Tampilkan postingan dengan label Kampungku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampungku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2009

Oehela: Sekarang Sumber Air Su Dekat

"SEKARANG sumber air su dekat. Beta sonde pernah terlambat lagi. Lebih mudah bantu mama ambil air untuk mandi adik. Karena mudah ambil air katong bisa hidup sehat." 

Nukilan di atas merupakan bagian dari prolog salah satu iklan layanan masyarakat sebuah produk air minum ternama di Indonesia yang membangun fasilitas air bersih bagi masyarkat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Lantaran terus diiklankan di televisi, kabupaten yang berada 110 kilometer dari Kupang, NTT ini menjadi terkenal. 

Ikon sumber air su dekat seakan-akan sudah mengental dengan kondisi yang dialami masyarakat TTS sampai saat ini. Persoalan ketiadaan sarana air bersih memang banyak dikeluhkan masyarakat TTS. Tak terkecuali warga Desa Oehela, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Timor Tengah Selatan. 

Sebelum sarana air dibangun di desa itu, betapa menderitanya warga untuk mendapatkan lima liter air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, warga terpaksa berjalan kaki hingga empat kilometer dari rumah. Jangan membayangkan jalan empat kilometer yang dilalui warga untuk mengambil air bersih itu datar dan lurus. Kondisi warga yang tinggal di wilayah perbukitan membuat mereka harus rela turun dan naik bukit untuk mendapatkan air bersih. Meski demikian, kondisi jalan yang naik-turun bukit tak membuat warga Oehela patah semangat. 

Meski harus berjalan dua hingga tiga jam, warga Desa Oehela tetap bisa bertahan hidup dari waktu ke waktu dengan kondisi susah air. Menimba air dari sumber mata air yang dilakukan warga Oehela hanya untuk memenuhi kebutuhan minum saja. Sedangkan untuk mandi dan cuci mungkin urusan nomor kesekian. 

Kesengsaraan warga untuk mendapatkan air bersih semakin bertambah bila musim kemarau tiba. Lantaran debit air dari sumber air berkurang, warga tidak bisa seenaknya menimba air. Demi keadilan dan pemerataan jatah air, pemerintah desa membuat jadwal pengambilan air bersih. 

Tidak adanya sarana air bersih di Oehela saat itu membuat desa itu rawan terserang diare. Masyarakat saat itu tidak mungkin akan berpikir untuk membuat jamban lantaran susahnya mendapatkan air. Kini kesengsaraan yang dialami warga hingga berpuluh-puluh tahun itu akhirnya mendapatkan jawaban dari Tuhan. Melalui pemerintah daerah, akhirnya dibangun sarana air bersih di desa tersebut. 

Kepala Desa Oehela, Yahuda Poli ditemui beberapa waktu lalu menyatakan warganya kini tidak lagi kesusahan mencari air bersih di sekitarnya. Untuk mendapatkan air bersih warga tinggal membuka kran air yang disediakan di beberapa tempat penampungan air. Untuk mencapai bak penampungan air yang sumbernya berasal dari mata air Oenunu di Desa Hane itu warga tinggal melangkah paling jauh seratus meter. 

"Sejak saya lahir, baru kali ini saya merasakan adanya kemudahan sarana air bersih. Bila memasuki musim kemarau, warga kami harus rela antre bergiliran untuk mendapatkan air bersih. Keterbatasan debit air yang ada disumber air menjadikan tidak semua warga dapat mengonsumsinya dalam satu hari," ujar Yahuda. 

Menurut Yahuda, beberapa waktu lalu warganya baru sekadar memanfaatkan air bersih yang ada untuk kepentingan makan, minum dan cuci. Meski demikian, warga juga akan memanfaatkan air bersih yang ada untuk tanam sayur-mayur. Lewat menanam sayur, masyarakat akan mendapatkan tambahan pendapatan dari hasil penjualan sayur-mayur di pasar," kata Yahuda.

Cerita kesengsaraan mendapat satu jerigen air bersih tidak hanya terjadi di Oehela saja. Cerita yang sama masih banyak terjadi di wilayah selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kondisi seperti itu memang banyak dikeluhkan masyarakat TTS. Dan, ketiadaan sarana air bersih banyak membuat orang sengsara. Meski susah air, masyarakat di desa tetap bisa eksis dan bertahan hidup hingga kini. Hebat! **

Selasa, 17 Maret 2009

Mbatakapidu dan Keladi Putih

Oleh Adiana Ahmad

MBATAKAPIDU
berada dalam wilayah Kecamatan Kota Waingapu. Daerahnya berbukit, memiliki satu sumber mata air yang menyokong kebutuhan air bersih Kota Waingapu. Mbatakapidu berada di pinggiran Kota Waingapu. Luasnya 288 kilometer persegi, dihuni oleh 322 kepala keluarga atau 1.495 jiwa.

Meski berada di pinggiran kota, mayoritas penduduk wilayah ini petani. Dari 322 kepala keluarga yang ada di Mbatakapidu, 265 KK berprofesi sebagai petani. Jarak Kota Waingapu ke pusat Desa Mbatakapidu sekitar 11 kilometer.

Jika kita menjelajahi seluruh wilayah desa ini, kita akan menemukan dua kondisi yang sangat kontras. Di bagian barat wilayahnya sangat subur, sementara di bagian Timur sangat gersang. Bahkan beberapa waktu yang lalu di wilayah ini terdapat beberapa anak dan balita yang menderita gizi buruk dan gizi kurang. Ini terjadi karena asupan gizi rendah sebagai dampak dari kekurangan pangan. Pada umumnya masyarakat yang mengalami gizi kurang atau rawan pangan bermukim di antara bukit, terisolir dan sulit dijangkau oleh pelayanan umum.

Makanan pokok masyarakat di bagian timur desa ini adalah jagung. Bila memasuki masa paceklik, masyarakat masuk hutan untuk mencari iwi (ubi hutan). Ubi hutan merupakan makanan alternatif pengganti jagung. Bagi orang luar, iwi identik dengan kelaparan. Padahal bila dikelola dengan baik, maka iwi bisa menghasilkan berbagai makanan dengan rasa yang cukup lezat.

Kondisi alam yang kurang bersahabat ini membangkitkan rasa solider dari masyarakatnya. Mereka membentuk kelompok dan setiap hasil panen sebagiannya disisihkan ke lumbung pangan desa atau lumbung pangan kelompok. Jagung yang disimpan di lumbung kelompok ini, selain untuk mengantisipasi kesulitan pangan pada masa paceklik, juga untuk benih ketika masuk musim tanam tahun berikutnya.

Sementara masyarakat di bagian Barat Mbatakapidu lebih beruntung karena daerahnya subur. Di sini terdapat mata air dan beberapa sungai. Sumber mata air ini yang menyuplai air bersih untuk Kota Waingapu, Ibukota Kabupaten Sumba Timur.

Masyarakatnya hidup berkelompok. Sampai tahun 2008, terdapat enam kelompok tani di daerah ini. Masing-masing kelompok tani memiliki saung atau tempat pertemuan. Di saung inilah berbagai masalah kelompok dibicarakan, termasuk rencana program kelompok dalam satu tahun.

Satu hal menarik yang bisa kita temukan di desa ini yakni semangat masyarakat untuk kembali membudidayakan pangan lokal. Mulai dari jagung, singkong, ganyo dan terakhir talas atau keladi putih.

Melihat antusiasme masyarakat untuk kembali ke pangan lokal, pemerintah daerah Sumba Timur kemudian mencanangkan Mbatakapidu sebagai pusat pengembangan pangan lokal. Dari Mbatakapidu pemerintah Kabupaten Sumba Timur akan memperluas ke wilayah lain di daerah itu.

Sampai dengan awal tahun 2009, sudah 31.750 anakan keladi putih ditanam di Kabupaten Sumba Timur di atas 17,7 ha hamparan (25.000 anakan/ ha, bukan 25.000 ha). Sebanyak 9.250 anakan dari jumlah tersebut ditanam di Desa Mbatakapidu.

Untuk mempermudah pemeliharaannya, pemerintah memberikan bibit kepada petani dengan pola penanaman secara tumpang sari. Menurut penyuluh yang mendampingi para petani di desa itu, Lukas R Malo, keladi putih memiliki keunggulan karena diminati oleh semua lapisan masyarakat, sekali tanam panen berkali-kali, tidak dimakan ternak dan ditanam secara tumpang sari.

Keladi putih juga tahan terhadap serangan penyakit, berguna untuk konservasi lahan, produk tahan lama dan prospek pasar cukup cerah. Mbakapidu, katanya, merupakan salah satu desa yang cukup potensial untuk pengembangan pangan lokal seperti keladi putih, selain karena alamnya cocok juga karena semangat masyarakatnya yang cukup tinggi untuk mengembangkan tanaman ini dan berbagai tanaman pangan lokal.

Karena itu, Lukas mengatakan, pihaknya akan terus mendorong masyarakat di desa itu melalui pendampingan-pendampingan hingga suatu saat Mbatakapidu menjadi daerah sentra pangan lokal untuk Sumba Timur. (*)

Senin, 02 Maret 2009

Ikan Botok dan Gotong Royong Model Saluruk


NOELBAKI hanyalah sebuah desa kecil di pinggiran kota. Luasnya sekitar 20 kilometer persegi. Letaknya sekitar 17 kilometer arah timur Kota Kupang, ibukota Propinsi NTT. Meski desa ini kecil, namanya sudah telanjur 'besar' dan terkenal ke mana-mana. Desa ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi terbesar di Kabupaten Kupang.

Wilayah ini juga dikenal sebagai 'dapurnya' warga Kota Kupang, karena dari desa ini aneka sayuran dan buah-buahan diangkut ke sejumlah pasar di Kota Kupang.

Warga setempat umumnya bekerja sebagai petani sawah serta petani sayur dan buah. Ada juga peternak sapi paron atau ayam buras, buruh bangunan dan sisanya wiraswasta dan pegawai pemerintah (PNS).

Penduduk desa ini beraneka ragam. Sering disebut Desa Bhineka Tunggal Ika. Pasalnya, penduduknya terdiri dari warga lokal dan pendatang. Entah itu dari Sabang, Batak, Medan, Minangkabau, Pontianak, Jawa, Bali, Lombok, Makassar, Timor Leste (Eks Timor Timur), Ambon hingga Papua. Namun semuanya tetap hidup rukun dan damai.

Di desa kecil ini, saya menghabiskan masa kanak-kanak dan sebagian masa remaja. Pulang dari sekolah, saya dan teman-teman main kuti kelereng, main gala asing, atau main papan seluncur dari pelepah pinang atau pelepah kelapa di rafen (tebing curam, Red). Bosan main, kami beradu rezeki memancing ikan botok, mujair dan belut di sawah atau di danok (danau kecil, Red).

Kalau bosan, kami pergi fiti (menembak pakai katapel, Red) burung takek (betet, Red) di rumpun padi yang sudah menguning sambil bersembunyi di samping 'orang-orangan' yang berdiri menancap di tengah sawah. Kadang mete (begadang) fiti kabauk (kelelawar) yang curi buah pepaya dan pisang setengah masak atau buah kapuk yang masih muda.

Lain waktu, kami pergi jerat burung koak di pohon nunuk (beringin) pakai getah pohon dilak (buah Maja) atau jerat burung takukur (perkutut) dan burung pompa (merpati hutan, Red) serta burung puyuh pakai bulu ekor kuda. Atau main bola sepak jelang petang di tegalan sawah yang sedikit berlumpur. Masa kecil dan remajaku benar-benar indah.

Ada satu nilai kehidupan yang dianut warga Desa Noelbaki, yang sampai hari ini masih terus terpelihara dengan sangat baiknya. Yaitu semangat hidup bergotong royong. Pesta kenduri orang nikah, orang yang mati (kedukaan) atau bekerja di sawah, selalu dilakukan secara bergotong royong. Kalau ada orang yang ditimpa kedukaan, semua warga ramai-ramai 'kumpul keluarga', menyisihkan sedikit uang untuk meringankan beban keluarga yang berduka. Pemuda yang hendak melamar kekasihnya atau hendak menggelar pesta nikah, pasti warga datang untuk 'kumpul keluarga'. Bersihkan gereja atau masjid dilakukan bersama-sama.

Ada satu bentuk nilai dan model gotong royong yang sampai sekarang masih hidup di kalangan petani sawah di Noelbaki. Gotong royong model ini barangkali tidak ada di tempat lain. Yaitu gotong royong Saluruk. Saluruk adalah sebutan untuk sebuah wadah berbentuk bakul kecil. Biasanya terbuat dari anyaman daun lontar atau daun gewang.

Lalu bagaimana gotong royong model saluruk itu? Misalnya, ada warga yang hendak menanam benih padi di sawahnya atau hendak koruk padi di sawahnya, ia mengundang tetangga dan kerabatnya agar datang membantu. Mereka bergotong royong menanam benih padi (Nuk) di sawah atau Koruk (memotong batang padi pakai sabit) dan 'pukul padi' atau merontok bulir padi hingga jelang petang. Mereka bekerja bergotong royong sambil mendendangkan lagu-lagu yang indah atau melempar pantun di antara mereka, ditingkahi suara gemericik air dari pancuran dan jeritan burung angsa sawah. Benar-benar musik alam yang indah menawan hati.

Sampai hari terakhir panen, baru saluruk dikeluarkan oleh pemilik sawah. Saluruk ini diletakkan di tengah-tengah tumpukan gabah kering beralaskan tikar. Selanjutnya pemilik sawah menuangkan padi dalam saluruk hingga penuh. Padi dalam saluruk ini diberikan kepada kerabatnya yang datang membantu. Pemberian itu sebagai wujud penghargaan dan 'ucapan terima kasih' karena sudah membantu bekerja di sawah.

Sebut saja namanya Minah. Saat menanam, Minah membantu selama lima hari. Selanjutnya ketika koruk padi, Minah membantu selama lima hari. Berarti total 10 hari Minah membantu pemilik sawah. Satu hari kerja rata-rata Minah 'dihargai' dengan tiga saluruk. Berarti total Minah mendapat 30 saluruk atau setara empat karung putih penuh padi menjadi milik Minah untuk dibawa pulang ke rumahnya.

Dulunya, pemberian padi 'saluruk' ini semata-mata bernilai sosial religius daripada bernilai ekonomis. Dulunya, saluruk itu menjadi simbol perekat hubungan sosial dan kekerabatan antarwarga dalam kampung. Orang yang datang membantu pemilik sawah akan terus dikenang jasanya dan dianggap 'sodara dekat' karena sudah menghargai 'undangan' untuk datang membantu bekerja di sawah. Entah sekarang, mungkin nilai sosial religius pada saluruk ini sudah bergeser nilai menjadi sebatas upah kerja. Semoga tidak begitu. (Julianus Akoit)

Senin, 19 Januari 2009

Cecar dan Culu Welu

Oleh Oby Lewanmeru

KABUT
tebal seakan menampilkan kesombongan saat menyelimuti kaki Gunung Mbeliling. Dia seakan mau menunjukkan bahwa dia berkuasa menutupi keindahan hutan yang ada di kaki gunung itu. Sedikit-sedikit matahari menembus gumpalan kabut dan menerangi kampung yang terletak persis di sekitar kaki gunung itu. Kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Cecar.

Cecar. Nama ini tidak asing lagi bagi warga Labuan Bajo, Kabupaten Mangarai Barat. Selain sebagai nama kampung, Cecar juga sebagai lokasi sumber air untuk Kota Labuan Bajo sebagai air PAM. Kampung yang terletak di Desa Liang Ndara, Kecamatan Sano Nggoang ini terkenal cukup unik. Kampung ini memiliki potensi besar, namun belum dikelola secara baik demi kepentingan warga setempat.

Kampung ini memiliki panorama alam yang menarik karena berada persis di kaki Gunung Mbeliling, dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaanl laut (dpl). Kampung yang berbatasan dengan Kampung Melo dan Desa Cunca Lolos ini sering menjadi tujuan sejumlah wisatawan untuk melihat masuknya matahari sore (sun set) yang berada persis pada garis lurus Kota Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Nama Cecar diambil karena di kampung ini dulu terdapat banyak pepohonan dan semak.

Di sini warga tidak sulit mendapatkan air bersih karena wilayah itu adalah daerah yang memiliki banyak sumber air, begitu pula dengan pangan. Sumber air yang disuplai dari kampung ini cukup berarti bagi warga. Meski begitu, perhatian pemerintah terhadap wilayah ini belum juga tersentuh sempurna. Warga setempat memang mudah mendapatkan pangan walaupun dulunya sulit.

Berbicara tentang pangan, kampung yang memiliki penduduk kurang lebih 100 kepala keluarga (KK) yang semuanya bermata pencaharian sebagai petani ini dulunya (sekitar tahun 1960-an) hanya memanfaatkan makanan lokal yang sudah menjadi sajian pokok yaitu nasi bercampur jagung (hang kabo). Menu ini selalu disajikan setiap hari meski ada variasi dengan ubi-ubian. Warga di kampung ini masih percaya kalau hang kabo adalah makanan khas mereka. Namun, kini mulai hilang perlahan dengan berkembangnya zaman. Warga Cecar juga sudah mudah mendapat beras dengan mengerjakan sawah karena didukung kondisi alam setempat.

Kampung Cecar hingga saat ini didiami oleh Suku Toe Liang Ndara. Suku ini menurut warga setempat mulanya berasal dari Goa, Sulawesi Selatan, yang sudah lama mendiami sejumlah wilayah di Manggarai Barat. Hal ini dapat dilihat dari struktur perumahan yang sejak dulu menggambarkan ciri khas Sulawesi Selatan. Sekarang memang tidak lagi dominan, hanya tinggal satu atau dua rumah saja yang masih mempertahankan ciri khas itu, yakni dengan model rumah dengan kolong atau dek yang dikenal dengan nama rumah panggung beratap khas. Ada yang dari alang-alang atau ijuk.

Jika menelisik soal penerangan di wilayah ini, warga masih menggunakan lampu pelita dan lampu gas (strong king). Dua bentuk penerangan ini baru dikenal warga dalam dua dasawarsa terakhir. Sebelumnya, warga setempat menggunakan campuran antara buah kemiri dan kapuk yang disenyawakan dengan cara menumbuk kemudian dililitkan pada batang lidi atau bambu yang dihaluskan seperti lidi. Bentuk penerangan yang lazim digunakan warga ini dikenal dengan nama culu welu. Bahan ini siap dibakar menggantikan penerangan lampu pelita ataupun lampu strong king.

Wilayah ini sampai sekarang belum memiliki listrik dari pemerintah. Warga tetap menggunakan pelita dan lampu gas. Hanya ada satu atau dua warga tergolong mampu yang menggunakan motor listrik (genset).

Penggunaan genset saat ini sudah dikomersialkan, yakni warga yang ingin menarik kabel ke rumahnya harus membayar kepada pemilik genset. Bayaran ini menurut warga setempat berkisar antara Rp 30.000,00 hingga Rp. 50.000,00 per bulan per satu unit rumah atau disesuaikan dengan pemakaian bola lampu. Setiap hari genset ini dinyalakan pemilik untul warga konsumen mulai pukul 18.00 wita hingga pukul 22.00 wita.

Warga masih berupaya sendiri dalam memanfaatkan penerangan tersebut, tetapi belakangan ini, dengan adanya kenaikan harga maupun kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), warga cukup cemas dengan penggunaan genset. Sementara culu welu ini mulai hilang setelah warga mulai kenal dengan lampu pelita maupun strong king. Meski begitu ada beberapa warga masih melestarikan jenis penerangan ini sebagai budaya yang tidak dilupakan.

Theo Bin dan Hilarius Haban, warga Kampung Cecar, kepada Pos Kupang, Rabu (14/1/2009), mengatakan, tradisi menggunakan culu welu sulit dilupakan meski di kalangan masyarakat setempat tradisi ini mulai hilang bahkan tidak digunakan lagi hanya karena perkembangan zaman. Menurut keduanya, pemanfaatan culu welu ini sangat dirasakan sekali pada tahun 1965 hingga tahun 1970-an. "Kalau ada warga kampung yang meninggal, setiap kami diharuskan membawa culu welu ini, setiap KK sebanyak 5-10 lidi. Kami bawa ini ke rumah duka sebagai penerangan di rumah tersebut selama masa perkabungan," kata Bin dan Haban.

Penggunaan culu welu ini dengan cara ditancapkan pada sebuah media atau potongan bambu secara miring dan tidak boleh tegak lurus. Hal itu dilakukan agar lampu sejenis obor/culu welu ini tidak padam. Memang penggunaan bahan dari alam ini cukup membantu warga karena itu perlu dilestarikan meski zaman terus berubah.

Haban juga mengakui, beberapa waktu lalu, dengan adanya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) maupun akibat krisi global, warga setempat mulai berpikir untuk kembali pada kondisi dulu (back to basic). Rupanya warga di kampung ini sudah siap menerima kenyataan bila suatu saat BBM habis dan adanya kenaikan harga maka bisa beralih kembali ke penerangan tradisional dan unik tersebut. *

Sabtu, 13 Desember 2008

Bagho dan Kuburan Kuno

Oleh Agus Sape

BAGHO! Nama sebuah kampung tua di wilayah Desa Solo, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Ini bukan kampung asalku. Mengunjunginya pun aku belum pernah. Namun, cerita dari Andreas Tuba Ghela kepadaku tentang kampung ini di Redaksi Harian Pos Kupang, kemarin sore, membangkitkan minatku untuk menulisnya. Ya, semacam penyambung lidah.

Andreas Tuba Ghela ini seorang mahasiswa asal Desa Solo. Saat ini dia menjabat ketua Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Asal Boawae yang disingkat HIPPMAB Kupang. Melalui organisasi ini, Andreas dan teman-temannya membangun solidaritas dan rasa cinta akan kampung halaman.

Rasa cinta itu coba mereka wujudkan melalui Kegiatan Bakti Sosial Kemasyarakatan (KBSK) di Desa Solo pada tanggal 27 Juli sampai 3 Agustus 2008. Mengisi waktu liburan.

Ada banyak kegiatan yang mereka lakukan, yaitu bakti sosial, diskusi rakyat, diskusi publik, penyuluhan kesehatan yang dilanjutkan dengan pembagian bubuk abate, pembukaan posko pengaduan, pelatihan OSIS untuk segenap pengurus OSIS SLTP dan SLTA se-Kecamatan Boawae, perlombaan cerdas cermat untuk siswa-siswi sekolah dasar (SD), malam budaya, pengerjaan papan RT, RW, dusun dan desa, pendataan masalah buta huruf, masalah KDRT dan masalah ketenagakerjaan, olahraga rakyat dan kegiatan lainnya yang mengundang perhatian masyarakat.

Di antara sekian banyak kegiatan, ada fakta menarik yang mereka temukan di kampung Bagho. Di kampung ini terdapat kuburan kuno. Dari foto-foto yang diperlihatkan Andreas, tampak kuburan-kuburan itu dibangun berderet memanjang yang ditandai dengan tumpukan lempengan batu kali yang disusun rapi.

Tidak diceritakan kapan kuburan-kuburan itu dibangun. Mereka hanya menyebutnya kuburan kuno. Bisa saja dibangun ratusan tahun atau ribuan tahun lalu. Namun, masyarakat setempat berharap kuburan-kuburan itu dipromosikan sebagai aset wisata Kabupaten Nagekeo.

Sebelum Nagekeo dimekarkan dari kabupaten induk Ngada, kampung Bena, sumber air panas Mengeruda, taman laut 17 pulau Riung dikenal sebagai aset wisata Kabupaten Ngada. Setelah berdiri sendiri, Nagekeo seolah-olah tidak memiliki kawasan wisata yang bisa diandalkan. Hanya ada bendungan Sutami di Mbay. Tapi, sejauh ini bendungan tersebut tidak terawat. Aset wisata satu-satunya yang diharapkan di Nagekeo, ya cuma kampung Bagho dengan kuburan kunonya. Para mahasiswa yang tergabung dalam HIPPMAB berharap agar pemerintah dapat memperhatikan aset tersebut dan mempromosikannya.

Masalahnya, sampai saat ini, akses jalan ke kampung ini masih cukup susah. Dengan pembangunan jalan yang baik diharapkan wisatawan domestik dan mancanegara bisa dengan mudah datang ke kampung ini. Warga setempat dan para anggota HIPPMAB yakin kalau potensi wisata tersebut diperhatikan, maka dampaknya sangat besar bagi masyarakat dan pemerintah setempat.

Tidak hanya kuburan kuno. Desa Solo yang terdiri dari empat wilayah yaitu Solo I, Solo II, Solo III dan Solo IV dengan jumlah penduduk seluruhnya sekitar 690 jiwa, kaya akan potensi pertanian dan perkebunan.

Hasil pantauan para mahasiswa selama seminggu di sana, diketahui bahwa warga Desa Solo umumnya berprofesi petani. Selain menanam padi dan jagung di sawah dan ladang, mereka juga menanam tanaman umur panjang seperti kopi, cengkeh, vanili, coklat (kakao), kemiri, kelapa, jambu mete, bambu, dan lain-lain.

Namun, hasil-hasil pertanian dan perkebunan ini sulit dijual keluar karena jalan raya menuju ke desa ini belum mendapat perhatian dari pemerintah. Panjang jalan ini dari pusat desa menuju kampung lama (Bagho) sekitar 7 km. *

Senin, 08 Desember 2008

Uta Tabha

Oleh Apolonia Matilde Dhiu

UTA
tabha...cu...cu..cu. Menu ini mengingatkan aku akan kampung halamanku Boua, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Sebuah kampung yang hanya berjarak lima kilometer dari Kota Bajawa. Letaknya cukup strategis, berada tepat di jalan negara Bajawa-Ende.

Meski dekat dengan Kota Bajawa, kehidupan masyarakat di kampung ini pada dasarnya masih tradisional. Kalau saat ini orang mengenal bubur manado dengan bahan dasar beras, di kampungku ada uta tabha. Sederhana, tapi menjadi menu andalan warga kampungku pada masa paceklik. Ketika masyarakat tidak bisa menjangkau beras di pasar atau pangan jagung sudah tidak mencukupi lagi. Biasanya terjadi pada bulan Januari dan Februari.

Maklum, penghasilan utama masyarakat di kampungku adalah jagung. Rata-rata warga menanam jagung. Kalau ada yang menanam padi biasanya padi ladang. Itu pun mereka menggarap kebun penduduk di desa lain, seperti Belu, Bejo, Langa bahkan sampai di Zeu, Kecamatan Golewa, atau di Soa, Kecamatan Soa. Sedangkan warga yang tidak memiliki handai taulan di kampung-kampung tersebut biasanya tidak ada alternatif lain kecuali menanam jagung. Untuk mendapatkan beras mereka harus membeli di pasar Bajawa. Syukur kalau ada pembagian beras masyarakat miskin (raskin) dari pemerintah desa.


Walau jarang mengonsumsi beras (dhea), masyarakat di kampungku tidak pernah kelaparan ataupun busung lapar. Uta Tabha memiliki keunikan yang luar biasa. Menu ini terdiri dari beberapa bahan lokal yang dicampur menjadi satu ketika dimasak.

Bahan dasarnya jagung (sae) atau beras jagung (dhea sae), kacang merah atau brenebon (boji), labu siam kuning (besi), ubi jalar merah (dhao), daun pepaya muda (uta padu), kelapa dan garam. Boji atau brenebon bisa diganti dengan kacang hutan atau kacang polong (lebha). Selain buahnya, daunnya (sawa lebha) juga bisa menggantikan daun pepaya (uta padu) untuk uta tabha.

Cara membuatnya gampang sekali. Jagung yang sudah ditumbuk diambil biji besarnya atau jagung bulat, baik yang muda maupun yang tua, dicampur dengan kacang dan daun pepaya. Direbus di periuk (bhogi) atau periuk tanah (bhogi tana) sampai lembek. Setelah lembek, masukkan labu siam yang diiris dadu atau ubi jalar (dhao) dipotong bulat. Kacang bisa macam- macam. Bisa kacang merah atau brenebon. Bisa juga kacang hutan atau kacang polong. Orang di kampungku menyebutnya li'e lebha. Selain buahnya (li'e lebha), daunnya (sawa lebha) juga bisa digunakan sebagai pengganti uta padu (daun pepaya). Setelah direbus lembek, masukkan kelapa yang diparut kasar dan garam secukupnya. Parutan kelapa biasanya menggunakan parut tradisional (regu), bentuknya seperti garpu dengan ujung yang dikikir kecil-kecil dan ditancapkan pada kayu berbentuk seperti kuda. Karena daun pepaya rasanya pahit, garam sebaiknya dimasukkan sedikit saja. Lezat memang kalau dihidangkan saat perut lapar.

Untuk menambah cita rasa biasanya ditambah dengan sambal. Sambalnya sederhana saja. Lombok diulek sampai halus ditambah sedikit garam, masukkan tomat yang diiris-iris kecil. Di kampungku banyak daun kemangi dan bawang. Mereka biasa menanamnya di samping rumah. Sambal ini menambah khas menu uta tabha, sehingga menambah selera makan.

Berbicara uta tabha memang paling menjengkelkan saya pada masa kecil dulu. Mulut komat-kamit ketika pulang sekolah melihat uta tabha di periuk yang dimasak mama. Kadang malas makan, tetapi karena tuntutan perut ya, makan juga. Soalnya, tidak ada menu lain kalau musim lapar. Apalagi, cuaca di luar rumah hujan sepanjang hari. Mau ke kebun untuk mencari bahan lain susah. Mau tidak mau masak apa adanya, karena menu yang tersedia di rumah hanya jagung dan kacang. Ya, itulah yang saya alami waktu kecil. Tetapi, makanan seperti itu tidak pernah membuat kami sakit atau kelaparan.

Uta tabha tetap menjadi konsumsi masyarakat di kampungku sampai sekarang. Saudara-saudara yang datang dari kota kadang-kadang tidak mau makan kalau melihat menu tersebut. Tapi, bagi kami di kampung, uta tabha adalah makanan pokok.

Nasi (maki) bagi kami adalah barang langka. Kalau ada yang mengonsumsinya, hanya orang-orang tertentu seperti guru atau pegawai. Kalau bisa makan nasi, itu rezeki luar biasa. Ya, begitulah kampungku.

Semasa waktu kecil tahun '80-an, saya kadang bertanya, "Kapan saya bisa makan nasi? Soalnya, makanan pokok kami jagung. Namun, menu seperti ini ternyata telah membuat saya menjadi orang yang sehat dan berprestasi di sekolah. Saya selalu mendapat peringkat satu di SD, dan sepuluh besar di SMP dan SMA. Bagi saya ini prestasi luar biasa, walau saya hanya mengonsumsi uta tabha.

Setelah dewasa dan datang ke Kupang untuk melanjutkan sekolah, saya menjadi ketagihan dan merindukan masakan uta tabha. Walau sedikit pahit, karena dicampur dengan labu siam (besi mawu), rasanya nikmat sekali. Sekali makan bisa menahan lapar sampai siang walau kita sedang pacul kebun atau bekerja apa saja di kampung.

Suatu saat, ketika saya sudah bekerja di Pos Kupang, saya mendapat kesempatan meliput sebuah pelatihan mengenal makanan lokal yang mengandung nilai gizi tinggi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat di Hotel Sasando Kupang. Saya bersyukur bisa mengikuti acara tersebut. Dari situlah saya mendapatkan jawabannya, kenapa walau hanya jagung (sae), kacang merah (boji atau brenebon) dan labu siam kuning dan sawa lebha (kacang polong dan daunnya), aku dan adik-adikku bisa berprestasi.

Menurut pengkajian dan penelitian dari instansi tersebut, kacang merah (brenebon) dan labu kuning dari daerah Bajawa memiliki nilai gizi tinggi dan kualitas nomor satu di dunia. Inilah kembanggaanku akan kampungku.

Ya, semoga saat ini orang tidak lagi semata-mata makan nasi dan lauk-pauk yang banyak dibubuhi zat pengawet, tetapi juga kembali kepada tradisi nenek moyang yakni makanan lokal yang sarat nilai gizi. *

Senin, 01 Desember 2008

Le Kebote

Oleh Yosep Sudarso

MENYEBUT le kebote, pikiranku langsung terbawa ke sosok Ema Bewa yang dengan busur di tangan, ia terus berlari-lari menghindari lemparan anak-anak yang mengejarnya. Dengan cara apa pun, perempuan dengan tinggi semampai itu berjuang agar tak satu pun lemparan mengenai dirinya. Bukan karena ia takut terluka atau benjol, tetapi karena pemali apabila sampai terkena lemparan.

Maklumlah, ketika dikejar dan dilempar anak-anak, Ema Bewa sebetulnya mewakili perjuangan hidup seorang bayi lelaki yang ari-arinya baru ia gantungkan di sebuah pohon di lewo oking (kampung lama/kampung induk). Walaupun mengakui bahwa nafas kehidupan tergantung pada lera wulan tana ekan (pencipta dan penyelenggara kehidupan), perjuangan mengisi hidup adalah tugas dan tanggung jawab atadiken (anak manusia).

Ema Bewa. Perempuan itu sudah lama meninggal. Sepanjang hidupnya dihabiskan di desa asalnya, Lamika, Kecamatan Demong Pagong, Flores Timur. Dan, selama belasan tahun ia berperan sebagai pembawa ari-ari bayi laki-laki maupun perempuan di desa itu untuk digantung pada pohon agar tidak sampai dimakan binatang.

Le kebote (tradisi gantung ari-ari pada pohon) memang sudah menjadi tradisi di Lamika. Desa yang jaraknya sekitar 30 km dari Larantuka ini awalnya terdiri dari tiga dusun, yakni Lewomikel (Dusun I), Lewonuha (Dusun II) dan Lewomuda (Dusun III). Namun setelah gempa tektonik 12 Desember 1992 yang meluluhlantakkan sebagian Pulau Flores, 60 KK dari sekitar 300 KK di desa itu mengikuti program pemerintah dengan berpindah ke lokasi baru di pinggir jalan raya utama Larantuka-Maumere. Pemukiman baru ini sekarang membentuk dusun sendiri dengan nama Lewowuung (kampung baru).

Seperti desa tetangga lain, yaitu Lewokluok, Wolo, Kawalelo, Blepanawa dan Bama (beberapa desa ini dulu termasuk kompeks Wolo), hampir semua penduduk Desa Lamika bermata pencaharian petani dengan pola berpindah-pindah ladang. Dahulu, sebuah mang/netak (areal ladang) dikerjakan selama dua tahun sekali. Namun sekitar 15 tahun lalu mulai terjadi pergeseran pola berladang.

Sejak petani mengenal tanaman kepayuk (jambu mete) sebagai tanaman komoditi yang potensial, ladang tidak lagi menjadi milik bersama. Sebelumnya, hampir tidak ada ladang yang dikerjakan sendirian, tetapi selalu kneu (bersama-sama) maksimal tiga kepala keluarga. Kini, sejak ladang dipenuhi jambu mete, mau tidak mau, ladang harus dibagi. Mang/netak menjadi milik pribadi. Salah satu dampaknya adalah potensi konflik terbuka lebar terutama ketika para perantau (umumnya di Malaysia) yang belum punya ladang kembali menetap di kampung halaman.

Selain itu, bila dahulu tanah digarap paling lama dua tahun dan baru digarap lagi delapan tahun kemudian (setelahnya pepohonan mulai besar dan tanah sudah berhumus), kini ladang yang sama digarap setiap tahun. Kalau hasilnya seperti beras dan jagung tidak lagi mencukupi, biasanya dibuka lagi lahan baru tetapi lahan lama tetap dibersihkan.

Selain bergantung pada padi dan jagung, penduduk Desa Lamika juga menyuling arak dari pohon lontar. Dahulu, hampir semua pria dewasa mengiris tuak kemudian menyulingnya menjadi arak untuk selanjutnya dijual ke Pasar Boru (ibukota Kecamatan Wulanggitang). Namun beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga yang mengiris tuak dan menyuling arak bisa dihitung dengan jari.

Banyak hal berubah. Nilai-nilai sosial budaya bergeser skalanya. Dari yang "serba bersama-sama" ke "urus sendiri- sendiri". Suku memang masih dan akan tetap ada, tetapi perannya dalam kehidupan setiap keluarga mulai berkurang.

Di titik ini, barangkali tradisi le kebote yang menurut Kepala Desa Lamika, Vincent Openg, masih tetap dipelihara, bisa menjembatani fenomena degradasi nilai-nilai warisan leluhur. Setidaknya dapat meredam perilaku dan pola hidup generasi muda yang menggelisahkan banyak tetua adat dan sesepuh kampung. Judi, mabuk-mabukan dan mencuri bukan lagi cerita di tempat lain.

Semoga tradisi le kebote (terutama pada bayi lelaki) yang mengisyaratkan perjuangan hidup, daya juang dan kerja keras dalam kebersamaan bisa menggugah hati generasi penerus di kampungku. Karena ketika ari-ari seorang bayi dipotong, diawetkan dengan keawuk (abu dapur) dalam anyaman lontar, digantungkan di pohon, hingga sang pembawanya seperti Ema Bewa harus menyilih lemparan agar selamat kembali ke rumah, di sana sudah terpatri nilai tanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan. (*)

Minggu, 23 November 2008

Kebo Lewa Sawe

Oleh Dion DB Putra

LIO mungkin tak lagi asing bagi telinga sebagian besar penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT). Lio adalah salah satu suku di Pulau Flores yang mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Ende sekarang. Yang kerap disapa Ata Lio (orang Lio) juga ada di Kabupaten Sikka yaitu di wilayah Paga, Maulo'o dan sebagian Magepanda.

Seperti umumnya penduduk NTT, kehidupan Ata Lio sangat bergantung pada usaha pertanian lahan kering. Mereka menganut sistem patrilineal agraris. Harta adalah hak milik laki-laki dan keturunan laki-laki. Secara tradisi ada pembagian kerja yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan mengurus rumah tangga. Laki-laki mencari nafkah dan menjalani peran publik. Namun, dalam mengerjakan ladang, laki-laki dan perempuan Lio melakukan secara bersama.

Saya mau menceritakan peran perempuan Lio berkaitan dengan kebo (artinya lumbung pangan). Sebagian suku Lio menyebut lewa. Bangunan kebo terbuat dari bahan lokal seperti bambu, kayu, tali ijuk dan alang-alang atau ijuk untuk atap. Letaknya dekat dengan rumah pemiliknya di kampung. Kebo juga dibangun di kebun ladang bersama mbe'i (pondok).

Sekalipun menganut patrilineal, suku Lio menghargai peran perempuan sebagai penyimpan hasil panen, penjaga lumbung dan pengelola dapur. Hal itu tercermin antara lain dalam ungkapan lesu usu wuni kai kebo bela, tau jila lika banga waja.

Perempuan Lio merupakan manajer kebo yang andal. Dialah yang mengatur isi kebo demi ketahanan pangan keluarga tetap terjamin, baik pada masa surplus maupun paceklik. Semua hasil panen dari kebun seperti padi, jagung, umbi-umbian, sorgum, kacang-kacangan, wijen, timun, labu besi disimpan dalam kebo. Sebagai "penguasa" kebo, perempuan Lio dituntut cerdas dan bijak dalam mengatur penggunaannya. Khusus untuk benih, perempuan Lio memberi perhatian khusus. Hasil panen untuk benih disimpan dalam tempat khusus dan terpisah dengan bagian panenan untuk konsumsi keluarga sehari-hari. Saya masih ingat pada masa kecil dulu melihat mamo (nenek) menyimpan semua benih semisal terung, kacang- kacang, ketimun, labu dalam ruas bambu betho (betung) tua dan kering. Bambu ditutup rapat agar benih tidak rusak diserang lembab. Ketika musim tanam tiba, benih dikeluarkan untuk ditanam. Biasanya diawali dengan upacara adat khusus.

***
KISAH tentang kebo dan peran perempuan Lio sebagai manajer pangan yang andal itu agaknya tinggal kenangan. Ketika menelusuri sejumlah kampung di Lio selatan dan utara pada bulan September dan awal November 2008, saya tak lagi menemukan kebo di kampung dan kebun ladang.

"Eda, kebo lewa sawe do nala," kata Stefanus Eko, paman saya di Kampung Pemo, Desa Wolosoko, Kecamatan Wolowaru, pekan lalu. Kebo lewa (hilang) sawe. Eksistensi lumbung pangan sudah lama memudar dan nyaris hilang dari kehidupan masyarakat petani di Lio. Kalaupun masih ada, jumlahnya sangat sedikit dan fungsinya tak lagi sama seperti dulu. Perempuan Lio masa kini tak lagi akrab dengan kebo. Mereka membeli benih di pasar atau toko. Tidak banyak lagi rumah tangga petani yang memiliki benih tanaman pangan sendiri. Peran perempuan Lio bergeser dari penjaga lumbung menjadi pemegang uang. Mereka lebih mudah mendapatkan uang dari menjual komoditi perdagangan hasil tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, cengkeh, vanili atau jambu mete, dan uang dipakai membeli benih. Pengetahuan tentang benih lokal pun sangat minim. Coba tanyakan kepada perempuan dan laki-laki Lio masa kini, saya yakin tak banyak dari mereka yang tahu benih unggul lokal.

Seperti diakui Stefanus Eko dan Firmus Dawa di Watuneso, Kecamatan Lio Timur, ladang ditanami padi, jagung, sorgum dan kacang-kacangan demi kedaulatan pangan keluarga tidak lagi menjadi perhatian utama. Mereka memilih tanaman perdagangan karena hasil lebih baik dan mudah mendapat uang. "Kami cuma buka kebun baru, tanam padi buat urusan adat. Kalau tidak sempat, beras bisa dibeli di pasar," kata Dawa. Ketergantungan petani Lio pada pasokan pangan dari luar sangat tinggi sehingga masuk akal bila eksistensi kebo tidak penting lagi. Benih tanaman pangan lokal yang unggul pun mereka tinggalkan. Dengan enteng mereka berkata, uma leka rega-rega (artinya, kebun sebagai sumber pangan ada di pasar- pasar. Mudah mendapatkannya asal ada uang). Sungguh sebuah "kehilangan" yang besar. Saya kira bukan hanya terjadi di kampung masyarakat Lio. Masyarakat Flobamora umumnya telah kehilangan warisan bernas itu.

Dulu, leluhur kita tak butuh pasar untuk dapat makan dan minum, demi mempertahankan kelangsungan hidup. Sumber makanan bergizi mereka petik dari hasil kebun sendiri. Mereka berdaulat atas isi perut sendiri. Hari ini, kebutuhan pangan sangat bergantung dari pihak lain. Dan, belum tentu pangan yang sehat.

Kembali menata kampung yang berdaulat dalam hal pangan kiranya menjadi pekerjaan rumah siapa saja. Busung lapar dan gizi buruk yang menjadi "bencana tahunan" Flobamora boleh jadi karena kita telah melupakan kebo. Ya, kebo lewa sawe! (dionbata@poskupang.co.id)

Senin, 17 November 2008

Sui Wu'u, Lauk yang Terlupakan

Oleh Rosalina Langa Woso

SECARA geografis Desa Mangulewa menempati posisi tertinggi Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Alam Mangulewa yang dingin, dibalut kabut hampir separuh waktu, membuat warga cenderung 'malas' menyingkap selimut di pagi hari. Banyak aktivitas tertunda. Memindahkan kuda (dheso jara) ke rumput hijau tertunda. Pergi ke kebun (dua uma) pun tertunda.

Tetapi kondisi alam kampungku yang dingin itu dikenal subur. Sayur wortel manis dan segar, pucuk labu, buncis kepompong yang gurih, sawi dan kol berjejer di rebis rumah. Sayur-sayuran itu sangat laris di pasar-pasar tradisional, menembus pasaran Ende, Maumere bahkan Kupang.

Kampungku tidak hanya dikenal sebagai 'gudang sayur'. Ada sumber protein hewani yang diolah oleh nenek moyang sejak tempo dulu. Cara meramu lauk tradisional itu mencegah lahirnya generasi kurang gizi. Sui wu'u menjadi lauk pauk yang digemari masyarakat setempat.

Proses pengawetan sui wu'u tidak menggunakan zat kimia. Daging segar yang tidak habis dikonsumsi dalam suatu pesta perkawinan, pesta adat reba atau acara adat lainnya, dipotong dadu dengan ketebalan 5 cm. Daging itu dibilas hingga bersih lalu ditiriskan hingga kering.

Para ibu rumah tangga selalu menyisihkan tepung jagung (jagung yang ditumbuk pakai lesung) untuk dijadikan bahan pengawet. Tepung jagung yang ditampi warnanya kuning, terasa halus saat dipilin dengan kedua jari tangan. Daging yang telah ditiriskan itu digulung rata dengan tepung jagung. Hampir sama seperti menggulung tepung panir pada menu udang, cumi-cumi ataupun ayam goreng di restoran-restoran kota.

Daging yang terbungkus tepung jagung lalu disimpan dalam tuku (tiga ruas bambu tua) yang kulitnya telah disapih. Ruas bambu dipilih harus sudah tua. Dindingnya dihaluskan dengan sayatan pisau, bagian ujungnya diberi penutup. Fungsinya untuk mengurangi keluar masuknya udara, sehingga daging tidak cepat rusak.

Biasanya tuku yang berisi daging disimpan di dinding sekitar tungku api. Bila dinding dapur tidak luas, biasanya digantung para-para tepat di atas tiga tungku dapur. Pelan tapi pasti, dinding tuku berisi sui wu'u diterpa asap yang mengepul dari tungku api.

Sambil menyelam minum air, itulah ungkapan yang tepat untuk melukiskan proses pengawetan sui wu'u di kampungku. Api yang dinyalakan para ibu rumah tangga tidak hanya untuk menanak nasi, tetapi turut menghangatkan sui wu'u. Daging akan awet sepanjang waktu dengan kehangatan api setiap hari.

Meski daging awet selama beberapa bulan, sui wu'u harus segera dikonsumsi agar aman dan nilai gizinya tetap memenuhi standar kesehatan.

Su'i wu'u biasanya diracik untuk persediaan lauk di masa penceklik atau sebagai bekal untuk menempuh perjalanan jauh. Warga setempat harus meninggalkan perkampungan menuju dataran Zeu (ladang padi dan jagung) yang terkenal subur di Kecamatan Golewa.

Saat ini sui wu'u mulai ditinggalkan. Bisa dihitung dengan jari, masih ada warga Mangulewa yang setia meramunya sebagai lauk keluarga. Kelupaan masyarakat akan sui wu'u dapat dimaklumi karena pesatnya teknologi seperti kulkas, yang mampu mengawetkan daging segar. Padahal, sebelum kulkas hadir dan merajai kota Bajawa, sui wu'u salah satu lauk yang dijamin nyaman untuk konsumsi.

Rasa sui wu'u sama seperti daging yang baru disembelih. Hanya, dalam segi aroma lebih tajam karena diselingi tepung jagung. Sui wu'u akan membangkitkan selera makan bila dibakar dalam bara panas.

Daging ini ditusuk dengan lidi atau kawat kecil, mirip membakar sate. Bara api yang panas membakar seluruh permukaan tepung jagung, aroma menyengat hidung lalu menebar ke atap dapur. Minyak daging yang menetes akan sedap disantap bila dibiarkan jatuh membasahi permukaan helai daun pepaya muda.

Konon daun pepaya akan hilang pahitnya karena telah diluluhlantakkan oleh khasiat minyak sui wu'u. Daging yang telah masak itu diiris sebesar ruas ibu jari. Sui wu'u lalu dibungkus daun pepaya, dicelupkan dalam koro bara lai (lombok yang diberi irisan tomat).

Hem...lebil lezat lagi bila dimakan dengan jagung goreng. Menu ini terasa lengkap kalau diakhiri dengan secangkir tua bhara (tuak putih), yang disadap dari pohon nira di pagi hari.

Kebiasaan untuk meracik sui wu'u bukan sekadar untuk melestarikan budaya nenek moyang. Sejak dulu sui wu'u dijadikan sarana silaturahmi di ladang. Para tamu yang 'gotong royong' menyiangi rumput bisa disuguhi lauk ini. Bila daun pepaya tidak disajikan, sui wu'u nyaman kalau dilahap bersama daun kacang, pucuk labu yang 'dilemaskan' dalam air panas.

Sambil menikmati jagung goreng, sui wu'u dengan seteguk tuak, semua pekerjaaan tanam menanam terasa ringan dan mudah dirampungkan. Usai berladang, mereka duduk bersila (be'i benga) membentuk lingkaran di atas bheja (lantai panggung yang terbuat dari bambu cincang). Punggung disandarkan santai sambil menikmati sui wu'u.

Ada harapan lain yang tersimpan. Agar generasi tidak dicap sebagai generasi kurang gizi, seperti gizi buruk yang terjadi dewasa ini. Sui wu'u, lauk yang bergizi, nyaman, praktis disantap. Sayang, nasibnya menjadi lauk yang terlupakan. *

Cumpe, Rumah di Atas Batu

Oleh Agus Sape

CUKUP lama saya diledek teman-teman sekolah gara-gara kampungku ini. Kampungku dianggap kolot dan tidak berkembang, karena hanya terdiri dari tujuh rumah dan dikelilingi batu-batu. Sakit rasanya diledek seperti itu.

Tetapi, ketika belajar di perguruan tinggi, saya berani membalikkan anggapan-anggapan jelek itu. Kepada teman- teman saya memproklamirkan bahwa sesungguhnya kampungku itu polis -- sama seperti polis Athena, Sparta, dan seterusnya di Yunani, dari mana lahir para filsuf, pemikir hebat. Socrates, Aristoteles, dan sebagainya.

Dengan gaya agak joak, sekali lagi saya memproklamirkan kepada teman-teman bahwa kampungku itu juga sudah melahirkan filsuf. Sekurang-kurangnya saya sendiri. Teman- temanku yang biasa meledek kampungku ini pada bengong.

Kampungku ini namanya Cumpe. Masuk dalam wilayah Desa Golo, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Kalau Anda berangkat dari Pagal, ibukota Kecamatan Cibal, ke timur menuju pusat paroki Rii di Beamese, maka kampung pertama yang Anda lewati adalah Cumpe. Jaraknya tidak sampai 5 km dari Pagal.

Kampungku itu memang kecil saja. Terletak di lereng. Sampai dengan tahun 1980-an, ketika saya masih sekolah di SDK Golo, kampung ini hanya terdiri dari tujuh buah rumah. Rumah-rumah itu dibangun mengelilingi halaman (natas) kampung.

Halaman kampung ini berfondasikan batu cadas. Supaya rata
dan bertambah luas, batu-batu disusun rapi (kota) di sisi utara dan selatan halaman. Di bagian barat (paang), dekat kaki lereng, terdapat batu-batu besar yang memagari sekaligus memisahkan halaman kampung dari jalan umum. Sedangkan di bagian timur (ngaung), terdapat sejumlah batu raksasa. Kampung ini memang dikelilingi batu-batu raksasa. Kalau dihitung dari dasar, ada yang tingginya mencapai puluhan meter. Gamang kalau belum biasa.

Batu-batu itu berfungsi sebagai benteng dan penopang bagi penghuni kampung. Salah satu batu dengan ketinggian belasan meter memiliki permukaan rata. Luasnya bisa mencapai tiga kali luas lapangan tenis. Tapi, bagian lainnya yang menghadap ke halaman (natas) agak landai. Di bagian ini orang bisa turun naik dengan leluasa.

Saya berani mengklaim batu ini sebagai salah satu keajaiban dunia. Bagaimana tidak, di salah satu sisi permukaan batu itu berdiri kokoh sebuah rumah papan (mbaru pesek). Ketika saya lahir pada akhir 1960-an, rumah itu sudah ada. Tiang-tiangnya yang terbuat dari kayu lokal diletakkan saja di atas permukaan batu. Belum pernah rumah itu goyah dihantam angin.

Bagian terbesar dari permukaan batu itu dijadikan halaman. Dari halaman itu warga bisa memandang jauh ke berbagai arah. Kalau cuaca cerah, permukaan laut di pantai utara (Reo) bisa dilihat dari batu ini. Deretan bukit yang membanjar dari utara ke selatan di wilayah Lambaleda dan Elar bisa dilihat dengan jelas.

Sempai dengan usia SD, saya dan teman-teman bermain dan berlari-lari di atas batu itu. Kami tidak takut jatuh.

Saya ingat dua anak pernah jatuh ke jurang batu itu. Tapi, aneh bin ajaib, tidak jatuh sampai di tanah. Yang satu tertahan pada tumbuhan yang menempel di jurang batu. Satu lagi tertahan pada seutas tali yang sangat rapuh. Keduanya berhasil diselamatkan tanpa cedera dan masih hidup sampai sekarang.

Pagi-pagi, sebelum cahaya matahari mencapai bumi, bolanya yang muncul dari balik bukit di wilayah Elar langsung bisa dilihat dari atas batu ini. Maka, saya pun sering menyebut kawasan kampung ini dan sekitarnya sebagai "negeri matahari".

Warga setempat biasa menjemur padi dan kopi langsung di atas permukaan batu itu. Kalau cuaca cerah, dalam tempo dua hari saja kopi sudah kering.

Kampung ini diselimuti pohon-pohon kopi, kemiri dan pohon buah-buahan lainnya. Di bagian yang lebih rendah dari lereng kampung ini terdapat hamparan sawah. Sawah-sawah itu mendapat air dari sejumlah kali yang menuruni lereng. Ada kali Wae Keseng, Wae Nampar dan Wae Munta. Sejumlah kali itu bermuara di Wae Kebong, kali paling besar. Di Wae Kebong warga membangun bendung dan membuka dam untuk mengalirkan air ke sawah.

Sebelum menanam padi pada musim hujan, petak-petak sawah ditanami dengan jagung. Padi ditanam setelah memanen jagung.

Saya tidak mengklaim tanah di kampungku ini subur. Yang pasti warga di kampung ini bisa memenuhi sendiri kebutuhan makan minumnya sepanjang tahun. Mereka punya padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-sayuran di kebun. Bahkan mereka bisa menjualnya pada hari pasar di Pagal. Mereka punya kopi, kemiri, jeruk, pisang dan sebagainya.

Tetapi pada tahun 2007, pada saat jatuh korban tanah longsor di Gapong dan Golo Gega, warga kampungku turut mengungsi ke Pagal. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai anak kampung, saya sedih mendengar warga kampungku lari terbirit-birit takut tertindis tanah longsor.

Memang kampungku sekarang sudah banyak berubah. Kampungku yang dulu gerbangnya dipagari batu-batu besar sudah disingkirkan semuanya untuk membuka jalan raya dari Pagal menuju Beamese. Jalan itu dirintis sejak akhir 1980-an dan sekarang sudah diaspal. Sejak jalan raya dibuka, perlahan- lahan warga keluar dari kampung itu, membangun rumah di pinggir-pinggir jalan raya.

Tetapi yang terancam ditindis longsor pada tahun 2007 itu justru rumah-rumah yang dibangun di tepi jalan raya. Bahkan pada awal tahun 2008 ini, sebuah rumah dan mesin giling tertindis batu yang runtuh dari tebing jalan.

Saya pun sadar, ternyata para pendiri kampungku tidak bodoh. Bahkan mereka boleh disebut pemikir. Ternyata kampungku kecil bukan karena tidak berkembang, tetapi memang bagian yang cocok untuk pemukiman hanya seluas itu. Dulu mereka tidak pernah membangun rumah langsung di kaki lereng atau di sepanjang jalan. Saya pastikan batu-batu yang pernah diletakkan di gerbang kampung justru untuk membendung batu yang mungkin terguling dari atas lereng bukit.

Untuk menampung perkembangan penduduk pada waktu itu, dibangunlah kampung Mawe disusul Wune, dua atau tiga kilometer dari kampung ini. Bukti bahwa warga di dua kampung itu berasal dari kampungku ini, dalam urusan adat dan pemerintahan mereka masih bersama-sama. Kebun mereka juga di lokasi yang sama. (email:asape_2005@yahoo.co.id)

Selasa, 14 Oktober 2008

Pen Bete dan Laok Tunu

Oleh Sipri Seko

LIBURAN
Idul Fitri yang baru berlalu membawa berkah bagi saya. Setelah sekian lama tidak pernah mengunjungi kampung halaman di Timor Tengah Selatan (TTS), saya berkesempatan untuk berlibur ke sana. Ada beberapa daerah yang saya kunjungi. Namun, kenangan masa kecil di Bikium lebih menggoda untuk dikenang.

Bikium, kampung kecil di Desa Biloto, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten TTS (sekitar 7 Km arah utara Kota SoE), memang tidak begitu terkenal. Dia tidak setenar Boti, Bu'at atau kampung lain i TTS yang masuk dalam peta pariwisata.

Tapi, yang membuat Bikium beda dengan daerah lainnya adalah karena dia pernah menjadi pusat pemerintahan kevetoran (usif/raja) Mella yang meliputi wilayah Mollo selatan. Statusnya sama dengan Ajaobaki (Mollo Utara/kevetoran Oematan), Niki-Niki (Amanuban Tengah/kevetoran Nope) dan lainnya.

Di Bikium terdapat sebuah sekolah dasar, yakni SD GMIT Biloto yang didirikan 1 Oktober 1946 oleh Yayasan Usaha Pendidikan Kristen (Yupenkris) TTS. Saat itu atap sekolah dari alang-alang, dinding dari bambu yang dibelah (gedeg) dan berlantai tanah. Meski demikian, dia menjadi satu- satunya sekolah di daerah yang saat ini sudah dimekarkan menjadi empat desa. Anak-anak dari Kesetnana, Siso, Bisene dan Salmel, harus rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencapai SD GMIT Biloto dengan berjalan kaki. Mungkin, dari kebiasaan berjalan kaki naik turun gunung inilah sehingga daerah itu melahirkan atlet atletik nasional, Welmince Sonbay ang pernah mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional.

Yng membuat saya masih terkesan hingga saat ini adalah kebiasaan para murid membawa bekal makanan ke sekolah. Karena harus menempuh perjalanan jauh ke sekolah, maka murid-murid dianjurkan gurunya membawa makanan. Ada banyak jenis mulai dari jagung, ubi-ubian yang dibakar (laok tunu) dan nasi. Minuman mulai dari air putih hingga susu sapi yang disimpan dalam tuke --wadah dari bambu. Saat itu ampir semua warga memiliki sapi masing-masing lebih dari lima ekor yang kini tinggal kenangan karena mulai punah.

Mereka yang membawa bekal nasi sangat sedikit. Kala itu, yang biasa makan nasi hanya guru, kepala desa ataupun usif. Kalaupun masyarakat kebanyakan punya beras, mereka akan mengatakan tidak kenyang karena belum makan jagung. Nasi biasanya berasal dari beras merah yang ditumbuk dan diisi dalam wadah yang dalam bahasa daerah setempat disebut snipi (keranjang tertutup yang terbuat dari anyaman daun lontar atau gewang). Lauknya daging sapi yang sudah diasapi (daging se'i) ditambah sedikit sambal. Daging se'i ini biasanya awet disimpan sampai berbulan-bulan bahkan ada yang lebih dari satu tahun.

Tapi sama seperti orang Timor kebanyakan, makanan favorit para murid adalah jagung. Yang unik, jagung tersebut tidak dimasak atau direbus tapi digoreng atau biasa disebut pen seka/pen bete (jagung goreng). Jagung goreng ini akan disimpan dalam botol yang diisi air ditambah sedikit garam.

Menurut kebiasaan warga setempat --mungkin juga di daerah lain di TTS-- jagung goreng yang disimpan seperti ini lebih awet ketimbang jagung yang direbus lalu disimpan dalam rantang. Pen bete meski disimpan hingga dua hari masih tetap layak dikonsumsi. Selain itu, dengan makan jagung goreng mereka bisa tahan lapar meski hanya sekali makan dalam sehari.


Ada satu nilai lebih yang bisa dipetik oleh generasi sekarang dari kenangan masa kecil ini. Dengan berjalan kaki hingga puluhan kilometer, makan pen bete dan laok tunu, anak-anak zaman dulu tetap disiplin ke sekolah. Buktinya dari SD GMIT Biloto banyak lahir sarjana yang sudah teruji kualitasnya baik itu sebagai politisi, pegawai pemerintahan maupun pengusaha.

Kini, Bikium yang berada di pinggiran Kota SoE sudah berubah. Gedung SD GMIT Biloto pun tidak lagi beratap alang-alang, berdinding bambu dan berlantai tanah, tapi sudah dibangun permanen. Murid-muridnya pun tak perlu berjalan kaki telanjang ke sekolah, karena jalanannya sudah diaspal mulus yang dilayani angkutan kota dan puluhan ojek sepeda motor.

Mereka juga tak perlu membawa botol yang diisi pen bete atau snipi yang diisi laok tunu dan nasi beras tumbuk. Nasi kini bukan lagi makanan mewah. Jarak rumah ke sekolah pun sudah makin dekat. Di Kesetnana, Siso, Bisene, dan Salmel juga sudah memiliki sekolah sendiri.

Yang tidak dijumpai lagi di sana adalah anak-anak yang membawa susu sapi untuk meminumnya di sekolah. Sapi kini sudah hampir punah. Daging se'i pun harus dibeli di toko. Hamparan padang kini hanya ditumbuhi ilalang kering yang mudah terbakar di musim kemarau, tanpa sapi yang merumput bebas. Kebanggaan masa silam bila minum susu sapi di sekolah kini sudah digantikan oleh air mineral atau minuman bersoda seperti coca cola dan lainnya.

Semua memang ingin perubahan. Semua tentu ingin tidak mau dikatakan kolot hanya karena masih suka bawa pen bete dan laok tunu ke sekolah. Namun, perubahan saat ini hendaknya jangan membuat kita lupa bahwa ada kenangan masa silam yang akan menjadi kebanggaan bila dimodifikasi untuk membangun kampung halaman tercinta. (sipriseko@poskupang.co.id)

Senin, 29 September 2008

Ndauk

Oleh Kanis Jehola

LANGKAH
nenek Martha Ndinde (alm) terlihat berpacu cepat. Tak berapa lama ia sudah memasuki tangga rumah yang saya tinggal. "Tok.. tok.. tok.., " nenek Martha Ndinde mengetuk pintu dapur sambil menyapa nia ngaok (apa kabar). Ia pun masuk ke dalam dapur rumah yang saya tinggal dan langsung duduk di samping mamaku (mama besar) yang memeliharaku.

"Mai cee gite bo kudut tegi hi nana ngo lompong le mbaru to'ong/saya datang meminta izin (sama mama besar) supaya nana (panggilan untuk laki-laki di Manggarai, red) makan di rumah sebentar," kata nenek Martha Ndinde.

Mendengar permintaan itu, hati saya berbunga-bunga. Sebab biasanya, kalau dipanggil seperti itu pasti ada makanan yang enak. Ya, biasanya makan daging, ikan atau setidaknya makanan jenis lain yang rasanya enak ala kampung. Sebab saya adalah cucu sulung dari putra nenek yang sulung. Dan, saat itu, tinggal bersama mama besar. Rasanya memang sangat beruntung. Dimanja di mana-mana.

Setelah permintaan dikabul, saya pun tak lama menunggu. Mohon izin mama besar dan langsung angkat kaki. Hanya dalam tempo hitungan menit, saya sudah berada di rumah nenek yang jaraknya hanya sekitar 25 meter dari rumah yang saya tinggal.

"Mai ga (masuk sudah)," kata nenek Ndinde mempersilahkan saya masuk. Baru semenit duduk, nenek Ndinde membawa dua buah piring ke hadapan saya. Satu piring berisi nasi putih (ndauk bakok sebutan warga setempat), dan satu piring berisi mie yang baru dimasaknya. Hang ga (makan sudah). Saya pun langsung memakannya.

Saat itu memang belum semua warga di kampung yang rutin makan ndauk sehari. Tapi bagi kami -- setidaknya saat saya mulai mengenal makan -- makan ndauk bukan hal baru. Itu makanan kami sehari-hari. Maklum di kampung itu, keluarga kami tergolong yang punya sawah cukup banyak. Yang beda cuma karena ndauk yang disuguhkan sang nenek adalah ndauk bakok. Rasanya lebih lembut, karena hasil penggilingan. Sedangkan ndauk yang kami makan sehari-hari adalah ndauk dari beras tumbuk di lesung. Sudah tentu rasanya beda. Dan, yang istimewa, karena ndauk bakok yang dimakan saat itu disuguhkan bersamaan dengan mie.

Itulah kondisi yang terjadi di Kampung Rentung, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Manggarai, sekitar tahun 1970-an. Saat itu saya belum masuk SD. Kehidupan di kampung saat itu masih tergolong susah. Makan ndauk dari beras hasil penggilingan termasuk barang langka. Ndauk tersebut tidak bisa didapatkan di desa atau di ibukota kecamatan, karena saat itu belum ada kios. Begitu pun mie, minyak goreng, ikan kering dan berbagai jenis makanan enak lainnya.

Untuk mendapatkan barang tersebut, orang harus pergi ke Ruteng, Ibu Kota Kabupaten Manggarai atau ke Reo. Untuk ke Ruteng atau ke Reo biasanya harus jalan kaki sepanjang hari dari pagi sampai sore. Dan, untuk ke Ruteng atau ke Reo pun kalau ada perlu penting. Misalnya, saat menjual kacang hijau, kemiri atau kopi.

Dan, ketika mencium aroma goreng ikan kering atau melihat orang makan mie, bisa dipastikan bahwa ada di antara keluarga tersebut yang baru pulang dari Kota Ruteng atau dari Reo. Kalau tidak, di rumah tersebut ada tamu istimewa. Dan, urusan goreng menggoreng saat itu tidak sembarang orang. Masih sebatas orang tertentu, orang yang dipandang cukup 'berada' di kampung.

Itu cerita masa lalu. Cerita puluhan tahun yang lalu. Kehidupan masyarakat di kampung itu saat ini sudah jauh berbeda. Urusan goreng menggoreng dan makan mie bukan lagi barang yang istimewa atau luar biasa. Juga bukan lagi makanan keluarga tertentu yang dinilai 'berada.' Barang tersebut juga bukan lagi termasuk barang langka. Semuanya dengan mudah didapat. Kios-kios di kampung sudah bertumbuh. Persaingan usaha antar satu keluarga dengan keluarga lain sangat terasa.

Mendapat penerangan listrik bukan lagi sekadar mimpi. Mereka sudah bisa menikmatinya karena sudah bisa membeli genset sendiri. Beras putih hasil penggilingan pun tidak lagi sulit didapatkan. Di kampung sudah ada mesin giling. Gabah kering yang baru dipanen langsung digiling untuk mendapatkan beras. Ibu-ibu dan nona- nona kini sudah bermanja. Tidak lagi harus capek menumbuk padi. Tangan mereka tidak lagi melepuh karena memegang alu menumbuk padi. Semuanya digiling. Untuk pembayarannya, tergantung negosiasi dengan pemilik mesin giling. Dibayar dengan uang atau dibarter dengan beras.

Makan ndauk, kini bukan lagi hanya dirasakan oleh keluarga yang punya sawah. Warga yang tidak punya sawah pun sudah rutin makan ndauk bakok. Meski masih makan jagung dan ubi-ubian, tapi rasanya belum cukup kalau setiap kali makan mereka belum makan ndauk. Untuk mendapatkan ndauk, mereka berlomba- lomba mencari uang. Caranya macam-macam. Bisa dengan menjadi tenaga buruh pada proyek-proyek pemerintah, juga bisa dengan menjadi pedagang. Singkat cerita, untuk mendapatkan ndauk mereka bisa bekerja apa saja, asalkan setia hari makan ndauk. *


Sabtu, 20 September 2008

Danding

Oleh Hyeron Modo

HENTAKAN
kaki ditingkahi syair lagu berbalas pantun memecah kesunyian malam. Suara laki-laki dan perempuan dalam pentas danding membangunkan saya di tengah malam ketika sedang tertidur lelap. Itulah suasana di kampungku Ngusu, Desa Rana Mbeling, Kecamatan Kota Komba.

Suasana itu saya alami ketika masih duduk di sekolah dasar (SD) di tahun 1970-an. Saya dan teman-teman sebayaku pun berbaur bersama anak-anak muda, orang tua laki-laki dan perempuan, ikut danding (tandak). Danding biasanya dimainkan saat Ghan Woja (bahasa Manggarai versi Manus) atau dalam bahasa Manggarai umum disebut Penti. Upacara adat Ghan Woja atau Penti biasanya dilaksanakan setelah panen padi dan jagung di ladang atau sawah. Acara ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerahNya, panen padi dan jagung berhasil. Tetapi, danding di wilayah Manus tidak hanya saat Ghan Woja.

Di kampung saya, Ngusu, danding biasanya dipentaskan warga kampung setiap akhir pekan ketika musim panen usai. Pentas tarian tradisional usai panen ini sambil menunggu penentuan bulan pelaksanaan acara tradisional Ghan Woja. Pentas tandak menjelang pesta adat Ghan Woja ini disebut danding marang.

Danding dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Peserta danding, laki-laki dan perempuan, tua dan muda berdiri membentuk lingkaran. Jika peserta banyak, biasanya dibentuk dua lingkaran dengan konfigurasi peserta perempuan dan laki-laki selang-seling. Para peserta sambil memegang tangan bernyanyi berbalas pantun dengan hentakan kaki mengikuti irama lagu. Salah seorang yang cukup mahir memandu acara, berdiri di tengah lingkaran dan memegang giring-giring untuk memberi aba-aba kapan hentakan kaki dilakukan bersama sambil menjawab syair lagu yang dinyanyikan kaum perempuan atau laki-laki dalam lingkaran itu. Pemandu atau komando acara juga berperan untuk menggantikan syair lagu berikutnya dengan cara poka (jeda) dan sako (solo).

Pementasan danding ini menjadi tontonan menarik bagi warga kampung yang tidak mengambil bagian dalam pentas tradisional tersebut. Ketika warga di kampung saya sedang asyik mementaskan danding sekelompok warga dari kampung tetangga datang untuk mengikuti danding. Syair-syair lagu yang dinyanyikan saat danding tidak sekadar acara hiburan. Syair-syair lagu dalam danding sarat makna dan mengandung pesan moral yang luar biasa. Ada syair lagu danding yang mengingatkan dan mengajak sesama warga untuk saling membantu dalam hidup bermasyarakat. Jadi, danding merupakan forum kritik sosial dengan cara menghibur (dalam bentuk nyanyi berbalas pantun). Dalam perkembangan dewasa sekarang, danding lebih dipahami sebagai selebrasi muda-mudi di kampung.

Salah satu syair lagu yang mengandung pesan moral dan bermakna peringatan dan atau ajakan, misalnya, waeng koe e e, waeng koe e wake'n a o o u u wake'n waeng koe/melo ga a e e a a kala melo ga. Artinya, sirih sudah layu perlu disiram sehingga segar kembali. Jika dimaknai secara luas, maka syair lagu danding tersebut bermakna mengajak sesama warga untuk membantu sesama warga lainnya dalam kampung yang mengalami kesusahan atau kesulitan hidup dalam hal apa saja.

Syair lagu Waeng koe wake'n waeng koe/Melo ga kala melo ga, juga bermakna ajakan melestarikan lingkungan hidup. Sebab, lingkungan telah memberi kehidupan bagi manusia. Karena itu, manusia wajib menjaga kelestarian lingkungannya. Pendekatan yang disampaikan melalui syair-syair lagu danding lebih diterima oleh warga di kampung saya ketimbang pendekatan formal yang dilakukan pemerintah. Tetapi, apakah danding masih menjadi salah satu kearifan lokal untuk mendorong atau mengajak partisipasi masyarakat dalam pembangunan? Semuanya kembali kepada masyarakat itu sendiri, terutama generasi penerus untuk melestarikan budaya yang diturunkan nenek moyang. (hyeron_modo@yahoo.co.id)

Sabtu, 13 September 2008

Gemohing


MASIH terlalu pagi untuk bangun dari tidur. Tapi bunyi ribuan burung kukak (burung kuak) yang bermalam di pohon besar di tepi kampung seperti mengajak warga untuk tidak boleh bermalas-malasan di tempat tidur. Ibu-ibu bergegas menumbuk padi. Agar bubur buat sarapan segera tersaji. Biar bekal buat suami ikut gemohing (kerja gotong-royong) bisa segera siap. Bunyi orang titi jagung dan suara kokok ayam pagi bagai bersahutan. Ya, jagung titi dan kopi panas memang pas untuk pembuka sarapan pagi.

Bapa-bapa mulai bergegas ke luar rumah.
Dingin menusuk tulang karena embun kemarau menetes sepanjang malam. Ama Beda sudah bangun lebih dulu. Dia sudah membuat api di pekarangan rumah. Satu persatu anak-anak mulai mendekat menghangatkan badan. Beberapa anak langsung bergegas pergi, "berburu" mangga masak yang jatuh. Entah sisa makan kelelawar atau karena ranum dan jatuh sendiri saat pohon tergoyang dihinggap kelelawar, itulah yang dicari.
Lumayan buat pengisi perut sepulang sekolah nanti.
Tak terasa matahari pagi sudah menyembul di ufuk timur. Anak-anak harus segera sarapan dan ke sekolah. Bubur pagi dari beras tumbuk memang kental menggoda selera. Apalagi ditemani kretut bakar (kretut: ikan gurita yang dikeringkan). Selesai makan, anak-anak langsung bergegas ke sekolah. Di pinggir jalan raya ke sekolah, banyak tumbuh pohon kulek (sejenis pohon perdu berdaun lebar). Daun-daun pohon itu banyak embunnya. Cukup memetik sehelai dua daun kulek itu buat lap muka, membersihkan kotoran mata. Begitulah cara anak-anak mandi pagi sebelum tiba di sekolah.

Hari itu, bapa-bapa dan pemuda di kampung, kerja gemohing di Ama Beda punya kebun. Jagung musim kemarau memang lagi menguning. Sepulang sekolah anak-anak kampung sepakat bermain di kebun Ama Beda. Sehabis bakar jagung muda, anak-anak akan mengerjakan PR, membuat patung dari tanah liat. Itu PR dari guru Petrus Peten Lewo, guru SDK Ongebelen. Kebetulan di tengah kebun Ama Beda ada mata air. Namanya Wai Pok. Nah, tanah liat banyak terdapat di sekitar mata air itu. Sambil membuat patung, anak-anak menjerat burung menggunakan nanah pohon nangka. Burung-burung yang singgah untuk minum air, tidak akan bisa terbang lagi begitu kakinya menginjak nanah pohon nangka. Mudah kan? Tinggal diambil dan dijadikan lauk buat makan siang. Kan ada ubi dan pisang di kebun yang bisa dibakar. Sungguh mengasyikkan.

Gemohing hari itu berlangsung riang. Ada nyanyian pemberi semangat, namang dan sole oha (nyanyian tradisional berbait pantun). Sambil menyiangi rumput di kebun, bapa-bapa dan para pemuda menyanyi. Anggota gemohing yang umurnya paling muda bertugas menuangkan tuak dari bambu ke tempurung kelapa dan diberikan kepada semua anggota gemohing, setiap 10 atau 15 menit. Maka suasana kerja di kebun makin bersemangat sampai senja menjemput malam.

Itulah suasana keseharian di kampung Lamawato, sebuah kampung kecil di Desa Kwaelaga- Lamawato, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Semula saya tidak percaya saat iseng memanfaatkan google.co.id untuk mencari kampungku itu. Ternyata mesin pencari raksasa itu menuntun saya ke website

http://wikimapia.org. Di sana ada peta Pulau Adonara dan kampungku ada di sana. Hanya satu kilometer dari kaki Ile Boleng, satu-satunya gunung api di Adonara. Ternyata kampungku sudah mendunia juga ya.. hehe... Tapi suasana seperti tigapuluhan tahun silam itu entahkah masih ada sampai kini. (damianusola.yahoo.com/pos kupang/13/8/2008)

SYALOM