Jumat, 08 Agustus 2008

NTT Peringkat 18 Porcanas XIII 2008


HINGGA pertandingan dan perlombaan, Kamis (7/8/2008), NTT berada di posisi 18 klasemen sementara perolehan medali Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) XIII 2008. NTT meraup tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. Demikian diinformasikan Wakil Sekretaris Umum KONI Propinsi NTT, Eduard Setty, dari Samarinda, Kalimantan Timur.

"Pada perlombaan hari ini (kemarin) Lambertus dan Damianus tidak berhasil merebut medali di nomor lompat jauh. Demikian juga dengan Victor Haning dari cabang catur. Dengan demikian, semua atlet NTT sudah selesai bertanding dan akan membawa pulang tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu," jelasnya.

Tiga medali emas NTT semuanya disabet Simplisius Paji Abe dari cabang atletik nomor lari 100 dan 200 meter serta nomor lompat jauh. Medali perak direbut Maria Kolloh dari nomor lari 400 meter, sedangkan perunggu oleh Tanty Yosefa juga dari nomor lari 400 meter putri tunarungu.

Dalam Porcanas XIII 2008 ini, NTT membawa sepuluh atlet, yakni dari cabang atletik, Simplisius Paji Abe, Damianus Kia Masan, Lambert Sabon Blaon, Sarlin Amalo, Maria Kolloh, Tanty Yosefa, Heidi Julia Rafael dan Alexander Amtiran. Dari cabang catur, Victor Haning dan Samuel Killa.

"Atlet NTT akan kembali ke Kupang tanggal 10 Agustus ini. Mereka akan langsung disambut Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay dan semua pengurus KONI di Bandara El Tari Kupang. Belum ada keputusan berapa dan berupa apa bonus yang diberikan kepada para peraih medali, tapi yang jelas pasti akan ada bonus yang diberikan," kata Setty. (eko)

Kalau Aparat Bermain Mata.....


Dari Forum Silaturahmi Media Massa Anti Narkoba

Oleh Kanis Jehola

JIDAT Karni Ilyas mengkerut saat membedah materi berjudul "Membangun komitmen media massa sebagai sarana informasi edukatif Program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba)."

Pemimpin Redaksi TVOne itu mempertanyakan mengapa kasus penyalahgunaan narkoba di negeri ini semakin hari makin banyak. Para pelakunya tidak jera. Bahkan kuantitas dan kualitas kasus ini mengalami pertumbuhan yang signifikan. Padahal, dari berita yang dilansir media massa, baik cetak maupun elektronik, hampir setiap hari terjadi penangkapan para pengguna narkoba.

Keheranan Karni ini bukannya tanpa alasan. Sebagaimana dilaporkan GATRA dalam edisi No.32 Tahun XIV, 19-25 Juni 2008, pada tahun 1980-an, Indonesia hanya dianggap sebagai daerah transit narkoba menuju wilayah peredarannya di Australia dan Eropa. Namun sejak tahun 2000, Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu produsen sekaligus sebagai pasar besar narkoba. Julukan ini mulai melekat setelah ditemukan sejumlah pabrik narkoba beroperasi di tanah Air. Temuan menggemparkan terjadi tahun 2002 ketika polisi menggerebek pabrik ekstasi di Cikande, Tangerang milik Ang Kim Soei yang diperkirakan telah memproduksi 27 juta butir ekstasi.

Perkembangan kasus ini mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, grafik perkembangan kasus ini memang meningkat sangat tajam. Sekretaris BNN, Drs. H Sri Soegiarto dalam laporannya pada forum silaturahmi media massa anti narkoba di Jakarta, 10 Juli 2008, mengatakan, pada tahun 2003 terjadi 7.140 kasus dengan jumlah tersangka 9.717 orang. Pada tahun 2007, jumlahnya melonjak menjadi 22.630 kasus dengan jumlah tersangka 36.169 orang. Dan, pada periode Januari - April 2008 telah terungkap 9.096 kasus dengan 11.960 orang tersangka.

Ini baru kasus yang berhasil diungkap dan muncul ke permukaan. Jika ditelusuri, kasus penyalahgunaan narkoba ini ibarat gunung es. Yang berada di bawah permukaan/tersembunyi jauh lebih banyak dari yang muncul ke permukaan. "Diperkirakan kasus peredaran narkoba yang terungkap baru sekitar 10 persen dari yang sesungguhnya," kata Ketua Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat), Henry Yosodiningrat. Bahkan BNN memperkirakan penderitanya sudah melampaui angka empat juta jiwa. Secara nasional setiap tahun 15.000 jiwa melayang oleh barang terlarang ini, atau rata-rata 40 orang per hari menemui ajal.

Barang bukti yang berhasil disita juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Narkotika jenis ganja pada tahun 2006 berjumlah 1.019.307 batang, dan tahun 2007 berjumlah 1.828.803 batang atau naik 79 persen. Heroin tahun 2006 berjumlah 11.902 gram, dan tahun 2007 berjumlah 14.691 gram atau naik 23 persen. Sementara psikotropika jenis ekstasi tablet yang berhasil disita berjumlah 466.907 tablet pada tahun 2006 meningkat menjadi 1.195.305 tablet atau naik 156 persen pada tahun 2007.

Celakanya lagi, berdasarkan kelompok usia, yang menjadi penyalahguna terbesar adalah usia 16 - 29 tahun, yakni sebanyak 123.584 orang pada periode 2003 hingga April 2008. Berdasarkan klasifikasi pendidikan, 13.551 penyalahguna merupakan siswa/i sekolah dasar (SD), 105.401 penyalahguna merupakan siswa/I SLTP dan SLTA serta 4.632 penyalahguna berasal dari perguruan tinggi.

Trend data yang dibeberkan ini cukup mengejutkan. Karena yang menjadi mayoritas penyalahguna narkoba adalah para generasi muda yang jelas-jelas merupakan tulang punggung bangsa sebagai generasi penerus. Bila kondisi tersebut tidak segera ditangani dengan segera, maka para generasi muda Indonesia di masa yang akan datang akan menjadi generasi yang terbelenggu oleh narkoba. Kondisi ini tentu akan sangat merugikan kita semua dan bangsa Indonesia khususnya.

"Kalau seperti ini, buat apa ada BNN? Dan di polisi buat apa ada yang namanya direktur narkoba?" tanya Karni retoris sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Menurut Karni, salah satu penyebab meningkatnya grafik penyalahgunaan narkoba ini karena masyarakat Indonesia sendiri tidak perduli terhadap masalah narkoba ini. "Kondisi ini sangat dirasakan dalam lima tahun terakhir ini. Masyarakat Indonesia baru perduli kalau anaknya mengkonsumsi narkoba," kata Karni.

Tapi bukan ini masalah satu-satunya. Salah satu masalah serius yang terjadi selama ini ialah kurang komitnya aparat penyidik dalam bertindak. "Saya pahami penyelidikan dan penyidikan polisi terhadap kasus narkoba harus rahasia, tapi harus ada yang buka agar publik tahu. Saya punya pengalaman, ketika dengar polisi tangkap pelaku narkoba, saya lalu minta wartawan meliput. Tapi ketika wartawan pergi, pelaku tidak bisa dilihat/diambil gambarnya karena sudah diamankan/ditutup- tutupi oleh polisi. Ini harus jelas, kapan tutup. Semua kejadian itu perlu publik tahu," kata Karni.

Dugaan keterlibatan aparat dalam peredaran narkoba begitu kuat. Aparat diduga ikut bermain mata dengan para pengedar narkoba, dan atau menjadi pengedar narkoba itu sendiri. Kasus yang melibatkan Kapolsek Bogor Utara, Jawa Barat, AKP Endang Rudiannes, atau Briptu Irwanto di Polda NTT yang kini menjadi tersangka karena kasus shabu-shabu merupakan contoh nyata. Dan, berdasarkan penelusuran Indonesia Police Watch (IPW), tahun 2000 saja tercatat 398 personil polisi terlibat narkoba, terdiri 358 pemakai, 27 pengedar, dan sisanya menjadi beking. Pangkat mereka ada yang perwira menengah, perwira pertama dan bintara.

Apa yang diharapkan jika aparat seperti ini? "Ini sudah keterlaluan. Aparat yang mestinya melindungi bangsa ini dari narkoba kok malah terjerumus menjadi pecandu dan pengedar narkoba," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane. (*)

Kamis, 07 Agustus 2008

Dicoba, Langsung Ketagihan


Dari Forum Silaturahmi Media Massa Anti Narkoba

Oleh Kanis Jehola

HARI Kamis, 10 Juli 2008 pukul 10.00 Wita. Ruangan Puri Agung Lantai 2 Hotel Sahid Jaya Jakarta di Jalan Jenderal Sudirman tampak sepi. Padahal, puluhan wartawan peserta kegiatan forum silaturahmi media massa anti narkoba, baik dari media massa cetak maupun elektronik lagi duduk mengitari meja masing-masing di ruangan itu. Mereka mengisi waktu dengan bercerita tentang berbagai hal sambil menunggu datangnya para petinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) dan para nara sumber.

Lima belas menit setelah jadwal acara dimulai, para petinggi BNN dan para nara sumber datang. Mereka duduk di tempat yang sudah disediakan sembari menunggu acara dimulai. Tak lama setelah para petinggi BNN dan nara sumber datang, acara seremoni pun dimulai satu persatu.

Suasana sepi di ruangan yang terkesan sedikit remang itu langsung berubah menjadi ramai tatkala pembawa acara membacakan nama Sandra Dewi tampil berdiri di depan ruangan. Tepuk tangan para peserta yang kebanyakan wartawan bergemuruh di ruang full AC itu ketika Sandra Dewi yang mengenakan baju biru langit dan jaket hitam dari BNN itu berdiri dari tempat duduknya menuju ke depan ruangan. "Inilah duta anti narkoba," kata pembawa acara memperkenalkan Sandra Dewi. Sandra Dewi pun tersenyum sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala kepada para peserta.

Tampilnya artis pendatang baru terfavorit 2008 yang bernama lengkap Monica Nichole Sandra Dewi Gunawan ini hanya untuk melakukan salah satu acara seremoni pemasangan atribut kampanye duta anti narkoba oleh Kapus Cegah Lakhar BNN, Drs. Anang Iskandar, S.H, M.H.

Kedatangan Sandra Dewi saat itu pun tidak disia-siakan oleh para wartawan. Selesai pemasangan atribut, para wartawan langsung mengerubuti Sandra Dewi untuk berwawancara tentang pandangan dan rencana kerjanya sebagai duta anti narkoba ke depan. Tak cuma itu, ada yang memanfaatkan moment tersebut untuk foto bersama.

***
MENGAPA Sandra Dewi disambut dengan tepuk tangan membahana? Ya, jujur diakui bahwa hari itu merupakan moment berharga bagi peserta yang sebagian besar berasal dari daerah. Kalau selama ini mereka hanya melihat kecantikan seorang Sandra Dewi di layar televisi, hari itu sosok Sandra Dewi yang mereka lihat di layar televisi benar-benar menyata, melihat secara langsung.

Tapi bukan itu sebetulnya yang membuat sambutan terhadap Sandra Dewi menghangat. Hal paling penting ialah karena Sandra Dewi yang dilantik menjadi Duta Anti Narkoba oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, 26 Juni 2008 lalu, merupakan seorang selebriti. Profesi yang selama ini dikenal dengan gaya hidup glamor, hura-hura, yang sering berkiblat dengan urusan asmara dan perceraian, serta sering terlibat dalam kasus narkoba. Tampilnya Sandra Dewi sebagai Duta Anti Narkoba dinilai sebagai suatu kondisi yang sangat kontradiktif dengan kehidupan kebanyakan selebriti saat ini yang selalu dirundung masalah, termasuk masalah narkoba.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa cerita tentang selebriti akhir-akhir ini hampir tidak bisa dilepaspisahkan dengan cerita tentang perceraian dan narkoba. Konon, makin tenar seorang selebriti justru makin dekat dengan narkoba. Atau sebaliknya, urusan asmara dan narkoba bisa menjadi seorang selebriti makin tenar. Sebab, hampir semua media massa memberitakan berbagai hal tentang selebriti ini.

Sebut saja beberapa artis terkenal seperti Hengky Tornado, Roy Marthen, Ahmad Albar, Margono alias Gogon, Arri Laso, Doyok, serta beberapa artis lainnya. Citra Hengky Tornado sebagai aktor laga yang kerap memerani kejahatan buyar ketika ia dikhabarkan terlibat narkoba tahun 2000.

Yang paling mengagetkan juga adalah Roy Marthen. Selama ini Roy yang dianggap sebagai sosok yang lurus, seperti perannya dalam sejumlah sinetron yang dibintanginya, dan kiprahnya yang aktif di dunia agama ikut menguatkan citranya ternyata telah dicoreng narkoba. Duakali Roy menghuni hotel prodeo karena kasus yang sama.

Begitu juga dengan sosok Sudarmaji alias Doyok yang lucu juga tercoreng ketika dirinya kedapatan mengonsumsi 0,5 gram shabu-shabu pada pertengahan tahun 2000. Tak berapa lama, rekannya sesama komedian Barata Nugraha alias Polo juga mengalami nasib yang sama. Bahkan Polo kembali diciduk tahun 2004 karena kasus yang sama. Juga Gogon masuk bui Agustus tahun 2007 karena terbukti memiliki shabu dan ekstasi.

Tidak hanya di Indonesia. Di luar negeri, narkoba ibarat sahabat kedua para selebriti. Daftar nama pengguna narkoba yang berasal dari artis Hollywood saja sangat panjang. Sebut saja George Clooney. Menurutnya, pemakaian barang haram itu membuatnya percaya diri. "Dia seperti pakaian untuk sebuah pesta. Tapi saya tak pernah sampai ke pesta itu," katanya sebagaimana dikutip GATRA. Demikian juga penyanyi Amy Winehouse, Pete Doherty. Keduanya juga terjerembab dalam dunia terlarang itu.

Selain para pengguna, ada juga selebriti yang tewas karena narkoba. Sebut saja Judy Garland, Marilyn Manroe, John Bonham (drummer Led Zeppelin), Brian Epstein (manajer The Beatles), Elvis Presley, hingga Anna Nicole Smith. Penyebab kematian mereka kebanyakan karena pemakaian obat-obatan yang melebihi dosis.

Menurut cerita para selebriti pengguna narkoba, kecanduan mereka pada barang terlarang itu mula-mula karena pemberian teman dan coba-coba untuk meningkatkan rasa percaya diri. "Rasanya kok enak," kata Doyok sebagaimana dikutip GATRA. Setelah coba-coba dan kecanduan langsung ketagihan. Dan setelah ketagihan dan mulai memiliki rasa ketergantungan mereka mulai merogo kocek sendiri untuk membelanjakan barang terlarang itu.

Lalu bagaimana dengan Sandra Dewi? Konon Sandra Dewi masih bersih. Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai duta anti narkoba karena Sandra Dewi dinilai sebagai sosok selebriti yang tidak dekat dengan narkoba. Sandra Dewi juga dinilai sebagai sosok yang konsen dan bisa mengkampanyekan anti narkoba. "Saya memang tidak suka narkoba. Lebih baik beli makanan daripada beli narkoba," kata Sandra Dewi.

Sandra Dewi yakin dirinya tidak akan terpengaruh selebriti lainnya menggunakan narkoba untuk meningkatkan gairah dan kepercayaan dirinya sebagai seorang selebriti, meskipun cerita tentang kedekatan selebriti dan narkoba akhir-akhir ini kian marak. Akankah kasus narkoba ini bisa diminimalisir dengan hadirnya Sandra Dewi, cs sebagai duta narkoba? (*)

Mengawetkan Mayat di Sumba

Pakai Kapur Sirih, Tembakau dan Daun Kom

Laporan Wartawati Pos Kupang Adiana Ahmad

KAUM bangsawan Sumba mempunyai tradisi untuk menyimpan mayat bertahun-tahun di rumah adat. Agar mayat tetap awet membutuhkan pangawet. Dewasa ini kebanyakan orang menggunakan zat pengawet kimia atau formalin. Bagi orang Sumba, formalin hanya merupakan tambahan dan baru dikenal dalam satu dasawarsa terakhir. Apa rahasia menyimpan mayat bertahun-tahun agar tidak bau?

Pos Kupang mencoba menggali rahasia para leluhur Sumba tersebut dari Ny. Rambu Ana Pura Woha. Menurut Rambu Ana, sebelum mengenal formalin, orang Sumba biasa menggunakan metode pengawetan tradisional. Pengawetan tradisonal itu bermacam-macam. Ada yang menggunakan kapur sirih dicampur tembakau atau daun teh. Tetapi, yang sering digunakan adalah kapur sirih dan tembakau. Untuk lebih bertahan lama, mayat ditambah daun bidara atau dalam bahasa setempat disebut daun kom. Ada juga yang hanya menyelimuti mayat dengan ratusan lembar kain adat. Menurut beberapa tokoh adat Sumba, kain adat Sumba yang menggunakan zat pewarna asli dari tumbuh-tumbuhan sudah mengandung pengawet alami. Jadi, bau mayat akan terserap oleh kain yang dibungkuskan pada jenazah.

Untuk pengawetan metode pertama, jelas Rambu Ana, dilakukan dengan cara menyiram kapur sirih di atas kain yang digunakan sebagai alas mayat atau pembungkus mayat. Setelah kain pertama yang ditabur kapur sirih dan tembakau, dilapisi lagi kain kedua. Kapur sirih dan tembakau ini yang akan menyerap bau, bahkan membuat jenazah kering. Setelah dibaringkan di atas lapisan yang ditabur kapur sirih, pusar jenazah ditutupi dengan cairan daun kom atau bidara yang sudah dikunyah.

Tidak sembarang orang bisa mengunyah daun kom yang akan ditaruh di pusar jenazah. Jika yang meninggal adalah lelaki tua, maka daun kom harus diambil dan dikunyah oleh perempuan muda. Cara mengambil daun kom juga menggunakan mulut seperti kambing. Daun kom itu dikunyah sampai halus dan diletakan di pusar jenazah. Demikian juga sebaliknya jika yang meninggal perempuan tua, maka yang mengambil dan mengunyah daun kom atau bidara adalah lelaki muda.

Bagaimana jika yang meninggal adalah lelaki muda atau perempuan muda? Rambu Ana mengatakan, yang mengambil dan mengunyah daun kom adalah lelaki atau perempuan tua. Daun kom ini, jelas Rambu Ana, mampu mengempiskan perut jenazah atau mayat. Rambu Ana mengatakan, secara logika memang tidak ada hubungannya. Namun, pengalaman telah membuktikan metode tersebut berhasil.

Cara itu selama ini sering digunakan untuk mengawetkan mayat. Jika ingin awet lebih lama, bisa juga ditambahkan dengan air garam dan cuka nira. Caranya, rebus cuka nira, campur dengan garam sebanyak-banyaknya setelah itu diminumkan ke mayat dengan cara mengangkat kepala jenazah kemudian menuangkan air cuka campur garam ke dalam mulut mayat, kepala jenazah dibaringkan lagi. Ini dilakukan berulang-ulang hingga satu gelas air cuka campur garam habis. Namun sebelum air garam cuka diminumkan ke jenazah, jenazah harus dalam keadaan bersih. Yang dimaksud bersih, katanya, seluruh kotoran yang ada dalam perut jenazah harus dikeluarkan semua. Cara ini ternyata mampu untuk mengawetkan jenazah.

Rambu Ana mengatakan, tidak semua orang menggunakan cara ini karena saat ini lebih mudah menggunakan formalin yang mudah didapatkan di apotek. Beberapa tokoh masyarakat Sumba, di antaranya, Umbu Mbani Awang, mengatakan, selain dengan kapur sirih dan tembakau, pengawetan mayat bisa dilakukan dengan tepung kopi. Caranya sama seperti kapur sirih dan tembakau.

Untuk mayat almarhum Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, memang menggunakan formalin. Perlakuan terhadap jenazah almarhum ketika penguburan juga akan berbeda mengingat almarhum sudah menganut Kristen Protestan yang taat.

Jika bangsawan Sumba yang masih menganut kepercayaan merapu, jelas Umbu Mbani Awang, selama disemayamkan sampai dikuburkan, jenazah dibuat seperti orang duduk atau posisi seperti saat dalam kandungan atau rahim. Jenazah tersebut kemudian disandarkan di tiang mayat yang ada di Uma Bokul atau rumah mayat. Posisi mayat dalam kubur juga, seperti posisi ketika dalam rahim. Jadi mayat bukan dibaringkan, tetapi dalam posisi duduk.

Jenazah Ir. Umbu Mehang Kunda telah dimasukkan dalam peti jenazah pada Rabu (6/8) sekitar pukul 03.00 Wita. Beberapa orang yang ditemui mengaku, pengisian jenazah ke dalam peti selama ini memang dilakukan antara pukul 03.00 Wita sampai pukul 05.00 Wita.

Salah seorang kerabat almarhum, mengatakan, tradisi ini sebenarnya bukan tradisi murni orang Sumba karena orang asli Sumba yang menganut kepercayaan marapu, mayatnya tidak pernah dimasukkan dalam peti. Tradisi ini, katanya sebenarnya tradisi dari luar. Apa artinya, ia sendiri mengaku tidak tahu. (*)

Mengenal Rumah Mayat di Sumba


BANGUNAN rumahnya berbentuk panggung dan model atapnya berbentuk joglo. Sama dengan rumah adat Sumba yang lain. Rumah ini dibangun khusus untuk menyimpan mayat (jenazah).

Rumah hanya terdiri dari satu ruangan los, tanpa sekat. Hanya di bagian dekat pintu masuk dibagi dua untuk memisahkan tempat mayat dengan tempat tidur papanggang (penjaga mayat).

Selama jenazah disemayamkan, papanggang yang berjumlah enam orang akan berada di tempat itu, Mereka tidak ke mana-mana. Makan minum juga di dalam ruangan itu.

Rumah mayat atau rumah besar, ditopang empat tiang induk di bagian tengah. Satu tiang diantaranya merupakan tempat hamayang. Di antara empat tiang itu ada dapur tanah. Di atas dapur ada para-para dua susun. Para-para ini yang dipakai untuk menyimpan berbagai kebutuhan papanggang. Dapur yang ada berfungsi sebagai tempat memasak makan para papanggang.

Selain empat tiang itu, ada dua tiang lainnya yang berada di samping kiri dari empat tiang utama. Satu dari dua tiang tersebut merupakan tiang penyandar mayat.

Dua tiang ini yang memisahkan ruang utama dengan ruang tempat gong dan pemukul gong. Tempat pemukul gong letaknya lebih tinggi sekitar 10 cm dari ruang utama. Sementara tempat para papanggang berada di dekat pintu masuk.

Para papanggang ini adalah hamba atau orang dalam rumah dari para bangsawan atau keturunan raja di kampung itu. Papanggang terdiri dari enam orang, tiga perempuan dan tiga laki-laki.

Selain menjaga mayat selama disemayamkan di rumah besar, para papanggang ini mempunyai tugas tertentu saat penguburan, dimana mereka bertugas sebagai pengantar arwah dengan kostum yang disesuaikan dengan tugas masing-masing. Tiga papanggang laki-laki masing-masing bertugas sebagai penunggang kuda atau yang disebut kaliti njara, satu orang bertugas menggendong ayam atau lunggu manu, satu orang lainnya membawa siri pinang arwah atau halili kalumbut.

Sedangkan tiga orang perempuan bertugas untuk membawa siri pinang tetapi peruntukannya berbeda-beda. Satu perempuan sebagai tidung tubuk, yakni perempuan yang memakai topi daun dibalut kain merah.

Perempuan ini membawa sirih pinang untuk arwah yang meninggal mendampingi laki-laki halili kalumbut. Satu perempuan lagi bertugas membawa siri pinang di tempat yang ditenteng atau disebut yutu kapu, dan satu orang lainnya membawa siri pinang di dulang atau yang disebut tema kaba. Perempuan kedua dan ketiga ini membawa siri pinang untuk para pelayat.

Tata cara ini, menurut Umbu Mbani, yang akan dilakukan ketika penguburan jenazah almarhum Bupati Mehang Kunda.

Kampung Praiawang Rende terdiri dari delapan rumah tinggal, satu rumah besar dan satu rumah para dewa (uma ndewa) sebagai tempat sembahyang penganut kepercayaan Marapu.

Gong di rumah ini baru dibunyikan ketika minggu terakhir atau delapan hari terakhir menjelang penguburan jenazah yang ada di rumah besar.

Delapan rumah tinggal ini, kata Umbu Mbani, merupakan rumah delapan istri dari Raja Praiawang Rende. Almarhum Umbu Mehang Kunda, katanya, merupakan turunan dari istri pertama Raja Praiawang Rende. Karena itu rumah tinggalnya di kampung itu disebut Uma Jangga. (adiana ahmad)

Rabu, 06 Agustus 2008

Tunas Muda Punya Kebanggaan


HARUS diakui bahwa SSB Tunas Muda telah ikut merubah wajah sepakbola di Kota Kupang, bahkan mungkin di NTT. Hampir sebagian besar klub di Kota Kupang, kini memiliki pemain-pemain jebolan SSB Tunas Muda. Tak heran kalau sang pelatih sekaligus manajer tim, Anton Kia, bangga salah satu tim peserta Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini.

"Kali ini SSB Tunas Muda akan turun dengan pemain berusia 19 tahun ke bawah. Kami akan menurunkan pemain yunior untuk menambah pengalaman mereka. Para pemain ini juga akan memperkuat PSKK di El Tari Cup dan kejuaraan tiga kota di Darwin bulan September nanti. Menjadi sebuah kebanggaan ketika saya bisa menampilkan pemain-pemain yunior yang akan berhadapan dengan seniornya di klub lain," ujar Anton.

Kebanggaan Anton memang beralasan. Lihat saja kontribusinya dengan menyumbangkan 13 pemain jebolan SSB Tunas Muda untuk tim pra PON XVII 2008. Tak hanya itu, Leandro, Alderon, Pinto Abrao, Thomas Gotha, Dentox, Ardy Ora, Ardiles Kana, Ridwan, Jems dan lainnya yang kini bermain untuk Platina FC adalah mantan anak didiknya. Pinto Fernandez dan Marcel Bitol di Britama Kupang juga adalah jebolan SSB Tunas Muda dan beberapa klub lainnya.

"Saya bangga mereka bisa bermain bersama klub lain, yang artinya pembinaan kami berhasil. Ada beberapa pemain yang sempat buat saya kecewa karena hengkang tanpa permisi. Tapi itu bukan soal, karena di SSB Tunas Muda, selalu saja ada pemain muda yang akan muncul," ujar Anton.

Soal persaingan dengan tim sarat pengalaman lainnya di Dji Sam Soe-Pos Kupang 2008 ini, Anton mengatakan tidak ada persoalan. Dia sangat yakin, kalau skil lebih dipandu stamina bagus dari anak didiknya ini akan membuat klub lain kerepotan. "Kami tidak ada beban, karena beban justru ada di tim lain, apalagi kalau mereka menganggap remeh kami. Kami akan buat kejutan," ujar Anton yang mengantar tim ini menjadi juara Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2006. (eko)

Platina FC Siap Bersaing



SEPAKBOLA Kota Kupang kini diwarnai dengan kehadiran klub baru, Platina FC. Mengusung nama besar Platina Komputer di belakangnya, tim asuhan Helmon Liko ini kini siap bersaing dengan klub-klub lama dalam Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 yang akan kembali digelar tanggal 23 Agustus mendatang.

Manejer Platina, Melkisedek L Madi, memang bukan sekadar mencari keberuntungan dengan klubnya yang belum genap berusia setahun ini. Dia tetap yakin dengan komposisi pemain yang dimilikinya. Leandro, Ridwan, Valendra, Thomas Gotha, Pinto Abrao Ximenes, Ardiles Kana dan Ardy Ora tahun 2006, membawa SSB Tunas Muda menjadi juara Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup. Tidak cukup sampai di situ. Bergabungnya pemain PSN Ngada, Hendro Toda, Justinus Jabur, Frans Sabon, Thadeus Wala dan Us, membuat skuad ini sangat komplet. Komposisi ini masih juga memiliki Hery Nuwa (Perss SoE), Zola, Yoasap Maudaka, Novan, Nelis, Atus dan lainnya yang sudah tidak asing lagi dalam sepakbola Kota Kupang.

Artinya, dengan skuad ini, Melkisedek Madi dan Helmon Liko tidak perlu ragu memasang target. Tapi ternyata mereka tidak mau gegabah memasang ambisi. "Semua tim yang ikut turnamen ini sangat kuat. Kalau ada yang bilang Platina diunggulkan, kami hanya bisa bilang dukunglah dalam doa, biar anak-anak bermain dengan baik," ujar Melkisedek Madi.

Dalam beberapa kali ujicoba melawan Britama Kupang, Britama SoE hingga tim PON XVII Papua Barat, Platina FC memang selalu menuai hasil positif. Tapi, banyaknya pemain bintang yang dimiliki membuat Helmon Liko dan Melkisedek Madi tampaknya harus hati-hati menentukan skuad utama.


Dan, yang utama adalah membangun komunikasi yang baik antara pelatih, pemain dan ofisial. Karean ketika tidak ada keharmonisan dalam tim hanya karena arogansi pemain, pelatih atau ofisial, maka jangan harap akan menjadi pemenang meski bertaburan bintang. (eko)

AS Roma Yakin Juara


MENJADI runner-up pada Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007, klub asal Kuanino-Kupang, AS Roma yakin akan menjadi juara pada tahun 2008 ini. Keyakinan itu didasari motivasi tinggi dan skuad yang makin komplet. Demikian dikatakan manajer AS Roma, Buce Lioe di Kupang, Kamis (31/7/2008).

"AS Roma selalu memiliki keyakinan untuk menjadi yang terbaik। Jadi kalau ditanya apa target yang ingin dicapai, saya katakan bahwa kami ingin juara," ujar Buce Lioe.

Di bawah racikan Zeth Adoe, Buce yakin AS Roma akan bisa bersaing dengan baik. Buce dan Zeth Adoe yang pernah membawa Perss SoE menjadi juara El Tari Memorial Cup 2000 itu yakin bahwa penambahan pemain baru dalam skuadnya membuat kekuatan AS Roma makin besar.

Secara terpisah, Zeth Adoe mengatakan, AS Roma selalu ingin menjadi idola pecinta sepakbola di Kota Kupang. Untuk itu, agar tetap mengambil hati pendukung mereka, bagi Zeth Adoe, tak ada cara lain selain menjadi yang terbaik.

"AS Roma mengutamakan kualitas. Dengan skil pemain di atas rata-rata, kami sudah komplit di semua lini. Sekarang yang kami benahi adalah menjaga kekompakan dalam pertandingan," jelasnya.

Menurutnya, beberapa pemain senior seperti Hasim Pintar, Yus Ressie, Decky Kadja, Manek, Ferry Awang, Susilo dan lainnya masih tetap menjadi andalan di samping pemain yunior yang bakal bergabung. "Ada beberapa pemain yang hengkang ke klub lain, tapi itu bukan masalah. Pemain baru yang bergabung memiliki kualitas yang sama, bahkan ada yang lebih bagus," ujar Zeth Adoe. (eko)

Sabtu, 26 Juli 2008

Bonus, Penghargaan Atas Prestasi

PRESTASI atlet-atlet NTT pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII 2008 di Kalimantan Timur tidak setinggi PON XVI 2004 lalu di Palembang, Sumatera Selatan. Kali ini, 47 atlet NTT dari tujuh cabang olahraga membawa pulang tiga medali emas, empat perak dan enam medali perunggu. Tahun 2004 lalu, NTT merebut delapan emas, empat perak dan empat perunggu.
Tapi, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika melepas para atlet ke Kaltim tidak menargetkan berapa medali yang harus dibawa pulang. Lebu Raya hanya menjanjikan bonus Rp 50 juta untuk satu keping medali emas, Rp 35 juta untuk perak dan Rp 25 juta untuk perunggu.
Kala itu, semua atlet bersukacita. Besarnya bonus yang dijanjikan ini adalah yang terbesar dalam sejarah pemberian bonus kepada atlet yang berprestasi. Tapi, Lebu Raya dan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si tidak hanya sampai di situ. Kejutan kembali dibuat saat akan menyerahkan bonus yang dijanjikan itu.
Menggandeng masyarakat olahraga dan pengusaha di NTT, bukan hanya uang yang diberikan kepada tiga peraih medali emas, tapi satu unit rumah tipe 38 pun diberikan.
Tidak hanya itu, Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, yang juga Ketua Umum Pengprop TI NTT ikut memberikan bonus kepada dua atlet taekwondo peraih medali perunggu. Pemkab TTU pun ikut memberikan bonus kepada Ana Yunita Gelu yang merebut medali emas cabang kempo. Danrem 161 Wirasakti Kupang, Kolonel (Inf) Winston Simanjuntak sebagai Ketua Umum Pengprop Pertina NTT juga ikut memberikan bonus uang kepada atlet tinju peraih medali.
Bonus bagi seorang atlet adalah penghargaan. Mereka memang atlet amatir yang tujuannya adalah mengejar prestasi, bukan uang. Mereka berolahraga karena hobi yang mengantar mereka menjadi berprestasi, bukan karena profesi. Tapi ketika mereka tampil di arena, nama daerah dikumandangkan, NTT ada di antara deretan nama daerah lain di Indonesia.
Kita tidak pernah tahu dengan apa mereka pergi ke tempat latihan. Kita juga tidak pernah tahu bahwa mereka rela meninggalkan rekan sebayanya untuk sekadar bersenda gurau atau keluarganya, bahkan mungkin sekolah atau kuliahnya untuk berlatih. Kita tidak pernah tahu berapa waktu dan berapa biaya yang mereka keluarkan untuk mencapai prestasi demi nama NTT ini. Kita biasanya hanya melihat mereka kalau sudah ada di arena pertandingan.
Mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, tak tanggung-tanggung memberikan rumah kepada Eduard Nabunome, Hermensen Ballo dan Tersiana Riwu Rohi yang merebut medali di PON XIII 1993. Dengan kewenangan yang dimilikinya, Musakabe juga mengangkat Hermensen Ballo, Tersiana Riwu, George Hadjoh dan lainnya menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Pengangkatan atlet berprestasi tidak hanya sampai di situ. Berikutnya, Yakoba Lobang, Melky Blegur, Anton Fallo, Isak Petruzs, Yohanes Naben, Nelci Tolaik dan lainnya diperjuangkan pengangkatannya menjadi PNS.
Artinya, ketika para pejabat ini memberikan bonus kepada para atlet, mereka bukan sedang mencari sensasi. Mereka tidak sedang mencari nama atau ketenaran, tapi mereka sadar bahwa sudah seharusnya mereka lakukan hal itu. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional mendukung apa yang sudah dilakukan Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si ini. Undang- undang ini menekankan bahwa anggaran dari APBD untuk olahraga termasuk di dalamnya untuk pembinaan dan bonus kepada atlet berprestasi sifatnya adalah wajib.
Bonus, adalah penghargaan. Bonus bukan memanjakan para atlet. Bonus diberikan untuk memacu prestasi. Ketika Pemprop NTT mengalokasikan Rp 500 juta saja untuk bonus, maka kita harus mendukungnya. Artinya, lebih baik uang diberikan kepada mereka yang berhak mendapatkannya daripada habis dikorupsi atau digunakan untuk sesuatu yang tidak ada guna gananya. *

SYALOM