Minggu, 19 Oktober 2008

Oepoli, Negeri Madu

Oleh Aris Ninu

AKHIR
Agustus 2008 saya pulang ke Pulau Timor, tempat kelahiran saya. Mengunjungi keluarga dan sanak keluarga. Saya juga mengunjungi kakak saya yang bertugas sebagai pastor paroki di Oepoli-Amfoang Timur, Kabupaten Kupang.

Ini kali pertama saya pergi ke Oepoli. Sebelum ini nama Oepoli dan Amfoang saya dengar hanya dari cerita orang.

Oepoli berada di perbatasan antara Kabupaten TTU dan Distrik Oecusi-Timor Leste. Oepoli berada di Kecamatan Amfoang Timur. Di pantai utara Pulau Timor. Oepoli juga berdekatan dengan Pulau Batek, salah satu pulau terluar.

Penduduk Oepoli sangat ramah. Kehidupan mereka setiap hari masih tradisional. Mereka kebanyakan warga eks pengungsi dari Oecusi. Mereka telah menyatu karena perkawinan dan masih memiliki hubungan darah dengan warga Oecusi, Timor Leste.

Ada apa di Oepoli? Ternyata tempat ini memiliki potensi yang luar biasa. Oepoli memiliki sejuta harapan dan perubahan bagi masyarakatnya jika potensi itu diolah dan dikembangkan.

Namun Oepoli jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Kupang. Untuk ke Oepoli kita harus melewati ruas jalan yang cukup mengerikan. Ada dua jalur jalan ke sana, yaitu jalur darat dan jalur laut. Jalur darat bisa melalui Kabupaten TTU, bisa juga melalui Sulamu, Kabupaten Kupang.

Perjalanan saya ke Oepoli kali ini melalui Kabupaten TTU, melintasi Kecamatan Miomafo Barat-Eban terus ke Aplal lalu Naekake. Melewati dua kali besar yang airnya mengalir dari Gunung Mutis dan menyaksikan pemandangan gersang dan kering di perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Menyaksikan dan merasakan kondisi jalan yang berlubang dan tidak beraspal. Menyaksikan anak-anak bertelanjang dada sepanjang jalan. Menyaksikan pula banyak lahan tandus dan kritis yang dijadikan kebun oleh warga.

Semua pemandangan itu sungguh menyedihkan. Banyak hal yang kurang diperhatikan dan disentuh oleh pemerintah. Masyarakat dibiarkan berpikir dan membangun daerahnya tanpa ada perhatian.

Wilayah Eban yang punya potensi malah jalannya rusak berat. Apalagi Naekake dan Aplal, tentunya lebih memprihatinkan lagi.

Di Oepoli lain lagi. Saya menyaksikan anak-anak bermain di sepanjang jalan, di depan rumah-rumah beratap daun lontar.Ada yang lupa mengurusi mereka. Memasuki daerah Oepoli, saya menyaksikan dedaunan berserakan dan pohon-pohon penuh debu.

Oepoli memang masih jauh dari perhatian pemerintah. Daerah ini punya potensi madu yang kekhasannya telah dibawa ke mana-mana. Madu Amfoang telah dikenal berkhasiat, tapi orang Amfoang tidak pernah menyadarinya.

Banyak kalangan menganggap Oepoli jauh. Tapi, apa yang tidak ada di Oepoli? Oepoli punya lahan pertanian luas. Punya potensi laut. Punya potensi alam yang luar biasa. Oepoli penuh madu, tapi tidak ada yang memperhatikan madu tersebut agar berguna bagi masyarakat.

Martinus Goa, warga Oepoli, menuturkan, potensi laut di Oepoli cukup menjanjikan, tapi banyak yang belum disentuh. Tidak ada nelayan.

Pemerintah Kabupaten Kupang hendaknya melirik dan mendekat ke Amfoang Timur dan daerah pinggiran di Pulau Timor. Sarana jalan ke sana menyedihkan. Pelayanan kesehatan, masalah pertanian belum terselesaikan di Oepoli hingga kini. Siapa yang bertanggung jawab? Masyarakat telah berusaha untuk mandiri, tapi kalau tanpa campur tangan pemerintah dan pihak lain, sia-sialah upaya tersebut. (aris79_timor@yahoo.co.id)

Tidak ada komentar:

SYALOM