Selasa, 02 Desember 2008

Petisi Kupang, Suara Kaum Minoritas

Oleh Sipri Seko

DUA bendera Bintang Kejora ditemukan di lereng Gunung Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua dan di Pantai Kwami, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (1/12/2008). Pengibaran bendera ini bertepatan dengan HUT Organisasi Papua Merdeka, 1 Desember 2008.

Sudah begitu jauhkah keinginan masyarakat Papua untuk berpisah dari Indonesia? Apa maksud pengibaran bendera tersebut? Ataukah mereka sengaja membuat sensasi agar mendapat perhatian dunia? Tak ada yang tahu. Tapi yang pasti, mereka ingin merayakan hari ulang tahun organisasinya.

Sabtu, 29 November 2008, massa utusan dari Propinsi Papua, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti pawai budaya bertajuk "Selamatkan Bhineka Tunggal Ika," di Kota Kupang. Peserta menggelorakan Petisi Kupang sebagai hasil konsolidasi Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Regional Sunda Kecil di Kupang, 26-29 November 2008. Aksi yang sama juga telah dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, 22-25 November yang diberi nama Deklarasi Surabaya. Petisi Kupang dan Deklarasi Surabaya dibuka oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Untuk Petisi Kupang, ada tujuh keputusan yang dilahirkan. Inti yang digelorakan adalah menegakkan dan mempertahankan kebhinekaan sesuai kearifan leluhur pusaka bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Aksi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk keprihatinan masyarakat sipil terhadap maraknya upaya pengkhianatan terhadap konstitusi, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Siapa pun yang menandatangani petisi dan mewakili siapa, bagi kita sebenarnya bukan menjadi persoalan. Yang harus dipetik dari petisi tersebut adalah sebuah bentuk atau upaya kebangkitan dari kaum minoritas. Masyarakat di Indonesia bagian timur yang selama ini kurang diperhatikan berusaha untuk menampilkan keberadaannya. Mereka sebenarnya bukan melawan pemerintahan yang sah, namun mereka juga ingin ke luar dari keterpurukan.

Apakah selama ini Papua, Papua Barat, Bali, NTB dan NTT tidak mendapat perhatian pemerintah? Bukankah APBN dan bantuan-bantuan lainnya yang selama ini diterima masyarakat berasal dari pemerintah pusat? Ada betulnya. Tapi lihat saja kesenjangan pembangunan di daerah lain dibandingkan dengan di Indonesia bagian timur. Upaya membentuk Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pun tak banyak membantu. Indonesia bagian timur masih seperti anak tiri.

Hal ini kemudian diperburuk lagi dengan munculnya regulasi-regulasi yang dinilai hanya mementingkan kelompok tertentu. Ada kelompok yang dilindungi, namun ada pula yang dibiarkan tertekan. Tak heran kalau kemudian, ANBTI Regional Sunda Kecil dan Tanah Papua mendesak pemerintah untuk segera membentuk aturan pelaksana terhadap pasal 18 B ayat 1 dan 2 UUD 1945, mengenai pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya dan segera mencabut UU yang tidak mengakomodir hak masyarakat adat.

Mereka juga menolak pemberlakuan UU Pornografi maupun perundangan lainnya yang memasukkan dengan paksa nilai agama tertentu dan budaya asing yang bersifat diskriminatif untuk dijadikan landasan hukum bernegara. Kebijakan investasi dan pengelolaan sumber daya alam juga dikritisi. Untuk itu seluruh rakyat Indonesia, apa pun latar belakang agama dan sukunya, harus terus bergandengan tangan dan menjaga persatuan bangsa dengan melawan segala bentuk pemaksaan kehendak dan pengkhianatan yang dilakukan secara konstitusional oleh segolongan masyarakat yang memiliki kepentingan tertentu dengan kehancuran Indonesia.

Bagaimana sikap kita terhadap Petisi Kupang? Sebagai masyarakat modern, transparansi sudah menjadi hal yang lumrah. Saling mengkritisi sudah bukan hal yang tabu lagi. Masyarakat sudah bisa memilih dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Petisi Kupang ataupun Deklarasi Surabaya boleh disebut sebagai bentuk perwujudan aspirasi masyarakat yang sebenarnya. UU Pornografi, misalnya, sudah ditolak pengesahannya oleh masyarakat, namun pemerintah 'dengan kepentingannya' tetap mengesahkannya.

Satu yang pasti, ketika aksi ini digelorakan oleh banyak orang dari aneka suku, agama, etnis dan golongan, ini sudah menunjukkan keakuan terhadap kebhinekaan di Indonesia. Mereka akan terus memberontak kalau kebhinekaan tersebut dinodai oleh kepentingan mayoritas. **

Dongeng Si Bocah Tua

Cerpen Roby B Kapitan

DERU
kendaran baru terlewat. Aku tidur di pembaringan tua itu. Seharian telah kuhabiskan energiku untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Senyum kemenanganku baru saja berakhir kala senja pergi tak tersisa.

Itu tanda kemenanganku, tanda hidup matiku, tanda aku telah mencapai sisa hari ini. Bapaku selalu bercerita tentang akhir hari yang selalu indah pada pukul 18.00. Entah apa yang dimaksudkannya, namun ketika senja hari tiba ia selalu duduk di beranda rumah sambil memandang ke arah barat. Aku terkadang mencuri perhatian dengan mengamatinya.

Dalam hati aku selalu bertanya "apa gerangan yang dipikirkan oleh si pekerja keras ini? Apa ia lagi menikmati indahnya pukul 18.00? Ada sesuatu yang indah di balik terbenamnya mentari? Mungkinkah ia mengingat kembali moment saat ia jatuh cinta pertama kalinya dengan bundaku? Atau malah sebaliknya, ia sedang berpikir tentang masa depan kami anak-anaknya?

Kini di pembaringan aku terlelap. Aku baru saja menyelesaikan tugasku hari ini. Si nyonya tua telah puas dengan karyaku. Iya..itulah kerjanya si nyonya tua, ia tak akan puas kalau aku tak bekerja dengan seserius mungkin. Apalagi kalau aku membuang waktu sedetik sajaàmungkin saja dunia ini bisa runtuh dan akibatnya nasib kerjaku bisa dikorbankan. Kadang aku tak mengerti keinginan si nyonya tua ini.

Ketika aku bekerja tanpa bicara karena kupusatkan konsentrasi terhadap pekerjaanku, ia malah mendakwaku dengan berbagai pendapat streotipnya. Katanya, aku tidak humanlah.., atau aku tu orangnya terlalu pendiam. Pokonya banyak sekali tanpa bisa kuingat lagi. "Dasar orang sinting" kilahku bila ingin menghibur diriku.

Namun ketika aku terlambat sedetik saja kerena menanyakan sesutu yang tak dapat kumengerti kepada teman kerjaku, omelannya langsung mendamprat dan memojokanku. Sungguh sial hidupku ini. Hidup di jaman eyangku dulu, mungkin lebih baik dan barangkali aku tidak senaas ini. "Nasib.. nasib.., sepertinya Tuhan salah memilihku untuk diciptakan!"

Kini di pembaringan aku terlelap. Sekali lagi aku terlelap dalam tidurku. Inilah saat yang kurasa paling indah dalam hidupku. Dalam lelapku, aku selalu bermimpi bahwa aku tak akan pernah lagi mendengar bising suara senapan dan meriam.

Aku tak akan pernah lagi mendengar jerit tangis tetanggaku yang baru saja dilanda musibah. Musuh "si musibah" itu datang tak pernah diundang. Saat tidur malampun, ia datang mengedor pintu rumah-rumah di dusunku.

Entah apa gerangan maunya, terkadang aku berpikir ia gila dengan cita-citanya. Musuh "si musibah" itu datang merenggut dan mencabik bocah-bocah tanpa nama. Aku muak dengan tingkahnya yang sok jagoan tetapi isi kepalanya kosong. Ditanya perkalian satu kali satu saja, pasti minta bantuan pada cucunya. Nah, untuk soal datang pada malam hari, dia jagonya. Ketika binatang peliharaan saja sudah tidur ia masih mau mengusik bocah-bocah yang baru datang kemarin. Mungkin saja bocah-bocah itu belum tahu menangis, namun musuh "si musibah" itu telah datang merenggutnya untuk kembali.

Naas sungguh sial nasibnya, andaikan sang dewi cinta telah meramalkan sang bocah untuk jadi penganti romeo dan juliet dalam drama cinta abadi, bagaiman impian malam ini dapat terwujud? "Iya itu mungkin takdirnya". Kilahku.

"Bukan takdir tolol..!!!" Malah musuh si musibah itu bisa merenggut nyawa dalam satu kampung. Mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika dianiaya dan dirajam sampai dibakar dengan seluruh isi rumahnya. Kejam benar musuh "si musibah" itu. Ia datang bagai awan yang gelap di musim panas dan pergi entah kemana rimbanya.

"Tok...tok....tok...!!!" bunyi sebuah benda keras yang menyentuh "black street" itu.

Aku tertegun, rupanya ada yang lewat di seberang sana. Bayangan hitam, tinggi besar. Firasatku mengatakan sesuatu yang lain. Aku tak tenang, kepalaku linglung, dahiku berkerut. Mau kemana lagi langkahku ini. Tidak puaskah ia datang dan pergi terus dihadapan ku? " bosanàaku benci kamu" dalam hatiku, aku mengutuk diriku.

Aku mencoba menahan napas. Kuturunkan kakiku dari pembaringan itu. Dingin sungguh saat kakiku menyentuh tanah, namun lebih kecut lagi nyaliku di saat-saat seperti ini. Darahku sejenak berhenti mengalir. Nadiku serasa tak berdenyut. Kalau ditempat terang mungkin aku dapat melihat betapa pucatnya wajahku di depan cermin. Ibuku tentu akan membantu memegangkan cermin dan aku akan melihatnya. Namun Inilah nasib, saat mau matipun, tak ada lagi ingatan akan bentuk wajah dan konstruksi tulang pipihku.

Bayangan itu mendekat. Sejenak kupalingkan wajahku sedikit ke kiri dan ke kanan. Ternyata baru kusadari bukannya hanya satu saja bayangan itu. Kuperkirakan akan hadir lima bayangan yang menatapku sebentar nanti. Ya...nampaknya bayangan itu bergerombolan. Mereka seperti kawanan pencuri yang setia sekawan.

Dalam taktiknya, mereka mampu mengelabui mangsa dengan cuma menampakan satu bayangan. Makin dekat bayangan itu, makin besar pula penglihatanku akan bayangan-bayangan itu. "Diam... !!!" terdengar suara dari salah satunya. Mereka berhenti mengerakkan kakinya. Kucoba mengintip dari celah sarungku, "wah..sungguh indah bayangan itu".

Aku meyadari keherananku, serentak otakku berputar dan dalam hati kubuat sebuah pernyataan "ternyata ada bayangan yang bisa mematung." Berarti, teori dari guru sekolah dasarku bahwa patung dibuat dari benda-benda materi belum sepenuhnya lengkap. "Ha...ha...ha...! Aku tahu, ternyata bayangan pun bisa jadi patung."

Aku tahu bayangan itu akan selalu merenggut nyawaku kapan dan dimana saja. Aku tahu dalam situasi ini bayangan itu mampu melenyapkan jiwaku. Patung itu punya nyali untuk mendatangkan maut terhadapku.

Patung itu ciptaan jiwa manusia tetapi patung itu mau melenyapkan jiwaku. "Inilah jiwaku yang dipenjara bagai patung dirimu. Jangan kau apa-apakan jiwaku, aku tuan bagimu" Kilahku.

Pada titik ini, Aku teringat Guru Sekolah Dasarku, ia sering menganalogikan jiwa dengan bayangan. Katanya " jiwa mausia itu seperti bayangan dirimu. Dia akan pergi kemana kau pergi, namun dia tak bisa kamu indrai."

Benarkah demikian? Kalau persoalan ini dihadapkan pada meja filsafat, para filsuf akan mati-matian mempertahankan jawaban masing-masing dengan berbagai alasan yang logis dan masuk akal. Itulah ciri khas para filsuf yang tak puas dengan satu jawaban, samapai-sampai realitas dunia pun tak pernah dirasakan memberi jawaban yang meyakinkan kepadanya.

Namun itu soal filsuf, mereka juga akan merefleksikan kematian, namun kematiannya tak akan bisa direfleksikannya. Kini, aku dihadapan bayangan. Bayangan kematian yang akan merenggut nyawaku.

Lima menit berlalu, bayangan itu tak kunjung pergi. Apa gerangan yang terjadi dengan bayangan itu? Dalam hatiku aku berbisik "Tuhan kalau sampai ajalku ambil saja nyawaku, tapi jangan kau ambil bayanganku. Aku tahu hidupku di dunia ini tidak berarti lagi.

Pemuja cintaku telah pergi selamanya. Pengeran tampanku yang pertama ikut bersama ibundanya. Bunga dahliaku telah dipetik paksa pada malam kelam. Untuk apa hidupku ini? aku orang asing di tanahku sendiri. Aku datang dari negeri seberang mencari serpihan bayanganku yang masih tersisa.

Aku mati di tanahku sendiri, tanah tumpah air mata dan darahku. Kini aku di pembaringan, aku ingin bermimpi di malam jumat, tetapi jangan kau ambil bayanganku"

"Aku pria malam Aku duduk di perapian Tidurku di balik awan Matiku di balik jaman". *

Tiga Warna Kenangan

Oleh Gusty Fahik

DANAU itu punya tiga warna, sayang Konon di puncak bukit itu pernah bertakhta seorang penguasa yang berhak menentukan nasib setiap arwah yang beralih dari dunia ini ke alam akhirat. Setiap arwah punya tempat masing-masing di sana. Warna-warna danau itu melambangkan tempat setiap arwah. Karena itu berusahalah untuk hidup baik selama di dunia ini bila engkau ingin meraih tempat yang baik di sana.

Di situ kita pernah bersama menghabiskan waktu yang amat terbatas. Mengapa Tuhan harus menjadikan waktu yang terbatas buat manusia sementara Dia sendiri memiliki waktu yang tak terbatas?

"Bukankah itu berarti Ia seorang yang amat egois?"

"Dia tidak egois, sayang. Dia memberi kita yang terbatas agar kita tahu menggunakannya secara bijaksana, agar kita tahu bersyukur atas apa yang sedang kita nikmati, dan agar kita tahu mengisinya dengan hal-hal yang bermakna".

"Tidakkah yang kekal itu lebih bermakna?"

"Sayang, justru yang sementara itu lebih bermakna sebab kita sedang menciptakan makna kesementaraan untuk membikin abadi apa yang sebenarnya tidak abadi, ialah makna itu sendiri".

Tentang makna, itulah yang kita percakapkan ketika kita berada di antara ketiga warna danau itu. Kita tahu, danau itu bukan hanya punya tiga warna sebab warna-warna yang waktu itu nampak ternyata tidak abadi. Tahukah kau bahwa warna-warna itu sekarang telah berubah menjadi warna-warna lain, warna-warna yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali. Warna putih yang dulu kau sukai kini telah berubah menjadi hitam. Warna biru telah berubah menjadi hijau muda,. Sementara warna cokelat tua ternyata telah menggantikan tempat warna merah. Tak ada apa pun yang abadi di bawah matahari, semuanya berubah. Yang tetap ialah perubahan itu. Hati kita pun kini telah berubah.

"Kalau boleh meminta sesuatu pada Tuhan sekarang, aku ingin meminta agar kita berdua berada selamanya di sini. Kita jadikan danau-danau ini tempat tinggal kita, surga kita, surga cinta kita," katamu waktu itu.

"Itu hanya mungkin kalau kita meninggal kelak, sebab arwah kita akan bersemayam dalam keabadian di sini".

"Aku takut kita tidak akan pernah bersama di sini. Jangan sampai aku di danau berwarna putih sementara engkau di danau berwarna merah," engkau berkelakar.

"Itu tergantung amal kita di dunia. Kalau ingin tetap bersama, kita harus hidup baik, atau hidup jahat selama berada di dunia".

"Aku ingin hidup baik dengan mencintaimu dan semua orang selama sisa hidupku di dunia ini".

Kita terus berbicara tentang kebaikan, kejahatan, cinta benci, rasa sakit, pernikahan , punya anak, sampai soal kematian, sementara kabut turun perlahan mengisi setiap kawah dengan amat perlahan. Lalu angin berhembus membawa kabut beranjak meninggalkan setiap kawah yang serupa rumah yang selalu disinggahinya, sebuah rumah yang juga sebagai dunia kecil baginya. Kabut yang berlalu dari setiap kawah seakan ingin membiarkan kita memandang dan mengagumi setiap warna dalam danau itu. Engkau lalu bertutur.

"Alkisah setelah membinasakan dunia dengan air bah Tuhan ingin berdamai dengan alam ciptaan-Nya. Sebagai tanda perdamaian Ia menaruh pelangi di ujung cakrawala agar manusia tahu bahwa Tuhan itu setia akan janji-Nya. Tuhan memikirkan bagaimana Ia harus menggambar warna-warni pelangi itu. Ia ingin turun ke bumi dan menggambar pelangi dari satu tempat di bumi. Ia mencari-cari tempat yang kering agar Ia bisa duduk dan mulai menggambar. Dari surga mata-Nya menangkap sebuah bukit yang telah kering dan cukup rata. Tuhan turun ke puncak bukit itu membawa serta semua peralatan menggambar milik-Nya. Ia mulai membuat setiap lengkungan pelangi dengan warna-warni yang dibawa-Nya. Tuhan lupa bahwa ia telah lebih dahulu menyuruh angin bertiup untuk menyurutkan air bah. Maka Ia terpaksa harus menggambar dengan tergesa-gesa sebab angin kencang terus berhembus sedang Tuhan tidak memakai baju hangat atau jaket. Karena tidak tahan terhadap hembusan angin maka Tuhan kembali dengan agak terburu-buru setelah menyelesaikan lengkung-lengkung pelangi. Dan Ia pergi meninggalkan sebagian peralatan menggambar milik-Nya. Apa yang ditinggalkan-Nya itulah yang kini kita saksikan di hadapan kita, tiga buah kawah di puncak bukit dengan warna-warni yang begitu indah," engkau mengakhiri kisahmu dengan senyuman simpul.

Aku tahu engkau telah membaca tuntas kisah Alkitab tentang Nabi Nuh dan dengan imajinasimu engkau membuat kisahmu yang berhubungan dengan danau itu.

"Kalau demikian berarti tempat ini dulu pernah dipijaki Tuhan, bahkan Ia pernah duduk di sini untuk menggambar pelangi," aku berujar.

"Kalau engkau berpegang pada kisahku maka itu benar, sebab tempat ini pun dipandang amat sakral oleh masyarakat kita". Lalu engkau menatapku, dan kulihat ada cinta di matamu, cinta yang begitu tulus dan indah, seindah danau itu. Hari itu, aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.

***
Danau itu punya tiga warna, sayang. Tiga belas tahun setelah percakapan kita, aku kembali ke sana. Warna-warni danau itu telah berubah oleh waktu. Rupanya kita lupa bahwa waktu adalah pencuri paling alami yang tak pernah kita sadari kehadirannya. Ia bukan saja mencuri warna-warni danau yang pernah kita lihat dulu, ia juga telah mencurimu dariku.

Namun, waktu juga ternyata adalah pencuri paling bijaksana, sebab ia toh tak pernah mencuri kenangan dari manusia. Ia tak akan sanggup melakukannya sebab setiap kenangan adalah pemberian waktu dan waktu tak pernah mengambil kembali apa yang telah diberikannya.

Waktu, kekasihku, telah membawamu pergi, tetapi ia pernah memberi lembaran-lembarannya untuk kujadikan tempat kita melukis setiap kenangan. Setiap kali kurindukan dirimu aku selalu membuka lembaran waktu, sekedar membaca lagi peristiwa-peristiwa yang pernah kita goreskan di atasnya. Kita memang tidak pernah abadi, tetapi kenangan tentang kita selalu abadi dalam waktu.

Menatap warna-warni danau itu, aku teringat akan keindahan matamu, mata terindah yang pernah menatapku. Danau itu berbicara tentang dirimu, tentang kenangan kita, tentang hidup kita, tentang kefanaan kita. Sayang, engkau tak lagi ada di sana bersamaku. Di puncak bukit itu, di tepi danau berwarna hijau, aku teringat akan ceritamu tentang pelangi. Betapa aku rindu untuk ingin mendengarmu menuturkan kisah itu lagi. Tahukah kau aku tak pernah akan bosan mendengar kisah yang engkau tuturkan. Kisah tentang kesetiaan Tuhan, dan cinta-Nya pada dunia. Namun, engkau tak ada di sana.

Aku berdiri menatap kabut yang perlahan beranjak meninggalkan permuakaan air, bersama angin menerpa wajahku, lembut sekali. Aku terus menatapnya dengan harapan akan melihat wajahmu tersenyum dari dalam kawah itu. Bukankah danau hijau adalah tempat bersemayamnya orang-orang muda, seperti dirimu ketika meninggalkanku?

Kita memang tak akan pernah bersama entah di dunia maupun di alam baka. Aku telah tua kini, dan kalau waktuku menjelang, aku tak mungkin bersamamu di danau berwarna hijau itu. Tempatku ialah danau berwarna cokelat tua. Sayang, kini aku ingin mensyukuri waktu. Mengapa Tuhan memberi kita waktu yang fana, ialah agar kita mengisinya deengan bijaksana, dengan sesuatu yang bermakna, agar kita tahu mensyukurinya. Kini aku bersyukur atas setiap detik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku, terlebih detik-detik ketika kita berdua bersama mengukir kenangan. Manusia selalu hidup untuk mengukir kenangan yang bakal ditinggalkannya ketika ia kembali kepada keabadian.

Kulihat air danau beriak kecil, membentuk lengkungan yang memantul kembali setiap kali menyentuh bibir tebing. Bagiku lengkung riak-riak itu adalah lengkung senyum di bibirmu. Kutahu engkau sedang tersenyum padaku dari tempatmu di dasar danau itu. Senyum yang pernah membuatku merasa sebagai laki-laki paling bahagia di dunia. Hari ini rasa itu kembali menguasaiku. Aku masih laki-laki paling bahagia di dunia.

Danau itu punya tiga warna, sayang. *

SYALOM