Tampilkan postingan dengan label 234-PK2008. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 234-PK2008. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2008

Tidak Cukup Satu Turnamen

Catatan Yang Tersisa

Oleh Sipri Seko

PEMAIN Kristal FC, Rafael Lexi Tethun, tak pernah bermimpi akan jadi pemain terbaik turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008. Tak heran kalau dia sangat terkejut ketika namanya diumumkan sebagai pemain terbaik. "Saya terkejut, karena tidak pernah menyangka akan menjadi pemain terbaik," ujarnya.

Saking sukacitanya, Lexi, bahkan mengantar beberapa anggota panitia yang mengikuti syukuran juara Kristal FC di Hotel Kristal, Minggu (14/9/2008), hingga tempat parkir. Dengan bahasa Timor yang sangat fasih, Lexi, berulang-ulang mengucapkan terima kasihnya karena dipilih menjadi pemain terbaik. Dia berharap gelar itu menjadi motivasi baginya untuk bermain lebih baik.


Menjadi pemain terbaik, top skore, atau pun juara memang sangat membanggakan. Betapa tidak, diikuti semua pemain terbaik di NTT yang tergabung dalam 16 klub, hanya seorang pemain dan satu klub yang menjadi terbaik. Ada rasa sukacita dan kebanggaan. Ada pesta dan perayaan, juga ada doa dan syukur.

Namun, terkadang sukacita dan kebanggaan tersebut membuat pemain atau klub lupa diri. Ada buktinya! Dari empatkali penyelenggaraan Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup, setiap tahun selalu ada juara baru. Pemain terbaik dan top skore pun selalu berganti orang. Apakah itu karena persaingan yang merata, ataukah karena ketika menjadi yang terbaik mereka lupa diri sehingga luapan kegembiraannya berlebihan. Keduanya bisa dibenarkan. Klub-klub yang bertanding di turnamen ini menampilkan kualitas permainan yang hampir setara. Namun, yang beruntung adalah yang mempersiapkan diri dengan baik.

Hal lainnya adalah saat menjadi juara, mereka biasanya langsung menganggap remeh klub lainnya. "Kami yang terbaik. Kamu tidak ada apa-apanya." Begitu kata mereka. Mereka lalu memproklamirkan dirinya sebagai yang terbaik dari semua yang terbaik. Lihat saja Edi Atolan (Qhanasex/2005), David Pramono (SSB Tunas Muda/2006) dan Yusuf Mahemba (Britama Kupang/2007), yang langsung tenggelam di penampilan berikutnya. Yusuf Mahemba malah sering dicadangkan pelatihnya, Mathias Bisinglasi, karena kerap melakukan blunder, bahkan terkadang melakukan aksi-aksi provokasi yang tidak terpuji.

Kualitas klub, pemain, wasit, lapangan, hingga penyelenggaraan memang harus menjadi perhatian penyelenggara. Mitra Sportindo Event Organizer harus terus melakukan evaluasi untuk pembenahan penyelenggaraan. Ketegasan aturan yang ditetapkan bersama harus terus dipertahankan demi peningkatan kualitas permainan. Klub peserta di luar delapan tim yang sudah lolos otomatis harus diseleksi dengan ketat. Ide menjaring empat klub lewat play-off ada baiknya. Selain bisa mengakomodir keinginan banyak klub, mereka juga dituntut untuk mempersiapkan diri dengan baik.

Gebyar dan gempita penyelenggaraan turnamen sepakbola antar-klub terbesar di NTT, Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 telah berakhir. Ada klub yang pulang dengan linangan air mata, namun ada yang pulang membawa prestasi membanggakan. Sudah cukupkah sampai disitu?

Sangat berat menjawab pertanyaan ini. Apakah hanya dengan satu turnamen dalam setahun, lalu kita bisa mengatakan bahwa usaha pembinaan prestasi sepakbola sudah dilaksanakan? Menurun dan tidak stabilnya prestasi pemain juga adalah akibat minimnya turnamen yang digelar. Para pemain kemudian terjebak dalam turnamen sepakbola mini, yang tidak bermanfaat untuk peningkatan prestasi.

Ini harus menjadi tugas bersama. Pekerjaan rumah ini harus diselesaikan dalam tahun ini. Jangan terlalu berharap pada PSSI yang akan membuat gebrakan. Turnamen sebesar El Tari Memorial Cup saja mereka enggan melaksanakannya. Siapa yang tertantang atau tersinggung bila disebut tak mampu berbuat apa-apa, harus berani memberi bukti. Tantangan ini hanya untuk menggugah mereka yang punya niat suci memajukan sepakbola bukan sekadar untuk gagah-gagahan.

Sudahkah tradisi bola sudah berhasil dibentuk oleh Dji Sam Soe dan Pos Kupang? Bukan pesimis, tapi nampaknya masih jauh dari harapan. Antusiasme dan potensi itu sudah ada. Namun nampaknya kita masih hanya bisa bermimpi kalau suatu saat Bambang Pamungkas dkk bermain di Stadion Oepoi, kalau hanya mengharapkan satu turnamen. Sampai jumpa tahun depan! (habis)

Sabtu, 20 September 2008

Stadion Butuh Pembenahan

Catatan Yang Tersisa

Oleh Sipri Seko

KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhamad Wongso komit pada janjinya bahwa tanggal 20 Agustus, pengerjaan lintasan sintetis di Stadion Oepoi Kupang akan rampung. Pengerjaan lintasan dikebut agar penyelenggaraan turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008, terlaksana sesuai jadwal tanggal 23 Agustus.

Lintasan sintetis tuntas dikerjakan, namun permukaan lapangan menimbulkan masalah. Tumpukan tanah yang belum dikeraskan membuat permukaan lapangan menjadi labil. Tumpuan untuk berlari atau menendang bola menjadi tidak stabil. Akibat lainnya, para pemain sering terjatuh. Ada upaya untuk menanam rumput di atasnya, namun tidak cukup membantu karena baru ditanam satu minggu sebelum turnamen digelar.

Stadion Oepoi memang sedang direhab. Namun, yang diperbaiki adalah tembok pagar, atap tribun, pintu masuk, pintu ruangan dan lainnya. Permukaan lapangan tidak termasuk dalam item pengerjaan tersebut. "Butuh dana besar untuk pengerjaan permukaan lapangan. Kami sudah pernah melakukan presentasi di hadapan Dewan, namun belum ada rekomendasi untuk pengalokasian dana. Kalau permukaan lapangan bisa direhab, ditambah lampu stadion, saya yakin stadion kita ini akan menjadi salah satu yang terbaik di wilayah Indonesia Timur," ujar Kasubdin Sarana dan Prasarana Dispora NTT, Drs. Patris Cole.

Dibanding stadion lain di NTT seperti Golodukal di Manggarai, Batunirwala di Alor atau Haliwen di Belu, Stadion Oepoi jelas kalah. Namun, sebagai stadion pertama di NTT yang letaknya ada di ibukota propinsi, Stadion Oepoi memiliki nilai kebanggaan tersendiri bagi para pemain sepakbola. Menurut mereka, prestasi pemain sepakbola di NTT tidak lengkap kalau belum bermain di Stadion Oepoi. Tak heran kalau gengsi turnamen akan menjadi naik kalau pertandingannya digelar di Stadion Oepoi.

Dji Sam Soe dan Pos Kupang pun sama. Mereka tidak mau Mitra Sportindo Event Organizer menggelar turnamen yang disponsorinya di lapangan sepakbola lain selain Stadion Oepoi. "Gengsinya beda," kata Pimpinan Area Marketing PT HM Sampoerna Tbk Kupang, Danang Pamungkas.

Dengan kondisi 'harap maklum' turnamen tetap dilaksanakan di Stadion Oepoi. Sarana dan prasarana olahraga di NTT memang belum mendapat perhatian yang baik dari pemerintah. Padahal, untuk mendapatkan atlet berprestasi sarana olahraga yang representatif adalah tuntutan utama. Tidak hanya itu, dengan stadion yang bagus, kita juga bisa menggelar event-event tingkat nasional.

Seharusnya kita protes kepada PSSI mengapa kita tidak pernah menjadi tuan rumah pra PON cabang sepakbola. Kita memang tidak punya alasan kuat untuk itu. Stadion kita dinilai belum layak menggelar event nasional. Kalaupun Batunirwala dan Golodukal pernah menggelar Divisi II Liga Indonesia, itu karena sudah masuk dalam standard minimal, sementara Stadion Oepoi sama sekali tidak layak.

Tahun depan, Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup pasti kembali digelar. Semua pemain bola dan penonton partai final antara Britama melawan Kristal mendengar janji Ketua Bidang Organisasi KONI Propinsi NTT, Ir. Andre Koreh, M.T, saat penutupan bahwa dia akan mengusulkan ke Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya agar dialokasikan dana perbaikan permukaan lapangan. Kalau ini benar-benar terwujud, maka keinginan akan makin banyak turnamen yang digelar hampir pasti akan tercapai.

Lintasan atletik di Stadion Oepoi 'menggoda' para atlet atletik untuk berlatih lebih keras. Ada harapan prestasi atletik NTT akan meningkat. Mungkinkah bila permukaan lapangan ikut diperbaiki, maka sepakbola NTT bisa berbicara di level nasional? Kita semua menunggu! (bersambung)

Jumat, 19 September 2008

Wasit Jadi Kambing Hitam

Catatan Yang Tersisa


Oleh Sipri Seko

MANAJER Platina FC, Melkisedek L Madi dan pelatih Bon Kota Adonara, Asril Laba, mengeluarkan statemen bahwa klubnya tidak akan ikut turnamen sepakbola di Kota Kupang, kalau wasit-wasit yang ada masih dipakai memimpin pertandingan. Mereka menilai wasit yang ada sudah terlalu tua untuk memimpin pertandingan dengan tempo tinggi. Pengaduan yang sama sebenarnya datang dari sebagian besar pelatih peserta turnamen yang diterima panitia.

Panitia pelaksana dari Mitra Sportindo Event Organizer tidak bisa berkomentar banyak menerima pengaduan ini. Urusan perwasitan, berhubungan langsung dengan Pengprop PSSI NTT. Panitia hanya sebatas menginformasikan pengaduan itu, namun urusan menentukan siapa yang memimpin dan bagaimana kualitas kepemimpinannya, bukan menjadi urusannya.

Urusan wasit dalam turnamen sepakbola di NTT masih menjadi persoalan. Ada banyak contoh kericuhan dalam turnamen-turnamen resmi yang penyebab utamanya berawal dari kepemimpinan wasit. Contoh paling nyata adalah dipenjaranya striker Kristal FC, Maksi Kami, karena memukul wasit, Ruben Huru saat penyelenggaraan turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007. Kasus ini pun menjadi pelajaran penting bagi para pemain dan pelatih. Mereka mungkin geram terhadap keputusan wasit, namun mereka juga tak ingin menginap di 'hotel pordeo.'

Dari sisi kualitas dan pemahaman terhadap aturan, sebenarnya wasit-wasit kita sangat mampu. Yang jadi soal mungkin usia mereka. Dengan usia rata-rata di atas 45 tahun, kebugaran mereka, baik fisik maupun konsentrasi menjadi pertanyaan. Ketidakmampuan untuk terus berlari mendekati bola sesuai aturan FIFA membuat mereka terkadang masih salah mengambil keputusan. Tapi, apakah kita harus terus mempersalahkan mereka?

Itulah kelemahan kita bersama. Belum ada yang memikirkan peran wasit dalam memajukan sepakbola. Kita masih sebatas yang penting bersertifikat, masih mau memimpin dan tahu aturan, dia layak pimpin pertandingan. Padahal, badan sepakbola dunia, FIFA, memiliki aturan tentang pembatasan usia wasit. Contoh nyata adalah wasit ternama asal Italia, Piarluigi Collina yang harus pensiun di usia 45 tahun, meski masih menjadi wasit terbaik dunia saat ini.

Lalu, apa penyebab kita tidak melakukan regenerasi wasit? Banyak potensi yang seharusnya bisa dibina menjadi wasit berkualitas, namun belum dilaksanakan. Lihat saja keputusan Mitra Sportindo untuk menggunakan mahasiswa jurusan olahraga dari FKIP Unkris memimpin pertandingan ujicoba atau turnamen tak resmi lainnya yang mereka selenggarakan. Yudikar Praing, Musa Luluporo dkk menunjukkan kualitas yang cukup bagus. Mereka juga mampu berlari dan berkonsentrasi penuh selama pertandingan berlangsung. Sayangnya, mereka belum memiliki sertifikasi untuk memimpin pertandingan.

Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama. PSSI, klub, pemain, pelatih, ofisial, penyelenggara maupun sponsor harus duduk bersama dan sepakat untuk mencarikan solusinya. Para wasit senior yang ada harus dimintai tanggapannya. Mereka harus diajak untuk bersama-sama melahirkan generasi-generasi baru yang bisa melanjutkan tugas mereka memimpin dan menegakan aturan permainan.

Kita semua tahu profesi wasit sepakbola di NTT, bukan merupakan tempat mencari makan. Para wasit lebih memimpin hanya demi sepakbola. Mereka juga tentu tak ingin namanya terus diteriaki pemain, pelatih, ofisial atau bahkan dilempari penonton. Mereka juga memiliki keluarga yang sangat menghormati mereka sama seperti orang kebanyakan lainnya.

Untuk itu, kalau memang wasit masih terus diprotes klub peserta, mereka masih dituding sebagai kambing hitam di balik kekalahan tim maka harus ada solusinya. Harus ada aksi bersama. Kalau memang sudah saatnya regenerasi, lakukanlah itu. Kalau memang jumlah wasit yang ada masih sangat sedikit sehingga mereka terus dipaksa memimpin, gelarlah pelatihan minimal bersertifikasi C3 untuk memimpin turnamen-turnamen antar-klub di daerah. Namun, yang harus dicatat, kalau mau menggelar sertifikasi wasit, faktor usia harus jadi persyaratan mutlak. (bersambung)

Kamis, 18 September 2008

Persiapan Klub Tidak Maksimal

Catatan Yang Tersisa

Oleh Sipri Seko

HERMAN Tunliu, pemain Perss SoE dari klub Dinamit FC tak habis pikir kalau Kristal FC bisa bermain di final melawan PS Britama Kupang. Dia mengira kalau AS Roma, Platina FC atau klub-klub asal Flores yang akan bermain di final.

"Mereka pernah ujicoba di SoE melawan kami dan kami mengalahkan mereka. Saya penasaran jadi harus datang menonton," ujarnya. Herman lebih terkejut lagi ketika dia melihat skuad Kristal FC yang minim bintang, tidak sama seperti klub-klub lainnya.

Kristal FC memang tampil mengejutkan. Tak diperhitungkan, Johni Lumba membawa Dicky Lapitonung dkk menjadi champions 2008. Tim-tim besar ditumbangkan. Mereka tampil sangat fenomenal. Apakah ini berarti kualitas peserta turnamen sudah merata?

Sepakbola NTT terhenyak ketika Flores Timur mengirimkan empat timnya berpartisipasi dalam turnamen ini. Fanatisme terhadap sepakbola dan mimpi ingin bermain bola di ibukota propinsi membuat Bon Kota, Perselaya, Putra Napo dan Pelangi Putra tak memikirkan berapa duit yang mereka keluarkan untuk membiayai hidup mereka selama turnamen berlangsung. Tapi, justru di sinilah persoalannya. Kualitas permainan mereka jauh di bawah penampilan mereka tahun lalu.

Harus diakui bahwa ada ironi menarik tentang kualitas tim peserta. Bukan hanya tim asal Flores Timur dan Ende, tapi klub-klub asal Kota Kupang juga memiliki masalah yang sama. Persoalannya adalah bukan karena pemain-pemainnya yang tidak berkualitas, tapi nampaknya pada persiapan yang tidak maksimal.

AS Roma, Kelimutu FC, Mandiri FC, Bon Kota Adonara, Garuda Bahari, Putra Napo dan Pelangi Putra yang memiliki pemain-pemain berkualitas dan sarat pengalaman, namun bermasalah dalam stamina dan komunikasi permainan. Penampilan mereka sangat berbeda dengan penampilan anak-anak belia SSB Tunas Muda yang begitu bertenaga meski melawan tim-tim besar.

Kalau demikian, masalah kualitas tidak terlepas dari persiapan tim. Pola latihan, berapa lama persiapan yang dilakukan, apakah pelatihnya tahu teknik melatih atau tidak dan lainnya belum menjadi perhatian. Hanya mengandalkan pengalaman bertanding, mereka mau bermain. Akibatnya adalah kekalahan yang dibawa pulang.

Prestasi Kristal FC adalah contoh nyata tim yang mempersiapkan dirinya dengan baik. Latihan rutin dan terprogram membuat mereka sangat paham apa yang harus dilakukannya dalam lapangan. Komunikasi sudah terbangun dengan baik, karena mereka sudah sering sama-sama berlatih. Mereka tidak copot pemain sana sini untuk menutup kelemahan di lini-lini tertentu hanya untuk mengejar nama dan gelar di turnamen. Pemain inti dan pelapis sudah sama siapnya.

Kalau demikian, seharusnya klub-klub peserta terutama yang sudah lolos otomatis harus mempersiapkan diri dengan baik. Pieter Fomeni dkk dari Mitra Sportindo Event Organizer sudah mematok jadwal penyelenggaraan, yakni bulan Juli hingga September. Itu artinya, klub-klub sudah harus memiliki jadwal latihan yang terprogram, mulai dari latihan ringan, teknik, pola, fisik, ujitanding/try out hingga masa tenang menyambut pertandingan.

Di era di mana olahraga sudah menjadi teknologi, jangan harap kalau pola latihan langsung masuk lapangan dan bermain bola akan membuat sebuah klub bisa menang. Pengetahuan dasar bermain bola harus diberikan. Tenik menyerang dan bertahan harus diajarkan. Komunikasi dan saling tahu tipe permainan teman harus diketahui dan masih banyak lagi. Semua ini dilakukan agar jangan hanya sekadar berpartisipasi dan menghabiskan duit hanya dengan alasan yang penting bisa bermain bola.

Turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup sudah memiliki kelas tersendiri dalam sepakbola antar-klub di NTT. Pieter Fomeni dkk, ketika menggandeng Dji Sam Soe dan Pos Kupang untuk mensponsori event ini tidak memiliki target untuk meraup keuntungan financial. Mereka hanya ingin sepakbola NTT bisa bangkit dan bersaing di level nasional. Mereka yakin dengan semakin banyak orang bermain bola, maka tradisi bola akan muncul sehingga dibina menuju prestasi yang lebih tinggi. (bersambung)

Minggu, 24 Agustus 2008

Faktor Mental Juara


Oleh Sipri Seko
ZETH Adoe tak habis pikir, mengapa dia selalu kandas di final. Dua tahun berturut-turut, AS Roma hanya bisa menjadi runner- up. Tahun 2006 kandas dari SSB Tunas Muda. Tahun lalu, mereka takluk dari Britama Kupang. Kalau tahun ini sang pelatih, Zeth Adoe, langsung menargetkan juara, apakah mereka layak?

Jangan cepat menjawab sebelum melihat skuad mereka dan calon lawannya. Mereka bergabung bersama Putra Napo, Platina Komputer dan Putra Samudera di Grup D. Grup maut! Tapi, Zeth Adoe dan Buce Lioe tak terlalu khawatir. Menggabungkan skuad utama Persab Belu dan Perserond Rote Ndao dalam tim AS Roma, Zeth begitu yakin kalau keinginannya untuk menjadi juara bukan sebuah sesumbar kosong.

Tapi untuk mencapainya, Zeth Adoe harus melewati hadangan Putra Napo. Tampil mengejutkan dan lolos hingga empat besar tahun lalu, Putra Napo kini mengincar prestasi yang lebih tinggi. Abubakar yang menjadi arsitek, tentu tak ingin mengecewakan Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, yang melepas mereka dengan resmi di Mananga, Solor. Diperkuat beberapa pemain dari Tarakan, Kalimantan Timur, Putra Napo memiliki kekuatan dan kualitas yang harus diperhitungkan.

Bagaimana dengan kekuatan Platina Komputer? Helmon Liko dan Melkisedek Lado Madi sekarang tentu lagi berpikir keras bagaimana meramu skuad dalam timnya. Memiliki pemain- pemain berkualitas tinggi, Helmon dan Melkisedek dituntut untuk meramu mereka menjadi kekuatan yang bukan hanya berkualitas tapi juga kompak untuk meraih gelar.

Menggabungkan pemain PS Kota Kupang (PSKK) dan PSN Ngada, Platina Komputer memang patut diunggulkan. Siapa tidak kenal Frans Saboen, Hendro Toda, John Liko, Leandro, Hery Nuwa, Atus Kapitang, Ardy Valendra, Zola, Ardy Ora, Pinto Abrao, Thomas Gotha dan Justinus Jabur? Mereka adalah pemain-pemain terbaik di posisi masing-masing.

Satu tim lainnya yang bergabung di Grup D ini adalah Putra Samudera (Pusam). Tidak seperti AS Roma, Putra Napo dan Platina Komputer yang menargetkan juara, Pusam memilih tampil sebagai underdog. Namun, lolos lewat jalur play-off, anak-anak asuhan Ako Dethan ini tak boleh dipandang remeh. Lihat saja ketika strikernya Agoes Jose mencetak empat gol untuk mempermalukan Primus Sivelmus dan Castelo Branco yang memperkuat Kelimutu FC saat play-off. Artinya, ketika Pusam tahu calon lawannya lebih diunggulkan, pemainnya tidak akan mau melihat gawangnya dibobol.

Kalau demikian, nampaknya susah untuk menentukan dua tim yang akan lolos dari Grup D. AS Roma, Putra Napo dan Platina Komputer akan mengandalkan kualitas lebih pemainnya untuk merebut kemenangan. Biasanya, kalau ini yang terjadi, faktor mental juara akan sangat menentukan. Siapa yang siap, dia yang menang. Tapi, ketika ketiganya tidak menghiraukan dan menganggap remeh keberadaan Pusam, maka Ako Dethan, akan 'permisi' kepada mereka untuk lolos ke putaran kedua. (**)

Jumat, 22 Agustus 2008

Kualitas Yang Memenangkan


Oleh Sipri Seko

"KAMI hanya bawa dua pemain senior, selebihnya adalah pemain-pemain yunior dengan usia 21 tahun ke bawah. Saat ini kami sudah siap bertanding. Kami tidak memiliki target yang muluk-muluk, namun turnamen ini akan menjadi pengalaman berharga untuk dievaluasi sebelum berangkat ke El Tari Cup di Bajawa."

Itu pernyataan pelatih Persado Oesao, Ferdy Lape. Menuju Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini, Persado Oesao memang tidak ingin muluk-muluk. Berada di Grup C, Persado Oesao akan bersaing dengan Britama Kupang, Putra Pelangi, Kristal FC. Menurunkan pemain-pemain yunior, Persado Oesao memang tidak diunggulkan, minimal lolos dari penyisihan grup.

Manajer Persado, Helmit Marcus, S.H, senang dengan status non unggulan. Bermain lepas dengan mengandalkan semangat juang dan kekompakan tim, dia sangat yakin kalau mereka akan membuat lawan kerepotan.

Tim lainnya, Britama Kupang, masih diunggulkan untuk mempertahankan prestasinya menjadi kampiun turnamen. Mathias Bisinglasi, dikenal memiliki strategi tinggi dan punya kemampuan membaca permainan dengan sangat baik. Dengan skuad yang dimilikinya, Britama Kupang nampaknya tidak akan kesulitan mengatasi lawannya, minimal di penyisihan grup. Umbu Yogar, Adrianus Adi, Dody Lisnahan, Kiser Mbou, Digo Maradona, Suparman Bara, Borju, Yusuf Mahemba, Marcel Bitol, Hendra Takunama dan lainnya, adalah jaminan kualitas yang sudah teruji.

Bagaimana dengan Kristal FC? Pelatih bertangan dingin, Johni Lumba yang saat ini sedang kuliah doktoral olahraga di Surabaya khusus didatangkan untuk menukangi Deni Bengu dkk. Tahun lalu, Johni memberi bukti kalau Kristal FC yang tidak diunggulkan berhasil menempati peringkat ketiga. Skuad yang sama masih akan dipakai untuk bertarung di tahun ini.

Lalu, apakah Kristal lantas ikut diunggulkan untuk lolos? Jangan cepat memvonis. Dengan hanya dua tim yang lolos dari grup, selain Britama dan Persado, Kristal harus melewati hadangan Putra Pelangi. Anak-anak asal Pulau Solor, Flores Timur ini jauh-jauh datang ke Kupang bukan hendak berwisata. Mereka memiliki kualitas untuk menjadi unggulan. Buktiknya adalah ketika menahan imbang Platina FC, 2-2 dalam laga persahabatan di lapangan TNI AU, Penfui-Kupang, Kamis (21/8/2008).

Sang pelatih, Elman Ibrahim, sangat tahu karakter bermain anak-anak Kupang. Di masanya, Elman, bersama pelatih Britama, Mathias Bisinglasi, pelatih Persado, Ferdy Lape dan pelatih Kristal, Johni Lumba adalah pemain terbaik di posisinya. Elman, Mathias, Helmit Marcus dan Ferdy Lape, sama-sama pemain PSK yang pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an membuat tim ini disegani dalam sepakbola NTT.

Kali ini, mereka kembali bertemu bukan lagi sebagai pemain, tetapi sebagai pelatih. Adu strategi dan kematangan akan menjadi duel yang layak disimak. Britama memiliki nama besar dengan skuad sarat pengalaman. Persado memiliki pemain muda penuh talenta yang tidak bisa dianggap remeh. Ketika Johni Lumba mengantar Kristal menempati peringkat tiga tahun lalu, semua baru percaya, bukan kualitas semata yang memenangkan, tetapi juga kekompakan dan kemauan menjadi juara.

Tiga tim asal Kota Kupang 'akan mengepung' Putra Pelangi yang seharusnya sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Kalau begitu, haruskah kita mengatakan, Persado, Britama, Kristal dan Putra Pelangi memiliki peluang yang sama di Grup C? **

Kamis, 21 Agustus 2008

Menguji Sebuah Tradisi


Oleh Sipri Seko

HARI Sabtu, tanggal 23 Agustus ini, turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup akan kembali bergulir. Sebanyak 16 tim yang dibagi dalam empat grup akan bersaing dalam turnamen antar-klub yang disebut-sebut paling bergengsi di NTT ini. Mari kita berhitung peluang juara mereka.

Di Grup A, akan bergabung Sandelwood, Qanasex, Perselaya, Mandiri. Grup B, Bon Kota Adonara, Garuda Bahari, Tunas Muda, Ikan Paus. Grup C, Persado Oesao, Britama Kupang, Putra Pelangi, Kristal FC. Grup D, Putra Napo, AS Roma, Platina FC dan Putra Samudera.

Sandelwood, Mandiri dan Qanasex memiliki tradisi kuat dalam tiga penyelenggaraan terakhir untuk selalu lolos ke putaran kedua. Mandiri dan Qanasex dengan materi pemain yang pas-pasan dikenal memiliki strategi yang susah ditebak lawan. Klub kuat macam AS Roma dan Britama Kupang sudah pernah menjadi korban strategi mereka. Itu artinya, jangan menghitung kekuatan Mandiri dan Qanasex dari materi pemain yang dimilikinya, tetapi bagaimana tradisi yang membawa mereka untuk menyulitkan lawan-lawannya.

Lukman Hakim, tentu masih mengandalkan Lambert Kadju, Pieter Fomeni, Zulkifly Umar, Ronald Muchtar dan lainnya untuk mempertahankan gengsi Mandiri sebagai juara 2005. Strategi mereka biasanya sangat sederhana. Bermain aman! Dan, ketika tidak kebobolan, curilah peluang untuk mencetak gol. Kemenangan lewat adu penalti pun mereka siap jalani.

Qanasex, yang diperkuat Lisnahan bersaudara, Ba'i, Cha, Sempli, Fadjar, Nofri, Dalman dan lainnya, mereka memiliki kekompakan tim yang tidak dimiliki klub lainnya. Memiliki kualitas pemain yang pas-pasan, mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk meraih kemenangan. Paling tidak, aksi Qanasex pada tiga penyelenggaraan lalu, harus menjadi evaluasi bagi klub lain kalau tidak ingin tersandung.

Bagaimana dengan Sandelwood? Anak-anak asuhan Paul Ngongo Bili ini selalu datang tanpa target. Kalau kali ini beberapa pemain utamanya, seperti Agoes Jose, Pieter Ufi, Adrianus Adi, Bambang Tokan dan lainnya sudah hengkang ke klub lain, jangan langsung menganggap Sandelwood bukan lagi klub yang patut ditakuti. Mereka disebut-sebut memiliki kekuatan tersembunyi untuk membuat kejutan.

Klub lainnya yang cukup fenomenal dari Grup A ini adalah Perselaya Lamahala. Skill pemain dan dukungan ribuan suporternya adalah kekuatan besar mereka untuk meraih prestasi. Tapi, satu yang harus diwaspadai klub asal Adonara, Flores Timur ini, yakni tidak boleh terlena dengan puji-puja suporter, lalu lupa bahwa tujuan bermain bola adalah untuk menang dan atau bukan hanya sekadar tampil di lapangan.

Lalu siapa yang lolos dari Grup A ini? Semua memiliki peluang! Tradisi selalu lolos ke putaran kedua yang masih bertahan, ataukah cukup sampai di sini. Yang jelas, pandai-pandailah memainkan strategi, karena kualitas pemain bukan jaminan utama, ketika faktor eksternal disepelekan.

Bagaimana dengan Grup B? Tunas Muda, juara 2006, kali ini maju dengan mengusung sebuah kebanggaan. Mereka bangga sebagai pemain muda yang mendapat kesempatan melawan senior-senior mereka dari Tunas Muda yang telah bergabung ke klub lain. Usia muda mereka, membuat anak-anak asuhan Anton Kia ini tentunya masih labil. Namun, kekuatan mereka untuk menang adalah bermain tanpa beban didukung skill tinggi dan latihan rutin.

Untuk Bon Kota, mereka adalah klub pertama luar daratan Timor yang pertama merasakan ketatnya persaingan di turnamen ini. Selalu datang dengan ambisi menggebu-gebu, mereka selalu kandas di putaran kedua. Untuk yang ketiga kalinya ini, mereka tentu tidak ingin tersandung. Mengandalkan materi pemain dari Perseftim Flores Timur, Bon Kota sangat layak untuk diunggulkan di Grup B ini.

Bagaimana dengan Garuda Bahari dan Ikan Paus. Kedua klub ini masih asing dan baru. Skuad mereka juga masih misterius. Tapi, ketika berani tampil di turnamen ini, mereka tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi ketika kita berhitung tentang peluang di Grup B ini, jangan cepat menunjuk Bon Kota dan Tunas Muda yang lolos hanya karena sudah mengenal pemain mereka, karena Garuda Bahari dan Ikan Paus juga tahu bagaimana bermain bola yang baik untuk memenangkan pertandingan. (*)

Jumat, 08 Agustus 2008

Ditunda Hingga 23 Agustus

PENGERJAAN lintasan atletik di Stadion Oepoi Kupang yang baru akan berakhir tanggal 20 Agustus membuat turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 harus ditunda. Pertandingan baru akan digelar tanggal 23 Agustus. Demikian ketua panitia dari Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni di Stadion Oepoi, Minggu (27/7/2008).
"Sesuai jadwal seharusnya turnamen ini selesai tanggal 16 Agustus, namun karena ada pengerjaan lintasan sintetis berstandar internasional, maka turnamen harus ditunda. Sesuai pemberitahuan yang kami terima dari pengelola stadion, pengerjaan baru akan selesai tanggal 20 Agustus, sehingga turnamen baru akan digelar lagi tanggal 23 Agustus," jelas Pieter.
Terkait penundaan ini, Pieter mengatakan, telah disepakati oleh 16 klub peserta. "Klub-klub menyadari kondisi ini sehingga semuanya sepakat. Dan, karena ada konsekuensi terhadap dana bagi klub peserta, maka untuk klub dari Flores saat ini mereka belum datang. Kepada mereka, kami sudah beritahukan tentang kondisi ini sehingga mereka juga tidak datang untuk ikut pembukaan," jelasnya.
Dalam rentang waktu ini, Pieter mengatakan, klub-klub diminta untuk terus meningkatkan latihannya. "Undian grup sudah dilakukan sehingga kami persilahkan kepada klub-klub yang ada di Kota Kupang ini untuk saling ujitanding," ujarnya. (eko)

Platina Kalahkan Britama 2-1

PLATINA FC menang 2-1 atas PS Britama Kupang dalam pertandingan ujicoba turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008, di Stadion Oepoi Kupang, Minggu (27/7/2008). Pertandingan resmi baru akan digelar tanggal 23 Agustus karena saat ini sedang dibangun lintasan sintetis di Stadion.

Pertandingan antara Britama melawan Platina yang dipandu wasit Yudikar Praing ini berlangsung ketat. Kedua tim yang diunggulkan untuk menjuarai turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini langsung menurunkan pemain terbaiknya. Britama menurunkan Umbu Yogar, Dody Lisnahan, Kiser Mbou, Yusuf Mahemba, Pinto Fernandez, Borju, Marcel Bitol, Jilet, Adrianus Adi, Digo Maradona dan Qadar Malik. Sementara Platina menurunkan Adi, Jabur, Leandro, Pinto, Nelis, Ardi, Novan, Thomas, Frans, Atus dan Zola. Babak pertama berakhir tanpa gol.

Di babak kedua, Britama, tim asuhan Mathias Bisinglasi lebih dulu menekan. Umbu Yogar dan Adrianus Adi berhasil membangun serangan dari lini tengah. Dan, ketika pertandingan memasuki menit kesepuluh, pelanggaran keras dilakukan Nelis terhadap Digo Maradona di dalam kotak penalti. Adrianus Adi yang melakukan tendangan penalti berhasil merobek gawang Platina.

Ketinggalan, Platina melakukan beberapa pergantian di antaranya dengan menarik Novan untuk memasukkan Ardiansyah. Beberapa saat kemudian, Zola yang ditarik menjadi penyerang sayap berhasil menyundul bola tendangan sudut Thomas Gotha untuk menyamakan kedudukan.

Pertandingan menjadi menarik ketika Platina lebih menekan ke pertahanan Britama. Yusuf Mahemba dan Kiser Mbou pun dipaksa berjibaku menjaga daerah pertahanannya. Meski demikian, gawang Dody akhirnya bobol. Berawal dari umpan sayap Thomas Gotha, Dody tidak sempurna menangkap bola. Bola liar jatuh tepat di kaki Zola dan dengan mudah menjebol gawang Britama yang sudah kosong.

Saat kedudukan 2-1 untuk Platina, jalannya permainan justru menjadi monoton. Stamina yang nampak belum prima membuat serangan dan tekanan mulai melemah. Dan, hingga Yudikar meniup pluit panjang tak ada gol tambahan. (eko)

Rabu, 06 Agustus 2008

Tunas Muda Punya Kebanggaan


HARUS diakui bahwa SSB Tunas Muda telah ikut merubah wajah sepakbola di Kota Kupang, bahkan mungkin di NTT. Hampir sebagian besar klub di Kota Kupang, kini memiliki pemain-pemain jebolan SSB Tunas Muda. Tak heran kalau sang pelatih sekaligus manajer tim, Anton Kia, bangga salah satu tim peserta Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini.

"Kali ini SSB Tunas Muda akan turun dengan pemain berusia 19 tahun ke bawah. Kami akan menurunkan pemain yunior untuk menambah pengalaman mereka. Para pemain ini juga akan memperkuat PSKK di El Tari Cup dan kejuaraan tiga kota di Darwin bulan September nanti. Menjadi sebuah kebanggaan ketika saya bisa menampilkan pemain-pemain yunior yang akan berhadapan dengan seniornya di klub lain," ujar Anton.

Kebanggaan Anton memang beralasan. Lihat saja kontribusinya dengan menyumbangkan 13 pemain jebolan SSB Tunas Muda untuk tim pra PON XVII 2008. Tak hanya itu, Leandro, Alderon, Pinto Abrao, Thomas Gotha, Dentox, Ardy Ora, Ardiles Kana, Ridwan, Jems dan lainnya yang kini bermain untuk Platina FC adalah mantan anak didiknya. Pinto Fernandez dan Marcel Bitol di Britama Kupang juga adalah jebolan SSB Tunas Muda dan beberapa klub lainnya.

"Saya bangga mereka bisa bermain bersama klub lain, yang artinya pembinaan kami berhasil. Ada beberapa pemain yang sempat buat saya kecewa karena hengkang tanpa permisi. Tapi itu bukan soal, karena di SSB Tunas Muda, selalu saja ada pemain muda yang akan muncul," ujar Anton.

Soal persaingan dengan tim sarat pengalaman lainnya di Dji Sam Soe-Pos Kupang 2008 ini, Anton mengatakan tidak ada persoalan. Dia sangat yakin, kalau skil lebih dipandu stamina bagus dari anak didiknya ini akan membuat klub lain kerepotan. "Kami tidak ada beban, karena beban justru ada di tim lain, apalagi kalau mereka menganggap remeh kami. Kami akan buat kejutan," ujar Anton yang mengantar tim ini menjadi juara Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2006. (eko)

Platina FC Siap Bersaing



SEPAKBOLA Kota Kupang kini diwarnai dengan kehadiran klub baru, Platina FC. Mengusung nama besar Platina Komputer di belakangnya, tim asuhan Helmon Liko ini kini siap bersaing dengan klub-klub lama dalam Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 yang akan kembali digelar tanggal 23 Agustus mendatang.

Manejer Platina, Melkisedek L Madi, memang bukan sekadar mencari keberuntungan dengan klubnya yang belum genap berusia setahun ini. Dia tetap yakin dengan komposisi pemain yang dimilikinya. Leandro, Ridwan, Valendra, Thomas Gotha, Pinto Abrao Ximenes, Ardiles Kana dan Ardy Ora tahun 2006, membawa SSB Tunas Muda menjadi juara Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup. Tidak cukup sampai di situ. Bergabungnya pemain PSN Ngada, Hendro Toda, Justinus Jabur, Frans Sabon, Thadeus Wala dan Us, membuat skuad ini sangat komplet. Komposisi ini masih juga memiliki Hery Nuwa (Perss SoE), Zola, Yoasap Maudaka, Novan, Nelis, Atus dan lainnya yang sudah tidak asing lagi dalam sepakbola Kota Kupang.

Artinya, dengan skuad ini, Melkisedek Madi dan Helmon Liko tidak perlu ragu memasang target. Tapi ternyata mereka tidak mau gegabah memasang ambisi. "Semua tim yang ikut turnamen ini sangat kuat. Kalau ada yang bilang Platina diunggulkan, kami hanya bisa bilang dukunglah dalam doa, biar anak-anak bermain dengan baik," ujar Melkisedek Madi.

Dalam beberapa kali ujicoba melawan Britama Kupang, Britama SoE hingga tim PON XVII Papua Barat, Platina FC memang selalu menuai hasil positif. Tapi, banyaknya pemain bintang yang dimiliki membuat Helmon Liko dan Melkisedek Madi tampaknya harus hati-hati menentukan skuad utama.


Dan, yang utama adalah membangun komunikasi yang baik antara pelatih, pemain dan ofisial. Karean ketika tidak ada keharmonisan dalam tim hanya karena arogansi pemain, pelatih atau ofisial, maka jangan harap akan menjadi pemenang meski bertaburan bintang. (eko)

AS Roma Yakin Juara


MENJADI runner-up pada Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007, klub asal Kuanino-Kupang, AS Roma yakin akan menjadi juara pada tahun 2008 ini. Keyakinan itu didasari motivasi tinggi dan skuad yang makin komplet. Demikian dikatakan manajer AS Roma, Buce Lioe di Kupang, Kamis (31/7/2008).

"AS Roma selalu memiliki keyakinan untuk menjadi yang terbaik। Jadi kalau ditanya apa target yang ingin dicapai, saya katakan bahwa kami ingin juara," ujar Buce Lioe.

Di bawah racikan Zeth Adoe, Buce yakin AS Roma akan bisa bersaing dengan baik. Buce dan Zeth Adoe yang pernah membawa Perss SoE menjadi juara El Tari Memorial Cup 2000 itu yakin bahwa penambahan pemain baru dalam skuadnya membuat kekuatan AS Roma makin besar.

Secara terpisah, Zeth Adoe mengatakan, AS Roma selalu ingin menjadi idola pecinta sepakbola di Kota Kupang. Untuk itu, agar tetap mengambil hati pendukung mereka, bagi Zeth Adoe, tak ada cara lain selain menjadi yang terbaik.

"AS Roma mengutamakan kualitas. Dengan skil pemain di atas rata-rata, kami sudah komplit di semua lini. Sekarang yang kami benahi adalah menjaga kekompakan dalam pertandingan," jelasnya.

Menurutnya, beberapa pemain senior seperti Hasim Pintar, Yus Ressie, Decky Kadja, Manek, Ferry Awang, Susilo dan lainnya masih tetap menjadi andalan di samping pemain yunior yang bakal bergabung. "Ada beberapa pemain yang hengkang ke klub lain, tapi itu bukan masalah. Pemain baru yang bergabung memiliki kualitas yang sama, bahkan ada yang lebih bagus," ujar Zeth Adoe. (eko)

SYALOM