Senin, 19 Januari 2009

Cecar dan Culu Welu

Oleh Oby Lewanmeru

KABUT
tebal seakan menampilkan kesombongan saat menyelimuti kaki Gunung Mbeliling. Dia seakan mau menunjukkan bahwa dia berkuasa menutupi keindahan hutan yang ada di kaki gunung itu. Sedikit-sedikit matahari menembus gumpalan kabut dan menerangi kampung yang terletak persis di sekitar kaki gunung itu. Kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Cecar.

Cecar. Nama ini tidak asing lagi bagi warga Labuan Bajo, Kabupaten Mangarai Barat. Selain sebagai nama kampung, Cecar juga sebagai lokasi sumber air untuk Kota Labuan Bajo sebagai air PAM. Kampung yang terletak di Desa Liang Ndara, Kecamatan Sano Nggoang ini terkenal cukup unik. Kampung ini memiliki potensi besar, namun belum dikelola secara baik demi kepentingan warga setempat.

Kampung ini memiliki panorama alam yang menarik karena berada persis di kaki Gunung Mbeliling, dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaanl laut (dpl). Kampung yang berbatasan dengan Kampung Melo dan Desa Cunca Lolos ini sering menjadi tujuan sejumlah wisatawan untuk melihat masuknya matahari sore (sun set) yang berada persis pada garis lurus Kota Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Nama Cecar diambil karena di kampung ini dulu terdapat banyak pepohonan dan semak.

Di sini warga tidak sulit mendapatkan air bersih karena wilayah itu adalah daerah yang memiliki banyak sumber air, begitu pula dengan pangan. Sumber air yang disuplai dari kampung ini cukup berarti bagi warga. Meski begitu, perhatian pemerintah terhadap wilayah ini belum juga tersentuh sempurna. Warga setempat memang mudah mendapatkan pangan walaupun dulunya sulit.

Berbicara tentang pangan, kampung yang memiliki penduduk kurang lebih 100 kepala keluarga (KK) yang semuanya bermata pencaharian sebagai petani ini dulunya (sekitar tahun 1960-an) hanya memanfaatkan makanan lokal yang sudah menjadi sajian pokok yaitu nasi bercampur jagung (hang kabo). Menu ini selalu disajikan setiap hari meski ada variasi dengan ubi-ubian. Warga di kampung ini masih percaya kalau hang kabo adalah makanan khas mereka. Namun, kini mulai hilang perlahan dengan berkembangnya zaman. Warga Cecar juga sudah mudah mendapat beras dengan mengerjakan sawah karena didukung kondisi alam setempat.

Kampung Cecar hingga saat ini didiami oleh Suku Toe Liang Ndara. Suku ini menurut warga setempat mulanya berasal dari Goa, Sulawesi Selatan, yang sudah lama mendiami sejumlah wilayah di Manggarai Barat. Hal ini dapat dilihat dari struktur perumahan yang sejak dulu menggambarkan ciri khas Sulawesi Selatan. Sekarang memang tidak lagi dominan, hanya tinggal satu atau dua rumah saja yang masih mempertahankan ciri khas itu, yakni dengan model rumah dengan kolong atau dek yang dikenal dengan nama rumah panggung beratap khas. Ada yang dari alang-alang atau ijuk.

Jika menelisik soal penerangan di wilayah ini, warga masih menggunakan lampu pelita dan lampu gas (strong king). Dua bentuk penerangan ini baru dikenal warga dalam dua dasawarsa terakhir. Sebelumnya, warga setempat menggunakan campuran antara buah kemiri dan kapuk yang disenyawakan dengan cara menumbuk kemudian dililitkan pada batang lidi atau bambu yang dihaluskan seperti lidi. Bentuk penerangan yang lazim digunakan warga ini dikenal dengan nama culu welu. Bahan ini siap dibakar menggantikan penerangan lampu pelita ataupun lampu strong king.

Wilayah ini sampai sekarang belum memiliki listrik dari pemerintah. Warga tetap menggunakan pelita dan lampu gas. Hanya ada satu atau dua warga tergolong mampu yang menggunakan motor listrik (genset).

Penggunaan genset saat ini sudah dikomersialkan, yakni warga yang ingin menarik kabel ke rumahnya harus membayar kepada pemilik genset. Bayaran ini menurut warga setempat berkisar antara Rp 30.000,00 hingga Rp. 50.000,00 per bulan per satu unit rumah atau disesuaikan dengan pemakaian bola lampu. Setiap hari genset ini dinyalakan pemilik untul warga konsumen mulai pukul 18.00 wita hingga pukul 22.00 wita.

Warga masih berupaya sendiri dalam memanfaatkan penerangan tersebut, tetapi belakangan ini, dengan adanya kenaikan harga maupun kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), warga cukup cemas dengan penggunaan genset. Sementara culu welu ini mulai hilang setelah warga mulai kenal dengan lampu pelita maupun strong king. Meski begitu ada beberapa warga masih melestarikan jenis penerangan ini sebagai budaya yang tidak dilupakan.

Theo Bin dan Hilarius Haban, warga Kampung Cecar, kepada Pos Kupang, Rabu (14/1/2009), mengatakan, tradisi menggunakan culu welu sulit dilupakan meski di kalangan masyarakat setempat tradisi ini mulai hilang bahkan tidak digunakan lagi hanya karena perkembangan zaman. Menurut keduanya, pemanfaatan culu welu ini sangat dirasakan sekali pada tahun 1965 hingga tahun 1970-an. "Kalau ada warga kampung yang meninggal, setiap kami diharuskan membawa culu welu ini, setiap KK sebanyak 5-10 lidi. Kami bawa ini ke rumah duka sebagai penerangan di rumah tersebut selama masa perkabungan," kata Bin dan Haban.

Penggunaan culu welu ini dengan cara ditancapkan pada sebuah media atau potongan bambu secara miring dan tidak boleh tegak lurus. Hal itu dilakukan agar lampu sejenis obor/culu welu ini tidak padam. Memang penggunaan bahan dari alam ini cukup membantu warga karena itu perlu dilestarikan meski zaman terus berubah.

Haban juga mengakui, beberapa waktu lalu, dengan adanya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) maupun akibat krisi global, warga setempat mulai berpikir untuk kembali pada kondisi dulu (back to basic). Rupanya warga di kampung ini sudah siap menerima kenyataan bila suatu saat BBM habis dan adanya kenaikan harga maka bisa beralih kembali ke penerangan tradisional dan unik tersebut. *

Kecebong

Oleh Dion DB Putra

Air di kolam itu semakin berkurang
Yang tidak pindah mati kekeringan...

ALKISAH hiduplah sekawanan kecebong di dalam sebuah kolam yang tak seberapa luas. Larva binatang amfibi yang hidup dalam air, bernapas dengan insang serta berekor itu tak terhitung jumlahnya. Di antara sekian banyak kecebong, ada seekor yang merasa gundah dengan kondisi lingkungan, populasi kecebong yang amat gemuk dan ancaman musim kemarau.

Ia sering meloncat-loncat ke atas air untuk melihat apakah ada tempat yang lebih besar untuk mempertahankan hidup bila musim kemarau berkepanjangan tiba. Setelah beberapa kali memantau, ia melihat ada satu kolam yang lebih luas dengan air yang lebih banyak. Dia mulai menyusun rencana untuk migrasi ke sana.

Kecebong 'cerdas' ini tidak egostis. Dia mengajak teman-temannya untuk migrasi ke kolam yang lebih besar tadi. Tetapi mereka umumnya menolak dengan keras. "Di sini kan sudah hidup nyaman dan enak, makanan tersedia, teman banyak. Jadi, untuk apa pindah ke tempat baru yang belum tentu lebih baik?"

Kecebong itu sedih mendengar pernyataan teman-temannya yang hanya melihat kondisi sekarang. Mereka pro kemapanan, tidak mengantisipasi tantangan dan ancaman yang bakal dihadapi di masa depan. Sedangkan dia selain menikmati hidup, juga selalu peka dengan keadaaan sekitar. Saban hari ia memperhatikan kedalaman air kolam tempat mereka tinggal.

Sampai suatu hari ia melihat air kolam sudah menurun drastis. Ia pun bertekad segera meloncat ke kolam yang lebih besar. "Bila tidak mengambil risiko sekarang, tidak akan ada kesempatan lagi. Kesempatan tidak datang dua kali," begitu pikirnya. Ia sadar karena kecebong memiliki daya loncat terbatas, ia tidak akan bisa lagi melompat ke kolam sebelah bila ketinggian air tidak mencukupi.

Maka meloncatlah kecebong itu ke kolam yang lebih besar dan selamatlah hidupnya. Di sana dia berenang bebas karena air lebih dari cukup. Musim kemarau panjang akhirnya tiba, Air di kolam kecil itu semakin berkurang dan akhirnya habis. Kawanan kecebong yang tidak mau pindah mati kekeringan (The Best Chinese Life Philosophies, Leman).

Beta yakin tuan dan puan sudah pernah mendengar atau membaca kisah kecebong itu. Suatu analogi spirit Wu Chang tentang perubahan berkelanjutan dalam kondisi apa pun eksistensi kita sekarang. Wu Chang mengajak siapa pun untuk berani keluar dari zona nyaman (comfort zone) kemudian melakukan adaptasi, perubahan, dan mau belajar seumur hidup.

Spirit itu mensyaratkan keberanian. Keberanian menanggung risiko. Berani melawan arus dengan membuat kebijakan yang tidak populer sekalipun. Sayang sekali, yang pahit ini harus dikatakan. Tak banyak kita temukan di beranda Flobamora hari ini! Langka nian tokoh yang peka, peduli, antisipatif dan siap menanggung risiko seperti kecebong 'cerdas' dalam cerita di atas. Begitu banyak orang yang takut kehilangan kursi dan kuasa. Takut keluar dari zona nyaman.

Siapakah yang resah dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT) setiap bulan? Adakah yang gundah menyaksikan antrean panjang rakyat menunggu beras untuk masyarakat miskin (raskin)? Kita nyaman dengan situasi itu. Bangga dan senang. Menanti pujian karena menyalurkan BLT dan raskin tepat waktu. Keberanian kita sekadar menghukum 'pencuri-pencuri' kecil di kampung.

Ketergantungan pada beras dari luar Flobamora telah mencapai titik mencemaskan. Kita asyik-asyik saja mematuhi kebijakan yang salah. Tiada kritik, tiada protes. Tiada perlawanan! Tiada klarifikasi bahwa pangan itu tidak identik dengan beras. Di mana kaum cerdik pandai Flobamora? Di mana gerang akademisi di kampung besar kita? Kita terlalu kaya dengan cendekiawan yang nyawan. Nyaman dan bangga sebagai tim ahli. Tim pakar, penasehat intelektual para pembesar. Cendekiawan yang ramai-ramai menjadi caleg!

Tahun 2009 belum genap sebulan. Sebelas anak NTT telah meregang nyawa akibat penyakit diare dan gizi buruk. Siapa berani mengaku salah? Listrik mati hidup, air mengalir sekali sepekan, sampah menggunung berbau anyir, jalan-jalan berlubang hingga truk dan sepeda motor terperosok mencium tanah. Siapa yang mau mohon maaf?

Menjadi kecebong tangguh dan inovatif sungguh tidak mudah karena eksistensinya terus diuji masyarakat. Namun, kecebong unggul selalu menjadi harapan publik. Dialah agen perubahan.

Dalam tahun tikus yang baru berlalu, Flobamora berjingkrak dengan 12 pesta pilkada langsung. Pesta demokrasi sepanjang tahun. Meriah sekaligus melelahkan. Habiskan dana ratusan miliar. Telah lahir para pemimpin baru lewat pilkada.

Sesaat lagi akan muncul deretan pemimpin legislatif. Jumlahnya ribuan orang. Semoga muncul seekor dua kecebong anti- kemapanan. Lahir pemimpin yang ada greget-nya! Agar Flobamora yang kaya ini tidak terus terkulai mati dalam gelimang anggaran triliunan rupiah. (dionbata@poskupang.co.id)

SYALOM