Senin, 24 November 2008

Rombongan Adat, Simbol Kebangsawanan

Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (1)

Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad

SABTU
, 2 Agustus 2008, pukul 01.00 Wita. Bumi Matawai Amahu Pada Njara Hamu, trenyu. Ringkik kuda sandel sesaat diam. Goyang rumput sabana terhenti. Umbu, Rambu, Maramba, Hamba, menangis. Sumba Timur diselimuti kabut duka. Duka nestapa atas berpulangnya, Ir. Umbu Mehang Kunda, kepada Sang Khaliq. Lonceng gereja dibunyikan, imam masjid mengumumkan kepada umat bahwa pemimpin yang familiar, komunikatif berada di tengah semua golongan, semua suku dan semua agama telah meninggal dunia.

Ir. Umbu Mehang Kunda bukan hanya seorang bupati di Sumba Timur. Mehang Kunda adalah keturunan Raja Rende. Karenanya tata upacara pemakaman dilakukan secara adat marapu pemakaman raja-raja. Hasil urung rembug keluarga anamburung, marga almarhum sepakat jenazahnya dimakamkan di kampung adat Prai Awang, Rende, 10 November 2008.

Mulai Sabtu (8/11/2008), rangkaian tata upacara pemakaman dilangsungkan. Diawali dengan ibadah syukuran, karena Umbu Mehang Kunda telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan. Semua rangakaian upacara berlangsung di Kampung Prai Awang, tempat ayah almarhum, Umbu Windi Pandji Djawa alias Umbu Nai Hiwa dimakamkan.

Pada hari itu, saya dan Diana (wartawati Pos Kupang di Sumba Timur) menuju Kampung Prai Awang, sekitar 70 kilometer arah timur Kota Waingapu. Kurang lebih dua jam perjalanan, kami memasuki kawasan kampung adat itu. Kami menyaksikan sekitar tanah lapang depan gang masuk kampung, berdiri tegak tenda-tenda untuk tempat makan para tamu. Di tanah lapang itu, juga telah disiapkan tempat parkir. Di samping barat gang masuk ke kampung itu, terdapat sebuah kandang besar yang dipagari batu gunung, tempat pengikatan kuda dan kerbau. Banyak orang berpakaian khas Sumba hilir mudik ke sana ke mari, menyiapkan segala keperluan untuk acara adat pemakaman.

Kampung seluas kurang lebih 0,5 hektar, itu diapiti 23 rumah adat di sisi timur dan barat. Di tengah-tengah kampung terdapat 11 batu kubur besar dan beberapa batu kubur kecil. Salah satu batu kubur besar masih kosong. Batu kubur megalitik yang megah dengan berat 31 ton itu yang disiapkan keluarga anamburung untuk pemakaman jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda. Di tengah kampung, dekat batu kubur yang kosong, terdapat sebuah tenda besar yang sudah dipadati jemaat, para PNS lingkup Setda Sumba Timur, sanak keluarga anamburung dan sahabat kenalan almarhum. Sebuah altar kecil dan sound system tersusun rapi. Rupanya hari itu ada jadwal kebaktian syukur menjelang pemakaman almarhum Umbu Mehang Kunda yang telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan.

Begitu kami mengambil tempat duduk di tenda, langsung disuguhkan kuta dan winnu (sirih pinang) pada baola pahapa (tempat sirih pinang). Walau tidak biasa makan sirih pinang, kami menjamah saja sebagai wujud penghargaan kepada tuan rumah. Menyuguhkan kuta dan winnu merupakan penghormatan tuan rumah terhadap setiap tamu di Sumba Timur. Tuan rumah tersinggung jika tamunya menolak makan atau menjamah baola pahapa yang disuguhkan.

Sekitar pukul 17.00 Wita, kebaktian dimulai, dipimpin langsung Ketua GKS, Pdt. David Umbu Dingu, S.Th. Kebaktian berlangsung sekitar satu jam, dilanjutkan sekapur sirih dari keluarga yang diwakili Umbu Lili Pekualing, adik kandung almarhum Umbu Mehang Kunda, dan makan bersama.

Kami langsung mencari tokoh adat untuk dijadikan narasumber yang bisa menceritakan tata upacara pemakaman raja-raja Sumba. Beberapa orangtua didekati tapi mengaku tidak berhak berbicara. Umbu Lili Pekualing yang adalah adik kandung almarhum, juga mengaku tidak mengetahui secara detail tentang tata upacara itu dan menyarankan menemui juru bicara keluarga anamburung. Ada yang mengaku tahu dan mengerti tapi status mereka yera (ipar) dari almarhum atau status ipar dalam keluarga anamburung. Ada yang tahu tata upacara tapi status sebagai papanggang atau hamba.

Belum menemukan narasumber, kami memilih bergabung dengan tamu lain di bale-bale uma bokul (rumah besar) tempat jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda disemayamkan. Di sana kami bertemu Om Cyrilus, sahabat kental almarhum yang sudah dianggap sebagai keluarga oleh marga anamburung. Om Cyrilus sangat mengenal orang-rang di kampung itu, mengenal baik kerabat dan sanak keluarga almarhum Umbu Mehang Kunda. Dia mengajak kami ke sebuah rumah adat di sebelah timur uma bokul. Di sana kami dipertemukan dengan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha.

Umbu Maramba Hau yang saat itu cukup sibuk mengatur lalu lintas dan tata upacara pemakaman, menuturkan, penyimpanan jenazah, terutama jenazah para raja di Sumba Timur umumnya dan Kampung Prai Awang khususnya, itu hal biasa. Lamanya penyimpanan jenazah tergantung ekonomi. Jika ekonomi keluarga kuat, penyimpanan jenazah paling lama satu tahun langsung dimakamkan. Jika ekonomi keluarga kurang kuat penyimpanannya bisa 5-10 tahun, karena keluarga yang menyelenggarakan pemakaman harus bekerja menyiapkan segala kebutuhan, terutama hewan dan batu kubur.

Biasanya, jadwal pemakaman diambil berdasarkan musyawarah kabihu (rumpun keluarga atau marga). Khusus almarhum Umbu Mehang Kunda, hanya 102 hari penyimpanan, lalu dimakamkan, mengingat beliau punya jasa dan ekonomi keluarganya kuat. Untuk itu, keluarga anamburung mengundang 150 rombongan adat yang terdaftar dan 50 rombongan adat cadangan. Keluarga anamburung sudah siapkan balasan kepada rombongan adat yang membawa kerbau, babi, mamoli dan kain.

Setiap pembawaan rombongan adat akan dibalas sesuai silsila adatnya. Jumlah rombongan adat, pembawaan dan balasan merupakan simbol kebangsawanan orang yang meninggal dan keluarga yang menyelenggarakan pemakaman. Jenis barang bawaan dan balasan harus diurut secara benar untuk melapangkan jalan arwah almarhum menuju Parai Marapu (surga). Penganut marapu meyakini simbol adat yang dilakukan dalam tata upacara pemakaman, berlangsung juga di Parai Marapu. (bersambung)

SYALOM