TIGA kali sudah kompetisi sepakbola Piala Gubernur NTT digelar. Tahun 2008, Persap Alor keluar sebagai juara. Kalau tahun lalu Perseftim Flores Timur menjadi yang terbaik, tahun ini sang raksasa sepakbola NTT, PS Ngada (PSN) adalah sang juara.
Kompetisi ini digelar sebagai ajang seleksi bagi klub-klub untuk mewakili NTT di kualifikasi Divisi III Liga Indonesia. Kalau sebelumnya Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) memberi jatah tiga klub bagi Indonesia, tahun ini dinaikkan menjadi empat. Itu artinya, peringkat pertama hingga keempat berhak mewakili NTT di Divisi III.
Hanya tim terbaik yang mengikuti Divisi III. Mereka harus melewati babak penyisihan yang ketat sehingga peringkat pertama, kedua, ketiga dan keempat yang diraihnya merupakan sebuah prestasi. Namun, harapan untuk mendapatkan tim berkualitas di tahun ini nampaknya masih jauh dari harapan. Bagaimana tidak, dari 21 kabupaten/kota di NTT, hanya lima tim yang berpartisipasi di Piala Gubernur 2010. Satu tim, Persena Nagekeo, sesuai informasi yang dihimpun harian ini, semua pemainnya adalah anak-anak Kota Kupang yang tersisih saat seleksi di tim PS Kota Kupang.
Itu artinya, hanya empat klub yang mengikuti kompetisi ini, karena Nagekeo tidak mengirim tim. Kalaupun Nagekeo mengirimkan tim, sesuai penjelasan dari Sekretaris Umum Pengprop PSSI NTT, Drs. Lambert Tukan, M.M, saat Raparda PSSI di Aula Dinas Kesehatan Propinsi NTT, mereka tidak bisa bermain di Divisi III karena belum terdaftar sebagai klub resmi di PSSI. Apakah Persena Nagekeo adalah klub ilegal yang mengikuti kompetisi resmi di bawah PSSI ini?
Mendaftar saja untuk ikut Piala Gubernur, PSN, PSKK, Perss SoE, Perse Ende sudah pasti lolos ke Divisi III. Kalau Piala Gubernur ukuran adalah lolos ke Divisi III, maka PSN, PSKK, Perss dan Perse sudah mencatat prestasi besar. Namun kalau ukurannya adalah prestasi, pertanyaan lanjutannya adalah apakah PSN layak juara dan PSKK pantas menjadi runner-up? Semua orang mengakui PSN dan PSKK adalah raksasa sepakbola di NTT. Namun meraih gelar tanpa lewat kompetisi yang ketat, belum bisa dijadikan acuan kualitas.
Kita tidak bisa mengalahkan siapa-siapa. Bukan tanggungjawab PSN dan PSKK ketika tim lain tidak mau mengikuti kompetisi. Klub lain juga tidak bisa meragukan gelar mereka karena itu diraih melalui kompetisi yang resmi. Kita juga tidak bisa mempersalahkan Pemprop NTT sebagai pemilik anggaran dan Pengprop PSSI NTT yang terkesan hanya mau menghabiskan anggaran dan menjalankan program yang sudah direncanakan.
Pekerjaan penting yang harus dilakukan sekarang adalah mempersiapkan diri lebih matang menghadapi kualifikasi Divisi III tahun depan. Empat klub mewakili NTT membuat peluang Kota Kupang untuk menjadi tuan rumah sangat besar. Untuk itu, mumpung saat ini masih dalam tahap pembahasan anggaran di DPRD, para pengurus bola dan KONI Ngada, Kota Kupang, TTS dan Ende sudah harus memasukannya dalam anggaran di APBD.
Saran ini diberikan kalau kita memang menginginkan sepakbola NTT berprestasi di tingkat nasional. Kendala dana menjadi persoalan klasik dalam pembinaan sepakbola di NTT. Lihat saja Persap Alor atau PSN yang hampir masuk Divisi I, namun akhirnya terdegradasi hanya karena tidak ikut lanjutan kualifikasi akibat ketiadaan dana.
Yang menjadi persoalan adalah kita di NTT ini antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan pelaku bola belum sepaham tentang sepakbola industri, sepakbola modern ataupun sepakbola bisnis. Kita baru sebatas tahu bahwa sepakbola adalah permainan rakyat yang sering menimbulkan kericuhan akibat kualitas wasit yang rendah, misalnya. Kita belum tahu kalau sepakbola itu bisa jadi sumber pendapatan, lapangan kerja baru, arena sosialisasi diri, promosi maupun pertaruhan gengsi daerah.
Kalau ini dipahami dengan benar, dana seharusnya bukan sebuah kendala. Lihat saja daerah lain yang dalam satu kabupaten/kota ada lebih dari satu tim yang bermain di Liga Super Indonesia, Divisi Utama maupun Divisi I. Padahal, mereka berkompetisi lewat anggaran dari APBD. Di sana, pemahamanannya adalah, anggaran dari APBD untuk sepakbola adalah investasi sebagai salah satu sumber PAD, bukan sumbangan cuma-cuma. Mereka tahu bahwa anggaran Rp 20 miliar misalnya untuk satu musim kompetisi imbal baliknya akan lebih dari itu.
Bagaimana itu bisa terjadi di NTT? Tugas kita bersama. Tugas para pengurus bola untuk meyakinkan pemegang kebijakan bahwa berinvestasi untuk pembangunan kemasyarakatan juga bisa lewat olahraga. Perangkat aturannya jelas, yakni UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) yang salah satu ayatnya menekankan tentang kewajiban pemerintah dan pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk olahraga. Apakah NTT sudah melakukannya? **
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 04 Desember 2010
Selasa, 25 November 2008
Wasit: Berkuasa dan Dicerca
DI Inggris sedang ada kampanye besar-besaran untuk menghormati wasit. Sebuah ide mulia dan memang seharusnya, tetapi juga sebuah absurditas mengingat evolusi atau bahkan revolusi yang telah terjadi dalam dunia sepakbola.
Sepakbola, seperti juga permainan lain, awalnya adalah sebuah permainan untuk sekadar bersenang-senang, melupakan rutinitas kehidupan sehari-hari. Sebuah permainan untuk membantu membangun karakter pribadi dan kolektif. Selesai bertanding orang boleh tidak puas, puas, menggerutu, bergembira, bersedih, tapi kemudian melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan sesungguhnya. Kembali ke rutinitas sehari-hari.
Tetapi kini sepakbola bagi mereka yang terlibat dalam dunia sepakbola ini adalah kehidupan itu sendiri. Sepakbola telah menjadi ekspresi pribadi, sosial, politik, dan ekonomi. Nilai kehidupan tergantung padanya.
Dalam situasi ini sangatlah absurd bila hakim, administrator, arbitrator, penentu hitam putihnya di lapangan, masih juga dipegang tunggal oleh wasit -- kecuali kalau wasit adalah entitas maha sempurna tentunya.
Setiap pekan kita bisa melihat sendiri bagaimana wasit sering melakukan kesalahan. Murni bukan kesengajaan. Entah karena lalai, tidak melihat dengan jelas, pemain yang dengan cerdik berpura-pura, dan berbagai sebab lain.
Para komentator sepakbola ataupun penonton televisi diuntungkan oleh replay yang kadang sampai berulang-ulang dengan sudut beragam, tetapi wasit tidak punya kemewahan itu dan harus mengambil keputusan seketika. Betapa susahnya.
Bayangkan perumpamaan ekstrim ini. Dalam pertandingan penentuan degradasi Premier League seorang wasit memutuskan tendangan penalti di detik terakhir dan menjadi penentu kemenangan-kekalahan sebuah tim. Kalau keputusan itu benar tidak akan menjadi masalah. Atau menjadi masalah tetapi dengan dimensi yang lain. Tetapi bagaimana kalau salah?
Satu keputusan salah itu jutaan poundsterling nilainya. Juga bisa merupakan garis tipis dipecat tidaknya seorang manajer, hengkangnya para pemain bagus dari klub bersangkutan, menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi mereka yang terlibat menjalankan kehidupan keseharian klub. Belum lagi berbicara dampak psikologis kolektif bagi pendukung yang kalah secara tidak adil.
Para sejarawan sepakbola tentu tidak akan melupakan babak kualifikasi Piala Dunia 1970 antara Honduras dan El Savador tahun 1969. Ketegangan antara dua negara bertetangga di Amerika Tengah yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu akhirnya menjadi perang terbuka, setelah kedua negara ini bertanding sepakbola. Bayangkan peran dan perasaan wasit di pertandingan itu.
Dengan taruhan yang begitu besar dan kemampuan wasit yang sangat terbatas tetapi keputusannya sangat amat menentukan, tak pelak wasit mudah sekali menjadi sasaran tembak ketidakpuasan. Terutama sekali pemain, manajer, dan penonton, serta tak ketinggalan komentator sepakbola, tidak pernah berberat tangan untuk menghujat mereka. Itulah sebabnya kampanye agar wasit dan keputusannya dihormati 100 persen adalah sebuah absurditas konyol.
Para manajer mengatakan mereka akan menghormati wasit kalau wasit bisa konsisten dan sempurna. Ini kekonyolan dalam bentuk lain. Ini seperti menuntut manusia untuk selalu sempurna setiap saat. Padahal apakah pemain juga bersikap sempurna kalau mereka sering berpura-pura menjatuhkan diri, menarik kaos lawan, dan memprotes keputusan yang sudah sempurna? Apakah manajer juga bersikap sempurna ketika menerima keputusan wasit yang salah tetapi menguntungkan timnya, tetapi begitu dirugikan segala macam perbendaharaan makian mereka keluarkan?
Masih beruntung menjadi wasit di Eropa atau di Inggris ini, coba kalau di Indonesia. Bukan sekadar hujatan yang diterima, bogem mentah dan ketupat bengkulu pun sering dilontarkan. Mengerikan. (dtc)
Sepakbola, seperti juga permainan lain, awalnya adalah sebuah permainan untuk sekadar bersenang-senang, melupakan rutinitas kehidupan sehari-hari. Sebuah permainan untuk membantu membangun karakter pribadi dan kolektif. Selesai bertanding orang boleh tidak puas, puas, menggerutu, bergembira, bersedih, tapi kemudian melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan sesungguhnya. Kembali ke rutinitas sehari-hari.
Tetapi kini sepakbola bagi mereka yang terlibat dalam dunia sepakbola ini adalah kehidupan itu sendiri. Sepakbola telah menjadi ekspresi pribadi, sosial, politik, dan ekonomi. Nilai kehidupan tergantung padanya.
Dalam situasi ini sangatlah absurd bila hakim, administrator, arbitrator, penentu hitam putihnya di lapangan, masih juga dipegang tunggal oleh wasit -- kecuali kalau wasit adalah entitas maha sempurna tentunya.
Setiap pekan kita bisa melihat sendiri bagaimana wasit sering melakukan kesalahan. Murni bukan kesengajaan. Entah karena lalai, tidak melihat dengan jelas, pemain yang dengan cerdik berpura-pura, dan berbagai sebab lain.
Para komentator sepakbola ataupun penonton televisi diuntungkan oleh replay yang kadang sampai berulang-ulang dengan sudut beragam, tetapi wasit tidak punya kemewahan itu dan harus mengambil keputusan seketika. Betapa susahnya.
Bayangkan perumpamaan ekstrim ini. Dalam pertandingan penentuan degradasi Premier League seorang wasit memutuskan tendangan penalti di detik terakhir dan menjadi penentu kemenangan-kekalahan sebuah tim. Kalau keputusan itu benar tidak akan menjadi masalah. Atau menjadi masalah tetapi dengan dimensi yang lain. Tetapi bagaimana kalau salah?
Satu keputusan salah itu jutaan poundsterling nilainya. Juga bisa merupakan garis tipis dipecat tidaknya seorang manajer, hengkangnya para pemain bagus dari klub bersangkutan, menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi mereka yang terlibat menjalankan kehidupan keseharian klub. Belum lagi berbicara dampak psikologis kolektif bagi pendukung yang kalah secara tidak adil.
Para sejarawan sepakbola tentu tidak akan melupakan babak kualifikasi Piala Dunia 1970 antara Honduras dan El Savador tahun 1969. Ketegangan antara dua negara bertetangga di Amerika Tengah yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu akhirnya menjadi perang terbuka, setelah kedua negara ini bertanding sepakbola. Bayangkan peran dan perasaan wasit di pertandingan itu.
Dengan taruhan yang begitu besar dan kemampuan wasit yang sangat terbatas tetapi keputusannya sangat amat menentukan, tak pelak wasit mudah sekali menjadi sasaran tembak ketidakpuasan. Terutama sekali pemain, manajer, dan penonton, serta tak ketinggalan komentator sepakbola, tidak pernah berberat tangan untuk menghujat mereka. Itulah sebabnya kampanye agar wasit dan keputusannya dihormati 100 persen adalah sebuah absurditas konyol.
Para manajer mengatakan mereka akan menghormati wasit kalau wasit bisa konsisten dan sempurna. Ini kekonyolan dalam bentuk lain. Ini seperti menuntut manusia untuk selalu sempurna setiap saat. Padahal apakah pemain juga bersikap sempurna kalau mereka sering berpura-pura menjatuhkan diri, menarik kaos lawan, dan memprotes keputusan yang sudah sempurna? Apakah manajer juga bersikap sempurna ketika menerima keputusan wasit yang salah tetapi menguntungkan timnya, tetapi begitu dirugikan segala macam perbendaharaan makian mereka keluarkan?
Masih beruntung menjadi wasit di Eropa atau di Inggris ini, coba kalau di Indonesia. Bukan sekadar hujatan yang diterima, bogem mentah dan ketupat bengkulu pun sering dilontarkan. Mengerikan. (dtc)
Sabtu, 20 September 2008
Ronny Pattinasarany, Kapten yang Penuh Kasih
ERA 70-an hingga 80-an, sepakbola Indonesia menjadi salah satu raksasa di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia. Orang yang ikut melambungkan nama tim merah-putih itu adalah Ronny Pattinasary.
Pria berdarah Ambon yang lahir di Makassar itu menorehkan namanya sebagai sosok pemain papan atas. Buktinya, dia bukan cuma mendapat kehormatan untuk memakai ban kapten tim nasional, namun dirinya juga menyabet beberapa trofi.
Penghargaan yang diperolehnya seperti Pemain All Star Asia tahun 1982, Olahragawan Terbaik Nasional tahun 1976 dan 1981, Pemain Terbaik Galatama tahun 1979 dan 1980, dan meraih Medali Perak SEA Games 1979 dan 1981.
Menjadi bintang sepakbola merupakan obsesi Ronny sejak dia masih kanak-kanak. Karena mendapat dukungan semangat dari ayahnya, Nus Pattinasarany, yang dikenal sebagai pesepakbola tangguh di era sebelum kemerdekaan, dia pun bisa mewujudkan impiannya tersebut.
Perjalanan kariernya sebagai pemain bola dimulai bersama PSM Junior pada tahun 1966. Tak perlu waktu lama bagi pria kelahiran 9 Februari 1949 itu untuk menembus level senior tim PSM Makassar, karena dua tahun berselang dia sudah masuk skuad "Ayam Jantan dari Timur".
Dari Makassar, Ronny hengkang ke klub Galatama, Warna Agung, yang dibelanya dari tahun 1978 hingga 1982. Nah, di sinilah kariernya mulai menanjak sehingga dia pun terpilih masuk timnas--dan jadi kapten--, serta menyabet beberapa penghargaan.
Tahun 1982, Ronny hengkang ke klub Tunas Inti. Hanya setahun di sana, dia pun memutuskan untuk gantung sepatu dan beralih profesi sebagai pelatih.
Ada beberapa klub yang pernah merasakan sentuhan tangannya, yakni Persiba Balikpapan, Krama Yudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Petrokimia Gresik, Makassar Utama, Persitara Jakarta Utara dan Persija Jakarta. Namun prestasi terbaik yang pernah ditorehkan Ronny adalah ketika menangani Petrokimia Putra.
Pasalnya, dia sukses mempersembahkan beberapa trofi bagi klub tersebut yang saat ini sudah bubar dan melebur dalam Gresik United (GU). Ya, Ronny membawa Petrokimia meraih Juara Surya Cup, Petro Cup, dan runner-up Tugu Muda Cup.
Tapi kariernya sebagai pelatih tak berlangsung lama karena dia dihadapkan pada sebuah dilema: tetap berkarier atau memikirkan masa depan anak-anaknya. Ya, dua putranya yang sedang terjerat dunia narkoba perlu bimbingan sang ayah agar bisa keluar dari masalah tersebut.
Akhirnya, Ronny memutuskan untuk berhenti sebagai pelatih demi mengapteni keluarganya. Dia meletakkan jabatannya sebagai pelatih Petrokimia dan konsentrasi menyembuhkan anak keduanya, Henry Jacques Pattinasarany yang akrab disapa Yerry, yang menjadi pecandu narkoba jenis putaw--waktu itu Yerry baru berusia 15 tahun.
"Saya dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit, sepak bola atau anak. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan sepakbola meski saat itu tidak tahu apa yang akan saya lakukan," kenang Ronny.
Setelah Yerry sembuh, badai kembali menghampiri keluarga Ronny. Kali ini putra pertamanya, Robenno Pattrick Pattinasarany yang akrab dipanggil Benny, juga jatuh ke jurang yang sama. Bahkan Benny lebih lagi karena memakai narkoba di luar rumah.
Meskipun demikian, Ronny tetap sabar dan penuh kasih membimbingnya. Dia menganggap semua itu sebagai cobaan sekaligus teguran. Menurut pria yang memperistrikan Stella Maria tersebut, selama berkarier di dunia sepakbola, dia merasa menjauh dari sang Pencipta.
Setelah kesadarannya itu muncul, Ronny pun mendekatkan dirinya lagi kepada Tuhan. Benny dan Yerry pun dituntun untuk lebih mendalami kehidupan rohani dan usaha tersebut berhasil, karena kehidupan keluarganya kembali seperti dulu.
Dari sana, Ronny kembali terjun ke sepakbola, dunia yang membesarkan namanya. Meskipun bukan sebagai pelatih lagi, namun dia aktif dalam kegiatan yang mendukung kemajuan sepakbola Indonesia, seperti menjadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komdis (2006) dan Tim Monitoring Timnas (2007).
Tapi kinerja Ronny yang termasuk perokok berat itu terganggu oleh penyakit yang menggerogotinya. Dia terserang kanker hati sehingga sejak bulan Desember 2007, Ronny harus menjalani pengobatan di Guangzhou dan sudah empat kali ke kota yang terletak di China tersebut.
Sayang, Tuhan berkehendak lain. Meskipun segala upaya telah dilakukan, tetapi maut akhirnya menjemput pria yang gencar melawan narkoba tersebut dan keluarganya pun telah ikhlas melepas kepergian sang pahlawan.
Pada Jumat (19/9) sekitar pukul 13.30 WIB, Ronny meregang nyawa di Rumah Sakit Omni Medical Center Pulomas, Jakarta Timur. Jenazahnya akan disemayamkan di rumah duka, Jalan Pulomas Blok III B/9, Pulomas, Jakarta Timur, selanjutnya akan dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada Minggu (21/9).
Selamat jalan Ronny, jasamu kan selalu dikenang dan perjuangan hidupmu semoga bisa menjadi inspirasi untuk kemajuan sepakbola Indonesia. (LOU)
Profil singkat
Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: 9 Februari 1949
Karier
- Pemain: PSM Junior (1966)
PSM Makassar 1968-1976
Timnas (1979-1985)
Warna Agung (1978-1982)
Tunas Inti (1982)
- Pelatih: Persiba Balikpapan
Krama Yudha Tiga Berlian
Persita Tangerang
Petrokimia Gresik
Makassar Utama
Persitara Jakarta Utara
Persija Jakarta
- Lain-lain: Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007
Prestasi
- Pemain: Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)
- Pelatih: Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup
Pria berdarah Ambon yang lahir di Makassar itu menorehkan namanya sebagai sosok pemain papan atas. Buktinya, dia bukan cuma mendapat kehormatan untuk memakai ban kapten tim nasional, namun dirinya juga menyabet beberapa trofi.
Penghargaan yang diperolehnya seperti Pemain All Star Asia tahun 1982, Olahragawan Terbaik Nasional tahun 1976 dan 1981, Pemain Terbaik Galatama tahun 1979 dan 1980, dan meraih Medali Perak SEA Games 1979 dan 1981.
Menjadi bintang sepakbola merupakan obsesi Ronny sejak dia masih kanak-kanak. Karena mendapat dukungan semangat dari ayahnya, Nus Pattinasarany, yang dikenal sebagai pesepakbola tangguh di era sebelum kemerdekaan, dia pun bisa mewujudkan impiannya tersebut.
Perjalanan kariernya sebagai pemain bola dimulai bersama PSM Junior pada tahun 1966. Tak perlu waktu lama bagi pria kelahiran 9 Februari 1949 itu untuk menembus level senior tim PSM Makassar, karena dua tahun berselang dia sudah masuk skuad "Ayam Jantan dari Timur".
Dari Makassar, Ronny hengkang ke klub Galatama, Warna Agung, yang dibelanya dari tahun 1978 hingga 1982. Nah, di sinilah kariernya mulai menanjak sehingga dia pun terpilih masuk timnas--dan jadi kapten--, serta menyabet beberapa penghargaan.
Tahun 1982, Ronny hengkang ke klub Tunas Inti. Hanya setahun di sana, dia pun memutuskan untuk gantung sepatu dan beralih profesi sebagai pelatih.
Ada beberapa klub yang pernah merasakan sentuhan tangannya, yakni Persiba Balikpapan, Krama Yudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Petrokimia Gresik, Makassar Utama, Persitara Jakarta Utara dan Persija Jakarta. Namun prestasi terbaik yang pernah ditorehkan Ronny adalah ketika menangani Petrokimia Putra.
Pasalnya, dia sukses mempersembahkan beberapa trofi bagi klub tersebut yang saat ini sudah bubar dan melebur dalam Gresik United (GU). Ya, Ronny membawa Petrokimia meraih Juara Surya Cup, Petro Cup, dan runner-up Tugu Muda Cup.
Tapi kariernya sebagai pelatih tak berlangsung lama karena dia dihadapkan pada sebuah dilema: tetap berkarier atau memikirkan masa depan anak-anaknya. Ya, dua putranya yang sedang terjerat dunia narkoba perlu bimbingan sang ayah agar bisa keluar dari masalah tersebut.
Akhirnya, Ronny memutuskan untuk berhenti sebagai pelatih demi mengapteni keluarganya. Dia meletakkan jabatannya sebagai pelatih Petrokimia dan konsentrasi menyembuhkan anak keduanya, Henry Jacques Pattinasarany yang akrab disapa Yerry, yang menjadi pecandu narkoba jenis putaw--waktu itu Yerry baru berusia 15 tahun.
"Saya dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit, sepak bola atau anak. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan sepakbola meski saat itu tidak tahu apa yang akan saya lakukan," kenang Ronny.
Setelah Yerry sembuh, badai kembali menghampiri keluarga Ronny. Kali ini putra pertamanya, Robenno Pattrick Pattinasarany yang akrab dipanggil Benny, juga jatuh ke jurang yang sama. Bahkan Benny lebih lagi karena memakai narkoba di luar rumah.
Meskipun demikian, Ronny tetap sabar dan penuh kasih membimbingnya. Dia menganggap semua itu sebagai cobaan sekaligus teguran. Menurut pria yang memperistrikan Stella Maria tersebut, selama berkarier di dunia sepakbola, dia merasa menjauh dari sang Pencipta.
Setelah kesadarannya itu muncul, Ronny pun mendekatkan dirinya lagi kepada Tuhan. Benny dan Yerry pun dituntun untuk lebih mendalami kehidupan rohani dan usaha tersebut berhasil, karena kehidupan keluarganya kembali seperti dulu.
Dari sana, Ronny kembali terjun ke sepakbola, dunia yang membesarkan namanya. Meskipun bukan sebagai pelatih lagi, namun dia aktif dalam kegiatan yang mendukung kemajuan sepakbola Indonesia, seperti menjadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komdis (2006) dan Tim Monitoring Timnas (2007).
Tapi kinerja Ronny yang termasuk perokok berat itu terganggu oleh penyakit yang menggerogotinya. Dia terserang kanker hati sehingga sejak bulan Desember 2007, Ronny harus menjalani pengobatan di Guangzhou dan sudah empat kali ke kota yang terletak di China tersebut.
Sayang, Tuhan berkehendak lain. Meskipun segala upaya telah dilakukan, tetapi maut akhirnya menjemput pria yang gencar melawan narkoba tersebut dan keluarganya pun telah ikhlas melepas kepergian sang pahlawan.
Pada Jumat (19/9) sekitar pukul 13.30 WIB, Ronny meregang nyawa di Rumah Sakit Omni Medical Center Pulomas, Jakarta Timur. Jenazahnya akan disemayamkan di rumah duka, Jalan Pulomas Blok III B/9, Pulomas, Jakarta Timur, selanjutnya akan dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada Minggu (21/9).
Selamat jalan Ronny, jasamu kan selalu dikenang dan perjuangan hidupmu semoga bisa menjadi inspirasi untuk kemajuan sepakbola Indonesia. (LOU)
Profil singkat
Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: 9 Februari 1949
Karier
- Pemain: PSM Junior (1966)
PSM Makassar 1968-1976
Timnas (1979-1985)
Warna Agung (1978-1982)
Tunas Inti (1982)
- Pelatih: Persiba Balikpapan
Krama Yudha Tiga Berlian
Persita Tangerang
Petrokimia Gresik
Makassar Utama
Persitara Jakarta Utara
Persija Jakarta
- Lain-lain: Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007
Prestasi
- Pemain: Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)
- Pelatih: Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup
Selasa, 16 September 2008
Tunas Muda Ikut Turnamen Tri Lateral di Australia
TIM SSB Tunas Muda akan mewakili Kota Kupang mengikuti turnamen sepakbola persahabatan Tri Lateral mulai 16 September di Nothern Terithory-Australia. Pertandingan akan diikuti tiga kota, yakni Kota Kupang, Nothern Terithory Australia dan Dili, Timor Leste. Demikian dikatakan pelatih SSB Tunas Muda, Anton Kia di Kupang, Minggu (14/9/2008).
Menurut Anton Kia, tim yang berangkat ke Australia, Senin (15/9/2008), terdiri dari 18 orang pemain yang rata-rata berumur di bawah 18 tahun dan enam ofisial. Menurutnya, tim ini dijemput langsung dengan pesawat dari Nothern Terithory, Australia dari Bandara El Tari Penfui-Kupang.
Menurut Anton, seluruh biaya perjalanan pulang dan pergi, termasuk penginapan dan makan minum ditanggung oleh Pemerintah Nothern Terithory, Australia.
Anton berharap tim yang baru saja mengikuti turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup itu bisa tampil memuaskan. "Kita harapkan anak-anak tidak demam lapangan sehingga dapat bermain dengan baik. Kami berangkat bukan lagi atas nama SSB Tunas Muda, tapi sudah mewakili Indonesia. Saya sudah minta anak-anak agar tampil dengan baik, sehingga nantinya kalau kalah akan kalah dengan terhormat," ujarnya.
Tim SSB Tunas Muda terdiri dari Iwan Hendrawan, Ridho Seda, Defrid Tenis, Agung Mone Ke, Itho Pennu, Rama Meno, Boy Leo Leba, Berens Benyamin, Putra Fernandez, Bony Nenotek, Ichsan Valendra, Alsan Sanda, Fancy Abraham, Jevon Adu, Dedo Soares, Mad Kikong, Yantang Tangko dan Johanis Lebao. Bertindak sebagai manajer adalah Nova Bessy. (eko)
Menurut Anton Kia, tim yang berangkat ke Australia, Senin (15/9/2008), terdiri dari 18 orang pemain yang rata-rata berumur di bawah 18 tahun dan enam ofisial. Menurutnya, tim ini dijemput langsung dengan pesawat dari Nothern Terithory, Australia dari Bandara El Tari Penfui-Kupang.
Menurut Anton, seluruh biaya perjalanan pulang dan pergi, termasuk penginapan dan makan minum ditanggung oleh Pemerintah Nothern Terithory, Australia.
Anton berharap tim yang baru saja mengikuti turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup itu bisa tampil memuaskan. "Kita harapkan anak-anak tidak demam lapangan sehingga dapat bermain dengan baik. Kami berangkat bukan lagi atas nama SSB Tunas Muda, tapi sudah mewakili Indonesia. Saya sudah minta anak-anak agar tampil dengan baik, sehingga nantinya kalau kalah akan kalah dengan terhormat," ujarnya.
Tim SSB Tunas Muda terdiri dari Iwan Hendrawan, Ridho Seda, Defrid Tenis, Agung Mone Ke, Itho Pennu, Rama Meno, Boy Leo Leba, Berens Benyamin, Putra Fernandez, Bony Nenotek, Ichsan Valendra, Alsan Sanda, Fancy Abraham, Jevon Adu, Dedo Soares, Mad Kikong, Yantang Tangko dan Johanis Lebao. Bertindak sebagai manajer adalah Nova Bessy. (eko)
Selasa, 19 Agustus 2008
Beckham Lawan Kriminal Berpisau

BINTANG sepakbola Inggris yang kini bermain di LA Galaxy, David Beckham, prihatin dengan kriminal anak muda yang makin marak di Inggris. Bersama Rio Ferdinand (Manchester United) dan David James (Portsmouth), mereka menyatakan melawan kriminal tersebut dan aktif dalam kampanye memeranginya.
Pada Senin (18/8), ketiga bintang Inggris itu ikut aktif dalam launching kampanye pemerintah memerangi kriminal di jalan-jalan Inggris. Kampanye itu mengambil moto "I Doesn't Have to Happen" atau "Ini tak Perlu Terjadi".
Kampanye itu digelar pemerintah Inggris, menyusul maraknya kejahatan jalanan di negeri itu. Sabtu (16/8), seorang pemuda berumur 17 tahun menjadi korban penusukan di jalan London Selatan. Dia menjadi remaja ke-23 yang tewas karena penusukan maupun penembakan di jalan selama tahun 2008 ini. Sebuah kasus yang cukup banyak, karena terjadi dalam enam bulan.
Sekretaris Negara Inggris, Jacqui Smith dan ketiga pemain sepakbola tersebut, menyatakan perlawanannya terhadap kriminal. Ketiga pemain itu akan menjadi bagian dari tim yang akan melawan Republik Ceko dalam partai persahabatan di Stadion Wembley, Rabu (20/8).
Menurut Jacqui, sejak Juni 2008 saja, sudah ada 2.500 anak muda yang ditangkap. Sebanyak 1.600 di antaranya membawa pisau dan merencanakan melakukan kriminal di jalanan dengan pisaunya. Juga tercatat sudah ada 55.000 orang yang dicegat di jalanan dengan ancaman pisau.
Beckham yang tumbuh di Leytonstone, London Timur, dalam temu pers mengatakan, dia pernah menyaksikan betapa mengerikan dan menyedihkannya akibat dari kejahatan dengan penusukan ketika dia masih muda.
"Ketika aku masih 13 tahun, saudara dari salah satu teman baikku hampir menandatangani kontrak sebagai pemain Leyton Orient. Suatu sore, dia berjalan-jalan dan tiba-tiba terjadi perkelahian. Dia ditusuk tepat di punggungnya dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit," kenangnya.
"Itu terjadi sudah begitu lama. Saat itu, saya tahu betapa sedih dan berdukanya temanku dan keluarganya. Sebagai orangtua, tentu Anda tak mengharapkan salah satu anak Anda yang sedang pergi ke sekolah di suatu pagi, kemudian tak akan kembali lagi. Kampanye memerangi kriminal di jalanan ini sangat penting. Kami, sebagai para pemain sepakbola, berharap bisa membantu kampanye itu," jelas Beckham.
"Kami punya suara dan suara kami akan didengar para remaja dan pemuda. Sangat penting bagi kami untuk terlibat dalam kampanye ini. Sangat penting bahwa kita percaya kejahatan itu bisa dikurangi atau diakhiri," lanjutnya.
David James setuju dengan pendapat itu. Sebagai orang tua, dia juga merasa khawatir dengan keadaan di jalanan. "Aku ppunya tiga anak yang tinggal di London. Jika sedang di London kemudian keluar untuk berpesta, ini tak akan masalah jika kami tidak terlambat pulang. Saat ini, jika anak Anda keluar, pasti ada kekhawatiran besar jika mereka pulang dengan keadaan teruka atau malah lebih buruk lagi," kata David James.
"Ketika kami sedang tumbuh, kami langsung terjun di dunia olahraga. Sehingga, hidup kami tak membosankan. Sekarang ini, banyak anak-anak yang merasa bosan. Saya kira, ini awal masalah kriminal tersebut," jelas James.
Rio Ferdinand juga pernah memiliku pengalaman menyedihkan. Rekan sekolahnya di Peckham, Stephen Lawrence, tewas akibat kejahatan di jalanan pada 1993. Maka, dia sangat antusias ketika pemerintah Inggris mengadakan kampanye memerangi kriminal jalanan.
"Hukuman berat juga sangat penting. Jika seseorang yang melakukan kejahatan dihukum satu atau dua tahun yang akan menyita masa mudanya, maka mereka akan berpikir dua kali untuk membawa pisau," jelasnya.
Sementara itu Sekretaris Negara Jacqui Smith menambahkan, "Beberapa anak muda mungkin berpikir dengan membawa pisau mereka merasa agak aman. Faktanya, justru sebaliknya yang terjadi. Jika Anda membawa pisau, ada risiko akan menggunakannya atau justru akan terkena olehnya."
"Hal itu tak perlu terjadi. Kesedihan akibat kejahatan di jalanan juga tak perlu terjadi. Sehingga, semua keluarga tak perlu hidup dalam ketakutan," tambahnya. (AP)
Pada Senin (18/8), ketiga bintang Inggris itu ikut aktif dalam launching kampanye pemerintah memerangi kriminal di jalan-jalan Inggris. Kampanye itu mengambil moto "I Doesn't Have to Happen" atau "Ini tak Perlu Terjadi".
Kampanye itu digelar pemerintah Inggris, menyusul maraknya kejahatan jalanan di negeri itu. Sabtu (16/8), seorang pemuda berumur 17 tahun menjadi korban penusukan di jalan London Selatan. Dia menjadi remaja ke-23 yang tewas karena penusukan maupun penembakan di jalan selama tahun 2008 ini. Sebuah kasus yang cukup banyak, karena terjadi dalam enam bulan.
Sekretaris Negara Inggris, Jacqui Smith dan ketiga pemain sepakbola tersebut, menyatakan perlawanannya terhadap kriminal. Ketiga pemain itu akan menjadi bagian dari tim yang akan melawan Republik Ceko dalam partai persahabatan di Stadion Wembley, Rabu (20/8).
Menurut Jacqui, sejak Juni 2008 saja, sudah ada 2.500 anak muda yang ditangkap. Sebanyak 1.600 di antaranya membawa pisau dan merencanakan melakukan kriminal di jalanan dengan pisaunya. Juga tercatat sudah ada 55.000 orang yang dicegat di jalanan dengan ancaman pisau.
Beckham yang tumbuh di Leytonstone, London Timur, dalam temu pers mengatakan, dia pernah menyaksikan betapa mengerikan dan menyedihkannya akibat dari kejahatan dengan penusukan ketika dia masih muda.
"Ketika aku masih 13 tahun, saudara dari salah satu teman baikku hampir menandatangani kontrak sebagai pemain Leyton Orient. Suatu sore, dia berjalan-jalan dan tiba-tiba terjadi perkelahian. Dia ditusuk tepat di punggungnya dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit," kenangnya.
"Itu terjadi sudah begitu lama. Saat itu, saya tahu betapa sedih dan berdukanya temanku dan keluarganya. Sebagai orangtua, tentu Anda tak mengharapkan salah satu anak Anda yang sedang pergi ke sekolah di suatu pagi, kemudian tak akan kembali lagi. Kampanye memerangi kriminal di jalanan ini sangat penting. Kami, sebagai para pemain sepakbola, berharap bisa membantu kampanye itu," jelas Beckham.
"Kami punya suara dan suara kami akan didengar para remaja dan pemuda. Sangat penting bagi kami untuk terlibat dalam kampanye ini. Sangat penting bahwa kita percaya kejahatan itu bisa dikurangi atau diakhiri," lanjutnya.
David James setuju dengan pendapat itu. Sebagai orang tua, dia juga merasa khawatir dengan keadaan di jalanan. "Aku ppunya tiga anak yang tinggal di London. Jika sedang di London kemudian keluar untuk berpesta, ini tak akan masalah jika kami tidak terlambat pulang. Saat ini, jika anak Anda keluar, pasti ada kekhawatiran besar jika mereka pulang dengan keadaan teruka atau malah lebih buruk lagi," kata David James.
"Ketika kami sedang tumbuh, kami langsung terjun di dunia olahraga. Sehingga, hidup kami tak membosankan. Sekarang ini, banyak anak-anak yang merasa bosan. Saya kira, ini awal masalah kriminal tersebut," jelas James.
Rio Ferdinand juga pernah memiliku pengalaman menyedihkan. Rekan sekolahnya di Peckham, Stephen Lawrence, tewas akibat kejahatan di jalanan pada 1993. Maka, dia sangat antusias ketika pemerintah Inggris mengadakan kampanye memerangi kriminal jalanan.
"Hukuman berat juga sangat penting. Jika seseorang yang melakukan kejahatan dihukum satu atau dua tahun yang akan menyita masa mudanya, maka mereka akan berpikir dua kali untuk membawa pisau," jelasnya.
Sementara itu Sekretaris Negara Jacqui Smith menambahkan, "Beberapa anak muda mungkin berpikir dengan membawa pisau mereka merasa agak aman. Faktanya, justru sebaliknya yang terjadi. Jika Anda membawa pisau, ada risiko akan menggunakannya atau justru akan terkena olehnya."
"Hal itu tak perlu terjadi. Kesedihan akibat kejahatan di jalanan juga tak perlu terjadi. Sehingga, semua keluarga tak perlu hidup dalam ketakutan," tambahnya. (AP)
Kamis, 14 Agustus 2008
PROKLAMASI LIGA INGGRIS: INI APA GUNANYA?

MANUSIA ditakar dan dibobot dari apa yang dapat dihasilkan dari dirinya, atau manusia pada dasarnya produsen, kata filsuf Yunani Aristoteles. Karl Marx bersorak kemudian berujar bahwa dalam "hantu kapitalisme" ada budak yang bekerja dan ada pemilik modal yang menindas.
Baik dalam kapitalisme maupun marxisme tersimpan kegilaan serentak kerinduan manusia untuk mencecap pembebasan dengan mengusung syahadat: ini apa gunanya? Ini bukan urut-urutan sejarah dari aras pemikiran sosial abad lalu. Ini juga bukan peta hubungan antara pemilik modal dan buruh atau budak. Ini proklamasi dari obsesi manusia yang ingin memerdekakan diri. Ruang pembebasannya yakni Liga Inggris yang siap bergulir pada Minggu (17/8/2008) waktu setempat. Publik pecinta bola dunia merayakan pesta pembebasan, pesta pemerdekaan.
Publik siap menggenggam tiket prestasi, sedangkan klub-klub elite Liga Inggris siap menyajikan pesona dari "olah bola sejarah". Manchester United, Chelsea, Liverpool dan Arsenal memeragakan taktik, mendemonstrasikan strategi di lapangan dengan mengerahkan seluruh kerjasama lini yang apik.
Buahnya, produktivitas gol, tujuannya, trofi Liga Inggris. Kredonya: kami datang, kami bertanding, kami menang. Publik mendulang makna pencerahan apa dari proklamasi Liga Inggris? Jawabnya satu saja, yakni nilai guna. Tunggu dulu, karena jawaban itu tidak kebal kritik.
Buktinya filsuf Jerman Jurgen Moltmann menghancurkan setiap upaya untuk memberi batasan yang serba baku dan serba kaku bagi makna nilai guna dari bola sejarah. Dalam laga kehidupan manusia, nilai guna bukan satu-satunya. Dalam laga bola, ada kegembiraan spontan, jauh dari kepura-puraan, mewarnai setiap capaian prestasi. Ini pembebasan yang sejati dari proklamasi Liga Inggris.
Amati dan cermati saja apa yang didemonstrasikan oleh Liverpool dan Arsenal yang pekan ini berkutat dengan iming-iming gengsi. Kedua tim elite Inggris itu tengah bersibuk dengan fase penyisihan Liga Champions. Manchester United bersemangat mempertahankan gelar, sementara Chelsea berambisi menembus nomor satu di liga domestik, demikian diwartakan Reuters.
Warta bernas dikumandangkan oleh arsitek Liverpool Rafael Benitez. Pelatih asal Spanyol itu mengatakan, "Saya mendengar sorak sorai dari publik pecinta Liverpool. Kami bersiap untuk Liga Champions. Ini perkembangan negatif karena kami tidak mendulang pemain yang selama ini kami incar. Situasinya sangatlah berbeda. Kami memiliki pemain yang baru saja kembali dari sejumlah pertandingan internasional di musim panas ini dan laga Olimpiade Beijing. Kami memiliki pemain muda berkualitas."
Berkah dari Liga Inggris nyatanya membawa pembebasan bagi para pemain dari Eropa Timur. Lasykar dari Eropa Timur mendulang sukses, meraup pundi poundsterling. Kocek mereka sesak dengan memanfaatkan ramainya lalu lintas legiun asing di Liga Premier. Mereka merasakan makna pembebasan. Para petinggi klub mengincar pemain yang selama ini piawai menempati lini pertahanan.
Contohnya, pemain Kroasia Slaven Bilic tampil sebagai figur pujaan saat dirinya tiba di West Ham pada 1996. Begitu pula dengan Igor Stimac yang meghabiskan empat musim kompetisi dengan segudang kesan saat membela Derby pada 1995. Pemain Serbia Dejan Stefanovic begitu populer bagi publik Sheffield Wednesday dan Portsmouth.
David Suker, striker asal Kroasia menunjukkan taji dengan menyarangkan sepuluh gol dalam dua musim kompetisi ketika bermain bagi Arsenal dan West Ham.
Meski pemain sayap Rumania Ilie Dumi Ilie Dumitrescu dan pemain depan Florin Raducioiu tidak juga bersinar. Striker Ukrainia Serhiy Rebrov bersua dengan kekecewaan saat bermukim di Tottenham.
Mantan striker Dynamo Kyiv Andriy Shevchenko boleh dibilang tidak mampu berbuat banyak di Chelsea. Bahkan playmaker Slovenia Milenko Acimovic dicampakan dari Tottenham. Inilah logika bola: tidak menyumbang prestasi, bersiaplah hengkang.
Ada uang, ada gol, ini syahadat yang dikumandangkan saat pemain merayakan perasaan syukur di katedral yang bernama stadion. Publik berucap, kami sudah mengeluarkan sejumlah uang, silakan pemain memberi yang aneka atraksi terbaik.
Publik berteriak, bebaskan kami dari himpitan hidup dengan sepakbola. Untuk tidak mengecewakan penonton, Liga Inggris mensyaratkan bahwa para pemain perlu memiliki fisik kuat, mental tangguh. Fisik serupa banteng, mental sejenis gladiator. Yang diperlukan sekarang, bukan seremonial sarat gegap gempita upacara, tetapi jawaban atas pertanyaan, ini apa gunanya?
Liga Inggris memerlukan pemain yang menempati posisi bek tengah. Para pemain dari Balkan seperti Bilic dan Stimac memenuhi syarat itu karena bermodalkan fisik tangguh dan teknik sepakbola mumpuni. Bagaikan refrain dalam sebuah lagu, manajer sekelas Sir Alex Ferguson mengolah dan mengembangan nada-nada dasar sepakbola Inggris.
Bos Manchester United itu kemudian memanggil dan mengandalkan Nemanja Vidic yang disebut-sebut sebagai pemain bertahan yang sejatinya mampu bertahan, demikian diwartakan AFP.
Ferguson memaknai proklamasi Liga Inggris bahwa sepakbola Inggris memerlukan pemain-pemain bertahan. Ini jawaban manajer asal Skotlandia atas proklamasi, bahwa ini apa gunanya?
Niko Kranjcar, playmaker Kroasia yang pernah bermain bersama Dinamo Zagreb kemudian Hajduk Split, dan kini berlaga bagi Portsmouth mengatakan, "Peran saya di Portsmouth dan di tim nasional terbilang hampir sama. Ini berbeda ketika saya bermain di Dinamo dan Hajduk. Saya berada di belakang para striker. Dengan begitu saya dapat mendukung operasi para pemain depan untuk menciptakan gol ke gawang lawan."
Kranjcar bukan tanpa usaha. Ia merevolusi diri dari pakem 3-4-1-2 atau 4-3-1-2 yang umumnya diterapkan dalam sepakbola di negeri Balkan, dengan pola lima gelandang.
Di laga Piala Eropa, baik Spanyol maupun Jerman tampak ampuh menerapkan resep 4-2-3-1. Arus utama sepakbola Inggris ini mulai ditangkap dan diterapkan oleh pelatih asal Spanyol Juande Ramos yang kini mengadu nasib di Tottenham. Ia seakan mewakili gerbong Spanyol yang siap berekspansi di Liga Inggris. Ada juga nama Xavi Fernandez.
Apakah Liga Premier bakal menjadi ajang proklamasi bagi para pemain asal Eropa Timur dan Spanyol? Ya, karena ketrampilan teknik, ketangguhan fisik dan kelihaian meramu selaksa teknik umumnya ditunjukan oleh pemain dan pelatih Eropa Timur dan Spanyol. Mereka memetik sukses karena memegang petuah filosofis, ini apa gunanya?
Proklamasi bernada beda dikumandangkan oleh Ferguson. Sukses membawa United menyabet gelar Liga Inggris dan juara di laga Liga Champions, Fergie melayangkan pujian kepada Rio Ferdinand. "Rio kini jadi bek tengah yang terbaik di dunia.
Penampilannya membawa pesona unik karena memberi contoh kepada pemain lain. Ia mampu merespons bola yang bergulir ke lini pertahanan. Pemain depan lawan banyak kali berhitung. Ia pemain luar biasa, meski usianya sudah 30 tahun. Pengalamannya segudang."
Kini Ferguson sedang menyibukkan diri dengan menempa lini depan United. Ia menggarap Carlos Tevez, Ryan Giggs dan Nani, sementara Wayne Rooney tengah berjuang keluar dari serangan virus sekembalinya dari tur ke Nigeria. Cristiano Ronaldo pun belum pulih dari cedera engkel, sedangkan Louis Saha belum juga fit. United juga tengah menyambut kembalinya Gary Neville.
United telah memaknai proklamasi Liga Inggris dengan kerja keras. Para pemain Eropa Timur dan Spanyol menangkap nuansa sejati proklamasi Liga Premier, yang tidak melulu mempertanyakan kegunaan, tetapi menyodok kesadaran publik bahwa sepakbola memuat pertanyaan reflektif, bahwa untuk sebuah perdamaian diperlukan perubahan; untuk sebuah pembebasan diperlukan pemerdekaan dari segala keterasingan. Pembebasan untuk revolusi nurani, ini proklamasi dari Liga Inggris.
Bagaimana mungkin manusia yang kini tengah terperangkap kepura-puraan dapat memerangi keterasingan dirinya itu bagi orang lain? Lebih baik mengobati diri sendiri dulu, ketimbang terus melukai orang lain dengan melontarkan berbagai pidato kosong dan berbagai aktivitas palsu.
Sejatinya proklamasi Liga Inggris berbunyi: bagaimana orang bisa keluar dari lingkaran setan kekerasan, apabila kekerasan diperangi dengan kekerasan, seperti diterapkan dalam sebuah revolusi? Jangan terperosok ke jurang verbalisme dan aktivisme, ini warta reflektif dari laga bola. (**)
Selasa, 15 April 2008
Mandiri boyong piala bergilir Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2005
MANDIRI FC memboyong piala bergilir invitasi Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup I
setelah mengalahkan QFC BTN Kolhua 1-0 di babak final di Stadion
Oepoi-Kupang, Kamis (8/9) petang. Gol tunggal Mandiri dipersembahkan kapten
kesebelasan, Pieter Fomeni.
Pertandingan antara Mandiri melawan QFC yang disaksikan lebih dari 5.000
penonton berlangsung menarik. Di luar dugaan, QFC yang didukung ribuan
suporternya memaksa lini belakang Mandiri pontang-panting menghalau bola.
Tanpa beban, anak-anak QFC mengajak lawannya bermain terbuka. Absennya
libero kawakan, Lambert Kadju akibat akumulasi kartu kuning cukup
mempengaruhi soliditas lini belakang Mandiri.
Us dan Mad Ivan terpaksa melakukan sapu bersih untuk menahan serbuan QFC.
Namun, tidak hadirnya salah seorang strikernya, Meku membuat lini depan QFC
kurang bergigi. Dalman yang menggantikan Meku kurang kompak berduet dengan
Vicky. Di babak pertama, Vicky seharusnya bisa mencetak gol kalau dia tidak
terlalu lama memainkan bola.
Mandiri yang menurunkan for-masi terbaiknya berusaha meng-atur ritme
permainan 2x45 menit tersebut. Berkumpulnya para pemain sayap di tengah
membuat mereka kesulitan melewati pertahanan Petrus Lisnahan dkk yang
berlapis. Fanus Patipelohi yang menyerang lewat sayap lebih sering memainkan
bola sendirian. Jarang ia memberikan umpan kepada Zulkifly Umar.
Pieter Fomeni yang bertugas sebagai pengatur serangan pada pertandingan ini
bermain cemerlang. Terhitung dua kali umpan matangnya seharusnya bisa diubah
Zulkifly maupun Fanus menjadi gol. Namun, Dody Lisnahan yang berdiri dingin
di bawah mistar gawangnya selalu berhasil memetik bola.
Serangan beruntun Mandiri baru membuahkan hasil tiga menit menjelang turun
minum. Menerima umpan lambung dari Adi Here, Pieter yang masuk dari lini
kedua berhasil lolos dari jebakan offside Petrus Lisnahan. Pieter yang
pantas disebut sebagai man of the match pada pertandingan final ini dengan
mudah menyontek bola ke gawang Dody Lisnahan.
Gol tersebut disambut histeris ribuan pendukung Mandiri yang memadati tribun
bagian kiri stadion. Sebaliknya penonton QFC yang mengenakan seragam
merah-merah hanya terpana seolah-olah tidak percaya dengan gol itu.
Kedudukan 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua, pertandi-ngan yang dipandu Wasit Her-man Wila dibantu Yaya
Huru dan Ferdinand Takoy itu tetap berlangsung ketat. QFC BTN tak
henti-hentinya menekan la-wannya yang lebih diunggulkan. Sejumlah
pergantiaan pemain dilakukan kedua tim.
Lima belas menit menjelang bubar, Pelatih QFC BTN, Nof-rianto Lisnahan terus
memberi-kan instruksi dari tepi lapangan agar pemainnya tidak menurun-kan
tempo pertandingan. Hasil-nya cukup bagus karena perta-hanan Mandiri sempat
kedodor-an menghadapi mobilitas Edi Atolan dan serbuan Vicky. Namun,
tumpulnya lini depan QFC membuat kiper Mandiri, Ronald Mukhtar dengan mudah
mengamankan gawangnya.
Mandiri FC sebenarnya bisa menambah gol kalau saja kerja sama lini depannya
berjalan apik. Kerja sama satu dua dari Pieter dan Zulkifly pada menit ke-76
nyaris membuahkan hasil. Namun, Fanus yang menerima umpan silang Pieter
terlanjur offside. Skor 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga akhir
pertandingan. Wasit Herman Willa sempat mengeluarkan tiga kartu kuning
masing-masing untuk Vicky Lisnahan (QFC BTN) dan dua kartu kuning bagi
pemain Mandiri, Gazali dan Nelson Sula. (eko)
Ferdinandus Atolan, Pemain terbaik
TAK ada yang menyangka kalau QFC BTN bakal bermain di final invitasi
sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup I 2005. Menempatkan diri sebagai
underdog dan targetnnya lolos ke delapan besar, mereka malah mampu
menyingkirkan tim-tim favorit lainnya.
Salah satu sosok di balik sukses QFC BTN adalah gelandang, Ferdinandus
Atolan. Kualitasnya memainkan bola pas-pasan. Namun kecerdasan, naluri serta
mobilitasnya di lapangan membuat playmaker sekelas Pieter Fomeni dan Bambang
Tokan harus angkat topi padanya. Dia tahu kapan harus memainkan bola, kapan
memberi umpan dan kapan mencetak gol. Dia pun bermain bersih. Jarang
mengasari lawan.
Tak salah kalau panitia me-nempatkan mahasiswa Fakultas Filasafat
Administrasi (FFA) Universitas Widya Mandira Ku-pang ini sebagai pemain
terbaik. "Luar biasa. Saya tidak pernah menyangka akan mendapat pre-dikat
sebagai pemain terbaik. Terima kasih kepada teman-teman di QFC yang
mendukung saya selama pertandingan," ujar bujangan kelahiran Atambua-Belu 7
Februari 1982 ini.
Edi, begitu dia biasa disapa tidak merasa dirinya sebagai yang terbaik. Ia
hanya ingin berbuat berbuat sesuatu untuk klub dengan bermain maksimal. Edi
sangat mengharapkan agar turnamen makin banyak digelar di Kupang sehingga
setelah mengalahkan QFC BTN Kolhua 1-0 di babak final di Stadion
Oepoi-Kupang, Kamis (8/9) petang. Gol tunggal Mandiri dipersembahkan kapten
kesebelasan, Pieter Fomeni.
Pertandingan antara Mandiri melawan QFC yang disaksikan lebih dari 5.000
penonton berlangsung menarik. Di luar dugaan, QFC yang didukung ribuan
suporternya memaksa lini belakang Mandiri pontang-panting menghalau bola.
Tanpa beban, anak-anak QFC mengajak lawannya bermain terbuka. Absennya
libero kawakan, Lambert Kadju akibat akumulasi kartu kuning cukup
mempengaruhi soliditas lini belakang Mandiri.
Us dan Mad Ivan terpaksa melakukan sapu bersih untuk menahan serbuan QFC.
Namun, tidak hadirnya salah seorang strikernya, Meku membuat lini depan QFC
kurang bergigi. Dalman yang menggantikan Meku kurang kompak berduet dengan
Vicky. Di babak pertama, Vicky seharusnya bisa mencetak gol kalau dia tidak
terlalu lama memainkan bola.
Mandiri yang menurunkan for-masi terbaiknya berusaha meng-atur ritme
permainan 2x45 menit tersebut. Berkumpulnya para pemain sayap di tengah
membuat mereka kesulitan melewati pertahanan Petrus Lisnahan dkk yang
berlapis. Fanus Patipelohi yang menyerang lewat sayap lebih sering memainkan
bola sendirian. Jarang ia memberikan umpan kepada Zulkifly Umar.
Pieter Fomeni yang bertugas sebagai pengatur serangan pada pertandingan ini
bermain cemerlang. Terhitung dua kali umpan matangnya seharusnya bisa diubah
Zulkifly maupun Fanus menjadi gol. Namun, Dody Lisnahan yang berdiri dingin
di bawah mistar gawangnya selalu berhasil memetik bola.
Serangan beruntun Mandiri baru membuahkan hasil tiga menit menjelang turun
minum. Menerima umpan lambung dari Adi Here, Pieter yang masuk dari lini
kedua berhasil lolos dari jebakan offside Petrus Lisnahan. Pieter yang
pantas disebut sebagai man of the match pada pertandingan final ini dengan
mudah menyontek bola ke gawang Dody Lisnahan.
Gol tersebut disambut histeris ribuan pendukung Mandiri yang memadati tribun
bagian kiri stadion. Sebaliknya penonton QFC yang mengenakan seragam
merah-merah hanya terpana seolah-olah tidak percaya dengan gol itu.
Kedudukan 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga turun minum.
Pada babak kedua, pertandi-ngan yang dipandu Wasit Her-man Wila dibantu Yaya
Huru dan Ferdinand Takoy itu tetap berlangsung ketat. QFC BTN tak
henti-hentinya menekan la-wannya yang lebih diunggulkan. Sejumlah
pergantiaan pemain dilakukan kedua tim.
Lima belas menit menjelang bubar, Pelatih QFC BTN, Nof-rianto Lisnahan terus
memberi-kan instruksi dari tepi lapangan agar pemainnya tidak menurun-kan
tempo pertandingan. Hasil-nya cukup bagus karena perta-hanan Mandiri sempat
kedodor-an menghadapi mobilitas Edi Atolan dan serbuan Vicky. Namun,
tumpulnya lini depan QFC membuat kiper Mandiri, Ronald Mukhtar dengan mudah
mengamankan gawangnya.
Mandiri FC sebenarnya bisa menambah gol kalau saja kerja sama lini depannya
berjalan apik. Kerja sama satu dua dari Pieter dan Zulkifly pada menit ke-76
nyaris membuahkan hasil. Namun, Fanus yang menerima umpan silang Pieter
terlanjur offside. Skor 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga akhir
pertandingan. Wasit Herman Willa sempat mengeluarkan tiga kartu kuning
masing-masing untuk Vicky Lisnahan (QFC BTN) dan dua kartu kuning bagi
pemain Mandiri, Gazali dan Nelson Sula. (eko)
Ferdinandus Atolan, Pemain terbaik
TAK ada yang menyangka kalau QFC BTN bakal bermain di final invitasi
sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup I 2005. Menempatkan diri sebagai
underdog dan targetnnya lolos ke delapan besar, mereka malah mampu
menyingkirkan tim-tim favorit lainnya.
Salah satu sosok di balik sukses QFC BTN adalah gelandang, Ferdinandus
Atolan. Kualitasnya memainkan bola pas-pasan. Namun kecerdasan, naluri serta
mobilitasnya di lapangan membuat playmaker sekelas Pieter Fomeni dan Bambang
Tokan harus angkat topi padanya. Dia tahu kapan harus memainkan bola, kapan
memberi umpan dan kapan mencetak gol. Dia pun bermain bersih. Jarang
mengasari lawan.
Tak salah kalau panitia me-nempatkan mahasiswa Fakultas Filasafat
Administrasi (FFA) Universitas Widya Mandira Ku-pang ini sebagai pemain
terbaik. "Luar biasa. Saya tidak pernah menyangka akan mendapat pre-dikat
sebagai pemain terbaik. Terima kasih kepada teman-teman di QFC yang
mendukung saya selama pertandingan," ujar bujangan kelahiran Atambua-Belu 7
Februari 1982 ini.
Edi, begitu dia biasa disapa tidak merasa dirinya sebagai yang terbaik. Ia
hanya ingin berbuat berbuat sesuatu untuk klub dengan bermain maksimal. Edi
sangat mengharapkan agar turnamen makin banyak digelar di Kupang sehingga
Senin, 04 Februari 2008
Timor Leste kalahkan PSKK
TIM Sekolah Sepakbola (SSB) Centro Treinamento Futebol Juvenil dari Dilli-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) berhasil mengalahkan PS Kota Kupang (PSKK) 2-0 dalam pertandingan persahabatan di lapangan Polda NTT, Minggu (3/2/2008). Dua gol Timor Leste diborong oleh kaptennya, Quinta.
Pertandingan yang dipimpin wasit Herman Willa itu berlangsung lamban. Berlumpurnya permukaan lapangan akibat hujan lebat, membuat pola permainan kedua tim tidak berkembang. Namun, belum genap lima menit pertandingan berlangsung, Quinta, meski mendapat pengawalan ketat dari libero PSKK, Hery Nua, dengan skill yang cukup tinggi berhasil menjebol gawang Donald.
Pertandingan selanjutnya sempat berlangsung imbang. Bahkan aksi-aksi dari Qadar Malik dan Ardiles Kana di depan beberapa kali sempat merepotkan pertahanan Timor Leste. Tak ayal, pelatihnya meminta pemainnya untuk memperkuat lini belakang sambil mengandalkan serangan balik. Strategi tersebut cukup berhasil. Karena, meski hanya mengandalkan Quinta seorang di depan, Leandro, Pinto dan Hery dibuat jatuh bangun untuk menghadangnya.
Sebaliknya, pertahanan Timor Leste yang dikawal berlapis menyulitkan Alderon maupun Ridwan yang mencoba masuk melalui sayap. Beberapa kalu tendangan bola mati pun yang diperoleh PSKK pun tidak membuahkan hasil. Terlena, PSKK justru kebobolan menjelang pertandingan berakhir. Quinta menujukan kualitasnya dengan tendangan lop yang sangat indah untuk membuat timnya pulang dengan kemenangan 2-0.
Sebelumnya dalam pertandingan dikelompok yunior, Kota Kupang yang diwakili SSB Tunas Muda pimpinan Anton Kia pun takluk 4-1. Jevon Adoe, Dentox dkk ternyata tak cukup punya stamina untuk bermain dalam guyuran hujan dan lumpur sehingga mudah didikte lawannya. (eko)
Pertandingan yang dipimpin wasit Herman Willa itu berlangsung lamban. Berlumpurnya permukaan lapangan akibat hujan lebat, membuat pola permainan kedua tim tidak berkembang. Namun, belum genap lima menit pertandingan berlangsung, Quinta, meski mendapat pengawalan ketat dari libero PSKK, Hery Nua, dengan skill yang cukup tinggi berhasil menjebol gawang Donald.
Pertandingan selanjutnya sempat berlangsung imbang. Bahkan aksi-aksi dari Qadar Malik dan Ardiles Kana di depan beberapa kali sempat merepotkan pertahanan Timor Leste. Tak ayal, pelatihnya meminta pemainnya untuk memperkuat lini belakang sambil mengandalkan serangan balik. Strategi tersebut cukup berhasil. Karena, meski hanya mengandalkan Quinta seorang di depan, Leandro, Pinto dan Hery dibuat jatuh bangun untuk menghadangnya.
Sebaliknya, pertahanan Timor Leste yang dikawal berlapis menyulitkan Alderon maupun Ridwan yang mencoba masuk melalui sayap. Beberapa kalu tendangan bola mati pun yang diperoleh PSKK pun tidak membuahkan hasil. Terlena, PSKK justru kebobolan menjelang pertandingan berakhir. Quinta menujukan kualitasnya dengan tendangan lop yang sangat indah untuk membuat timnya pulang dengan kemenangan 2-0.
Sebelumnya dalam pertandingan dikelompok yunior, Kota Kupang yang diwakili SSB Tunas Muda pimpinan Anton Kia pun takluk 4-1. Jevon Adoe, Dentox dkk ternyata tak cukup punya stamina untuk bermain dalam guyuran hujan dan lumpur sehingga mudah didikte lawannya. (eko)
Jumat, 01 Februari 2008
Dibuka Lebu Raya
SESUAI jadwal, turnamen futsal antar klub sek-Kota Kupang, Suzuki Flexi Platina Dispora Cup 2008, hari ini Sabtu (2/2/2008) akan dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur (Wagub) NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Usai pembukaan yang digelar di GOR Flobamora Oepoi Kupang, pukul 14.30 Wita tersebut, langsung dilanjutkan dengan pertandingan. Demikian penjelasan panitia pelaksana dari Mitra Sportindo Event Organizer, Abdul Muis dan Rury Amallo di Kupang, Jumat (1/2/2008).
"Terkait acara pembukaan ini, kami dari panitia tidak mengirim undangan tertulis kepada peserta karena saat pertemuan teknik semua sudah mengetahuinya. Untuk itu, kami harapkan semua bisa hadir lengkap dengan seragamnya, karena usai pembukaan langsung dilanjutkan dengan pertandingan. Tim yang tidak hadir sampai batas waktu yang sudah disepakati, kami anggap mengundurkan diri," tegas Abdul Muis.
Menurut Abdul Muis dan Amallo, acara pembukaan akan diramaikan dengan cheer leaders dari SMKN 1 Kupang dan pertandingan eksebisi antara tim SSB Centro Treinamento Futebol Juvenil Timor Leste melawan Platina A. Selain itu juga akan ada pertandingan eksebisi putri.
"Akan ada banyak hadiah door prize dari sponsor kami, yakni Suzuki, Flexi, Platina dan Dispora berupa helm, jaket, payung, hand phone flexi, flash disk, MP4 dan lainnya. Acara ini akan diikuti 119 klub sehingga akan sangat meriah," jelas Rury Amallo.
Secara terpisah, Pimpinan Platina Komputer, Melkisedek Lado Madi, Pimpinan Suzuki Kupang, Fredy Prijatna, Manejer Pemasaran PT Telkom Kupang, Tavip Jaya dan Kadisipora NTT, Drs. Muhammad Wongso, mengatakan saludnya atas antusiasme generasi muda Kota Kupang untuk ambil bagian dalam event ini. Futsal, kata mereka, ternyata menarik minat dan sangat digemari. Untuk itu, mereka bertekad untuk mensponsori event-event futsal berikutnya, kalau penyelenggaraan kali ini berakhir dengan sukses.
"Terkait acara pembukaan ini, kami dari panitia tidak mengirim undangan tertulis kepada peserta karena saat pertemuan teknik semua sudah mengetahuinya. Untuk itu, kami harapkan semua bisa hadir lengkap dengan seragamnya, karena usai pembukaan langsung dilanjutkan dengan pertandingan. Tim yang tidak hadir sampai batas waktu yang sudah disepakati, kami anggap mengundurkan diri," tegas Abdul Muis.
Menurut Abdul Muis dan Amallo, acara pembukaan akan diramaikan dengan cheer leaders dari SMKN 1 Kupang dan pertandingan eksebisi antara tim SSB Centro Treinamento Futebol Juvenil Timor Leste melawan Platina A. Selain itu juga akan ada pertandingan eksebisi putri.
"Akan ada banyak hadiah door prize dari sponsor kami, yakni Suzuki, Flexi, Platina dan Dispora berupa helm, jaket, payung, hand phone flexi, flash disk, MP4 dan lainnya. Acara ini akan diikuti 119 klub sehingga akan sangat meriah," jelas Rury Amallo.
Secara terpisah, Pimpinan Platina Komputer, Melkisedek Lado Madi, Pimpinan Suzuki Kupang, Fredy Prijatna, Manejer Pemasaran PT Telkom Kupang, Tavip Jaya dan Kadisipora NTT, Drs. Muhammad Wongso, mengatakan saludnya atas antusiasme generasi muda Kota Kupang untuk ambil bagian dalam event ini. Futsal, kata mereka, ternyata menarik minat dan sangat digemari. Untuk itu, mereka bertekad untuk mensponsori event-event futsal berikutnya, kalau penyelenggaraan kali ini berakhir dengan sukses.
SSB Timor Leste lawan PSKK
TIM Sekolah Sepakbola (SSB) Centro Treinamento Futebol Juvenil dari Dilli-Negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) akan melakukan pertandingan persahabatan melawan tim PS Kota Kupang (PSKK). Pertandingan yang akan digelar di lapangan Polda NTT, Minggu (2/2/2008) itu terdiri dari kelompok umur 12 dan 16 tahun.
Kontingen Timor Leste yang dipimpin Joao Pareira Da Silva diterima secara resmi oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) NTT, Drs. Muhammad Wongso yang diwakili Kasubdin Bina Olahraga, Drs. Herman Sagabara di ruang kerjanya, Jumat (1/2/2008). Menurut Herman, sesuai surat yang masuk ke Dispora NTT, seharusnya pertandingan persahabatan tersebut sudah digelar sejak Desember 2007 lalu. Namun, kata Herman, akibat berbagai kesibukan tim yang mendapat sponsor dari Korea Selatan (Korsel) itu, saat ini baru bisa datang ke Kupang.
"Kami berterima kasih kepada tim dari Timor Leste ini yang mau datang ke Kupang untuk pertandingan persahabatan. Kami mau minta maaf, karena seharusnya pertandingan ini digelar di Stadion Oepoi Kupang, namun karena masih dalam tahap pengerjaan lintasan yang belum selesai sejak tahun 2007 lalu, maka pertandingan ini akan digelar di Polda. Kami harapkan timd ari Timor Leste bisa memahami ini, karena kondisi Stadion Oepoi memang tidak bisa digunakan," jelas Sagabara.
Joao Pareira didampingi pelatihnya, Gaspar Pinto, yang ditemui di sela-sela latihan di lapangan Polda NTT, Jumat petang mengatakan bahwa pertandingan persahabatan tersebut adalah merupakan salah satu program try out dari Centro Treinamento Futebol Juvenil. SSB ini, kata Joao, selain melakukan ujicoba di Kupang juga saat yang sama satu timnya bermain di Denpasar-Bali.
Kontingen Timor Leste yang dipimpin Joao Pareira Da Silva diterima secara resmi oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) NTT, Drs. Muhammad Wongso yang diwakili Kasubdin Bina Olahraga, Drs. Herman Sagabara di ruang kerjanya, Jumat (1/2/2008). Menurut Herman, sesuai surat yang masuk ke Dispora NTT, seharusnya pertandingan persahabatan tersebut sudah digelar sejak Desember 2007 lalu. Namun, kata Herman, akibat berbagai kesibukan tim yang mendapat sponsor dari Korea Selatan (Korsel) itu, saat ini baru bisa datang ke Kupang.
"Kami berterima kasih kepada tim dari Timor Leste ini yang mau datang ke Kupang untuk pertandingan persahabatan. Kami mau minta maaf, karena seharusnya pertandingan ini digelar di Stadion Oepoi Kupang, namun karena masih dalam tahap pengerjaan lintasan yang belum selesai sejak tahun 2007 lalu, maka pertandingan ini akan digelar di Polda. Kami harapkan timd ari Timor Leste bisa memahami ini, karena kondisi Stadion Oepoi memang tidak bisa digunakan," jelas Sagabara.
Joao Pareira didampingi pelatihnya, Gaspar Pinto, yang ditemui di sela-sela latihan di lapangan Polda NTT, Jumat petang mengatakan bahwa pertandingan persahabatan tersebut adalah merupakan salah satu program try out dari Centro Treinamento Futebol Juvenil. SSB ini, kata Joao, selain melakukan ujicoba di Kupang juga saat yang sama satu timnya bermain di Denpasar-Bali.
Persap Alor kesulitan pemain
Main di Divisi II
ATURAN yang dikeluarkan oleh PSSI bahwa pemain yang bermain di Divisi II Liga Indonesia maksimal berusia 22 tahun membuat wakil NTT, Persap Alor kewalahan. Pasalnya, para pemain yang sudah didaftarkannya berusia di atas 22 tahun. Atas kesulitan ini, Persap Alor masih harus berkonsultasi dengan PSSI soal kejelasan tentang umur pemain.Ketua Persap, Drs. Abraham Maulaka yang ditemui di Kalabahi-Alor, Sabtu (19/1/2008) mengakui hal tersebut. Meski demikian, Maulaka mengatakan bahwa timnya siap bertarung di ajang nasional tersebut.Maulaka mengungkapkan, Persap telah mendapat surat dari PSSI untuk bertanding di Divisi II yang pertandingannya akan mulai dalam waktu dekat ini. Namun, kata Maulaka, Persap masih diperhadapkan dengan aturan mengenai batasan usia pemain yang oleh PSSI harus di bawah 22 tahun."Kita masih komunikasikan dulu dengan PSSI, karena nama-nama pemain ini sudah tercatat di PSSI. Yang jelasnya bagaimana. Ini kita harus mendapat jawaban dari PSSI, jangan sampai setelah kita kirim, pemain kita dianulir. Kalau memang tidak bisa, PSSI harus secepatnya berikan jawaban juga agar kita cepat lengkapi dengan pemain yunior yang ada," kata Maulaka.Menurut Maulaka, Persap sendiri tidak kekurangan stok pemain. Hal ini, kata Maulaka, karena tim yunior juga telah menunjukkan prestasi yang gemilang, baik untuk tingkat regional hingga ke ajang nasiona sehingga tinggal direkrut. Menyangkut persiapan tim, Maulaka mengatakan hanya dengan penyegaran saja karena para pemain telah menjalani pertandingan yang cukup panjang. Menyinggung soal dana, Maulaka mengatakan bahwa seharusnya setelah masuk Divisi II harus ada keterlibatan dari swasta yang mendukungnya. Namun karena ini belum nampak, kata Maulaka, pemerintah yang menalanginya tetapi masih dikaji lagi karena ada surat dari Mendagri yang menegaskan soal penggunaan dana dari APBD untuk biaya perserikatan. (oma)
ATURAN yang dikeluarkan oleh PSSI bahwa pemain yang bermain di Divisi II Liga Indonesia maksimal berusia 22 tahun membuat wakil NTT, Persap Alor kewalahan. Pasalnya, para pemain yang sudah didaftarkannya berusia di atas 22 tahun. Atas kesulitan ini, Persap Alor masih harus berkonsultasi dengan PSSI soal kejelasan tentang umur pemain.Ketua Persap, Drs. Abraham Maulaka yang ditemui di Kalabahi-Alor, Sabtu (19/1/2008) mengakui hal tersebut. Meski demikian, Maulaka mengatakan bahwa timnya siap bertarung di ajang nasional tersebut.Maulaka mengungkapkan, Persap telah mendapat surat dari PSSI untuk bertanding di Divisi II yang pertandingannya akan mulai dalam waktu dekat ini. Namun, kata Maulaka, Persap masih diperhadapkan dengan aturan mengenai batasan usia pemain yang oleh PSSI harus di bawah 22 tahun."Kita masih komunikasikan dulu dengan PSSI, karena nama-nama pemain ini sudah tercatat di PSSI. Yang jelasnya bagaimana. Ini kita harus mendapat jawaban dari PSSI, jangan sampai setelah kita kirim, pemain kita dianulir. Kalau memang tidak bisa, PSSI harus secepatnya berikan jawaban juga agar kita cepat lengkapi dengan pemain yunior yang ada," kata Maulaka.Menurut Maulaka, Persap sendiri tidak kekurangan stok pemain. Hal ini, kata Maulaka, karena tim yunior juga telah menunjukkan prestasi yang gemilang, baik untuk tingkat regional hingga ke ajang nasiona sehingga tinggal direkrut. Menyangkut persiapan tim, Maulaka mengatakan hanya dengan penyegaran saja karena para pemain telah menjalani pertandingan yang cukup panjang. Menyinggung soal dana, Maulaka mengatakan bahwa seharusnya setelah masuk Divisi II harus ada keterlibatan dari swasta yang mendukungnya. Namun karena ini belum nampak, kata Maulaka, pemerintah yang menalanginya tetapi masih dikaji lagi karena ada surat dari Mendagri yang menegaskan soal penggunaan dana dari APBD untuk biaya perserikatan. (oma)
Langganan:
Postingan (Atom)