Selasa, 16 Desember 2008

Menyikapi Penurunan Harga Premium

Oleh Sipri Seko

KRISIS ekonomi global yang melanda dunia berdampak luas pada semua sendi kehidupan masyarakat. Tak terkecuali di Indonesia, imbas dari krisis global meluas ke semua lapisan masyarakat. Bahkan, telah diprediksi bahwa di tahun 2009 nanti, akan terjadi pemutusan hubungan kerja besar-besaran yang angkanya mencapai ribuan orang.

Berbagai strategi kemudian dilakukan pemerintah pusat untuk mengatasi hal ini. Dan, salah satu yang paling terasa adalah penurunan harga premium dan solar. Di bulan Desember ini saja, terhitung sudah dua kali pemerintah menurunkan harga premium dan solar.

Menurut pemerintah, penurunan harga premium yang berlaku mulai 15 Desember 2008 itu disebabkan adanya anomali, yakni harga produk lebih rendah dibandingkan minyak mentah. Anomali tersebut merupakan kesempatan yang baik bagi pemerintah untuk menurunkan harga premium.

Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM), Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, pemerintah akan terus mencermati apakah kecenderungan anomali harga premium tersebut berlanjut atau tidak. Harga produk premium di pasar Singapura tercatat lebih rendah 1-2 dolar dibandingkan harga minyak mentahnya. Padahal, biasanya harga premium lebih tinggi di atas 10 dolar AS dibandingkan harga minyak mentah.

Sebagai masyarakat kebanyakan, penurunan harga premium dan solar ini merupakan berita gembira. Krisis energi yang melanda masyarakat masyarakat sedikit mulai teratasi. Harga barang pun akan terjangkau. Termasuk di dalamnya penurunan tarif angkutan penumpang dan barang.

Bagaimana menyikapi penurunan harga premium ini? Penurunan ini harus diikuti dengan pengawasan di lapangan. Penurunan harga premium juga harus berdampak pada harga pasaran. Kalau biasanya menjelang hari raya keagamaan seperti natal, tahun baru atau idul fitri, harga barang di pasaran cenderung naik dengan alasan telah terjadi kenaikan bahan bakar minyak (BBM), untuk saat ini harus diawasi dengan seksama.

Menurunkan harga barang tentu tidak mudah atau tidak bisa dilakukan. Tapi, pengawasan untuk menstabilkan atau agar pengusaha/penjual tidak seenaknya memainkan harga harus dilakukan dengan ketat. Artinya, tidak ada alasan lagi bagi pelaku pasar untuk menaikkan harga barang dengan dalih telah terjadi perubahan/kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar atau kenaikan harga BBM.

Untuk diketahui, faktor yang menentukan harga BBM adalah harga minyak mentah dan produknya, kurs rupiah terhadap dolar AS, APBN, daya beli masyarakat dan sektor riil. Faktor-faktor ini merupakan dasar penentuan harga barang. Artinya, harga barang dan angkutan tidak bisa naik seenaknya kalau faktor-faktor di atas berjalan stabil.

Menjadi persoalan adalah ketika masyarakat tidak disiapkan untuk menyambut perubahan-perubahan ini. Artinya, masyarakat harus diberi tahu, apa yang musti dilakukan untuk menyikapi penurunan harga premium dan solar ini. Sektor riil, industri rumah tangga dan lainnya harus dihidupkan lagi. Maksudnya adalah, ketika ancaman PHK menghantui, masyarakat sudah siap untuk menghadapinya. Untuk sektor industri, seharusnya ini merupakan kesempatan untuk menyehatkan usahanya. Jangan dulu berpikir tentang PHK tetapi bagaimana memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan daya produksinya.

Ada memang banyak pandangan dengan penurunan harga premium dan solar ini. Ada yang mengatakan sudah seharusnya demikian, namun ada pula yang mengatakan bahwa itu merupakan upaya politis pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mencari popularitas. Pernyataan terakhir dibantah keras oleh Partai Demokrat pengusung SBY.

Apa pun dalihnya, penurunan harga premium dan solar ini harus disikapi dengan tepat. Ketika dunia dilanda krisis ekonomi global, masyarakat kecil memang harus diperkuat. Kalau ada yang melihatnya secara politis, itu adalah haknya. Namun yang harus disikapi adalah kenyataan bahwa premium dan solar telah diturunkan harganya.

Untuk itu, satu harapan yang ditujukan kepada pemerintah adalah melakukan pengawasan pasar dengan ketat. Para spekulan yang mencoba menimbun BBM agar terkesan langka, harus ditindak tegas. Penetapan harga eceran tertinggi (HET) dan tarif angkutan pun harus segera dilakukan. *

PERUT

Pernah menghitung kebutuhan perutmu
Sehari, seminggu, sebulan, setahun?


GUGATAN itu lahir di Kuta. Menyeruak di antara riuh suara hujan dan Bali yang agak dingin di awal Desember. Pertengahan pekan lalu. Gugatan kecil setelah seharian letih berdiskusi tentang Sunda Kecil yang telah berlalu 50 tahun. Bicara lepas tak jauh dari kolam renang Santika di mana sekelompok bule asyik berendam menjelang senja.

Sungguh mati beta tersentak. Bahkan malu karena memang jarang menghitung kebutuhan isi perut. Bahkan sekadar untuk tempo seminggu. Abang Rikard Bagun, wakil Pemimpin Redaksi Kompas yang 'mengugat' senja itu tersenyum simpul. Lalu terbahak menyadari betapa beta hanya mampu mengangguk setuju.

Berceritalah Rikard tentang bumi Latin Amerika. Negeri yang telah berulang dikunjunginya. Negeri yang digandrungi sobat Jannes Eudes Wawa, Yos Naiobe, Hardi Himan, Faisal Mapawa, Pieter Fomeni. Gandrung Latin Amerika karena sepakbolanya yang memukau miliaran orang sejagat. Mungkin termasuk tuan dan puan bukan?

Tapi Rikard tidak bicara soal bola. Dia bercerita tentang inspirasi dari kampung Fernando Lugo, mantan uskup yang sejak 15 Agustus 2008 menjadi Presiden Paraguay. Rikard mewawancarai Lugo sehari menjelang pelantikan jadi presiden, 14 Agustus 2008. "Dua minggu saya di kampung halaman Lugo," katanya.

Apa yang menarik? Bukan tentang Lugo yang menanggalkan jubah uskup demi kursi presiden. Hampir semua orang sudah tahu soal itu. Rikard terpikat program "menghitung kebutuhan perut" dalam setahun. Inilah gerakan konkret di kebanyakan negara Amerika Latin sekarang guna meminimalisir jerit kaum papa yang kelaparan saban tahun. Jerit tangis itu mesti dijawab dengan langkah nyata yakni menciptakan kedaulatan pangan dalam rumah tangga! Maka kebutuhan perut seisi rumah mutlak dikalkuasikan dengan sungguh-sungguh.

Sebagai contoh keluarga Ronaldo Digodago dengan tiga anak. Berarti jumlah keluarga inti Digodago lima orang. Makanan pokok mereka ubi kayu (singkong), pisang dan jagung. Digodago perlu menghitung kebutuhan keluarganya dalam setahun atau 365 hari. Untuk menu singkong (sehari 3 kali makan), misalnya, keluarga Digodago menghabiskan dua rumpun dengan jumlah umbi 5-7. Kebutuhan keluarga Digodago akan ubi kayu 2 x 365 = 730 pohon. Jumlah inilah yang harus ditanam Digodago di ladang agar berdaulat atas pangan singkong yang kaya karbohidrat itu dalam setahun. Kebutuhan akan pisang, jagung, sorgum, padi dan lain-lain juga dikalkulasikan sehingga orientasi utama setiap rumah tangga petani menghasilkan pangan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Kelebihannya baru dilempar ke pasar. Para petani pun dirangsang kesadarannya lewat pertanyaan sederhana. Siapa menanam, tanam di mana, bagaimana menanam, mengapa harus menanam, untuk apa menanam ubi kayu, pisang, jagung, padi, sayur-sayuran?

Tanam di mana merupakan perkara rumit. Dijawab Lugo dan sejumlah pemimpin negara Amerika Latin dengan menata ulang kepemilikan tanah (landreform). Pemimpin Latin Amerika seperti Fernando Lugo (Paraguay), Evo Morales (Bolivia), Lula da Silva (Brasil), Hugo Chavez (Venezuela) kerapkali menegaskan bahwa Tanah adalah Ibu, sumber kehidupan. Bagaimana mungkin petani hidup jika tanah dikuasai tuan tanah atau orang-orang berduit. Jika mereka sekadar penggarap dengan upah minim?

***
TANAH adalah Ibu. Tanah sumber kehidupan. Rasanya tidak asing di beranda rumah ini. Rumah Flobamora yang baru saja membahas NTT Food Summit selama dua hari dengan salah satu rekomendasi menciptakan Desa Mandiri Pangan di bumi tenggara Indonesia.

Desa Mandiri Pangan. Apa, mengapa, siapa, di mana, kapan dan bagaimana memulainya? Beta tahu banyak ahli pertanian yang lebih cakap menghitung. Menghitung kebutuhan isi perut? Ilmu ekonomi pertanian telah lama mengajarkan itu. Jauh sebelum Lugo bergerak, Morales dan Chavez berteriak dan bertindak. Ilmu menghitung itu meluap-luap di ruang kuliah Flobamora.

Flobamora tidak kekurangan pakar dan praktisi pertanian. Flobamora jua tak kekurangan warta kelaparan. Nestapa itu masih nyaring terdengar hingga Lelogama, Paga, Watuneso, Reo, Talibura, Bola, Konga, Baranusa, Wewewa.

Tanah adalah Ibu. Sumber kehidupan. Masih adakah lahan di desa milik petani? Jadi teringat seorang sobat petani berdasi. Berhektar-hektar luas lahannya. Lahan tidur. Lahan tak tergarap. Semoga rekomendasi NTT Food Summit 2008 tidak berhenti di meja seminar, berakhir di dalam ruang rapat koordinasi. Selamat datang Desa Mandiri Pangan! (dionbata@poskupang.co.id)

Sabtu, 13 Desember 2008

Menyentuh Namun Belum Menggigit

Oleh Sipri Seko


TANGGAL 20 Desember 2008 nanti akan ada tiga propinsi, yakni Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dulu tergabung dalam Propinsi Sunda Kecil memasuki usianya yang ke-50. Ada banyak aspek yang direfleksi. Ada banyak masalah dan prestasi yang direnungi. Sudahkah, Bali, NTB dan NTT mencapai masa keemasan sama seperti usia emasnya?

Hermensen Ballo (tinju) dan George Hadjoh (kempo) adalah dua dari banyak mantan atlet NTT yang di eranya adalah yang terbaik. Terbaik bukan saja di NTT, tapi di Indonesia bahkan di level internasional. Sebagai mantan atlet, mereka mengartikan kata emas sebagai pengakuan tertinggi dari sebuah prestasi. Tak heran kalau mereka melihat usia emas NTT seharusnya dihiasai dengan gelimang prestasi di bidang olahraga.

Bukan potensi dan kenangan prestasi masa lalu yang mereka soroti, namun pola pembinaan. Ada benang merah yang belum terurai dengan sempurna. Program olahraga yang ditelorkan pemerintah belum sinergi dengan pengurus cabang olahraga. Di saat pengurus cabang olahraga kesulitan dana, pemerintah melalui program olahraga usia dini, Porseni SMP, Popnas, Pomnas dan lainnya yang bergelimang dana tak berpikir tentang prestasi tapi hanya kesuksesan proyek.

"Pertanyaan dari saya, sudahkah Ordini, Porseni SMP, Popnas dan Pomnas memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan prestasi olahraga NTT? Bandingkan saja dana yang dikucurkan dengan prestasi yang diinginkan atau dicita- citakan. Yang saya lihat dana proyek yang menjadi target utama dan bukan out put akhir atau peningkatan prestasi yang menjadi tujuan utama para pelaku proyek," cetus George Hadjoh.

Pertanyaan ini muncul sebagai akibat dari samar-samarnya prestasi yang diraih pada level nasional sebagai puncak perhelatan olahraga di Indonesia. Padahal, penyaringan atlet lewat kejuaraan-kejuaraan tersebut dimulai dari tingkat kota/kabupaten sampai propinsi. Hal ini berbeda dengan kempo misalnya, dimana untuk level nasional selama delapan tahun anak-anak usia dini dan remaja menguasai arena nasional, meski dengan dana yang sangat minim.

Di manakah kendala yang dihadapi? Bisa saja karena sistem pembiayaan yang jelas tidak disertai pembinaan dan pelatihan yang tersistem. Koordinasi dan sinergi pembinaan yang belum dibangun. Akibatnya, pembinaan yang dilakukan hanya sedikit menyentuh namun tidak menggigit.

***
DUNIA olahraga NTT dikejurkan dengan keputusan Pemerintah Propinsi NTT untuk meniadakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora). Dispora, yang propinsi lain sedang berlomba-lomba untuk mendirikannya, justru dimerger ke dinas pendidikan.

Hal ini sangat disesali oleh pelaku olahraga di NTT. Ada kesan, para pengambil keputusan tidak pernah tahu urgensi keberadaan dispora bagi pembinaan pemuda dan olahraga.

Tak terkecuali dengan staf Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora), Drs. Thobias Tubulau. Ia tak habis pikir dengan keputusan ini. "Dispora NTT adalah perintis keberadaan dispora di Indonesia. Keputusan untuk merger patut disesali, karena dan bantuan untuk pembinaan dari pusat akan makin berkurang," ujarnya.

Asal tahu saja, UU No. 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional mewajibkan kepada pemerintah daerah untuk mengalokasikan dana yang cukup bagi pembinaan olahraga. Perintah undang-undang tersebut harus dilaksanakan oleh satuan perangkat kerja daerah (SKPD) khusus sebagai pengelola dana pemerintah. Status dispora yang turun menjadi bidang olahraga tak punya cukup kewenangan untuk mengelola alokasi dana yang besar. Artinya, meski nantinya ada alokasi dana untuk olahraga, namun nilainya akan kecil. Padahal, pembinaan olahraga membutuhkan dana yang sangat besar.

Sarana dan Prasarana
Pernyataan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya bahwa pemerintah sudah mengalokasikan Rp 1,5 miliar untuk rehab permukaan Stadion Oepoi, Kupang, adalah berita gembira. Keluhan tentang rendahnya kualitas sarana prasarana olahraga di NTT sedikit demi sedikit mulai diatasi. Ada harapan, setelah Stadion Oepoi akan dilanjutkan dengan sarana lainnya.

Kebutuhan sarana dan prasarana terutama tempat latihan memang masih menjadi masalah di NTT. Untuk stadion, sudah dibangun di Manggarai, Kalabahi dan Belu sementara untuk gedung olahraga (GOR) baru satu, yakni di Kupang. Tak heran kalau biasanya lebih dari empat cabang olahraga harus bergantian berlatih di satu tempat. Namun, minimnya alokasi dana pemeliharaan menyebabkan stadion atau gedung serba guna yang dibangun dengan dana yang sangat besar menjadi rusak bahkan mubazir karena tidak dimanfaatkan.

Lalu apa yang harus direfleksi di usia yang ke-50 ini? "Mencapai prestasi yang besar tidak semudah membalikan telapak tangan. Namun para pengambil keputusan harus berani mengambil kebijakan yang ekstrim sekalipun. Saya contohkan, kalau misalnya mau memajukan sepakbola, belilah satu klub divisi utama dengan home base di Kupang, maka sepakbola NTT akan maju, demikian juga dengan cabang olahraga yang lain," ujar kandidat doktor olahraga dari Universitas Negeri Surabaya, Johni Lumba, S.Pd, M.Pd.

Terpilihnya Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si sebagai Gubenur dan Wakil Gubernur NTT adalah berita gembira bagi dunia olahraga. Frans Lebu Raya adalah jebolan guru olahraga, Wakil Ketua Umum I KONI, Ketua Pengprop PSSI dan juga Ketua Pengprop PBSI. Esthon Feonay adalah Ketua Harian KONI dan Ketua Pengprop Perkemi NTT. Artinya, keduanya sudah sangat paham dan tahu carut marut pembinaan dan prestasi olahraga di NTT.

Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Tapi jangan kita bebankan kepada Frans Lebu Raya dan Esthon Foenay. Para pelaku olahraga seperti George Hadjoh dan Hermensen Ballo harus mempertahankan pendapat bahwa dana minim bukan berarti prestasi rendah. Dengan dana minim, sarana prasarana apa adanya, atlet- atlet NTT akan mampu membuat nama Bumi Flobamora mengharum di Indonesia bahkan dunia. **

Kampungku, Mengapa Lapar...

Oleh Benny Dasman

NUSA Tenggara Timur (NTT), kampungku. Usianya 50 tahun. Orang luar, pun orang dalam, selalu membaptisnya dengan 'nama' baru. Banyak. Mulai dari Nasib Tidak Tentu, Nasib Tergantung Tindakan hingga Nanti Tuhan Tolong. Masih banyak lagi. Tergantung dari angle mana orang melihatnya. Orang yang berurusan dengan 'sinyal' bisa saja membaptisnya dengan nama Nanti Telkomsel Tolong. Macam-macam lagi.

Hari Rabu (21/10/2008) lalu, ketika menghadiri pelantikan Kepala BKKBN NTT, Drs. Suyono Hadinoto, M.Sc, menggantikan G Soter Parera, S.H, MPA, di Aula El Tari-Kupang, saya mendengar nama baptisan baru lagi. Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, menyebutnya dengan lantang. NTT, Propinsi Batu Bertanah. "Orang luar yang menyebut nama ini. Mengapa tidak 'tanah berbatu,' tapi 'batu bertanah.' Mungkin mereka lihat di Kupang ini banyak batu karang," ujar Gubernur Frans mereka-reka alasannya.

NTT, apa pun plesetannya, baptisannya, kata Gubernur Frans Lebu Raya, masyarakat di daerah ini tak perlu berkecil hati. Kepala tetap tegak. Aula El Tari saat itu hening. Tak ada yang bereaksi. Apalagi memrotes. Semua 'kesengsem' mengamininya. "Anggaplah 'nama baru' itu sebagai pelecut agar kita bekerja lebih giat lagi. Menjalankan tugas panggilan sebagai pelayanan masyarakat dengan lebih sempurna lagi. Sesuai harapan masyarakat dan kita semua. Stigma-stigma itu, terutama stigma kemiskinan harus dihapus," kata Gubernur Frans ketika memulai sambutan.

Satu demi satu di hadapan para koleganya, Gubernur Frans menguraikan delapan program strategis yang dioperasionalkannya selama lima tahun menakhodai 'Kapal NTT'. Pertama, pemantapan kualitas pendidikan. Kedua, pembangunan kesehatan. Ketiga, pembangunan ekonomi. Keempat, pembangunan infrastruktur. Kelima, pembenahan sistem hukum dan keadilan. Keenam, konsolidasi tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup. Ketujuh, peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan, kesejahteraan anak dan partisipasi pemuda. Kedelapan, agenda khusus yang meliputi penanggulangan kemiskinan, pembangunan daerah perbatasan, kepulauan, dan penanggulangan bencana.

Tatkala menguraikan program strategis ketiga tentang pembangunan ekonomi, Gubernur Frans Lebu Raya, mengemukakan obsesinya menjadikan NTT sebagai propinsi jagung. Jagungisasi. Mengubah 'Batu Bertanah' menjadi 'Batu Berdaun (Jagung). Program 'rakasasa' yang kini sedang digalakkan. Pupuknya 'Anggur Merah.'

***
TAHUN 70-an, ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya menghafal betul jawaban ketika ditanya tentang makanan pokok orang NTT. Jawabannya, jagung. Guru membenarkannya. Ditanya juga makanan pokok orang Irian dan Maluku. Saya menjawab, sagu. Juga benar.

Kalau pertanyaan yang sama ditanyakan lagi kepada para siswa SD di kampungku saat ini, jawabannya pasti berbeda yaitu nasi atau beras. Bukan jagung. Mereka tidak salah. Sebab, pada zamannya mereka tidak lagi merasakan nikmatnya rebok (jagung yang ditumbuk setelah digoreng). Juga jojong (tepung jagung yang dikukus menggunakan bambu). Jika 'tolakannya' ikan teri atau ipung, terasa nikmat.

Menurut Rosegrant (1997), partisipasi konsumsi beras penduduk Indonesia dewasa ini mencapai 96,87 persen. Selama ini ketahanan pangan bangsa ini selalu diukur dari berapa jumlah produksi dan stok beras yang dikuasai pemerintah. Kebijakan 'berasosisasi' menyebabkan kearifan pangan lokal tercerabut. Konsumsi sagu, umbi-umbian (hipere), jagung, thiwul, telah beralih ke beras. Yang terjadi kemudian adalah kasus-kasus kelaparan kerap terjadi di NTT. Ikutannya busung lapar, gizi buruk. Meradang setiap tahun.

Saya sudah tinggalkan rebok, sombu, koil (gaplek), beralih mengonsumsi beras. Orangtua di kampung pun tidak memroduksinya lagi. Sebuah kesalahan fatal. Betapa tidak, untuk mengubah pola konsumsi pangan penduduk, kembali lagi ke non beras, paling tidak membutuhkan waktu satu generasi.

Kini, konsumsi sumber energi karbohidrat penduduk NTT dan Indonesia umumnya yang terfokus pada beras mengakibatkan tekanan yang sangat berat terhadap produksi beras dalam negeri. Akibatnya, kedaulatan pangan negeri ini selalu dikorbankan.

Setiap tahun pemerintah selalu mengulang kebijakan impor beras. Alasannya klasik, stok yang dikuasai oleh Perum Bulog tidak dalam posisi aman. Sesuai rekomendasi Badan Pangan Dunia (FAO), cadangan beras pemerintah yang ideal sebesar 2,5-3,5 persen dari total konsumsi suatu negara. Untuk ukuran Indonesia angka itu identik dengan stok beras sebesar 800 ribu hingga 1,2 juta ton.

Agar ketahanan pangan nasional kokoh, maka pemerintah harus berusaha dengan serius dalam menegakkan kedaulatan pangan, utamanya beras. Menurut Angka Ramalan III Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi tahun 2007 lalu mencapai 57,07 juta ton gabah kering giling (GKG), atau meningkat 4,76 persen dibanding 2006.

Meskipun belum didukung penelitian empiris, diduga peningkatan produksi ini dipicu oleh insentif harga jual gabah/beras yang memadai sehingga petani lebih bergairah menanam padi. Banyak petani yang menyampaikan pada penulis, bahwa harga jual gabah/beras yang sangat menggairahkan membuat mereka nekat menanam padi pada musim tanam III meskipun biaya eskploitasi pompa air untuk irigasi cukup tinggi.

Oleh karena itu pemerintah harus menjaga momentum swasembada beras berkelanjutan (sustainable self sufficiency) dengan berbagai kebijakan yang mendukung. Antara lain dengan membangun berbagai sarana infrastruktur pra panen maupun pasca panen, seperti perbaikan jaringan irigasi, silo penyimpanan, mesin pengering, pemasaran, dan akses permodalan bagi petani.

Untuk menjaga jatuhnya harga jual saat panen raya seperti yang mulai dirasakan beberapa hari terakhir ini, Perum Bulog harus segera menjemput bola dengan melakukan pembelian langsung ke petani. Tentunya tak ada alasan lagi prognosa pengadaan gabah/beras tak tercapai kalau kecepatan gerak Bulog dalam pembelian gabah petani tidak selamban gerak octopus. Perlu diingat oleh Bulog, bahwa panen musim rendengan ini menempati porsi 65 persen dari panenan tahun berjalan.

Mencontohi Idola
Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) tingkat Propinsi NTT di Desa Egon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Kamis (30/10/2008) lalu merupakan titik balik sejarah. Saat itu, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mulai mengkampanyekan pengembangan tanaman jagung di NTT. Para bupati/walikota se-NTT telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mendukung gebrakan Gubernur NTT menjadikan NTT sebagai propinsi jagung. Memulai secara perlahan mengubah pola konsumsi beras ke makanan non beras.

Tak hanya MoU yang ditandatangani, HPS Sikka juga melahirkan 'Deklarasi Maumere' untuk memerangi kemiskinan dan kelaparan di NTT. Suatu tekad untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dengan melakukan penganekaragaman konsumsi pangan secara regional maupun nasional secara berkelanjutan. Kini, konsumsi beras penduduk versi hasil koordinasi Menko Perekonomian sebesar 139,15 kg/kapita/tahun. Angka tersebut sama dengan konsumsi rakyat Jepang 35 tahun lalu. Saat ini konsumsi mereka hanya 60 kg/kapita/tahun.

Menurut perhitungan matematis sederhana, jika kita mampu menurunkan angka konsumsi beras nasional menjadi 125 kg/kapita/tahun saja, maka kita dapat menghemat tidak kurang dari 3 juta ton beras per tahun. Belum lagi jika kita mampu menyelamatkan kehilangan pasca panen yang angkanya secara nasional masih di atas 12 persen, maka bukan mustahil Indonesia akan menjadi negara eksportir beras!

Operasional 'Deklarasi Maumere' perlu dikawal hingga ke pelosok desa. Sebab NTT sangat kaya varian bahan makanan sumber karbohidrat, seperti ubi jalar, jagung, singkong, ketela, hermada, kentang, pisang, dan umbi-umbian lainnya. Peluang terbuka bagi para ahli kuliner dan teknologi pangan untuk dapat menyajikan sumber pangan alternatif tersebut sejajar dengan beras. Jika semua itu sudah dapat dilaksanakan, maka masalah beras tidak akan selalu menjadi lingkaran setan.

Kita juga sangat paham bahwa masyarakat NTT merupakan masyarakat paternalistik. Sangat mudah mencontohi sesuatu yang dilakukan oleh sosok idola (patron). Pada HPS di Sikka, semua pejabat yang hadir, termasuk Gubernur Frans Lebu Raya, Wagub Ir. Esthon Foenay, M.Si, para bupati/walikota ramai-ramai menikmati hidangan snack berupa jagung rebus, singkong rebus, jagung rebus. Kampanye yang dilakukan para idola ini kiranya diteruskan hingga tingkat propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa, RT/RW. Sebab, yang sering terjadi selama ini, seremonial peluncuran sebuah program sangat marak, meriah, namun operasionalnya di lapangan mati hidup. Hasilnya 'melarat.' Apalagi kalau sang patronnya duduk di belakang meja. Berkotbah makan jagung, tetapi hidangan di mejanya roti dan keju.

Mengubah pola konsumsi dari beras ke makanan non beras dapat menghemat ribuan ton terigu dan devisa jutaan dolar AS. Artinya, kita berhasil mengubah 'batu bertanah' menjadi 'batu berdaun jagung, singkong, ketela, kentang, pisang' dan sebagainya menjadi primadona. Mengapa tidak! *

Bagho dan Kuburan Kuno

Oleh Agus Sape

BAGHO! Nama sebuah kampung tua di wilayah Desa Solo, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Ini bukan kampung asalku. Mengunjunginya pun aku belum pernah. Namun, cerita dari Andreas Tuba Ghela kepadaku tentang kampung ini di Redaksi Harian Pos Kupang, kemarin sore, membangkitkan minatku untuk menulisnya. Ya, semacam penyambung lidah.

Andreas Tuba Ghela ini seorang mahasiswa asal Desa Solo. Saat ini dia menjabat ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Asal Boawae yang disingkat HIPPMAB Kupang. Melalui organisasi ini, Andreas dan teman-temannya membangun solidaritas dan rasa cinta akan kampung halaman.

Rasa cinta itu coba mereka wujudkan melalui Kegiatan Bakti Sosial Kemasyarakatan (KBSK) di Desa Solo pada tanggal 27 Juli sampai 3 Agustus 2008. Mengisi waktu liburan.

Ada banyak kegiatan yang mereka lakukan, yaitu bakti sosial, diskusi rakyat, diskusi publik, penyuluhan kesehatan yang dilanjutkan dengan pembagian bubuk abate, pembukaan posko pengaduan, pelatihan OSIS untuk segenap pengurus OSIS SLTP dan SLTA se-Kecamatan Boawae, perlombaan cerdas cermat untuk siswa-siswi sekolah dasar (SD), malam budaya, pengerjaan papan RT, RW, dusun dan desa, pendataan masalah buta huruf, masalah KDRT dan masalah ketenagakerjaan, olahraga rakyat dan kegiatan lainnya yang mengundang perhatian masyarakat.

Di antara sekian banyak kegiatan, ada fakta menarik yang mereka temukan di kampung Bagho. Di kampung ini terdapat kuburan kuno. Dari foto-foto yang diperlihatkan Andreas, tampak kuburan-kuburan itu dibangun berderet memanjang yang ditandai dengan tumpukan lempengan batu kali yang disusun rapi.

Tidak diceritakan kapan kuburan-kuburan itu dibangun. Mereka hanya menyebutnya kuburan kuno. Bisa saja dibangun ratusan tahun atau ribuan tahun lalu. Namun, masyarakat setempat berharap kuburan-kuburan itu dipromosikan sebagai aset wisata Kabupaten Nagekeo.

Sebelum Nagekeo dimekarkan dari kabupaten induk Ngada, kampung Bena, sumber air panas Mengeruda, taman laut 17 pulau Riung dikenal sebagai aset wisata Kabupaten Ngada. Setelah berdiri sendiri, Nagekeo seolah-olah tidak memiliki kawasan wisata yang bisa diandalkan. Hanya ada bendungan Sutami di Mbay. Tapi, sejauh ini bendungan tersebut tidak terawat. Aset wisata satu-satunya yang diharapkan di Nagekeo, ya cuma kampung Bagho dengan kuburan kunonya. Para mahasiswa yang tergabung dalam HIPPMAB berharap agar pemerintah dapat memperhatikan aset tersebut dan mempromosikannya.

Masalahnya, sampai saat ini, akses jalan ke kampung ini masih cukup susah. Dengan pembangunan jalan yang baik diharapkan wisatawan domestik dan mancanegara bisa dengan mudah datang ke kampung ini. Warga setempat dan para anggota HIPPMAB yakin kalau potensi wisata tersebut diperhatikan, maka dampaknya sangat besar bagi masyarakat dan pemerintah setempat.

Tidak hanya kuburan kuno. Desa Solo yang terdiri dari empat wilayah yaitu Solo I, Solo II, Solo III dan Solo IV dengan jumlah penduduk seluruhnya sekitar 690 jiwa, kaya akan potensi pertanian dan perkebunan.

Hasil pantauan para mahasiswa selama seminggu di sana, diketahui bahwa warga Desa Solo umumnya berprofesi petani. Selain menanam padi dan jagung di sawah dan ladang, mereka juga menanam tanaman umur panjang seperti kopi, cengkeh, vanili, coklat (kakao), kemiri, kelapa, jambu mete, bambu, dan lain-lain.

Namun, hasil-hasil pertanian dan perkebunan ini sulit dijual keluar karena jalan raya menuju ke desa ini belum mendapat perhatian dari pemerintah. Panjang jalan ini dari pusat desa menuju kampung lama (Bagho) sekitar 7 km. *

Kamis, 11 Desember 2008

Ingin Seksi, Tengoklah Perempuan "Buceri"

Oleh A.A. Ariwibowo

RAMBUTMU
adalah mahkotamu, dapat disingkat secara serampangan sebagai "ram". Ini terbilang kurang seksi karena ada singkatan yang terdengar sedap di telinga meski pahit terasa di lidah, yakni selingan indah keluarga utuh alias selingkuh.

"Jangan pernah membahas topik seputar selingkuh. Belum waktunya," kata seorang guru kelas sembilan ketika menasehati anak muridnya. Dan seorang murid merespons, "Apa singkatan dari buceri?" Dengan mata setengah membelalak, guru menjawab, "Bule dicat sendiri. Ini gaya rambut yang sedang ngetren bagi perempuan yang ingin tampil seksi." Bukankah warna punya nuansa?

Seisi kelas sontak gaduh, terdengar aksi siul berbalas siul. Abrakadabra... imaji tentang The Ideal Girl di abad krisis terkoreksi dalam penjelasan mengenai keberadaan perempuan bergaya rambut buceri. Apalagi bila dipadu dengan cat pipi tipis merah marun di atas kulit wajah putih kekuningan. Wajahmu adalah mahkotamu.

Apakah wajah masyarakat tampil seksi akhir-akhir ini, setelah pemerintah menurunkan harga jual Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium menjadi Rp5.500 per liter? Apalagi saat ini Menteri Keuangan serta menteri-menteri terkait tengah menghitung kemungkinan penurunan kembali harga jual premium.

Boleh sedikit berharap meski tidak perlu tergoda oleh buaian angin surga bahwa sudah ditempuh langkah exercise.

"Kita lakukan exercise, perhitungan dengan cermat untuk melihat peluang menurunkan kembali premium dan kalau juga bisa, solar. Agar industri kita bisa ringan," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat evaluasi kinerja Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) pusat, Jakarta, Jumat (5/12).

Kalau perempuan menggoyahkan jagat ketegaran dari lawan jenisnya dengan mengecat rambut menjadi kebule-bulean maka ada makna di seberang sana. Pemikir postmodernis David Harvey menyebutnya sebagai kebangkitan perasaan baru di tengah cepatnya roda sektor konsumsi.

Menurut Harvey, kesementaraan tengah menyelinap dalam dunia mode, produk, proses bekerja, ideologi, nilai dan perilaku keseharian termasuk persahabatan dan nilai sakral perkawinan.

Kata kesementaraan hendaknya digarisbawahi. Sedangkan futurolog Alvin Toffler mengartikulasikannya sebagai gejala dari masyarakat pembuang (throw away society). Tidak ada yang mapan, karena yang ada hanya kesementaraan. Ini litani dari perempuan bergaya rambut buceri.

Baik Harvey maupun Toffler menyatakan perubahan mendalam terjadi pada taraf kejiwaan seseorang karena tersandera oleh kesementaraan. Konsensus tererosi, kesetiaan jadi barang langka, komitmen jadi fosil. Ujung-ujungnya, relatif sarat onak dan bebatuan ketika seseorang atau kelompok ingin menjalankan rencana jangka panjang.

Muncullah ungkapan bernada nyinyir dari kasanah persahabatan, "Ada uang abang disayang, enggak ada uang abang ditendang." Inikah salah satu pencitraan dari kebutuhan akan manipulasi rasa dan opini. Kalau dideskripsi dalam gambar, (maaf), seorang perempuan dengan kedua mata dan wajah yang berekspresi "menggoda" tengah menarik dasi pria mitranya. Aksi berbalas seksi.

Dunia periklanan pun laku keras bak kacang goreng. Karena wajah yang dihiasi rambut kebule-bulean atau hitam pekat bagi perempuan, serta pria bergaya macho, tampil sebagai santapan telak bagi dunia iklan. Bahasa sehari-harinya, jual tampang bagi pencitraan diri.

Mereka ini pengekor dari aksioma bahwa iklan tidak sekedar memberitahu atau mempromosikan tetapi bermetamorfosis menjadi usaha memanipulasi hasrat. Imaji jadi komoditas. Wajah dipoles, bibir digincu dan penampilan pun diberi predikat sebagai keren habis.

Padahal, daya kecoh (virtual reality) mengendap dan mengintip mereka yang suka memburu pencitraan diri. Bagi mereka ini, schizofrenia bayaran kontannya. Orang tidak lagi dapat membedakan antara dunia kenyataan dan bayangan. Lahirlah pribadi terpecah yang tertantang untuk berkompetisi dalam membangun imaji.

Konsekwensinya, usaha mensponsori kegiatan berkesenian, amal dan olahraga sama pentingnya dengan investasi dalam mesin-mesin produksi. Di tengah iklim serba kompetitif untuk mengejar pencitraan diri, bukan tidak mungkin ada upaya memanipulasi. Persetan dengan rambu-rambu etika. Jadilah, estetika mengatasi etika.

Tetapi ada secercah harapan di laga ekonomi, paling tidak di tingkat akar-rumput. Pemerintah memutuskan untuk mendongkrak nilai penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi Rp2 triliun sehingga total kredit yang dapat digelontorkan pada 2009 menjadi Rp20 triliun.

Keputusan itu ditelorkan dalam rapat evaluasi kinerja KUR yang dipimpin Presiden Yudhoyono dan dihadiri oleh jajaran menteri-menteri ekonomi, Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, serta kalangan perbankan.

Keputusan pemerintah untuk menaikkan nilai pinjaman KUR menjadi dua kali lipat dari Rp1 triliun pada 2008 menjadi Rp2 triliun pada 2009, menurut Presiden, merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk menggerakkan sektor riil dalam mengatasi dampak krisis keuangan global.

Mesin skenario 2009 belum mengepul mulus. "Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memprediksi akan terjadi PHK 500 ribu sampai 1 juta orang hingga 1 juta orang hingga akhir 2009," kata Direktur Pengembangan Pasar Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Reyna Usman Ahmadi.

Menurut data Tim Monitoring Depnakertrans, jumlah pekerja yang terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencapai 66.603 orang. "Untuk yang rencana PHK suratnya sudah masuk jumlahnya 23 ribuan dan untuk yang rencana dirumahkan ada 19 ribuan pekerja," kata Menakertrans Erman Suparno saat raker bersama Komisi IX DPR pekan lalu.

Apa yang dapat ditangguk dari ketidakmenentuan dan kesementaraan ini? Ada ketersediaan nilai fantastis yang dibalut kebahagiaan fisik, meski ada bayang-bayang hilangnya kepastian akan masa depan (the loss of sense of the future). Hasilnya, ketidaknyamanan.

Semakin sementara kondisinya, semakin orang mencari sesuatu yang abadi, yakni sesuatu yang lebih memuat jaminan keamanan di masa depan. Pemilik modal pun terus bertanya, "Jualan apa yang bisa laku keras."

Jawabnya bernuansa sloganistis, "think globally and act locally". Seksi! (antara news)

Senin, 08 Desember 2008

Kekayaan Budaya NTT Perlu Dilindungi

Oleh Hermina Pello

SUDAH puluhan tahun, Jeremias August Pah menekuni pembuatan sasando, alat musik tradisional dari Rote. Meski sudah puluhan tahun, tapi pembuatan alat musik itu bukan satu- satunya mata pencaharian dari Jeremias. Ia bersama salah seorang anaknya, Djitron Pah menekuni pembuatan sasando semata-mata untuk melestarikan alat musik tradisional khas NTT itu dari kepunahan perkembangan zaman.

Pindah dari Rote ke Kupang tahun 1985, Jeremias bersama keluarganya menetap di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Di Jalan Timor Raya Km 22 Desa Oebelo itulah Jeremias meneruskan warisan ayahnya melestarikan alat musik sasando. Berkat ketekunannya mengembangkan dan memperkenalkan alat musik sasando kepada masyarakat, bahkan hingga di luar negeri (Jepang), pada akhir Desember 2007, pemerintah pusat melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, memberikan penghargaan kepada Jeremias, sebagai seniman senior Indonesia (maestro) yang melestarikan dan mengembangkan seni tradisional musik sasando (Sinar Harapan, Rabu, 8 Agustus 2008).

Jika tidak ada undangan untuk memainkan alat musik sasando atau kegiatan lainnya di luar rumah, Jeremias setiap hari hanya membuat alat musik sasando. Jeremias bersama dua orang pegawainya dengan cekatan membuat alat musik yang terbuat dari daun lontar dan bambo. Membuat sasando harus pandai mengatur senda (alas dari kayu yang berada di bawah tali), agar bisa membentuk nada-nada yang indah.

Jeremias adalah orang yang berjasa mengenalkan alat musik dengan 32 tali senar ini kepada dunia luar. Dan, atas jasanya ini ia akhirnya mendapat penghargaan dari pemerintah pusat melalui Menteri Kebudayaan RI, Jero Wacik.

Sasando pulalah yang mengantar Jeremias ke negeri Sakura, Jepang. Selama di sana ia sempat mengajarkan beberapa orang Jepang memainkan alat musik sasando. Meski sudah dikena dunia luas hingga di luar negeri, namun Jeremias belum memikirkan untuk mendaftarkan hak paten alat musik sasando sebagai alat musik tradisional dari Rote.

"Saya belum pernah memikirkan untuk mendaftarkan alat musik ini untuk mendapatkan hak paten. Betul juga, jangan sampai suatu saat orang dari luar mengklaim bahwa alat musik sasando ini berasal dari daerah mereka. Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk mengurus hak paten," kata Jeremias, ketika ditemui di kediamannnya di Desa Oebelo, beberapa waktu lalu.

Jeremias tidak hanya memproduksi sasando tradisional, juga membuat alat musik sasando yang dimodifikasi menjadi sasando listrik. Hampir setiap orang di Indonesia pernah melihat sasando walaupun hanya dalam bentuk gambar, seperti gambar pada uang kertas Rp 5.000, emisi tahun 1992.

Itu salah satu potensi budaya NTT. Ada banyak kekayaan budaya NTT yang jika dikelola dengan baik bisa memberi nilai tambah secara ekonomis bagi masyarakat NTT. Misalnya, tenun ikat, di mana setiap daerah memiliki kekhasan motifnya. Selain motif, bahan baku pembuatan tenun ikat ini dari bahan-bahan alami.

Semangat dari mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, yang mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) memakai pakaian (baju) motif daerah pada setiap hari Kamis, dalam perkembangan ke depan harus tetap dilestarikan. Bahkan dianjurkan agar pemerintah daerah perlu memperjuangkan tenun ikat di setiap daerah di NTT harus memiliki hak paten atau hak cipta. Ini merupakan bentuk perlindungan terhadap kekayaan budaya lokal NTT. Dengan memiliki hak paten atau hak cipta akan membantu para pengrajin tenun ikat secara ekonomi sekaligus mengangkat tenun ikat dari NTT.

Kita jangan kaget ketika kita ke Yogyakarta dan Bali, di sana kita temui kain produksi pabrik bermotif tenun ikat NTT, seperti motif tenun ikat Sumba, dan ini sudah berlangsung sejak lama. Juga kain produksi pabrik bermotif tenun ikat dari Ende, dapat kita temui di Bandung, Jawa Barat. Kain produksi pabrik yang meniru motif tenun ikat dari NTT ini diakui oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Ende, Ny. Sisilia Domi, beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi NTT, Ir. Eddy H Ismail, M.M, yang ditemui di ruang kerjanya pekan lalu menyebutkan, bagian dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yakni hak cipta, hak paten, merek, rahasia dagang, design industri, desain tata letak sirkuit terpadu dan perlindungan varietas tanaman. Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya ataupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi batasan menurut aturan perundang-undangan yang berlaku.

Hak paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada investor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya atau memberikan persetujuannnya kepada orang lain untuk melaksanannya.

Pemerintah khususnya pemerintah daerah melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) baru melirik tenun ikat untuk didaftarkan. Itupun belum semua pemerintah daerah di NTT menyadari akan pentingnya hak paten produk-produk budaya lokal. Hingga saat ini baru ada dua kabupaten, yakni Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Ende yang sudah mendaftarkan motif tenun ikatnya di Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (Depkeh dan HAM). motif tenun ikat dua daerah ini sudah mendapat predikat bahwa motif itu milik masyarakat di daerah setempat.

Motif tenun ikat dari TTU sudah mendapat perlindungan tahun 2002 sebanyak lima motif tenun ikat, antara lain buna, sotis, sotis buna dan mapauf. Motif tentun ikat dari Kabupaten Ende yang mendapat predikat sebagai milik masyarakat pada tahun 2006 sebanyak 11 motif tenun ikat, yakni motif mangga, belekale, soke mata loo, mata rote, samba, nggaja, soke mataria, sona, maru, pundi dan kelimara.

Pada tahun 2008, ada beberapa daerah yang dalam proses pendaftaran ke Depkeh HAM, difasilitasi oleh Dinas Perindag NTT, yaitu Sumba Timur sebanyak 11 motif tenun ikat, antara lain motif ayam, kuda, udang, kakatua, rusa, manusia telanjang, tengkorak dan motif lainnya, Kabupaten Sumba Barat mengajukan sembilan motif, kabupaten Sikka 24 motif, Manggarai tujuh motif dan Ende 28 motif lagi. Setelah didaftar butuh waktu untuk penelusuran karena Depkeh dan HAM harus menelusuri ke seluruh dunia, apakah benar motif itu belum ada yang mengajukannya.

Kekayaan budaya masyarakat agak sulit untuk mendapatkan hak cipta atau hak paten karena terkait sifat kepemilikannya. Tetapi, pemerintah daerah bisa mendaftarkan budaya tersebut untuk diumumkan bahwa budaya itu milik masyarakat setempat. Untuk mendaftar, misalnya, motif tenun ikat, kapan motif itu dibuat, oleh siapa dan bagaimana menemukan motif tersebut serta arti dari motif itu. "Ini yang sulit ditelusuri. Kebudayaan perlu dilestarikan dan harus terdokumentasi dengan baik," kata Ismail.

Selama ini, pemerintah melalui Dinas Perindag NTT hanya berupaya memfasilitasi untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman HKI kepada masyarakat khususnya pelaku usaha, agar masyarakat sadar tentang perlunya mendaftarkan temuan mereka atau apa yang menjadi milik masyarakat.

Tetapi sejauh ini, belum banyak yang sadar akan pentingnya mendaftarkan produk-produk temuan masyarakat, karena berkaitan dengan ekonomi. Sesuai dengan ketetapan organisasi perdagangan dunia, setiap anggota berkewajiban mematuhi segenap ketentuan termasuk trade related aspects if intellectual property right, yaitu ketentuan yang berkaitan dengan HKI. Berkaitan dengan itu, Indonesia sudah menerbitkan UU Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Juga UU Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industry, UU Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, UU Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten, UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dan UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.

Hak paten berkaitan dengan teknologi baru, misalnya, di NTT ada seorang pengusaha, Paulus Watang yang telah mendapatkan hak paten untuk mesin palwa.

Untuk makanan, misalnya, jagung titi dari Flores Timur yang sudah menembus dunia, bisa saja suatu waktu ada yang mengklaim bahwa itu berasal dari daerah lain (Pos Kupang, Jumat 15/12/2008). Jagung titi telah menjadi komoditas makanan unggulan yang menghidupkan home industry petani di Flores Timur, atau daging se'i yang juga menjadi makanan khas Kota Kupang. Juga gula sabu dari Sabu, gula air dari Rote dan masih banyak jenis makanan lainnya yang merupakan makanan lokal yang bisa dikembangkan dan memiliki nilai secara ekonomis.

Makanan lokal yang memiliki ciri khas tersendiri itu bisa didaftarkan ke HKI untuk mendapatkan hak merek atau rahasia dagang. Dengan menampilkan merek tertentu, maka bisa saja makanan itu menjadi lebih terkenal. Kita bisa mengambil contoh, misalnya, produksi batik di Jawa, ada merek batik keris, danar hadi dan lainnya, sama-sama batik, tetapi mereka sudah memiliki merek masing-masing sehingga pada waktu orang mau mencari batik, yang ada dalam benaknya merek apa yang akan dia cari.

Pimpinan Sentra Tenun Ikat Lepo Lerun dari Nita, Kabupaten Sikka, Alfonsa Horeng, beberapa waktu lalu sudah memikirkan untuk mengurus hak paten atau rahasia dagang terkait pewarnaan alami dengan menggunakan tanaman-tanaman lokal untuk pembuatan tenun ikat.

Sebab, proses pencampuran warna alami itu sudah didemo di berbagai tempat, termasuk di Australia. Meski untuk mengurusnya mudah, tetapi dia masih menunggu agar bisa gratis. "Kalau mau urus sendiri, butuh biaya yang besar. Karena itu, saya tunggu yang gratis yang difasilitasi oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan," ujarnya saat ditemui di Kupang, Senin (1/12/2008).

Sudah saatnya pemerintah daerah di NTT menginventarisir produk-produk (budaya) lokal untuk didaftarkan ke Depkeh dan HAM sebagai produk milik masyarakat. Sebaiknya tidak hanya menginventarisir, tetapi langsung diusulkan karena tidak membutuhkan biaya yang besar. Kalau menunggu dari masyarakat, bisa-bisa kita terlambat dan akhirnya kita menyesal karena daerah lain sudah mendahului kita.

Pemerintah harus serius dan mengalokasikan anggaran untuk melindungi apa yang menjadi milik masyarakat. Untuk mengurus merek, misalnya, hanya membutuhkan biaya pendaftaran Rp 450 ribu. Untuk mengurus permohonan hak cipta biayanya Rp 75 ribu. Jadi, dari segi biaya relatif murah daripada pemerintah membuat kebanggaan secara simbolik, seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao membuat bangunan dengan simbol alat musik tradisional sasando, yang membutuhkan biaya besar hanya untuk mencirikan bahwa alat musik sasando milik orang Rote.

Sebaiknya mendaftarkan hak paten alat musik sasando ke Depkeh dan HAM. Kita jangan kaget jika suatu saat nanti, alat musik sasando diproduksi oleh daerah lain, termasuk oleh orang di luar negeri, lalu dipasarkan sebagai produk lokal mereka. Demikian juga kekayaan budaya (lokal) lainnya di NTT, sudah saatnya dilindungi dengan mendaftarkan pada Depkeh dan HAM untuk memiliki hak paten, hak cipta, rahasia dagang, merek dan desain industri. **

Uta Tabha

Oleh Apolonia Matilde Dhiu

UTA
tabha...cu...cu..cu. Menu ini mengingatkan aku akan kampung halamanku Boua, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Sebuah kampung yang hanya berjarak lima kilometer dari Kota Bajawa. Letaknya cukup strategis, berada tepat di jalan negara Bajawa-Ende.

Meski dekat dengan Kota Bajawa, kehidupan masyarakat di kampung ini pada dasarnya masih tradisional. Kalau saat ini orang mengenal bubur manado dengan bahan dasar beras, di kampungku ada uta tabha. Sederhana, tapi menjadi menu andalan warga kampungku pada masa paceklik. Ketika masyarakat tidak bisa menjangkau beras di pasar atau pangan jagung sudah tidak mencukupi lagi. Biasanya terjadi pada bulan Januari dan Februari.

Maklum, penghasilan utama masyarakat di kampungku adalah jagung. Rata-rata warga menanam jagung. Kalau ada yang menanam padi biasanya padi ladang. Itu pun mereka menggarap kebun penduduk di desa lain, seperti Belu, Bejo, Langa bahkan sampai di Zeu, Kecamatan Golewa, atau di Soa, Kecamatan Soa. Sedangkan warga yang tidak memiliki handai taulan di kampung-kampung tersebut biasanya tidak ada alternatif lain kecuali menanam jagung. Untuk mendapatkan beras mereka harus membeli di pasar Bajawa. Syukur kalau ada pembagian beras masyarakat miskin (raskin) dari pemerintah desa.


Walau jarang mengonsumsi beras (dhea), masyarakat di kampungku tidak pernah kelaparan ataupun busung lapar. Uta Tabha memiliki keunikan yang luar biasa. Menu ini terdiri dari beberapa bahan lokal yang dicampur menjadi satu ketika dimasak.

Bahan dasarnya jagung (sae) atau beras jagung (dhea sae), kacang merah atau brenebon (boji), labu siam kuning (besi), ubi jalar merah (dhao), daun pepaya muda (uta padu), kelapa dan garam. Boji atau brenebon bisa diganti dengan kacang hutan atau kacang polong (lebha). Selain buahnya, daunnya (sawa lebha) juga bisa menggantikan daun pepaya (uta padu) untuk uta tabha.

Cara membuatnya gampang sekali. Jagung yang sudah ditumbuk diambil biji besarnya atau jagung bulat, baik yang muda maupun yang tua, dicampur dengan kacang dan daun pepaya. Direbus di periuk (bhogi) atau periuk tanah (bhogi tana) sampai lembek. Setelah lembek, masukkan labu siam yang diiris dadu atau ubi jalar (dhao) dipotong bulat. Kacang bisa macam- macam. Bisa kacang merah atau brenebon. Bisa juga kacang hutan atau kacang polong. Orang di kampungku menyebutnya li'e lebha. Selain buahnya (li'e lebha), daunnya (sawa lebha) juga bisa digunakan sebagai pengganti uta padu (daun pepaya). Setelah direbus lembek, masukkan kelapa yang diparut kasar dan garam secukupnya. Parutan kelapa biasanya menggunakan parut tradisional (regu), bentuknya seperti garpu dengan ujung yang dikikir kecil-kecil dan ditancapkan pada kayu berbentuk seperti kuda. Karena daun pepaya rasanya pahit, garam sebaiknya dimasukkan sedikit saja. Lezat memang kalau dihidangkan saat perut lapar.

Untuk menambah cita rasa biasanya ditambah dengan sambal. Sambalnya sederhana saja. Lombok diulek sampai halus ditambah sedikit garam, masukkan tomat yang diiris-iris kecil. Di kampungku banyak daun kemangi dan bawang. Mereka biasa menanamnya di samping rumah. Sambal ini menambah khas menu uta tabha, sehingga menambah selera makan.

Berbicara uta tabha memang paling menjengkelkan saya pada masa kecil dulu. Mulut komat-kamit ketika pulang sekolah melihat uta tabha di periuk yang dimasak mama. Kadang malas makan, tetapi karena tuntutan perut ya, makan juga. Soalnya, tidak ada menu lain kalau musim lapar. Apalagi, cuaca di luar rumah hujan sepanjang hari. Mau ke kebun untuk mencari bahan lain susah. Mau tidak mau masak apa adanya, karena menu yang tersedia di rumah hanya jagung dan kacang. Ya, itulah yang saya alami waktu kecil. Tetapi, makanan seperti itu tidak pernah membuat kami sakit atau kelaparan.

Uta tabha tetap menjadi konsumsi masyarakat di kampungku sampai sekarang. Saudara-saudara yang datang dari kota kadang-kadang tidak mau makan kalau melihat menu tersebut. Tapi, bagi kami di kampung, uta tabha adalah makanan pokok.

Nasi (maki) bagi kami adalah barang langka. Kalau ada yang mengonsumsinya, hanya orang-orang tertentu seperti guru atau pegawai. Kalau bisa makan nasi, itu rezeki luar biasa. Ya, begitulah kampungku.

Semasa waktu kecil tahun '80-an, saya kadang bertanya, "Kapan saya bisa makan nasi? Soalnya, makanan pokok kami jagung. Namun, menu seperti ini ternyata telah membuat saya menjadi orang yang sehat dan berprestasi di sekolah. Saya selalu mendapat peringkat satu di SD, dan sepuluh besar di SMP dan SMA. Bagi saya ini prestasi luar biasa, walau saya hanya mengonsumsi uta tabha.

Setelah dewasa dan datang ke Kupang untuk melanjutkan sekolah, saya menjadi ketagihan dan merindukan masakan uta tabha. Walau sedikit pahit, karena dicampur dengan labu siam (besi mawu), rasanya nikmat sekali. Sekali makan bisa menahan lapar sampai siang walau kita sedang pacul kebun atau bekerja apa saja di kampung.

Suatu saat, ketika saya sudah bekerja di Pos Kupang, saya mendapat kesempatan meliput sebuah pelatihan mengenal makanan lokal yang mengandung nilai gizi tinggi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat di Hotel Sasando Kupang. Saya bersyukur bisa mengikuti acara tersebut. Dari situlah saya mendapatkan jawabannya, kenapa walau hanya jagung (sae), kacang merah (boji atau brenebon) dan labu siam kuning dan sawa lebha (kacang polong dan daunnya), aku dan adik-adikku bisa berprestasi.

Menurut pengkajian dan penelitian dari instansi tersebut, kacang merah (brenebon) dan labu kuning dari daerah Bajawa memiliki nilai gizi tinggi dan kualitas nomor satu di dunia. Inilah kembanggaanku akan kampungku.

Ya, semoga saat ini orang tidak lagi semata-mata makan nasi dan lauk-pauk yang banyak dibubuhi zat pengawet, tetapi juga kembali kepada tradisi nenek moyang yakni makanan lokal yang sarat nilai gizi. *

Selasa, 02 Desember 2008

Petisi Kupang, Suara Kaum Minoritas

Oleh Sipri Seko

DUA bendera Bintang Kejora ditemukan di lereng Gunung Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua dan di Pantai Kwami, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (1/12/2008). Pengibaran bendera ini bertepatan dengan HUT Organisasi Papua Merdeka, 1 Desember 2008.

Sudah begitu jauhkah keinginan masyarakat Papua untuk berpisah dari Indonesia? Apa maksud pengibaran bendera tersebut? Ataukah mereka sengaja membuat sensasi agar mendapat perhatian dunia? Tak ada yang tahu. Tapi yang pasti, mereka ingin merayakan hari ulang tahun organisasinya.

Sabtu, 29 November 2008, massa utusan dari Propinsi Papua, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti pawai budaya bertajuk "Selamatkan Bhineka Tunggal Ika," di Kota Kupang. Peserta menggelorakan Petisi Kupang sebagai hasil konsolidasi Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Regional Sunda Kecil di Kupang, 26-29 November 2008. Aksi yang sama juga telah dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, 22-25 November yang diberi nama Deklarasi Surabaya. Petisi Kupang dan Deklarasi Surabaya dibuka oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Untuk Petisi Kupang, ada tujuh keputusan yang dilahirkan. Inti yang digelorakan adalah menegakkan dan mempertahankan kebhinekaan sesuai kearifan leluhur pusaka bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Aksi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk keprihatinan masyarakat sipil terhadap maraknya upaya pengkhianatan terhadap konstitusi, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Siapa pun yang menandatangani petisi dan mewakili siapa, bagi kita sebenarnya bukan menjadi persoalan. Yang harus dipetik dari petisi tersebut adalah sebuah bentuk atau upaya kebangkitan dari kaum minoritas. Masyarakat di Indonesia bagian timur yang selama ini kurang diperhatikan berusaha untuk menampilkan keberadaannya. Mereka sebenarnya bukan melawan pemerintahan yang sah, namun mereka juga ingin ke luar dari keterpurukan.

Apakah selama ini Papua, Papua Barat, Bali, NTB dan NTT tidak mendapat perhatian pemerintah? Bukankah APBN dan bantuan-bantuan lainnya yang selama ini diterima masyarakat berasal dari pemerintah pusat? Ada betulnya. Tapi lihat saja kesenjangan pembangunan di daerah lain dibandingkan dengan di Indonesia bagian timur. Upaya membentuk Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pun tak banyak membantu. Indonesia bagian timur masih seperti anak tiri.

Hal ini kemudian diperburuk lagi dengan munculnya regulasi-regulasi yang dinilai hanya mementingkan kelompok tertentu. Ada kelompok yang dilindungi, namun ada pula yang dibiarkan tertekan. Tak heran kalau kemudian, ANBTI Regional Sunda Kecil dan Tanah Papua mendesak pemerintah untuk segera membentuk aturan pelaksana terhadap pasal 18 B ayat 1 dan 2 UUD 1945, mengenai pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya dan segera mencabut UU yang tidak mengakomodir hak masyarakat adat.

Mereka juga menolak pemberlakuan UU Pornografi maupun perundangan lainnya yang memasukkan dengan paksa nilai agama tertentu dan budaya asing yang bersifat diskriminatif untuk dijadikan landasan hukum bernegara. Kebijakan investasi dan pengelolaan sumber daya alam juga dikritisi. Untuk itu seluruh rakyat Indonesia, apa pun latar belakang agama dan sukunya, harus terus bergandengan tangan dan menjaga persatuan bangsa dengan melawan segala bentuk pemaksaan kehendak dan pengkhianatan yang dilakukan secara konstitusional oleh segolongan masyarakat yang memiliki kepentingan tertentu dengan kehancuran Indonesia.

Bagaimana sikap kita terhadap Petisi Kupang? Sebagai masyarakat modern, transparansi sudah menjadi hal yang lumrah. Saling mengkritisi sudah bukan hal yang tabu lagi. Masyarakat sudah bisa memilih dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Petisi Kupang ataupun Deklarasi Surabaya boleh disebut sebagai bentuk perwujudan aspirasi masyarakat yang sebenarnya. UU Pornografi, misalnya, sudah ditolak pengesahannya oleh masyarakat, namun pemerintah 'dengan kepentingannya' tetap mengesahkannya.

Satu yang pasti, ketika aksi ini digelorakan oleh banyak orang dari aneka suku, agama, etnis dan golongan, ini sudah menunjukkan keakuan terhadap kebhinekaan di Indonesia. Mereka akan terus memberontak kalau kebhinekaan tersebut dinodai oleh kepentingan mayoritas. **

Dongeng Si Bocah Tua

Cerpen Roby B Kapitan

DERU
kendaran baru terlewat. Aku tidur di pembaringan tua itu. Seharian telah kuhabiskan energiku untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Senyum kemenanganku baru saja berakhir kala senja pergi tak tersisa.

Itu tanda kemenanganku, tanda hidup matiku, tanda aku telah mencapai sisa hari ini. Bapaku selalu bercerita tentang akhir hari yang selalu indah pada pukul 18.00. Entah apa yang dimaksudkannya, namun ketika senja hari tiba ia selalu duduk di beranda rumah sambil memandang ke arah barat. Aku terkadang mencuri perhatian dengan mengamatinya.

Dalam hati aku selalu bertanya "apa gerangan yang dipikirkan oleh si pekerja keras ini? Apa ia lagi menikmati indahnya pukul 18.00? Ada sesuatu yang indah di balik terbenamnya mentari? Mungkinkah ia mengingat kembali moment saat ia jatuh cinta pertama kalinya dengan bundaku? Atau malah sebaliknya, ia sedang berpikir tentang masa depan kami anak-anaknya?

Kini di pembaringan aku terlelap. Aku baru saja menyelesaikan tugasku hari ini. Si nyonya tua telah puas dengan karyaku. Iya..itulah kerjanya si nyonya tua, ia tak akan puas kalau aku tak bekerja dengan seserius mungkin. Apalagi kalau aku membuang waktu sedetik sajaàmungkin saja dunia ini bisa runtuh dan akibatnya nasib kerjaku bisa dikorbankan. Kadang aku tak mengerti keinginan si nyonya tua ini.

Ketika aku bekerja tanpa bicara karena kupusatkan konsentrasi terhadap pekerjaanku, ia malah mendakwaku dengan berbagai pendapat streotipnya. Katanya, aku tidak humanlah.., atau aku tu orangnya terlalu pendiam. Pokonya banyak sekali tanpa bisa kuingat lagi. "Dasar orang sinting" kilahku bila ingin menghibur diriku.

Namun ketika aku terlambat sedetik saja kerena menanyakan sesutu yang tak dapat kumengerti kepada teman kerjaku, omelannya langsung mendamprat dan memojokanku. Sungguh sial hidupku ini. Hidup di jaman eyangku dulu, mungkin lebih baik dan barangkali aku tidak senaas ini. "Nasib.. nasib.., sepertinya Tuhan salah memilihku untuk diciptakan!"

Kini di pembaringan aku terlelap. Sekali lagi aku terlelap dalam tidurku. Inilah saat yang kurasa paling indah dalam hidupku. Dalam lelapku, aku selalu bermimpi bahwa aku tak akan pernah lagi mendengar bising suara senapan dan meriam.

Aku tak akan pernah lagi mendengar jerit tangis tetanggaku yang baru saja dilanda musibah. Musuh "si musibah" itu datang tak pernah diundang. Saat tidur malampun, ia datang mengedor pintu rumah-rumah di dusunku.

Entah apa gerangan maunya, terkadang aku berpikir ia gila dengan cita-citanya. Musuh "si musibah" itu datang merenggut dan mencabik bocah-bocah tanpa nama. Aku muak dengan tingkahnya yang sok jagoan tetapi isi kepalanya kosong. Ditanya perkalian satu kali satu saja, pasti minta bantuan pada cucunya. Nah, untuk soal datang pada malam hari, dia jagonya. Ketika binatang peliharaan saja sudah tidur ia masih mau mengusik bocah-bocah yang baru datang kemarin. Mungkin saja bocah-bocah itu belum tahu menangis, namun musuh "si musibah" itu telah datang merenggutnya untuk kembali.

Naas sungguh sial nasibnya, andaikan sang dewi cinta telah meramalkan sang bocah untuk jadi penganti romeo dan juliet dalam drama cinta abadi, bagaiman impian malam ini dapat terwujud? "Iya itu mungkin takdirnya". Kilahku.

"Bukan takdir tolol..!!!" Malah musuh si musibah itu bisa merenggut nyawa dalam satu kampung. Mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika dianiaya dan dirajam sampai dibakar dengan seluruh isi rumahnya. Kejam benar musuh "si musibah" itu. Ia datang bagai awan yang gelap di musim panas dan pergi entah kemana rimbanya.

"Tok...tok....tok...!!!" bunyi sebuah benda keras yang menyentuh "black street" itu.

Aku tertegun, rupanya ada yang lewat di seberang sana. Bayangan hitam, tinggi besar. Firasatku mengatakan sesuatu yang lain. Aku tak tenang, kepalaku linglung, dahiku berkerut. Mau kemana lagi langkahku ini. Tidak puaskah ia datang dan pergi terus dihadapan ku? " bosanàaku benci kamu" dalam hatiku, aku mengutuk diriku.

Aku mencoba menahan napas. Kuturunkan kakiku dari pembaringan itu. Dingin sungguh saat kakiku menyentuh tanah, namun lebih kecut lagi nyaliku di saat-saat seperti ini. Darahku sejenak berhenti mengalir. Nadiku serasa tak berdenyut. Kalau ditempat terang mungkin aku dapat melihat betapa pucatnya wajahku di depan cermin. Ibuku tentu akan membantu memegangkan cermin dan aku akan melihatnya. Namun Inilah nasib, saat mau matipun, tak ada lagi ingatan akan bentuk wajah dan konstruksi tulang pipihku.

Bayangan itu mendekat. Sejenak kupalingkan wajahku sedikit ke kiri dan ke kanan. Ternyata baru kusadari bukannya hanya satu saja bayangan itu. Kuperkirakan akan hadir lima bayangan yang menatapku sebentar nanti. Ya...nampaknya bayangan itu bergerombolan. Mereka seperti kawanan pencuri yang setia sekawan.

Dalam taktiknya, mereka mampu mengelabui mangsa dengan cuma menampakan satu bayangan. Makin dekat bayangan itu, makin besar pula penglihatanku akan bayangan-bayangan itu. "Diam... !!!" terdengar suara dari salah satunya. Mereka berhenti mengerakkan kakinya. Kucoba mengintip dari celah sarungku, "wah..sungguh indah bayangan itu".

Aku meyadari keherananku, serentak otakku berputar dan dalam hati kubuat sebuah pernyataan "ternyata ada bayangan yang bisa mematung." Berarti, teori dari guru sekolah dasarku bahwa patung dibuat dari benda-benda materi belum sepenuhnya lengkap. "Ha...ha...ha...! Aku tahu, ternyata bayangan pun bisa jadi patung."

Aku tahu bayangan itu akan selalu merenggut nyawaku kapan dan dimana saja. Aku tahu dalam situasi ini bayangan itu mampu melenyapkan jiwaku. Patung itu punya nyali untuk mendatangkan maut terhadapku.

Patung itu ciptaan jiwa manusia tetapi patung itu mau melenyapkan jiwaku. "Inilah jiwaku yang dipenjara bagai patung dirimu. Jangan kau apa-apakan jiwaku, aku tuan bagimu" Kilahku.

Pada titik ini, Aku teringat Guru Sekolah Dasarku, ia sering menganalogikan jiwa dengan bayangan. Katanya " jiwa mausia itu seperti bayangan dirimu. Dia akan pergi kemana kau pergi, namun dia tak bisa kamu indrai."

Benarkah demikian? Kalau persoalan ini dihadapkan pada meja filsafat, para filsuf akan mati-matian mempertahankan jawaban masing-masing dengan berbagai alasan yang logis dan masuk akal. Itulah ciri khas para filsuf yang tak puas dengan satu jawaban, samapai-sampai realitas dunia pun tak pernah dirasakan memberi jawaban yang meyakinkan kepadanya.

Namun itu soal filsuf, mereka juga akan merefleksikan kematian, namun kematiannya tak akan bisa direfleksikannya. Kini, aku dihadapan bayangan. Bayangan kematian yang akan merenggut nyawaku.

Lima menit berlalu, bayangan itu tak kunjung pergi. Apa gerangan yang terjadi dengan bayangan itu? Dalam hatiku aku berbisik "Tuhan kalau sampai ajalku ambil saja nyawaku, tapi jangan kau ambil bayanganku. Aku tahu hidupku di dunia ini tidak berarti lagi.

Pemuja cintaku telah pergi selamanya. Pengeran tampanku yang pertama ikut bersama ibundanya. Bunga dahliaku telah dipetik paksa pada malam kelam. Untuk apa hidupku ini? aku orang asing di tanahku sendiri. Aku datang dari negeri seberang mencari serpihan bayanganku yang masih tersisa.

Aku mati di tanahku sendiri, tanah tumpah air mata dan darahku. Kini aku di pembaringan, aku ingin bermimpi di malam jumat, tetapi jangan kau ambil bayanganku"

"Aku pria malam Aku duduk di perapian Tidurku di balik awan Matiku di balik jaman". *

SYALOM