Timur itu berbatasan langsung dengan Distrik Ambenu, Negara Timor Leste, menebarkan aroma budaya yang unik. Juga lahan wisata.

Berdasarkan penuturan sejarah dari tokoh adat masyarakat Netemnanu Utara, penduduk Distrik Ambenu (Negara Timor Leste) merupakan bagian atau masih memiliki hubungan kekeluargaan. Kondisi ini dapat dibuktikan melalui upacara adat-istiadat yang sama dan juga pada acara-acara perkawinan.

Setiap tahun, sebelum terjadi gejolak kemerdekaan tahun 1999, prosesi adat pasca panen masih tetap dilaksanakan dalam bentuk upacara-upacara adat untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Untuk mempererat hubungan kekeluargaan tersebut, masyarakat Amfoang menyerahkan sebagian lahan di Naktuka kepada masyarakat Ambenu. Pasca kemerdekaan Timor Leste, kegiatan tersebut terhenti disebabkan oleh penjagaan ketat kedua negara. Prosesi budaya ini belum menyembul ke permukaan. Masih menggigil.

Penyebabnya hanya satu. Akses ke wilayah seluas 273,03 kilometer persegi itu cukup sulit, masih terisolasi. Posisinya jauh dari jantung Kota Kupang. Pun kondisi geografisnya tidak menguntungkan. Kondisi ini menyebabkan transportasi melalui darat sangat sulit karena harus melewati banyak sungai yang belum dilengkapi fasilitas jembatan.

Buntutnya, Oepoli tetap nomor buntut. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah. Sampai kapan? "Kalau melihat kondisi yang ada, Oepoli seharusnya bernama Oe..lupa atau Oe..pilu..!" kata Servas berguyon. Pilu dan terlupakan. Benar juga. (bersambung)

Sehari di Beranda Oepoli (1)

Pembalut, Susah Dicari...

Oleh Benny Dasman

MENIKMATI 'lekuk tubuh' Oepoli melalui poros Kefamenanu-Eban-Noelelo, terasa 'menyiksa.' Badan pegal. Melelahkan. Tapi saya tidak berprasangka buruk. Apalagi terburu-buru mencoret wilayah di Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, itu dari daftar petualangan. Semangat tetap empat lima.

Siang itu, Senin (13/10/2008). Terik membakar Kota Kefamenanu. Agenda pertama bertemu Wakil Bupati (Wabup) Timor Tengah Utara (TTU), Raymundus Fernandes, S.Pt. Pertemuan di rumah jabatan itu berlangsung akrab. Pak Ray, demikian wabup disapa, bercerita banyak tentang upayanya memakmurkan petani di Bumi Biinmafo itu.

Tak bosan-bosannya pria energik itu mengunjungi para petani di ladang sekadar memberi motivasi, apalagi musim tanam 2008 segera menjelang. "Para petani TTU wajib mengolah sehektar lahan. Untuk mengetahui apakah lahan itu sudah disiapkan, saya melakukan sidak. Di tempat terpencil pun, saya jalan. Sebab, ada petani yang nakal, mengaku lahan sudah diolah padahal belum," cerita Pak Ray.

Saya 'memantik' soal poros Kefamenanu-Oepoli. Pak Ray mengakuinya masih jelek. Khususnya ruas Eban-Oepoli. "Kita mengupayakan perbaikannya secara bertahap," ujarnya. Ending cerita Pak Ray membuat saya deg-deg-an. "Pak Benny harus siap fisik. Medannya lumayan berat," tantang Pak Ray.

Tak mau petualangan ke Oepoli batal gara-gara mabuk, Romo Bento menyarankanku beristirahat. "Kaka istirahat dulu. Siap fisik. Jalan ke Oepoli parah. Jam empat sore baru kita cabut," ujar Romo Bento. Saya pun beristirahat di rumah Ibu Ana, kakak perempuan Romo Bento. Di rumah, sebelum beristirahat, Ibu Ana juga 'menakutkanku.' "Pak harus siap fisik, istirahat dulu. Sore baru jalan," Ibu Ana wanti-wanti. "Wah, jalan ke Oepoli benar-benar parah. Payah," gumamku. Saat itu kondisi fisikku memang belum fit.

Semalam, di rumah ini, saya pun tidur lebih awal. Pukul 22.00 wita. Padahal tuan rumah menyuguhkan saya TNI (Tua Nakaf Insana). Disoda madu asli Amfoang. Untuk memulihkan stamina yang loyo setelah berkendaraan Kupang-Kefamenanu. Romo Bento menyaranku tidak berteman 'TNI'. "Lebih baik kaka istirahat. Jangan sampai TNI membuat tambah loyo. Besok jalan jauh," nasihatnya.
***
PUKUL 17.00 wita. Molor satu jam dari rencana semula. Gara-gara Kefamenanu kehabisan BBM, solar. Petualangan ke Oepoli dimulai. Tarsi, 'pengendali' roda empat diangkat sebagai pemandu. Menjawabi instruksi Romo Bento.

"Harus ada sesuatu yang direkam dalam perjalanan ini. Jalankah, apakah... Terserah wartawan saja," ujar Romo Bento seolah-olah mengingatkanku agar safari ini jangan dilewatkan begitu saja.

Horison sore dari barat membuat perjalanan poros Kefamenanu-Eban terasa menyenangkan. Jalan mulus. Berkelok-kelok menyusuri Bijaepasu, Tuabatan, Haulasi, Fatutasu, Saenam. Disuguhi pemandangan alam yang hijau ditingkahi kicauan burung di balik pohon-pohon kelapa, kemiri dan mangga berbuah lebat.

Di Tuabatan, alam desa beraroma kental. Petani-petani membalik tanah, menyambut musim tanam. Terdengar siulan, jenaka, menghalau kejenuhan. Alam desa yang masih 'perawan' menyemangati petani mengakrabi profesi. Memoriku puluhan tahun silam seperti disegarkan kembali. Tatkala selepas sekolah dasar mencangkul kebun, di musim-musim seperti ini. "Menjadi petani itu mulia. Bukan profesi rendahan," gumamku.

Tak terasa, dinginnya hawa Eban menusuk kulit. Pohon-pohon jeruk 'menyapa.' Mentari kembali ke peraduannya. Puncak Mutis diselimuti awan. Jalan mulai bergelombang, berlubang, oleng kiri, oleng kanan. Maju kena, mundur kena. "Kita putar lagu ja'i saja supaya iramanya pas. Mulai dari sini sampai Oepoli jalannya parah. Kita goyang terus. Makanya pilih musik yang pas," Tarsi memainkan peranannya. "Atur sa bu," Silvester, si kepala pelontos, menyela.

Di Oelbinose. Mata mulai disuguhi ketandusan dan kegersangan tanpa batas. Kesan pertama yang tertangkap, memang sebuah suasana alam yang kurang bersahabat, serba kritis dan cenderung 'kejam.' Jalan mulai 'dipagari' topografi kemiringan. Mata pun terpaku pada kondisi jalan yang rusak parah, lekak-lekuk, berbatu-batu. Konsentrasi penuh.

Jika tak punya cukup nyali menjelajahi poros Eban-Noelelo, bisa-bisa 'menceburkan' diri ke jurang, meski mata dimanjakan oleh suasana alam desa nan eksotik. Tapi, Tarsi sudah 'makan garam' melintasi poros ini. "Santai saja, kita nikmati musik," ujarnya.

Di Aplal, asap mengepul. Api membara di atas lahan yang dibakar. Tampak kehitam-hitaman. Di kiri kanan ruas jalan. Tandus, gersang. Pohon-pohon meranggas. Semuanya terekam jelas tatkala mobil berjalan seperti bekicot. Kondisi jalan semakin parah. As jalan berbentuk seperti parit. Pada musim hujan semakin parah. Jalan raya itu menjadi selokan air.

Di jalan itu, warga yang melintasinya ngos-ngosan. Berkeringat. Terlihat mereka memikul beras berkarung putih. Beras raskin. "Mereka pulang terima raskin. Biar jalan mendaki, yang penting dapat raskin," ujar Tarsi mengomentasi sesama 'bangsanya.'

Sungai Aplal dilewati tanpa hambatan. Berjalan di antara bebatuan dan pasir yang tak berair. Air sungai yang bersumber dari Gunung Mutis itu hampir kering. Gara-gara kemarau. Di musim hujan, kata Romo Bento, ceritanya lain. Kendaraan tak bisa lewat. Penumpang harus menunggu berjam-jam sampai air surut. "Kalau penumpang lapar, pemilik kendaraan harus siapkan makan. Kalau musim hujan nanti pemilik kendaraan harus bawa beras dan sayur. Kalau jalan rusak menunggu diperbaiki, sungai banjir menunggu redah, atau bus rusak, ya penumpang masak nasi dan sayur untuk makan bersama. Itu cerita menarik melawati ruas jalan ini. Saya pernah mengalaminya. Dari Kefamenanu sampai Oepoli bisa seminggu," ujar Romo Bento.

Cerita Romo Bento 'melupakan' terjalnya jalan dari Aplal hingga Naekake. Guncangan semakin hebat. Mulai loyo. Melepas lelah, kami beristirahat di sebuah kios, depan Gereja Naekake. Menikmati lemet. Tolakannya kopi dan teh. Gratis. Maklum jalan dengan pastor. Bayarannya terima kasih.

Pulih, petualangan dilanjutkan. Menapaki Naekake. Kami berhenti di kawasan tempat dibangunnya rumah layak huni untuk masyarakat terpencil. Tepatnya di Naekake B. "Pak Benny foto dulu. Ini rumah-rumah belum rampung. Tapi kontraktor melapornya ke Kupang 100 persen. Lihat, hampir semuanya belum berdinding. Ada yang belum beratap. Kayu-kayu bangunan disiapkan masyarakat, padahal dananya ada," Romo Bento memberi informasi. Saya mencatatnya.

Ruas Naekake menuju Noelelo menantang maut. Jalan berlubang-lubang. Menyusur perlahan menuruni tebing-tebing curam. Tapi suasana mengasyikkan. Terang rembulan. Petualangan semakin bergairah. Menikmati rembulan, kami beristirahat di Sungai Noelelo yang kering. Sungai yang membatasi wilayah Kabupaten TTU dengan Kabupaten Kupang. "Kemarau tahun ini memang sangat kejam. Sungai Noelelo ini sampai kering. Padahal tidak biasanya," ujar Romo Bento. Momen ini kami abadikan dengan pose bersama.
***
PUKUL 21.05 wita. Petualangan memasuki wilayah Kabupaten Kupang. Dari Noelelo mendaki membelah bukit yang dipenuhi pepohonan. Mobil melaju, jalan beraspal. Di beberapa titik ada perbaikan, pengerasan, dilapisi aspal baru. Meski hari telah malam, para pekerja terlihat masih mengkrabi linggis dan skop.

Romo Bento berkomentar lagi. "Pengawasan pengerjaan proyek di daerah terpencil ini harus lebih sering dilakukan. Jangan-jangan karena keterpencilannya, orang mengabaikan mutu. Apalagi kalau pengawas tinggal di tempat. Lebih parah lagi," tegas Romo Bento.

Di kawasan hutan di wilayah ini, ditemukan atrasi warga yang memrihatinkan. Hutan dibabat, dibakar, dijadikan lahan pertanian. Tak ada terasering. Malam itu, kondisi ini menjadi tontonan menarik. Melukai pesona keindahan alam pegunungan yang seharusnya menjadi primadona lingkungan.

Di Pos Sungai, panorama kesuburan Oepoli mulai terlihat. Ada irigasi mengalirkan air ke lokasi persawahan yang membentang luas. Romo Bento memberi garansi potensi alam Oepoli dengan tingkat kerusakan yang relatif kecil sangat menjanjikan. Teramat banyak pilihan bagi siapa saja untuk membangun Oepoli, asalkan dengan hati yang tulus. Pasalnya, 'sekujur tubuh' Oepoli menyimpan aura kesuburan yang tidak terbantahkan. Di Pos Tengah, areal sawah Oepoli mulai membentang luas. Banyak lahan-lahan tidur masih 'pulas.' Belum tergarap.

Pukul 22.34 wita, kami tiba di Pastoran Oepoli. Duduk-duduk sebentar di teras. Melemaskan raga yang kaku kelamaan duduk. Menuturkan lagi cerita-cerita 'aneh' seputar transportasi Kefamenanu-Oepoli bak 'neraka.' Lebih banyak cerita duka di musim hujan. "Kalau musim hujan Oepoli ini sangat terisolasi. Yang sengsara ibu-ibu kalau persediaan pembalut habis. Kalau Om Niko Ledoh, sopir bus Merpati ke Kefamenanu, banyak ibu-ibu titip uang beli pembalut. Saat hujan, barang itu susah cari di Oepoli, habis dibeli untuk stok," ujar Silvester, teman seperjalanan mengangkat angle menarik. Om Niko? Mengamininya. Pun beras dan sayur untuk 'pesta' di jalan. (bersambung)

Kenali Caleg yang Hendak Dipilih

Oleh Sipri Seko

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Propinsi NTT dan KPU tingkat kabupaten/kota di NTT akhirnya mengumumkan daftar calon tetap (DCT) anggota legistlatif yang akan mengikuti pemilihan umum tahun 2009. Sebanyak 44 partai politik peserta pemilu dengan jumlah calon anggota legislatif (caleg) yang mencapai ribuan orang akan berebut kursi yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh untuk setiap daerah pemilihan. Untuk DPRD Propinsi NTT, hampir seribu orang caleg akan memperebutkan 55 buah kursi.

Pada Pemilu 2009 ini, di 20 kabupaten/kota di NTT jumlah pemilih mencapai 2.769.845 orang. Jumlah ini terdiri dari pemilih laki-laki 1.340.221 dan pemilih perempuan 1.421.524 orang. Untuk tingkat Propinsi NTT dibagi dalam tujuh daerah pemilihan, dimana jumlah kursinya disesuaikan dengan sebaran pemilih yang ada.

Dengan ditetapkannya DCT ini, maka para caleg harus mulai lebih intens melakukan sosialisasi diri. Waktu yang tersisa sebelum pelaksanaan Pemilu 2009 untuk sosialisasi diri tinggal enam bulan lagi, sehingga sosialisasi harus lebih diintensifkan. Dengan jumlah partai yang berjibun seperti ini, sosialisasi dan keterkenalan sosok diri caleg dengan para pemilih menjadi penting.

Berbeda dengan sistem pemilu yang lalu-lalu, sampai saat ini KPU pusat belum menetapkan desain surat suara yang akan digunakan dalam Pemilu 2009. Untuk sementara, KPU pusat menyiapkan desain surat suara di mana kolom nama partai dipersempit untuk memberikan ruang yang lebih lebar bagi kolom nama dan foto caleg. Artinya, kalau ini yang digunakan, seorang caleg harus benar-benar dikenal oleh pemilihnya. Ini beda dengan pengalaman lalu dimana dengan mengusung nama besar partai, sebuah partai sudah memiliki pemilih tradisional sehingga meski tidak melakukan sosialisasi, calegnya sudah pasti terpilih.

Hal lainnya adalah, kalau dulu surat suara dicoblos, maka kemungkinan untuk Pemilu 2009 saat memilih, foto dan nama caleg yang dipilih dicentang. Di sini, peran caleg untuk memberikan pemahanan kepada pendukungnya sangat penting. Sebab kalau salah, suara akan dianggap cacat yang tentu saja merugikan dirinya dan partai.

Lalu, bagaimana sikap pemilih menghadapi penetapan dan pengumuman DCT ini? Pemilih harus kritis! Jangan memilih kucing dalam karung. Artinya, caleg yang dipilih, harus benar-benar dikenal. Komitmen caleg untuk kesejahteraan masyarakat harus jadi acuannya. Caleg yang dipilih adalah mereka yang mencalonkan diri bukan karena ingin mencari sesuap nasi. Track record atau perjalanan karya caleg harus diketahui dengan pasti. Artinya, meski seorang caleg masih ada hubungan keluarga, sahabat, kenalan atau pernah menjadi pejabat birokrat penting, namun kalau tidak memiliki idealisme membangun kesejahteraan masyarakat, jangan dipilih.

Mengumumkan nama-nama caleg lewat media massa tujuannya adalah dikenal pemilih. Bukan hanya caleg yang menjadi perhatian. Visi dan misi partai harus diketahui dengan jelas. Partai besar dengan slogan dan promosi besar-besaran, belum tentu memiliki visi dan misi yang memihak rakyat, demikian sebaliknya.

Ada banyak komentar dan tanggapan yang bermunculan tentang DCT ini. Positif atau negatif komentar dan tanggapan itu harus tetap dilihat sebagai bagian dari demokrasi. Kesadaran politik masyarakat sudah mulai terbentuk seiring banyaknya regulasi baru yang diterbitkan pemerintah. Saatnya nanti mereka akan mengetahui caleg mana yang harus dipilih. Pemilih sekarang juga tahu caleg mana yang saat pemilu rajin memberikan bantuan kepada masyarakat, namun akan menghilang bila sudah terpilih. Itu artinya, siapa yang sudah ada di hati mereka, pasti tetap dipilih, meski ada lain yang datang memberikan bantuan.

Enam bulan masa sosialisasi adalah waktu yang harus dimaksimalkan oleh semua kita yang memiliki hak pilih maupun dipilih. Mengambil hati pemilih harus dilakukan dengan maksimal. Tapi, harus diingat bahwa masyarakat sekarang membutuhkan bukti-bukti bukan janji.

Memilih adalah hak yang harus dilaksanakan. Dengan kata lain, sebagai warga negara yang bertanggungjawab terhadap kesinambungan pembangunan, hak pilih harus digunakan. Untuk itu, sebagai pemilih yang baik, tidak salah kalau sejak sekarang kita sudah mengenal para caleg. Dengan mengenal mereka, maka kita tidak akan salah memilih. Sekali mencoblos atau mencentang, maka nasib masyarakat akan ditentukan untuk lima tahun mendatang. *

Jumat, 31 Oktober 2008

Wakil Presiden dari NTT

Oleh D Elcid Li
Co-editor Jurnal Academia NTT


HIRUK pikuk 'nyapres' di Jakarta hanya memberikan tempat orang-orang di pinggiran - termasuk NTT - sekadar penonton saja. Kalau pun ada yang ikut di pusat, posisinya masih sama : penonton. Singkat cerita, Pemilu Presiden 2009 mendatang gambarnya hampir mirip dengan permainan 'bola guling' di rumah duka.

Warga Flobamorata (akronim untuk beberapa pulau besar di NTT: Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata) jelas bukan pemain/pemasang taruhan, cuma sekadar penonton yang mengitari meja. Sebagai penonton kadang berdecak kagum karena jagonya menang, kadang marah-marah karena jagonya kalah, dan kadang tidak pusing juga karena duit yang dimakan bandar bukanlah miliknya. Tapi, kadang jika semangat mendukung salah satu pemain, bukan tidak mungkin ia dapat tip. Bisa jadi tip cukup besar dan dinamakan jabatan. Lumayan cuma modal mulut.

Jika meja bola guling adalah pentas politik, maka rumah duka itu adalah negara. Pemilu bagi warga NTT adalah ajang melayat. Yang namanya melayat meskipun dekat dengan kematian tidak berarti isinya duka melulu. Sebab di bawah terpal biasanya para sahabat lama bertemu, musuh pun saling berjabat tangan, karena semuanya tahu bahwa 'kematian' memang bisa tiba kapan saja. Dan, hari terakhir bisa jadi malam itu. Para pemain wajahnya ada dua belas rupa, siap bertukar wajah untuk mengaburkan pesan dan jumlah uang yang dibawa di kantong. Kata pengamat, kantong ada hubungan dekat dengan suara. Kata pengamat politik lagi, Indonesia adalah salah satu negara demokratis terbesar di dunia.

Tetapi, pertanyaannya, siapa yang meninggal ketika pemilu tiba? Jawabannya tak mesti orang. Bisa jadi negara, bisa jadi kematian orang pinggiran untuk kesekian kali. Pinggiran atau marginal di sini tidak mesti berdasarkan aspek ruang geografis semata, tetapi persoalan pinggiran itu sendiri. Jadi yang mati, bisa jadi demokrasi itu sendiri. Jika tidak sepakat, minimal argumentasi ini mewakili kematian orang pinggiran dalam Pemilu sebagai ajang demokrasi.


Wapres dari NTT?

Penjelasannya begini. Bukan cuma Anda yang kaget dengan pertanyaan siapa wapres dari NTT? Tetapi para pembaca mailing list Forum Academia NTT pun kaget, begitu kagetnya tidak ada yang membalas pertanyaan itu meskipun setelah satu minggu berlalu. Padahal anggotanya adalah adalah dosen, wartawan, anggota DPR, mahasiswa, aktivis LSM, pastor, pendeta, dokter, dan lainnya. Jadi persoalannya bukan pada persoalan intelektual. Tapi kalau bukan itu, lantas apa?

Apa mungkin untuk berimajinasi pun orang NTT sudah tidak berani lagi? Jika sudah tidak berani berimajinasi, apakah tidak boleh dianggap mati? Jika demokrasi sebagai sebuah imajinasi pun telah mati bagi masyarakat pinggiran, lantas apa yang sedang terjadi?


Atau, jangan-jangan, judul tulisan ini pun dianggap sebagai humor semata. Humor yang tak mungkin dan menjengkelkan jadi tidak perlu dibahas. Sarkasme semacam itu jelas tidak memberikan atmosfir persahabatan. Jika kita tiba dengan rasa ini, apa ini bukan sebuah cara 'mati rasa' yang biasa?

Jika para calon wakil presiden saat ini cukup gagah menempelkan CV-nya, dan menuliskan nama trah keluarganya, juga jabatannya dalam logika sejarah moderen, maka jangan ditanya mana CV orang yang berimajinasi saja sudah tidak.

Sejarah Nenek Moyang
Soal sejarah besar tentulah orang-orang pinggiran di NTT tidak menyimpannya. Tak pernah ada kitab soal sejarah itu. Nenek moyang yang menulis saja tak. Soal berapa lautan yang telah diarungi tempo doloe pun, orang Dawan di Timor pun tidak ada yang tahu, sebab banyak lagi yang belum melihat laut.

Tetapi, tanpa semua kedigdayaan dan cerita besar soal kerajaan masa lalu, apakah lantas orang-orang pinggiran pantas dipinggirkan, dan pantas merasa tidak ada? Apakah benar tidak ada calon wakil presiden dari NTT? Soal ini, bukan cuma orang NTT saja yang merasa ini wajar. Tempo edisi terbaru pun tidak menulis adanya calon wakil presiden dari NTT. Dan, itu bukan masalah!

Sampai di sini, tentu sidang perkabungan sudah mengerti, mengapa pentas demokrasi pun bisa memberi kabar duka untuk orang pinggiran. Mungkin ada yang bertanya, kenapa menjawab calon wapres saja tidak berani, bagaimana kalau pertanyaannya: 'siapa calon presiden dari NTT?' *

Rabu, 22 Oktober 2008

Bis Kayu

Oleh Dion DB Putra

SEBELAS tahun lalu sentilan itu sungguh menusuk. Membuat malu. Menggaruk- garuk gengsi remajaku yang masih segunung. Tetapi di Bolok pekan lalu, beta tak sanggup lagi berdalih. Ada "neraka" di beranda rumah Flobamora.

"Kamu tahu letak neraka? Neraka adalah menumpang 'bis kayu' di Flores," kata seorang misionaris asal Spanyol di salah satu tempat di Timor Timur medio Juli 1997. Sempat menganggap pernyataan itu sekadar guyonan karena dia tahu asalku dari sana. Ternyata pastor itu sungguh-sungguh. Dia merasa sesak napas saat menumpang bis kayu di Flores. "Di dalam bis kayu, saya duduk bersama babi, kambing, ayam, jagung, beras, kelapa, sayur, kayu bakar," kata sang misionaris.

Dan, 'bis kayu' masih ada di Flores. Jumlah tak sebanyak tahun 1997, tetapi keberadaannya belum punah. Dia masih menjadi sarana transportasi andalan yang menerobos jalan desa dan gunung. Masuk sampai ke udik. Mudah ditemukan di pasar mingguan seantero Pulau Flores. Sejatinya bis kayu adalah truk. Truk yang dimodifikasi. Ada tempat duduk dari papan dan beratap. Demi mengatasi hujan dan angin, bis kayu dilengkapi terpal penutup kedua sisinya.

Kata "neraka" kembali mengganggu saat menjemput seorang sahabat yang tiba dari Aimere menggunakan jasa Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Umakalada di Pelabuhan Bolok pekan lalu. "Saya menemukan neraka di geladak Umakalada," kata sahabat itu sambil geleng-geleng kepala.

Dia hendak pulang ke Jawa setelah berlibur di kampung asal istrinya. Tidak mendapat tiket pesawat ke Kupang, menumpang kapal feri jadi pilihan agar bisa kembali sesuai jadwal cuti. "Kecuali toilet, hampir seluruh bagian Umakalada penuh manusia dan barang. Sebagian penumpang duduk di tangga kapal karena tidak ada lagi tempat kosong. Saya cemas selama perjalanan. Tidak nyaman. Sulit tidur. Tapi saya heran, banyak juga penumpang yang bisa tidur nyenyak. Mungkin sudah biasa bagi mereka," katanya sambil tertawa.

Memang tidak mengherankan. Bis kayu dan kapal feri adalah bagian dari keseharian mayoritas penduduk NTT. Tidur di geladak berdekatan dengan kambing, babi, ayam, kuda, sayur, beras, sepeda motor, truk dan mobil adalah hal biasa. Kapal feri yang nyaman masih sebuah cita-cita. Kapal di NTT Asal Lintas Saja dulu. Kenyamanan bukan prioritas. Sudah berulang kali dirilis bahwa feri milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) seperti KMP Ile Mandiri, Kambaniru, Ile Ape, Cucut, Balibo, Rokatenda, Mutis dan Uma Kalada usianya sudah tua. Rentan terhadap kecelakaan dan tak mampu memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat. NTT pernah membeli kapal sendiri, namun nasibnya tidak jelas sampai sekarang karena salah urus. Lebih lama berlabuh ketimbang berlayar. Mirip kapal-kapalan.

Markus, kawan beta yang anggota Dewan baru-baru ini berkata jujur. Sejak mendapat sapaan Wakil Rakyat yang Terhormat empat tahun silam, dia kikuk dan malu menumpang kapal feri. "Gengsi eja. Biar dana cekak, saya usahakan pakai pesawat. Pinjam pun tak apa," katanya. Bukankah banyak orang seperti Markus? Setelah bertitel "pejabat negara", nyaring berteriak pro rakyat dari ruang kerja ber- AC, jok mobil empuk dan jendela pesawat. Kenyataan di luar sana sekadar dibayang-bayangkan saja. (email: dionbata@poskupang.co.id)

Senin, 20 Oktober 2008

Hati-hati! Ponsel Bisa Merusak Sperma


TAMPAKNYA kaum laki-laki yang doyan mengobrol berjam-jam dengan menggunakan telepon seluler (ponsel) perlu berhati-hati. Bisa-bisa, mereka akan kehilangan kesempatan menjadi seorang ayah. Apa pasal? Ternyata, radiasi yang ditimbulkan ponsel bisa merusak kualitas sperma.

Penelitian Universitas Newcastle menemukan bahwa terdapat kerusakan DNA pada sperma yang diakibatkan oleh penggunaan ponsel yang berlebihan. Dalam eksperimennya, para peneliti menggunakan radiasi yang dibuat menyerupai radiasi yang dihasilkan sebuah ponsel.

Penelitian pendahuluan yang diperagakan dalam sebuah konferensi mengenai kesuburan di Brisbane Senin (20/10/2008) seperti dilansir news.com.au merupakan penelitian pertama mengenai hal ini dan mendukung penelitian lain di AS yang menyebutkan bahwa pengguna "berat" telepon seluler memiliki sperma 40% lebih rendah dibanding pengguna "ringan".

Para peneliti di Universitas Newcastle tersebut mengembangkan sebuah alat yang dapat memancarkan radiasi pada frekuensi radio yang sama dengan radiasi akibat panggilan telepon.

Profesor John Aitken, Direktur Pusat Bioteknologi dan Perkembangan mengatakan bahwa pihaknya mampu mengidentifikasi secara akurat perpecahan DNA di dalam sperma. "Setelah 16 jam terekspos (radiasi), terlihat bukti nyata kerusakan sperma," ungkap Profesor Aitkens. "Hal ini memang merupakan penemuan yang amat
dini. Tapi hal ini membangkitkan kekhawatiran yang amat sangat," tambahnya.

Kerusakan DNA di dalam sperma telah diidentifikasikan dengan kesuburan yang menurun, meningkatnya risiko keguguran, dan berbagai penyakit lain yang menyerang keturunan seperti kanker pada usia kanak-kanak, dan kerusakan neurologis seperti autisme, kelainan bipolar, dan schizophrenia spontan.

Prof Aitken mengemukakan bahwa telah lama diketahui bahwa perpecahan DNA sperma disebabkan oleh infeksi, merokok, dan usia lanjut, namun hanya sedikit penelitian yang meneliti hubungannya dengan penggunaan ponsel.

Di tempat lain, sebuah penelitian di Jerman menemukan bahwa penghangat jok kursi di mobil-mobil mewah juga dapat merusak sperma. Hal ini disebabkan peningkatan temperatur sekitar alat kelamin di atas level optimal bagi produksi sperma. **

Asam Timor, Potensi yang Terlupakan

Oleh Muhlis al Alawi

BERBAGAI potensi dimiliki Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Salah satunya sektor pertanian yang menjadi kebanggaan kabupaten ini. Di sektor ini TTS mempunyai jagung, padi hingga tanaman tumpang sari. Aneka tanaman ini telah membudaya untuk mencukupi kebutuhan pangan warga.

Tetapi TTS tidak cuma punya jagung, padi dan tanaman tumpang sari. Sudah sejak dulu Kabupaten Cendana Wangi ini memiliki asam. Asam sesungguhnya sangat prospektif. Sayang, sejauh ini pemerintah masih menganaktirikan asam. Rakyat dibiarkan sendiri memburu asam di hutan. Memburu, karena pohon asam di hutan tidak punya pemilik. Siapa saja bebas memetik dan atau memungut buahnya yang jatuh ke tanah.

Menjelang musim panen, yakni Agustus, September dan Oktober warga ramai- ramai masuk keluar hutan memburu asam. Saking banyaknya, jangan pernah menyangka bahwa warga akan naik ke pohon lalu menjatuhkan buahnya. Tidak. Mereka lebih memungut buah yang sudah jatuh ke tanah. Buah itu lalu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam karung untuk dijual kepada pengepul.

Siklus mencari, mengumpul dan menjual asam ke pengepul sudah jadi tradisi. Sudah lazim dan berjalan setiap tahun. Meski sudah lazim dan dilakonkan ramai- ramai oleh warga di desa dan kampung, hal itu belum berhasil memberi inspirasi kepada pemerintah dan wakil rakyat untuk mengembangkan asam menjadi komoditas primadona. Beruntung, pohon asam tidak rewel seperti tanaman yang lain. Di hutan-hutan pohon asam tumbuh alamiah. Kokoh berdiri. Tidak perlu dirawat.

Tetapi melihat potensi dan prospeknya yang lumayan, mestinya pemerintah bisa memikirkan untuk melipatgandakan fungsi asam sehingga lebib berdaya guna. Harganya memang terbilang murah. Cuma Rp 600,00 hingga Rp 1.000,00/kg. Tetapi kalau pemerintah bisa menjadikan asam sebagai komoditas massal dan diusahakan secara massal, tak sulit menghitung berapa duit yang diraup warga. Apalagi, asam bukan cuma daging buahnya yang bermanfaat. Biji asam juga dicari untuk diolah menjadi zat pewarna untuk industri tekstil.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan TTS, Drs. Daniel Dede, yang saat diwawancarai masih menjabat, mengatakan, setiap tahun TTS dapat memproduksi asam sebanyak 2.000 hingga 3.000 ton. Bila warga menjual asam ke pengusaha di Kota SoE, maka akan mendapatkan harga setiap kilogramnya Rp 1.000,00 hingga Rp 2.000,00. Sementara bila biji asam diolah menjadi tepung bisa dihargai dengan Rp 7.000,00/kg.

Kendati demikian, kata Dede, untuk mengubah biji asam menjadi tepung dibutuhkan teknologi mesin pengolahnya. Selain itu, sebelum dipasarkan ke perusahaan tekstil tepung itu harus memenuhi standar mutu internasional. Dede menegaskan mutu tepung biji asam dari TTS memiliki kualitas paling baik.

Konon, biji dan daging buah asam dari Timor memiliki kualitas yang unggul dibandingkan dengan asam lainnya di Indonesia. Di pasaran, pengusaha besar di Jawa lebih memilih asam daratan Timor untuk diolah menjadi makanan ringan, minuman ringan dan bahan komestik.

"Tepung yang terbuat dari biji asam saat ini sangat dicari perusahaan tekstil untuk pewarna kain. Untuk Indonesia, tepung biji asam masih didatangkan dari India lantaran ketiadaan tepung biji asam di tanah air. Makanya, bila TTS dapat menyuplai setidaknya sepuluh ton tepung biji asam, maka kabupaten ini akan kebanjiran investor perusahaan tekstil. Dan tentunya industri ini akan memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat TTS," kata Dede.

Untuk merancang ke arah industri rumah tangga, lanjut Dede, pihaknya terlebih dahulu akan mengoptimalkan bantuan mesin pengolah biji asam menjadi tepung tahun ini. Bila berhasil, tahun berikutnya Disperindag akan melakukan pengadaan biji asam dan sekaligus mesin pengelolaanya.

Tak beda dengan Dede, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan TTS, Drs. Urias Sanam, yang dikonfirmasi melalui Kasi Rehabilitasi dan Pengkayaan Hutan, Chris Koenunu, S.Hut mengatakan pohon asam bisa berbuah dalam usia lima tahun. Selain mudah membudidayakannya, menanam pohon asam tidak memerlukan perawatan ekstra layaknya tanaman lainnya. Ibarat tinggal menabur bijinya saja, maka tanaman itu bisa tumbuh hingga besar.

Dalam catatan Dishutbun TTS, produksi asam tujuh tahun terakhir mengalami pasang surut. Tahun 2001, produksi asam isi sebanyak 792 ton, tahun 2002, 487,5 ton, tahun 2003 sebanyak 4.635 ton, tahun 2004, 3.261 ton, tahun 2005, 3.174 ton, tahun 2006, 3.287 ton dan tahun 2007 sebanyak 5.535 ton.

Menurut Koenunu hampir seluruh daratan di TTS ditumbuhi pohon asam. Namun pohon asam itu tumbuh dengan sendirinya tanpa adanya unsur kesengajaan pemilik tanah menanamnya. Koenunu menyebutkan daerah penghasil asam terbesar berada di Kecamatan Kualin, Kolbano, Boking, Toianas, Amanuban Selatan, Mollo Utara, Mollo Tengah dan Mollo Barat.

Nah, tidak ada salahnya bila asam timor dapat dijadikan sebagai aset yang paling berharga untuk menambah pendapatan warga. Bila saja pemerintah memprogramkan penanaman asam secara massal, maka di saat musim kemarau warga tak lagi gigit jari menunggu berbagai bantuan pangan dari pihak luar lantaran kekurangan pangan. Terlebih lagi, bila pemerintah serius, maka dengan sentuhan teknologi perkebunan dan pertanian dapat memungkinkan satu pohon asam berbuah dua hingga tiga kali dalam setahun. Alhasil, warga pemilik pohon asam pun dapat berbesar hati. Rupiah pun dapat diraup warga saat musim panen tiba. Dan, untuk menghindari gejolak turunnya harga pada saat musim panen maka sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk membeli asam milik masyarakat.

Timor Tengah Selatan pernah berjaya karena cendana. Kini secara ekonomis, cendana telah punah. Kabupaten ini juga pernah harum namanya karena buah apel. Kini, apel SoE tenggelam dan nyaris tidak terdengar lagi. Kabupaten dingin ini juga punya nama besar karena jeruk keproknya. Tetapi TTS tidak hanya punya itu. Dia punya asam dengan kualitas sangat baik. Cepat atau lambat, asam akan melambungkan nama Timor Tengah Selatan. **

Ubi Nua Bosi

Oleh Maria Matildis Banda

SAMA seperti ubi kayu lainnya, ubi kayu yang berasal dari Nua Bosi, Kabupaten Ende biasa-biasa saja. Potongannya persis ubi kayu dari mana saja. Tetapi bukan ubi Nua Bosi namanya kalau tidak diangkat jadi bahan pembahasan tiga sahabat karib kali ini. Semua orang juga tahu, bentuk dan potongan boleh sama, tetapi soal rasa dan harga, nanti dulu. Rasanya yang sangat spesial, karena itulah harganya juga mahal.

Silahkan ke pasar Mbongawani Ende, masuk ke bagian paling selatan pasar ikan, persis di tepi jalan lalu lintas motor, mobil, dan kendaraan dan kesibukan pasar Mbongawani, di sanalah berderet dan bertumpuk-tumpuk ubi Nua Bosi. Pasti selalu tersedia kapan saja. Namun kalau saat kapal dan feri berangkat, ubi Nua Bosi pun rata, terbang jadi ole-oleh ke Kupang, Denpasar, Ujung Pandang, Surabaya, Jakarta. Percaya atau tidak percaya? Ubi Nua Bosi dengan penampilan apa adanya, pun terbang ke negera lain di Asia dan ke benua lain seperti Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika.

***
"Karena itu kita kasih kado Ubi Nua Bosi saja untuk bupati terpilih!" Demikianlah Rara menyampaikan usul yang menurutnya usulan terbaik yang pernah disampaikannya sepanjang hidupnya. "Apa sudah gila? Bagaimana mungkin kasih kado untuk bupati terpilih hanya sekadar ubi Nua Bosi? Aduuh, seumur hidup saya, saya baru ketemu dengan orang gila seperti kamu!" Jaki segera pasang jurus tangkis.
"Ini kado istimewa!" Potong Rara dengan serius bin serius.

"Kita isi ke dalam dos aqua terus kita bungkus baik-baik dengan kertas kado warna pelangi, terus kita ikat dengan pita merah, terus kita kirim. Untuk paket Doa yang menang di Ende, kita antar langsung saja pakai ojek. Untuk paket Konco di Sumba Barat Daya kita kirim via feri besok pagi-pagi. Untuk paket Nazar di Rote Ndao, kita kirim pakai pesawat Trans Nusa! Aman bukan?"

"Aduh, kamu benar-benar sudah miring," Jaki memiringkan telunjuk di dahinya. "Kalau paket Doa tidak masalah, sebab Doa sudah hafal luar kepala yang namanya ubi Nua Bosi. Kalau untuk Konco, kamu tahu tidak? Kornelis Kodi Mete itu dokter yang baik hati. Apakah kamu tega mengirim kado ubi Nua Bosi untuk dokter itu? Kalau Nazar, Christian Nehemia Dillak, apakah kamu yakin pernah makan ubi Nua Bosi?" Tanya Jaki. "Kalau kamu memang sudah gila, gila yang benar, gila yang baik-baik!"

"Pokoknya, harus ubi Nua Bosi! Titik!" Rara tidak bergeming.

"Wah, kamu punya gaya persis penguasa! Kalau sudah mentok, mulai menggunakan jurus pokoknya, pokoknya, pokoknya..." kata Jaki. "Silahkan saja, saya dan Benza tidak mau terlibat!"

***
"Itu gagasan cemerlang!" Jaki kaget setengah mati waktu Benza berpihak pada Rara. Gagasan cemerlang? Aduh! Benza sudah sama gilanya dengan Rara. Kalau sampai ini terjadi, maka terjadilah bencana besar. Yang pasti Jaki tidak mau harus malu besar gara-gara kado yang sama sekali tidak nyambung dengan tujuan. Jaki bertekat untuk undur diri dari urusan kado.

"Dengar dulu Jaki," Benza menjelaskan. "Ubi kayu itu kado yang paling cocok untuk bupati terpilih di Ende, Sikka, Sumba Tengah, Rote Ndao, Sumba Barat Daya, Manggarai Timur, Kupang, dan di mana saja. Juga hadiah istimewa untuk gubernur dan presiden. Bila perlu kita kirim juga untuk Barrak Obama kalau sudah terpilih jadi Presiden Amrik nanti!"

"Apa argumentasinya?" Jaki tampak putus asa.

"Ubi kayu itu makanan rakyat, makanan orang susah. Ubi kayu sumber karbohidrat. Dalam karbohidrat terkandung glukosa yang berfungsi sebagai sumber tenaga. Makanya karbohidrat disebut sumber tenaga. Pesannya, jadilah karbohidrat bagi masyarakat atau berikanlah karbohidrat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat. Namun ingatlah! Dalam ubi kayu ada juga kandungan asam biru, racunnya ubi kayu. Kalau asam birunya tinggi ubi kayu akan berubah menjadi racun yang memabukkan. Artinya, jangan sampai menjadi asam biru, apalagi memberi asam biru untuk rakyat. Berjaga-jagalah! Agar karbohidarat tidak berubah menjadi asam biru. Semua orang yang berada di sekitar kita, juga dapat menjadi karbohidrat atau asam biru. Sepanjang dominasi sekitar adalah karbohidrat oke-oke saja. Tetapi kalau lingkungan sekitar didominasi asam biru demi kepentingan pribadi, maka tinggal tunggu saja kapan saatnya asam biru benar-benar menjadi racun. Bukankah sukses dan gagal hanya dipisahkan oleh tirai tipis yang tembus pandang? Analogi ini penting dipahami agar tidak ada satu pun yang berada di sekitar kita menjadi asam biru. Kamu mengerti bukan?"

***
"Bukan!" Jawab Jaki tetap putus asa.
"Ubi Nua Bosi hadiah paling istimewa!"
"Kamu sudah kirim ke mana saja?"

"Ke dokter Dami Wera di Sikka, dokter Kornelis di Sumba barat Daya, Simon Hayon di Flotim, Yohanes Samping Aoh di Nagekeo, juga buat Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Gubernur Bali, Mangku Pastika!"

"Apa aku bilang?" Rara senang bukan main sebab baru kali ini gagasannya diterima telak oleh sabahatnya Benza. "Ubi kayu apa saja boleh.Tetapi karena ubi Nua Bosi adalah ubi terbaik, maka pantaslah kita berikan ubi Nua Bosi!" Rara tertawa bangga."Ayoh kita ke Nua Bosi, kita beli langsung di kebun!"

"Beli di pasar Mbongawani saja!" Protes Jaki dengan wajah masam.

"Ke Nua Bosi biar dapat yang matang di pohon, segar, bersih, dan terjamin bebas asam biru," Rara dan Benza langsung cabut, dan Jaki pun tinggal akui saja. **

Minggu, 19 Oktober 2008

Dicari, 'Gudang Ternak' Sapi di Pulau Timor

Oleh Julianus Akoit

DUA atau tiga dasawarsa yang lalu, Pulau Timor dikenal dengan julukan 'Gudang Ternak Sapi' di Indonesia. Di pulau yang didominasi padang sabana ini, berkembang biak ternak sapi dengan sangat baiknya, oleh usaha peternakan rakyat. Setiap bulan, 700 - 1000 ekor sapi yang diantarpulaukan dari Pelabuhan Atapupu (Belu), Pelabuhan Wini (TTU) dan Pelabuhan Tenau (Kupang).

Belasan kapal pengangkut ternak sapi milik saudagar hewan dari Surabaya dan Jakarta hilir-mudik setiap hari di laut Timor menuju Pulau Jawa. Bahkan sapi-sapi dari Timor diekspor hingga Singapura, Hongkong dan Taiwan.

Tetapi itu romantisme masa lalu. Sekarang jumlah ternak sapi yang diantarpulaukan ke Jawa hanya sekitar 800 ekor per triwulan. Bahkan jumlahnya diperkirakan terus berkurang, termasuk kualitasnya. Julukan yang diberikan almarhum Presiden Soeharto bahwa 'Timor adalah Gudang Ternak Sapi' di Indonesia, kini hanya akan jadi dongeng untuk anak cucu. Sekarang, gelar itu sudah direbut oleh Sulawesi. Di sana ternak sapi dikembangkan secara serius di ranch-ranch modern. Mereka membangun ratusan Breeding Centre Ranch dan Fattening Centre Ranch di hampir seluruh wilayah Sulawesi, terlebih di Gorontalo.

Di Kalimantan dan Sumatera (Medan) usaha ternak sapi yang modern kini sedang digalakkan. Pulau Bali pun kini sedang menggeliat. Sejak dahulu, sapi sudah begitu lekat bahkan menjadi bagian dari kebudayaan Bali. Bahkan jenis Sapi Bali (Bos Sondaicus) ditetapkan sebagai salah satu plasma nutfah dunia. Kendati populasi sapi di Bali tidak besar, Pemprov Bali sangat serius memperhatikan perkembangan mutu genetika Sapi Bali.

Mereka membuat perda melarang pengeluaran sapi pejantan dan betina unggulan. Sanksinya sangat berat bila tertangkap petugas. Bahkan di Kabupaten Jembrana, Gubernur Bali memberi bantuan kapal patroli untuk mengejar penyelundup bibit Sapi Bali melalui laut.

Lalu bagaimana pengembangan ternak sapi di Pulau Timor? Mengapa sejak tahun 1980-an, populasi ternak sapi di Timor menurun drastis? Lalu bagaimana solusinya? Tulisan ini tidak bermaksud mengulas secara detail. Paparan ini hanyalah sumbang saran, urun ide sederhana bagi petani peternak, pengusaha ternak bahkan peneliti yang peduli pada usaha pengembangan ternak sapi di Pulau Timor.

Ada beberapa jenis ternak sapi yang dikembangkan, yaitu Sapi Bali (Bos Sondaicus), Sapi Grati, Sapi Madura dan sapi peranakan Ongole (keturunan hasil persilangan antara sapi Ongole jantan dan sapi betina Jawa). Namun sejak dulu, yang dikembangkan secara besar-besaran di Pulau Timor adalah Sapi Bali (Bos Sondaicus).

Bos Sondaicus, bukan hewan atau ternak asli di Pulau Timor kendati ia diklaim sebagai ternak asli Indonesia. Ia berasal dari hasil domestikasi terus menerus banteng liar Bos Sondaicus (Bos Banteng). Banyak peneliti telah berusaha mencari tahu sejak kapan Sapi Bali masuk ke Pulau Timor? Siapa yang membawa Sapi Bali ke Pulau Timor? Penelusuran sejarah ini perlu saya paparkan di sini sebab ini terkait dengan penjelasan kenapa populasi Sapi Bali di Timor menurun drastis. Bahkan kualitasnya memprihatinkan.

Tidak ada satu pun bahan pustaka yang ditulis seorang insinyiur peternakan, yang membahas sejak kapan Sapi Bali masuk ke Pulau Timor, dan bagaimana perkembangan ternak ini. Namun ada seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda yang menjabat sebagai Kepala Kantor Goegrafi Pemerintahan Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) bernama F.J. Ormeling, menulis beberapa catatan kecil, hasil pengamatannya terhadap orang-orang, tumbuhan dan ternak Pulau Timor.

Catatan kecil Omerling itu, dijadikan buku oleh J.B. Wolters dengan judul "The Timor Problem: A Geographical Interpretation of An Underdeveloped Island" dan diterbitkan oleh Djakarta and Groningen pada tahun 1956. Seorang kurator terkenal dari NTT, Drs. Wilfridus Silab, menyelamatkan buku tua ini dan membuat terjemahannya setebal 200 halaman.

Ormeling mencatat, Sapi Bali didatangkan Pemerintah Hindia Belanda pertama kali ke Pulau Timor pada tahun 1912. Sepanjang tahun 1912, tercatat 2.700 ekor ternak dimuat di atas Kapal Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM/Kapal Barang) dibawa ke Pulau Timor. Rinciannya, 1.000 ekor sapi, sisanya kerbau, kuda dan kambing.

Pada tahun 1919, Burgerlijke Veerartsenij Kundige Diensa (BVD/Jawatan Kehewanan Sipil Hindia Belanda) mengambil alih 'impor' Sapi Bali ke Pulau Timor. Upaya ini terpaksa dilakukan untuk membendung sapi impor dari India dan Australia, yang didatangkan beberapa pedagang Cina dan India. Menurut catatan Omerling, pada tahun 1920 jumlah ternak sapi yang masuk ke Pulau Timor menjadi 138.000 ekor.

Catatan terakhir Omerling, menyebutkan sepanjang tahun 1952, ada 108.000 ekor Sapi Bali, 40.000 ekor kerbau dan 64.000 ekor kuda yang diangkut oleh beberapa kapal barang ke Pulau Timor. Ternak ini diturunkan di Pelabuhan Tenau di Kupang, Pelabuhan Wini di TTU dan Pelabuhan Atapupu di Belu.

Ada catatan menarik yang dibuat oleh Omerling. Ketika mengirim ternak ke Pulau Timor, pemerintah Hindia Belanda juga mengirim bibit tanaman Jatropha Gussypifolia (lantana cemara), dalam bentuk ribuan stek dan ratusan ribu biji dalam kemasan belasan karung. Tanaman ini, menurut Omerling adalah makanan khas Sapi Bali, bahkan pakan terbaik ternak Sapi Bali.

Peternak sapi di TTU, khususnya di Noemuti, menyebut tanaman lantana cemara dengan sebutan Suf Molo (bunga kuning). Sedangkan bagi peternak sapi di Miomaffo dan Insana, menyebut tanaman untuk sapi ini dengan istilah 'Pankase'. Di TTS, Camplong dan Amarasi, tanaman unik ini disebut dengan istilah Haukopas.

Ternak sapi dan bibit Jatropha Gussypifolia ini diserahkan Belanda kepada para raja di Timor untuk dikembangbiakkan. Para raja kemudian memerintahkan para kepala suku dan rakyatnya untuk mengembangkan ternak sapi dan bibit Jatropha Gussypifolia. Sapi dan tanaman ini pun dikembangkan secara luas di Amarasi, Camplong dan Amfoang (Kupang), Amanatun, Amanuban dan Molo (TTS), Miomaffo, Insana dan Biboki (TTU) dan di Belu Utara dan Selatan.

Akhirnya, sapi dan dagingnya menjadi bagian dan simbol dari urusan adat di Timor, seperti denda adat, mahar kawin, pesta adat dan sebagainya. Bahkan perdagangan sistem barter di pedalaman Pulau Timor, dilakukan dengan cara menukar sapi dengan kain dan benang yang dibawa oleh saudagar asal Cina dan India.

Pada tahun 1970 hingga 1982, ternak Sapi Bali di Timor memasuki masa-masa emas. Namun ketika memasuki tahun 1983, populasi ternak sapi di Timor mulai menurun drastis. Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya, tanaman Jatropha Gussypifolia, yang merupakan sumber pakan terbaik Sapi Bali di Timor, terdesak oleh ekspansi tanaman gulma Cromolaena Odorata (bunga putih). Orang Timor menyebut dengan istilah Suf Muti. Ekspansi tanaman gulma ini sangat cepat, menutupi padang rumput. Padahal rumput di padang sabana adalah pakan alternatif terbanyak selain Jatropha Gussypifolia. Daun tanaman gulma ini tidak disentuh oleh ternak besar maupun ternak kecil.

Kebiasaan tebas bakar untuk membuka ladang juga penyebab lain tanaman Jatropha Gussypifolia menghilang dari hutan-hutan di Pulau Timor. Tebas bakar juga menyebabkan sumber air mengering, yang sangat dibutuhkan ternak saat musim kemarau. Selain itu, sejak tahun 1980, adanya pengembangan tanaman jambu mente besar-besaran di Pulau Timor. Dalam satu dasawarsa saja, tercatat 28.000 hektar padang sabana, yang merupakan padang penggemabalaan sapi di beberapa tempat di TTS, TTU dan Belu 'menghilang' diganti dengan tanaman jambu mente. Dan kini padang sabana juga sudah dijejali dengan tanaman jarak pagar.

"Sejak dahulu, Belanda telah melihat Pulau Timor sebagai tempat paling pas untuk mengembangkan ternak. Sedangkan Flores adalah tempat paling pas untuk mengembangkan tanaman perkebunan. Tapi sekarang tanaman perkebunan menjejali padang penggembalaan di Pulau Timor. Intervensi program ini benar-benar berdampak buruk bagi jumlah populasi ternak sapi di Pulau Timor," jelas Thomas Hartanto, salah satu saudagar hewan di Kefamenanu. Pada tahun 1970-an Hartanto sering mengirim sapi ke Pulau Jawa.

"Tapi sekarang saya sudah beralih profesi sebagai kontraktor bangunan. Bisnis sapi sudah tidak cerah lagi. Dapat 50 ekor sapi dengan kualitas terbaik dalam satu bulan adalah mukjizat. Lebih baik saya dagang yang lain saja," jelas Hartanto dalam suatu kesempatan diskusi.

Hartanto juga melihat lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pengeluaran sapi ke Pulau Jawa. Ribuan sapi jantan unggulan dan betina produktif diantarpulaukan sejak tahun
1970. "Seleksi negatif dalam perdagangan sapi antarpulau yang berlangsung lama menyebabkan mutu genetika Sapi Bali di Timor terdegradasi. Sapi jantan paron kualitas terbaik diantarpulaukan dan tinggal sapi jantan inferior berkembang biak di padang penggembalaan. Maka jangan heran kalau dengar orang melecehkan kita. Mereka bilang sapi dari Pulau Timor seperti 'kakaknya kambing'," jelas Hartanto.

Lalu bagaimana solusinya? Perlu dipikirkan membuat program budidaya tanaman pakan untuk ternak Sapi Bali di Pulau Timor. Sekarang ada upaya dari pemerintah untuk membudidayakan tanaman king grass (Pennisetum Purpureophoides), turi (Sesbania Glandiflora) dan lamtoro (Laucaena Leucocephala), yang ditumpangkan pada ladang para petani. Tapi usaha ini tidak berjalan maksimal. Selain itu, tanaman lamtoro juga tidak tahan hama atau riskan diserang hama kutu loncat.

Mungkin kita perlu membudidayakan tanaman Jatropha Gussypifolia, yang kini terancam punah. Daunnya selain paling suka dimakan sapi, kulit batangnya juga paling disukai kambing. Daunnya juga sangat menyuburkan tanah. Tumbuhnya mudah dan pintar beradaptasi dengan jenis tanah mana pun di kawasan tropis. Jika pemerintah melalui lembaga pendidikan tinggi mengembangbiakan tanaman ini, saya kira secara tidak langsung sumber pakan ini membantu mendongkrak populasi ternak sapi.

Berikutnya, perlu dipikirkan suatu cara pengembangan atau perbaikan padang rumput alam yang moderat ditinjau dari aspek teknis dan ekonomis, yakni cara kultivasi parsial. Artinya vegetasi asli padang rumput alam tetap dipertahankan, namun perlu juga disisipi tanaman pakan budidaya maupun legum yang memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan sekitar.

Selain itu, di Pulau Timor, sedikitnya terdapat 21 jenis tanaman yang tumbuh di hutan, yang bisa dijadikan sumber pakan alternatif bagi ternak sapi. Orang Timor mengidentifikasi tanaman itu antara lain busi, metani, bubuk, niko, nun me (beringin), palelo, lilfui (orang Kupang menyebut: Dilak), name, nun tani, klole, kaliandra, kabena, bafkenu, fekfeku, nuntili, nuk bai, loam, hau sisi, feub, timo dan kium. Perguruan tinggi di NTT bisa melakukan penelitian untuk mengembangkan secara besar-besaran menjadi sumber pakan alternatif bagi ternak sapi.

Para peternak sapi di NTT, lebih khusus di Timor, perlu belajar dari Provinsi Bali. Di Pulau Dewata, Kantor UPTD Peternakan menghimpun 12 pejantan sapi unggulan dari enam kabupaten se-Bali. Pada usia usia 2,5 tahun sampai masa produksinya 8 tahunan, petugas mengambil simen. Pengambilan simen atau spermanya dilakukan dua kali sepekan oleh tenaga terlatih. Sebelum diproses, simen segar dievaluasi terlebih dulu kualitasnya. Evaluasi secara makroskopis meliputi kebersihan, warna, bau dan volume. Sedangkan sisi mikroskopisnya dilihat menggunakan sperm analyzer -sperm vision dan alat penghitung konsentrasi spermatozoa (spektrofotometer) - spermacue SDM5. Dengan alat tersebut diketahui tingkat motilitas, gerakan, morfologis dan konsentrasi. Hanya simen segar yang memenuhi standar dengan angka progresive motilitas lebih dari 70 persen dan konsentrasi 1 milyar, akan diproses lebih lanjut.

Simen kemudian dikemas dalam mini strow berukuran 0,25 ml menggunakan alat pengemas khusus. Simen sapi tersebut dengan penyimpanan khusus pada suhu minus 196 bisa bertahan bertahun-tahun. Dan hanya simen yang bagus akan dijual ke peternak. Dengan begitu kelak didapat mutu genetika Sapi Bali yang bagus dan bersaing. Beberapa upaya yang digambarkan di atas, bukan tidak mungkin kelak bisa mengembalikan pamor Pulau Timor sebagai 'Gudang Ternak' Sapi di Indonesia. Semoga. **

SYALOM