Rabu, 07 September 2011

Taman Renungan Bung Karno Merana

ENDE, sejak lama terkenal dengan Danau Kelimutu. Danau yang menjadi salah satu keajaiban dunia ini terkenal di seantero dunia. Namun, bagi Indonesia, di Ende, tak hanya Danua Kelimutu keindahan alam ciptaan Tuhan yang tiada dunia. Di Ende, Soekarno, presiden RI pertama melahirkan lima sila dari dasar negara kita, Pancasila. Hal inilah yang membuat Ende sangat terkenal dalam sejarah Indonesia.

Ende menjadi langkah awal perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di sana Soekarno pernah diasingkan pemerintah kolonial Belanda tahun 1934 hingga 1938.

Mengenang tempat yang sangat bersejarah, pemerintah kemudian membangun sebuah taman yang disebut Taman Renungan Bung Karno. Terletak di Jalan Soekarno, Ende, Taman Renungan Bung Karno dijadikan alternatif berwisata bagi mereka yang ingin merasakan bagaimana menariknya suasana pengasingan Bung Karno di zaman itu.

Memasuki kawasan ini, angan dan bayangan kita seperti dipacu. Semangat nasionalisme dilecut. Berada di sana, kita seolah-olah membayangkan perjuangan Bung Karno yang meski hidup di pengasingan, namun dia mampu melahirkan nilai-nilai sejarah yang tiada bandingnya. Di dalam Taman Renungan Bung Karno ini ada beberapa situs bersejarah.

Patung Bung Karno mengenakan setelah jas safari tampak gagah ketika dibalut warna emas. Patung tersebut tersebut seakan menjadi saksi bagaimana kerasnya perjuangan Bung Karno ketika diasingkan pada saat itu.Ada juga Tugu Peletakan Batu Pertama berbentuk kerucut, dengan batu berwarna abu-abu dan merah muda. Di tengah tugu, terdapat sebuah peta negara Indonesia terbingkai dalam frame batu berwarna ungu. Ada tulisan di tugu itu, yakni “ Di tugu ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Yang tak kalah penting disana, adalah Pohon Sukun. Di sekitar pohon sukun ini, Bung Karno mendapatkan inspirasi tentang lima butir Pancasila. Bagaimana kondisi Taman Renungan Bung Karno saat ini? Hanya sejarahnya yang bisa dibanggakan.

Taman yang begitu bernilai dan sangat keramat kini sudah tak terawat. Patung Bung Karno yang seharusnya berwarna keemasan, kini sudah pudar dan tak jelas warnanya. Kolam yang terletak di bawa dudukan patung, kini mengering dan tak setetes air pun berada di dalamnya.

Tugu Peletakan Batu Pertama yang seharusnya berwarna gading kini sudah kusam. Entah karena debu yang menempel karena diterbangkan angin dari lapangan Perse, tugu tersebut nampak kusam dan tak layak dibanggakan, kalau kita tidak tahu nilai sejarahnya.

Yang tampak masih berdiri megah adalah pohon sukun yang sangat rimbun. Buah pohon sukun itu nampak sangat rimbun dan beberapa di antaranya malah jatuh karena ditiup angin.

Bunga-bunga yang ditanam dalam taman pun mati kekeringan. Bunga pohon seperti palm, bonsai, bogenvile dan lainnya pun mulai mongering dan tinggal menunggu waktu untuk mati. Sampah dari dedaunan yang tumbuh rimbun dalam taman menumpuk tak dibersihkan. Saluran pembuangan air di tengah taman pun sudah dipenuhi sampah rumah tangga yang ditiup angin maupun dedaunan.

Meski demikian, pada petang hari taman tersebut selalu dipenuhi muda-mudi yang memadu cinta kasih. Mereka nampak tak peduli lagi dengan nilai sejarah dari semua yang ada dalam taman itu. Yang penting bagi mereka adalah, meski sudah kusam dan beberapanya sudah rubuh, namun bangku-bangku taman sangat cocok digunakan untuk bercengkrama.

Beberapa pengunjung yang ditemui mengaku prihatin dengan kondisi ini. Meski demikian, mereka terus memotret situs-situs yang ada di sana. Nampaknya harus ada perhatian khusus terhadap kondisi ini. Di saat hanya bisa membaca dan atau mendengar cerita orang tentang Situs Bung Karno, kita sepertinya apatis dan hanya mau berbangga di sebut orang Ende tanpa mau berbuat sesuatu untuk sesuatu yang sudah menjadi pembicaraan dunia. **

Jumat, 19 Agustus 2011

Merdeka Saat Masyarakat Belum Merdeka

DALAM sebuah kegiatan wartawan nasional, diagendakan pembahasan tentang nasib sepakbola Indonesia. Meski masuk dalam acara serba-serbi, namun para wartawan, terutama dari wilayah Indonesia Timur, tampak sangat antusias menunggu agenda ini. Tampaknya mereka ingin menumpahkan semua unek-unek masyarakat sepakbola di daerahnya. Semua sepakat bahwa salah satu penyebab mandeknya prestasi sepakbola Indonesia karena pembinaan hanya berpusat di Jawa. Hanya pemain di Jawa yang dipantau untuk diseleksi. Pemain-pemain asal wilayah Indonesia Timur diabaikan. Padahal prestasi klub sepakbola di wilayah ini secara nasional sangat bagus.

Tuntas sudah unek-unek itu disuarakan. Namun prestasi;sepakbola tak kunjung menghampiri Indonesia. Pembinaan masih status quo. Yang di sana tetap menguasai. Kita yang di sini hanya bisa menonton di televisi, padahal kaki gatal untuk ikut menendang karena punya kualitas.

Hari-hari ini, Bangsa Indonesia di seluruh pelosok sedang merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-66 Kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar perkasa di mana- mana. Semua sepakat, inilah harinya Indonesia. Hari di mana Indonesia bebas dari kolonialisme. Hari di mana rakyat Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri. Benarkah demikian?

Ada satu statemen menarik yang dilontarkan Manuel da Cruz, warga Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Manuel da Cruz dan Fernando Cardoso yang berada di perbatasan RI-RDTL, menilai, kemerdekaan  Republik Indonesia selama 66 tahun ini hanya berada di Jawa. Pasalnya, infranstruktur jalan, penerangan, perumahan dan air bersih bagi masyarakat di perbatasan belum dinikmati secara merata. Ke depan pemerintah perlu memperhatikan pembangunan perbatasan sehingga tidak tertinggal dengan masyarakat di perbatasan Timor Leste.

Manuel dan Fernando Cardoso tidak salah. Sama seperti rekan dan sanaknya yang lain, mereka memilih bergabung ke NKRI dengan harapan di sana tak hanya kemerdekaan yang diperoleh, tapi kesejahteraan pun dinikmati. Namun harapan itu tinggal harapan. Mereka hanya merdeka dari kolonialisme. Kolonialisme di Indonesia dan Timor Leste. Namun mereka tetap tidak merdeka dalam mengecap nikmatnya pembangunan, apalagi bicara kesejahteraan. Mereka masih dibiarkan merana. Tinggal di gubuk darurat yang terbuat dari daun gewang beratapkan gedek dari bambu. Kebutuhan lain seperti air dan apalagi listrik, hanya impian yang tak pasti. Kondisinya sudah demikian. Memang sudah saatnya kita bicara. Kita tidak boleh tinggal diam. Apa yang terjadi di lingkungan kita harus diketahui oleh dunia luar. Bisa saja pembangunan tidak menyentuh daerah-daerah tertentu karena informasi tidak sampai kepada para pengambil keputusan. Atau bisa saja mereka sudah tahu tapi berperilaku apatis. Untuk itu, bersuara agar didengar dan dilihat itu sangat penting.

Semua masyarakat NTT masih ingat ketika Presiden SBY dan puluhan pejabat negara menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2011 di Kupang, 7 Februari lalu. Presiden meminta semua perhatian negara diarahkan ke Indonesia bagian timur, terutama NTT. Malah, Presiden mengeluarkan statemen akan segera mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) tentang percepatan pembangunan di NTT. Memang tidak serta merta semua itu terlaksana karena butuh proses. Namun di saat usia Indonesia sudah 66 tahun dan masih ada rakyat yang menjerit karena belum merasakan nikmatnya kemerdekaan, ini menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting.

Manuel dan Cardoso mungkin hanya mewakili ribuan suara lainnya. Di Papua, bendera bintang kejora malah dikibarkan saat perayaan HUT ke-66 Kemerdekaan RI. Hal ini harus diartikan sebagai protes dari sebuah ketidakadilan. Protes dari tidak meratanya pembangunan.  Pada kondisi seperti ini, pemerintah daerah harus berani bersikap. Berani  menyuarakan aspirasi demi kesejahteraan masyarakat banyak bukan sesuatu yang tabu. Bukan menuntut tapi itu hak kita. Jangan hanya mau dikuras tapi kita juga harus menikmatinya.  Suara masyarakat Silawan hanya untuk mengingatkan kita di saat semua rumah dan jalanan bendera merah putih berkibar megah. Mungkinkah tahun depan suara ini terdengar lagi? *

Sabtu, 02 April 2011

Atletik Awali Perjalanan ke Riau

PELAKSANAAN PON XVIII 2012 baru akan dilaksanakan di Pekanbaru, Riau, September 2012 nanti. Namun, untuk mencapainya, semua cabang harus menyeleksi atletnya melalui kualifikasi (Pra) PON.

Tanggal 21 Maret lalu, Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon Leyloh Foenay, M.Si, secara resmi membuka pelaksanaan pelatda Pra PON XVIII. Mungkin, dalam sejarah baru kali ini KONI Propinsi NTT melaksanakan pelatda secara serentak untuk semua cabang olahraga. Delapan cabang langsung direkomendasikan untuk mengikuti Pra PON karena prestasinya, sementara lima lainnya dipertimbangkan.

Dalam pelatda ini, KONI NTT membentuk sebuah satgas yang diketuai Ir. Benny Ndoenboey, M.Si. Satgas ini bertujuan untuk menyukseskan impian KONI NTT mencapai prestasi tinggi sama seperti PON XVI 2004 dengan meraih delapan medali emas, empat perak dan empat perunggu. Impian yang berat. Tapi tidak ada yang mustahil kalau ada keseriusan. Hanya satu prinsip, lawan berlatih, saya juga. Dia latihan satu kali, saya tiga kali atau lebih. Prinsip ini memang harus ditanamkan dalam diri atlet dan pelatih agar prestasi bukan lagi sesuatu yang mustahil tetapi bisa digapai.

Sanggupkah KONI Propinsi NTT menjalankan misi menggapai prestasi tinggi? Cabang atletik mengawali perjalanan kontingen NTT ke Pekanbaru, Riau. Tiga atlet, Oliva Sadi, Adriana Waru dan Mery Paijo langsung lolos. Sementara Adnan dan Fany Dede meski rangkingnya sudah masuk ketentuan, namun harus menunggu hingga akhir kualifikasi. Apakah ini langkah awal yang bagus?

Ketua Harian Pengprop PASI NTT, Drs. Ary Moelyadi, M.Pd, dengan optimis mengatakan tekadnya untuk mengembalikan kejayaan atletik NTT. Ia bertekad atletik kali ini akan pulang dengan medali emas, sama seperti tahun 2004 lalu. Tekad itu muncul bukan karena Oliva Sadi sudah kembali ke NTT, tapi Ary Moelyadi dkk sudah punya strategi baru memunculkan atlet lain yang akan membuat kejutan.

Bagaimana dengan cabang lain? Tantangan sesungguhnya untuk menyamai prestasi 2004 adalah di Pra PON. Bagaimana mengukur kualitas diri, persiapan dan kekuatan lawan, hasil kualifkasi harus jadi tolak ukur. Artinya, kita jangan dulu (hati- hati) bercerita atau berkoar kalau di Riau nanti, NTT akan mampu mencapai prestasi yang lebih tinggi dari 2004. Baru ada tiga atlet yang sudah pasti lolos. Itu pun mereka belum tentu bisa meraih medali emas. Karena itu, persiapan cabang lain harus terus diperketat.

Satgas yang dibentuk jangan hanya nama di atas kertas. Satgas yang ada harus benar-benar memantau persiapan yang dilakukan cabang-cabang. Satgas tidak boleh ego cabang. Satgas harus mengayomi dan memperhatikan semua cabang. Mengapa demikian? Karena untuk mencapai prestasi tinggi, tak mungkin hanya mengandalkan satu cabang untuk meraih prestasi. Terkadang, yang diandalkan pun akan keok, kalau lupa diri sehingga kalah akibat kurang persiapan.

Cabang kempo dan tinju misalnya. Selalu menyumbang medali emas dalam tiga PON terakhir, kali ini mereka kembali ditantang untuk berbuat lebih. Sebagai cabang super prioritas bersama atletik dan taekwondo, mereka akan menjadi rujukan prestasi bagi cabang lain. Artinya, kita tidak hanya bisa bertepuk dada dan bernostalgia bahwa saya dulu bisa merebut medali emas, tapi bangkitkan tekad yang dulu bisa juara meski tidak ada pelatda.

Mengapa demikian? Kalau merujuk dari prestasi yang diraih anak-anak NTT di kejuaraan-kejuaraan nasional maupun internasional, tampaknya meraih minimal sembilan medali emas bukanlah hal yang berat. Namun harus diingat bahwa suhu dan nuansa PON berbeda. Berlatih bertahun-tahun, hanya dalam hitungan detik, seorang atlet bisa saja kalah. Kondisi ini sudah banyak dialami anak-anak NTT.

Kalau demikian, selama pelatda ini faktor non teknis harus diperhatikan. Non teknis saat berlatih maupun kualifikasi. Seorang atlet juara sekalipun, bisa saja tidak lolos PON kalau pelatihnya tidak berhitung tentang lawan, wasit, panitia, penonton dan lainnya saat kualifikasi.

Kita tidak perlu berkecil hati. Keyakinan akan kualitas diri yang dimiliki dan harus menjadi yang terbaik akan menjadi motivasi tinggi untuk juara. Minim dana bukan jadi halangan untuk berprestasi. Oliva Sadi dkk harus diberi tekad untuk menjadi juara karena kualitas dirinya bukan karena jatah. Mereka harus diasah untuk mendapatkan kemampuan terbaiknya dengan tulus. *

Rabu, 16 Maret 2011

Kembalikan Tentara ke Barak

TRAGIS! Charles Mali, warga Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Belu, meninggal di RS Wirasakti Atambua,  Minggu (13/3/2011). Mali diduga meninggal setelah dianiaya oknum anggota TNI dari  Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bakti (SYB), di Tobir, Kecamatan Tasifeto Timur, Belu.

Tak cukup sampai di situ. Hari Selasa (15/3/2011), ibu kandung Charles Malli, Modesta Dau meninggal dunia. Modesta Dau sendiri yang mengantar anaknya ke Mayonif 744 untuk dibina, diduga merasa bersalah dan tak tahan melihat jazad anaknya sehingga ikut meninggal dunia.

Harian ini, Selasa (15/3/2011), memuat tentang beberapa perilaku oknum-oknum anggota TNI yang sempat diberitakan. Tragis memang. Jangankan seorang Charles Mali, Romo Bento pun kena hajar dari mereka. Kini, di Atambua,  masyarakat tak tinggal diam dengan tragedi ini.

Komandan Batalyon Infanteri (Yonif) 744/SYB, Letkol (Inf), Asep Nurdin, mengatakan, tentu ada sebab dan akibat dari kasus itu. Kasus tersebut agar didudukkan sesuai fakta yang sesungguhnya sehingga tidak membias dan tidak saling memojokkan.

Dalam situasi seperti ini, selalu saja ada pihak yang berusaha membenarkan diri. Meski terkadang sudah tahu kesalahan, namun bertamengkan hukum, selalu saja berusaha 'menipiskan' kesalahan yang dibuat. Benar memang bahwa ada oknum anggota Yonif 744/Satya Yudha Bakti (SBY) yang dikeroyok Charles Mali dkk.

Pertanyaan muncul ketika ada oknum anggota Yonif 744 yang menjemput kedua orangtua Charles Mali (Raymundus Mali dan Modesta Dau) dan memerintahkan keduanya untuk wajib lapor di Pos Tobir. Wajib lapor itu akan berlangsung hingga Charles Mali datang. Ibu Modesta Dau sendiri langsung menyerahkan Charles dan kakaknya Herry Mali ke Pos Tobir dan jaminan dari anggota provost di Pos Tobir bahwa keduanya bersama dengan teman-teman lainnya akan dibina, bukan dihajar sampai meninggal.

Namun apa mau dikata, anak usia belasan tahun tersebut disiksa di markas Yonif 744 hingga meninggal. Sadisnya lagi, Charles malah dipaksa berkelahi dengan Hery Mali, kakaknya. Apa tindakan ini benar? Atau sekadar unjuk kekuatan bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah dengan cara sendiri?

Salah satu agenda reformasi yang ternyata belum total dijalankan adalah mengembalikan tentara ke barak. Tentara ke luar dari barak kalau ada perang. Kalau tidak ada perang biarkan mereka berdiam diri di barak. Malah, saat era reformasi sedang panas-panasnya didengungkan, ada beberapa ormas dan OKP malah mengusulkan agar tentara dibubarkan saja.

Masih segar dalam ingatan masyarakat NTT, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melakukan tapak tilas dari Kupang hingga Tobir, Atambua. Presiden SBY ingin mengenang kembali masa-masa saat dia memimpin batalyon ini. Bermalam di tenda Tobir, berulang-ulang orang nomor satu di RI mengatakan bahwa tentara dan rakyat harus bersatu. Tentara hadir di tengah rakyat untuk melindungi mereka, bukan malah menyiksa rakyat. Bila ada kesalahpahaman, biarkan proses hukum yang menyelesaikannya.

Namun, pernyataan pemimpin tertinggi TNI di Indonesia ini mungkin tak berlaku bagi oknum-oknum anggota Batalyon 744 yang menyiksa Charles Mali dkk. Mereka rupanya punya hukum sendiri. Mereka sudah berlaku seperti aparat kepolisian sehingga memerintahkan wajib lapor, memaksa pelaku menyerahkan diri dan malah menyiksa orang.

Padahal, walaupun sakit karena ada rekannya yang dikeroyok, seharusnya mereka menyerahkan penyelesaiannya pada proses hukum di kepolisian. Biarkan aparat kepolisian dengan aturan yang ada memroses para pengeroyok bila mereka benar- benar bersalah. Kalau sudah seperti ini, siapa yang bersalah?

Kita semua tentu tak ingin kasus ini terus berlanjut. Bolehlah ada rasa sakit hati dan dendam yang muncul dari diri. Semua tentu tak ingin disakiti. Namun kita juga ingin kedamaian. Mungkin hari-hari ini rasa sakit hati karena dikeroyok atau sanaknya dianiayai hingga meninggal, namun kita harus tetap mawas diri. Pihak ketiga biasanya dengan mudah masuk dan memperkeruh suasana dengan provokasi murahan, meski kita tahu bahwa kasus ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia, sehingga penyelesaiannya tidak akan mudah.

Apa yang perlu dilakukan sekarang? Para pimpinan gereja, pemerintah dan tentara harus duduk bersama-sama. Kesepakatan harus diambil. Jangan biarkan kasus ini berlarut-larut yang bisa menimbulkan efek-efek yang bisa menimbulkan kerawananan sosial. **

Senin, 14 Maret 2011

Warga Atambua Tewas, Danyon Minta Maaf

KOMANDAN dan seluruh anggota Yonif 744/SYB di Atambua, meminta maaf atas tewasnya Charles Mali, warga Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Belu, Minggu (13/3/2011). Charles Mali meninggal di RSU Wirasakti Atambua setelah dianiaya oknum anggota TNI dari  Batalyon Infanteri (Yonif) 744/Satya Yudha Bakti (SYB), Tobir, Kecamatan Tasifeto Timur.

Permintaan maaf itu disampaikan Wakil Komandan Bataliyon 744/PSY, Kapten (Inf) Nuryanto, yang dihubungi Pos Kupang Minggu (13/3/2011) malam. "Kami meminta maaf kepada keluarga korban serta masyarakat Atambua atas kejadian itu. Terhadap anggota yang diduga melakukan penganiayaan akan diproses secara hukum," tegas Nuryanto.

Dia mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan tujuh anggotanya yang diduga terlibat dalam pengiayaan itu kepada Sub Denpom Atambua untuk diproses secara hukum.

Pihak Yonif 744/PSY, kata Nuryanto, juga sudah melakukan pertemuan dengan keluarga korban yang difasilitasi pemerintah Kabupaten Belu yang dihadiri Assiten II Setda Kabupaten Belu. Pihak Yonif,  lanjutnya, akan menanggung proses pengobatan enam korban lain yang masih dirawat dan pemakaman Charles Mali.  "Sekali lagi kami mohon maaf. Para anggota itu pasti akan ditindak," tegasnya.

Keterangan yang dihimpun  Pos Kupang di Atambua, Minggu (13/3/2011), menyebutkan, Charles Mali, warga Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Minggu (13/3/2011), tewas setelah  dianiaya oknum anggota Yonif 744/Satya Yudha Bakti (SYB).  Korban dianiaya bersama enam rekan lainnya di Markas Yonif 744/SYB hingga sekarat dan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Wirasakti, Atambua untuk mendapatkan perawatan medis, namun nyawa korban tidak tertolong. Penyebab kasus penganiayaan tersebut hingga kini masih simpang siur.

Menurut keterangan yang diperoleh, kasus penganiayaan terhadap Charles dan enam rekannya itu merupakan puncak dari salah paham dengan oknum anggota Yonif 744/SBY tanggal 5 Maret 2011. Diduga korban dan rekan-rekannya pernah mengganggu istri salah satu anggota TNI Yonif 744/SYB.

Karena kesal, istri anggota TNI itu melaporkan suaminya. Sejak kejadian itu, korban bersama rekan-rekannya menjadi incaran oknum TNI Yonif 744/SYB. Karena takut, korban dan rekan-rekannya menghilang sehingga orangtua para korban dijemput paksa sebagai jaminan sebelum korban dan rekan-rekannya menyerahkan diri ke Markas Yonif 744/SYB.

Sejak tanggal 5 Maret 2011, para orangtua korban dan rekan-rekannya melaporkan diri sejak pagi hari dan baru diperbolehkan pulang sekitar pukul 17.00 Wita dan tidak diberi makan. Para orangtua kemudian meminta korban dan rekan-rekannya agar menyerahkan diri secara baik-baik karena ada jaminan dari pihak TNI bahwa  mereka tidak diapa-apakan.

Namun, saat korban dan rekan-rekannya sudah berada di Mako Yonif 744/SYB, justru mereka dikeroyok oknum TNI hingga sekarat dan dibawa ke Rumah Sakit Wirasakti, Atambua. Korban Charles mengalami luka cukup serius sehingga nyawanya tidak dapat tertolong, sementara enam rekannya yang lain hingga kini masih dalam perawatan medis.

Secara terpisah keluarga korban tewas, Romo Leo Mali, Pr, ketika dikonfirmasi Pos Kupang, Minggu malam, menyayangkan kasus yang menimpa keponakan kandungnya itu. Romo Leo mengutuk oknum TNI yang menganiaya korban hingga tewas dan dia meminta pelaku supaya diambil tindakan tegas.

"Atas nama keluarga korban kami meminta petinggi TNI untuk mengambil sikap tegas terhadap kasus penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal dunia ini. Bagaimanapun setiap kasus apa pun jenisnya harus diselesaikan secara akal sehat dan bukan dengan cara menganiaya hingga tewas. Keluarga korban akan menggelar musyawarah bersama dan segera mengambil sikap resmi meminta pertanggungjawaban terhadap kasus yang menimpa anak kami ini," tegas Romo Leo.

Kerabat korban, Charles Mali lainnya, Albert Mali, menambahkan, keluarga sudah bersepakat untuk mengawal kasus ini hingga diproses sesuai hukum yang berlaku. Untuk menjaga situasi yang tidak diinginkan, kata Albert, para orangtua di wilayah Fatubenao meminta para pemuda untuk menahan diri agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

"Situasi di Fatubenao aman dan kondusif. Para pemuda Fatubenao memang sudah diarahkan keluarga untuk menahan diri atas kejadian ini. Keluarga sudah menyerahkan penanganan kasus ini ke POM Atambua untuk diproses sesuai hukum yang berlaku," kata Direktur Atambua Corruption Watch (ACW) ini.

Secara terpisah, Komandan Batalyon Infanteri (Danyon) 744/SYB, Letkol (Inf) Asep Nurdin, ketika dikonfirmasi Pos Kupang mengaku sedang berada di Bandung mengikuti kegiatan dinas. Nurdin mengaku belum mengetahui secara jelas kronologi kasus yang dilakukan oknum anak buahnya itu.  "Maaf, saya ada di Bandung dan belum mendapatkan kronologi kasus itu. Saya baru rencana besok (Senin, 14/3/2011, Red) pulang ke Atambua," kata Nurdin dari balik telepon genggamnya.

Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez,  meminta Danyon 744 untuk memroses tuntas kasus yang dilakukan oknum anggota TNI itu. Bupati juga akan menyampaikan kepada danrem agar kasus ini diproses sesuai hukum yang berlaku.

Kepada keluarga korban dan seluruh warga Belu, Bupati Lopez meminta menahan diri dan tidak terpancing atau reaksi. Dia meminta semua pihak agar menyerahkan proses ini pada institusi yang berwenang untuk memrosesnya. (www.pos- kupang.com)

Kera Putih di Nausus

Oleh Sipri Seko

DOKTOR
Dikdik Jafar, M.Pd, Dosen FPOK UPI Bandung, yang juga adalah Sport Direktor SEA Games KONI/KOI tak ingin melepaskan moment langka di depan matanya. Kameranya terus diarahkan ke puncak Fatu (Batu) Nausus di Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten TTS, akhir Desember 2010 lalu.

Dia ingin merekam secara utuh tiga ekor kera putih yang yang tiba-tiba muncul di puncak Fatu Nausus. Meski nampak begitu kecil di puncak batu marmer setinggi lebih dari 100 meter tersebut, namun saya dan beberapa anggota rombongan, Ary Moelyadi (Kabid Keolahragaan Dinas PPO NTT), George Mella (Ketua Umum PASI TTS), Ferry Meko (Ketua Harian PASI TTS), para pelatih dan atlet atletik tertegun melihat fenomena itu.

"Kera Putih ini tidak sembarang ke luar. Hanya orang yang beruntung saja yang bisa melihat kera putih ini. Menurut kepercayaan di sini kalau kera putih muncul itu pertanda baik. Mungkin orang yang melihatnya akan mendapat rezeki dan lainnya," ujar seorang pemuda asal daerah itu, Buce Oematan.

Kera putih di atas Fatu Nausus menyimpan banyak cerita di daerah tersebut. Ada yang menyebut mereka sebagai jelmaan nenek moyang yang muncul bila ada tamu datang. Ada juga yang menyebut mereka sebagai penjaga alam dan beragam cerita mistis lainnya. Kera putih juga diceritakan akan murka bila Fatu Nausus ditambang menjadi marmer. Ada benarnya. Sebuah perusahaan penambangan dari luar NTT yang beberapa waktu lalu hendak menambang batu tersebut terpaksa harus menghentikan aktivitasnya. Hujan angin dan badai tiba-tiba datang bila mereka memaksa untuk melakukan penambangan.

Fatu Nausus dan batu-batu lainnya yang ada di daerah tersebut sejak dahulu oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tempat tinggal nenek moyangnya. Di situ juga merupakan tempat bagi beberapa marga seperti Lassa, Banoet, Seko, Sunbanu, Tafui, Toto, Tanesib, Bnani dan lainnya untuk menyimpan harta kekayaannya. Kepercayaan itu terus dipegang hingga saat ini dimana masyarakat setempat masih yakin bahwa harta benda nenek moyang mereka masih tersimpan aman di Fatu Nausus.

Indahnya panorama dan kekayaan alam di tempat kelahiran orang tua saya tersebut memunculkan beragam tanya dalam benak. Sulit untuk diungkapkan, namun terus berkecamuk. Kekayaan alam berupa batu marmer membuat masyarakat terpecah. Ada yang pro penambangan, namun ada yang menolaknya. "Masyarakat butuh perubahan jadi kekayaan alam yang ada harus dieksploitasi." Namun ada yang bilang, "Ingat, alam untuk masa depan anak cucu."

Hati terasa pedih! Sebuah batu yang jaraknya tak lebih dari 100 meter dari areal pekuburan nenek moyang saya di Desa Tunua kini sudah rata dengan tanah. Keinginan melihat kera-kera bergantingan di dinding-dinding baru seperti masa kecil dulu tak kesampaian. Mungkinkah ini terus berlanjut hingga ada kera putih yang muncul kemudian murka mengutuk mereka yang hanya memikirkan kepentingan pribadinya?

Namun saya sedikit terhibur ketika Dr. Dikdik merekomendasikan daerah Fautkolen sangat cocok sebagai lokasi pemusatan latihan cabang atletik. "Daerah ini sangat cocok untuk pemusatan latihan. Suhunya lebih bagus dari Pangalengan, Jawa Barat," ujarnya.

Kampungku..! Haruskah Kera Putih muncul lagi agar kamu diberkati? **

Sabtu, 04 Desember 2010

Siapkan Diri Hadapi Divisi III

TIGA kali sudah kompetisi sepakbola Piala Gubernur NTT digelar. Tahun 2008, Persap Alor keluar sebagai juara. Kalau tahun lalu Perseftim Flores Timur menjadi yang terbaik, tahun ini sang raksasa sepakbola NTT, PS Ngada (PSN) adalah sang juara.

Kompetisi ini digelar sebagai ajang seleksi bagi klub-klub untuk mewakili NTT di kualifikasi Divisi III Liga Indonesia. Kalau sebelumnya Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) memberi jatah tiga klub bagi Indonesia, tahun ini dinaikkan menjadi empat. Itu artinya, peringkat pertama hingga keempat berhak mewakili NTT di Divisi III.

Hanya tim terbaik yang mengikuti Divisi III. Mereka harus melewati babak penyisihan yang ketat sehingga peringkat pertama, kedua, ketiga dan keempat yang diraihnya merupakan sebuah prestasi. Namun, harapan untuk mendapatkan tim berkualitas di tahun ini nampaknya masih jauh dari harapan. Bagaimana tidak, dari 21 kabupaten/kota di NTT, hanya lima tim yang berpartisipasi di Piala Gubernur 2010. Satu tim, Persena Nagekeo, sesuai informasi yang dihimpun harian ini, semua pemainnya adalah anak-anak Kota Kupang yang tersisih saat seleksi di tim PS Kota Kupang.

Itu artinya, hanya empat klub yang mengikuti kompetisi ini, karena Nagekeo tidak mengirim tim. Kalaupun Nagekeo mengirimkan tim, sesuai penjelasan dari Sekretaris Umum Pengprop PSSI NTT, Drs. Lambert Tukan, M.M, saat Raparda PSSI di Aula Dinas Kesehatan Propinsi NTT, mereka tidak bisa bermain di Divisi III karena belum terdaftar sebagai klub resmi di PSSI. Apakah Persena Nagekeo adalah klub ilegal yang mengikuti kompetisi resmi di bawah PSSI ini?

Mendaftar saja untuk ikut Piala Gubernur, PSN, PSKK, Perss SoE, Perse Ende sudah pasti lolos ke Divisi III. Kalau Piala Gubernur ukuran adalah lolos ke Divisi III, maka PSN, PSKK, Perss dan Perse sudah mencatat prestasi besar. Namun kalau ukurannya adalah prestasi, pertanyaan lanjutannya adalah apakah PSN layak juara dan PSKK pantas menjadi runner-up? Semua orang mengakui PSN dan PSKK adalah raksasa sepakbola di NTT. Namun meraih gelar tanpa lewat kompetisi yang ketat, belum bisa dijadikan acuan kualitas.

Kita tidak bisa mengalahkan siapa-siapa. Bukan tanggungjawab PSN dan PSKK ketika tim lain tidak mau mengikuti kompetisi. Klub lain juga tidak bisa meragukan gelar mereka karena itu diraih melalui kompetisi yang resmi. Kita juga tidak bisa mempersalahkan Pemprop NTT sebagai pemilik anggaran dan Pengprop PSSI NTT yang terkesan hanya mau menghabiskan anggaran dan menjalankan program yang sudah direncanakan.

Pekerjaan penting yang harus dilakukan sekarang adalah mempersiapkan diri lebih matang menghadapi kualifikasi Divisi III tahun depan. Empat klub mewakili NTT membuat peluang Kota Kupang untuk menjadi tuan rumah sangat besar. Untuk itu, mumpung saat ini masih dalam tahap pembahasan anggaran di DPRD, para pengurus bola dan KONI Ngada, Kota Kupang, TTS dan Ende sudah harus memasukannya dalam anggaran di APBD.

Saran ini diberikan kalau kita memang menginginkan sepakbola NTT berprestasi di tingkat nasional. Kendala dana menjadi persoalan klasik dalam pembinaan sepakbola di NTT. Lihat saja Persap Alor atau PSN yang hampir masuk Divisi I, namun akhirnya terdegradasi hanya karena tidak ikut lanjutan kualifikasi akibat ketiadaan dana.

Yang menjadi persoalan adalah kita di NTT ini antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan pelaku bola belum sepaham tentang sepakbola industri, sepakbola modern ataupun sepakbola bisnis. Kita baru sebatas tahu bahwa sepakbola adalah permainan rakyat yang sering menimbulkan kericuhan akibat kualitas wasit yang rendah, misalnya. Kita belum tahu kalau sepakbola itu bisa jadi sumber pendapatan, lapangan kerja baru, arena sosialisasi diri, promosi maupun pertaruhan gengsi daerah.

Kalau ini dipahami dengan benar, dana seharusnya bukan sebuah kendala. Lihat saja daerah lain yang dalam satu kabupaten/kota ada lebih dari satu tim yang bermain di Liga Super Indonesia, Divisi Utama maupun Divisi I. Padahal, mereka berkompetisi lewat anggaran dari APBD. Di sana, pemahamanannya adalah, anggaran dari APBD untuk sepakbola adalah investasi sebagai salah satu sumber PAD, bukan sumbangan cuma-cuma. Mereka tahu bahwa anggaran Rp 20 miliar misalnya untuk satu musim kompetisi imbal baliknya akan lebih dari itu.

Bagaimana itu bisa terjadi di NTT? Tugas kita bersama. Tugas para pengurus bola untuk meyakinkan pemegang kebijakan bahwa berinvestasi untuk pembangunan kemasyarakatan juga bisa lewat olahraga. Perangkat aturannya jelas, yakni UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) yang salah satu ayatnya menekankan tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk olahraga. Apakah NTT sudah melakukannya? **

Senin, 12 April 2010

50 Hal Menarik tentang Messi (5-Habis)

SEBENARNYA membicarakan hal-hal menarik dari Lionel Messi tak cukup dengan 50 item. Dia memiliki sejuta kisah dan akan terus berkisah lewat penampilan dan prestasinya.

Berikut 10 item terakhir tentang hal menarik yang dihimpun Kompas.com.

41. Selain mendapat julukan "Kutu Atom", Messi juga dijuluki "Maradonita" karena dianggap penerus sang legenda Maradona. Namun, media-media Spanyol sering menjulukinya "Messidona".

42. Di Argentina, Messi sekarang menjadi idola terbesar. Fans selalu berusaha dekat dengannya. Dia ingat sebuah kejadian, "Anekdot yang terlucu adalah apa yang terjadi ketika aku di Venezuela. Saat meninggalkan lapangan, tiba-tiba seorang gadis rela terjun dari tribune yang tingginya 5 meter hanya untuk bisa mencium diriku. Aku sudah mencegahnya, 'Jangan lakukan itu, bisa berbahaya.' Tapi, dia nekat melompat dan aku mendapat sebuah ciuman."

43. Pada masa remajanya di Barcelona, Messi berkawan dekat dengan kapten Arsenal, Cesc Fabregas. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama bermain game Pro Evolution Soccer di PlayStation. Messi termasuk terpukul saat Fabregas dijual ke Arsenal.

44. Musik favorit Messi adalah samba dan cumbi.

45. Messi tak pernah menyaksikan highlight sepak bola di televisi yang menampilkan dirinya.

46. Messi dan pacarnya, Antonella Roccuzzo, berencana menikah pada akhir 2010. Pacarnya juga berasal dari kampung Messi, Rosario.

47. Messi ditunjuk sebagai duta Unicef pada 11 Maret 2010.

48. Messi memiliki dua saudara sepupu yang juga bermain bola. Mereka adalah Maxi Biancucchi dan Emanuel Biancucci. Maxi bermain di klub Meksiko, Cruz Azul, sedangkan Emanuel memperkuat klub Jerman, TSV 1860 Muenchen.

49. Gambar Messi sekarang menjadi cover game Pro Evo. Dia juga membintangi video untuk mempromosikan game tersebut.

50. Paling gres dan berkesan, tentu empat golnya yang membawa Barcelona menang 4-1 atas Arsenal pada leg kedua perempat final, Selasa atau Rabu (7/4/2010) WIB. Empat gol itu tentu akan dikenang sepanjang masa. Apalagi, dia mencetaknya dengan cara luar biasa. (habis)

50 Hal Menarik tentang Messi (4)

LIONEL Messi kembali membuat berita besar. Dalam partai derbi "El Classico" di kandang Real Madrid, dia mencetak satu gol dan membawa timnya menang 2-0, sekaligus menduduki puncak klasemen Divisi Primera La Liga. Berikut lanjutan hal-hal menarik soal Messi.

31. Barcelona melarang Messi membela Timnas Argentina di Olimpiade 2008 Beijing. Tapi, setelah dilakukan negosiasi antara Timnas Argentina dan pelatih Pep Guardiola, dia akhirnya diizinkan tampil di Olimpiade.

32. Messi bersinar di Olimpiade Beijing. Dia mencetak dua gol dalam perjalanan Argentina ke final untuk bertemu Nigeria. Di final, dia membuat assist untuk Angel Di Maria dan itu satu-satunya gol yang membawa Argentina meraih medali emas.

33. Pada awal musim 2008-09, Messi mendapat nomor 10 di Barcelona, menggantikan kostum Ronaldinho yang dijual ke AC Milan. Dengan nomor itu, dia seolah terbaptis sebagai bintang utama dan target man klub.

34. Pada Desember 2008, dia berada di urutan kedua dalam pemilihan Pemain Terbaik Dunia versi FIFA, kalah dari Cristiano Ronaldo.

35. Messi makin menunjukkan ketajamannya. Dia mencetak 38 gol untuk Barcelona di semua kompetisi musim 20008-09. Dua golnya dia cetak saat Barcelona bertandang ke kandang Real Madrid dan menang 6-2. Itu kekalahan paling besar Madrid di kandang sendiri sejak 1930.

36. Messi berperan besar membawa Barcelona meraih treble winners, menjuarai Copa del Rey, Divisi Primera, dan Liga Champions. Barcelona menjadi klub Spanyol pertama yang meraih treble winners.

37. Di Liga Champions, Messi mengumpulkan 9 gol. Dia menjadi top skorer turnamen itu. Dia juga pemain termuda yang menjadi top skor Liga Champions.

38. Dia mengakhiri tahun 2009 dengan dua penghargaan individu paling bergengsi. Selain meraih gelar Pemain Terbaik Eropa, dia juga meraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA.

39. Tahun 2009 juga menandai bertumpuknya gelar yang pernah diraih Messi. Selain gelar pribadi, dia juga sukses membawa Barcelona meraih banyak gelar. Messi ikut membawa Barcelona juara Divisi Primera La Liga (2004-05, 2005-06, 2008-09), Liga Champions (2006, 2009), Copa del Rey (2009), Piala Super Spanyol (2005, 2006, 2009), Piala Super Eropa (2009), dan FIFA Club World Cup (2009).

40. Messi mendapat julukan baru, "La Pulga Atomica" atau "Kutu Atom." (bersambung)

50 Hal Menarik tentang Messi (3)

GOL dan gol terus menghiasi kehebatan Lionel Messi. Dia menjadi faktor penting sukses Barcelona dalam beberapa tahun terakhir. Setelah 20 hal menarik tentang Messi, yang diturunkan dalam dua periode, berikut 10 hal menarik lain darinya.

21. Messi menjadi pemain termuda yang mencetak gol pada partai derbi "El Classico" antara Barcelona dan Real Madrid, Maret 2007. Dia mencetak hat-trick dan menyamakan kedudukan 3-3. Saat itu Barcelona bermain 10 orang. Salah satu gol dia cetak pada injury time.

22. Itu merupakan hat-trick pertama di "El Classico" sejak Ivan Zamorano membuat hal itu untuk Real Madrid pada musim 1994-1995.

23. Messi bermain luar biasa saat Barcelona melawan Getafe pada April 2007. Gayanya mirip Diego Maradona saat mencetak gol kedua di Piala Dunia 1986 lawan Inggris. Dari tengah, dia melewati beberapa lawan yang mengadang, kemudian membobol gawang Getafe. Messi pun semakin dijuluki sebagai "Maradona Baru".

24. Pada temu pers setelah pertandingan itu, rekan seklubnya, Deco, memuji, "Gol Messi adalah gol terbaik yang pernah kusaksikan."

25. Pada akhir musim 2006-2007, Messi membela Argentina tampil di Copa America untuk pertama kalinya.

26. Messi menjadi salah satu bintang Argentina pada turnamen itu. Dia mencetak dua gol dan membuat beberapa assist hingga Argentina lolos mudah ke final. Sayangnya, di partai final mereka kalah 0-3 dari Brasil.

27. Meski Argentina gagal, Messi dipilih sebagai Pemain Muda Terbaik di Copa America.

28. Selama Copa America, Messi satu kamar dengan Carlos Tevez. Dikabarkan, keduanya memutar musik keras-keras di kamar itu nyaris seperti diskotik.

29. Messi terus menjadi bintang di Barcelona pada musim 2007-2008. Dia bermain pada pertandingannya yang ke-100 saat melawan Valencia, Februari 2008. Saat itu umurnya baru 20 tahun.

30. Pada bulan Maret 2008 dia kembali didera cedera dan harus istirahat enam pekan. Ini kali keempat dalam tiga musim terakhir dia mengalami cedera otot robek. (bersambung)

SYALOM