Oleh Gusty Fahik
DANAU itu punya tiga warna, sayang Konon di puncak bukit itu pernah bertakhta seorang penguasa yang berhak menentukan nasib setiap arwah yang beralih dari dunia ini ke alam akhirat. Setiap arwah punya tempat masing-masing di sana. Warna-warna danau itu melambangkan tempat setiap arwah. Karena itu berusahalah untuk hidup baik selama di dunia ini bila engkau ingin meraih tempat yang baik di sana.
Di situ kita pernah bersama menghabiskan waktu yang amat terbatas. Mengapa Tuhan harus menjadikan waktu yang terbatas buat manusia sementara Dia sendiri memiliki waktu yang tak terbatas?
"Bukankah itu berarti Ia seorang yang amat egois?"
"Dia tidak egois, sayang. Dia memberi kita yang terbatas agar kita tahu menggunakannya secara bijaksana, agar kita tahu bersyukur atas apa yang sedang kita nikmati, dan agar kita tahu mengisinya dengan hal-hal yang bermakna".
"Tidakkah yang kekal itu lebih bermakna?"
"Sayang, justru yang sementara itu lebih bermakna sebab kita sedang menciptakan makna kesementaraan untuk membikin abadi apa yang sebenarnya tidak abadi, ialah makna itu sendiri".
Tentang makna, itulah yang kita percakapkan ketika kita berada di antara ketiga warna danau itu. Kita tahu, danau itu bukan hanya punya tiga warna sebab warna-warna yang waktu itu nampak ternyata tidak abadi. Tahukah kau bahwa warna-warna itu sekarang telah berubah menjadi warna-warna lain, warna-warna yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali. Warna putih yang dulu kau sukai kini telah berubah menjadi hitam. Warna biru telah berubah menjadi hijau muda,. Sementara warna cokelat tua ternyata telah menggantikan tempat warna merah. Tak ada apa pun yang abadi di bawah matahari, semuanya berubah. Yang tetap ialah perubahan itu. Hati kita pun kini telah berubah.
"Kalau boleh meminta sesuatu pada Tuhan sekarang, aku ingin meminta agar kita berdua berada selamanya di sini. Kita jadikan danau-danau ini tempat tinggal kita, surga kita, surga cinta kita," katamu waktu itu.
"Itu hanya mungkin kalau kita meninggal kelak, sebab arwah kita akan bersemayam dalam keabadian di sini".
"Aku takut kita tidak akan pernah bersama di sini. Jangan sampai aku di danau berwarna putih sementara engkau di danau berwarna merah," engkau berkelakar.
"Itu tergantung amal kita di dunia. Kalau ingin tetap bersama, kita harus hidup baik, atau hidup jahat selama berada di dunia".
"Aku ingin hidup baik dengan mencintaimu dan semua orang selama sisa hidupku di dunia ini".
Kita terus berbicara tentang kebaikan, kejahatan, cinta benci, rasa sakit, pernikahan , punya anak, sampai soal kematian, sementara kabut turun perlahan mengisi setiap kawah dengan amat perlahan. Lalu angin berhembus membawa kabut beranjak meninggalkan setiap kawah yang serupa rumah yang selalu disinggahinya, sebuah rumah yang juga sebagai dunia kecil baginya. Kabut yang berlalu dari setiap kawah seakan ingin membiarkan kita memandang dan mengagumi setiap warna dalam danau itu. Engkau lalu bertutur.
"Alkisah setelah membinasakan dunia dengan air bah Tuhan ingin berdamai dengan alam ciptaan-Nya. Sebagai tanda perdamaian Ia menaruh pelangi di ujung cakrawala agar manusia tahu bahwa Tuhan itu setia akan janji-Nya. Tuhan memikirkan bagaimana Ia harus menggambar warna-warni pelangi itu. Ia ingin turun ke bumi dan menggambar pelangi dari satu tempat di bumi. Ia mencari-cari tempat yang kering agar Ia bisa duduk dan mulai menggambar. Dari surga mata-Nya menangkap sebuah bukit yang telah kering dan cukup rata. Tuhan turun ke puncak bukit itu membawa serta semua peralatan menggambar milik-Nya. Ia mulai membuat setiap lengkungan pelangi dengan warna-warni yang dibawa-Nya. Tuhan lupa bahwa ia telah lebih dahulu menyuruh angin bertiup untuk menyurutkan air bah. Maka Ia terpaksa harus menggambar dengan tergesa-gesa sebab angin kencang terus berhembus sedang Tuhan tidak memakai baju hangat atau jaket. Karena tidak tahan terhadap hembusan angin maka Tuhan kembali dengan agak terburu-buru setelah menyelesaikan lengkung-lengkung pelangi. Dan Ia pergi meninggalkan sebagian peralatan menggambar milik-Nya. Apa yang ditinggalkan-Nya itulah yang kini kita saksikan di hadapan kita, tiga buah kawah di puncak bukit dengan warna-warni yang begitu indah," engkau mengakhiri kisahmu dengan senyuman simpul.
Aku tahu engkau telah membaca tuntas kisah Alkitab tentang Nabi Nuh dan dengan imajinasimu engkau membuat kisahmu yang berhubungan dengan danau itu.
"Kalau demikian berarti tempat ini dulu pernah dipijaki Tuhan, bahkan Ia pernah duduk di sini untuk menggambar pelangi," aku berujar.
"Kalau engkau berpegang pada kisahku maka itu benar, sebab tempat ini pun dipandang amat sakral oleh masyarakat kita". Lalu engkau menatapku, dan kulihat ada cinta di matamu, cinta yang begitu tulus dan indah, seindah danau itu. Hari itu, aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.
***
Danau itu punya tiga warna, sayang. Tiga belas tahun setelah percakapan kita, aku kembali ke sana. Warna-warni danau itu telah berubah oleh waktu. Rupanya kita lupa bahwa waktu adalah pencuri paling alami yang tak pernah kita sadari kehadirannya. Ia bukan saja mencuri warna-warni danau yang pernah kita lihat dulu, ia juga telah mencurimu dariku.
Namun, waktu juga ternyata adalah pencuri paling bijaksana, sebab ia toh tak pernah mencuri kenangan dari manusia. Ia tak akan sanggup melakukannya sebab setiap kenangan adalah pemberian waktu dan waktu tak pernah mengambil kembali apa yang telah diberikannya.
Waktu, kekasihku, telah membawamu pergi, tetapi ia pernah memberi lembaran-lembarannya untuk kujadikan tempat kita melukis setiap kenangan. Setiap kali kurindukan dirimu aku selalu membuka lembaran waktu, sekedar membaca lagi peristiwa-peristiwa yang pernah kita goreskan di atasnya. Kita memang tidak pernah abadi, tetapi kenangan tentang kita selalu abadi dalam waktu.
Menatap warna-warni danau itu, aku teringat akan keindahan matamu, mata terindah yang pernah menatapku. Danau itu berbicara tentang dirimu, tentang kenangan kita, tentang hidup kita, tentang kefanaan kita. Sayang, engkau tak lagi ada di sana bersamaku. Di puncak bukit itu, di tepi danau berwarna hijau, aku teringat akan ceritamu tentang pelangi. Betapa aku rindu untuk ingin mendengarmu menuturkan kisah itu lagi. Tahukah kau aku tak pernah akan bosan mendengar kisah yang engkau tuturkan. Kisah tentang kesetiaan Tuhan, dan cinta-Nya pada dunia. Namun, engkau tak ada di sana.
Aku berdiri menatap kabut yang perlahan beranjak meninggalkan permuakaan air, bersama angin menerpa wajahku, lembut sekali. Aku terus menatapnya dengan harapan akan melihat wajahmu tersenyum dari dalam kawah itu. Bukankah danau hijau adalah tempat bersemayamnya orang-orang muda, seperti dirimu ketika meninggalkanku?
Kita memang tak akan pernah bersama entah di dunia maupun di alam baka. Aku telah tua kini, dan kalau waktuku menjelang, aku tak mungkin bersamamu di danau berwarna hijau itu. Tempatku ialah danau berwarna cokelat tua. Sayang, kini aku ingin mensyukuri waktu. Mengapa Tuhan memberi kita waktu yang fana, ialah agar kita mengisinya deengan bijaksana, dengan sesuatu yang bermakna, agar kita tahu mensyukurinya. Kini aku bersyukur atas setiap detik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku, terlebih detik-detik ketika kita berdua bersama mengukir kenangan. Manusia selalu hidup untuk mengukir kenangan yang bakal ditinggalkannya ketika ia kembali kepada keabadian.
Kulihat air danau beriak kecil, membentuk lengkungan yang memantul kembali setiap kali menyentuh bibir tebing. Bagiku lengkung riak-riak itu adalah lengkung senyum di bibirmu. Kutahu engkau sedang tersenyum padaku dari tempatmu di dasar danau itu. Senyum yang pernah membuatku merasa sebagai laki-laki paling bahagia di dunia. Hari ini rasa itu kembali menguasaiku. Aku masih laki-laki paling bahagia di dunia.
Danau itu punya tiga warna, sayang. *
Selasa, 02 Desember 2008
Senin, 01 Desember 2008
SMPN Tobu-TTS Membanggakan
Oleh Muhlis Al Alawi
UJIAN Nasional telah menjadi momok paling menakutkan bagi siswa dan sekolah. Kegagalan siswa dan sekolah menggapai predikat lulus akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan sekolan itu. Sekolah yang gagal meluluskan siswanya mengikuti Ujian Nasional (UN) akan dicap tidak mampu mendidik para siswa.
Berbekal masalah tersebut, saat ini banyak sekolah yang berlomba-lomba mempersiapkan para siswanya yang akan mengikuti UN sedini mungkin. Tak terkecuali Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tobu yang berlokasi di Desa Tobu, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sekolah ini terbilang berprestasi karena sudah tiga tahun berturut-turut siswa peserta UN di sekolah ini lulus 100 persen. Sekolah ini tidak main-main mempersiapkan para siswa menghadapi UN. Meski berada di pedesaan sekitar -- 50 km dari Kota SoE, SMPN Tobu di bawah pimpinan Feliphus Benmetan, S.Pd sudah jauh-jauh hari mempersiapkan anak didiknya menghadapi UN.
"Sejak September siswa-siswi kelas III sudah mengikuti les usai sekolah dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 Wita. Les ini kami adakan hingga satu minggu menjelang UN digelar. Untuk kegiatan lesnya, kami lebih menekankan siswa dilatih banyak menyelesaikan soal-soal yang dihimpun dari berbagai sumber," ujar Benmetan kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (21/11/2008) siang.
Menurut Benmetan, himpunan soal itu berasal dari ujian tahun-tahun sebelumnya dan kumpulan soal dari SMPK Giovanni Kupang dan SMP Mercusuar Kupang. Berbekal kumpulan soal itu, siswa dilatih menghadapi, menyiasati dan menjawab setiap soal yang disodorkan. Bila dalam les hanya mengulang pelajaran kelas I dan II saja, maka siswa akan menjadi bosan dan mengantuk.
Benmetan mengakui banyaknya siswa yang tinggal di wilayah pegunungan sehingga menyulitkan mereka mengikuti kegiatan belajar tepat waktu. Untuk menyiasati hal tersebut, sejak September siswa kelas III sudah tinggal di asrama sekolah. Asrama itu khusus menampung siswa kelas III untuk mempersiapkan diri mengikuti UN.
"Khusus untuk siswi yang rumahnya jauh dari sekolah ditampung para guru yang mengajar di SMPN Tobu. Persoalan dispilin, mungkin lantaran anak-anak di desa, mereka lebih tepat waktu masuk sekolah," kata Benmetan.
Untuk memberikan motivasi kepada anak didiknya mengikuti pelajaran, SMPN Tobu tidak ketinggalan dalam berinovasi. Sejak dini SMPN Tobu memperkenalkan kepada anak didiknya untuk mengenal teknologi informasi. Pada mata pelajaran tertentu para guru menggunakan laptop yang kemudian diproyeksikan dengan proyektor ke papan saat menyampaikan materi pelajaran.
"Kami juga menggunakan televisi yang materinya disampaikan dalam bentuk video compact disc (VCD). Dengan pengenalan teknologi sejak dini kami ingin menghilangkan cap anak-anak yang bersekolah di desa itu selalu "tenganga dan kemomos" terhadap teknologi baru," jelas Benmetan.
Tak hanya siswanya saja masuk asrama, 17 guru pendidik yang semuanya menyandang gelar sarjana pendidikan di sekolah itu juga diberikan tempat tinggal berupa mess yang layak di lingkungan sekolah. Mess itu diberikan kepada guru yang tempat tinggal aslinya jauh dari sekolah. Tempat tinggal guru yang berdekata dengan sekolah tidak menjadikan kegiatan belajar mengajar terlambat lantaran tenaga pendidiknya datang telat.
Bagi Benmetan guru sebagai pendidik adalah ujung tombak maju-mundurnya satu sekolah. Bila nasib para guru tidak diperhatikan, ia yakin sekolah yang dipimpinnya tak akan menghasilkan kelulusan siswa seratus persen tiga tahun berturut-turut.
Perhatian kepada guru, lanjut Benmetan, tidak sekadar tempat tinggal dan gaji yang diterima setiap bulan. Bagi guru yang memberikan lest tambahan juga diberikan insentif yang layak. Ia menyebutkan setiap bulannya, guru yang rajin memberikan les bagi siswa kelas III bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp 800.000.
"Saya selalu menyampaikan kepada guru dan staf untuk mengelola dan memajukan sekolah ini harus dikelola secara kolektif. Tidak boleh ada yang menyatakan dirinya yang paling hebat dan paling berjasa memajukan sekolah. Dengan demikian, budaya kekeluargaan dan kebersamaan memiliki tanggung jawab bersama memajukan sekolah menjadi motor penggerak lembaga pendidikan kami," kata Benmetan.
Terkait bantuan dana dari pemerintah, Benmetan mengatakan, setiap kali dana bantuan masuk ke sekolah itu, dia selalu mengundang seluruh guru untuk bersama-sama membicarakan penggunaannya. Harapannya, manajemen pengelolaan dana yang partisipatif, transparan dan akuntabel akan memudahkan dalam aplikasi dan pertanggungjawabannya.
Berkali-kali Benmetan menunjukkan tumpukan buku pertanggungjawaban yang disusun rapi permasing-masing bantuan dana yang diterima sekolahnya.
"Lembaga mana pun yang datang hendak mengaudit dan memeriksa penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan, kami selalu siap. Tinggal dana bantuan mana yang hendak diperiksa, kami langsung menyodorkan buku pertanggungjawaban yang sudah kami susun jauh hari sebelumnya," jelas Benmetan sambil mengatakan SMPN Tobu merupakan calon sekolah standar nasional.
Meski demikian, Benmetan mengakui pemerintah pusat dan propinsi malah yang lebih memperhatikan keberadaan SMPN Tobu dengan program binaan proyek perluasan peningkatan mutu. Ia mendeskripsikan pembangunan sembilan ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium, dan kantor dananya berasal dari pemerintah pusat dan propinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten terkesan adem ayem terhadap sekolah ini. *
Data kelulusan SMPN Tobu:
Tahun 2006 jumlah siswa 42 orang lulus semua
Tahun 2007 jumlah siswa 63 orang lulus semua
Tahun 2008 jumlah siswa 56 orang lulus semua
Tahun 2009 jumlah siswa 81 orang ...........
Total siswa kelas I, II dan III sebanyak 265 siswa.
UJIAN Nasional telah menjadi momok paling menakutkan bagi siswa dan sekolah. Kegagalan siswa dan sekolah menggapai predikat lulus akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan sekolan itu. Sekolah yang gagal meluluskan siswanya mengikuti Ujian Nasional (UN) akan dicap tidak mampu mendidik para siswa.
Berbekal masalah tersebut, saat ini banyak sekolah yang berlomba-lomba mempersiapkan para siswanya yang akan mengikuti UN sedini mungkin. Tak terkecuali Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tobu yang berlokasi di Desa Tobu, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sekolah ini terbilang berprestasi karena sudah tiga tahun berturut-turut siswa peserta UN di sekolah ini lulus 100 persen. Sekolah ini tidak main-main mempersiapkan para siswa menghadapi UN. Meski berada di pedesaan sekitar -- 50 km dari Kota SoE, SMPN Tobu di bawah pimpinan Feliphus Benmetan, S.Pd sudah jauh-jauh hari mempersiapkan anak didiknya menghadapi UN.
"Sejak September siswa-siswi kelas III sudah mengikuti les usai sekolah dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 Wita. Les ini kami adakan hingga satu minggu menjelang UN digelar. Untuk kegiatan lesnya, kami lebih menekankan siswa dilatih banyak menyelesaikan soal-soal yang dihimpun dari berbagai sumber," ujar Benmetan kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (21/11/2008) siang.
Menurut Benmetan, himpunan soal itu berasal dari ujian tahun-tahun sebelumnya dan kumpulan soal dari SMPK Giovanni Kupang dan SMP Mercusuar Kupang. Berbekal kumpulan soal itu, siswa dilatih menghadapi, menyiasati dan menjawab setiap soal yang disodorkan. Bila dalam les hanya mengulang pelajaran kelas I dan II saja, maka siswa akan menjadi bosan dan mengantuk.
Benmetan mengakui banyaknya siswa yang tinggal di wilayah pegunungan sehingga menyulitkan mereka mengikuti kegiatan belajar tepat waktu. Untuk menyiasati hal tersebut, sejak September siswa kelas III sudah tinggal di asrama sekolah. Asrama itu khusus menampung siswa kelas III untuk mempersiapkan diri mengikuti UN.
"Khusus untuk siswi yang rumahnya jauh dari sekolah ditampung para guru yang mengajar di SMPN Tobu. Persoalan dispilin, mungkin lantaran anak-anak di desa, mereka lebih tepat waktu masuk sekolah," kata Benmetan.
Untuk memberikan motivasi kepada anak didiknya mengikuti pelajaran, SMPN Tobu tidak ketinggalan dalam berinovasi. Sejak dini SMPN Tobu memperkenalkan kepada anak didiknya untuk mengenal teknologi informasi. Pada mata pelajaran tertentu para guru menggunakan laptop yang kemudian diproyeksikan dengan proyektor ke papan saat menyampaikan materi pelajaran.
"Kami juga menggunakan televisi yang materinya disampaikan dalam bentuk video compact disc (VCD). Dengan pengenalan teknologi sejak dini kami ingin menghilangkan cap anak-anak yang bersekolah di desa itu selalu "tenganga dan kemomos" terhadap teknologi baru," jelas Benmetan.
Tak hanya siswanya saja masuk asrama, 17 guru pendidik yang semuanya menyandang gelar sarjana pendidikan di sekolah itu juga diberikan tempat tinggal berupa mess yang layak di lingkungan sekolah. Mess itu diberikan kepada guru yang tempat tinggal aslinya jauh dari sekolah. Tempat tinggal guru yang berdekata dengan sekolah tidak menjadikan kegiatan belajar mengajar terlambat lantaran tenaga pendidiknya datang telat.
Bagi Benmetan guru sebagai pendidik adalah ujung tombak maju-mundurnya satu sekolah. Bila nasib para guru tidak diperhatikan, ia yakin sekolah yang dipimpinnya tak akan menghasilkan kelulusan siswa seratus persen tiga tahun berturut-turut.
Perhatian kepada guru, lanjut Benmetan, tidak sekadar tempat tinggal dan gaji yang diterima setiap bulan. Bagi guru yang memberikan lest tambahan juga diberikan insentif yang layak. Ia menyebutkan setiap bulannya, guru yang rajin memberikan les bagi siswa kelas III bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp 800.000.
"Saya selalu menyampaikan kepada guru dan staf untuk mengelola dan memajukan sekolah ini harus dikelola secara kolektif. Tidak boleh ada yang menyatakan dirinya yang paling hebat dan paling berjasa memajukan sekolah. Dengan demikian, budaya kekeluargaan dan kebersamaan memiliki tanggung jawab bersama memajukan sekolah menjadi motor penggerak lembaga pendidikan kami," kata Benmetan.
Terkait bantuan dana dari pemerintah, Benmetan mengatakan, setiap kali dana bantuan masuk ke sekolah itu, dia selalu mengundang seluruh guru untuk bersama-sama membicarakan penggunaannya. Harapannya, manajemen pengelolaan dana yang partisipatif, transparan dan akuntabel akan memudahkan dalam aplikasi dan pertanggungjawabannya.
Berkali-kali Benmetan menunjukkan tumpukan buku pertanggungjawaban yang disusun rapi permasing-masing bantuan dana yang diterima sekolahnya.
"Lembaga mana pun yang datang hendak mengaudit dan memeriksa penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan, kami selalu siap. Tinggal dana bantuan mana yang hendak diperiksa, kami langsung menyodorkan buku pertanggungjawaban yang sudah kami susun jauh hari sebelumnya," jelas Benmetan sambil mengatakan SMPN Tobu merupakan calon sekolah standar nasional.
Meski demikian, Benmetan mengakui pemerintah pusat dan propinsi malah yang lebih memperhatikan keberadaan SMPN Tobu dengan program binaan proyek perluasan peningkatan mutu. Ia mendeskripsikan pembangunan sembilan ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium, dan kantor dananya berasal dari pemerintah pusat dan propinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten terkesan adem ayem terhadap sekolah ini. *
Data kelulusan SMPN Tobu:
Tahun 2006 jumlah siswa 42 orang lulus semua
Tahun 2007 jumlah siswa 63 orang lulus semua
Tahun 2008 jumlah siswa 56 orang lulus semua
Tahun 2009 jumlah siswa 81 orang ...........
Total siswa kelas I, II dan III sebanyak 265 siswa.
Papanggang, Mediator Sang Arwah
Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (4)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
TERIK mentari membakar bumi sandelwood. Warga Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, tumpah rua ke Prai Awang-Rende untuk menyaksikan pemakaman bupati yang dekat dengan rakyat itu. Di tengah terik membakar kampung Prai Awang, sekejap puting beliung menyapu tanah lapang di tengah kampung yang diapiti rumah-rumah adat dan batu kubur leluhur anamburung itu. Saat itu, tua adat setempat sedang melakukan ritual menyeleksi ata atau hamba yang bertugas sebagai papanggang untuk mengantar almarhum Umbu Mehang Kunda ke liang lahat.
Hari itu, Senin (10/11/2008). Sekitar pukul 14.30 Wita, tua adat setempat menyeleksi beberapa ata atau hamba diambil empat orang, terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang wanita untuk menjadi papanggang. Mereka bertugas mengantar jenazah almarhum Mehang Kunda ke liang lahat. Keempat papanggang ini disucikan melalui ritual adat lalu didandani dengan pakaian khusus kebesaran raja-raja yang dilengkapi dengan manik-manik dan perhiasan emas. Para papanggang mengenakan lamba, mamoli, kanatar, muti salak yang dinggelu (kalung). Ritual ini menjadi tontonan sekitar 20 ribu pelayat yang memadati kampung adat itu.
Disaksikan Pos Kupang, sejak pagi keluarga anamburung menerima tamu atau rombongan adat dengan bawaan masing-masing. Tamu yang diundang terdiri dari ery aya (kakak-adik), ina rendi ama manu (raja/bangsawan), juru watu uma dallar (keluarga satu marga), tana nua watulihhi (tetangga kampung), kajuanga angu todu (lembah tempat tinggal bersama) dan ana kawini (saudari). Setiap rombongan tamu (satu marga) disambut dengan gong dan tangisan wanita penunggu jenazah. Tamu wanita memasuki ruang jenazah (kaheli bokul) lalu menangis dengan bahasa lawiti kemudian mendapat sirih pinang dari penerima tamu wanita. Tamu pria duduk di balai-balai (bangga), juga mendapat layanan sirih pinang oleh penerima tamu pria. Salah seorang dari rombongan tamu memberitahu pembawaan mereka. Setelah kaum wanita keluar dari tempat jenazah, rombongan dipersilahkan menempati tempat yang telah disiapkan untuk menikmati sirih pinang dan kopi.
Di balai-balai rumah jenazah, para wunang berbicara secara adat mengenai pembawaan dan permintaan mereka (pulu dungu). Jika sepakat maka ditikam babi (kameti). Babi kameti dibagi dua, setengah dimasak untuk dimakan di rumah duka dan setengah dibawa pulang. Ana kawini (saudari) diberi kain/sarung sedangkan yera (ipar atau besan) diberi hewan atau mamoli. Tata cara ini hanya dilakukan keluarga bangsawan/raja yang ekonominya kuat seperti almarhum Umbu Mehang Kunda.
Penerimaan tamu seperti ini juga berlaku terhadap rombongan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Gubernur bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si; Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe; Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk dan Wakil, Umbu Dondu; Bupati Sumba Barat, Drs. Julianus Pote Leba; Bupati Sumba Barat Daya (SBD) terpilih, dr. Kornelius Kodi Mete; Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe; Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin; Sekda Kabupaten Kupang, Bernabas nDjurumana,S.H, dan pejabat lainnya, diterima di balai-balai uma bokul, lalu wunang mulai berbicara. Rombongan gubernur juga disiapkan wunang untuk berbicara dengan wunang tuan rumah dalam bahasa adat yang disebut luluk. Hiku tua mayangara, hiku kea lama lidi (sehingga disebut sebagai keluarga), inilah pesan yang disampaikan para wunang dalam luluknya. Mereka menyampaikan, gubernur dengan almarhum ada ikatan kerja, selaku hubungan secara pribadi disebut keluarga.
Tepat pukul 15.30 Wita, upacara pemakaman dimulai. Diawali sambutan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dan wakil keluarga yang disampaikan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha. Umbu Maramba Hau melanjutkan memimpin tata upacara pemakaman secara adat tersebut. Seekor kerbau jantan kecil digiring masuk ke tengah kampung lalu disembeli oleh orang yang ditugaskan. Pemotongan harus berlangsung satu kali, kerbau atau kudanya tewas. Jika diulang, itu berarti ada sesuatu yang mengganjal. Disusul delapan ekor kerbau dan delapan ekor kuda yang dibantai di halaman tengah kampung itu. Pembantaian hewan ini menjadi tontonan para pelayat yang penuh sesak di areal yang luasnya kurang lebih setengah hektare itu.
Menyusul seekor kuda jantan merah digiring masuk ke halaman tengah. Kuda yang diyakini sebagai kuda tunggang (njara kaliti) almarhum menuju Lama Paka Jiu Jagang Lama Patana Rara 'negeri orang mati' yang diyakini banyak pohon cemara yang tumbuh di tanah merah atau Uma Manda Mobu Kaheli Manda Mbata, rumah yang tak pernah lapuk dan balai-balai yang tak pernah rubuh, dirias dengan emas, pelananya dari kain tenun ikat motif bangsawan, dilengkapi dengan payung yang dihias dengan manik-manik emas. Diyakini apa yang dirias pada kuda dan pakaian serta manik-manik emas yang dikenakan papanggang, itu yang dikenakan almarhum menuju alam baka.
Salah seorang papanggang yang berpakaian khusus lengkap dengan perhiasan adat dipapah dan dinaikkan ke punggung kuda (njara kaliti), kemudian dibawa ke kubur dengan iringan gong. Papanggang ini tidak boleh menyentuh tanah sehingga digendong saat naik dan turun dari kuda oleh petugas yang disiapkan. Papanggang ini mempunyai peran unik karena diyakini sebagai pengantara arwah. Dia dinaikkan di atas batu kubur sampai upacara penutupan kubur selesai, lalu diturunkan, lalu dinaikkan di atas kuda untuk seterusnya dibawa ke uma bokul. Papanggang ini tidak boleh mandi dan meninggalkan rumah sampai acara pahili mbuala (acara khusus memandikan papanggang) melalui ritual khusus di sungai.
Seorang papanggang pria ditutup kepala dan wajahnya dengan kain merah. Tugasnya bersama papanggang wanita mengantar jenazah ke liang lahat. Di sana mereka berada di samping kubur dan terus menangis hingga kubur ditutup. Saat itu, ada papanggang yang kesurupan, dia menjadi mediator antara arwah dengan keluarga. Disaat kesurupan, dia menyampaikan pesan-pesan arwah dalam bahasa daerah setempat. Seperti apa pesannya? Hanya dapat diketahui oleh keluarga inti dan itu akan dibicarakan setelah semua rangkaian prosesi pemakaman selesai.
Usai penutupan batu kubur dipotong lagi delapan ekor kuda dan delapan ekor kebau jantan dan betina induk. Ama bokol hama memotong lagi ayam yang dibawa papanggang wanita ke kubur untuk dilihat tali perutnya. Hati kuda juga diambil untuk dilihat lalu dimasak pada katoda, buat sesajian bagi leluhur. Para pengusung jenazah ke liang lahat mencuci tangan dengan air kelapa.
Selesai penguburan tamu-tamu diajak untuk beristirahat sejenak. Bagi tamu bangsawan masih ada percakapan adat. Upacara pakameting (memberi makan kepada rombongan adat) dilangsungkan setelah penguburan. Semua rombongan adat dengan bawaan dibalas berdasarkan silsilah masing-masing. Balasan terhadap pembawaan rombongan tamu disesuaikan dengan pembicaraan wunang, ana kawini mendapat kain/sarung, yera mendapat hewan atau mamoli. (habis)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
TERIK mentari membakar bumi sandelwood. Warga Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, tumpah rua ke Prai Awang-Rende untuk menyaksikan pemakaman bupati yang dekat dengan rakyat itu. Di tengah terik membakar kampung Prai Awang, sekejap puting beliung menyapu tanah lapang di tengah kampung yang diapiti rumah-rumah adat dan batu kubur leluhur anamburung itu. Saat itu, tua adat setempat sedang melakukan ritual menyeleksi ata atau hamba yang bertugas sebagai papanggang untuk mengantar almarhum Umbu Mehang Kunda ke liang lahat.
Hari itu, Senin (10/11/2008). Sekitar pukul 14.30 Wita, tua adat setempat menyeleksi beberapa ata atau hamba diambil empat orang, terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang wanita untuk menjadi papanggang. Mereka bertugas mengantar jenazah almarhum Mehang Kunda ke liang lahat. Keempat papanggang ini disucikan melalui ritual adat lalu didandani dengan pakaian khusus kebesaran raja-raja yang dilengkapi dengan manik-manik dan perhiasan emas. Para papanggang mengenakan lamba, mamoli, kanatar, muti salak yang dinggelu (kalung). Ritual ini menjadi tontonan sekitar 20 ribu pelayat yang memadati kampung adat itu.
Disaksikan Pos Kupang, sejak pagi keluarga anamburung menerima tamu atau rombongan adat dengan bawaan masing-masing. Tamu yang diundang terdiri dari ery aya (kakak-adik), ina rendi ama manu (raja/bangsawan), juru watu uma dallar (keluarga satu marga), tana nua watulihhi (tetangga kampung), kajuanga angu todu (lembah tempat tinggal bersama) dan ana kawini (saudari). Setiap rombongan tamu (satu marga) disambut dengan gong dan tangisan wanita penunggu jenazah. Tamu wanita memasuki ruang jenazah (kaheli bokul) lalu menangis dengan bahasa lawiti kemudian mendapat sirih pinang dari penerima tamu wanita. Tamu pria duduk di balai-balai (bangga), juga mendapat layanan sirih pinang oleh penerima tamu pria. Salah seorang dari rombongan tamu memberitahu pembawaan mereka. Setelah kaum wanita keluar dari tempat jenazah, rombongan dipersilahkan menempati tempat yang telah disiapkan untuk menikmati sirih pinang dan kopi.
Di balai-balai rumah jenazah, para wunang berbicara secara adat mengenai pembawaan dan permintaan mereka (pulu dungu). Jika sepakat maka ditikam babi (kameti). Babi kameti dibagi dua, setengah dimasak untuk dimakan di rumah duka dan setengah dibawa pulang. Ana kawini (saudari) diberi kain/sarung sedangkan yera (ipar atau besan) diberi hewan atau mamoli. Tata cara ini hanya dilakukan keluarga bangsawan/raja yang ekonominya kuat seperti almarhum Umbu Mehang Kunda.
Penerimaan tamu seperti ini juga berlaku terhadap rombongan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Gubernur bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si; Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe; Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk dan Wakil, Umbu Dondu; Bupati Sumba Barat, Drs. Julianus Pote Leba; Bupati Sumba Barat Daya (SBD) terpilih, dr. Kornelius Kodi Mete; Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe; Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin; Sekda Kabupaten Kupang, Bernabas nDjurumana,S.H, dan pejabat lainnya, diterima di balai-balai uma bokul, lalu wunang mulai berbicara. Rombongan gubernur juga disiapkan wunang untuk berbicara dengan wunang tuan rumah dalam bahasa adat yang disebut luluk. Hiku tua mayangara, hiku kea lama lidi (sehingga disebut sebagai keluarga), inilah pesan yang disampaikan para wunang dalam luluknya. Mereka menyampaikan, gubernur dengan almarhum ada ikatan kerja, selaku hubungan secara pribadi disebut keluarga.
Tepat pukul 15.30 Wita, upacara pemakaman dimulai. Diawali sambutan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dan wakil keluarga yang disampaikan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha. Umbu Maramba Hau melanjutkan memimpin tata upacara pemakaman secara adat tersebut. Seekor kerbau jantan kecil digiring masuk ke tengah kampung lalu disembeli oleh orang yang ditugaskan. Pemotongan harus berlangsung satu kali, kerbau atau kudanya tewas. Jika diulang, itu berarti ada sesuatu yang mengganjal. Disusul delapan ekor kerbau dan delapan ekor kuda yang dibantai di halaman tengah kampung itu. Pembantaian hewan ini menjadi tontonan para pelayat yang penuh sesak di areal yang luasnya kurang lebih setengah hektare itu.
Menyusul seekor kuda jantan merah digiring masuk ke halaman tengah. Kuda yang diyakini sebagai kuda tunggang (njara kaliti) almarhum menuju Lama Paka Jiu Jagang Lama Patana Rara 'negeri orang mati' yang diyakini banyak pohon cemara yang tumbuh di tanah merah atau Uma Manda Mobu Kaheli Manda Mbata, rumah yang tak pernah lapuk dan balai-balai yang tak pernah rubuh, dirias dengan emas, pelananya dari kain tenun ikat motif bangsawan, dilengkapi dengan payung yang dihias dengan manik-manik emas. Diyakini apa yang dirias pada kuda dan pakaian serta manik-manik emas yang dikenakan papanggang, itu yang dikenakan almarhum menuju alam baka.
Salah seorang papanggang yang berpakaian khusus lengkap dengan perhiasan adat dipapah dan dinaikkan ke punggung kuda (njara kaliti), kemudian dibawa ke kubur dengan iringan gong. Papanggang ini tidak boleh menyentuh tanah sehingga digendong saat naik dan turun dari kuda oleh petugas yang disiapkan. Papanggang ini mempunyai peran unik karena diyakini sebagai pengantara arwah. Dia dinaikkan di atas batu kubur sampai upacara penutupan kubur selesai, lalu diturunkan, lalu dinaikkan di atas kuda untuk seterusnya dibawa ke uma bokul. Papanggang ini tidak boleh mandi dan meninggalkan rumah sampai acara pahili mbuala (acara khusus memandikan papanggang) melalui ritual khusus di sungai.
Seorang papanggang pria ditutup kepala dan wajahnya dengan kain merah. Tugasnya bersama papanggang wanita mengantar jenazah ke liang lahat. Di sana mereka berada di samping kubur dan terus menangis hingga kubur ditutup. Saat itu, ada papanggang yang kesurupan, dia menjadi mediator antara arwah dengan keluarga. Disaat kesurupan, dia menyampaikan pesan-pesan arwah dalam bahasa daerah setempat. Seperti apa pesannya? Hanya dapat diketahui oleh keluarga inti dan itu akan dibicarakan setelah semua rangkaian prosesi pemakaman selesai.
Usai penutupan batu kubur dipotong lagi delapan ekor kuda dan delapan ekor kebau jantan dan betina induk. Ama bokol hama memotong lagi ayam yang dibawa papanggang wanita ke kubur untuk dilihat tali perutnya. Hati kuda juga diambil untuk dilihat lalu dimasak pada katoda, buat sesajian bagi leluhur. Para pengusung jenazah ke liang lahat mencuci tangan dengan air kelapa.
Selesai penguburan tamu-tamu diajak untuk beristirahat sejenak. Bagi tamu bangsawan masih ada percakapan adat. Upacara pakameting (memberi makan kepada rombongan adat) dilangsungkan setelah penguburan. Semua rombongan adat dengan bawaan dibalas berdasarkan silsilah masing-masing. Balasan terhadap pembawaan rombongan tamu disesuaikan dengan pembicaraan wunang, ana kawini mendapat kain/sarung, yera mendapat hewan atau mamoli. (habis)
Le Kebote
Oleh Yosep Sudarso
MENYEBUT le kebote, pikiranku langsung terbawa ke sosok Ema Bewa yang dengan busur di tangan, ia terus berlari-lari menghindari lemparan anak-anak yang mengejarnya. Dengan cara apa pun, perempuan dengan tinggi semampai itu berjuang agar tak satu pun lemparan mengenai dirinya. Bukan karena ia takut terluka atau benjol, tetapi karena pemali apabila sampai terkena lemparan.
Maklumlah, ketika dikejar dan dilempar anak-anak, Ema Bewa sebetulnya mewakili perjuangan hidup seorang bayi lelaki yang ari-arinya baru ia gantungkan di sebuah pohon di lewo oking (kampung lama/kampung induk). Walaupun mengakui bahwa nafas kehidupan tergantung pada lera wulan tana ekan (pencipta dan penyelenggara kehidupan), perjuangan mengisi hidup adalah tugas dan tanggung jawab atadiken (anak manusia).
Ema Bewa. Perempuan itu sudah lama meninggal. Sepanjang hidupnya dihabiskan di desa asalnya, Lamika, Kecamatan Demong Pagong, Flores Timur. Dan, selama belasan tahun ia berperan sebagai pembawa ari-ari bayi laki-laki maupun perempuan di desa itu untuk digantung pada pohon agar tidak sampai dimakan binatang.
Le kebote (tradisi gantung ari-ari pada pohon) memang sudah menjadi tradisi di Lamika. Desa yang jaraknya sekitar 30 km dari Larantuka ini awalnya terdiri dari tiga dusun, yakni Lewomikel (Dusun I), Lewonuha (Dusun II) dan Lewomuda (Dusun III). Namun setelah gempa tektonik 12 Desember 1992 yang meluluhlantakkan sebagian Pulau Flores, 60 KK dari sekitar 300 KK di desa itu mengikuti program pemerintah dengan berpindah ke lokasi baru di pinggir jalan raya utama Larantuka-Maumere. Pemukiman baru ini sekarang membentuk dusun sendiri dengan nama Lewowuung (kampung baru).
Seperti desa tetangga lain, yaitu Lewokluok, Wolo, Kawalelo, Blepanawa dan Bama (beberapa desa ini dulu termasuk kompeks Wolo), hampir semua penduduk Desa Lamika bermata pencaharian petani dengan pola berpindah-pindah ladang. Dahulu, sebuah mang/netak (areal ladang) dikerjakan selama dua tahun sekali. Namun sekitar 15 tahun lalu mulai terjadi pergeseran pola berladang.
Sejak petani mengenal tanaman kepayuk (jambu mete) sebagai tanaman komoditi yang potensial, ladang tidak lagi menjadi milik bersama. Sebelumnya, hampir tidak ada ladang yang dikerjakan sendirian, tetapi selalu kneu (bersama-sama) maksimal tiga kepala keluarga. Kini, sejak ladang dipenuhi jambu mete, mau tidak mau, ladang harus dibagi. Mang/netak menjadi milik pribadi. Salah satu dampaknya adalah potensi konflik terbuka lebar terutama ketika para perantau (umumnya di Malaysia) yang belum punya ladang kembali menetap di kampung halaman.
Selain itu, bila dahulu tanah digarap paling lama dua tahun dan baru digarap lagi delapan tahun kemudian (setelahnya pepohonan mulai besar dan tanah sudah berhumus), kini ladang yang sama digarap setiap tahun. Kalau hasilnya seperti beras dan jagung tidak lagi mencukupi, biasanya dibuka lagi lahan baru tetapi lahan lama tetap dibersihkan.
Selain bergantung pada padi dan jagung, penduduk Desa Lamika juga menyuling arak dari pohon lontar. Dahulu, hampir semua pria dewasa mengiris tuak kemudian menyulingnya menjadi arak untuk selanjutnya dijual ke Pasar Boru (ibukota Kecamatan Wulanggitang). Namun beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga yang mengiris tuak dan menyuling arak bisa dihitung dengan jari.
Banyak hal berubah. Nilai-nilai sosial budaya bergeser skalanya. Dari yang "serba bersama-sama" ke "urus sendiri- sendiri". Suku memang masih dan akan tetap ada, tetapi perannya dalam kehidupan setiap keluarga mulai berkurang.
Di titik ini, barangkali tradisi le kebote yang menurut Kepala Desa Lamika, Vincent Openg, masih tetap dipelihara, bisa menjembatani fenomena degradasi nilai-nilai warisan leluhur. Setidaknya dapat meredam perilaku dan pola hidup generasi muda yang menggelisahkan banyak tetua adat dan sesepuh kampung. Judi, mabuk-mabukan dan mencuri bukan lagi cerita di tempat lain.
Semoga tradisi le kebote (terutama pada bayi lelaki) yang mengisyaratkan perjuangan hidup, daya juang dan kerja keras dalam kebersamaan bisa menggugah hati generasi penerus di kampungku. Karena ketika ari-ari seorang bayi dipotong, diawetkan dengan keawuk (abu dapur) dalam anyaman lontar, digantungkan di pohon, hingga sang pembawanya seperti Ema Bewa harus menyilih lemparan agar selamat kembali ke rumah, di sana sudah terpatri nilai tanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan. (*)
MENYEBUT le kebote, pikiranku langsung terbawa ke sosok Ema Bewa yang dengan busur di tangan, ia terus berlari-lari menghindari lemparan anak-anak yang mengejarnya. Dengan cara apa pun, perempuan dengan tinggi semampai itu berjuang agar tak satu pun lemparan mengenai dirinya. Bukan karena ia takut terluka atau benjol, tetapi karena pemali apabila sampai terkena lemparan.
Maklumlah, ketika dikejar dan dilempar anak-anak, Ema Bewa sebetulnya mewakili perjuangan hidup seorang bayi lelaki yang ari-arinya baru ia gantungkan di sebuah pohon di lewo oking (kampung lama/kampung induk). Walaupun mengakui bahwa nafas kehidupan tergantung pada lera wulan tana ekan (pencipta dan penyelenggara kehidupan), perjuangan mengisi hidup adalah tugas dan tanggung jawab atadiken (anak manusia).
Ema Bewa. Perempuan itu sudah lama meninggal. Sepanjang hidupnya dihabiskan di desa asalnya, Lamika, Kecamatan Demong Pagong, Flores Timur. Dan, selama belasan tahun ia berperan sebagai pembawa ari-ari bayi laki-laki maupun perempuan di desa itu untuk digantung pada pohon agar tidak sampai dimakan binatang.
Le kebote (tradisi gantung ari-ari pada pohon) memang sudah menjadi tradisi di Lamika. Desa yang jaraknya sekitar 30 km dari Larantuka ini awalnya terdiri dari tiga dusun, yakni Lewomikel (Dusun I), Lewonuha (Dusun II) dan Lewomuda (Dusun III). Namun setelah gempa tektonik 12 Desember 1992 yang meluluhlantakkan sebagian Pulau Flores, 60 KK dari sekitar 300 KK di desa itu mengikuti program pemerintah dengan berpindah ke lokasi baru di pinggir jalan raya utama Larantuka-Maumere. Pemukiman baru ini sekarang membentuk dusun sendiri dengan nama Lewowuung (kampung baru).
Seperti desa tetangga lain, yaitu Lewokluok, Wolo, Kawalelo, Blepanawa dan Bama (beberapa desa ini dulu termasuk kompeks Wolo), hampir semua penduduk Desa Lamika bermata pencaharian petani dengan pola berpindah-pindah ladang. Dahulu, sebuah mang/netak (areal ladang) dikerjakan selama dua tahun sekali. Namun sekitar 15 tahun lalu mulai terjadi pergeseran pola berladang.
Sejak petani mengenal tanaman kepayuk (jambu mete) sebagai tanaman komoditi yang potensial, ladang tidak lagi menjadi milik bersama. Sebelumnya, hampir tidak ada ladang yang dikerjakan sendirian, tetapi selalu kneu (bersama-sama) maksimal tiga kepala keluarga. Kini, sejak ladang dipenuhi jambu mete, mau tidak mau, ladang harus dibagi. Mang/netak menjadi milik pribadi. Salah satu dampaknya adalah potensi konflik terbuka lebar terutama ketika para perantau (umumnya di Malaysia) yang belum punya ladang kembali menetap di kampung halaman.
Selain itu, bila dahulu tanah digarap paling lama dua tahun dan baru digarap lagi delapan tahun kemudian (setelahnya pepohonan mulai besar dan tanah sudah berhumus), kini ladang yang sama digarap setiap tahun. Kalau hasilnya seperti beras dan jagung tidak lagi mencukupi, biasanya dibuka lagi lahan baru tetapi lahan lama tetap dibersihkan.
Selain bergantung pada padi dan jagung, penduduk Desa Lamika juga menyuling arak dari pohon lontar. Dahulu, hampir semua pria dewasa mengiris tuak kemudian menyulingnya menjadi arak untuk selanjutnya dijual ke Pasar Boru (ibukota Kecamatan Wulanggitang). Namun beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga yang mengiris tuak dan menyuling arak bisa dihitung dengan jari.
Banyak hal berubah. Nilai-nilai sosial budaya bergeser skalanya. Dari yang "serba bersama-sama" ke "urus sendiri- sendiri". Suku memang masih dan akan tetap ada, tetapi perannya dalam kehidupan setiap keluarga mulai berkurang.
Di titik ini, barangkali tradisi le kebote yang menurut Kepala Desa Lamika, Vincent Openg, masih tetap dipelihara, bisa menjembatani fenomena degradasi nilai-nilai warisan leluhur. Setidaknya dapat meredam perilaku dan pola hidup generasi muda yang menggelisahkan banyak tetua adat dan sesepuh kampung. Judi, mabuk-mabukan dan mencuri bukan lagi cerita di tempat lain.
Semoga tradisi le kebote (terutama pada bayi lelaki) yang mengisyaratkan perjuangan hidup, daya juang dan kerja keras dalam kebersamaan bisa menggugah hati generasi penerus di kampungku. Karena ketika ari-ari seorang bayi dipotong, diawetkan dengan keawuk (abu dapur) dalam anyaman lontar, digantungkan di pohon, hingga sang pembawanya seperti Ema Bewa harus menyilih lemparan agar selamat kembali ke rumah, di sana sudah terpatri nilai tanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan. (*)
Kamis, 27 November 2008
Leluhur Masih Marah
Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (3)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
MALAM sebelum pemakaman dilakukan hamayang (sembahyang) oleh ama bokol hama (pendeta marapu). Doa persiapan ini berlangsung di uma bokul, rumah besar milik almarhum. Keluarga anamburung menyiapkan seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk disembelih.
Hati babi dan tali perut ayam dibaca oleh ama bokol hama untuk mengetahui pesan-pesan almarhum, pesan-pesan leluhur untuk keluarga yang ditinggalkan. Hati babi dimasak pada tungku di dekat katoda dan ayamnya dibakar untuk diletakkan di tempat sesajian bersama nasi yang disebut uhu mange'ijing agar leluhur bisa menyantapnya.
Ada lima ekor ayam yang harus disembelih, masing-masing seekor untuk almarhum, seekor untuk umbu tamo (nenek moyang yang namanya digunakan oleh almarhum), seekor untuk nenek moyang, seekor untuk papanggang atau hambanya alrmahum dan seekor untuk marapu. Khusus untuk almarhum ayamnya harus berbulu merah. Ayam itu bisa jantan semua, bisa betina semua, bisa campur-campur antara jantan dan betina.
Juru bicara keluarga anamburung, Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha yang ditemui di sela-sela upacara pemakaman, menuturkan, ayam itu hanya bisa disembelih oleh ama bokol hama (pendeta marapu) atau pendampingnya. Yang menyembelih babi bisa dari salah satu ama bokol hama.
Hasil penglihatan ama bokol hama,di hati babi terdapat tanda khusus. Sedangkan tali perut ayam menunjukkan marapu memberi izin, umbu tamo juga memberi izin, almarhum sendiri ada izin, dia sudah siap menuju Parai Marapu (surga) dan papanggang atau hamba juga siap mendampingi almarhum. Yang tidak memberikan izin adalah nenek moyang yang ditandai dengan noda pada hati babi. Itu berarti masih ada akibatnya, baik keluarga dalam maupun keluarga luar. Keluarga perlu membuat upacara lagi untuk memohon ampun setelah penguburan. Jika belum diselesaikan, setiap hati babi yang disembelih pasti tetap ada tanda. Keluarga harus mencaritahu terus sampai mengetahui persoalannya mengapa nenek moyang marah. Upacara adat ini harus tuntas sehingga arwah almarhum tenang dan diterima penguasa jagat raya.
Jika diabaikan keluarga akan mendapat pahala. Seperti apa pahalanya? Baik ama bokol hama maupun tua adat lainnya tidak dapat meramalkan. Menurut Umbu Maramba Hau, pengalaman selama ini, pahalanya bisa berupa sakit, kebakaran, banjir, disambar petir bahkan kematian. Untuk menghindari hal-hal ini, keluarga akan berunding lagi dan melakukan upacara permohonan maaf kepada nenek moyang dengan menyembelih babi dan hamayang oleh ama bokol hama. Tapi untuk upacara permohonan maaf, baru akan dilakukan setelah amarah nenek moyang itu redah. Sama seperti manusia, disaat dia sedang marah sebaiknya kita jangan dulu meminta maaf, karena amarahnya akan mendidih bahkan akibatnya fatal. Bisa jadi emosinya tidak dapat dikendalikan lalu terjadi tindakan di luar yang diinginkan.
Masyarakat Sumba Timur meyakini suasana seperti itu, juga terjadi pada arwah nenek moyang. Untuk itu, dalam melakukan upacara permohonan maaf, butuh waktu jedah. Jika emosi seseorang sudah redah, mudah memaafkan. Saat itulah upacara itu dapat dilakukan. Keluarga dalam menyelenggarakan upacara permohonan maaf kepada leluhur yang marah, juga akan membaca suasana hati leluhur tersebut.
Perpisahan dan pemberian makan oleh keluarga kepada arwah orang yang meninggal dan arwah leluhur yang datang dengan cara memotong ayam (manu kanjiku reti) dan hamayang sebelum jenazah diberangkatkan ke liang lahat, merupakan penghormatan terakhir. Selain ayam, juga kuda (njara ndangang) sebagai kurban. Hati kuda diambil untuk diramal lalu dimasak pada tungku dekat uma bokul untuk dibuat sesajian, memberi makan kepada roh leluhur yang siap menjemput kedatangan arwah almarhum.
Umbu Maramba Hau menuturkan, almarhum Umbu Mehang Kunda sama sekali tidak meninggalkan pesan kepada keluarga. Keluarga juga tidak mendapat firasat kalau beliau akan meninggal dunia. Untuk itu, keluarga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga leluhur masih marah saat dilangsungkannya tata upacara pemakaman. Kesan umum yang keluarga terima, almarhum orangnya penyayang, tidak pernah dendam, mudah memaafkan dan sederhana. Semasa hidupnya tidak pernah marah kepada keluarga. Kalaupun marah, sebentar saja, lalu memaafkannya dengan cara guyon.
Itu yang membuat keluarga betul-betul kehilangan seorang bapak, seorang tokoh panutan. Kesan seperti ini, mungkin juga dirasakan pegawai negeri di lingkup Setda Sumba Timur dan masyarakat daerah itu umumnya. (bersambung)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
MALAM sebelum pemakaman dilakukan hamayang (sembahyang) oleh ama bokol hama (pendeta marapu). Doa persiapan ini berlangsung di uma bokul, rumah besar milik almarhum. Keluarga anamburung menyiapkan seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk disembelih.
Hati babi dan tali perut ayam dibaca oleh ama bokol hama untuk mengetahui pesan-pesan almarhum, pesan-pesan leluhur untuk keluarga yang ditinggalkan. Hati babi dimasak pada tungku di dekat katoda dan ayamnya dibakar untuk diletakkan di tempat sesajian bersama nasi yang disebut uhu mange'ijing agar leluhur bisa menyantapnya.
Ada lima ekor ayam yang harus disembelih, masing-masing seekor untuk almarhum, seekor untuk umbu tamo (nenek moyang yang namanya digunakan oleh almarhum), seekor untuk nenek moyang, seekor untuk papanggang atau hambanya alrmahum dan seekor untuk marapu. Khusus untuk almarhum ayamnya harus berbulu merah. Ayam itu bisa jantan semua, bisa betina semua, bisa campur-campur antara jantan dan betina.
Juru bicara keluarga anamburung, Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha yang ditemui di sela-sela upacara pemakaman, menuturkan, ayam itu hanya bisa disembelih oleh ama bokol hama (pendeta marapu) atau pendampingnya. Yang menyembelih babi bisa dari salah satu ama bokol hama.
Hasil penglihatan ama bokol hama,di hati babi terdapat tanda khusus. Sedangkan tali perut ayam menunjukkan marapu memberi izin, umbu tamo juga memberi izin, almarhum sendiri ada izin, dia sudah siap menuju Parai Marapu (surga) dan papanggang atau hamba juga siap mendampingi almarhum. Yang tidak memberikan izin adalah nenek moyang yang ditandai dengan noda pada hati babi. Itu berarti masih ada akibatnya, baik keluarga dalam maupun keluarga luar. Keluarga perlu membuat upacara lagi untuk memohon ampun setelah penguburan. Jika belum diselesaikan, setiap hati babi yang disembelih pasti tetap ada tanda. Keluarga harus mencaritahu terus sampai mengetahui persoalannya mengapa nenek moyang marah. Upacara adat ini harus tuntas sehingga arwah almarhum tenang dan diterima penguasa jagat raya.
Jika diabaikan keluarga akan mendapat pahala. Seperti apa pahalanya? Baik ama bokol hama maupun tua adat lainnya tidak dapat meramalkan. Menurut Umbu Maramba Hau, pengalaman selama ini, pahalanya bisa berupa sakit, kebakaran, banjir, disambar petir bahkan kematian. Untuk menghindari hal-hal ini, keluarga akan berunding lagi dan melakukan upacara permohonan maaf kepada nenek moyang dengan menyembelih babi dan hamayang oleh ama bokol hama. Tapi untuk upacara permohonan maaf, baru akan dilakukan setelah amarah nenek moyang itu redah. Sama seperti manusia, disaat dia sedang marah sebaiknya kita jangan dulu meminta maaf, karena amarahnya akan mendidih bahkan akibatnya fatal. Bisa jadi emosinya tidak dapat dikendalikan lalu terjadi tindakan di luar yang diinginkan.
Masyarakat Sumba Timur meyakini suasana seperti itu, juga terjadi pada arwah nenek moyang. Untuk itu, dalam melakukan upacara permohonan maaf, butuh waktu jedah. Jika emosi seseorang sudah redah, mudah memaafkan. Saat itulah upacara itu dapat dilakukan. Keluarga dalam menyelenggarakan upacara permohonan maaf kepada leluhur yang marah, juga akan membaca suasana hati leluhur tersebut.
Perpisahan dan pemberian makan oleh keluarga kepada arwah orang yang meninggal dan arwah leluhur yang datang dengan cara memotong ayam (manu kanjiku reti) dan hamayang sebelum jenazah diberangkatkan ke liang lahat, merupakan penghormatan terakhir. Selain ayam, juga kuda (njara ndangang) sebagai kurban. Hati kuda diambil untuk diramal lalu dimasak pada tungku dekat uma bokul untuk dibuat sesajian, memberi makan kepada roh leluhur yang siap menjemput kedatangan arwah almarhum.
Umbu Maramba Hau menuturkan, almarhum Umbu Mehang Kunda sama sekali tidak meninggalkan pesan kepada keluarga. Keluarga juga tidak mendapat firasat kalau beliau akan meninggal dunia. Untuk itu, keluarga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga leluhur masih marah saat dilangsungkannya tata upacara pemakaman. Kesan umum yang keluarga terima, almarhum orangnya penyayang, tidak pernah dendam, mudah memaafkan dan sederhana. Semasa hidupnya tidak pernah marah kepada keluarga. Kalaupun marah, sebentar saja, lalu memaafkannya dengan cara guyon.
Itu yang membuat keluarga betul-betul kehilangan seorang bapak, seorang tokoh panutan. Kesan seperti ini, mungkin juga dirasakan pegawai negeri di lingkup Setda Sumba Timur dan masyarakat daerah itu umumnya. (bersambung)
Selasa, 25 November 2008
Menunggu Keseriusan Polisi di NTT
Oleh Dion DB Putra
KETIKA sebagian warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) mungkin telah lupa dan kehabisan harapan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghidupkan kembali harapan akan datangnya keadilan di bumi Flobamora. Sesuai cara kerja mereka yang tak banyak cakap, KPK datang ke Kupang dan melakukan gelar perkara penanganan kasus-kasus korupsi di Propinsi NTT.
Empat kasus korupsi yang sebelumnya dihentikan penyidikannya oleh aparat kepolisian di NTT bakal dibuka kembali oleh KPK. Penyidikan ditangani bersama KPK dan Polda NTT. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Resese Kriminal Kepolisian Daerah NTT, AKBP Mohamad Slamet, dua dari empat kasus yang digelar hari Kamis (20/11/2008), terdapat di Kabupaten Kupang. Dua kasus lainnya di Kota Kupang dan Belu.
Keempat kasus tersebut adalah kasus korupsi pengadaan kapal ikan di Kabupaten Kupang yang merugikan negara Rp 294 juta lebih yang diduga melibatkan Bupati Kupang, Drs. IA Medah. Kasus korupsi dana operasional di DPRD Kabupaten Kupang tahun 1999-2004 yang merugikan negara Rp 1 miliar, kasus korupsi dana operasional DPRD Kota Kupang tahun anggaran (TA) 1999-2004 senilai Rp 2,5 miliar, dan kasus korupsi dana tunjangan anggota DPRD Belu TA 1999-2004 senilai Rp 954.683.382. Total kerugian negara dari keempat kasus tersebut bukan jumlah yang sedikit.
Bukan pertama kali media massa lokal NTT dan media massa nasional memberitakan kasus dugaan korupsi tersebut. Dalam catatan kita, media massa memberi ruang yang cukup memadai terhadap berita tersebut. Perkembangannya dilaporkan secara rutin. Dalam spirit transparansi dan demi penegakan hukum, pers mengungkap fakta dan data. Sejumlah komponen masyarakat juga mendukung kerja polisi dengan memberikan data pendukung serta dukungan moril. Namun, semua tahu dan maklum. Setelah BAP-nya bolak-balik sekian kali, kasus-kasus tersebut berakhir dengan SP3. Prosesnya berhenti tanpa penjelasan memadai mengapa berhenti.
Masyarakat pencari keadilan sebatas tahu bahwa penyidikan suatu kasus dihentikan (SP3) karena tidak ditemukan cukup bukti. Apabila ingin membuka kembali kasus tersebut, penyidik membutuhkan novum atau bukti baru. Seperti diakui Slamet, peluang membuka kembali kasus itu terbuka lebar sepanjang ada novum.
Menurut pandangan kita, KPK telah menunjukkan keseriusannya untuk membuka kembali kasus ini bersama penyidik Polda. Kehadiran KPK di Kupang tidak sekadar menjalani tugas rutin. Lembaga itu telah meraih kepercayaan publik yang luar biasa besar karena sikap profesional yang mereka tunjukkan. Mereka telah menunjuk bukti berupa daftar panjang para koruptor yang masuk penjara karena menggarong uang rakyat. KPK akan memantau kinerja penyidik kepolisian di NTT dalam menangani kasus-kasus tersebut.
Penyidik Polri di sini hendaknya tidak tinggal diam karena masyarakat menunggu kelanjutan aksi yang lebih konkret. Tentu dibutuhkan kerja keras dan kerja secara cerdas untuk mendapatkan bukti baru. Korupsi merupakan kasus yang rumit dan pelik. Banyak cara yang harus ditempuh guna mengumpulknan bukti agar seseorang dapat diproses atau tidak.
Menangani kasus korupsi pun menghadapi banyak kendala, cobaan dan godaan. Jika mudah putus asa dan enteng tergoda , maka kehadiran KPK menggelar ulang kasus dugaan korupsi di atas tidak ada manfaatnya apa-apa. Kita akan kembali ke persoalan yang sama yakni penyidikan kasus korupsi jalan di tempat dan mereka yang diduga terlibat hidup bebas merdeka.
Kiranya diingat bahwa catatan penegakan hukum di Nusa Tenggara Timur selama era reformasi masih jauh dari menggembirakan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Khsus kasus tindak pidana korupsi, tidak sedikit pejabat publik yang lolos dari jeratan hukum. Kenyataan seperti itu tidak boleh terulang. Yang bersalah harus diproses secara hukum agar keadilan sungguh ditegakkan di tengah masyarakat Flobamora. **
KETIKA sebagian warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) mungkin telah lupa dan kehabisan harapan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghidupkan kembali harapan akan datangnya keadilan di bumi Flobamora. Sesuai cara kerja mereka yang tak banyak cakap, KPK datang ke Kupang dan melakukan gelar perkara penanganan kasus-kasus korupsi di Propinsi NTT.Empat kasus korupsi yang sebelumnya dihentikan penyidikannya oleh aparat kepolisian di NTT bakal dibuka kembali oleh KPK. Penyidikan ditangani bersama KPK dan Polda NTT. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Resese Kriminal Kepolisian Daerah NTT, AKBP Mohamad Slamet, dua dari empat kasus yang digelar hari Kamis (20/11/2008), terdapat di Kabupaten Kupang. Dua kasus lainnya di Kota Kupang dan Belu.
Keempat kasus tersebut adalah kasus korupsi pengadaan kapal ikan di Kabupaten Kupang yang merugikan negara Rp 294 juta lebih yang diduga melibatkan Bupati Kupang, Drs. IA Medah. Kasus korupsi dana operasional di DPRD Kabupaten Kupang tahun 1999-2004 yang merugikan negara Rp 1 miliar, kasus korupsi dana operasional DPRD Kota Kupang tahun anggaran (TA) 1999-2004 senilai Rp 2,5 miliar, dan kasus korupsi dana tunjangan anggota DPRD Belu TA 1999-2004 senilai Rp 954.683.382. Total kerugian negara dari keempat kasus tersebut bukan jumlah yang sedikit.
Bukan pertama kali media massa lokal NTT dan media massa nasional memberitakan kasus dugaan korupsi tersebut. Dalam catatan kita, media massa memberi ruang yang cukup memadai terhadap berita tersebut. Perkembangannya dilaporkan secara rutin. Dalam spirit transparansi dan demi penegakan hukum, pers mengungkap fakta dan data. Sejumlah komponen masyarakat juga mendukung kerja polisi dengan memberikan data pendukung serta dukungan moril. Namun, semua tahu dan maklum. Setelah BAP-nya bolak-balik sekian kali, kasus-kasus tersebut berakhir dengan SP3. Prosesnya berhenti tanpa penjelasan memadai mengapa berhenti.
Masyarakat pencari keadilan sebatas tahu bahwa penyidikan suatu kasus dihentikan (SP3) karena tidak ditemukan cukup bukti. Apabila ingin membuka kembali kasus tersebut, penyidik membutuhkan novum atau bukti baru. Seperti diakui Slamet, peluang membuka kembali kasus itu terbuka lebar sepanjang ada novum.
Menurut pandangan kita, KPK telah menunjukkan keseriusannya untuk membuka kembali kasus ini bersama penyidik Polda. Kehadiran KPK di Kupang tidak sekadar menjalani tugas rutin. Lembaga itu telah meraih kepercayaan publik yang luar biasa besar karena sikap profesional yang mereka tunjukkan. Mereka telah menunjuk bukti berupa daftar panjang para koruptor yang masuk penjara karena menggarong uang rakyat. KPK akan memantau kinerja penyidik kepolisian di NTT dalam menangani kasus-kasus tersebut.
Penyidik Polri di sini hendaknya tidak tinggal diam karena masyarakat menunggu kelanjutan aksi yang lebih konkret. Tentu dibutuhkan kerja keras dan kerja secara cerdas untuk mendapatkan bukti baru. Korupsi merupakan kasus yang rumit dan pelik. Banyak cara yang harus ditempuh guna mengumpulknan bukti agar seseorang dapat diproses atau tidak.
Menangani kasus korupsi pun menghadapi banyak kendala, cobaan dan godaan. Jika mudah putus asa dan enteng tergoda , maka kehadiran KPK menggelar ulang kasus dugaan korupsi di atas tidak ada manfaatnya apa-apa. Kita akan kembali ke persoalan yang sama yakni penyidikan kasus korupsi jalan di tempat dan mereka yang diduga terlibat hidup bebas merdeka.
Kiranya diingat bahwa catatan penegakan hukum di Nusa Tenggara Timur selama era reformasi masih jauh dari menggembirakan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Khsus kasus tindak pidana korupsi, tidak sedikit pejabat publik yang lolos dari jeratan hukum. Kenyataan seperti itu tidak boleh terulang. Yang bersalah harus diproses secara hukum agar keadilan sungguh ditegakkan di tengah masyarakat Flobamora. **
Menangislah Bila Harus Menangis
Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis,
dan manusia pun bisa mengambil hikmah
KAPAN kali Anda menangis? Saat menonton film sedih, saat bertengkar dengan kekasih, atau sudah lama tidak menangis? Seharusnya Anda tak perlu takut mencucurkan air mata. Seperti sepenggal lirik dari lagu Air Mata yang dinyanyikan oleh grup band Dewa di atas. Sebagai manusia, wajar jika kita menangis, baik pria maupun wanita. Apalagi, menangis banyak manfaatnya.
Menurut penelitian, perempuan menangis sekitar 47 kali dalam setahun, sedangkan laki-laki hanya tujuh kali. Tingginya hormon prolaktin dalam tubuh wanita diduga jadi penyebabnya.
Sebuah penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat menyebutkan, 9 dari 10 orang mengaku merasa lebih lega setelah menangis. Bahkan, para ahli juga percaya kalau menangis bisa menyembuhkan sakit dan meningkatkan kadar hormon adrenalin.
"Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata," kata Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University. Menurut Profesor William Frey, ahli tangis dari AS, air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin atau stres sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi.
Bila ada yang masih takut disebut cengeng karena menangis, sebaiknya simak manfaat dari mencucurkan air mata berikut ini.
* Minta tolong
Tak semua hal bisa diungkapkan lewat kata-kata. Demikian juga saat kita sedang membutuhkan bantuan orang lain. Saat air mata mengalir, ini bisa jadi tanda Anda butuh dibantu. Tangisan juga kerap menimbulkan rasa iba orang lain.
* Melepas stres
Setelah menangis hati yang sesak pun langsung terasa lega. Penelitian pun menunjukkan bahwa air mata yang keluar bisa melegakan rasa stres.
* Meredakan sakit
Sebuah studi yang dilakukan di Jepang menunjukkan, orang yang lebih sering menangis lebih jarang mengalami sakit encok. Para ahli menduga hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya hormon endorphins atau hormon antisakit saat kita menangis.
* Lebih kuat
Selama dan setelah menangis kita akan menarik napas dalam sehingga kadar oksigen dalam darah meningkat. Hal ini akan membuat mental dan fisik terasa lebih kuat.
Melihat banyaknya manfaat dari tangisan, para peneliti di AS kini merekomendasikan terapi menangis untuk orang-orang tertentu, terutama mereka yang punya kesulitan dalam mengekspresikan emosinya. (the sun)
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis,
dan manusia pun bisa mengambil hikmah
KAPAN kali Anda menangis? Saat menonton film sedih, saat bertengkar dengan kekasih, atau sudah lama tidak menangis? Seharusnya Anda tak perlu takut mencucurkan air mata. Seperti sepenggal lirik dari lagu Air Mata yang dinyanyikan oleh grup band Dewa di atas. Sebagai manusia, wajar jika kita menangis, baik pria maupun wanita. Apalagi, menangis banyak manfaatnya.
Menurut penelitian, perempuan menangis sekitar 47 kali dalam setahun, sedangkan laki-laki hanya tujuh kali. Tingginya hormon prolaktin dalam tubuh wanita diduga jadi penyebabnya.
Sebuah penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat menyebutkan, 9 dari 10 orang mengaku merasa lebih lega setelah menangis. Bahkan, para ahli juga percaya kalau menangis bisa menyembuhkan sakit dan meningkatkan kadar hormon adrenalin.
"Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata," kata Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University. Menurut Profesor William Frey, ahli tangis dari AS, air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin atau stres sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi.
Bila ada yang masih takut disebut cengeng karena menangis, sebaiknya simak manfaat dari mencucurkan air mata berikut ini.
* Minta tolong
Tak semua hal bisa diungkapkan lewat kata-kata. Demikian juga saat kita sedang membutuhkan bantuan orang lain. Saat air mata mengalir, ini bisa jadi tanda Anda butuh dibantu. Tangisan juga kerap menimbulkan rasa iba orang lain.
* Melepas stres
Setelah menangis hati yang sesak pun langsung terasa lega. Penelitian pun menunjukkan bahwa air mata yang keluar bisa melegakan rasa stres.
* Meredakan sakit
Sebuah studi yang dilakukan di Jepang menunjukkan, orang yang lebih sering menangis lebih jarang mengalami sakit encok. Para ahli menduga hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya hormon endorphins atau hormon antisakit saat kita menangis.
* Lebih kuat
Selama dan setelah menangis kita akan menarik napas dalam sehingga kadar oksigen dalam darah meningkat. Hal ini akan membuat mental dan fisik terasa lebih kuat.
Melihat banyaknya manfaat dari tangisan, para peneliti di AS kini merekomendasikan terapi menangis untuk orang-orang tertentu, terutama mereka yang punya kesulitan dalam mengekspresikan emosinya. (the sun)
Tinggal Sesaat Kami Melihat Tuan...
Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (2)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
PENGANUT kepercayaan marapu meyakini kematian sebagai peristiwa penting dalam kehidupan seseorang menuju kebahagiaan sejati. Walau sudah dibaptis menjadi penganut Kristen, baik Protestan maupun Katolik, masyarakat Sumba Timur khususnya dan Sumba umumnya, masih meyakini kepercayaan warisan leluhur itu, sehingga setiap kematian, tata upacara pemakaman dilakukan secara marapu.
Ada yang melakukan seremoni itu secara sederhana, ada pula yang spektakuler dengan memotong ratusan ekor hewan, dihadiri ratusan rombongan adat. Semuanya tergantung strata sosial di masyarakat. Yang jelas tata upacara pemakaman umbu maramba berbeda dengan hamba atau papanggang. Jika yang meninggal dunia keturunan bangsawan atau raja, apalagi ekonomi sanak keluarga tergolong mampu, maka tata upacaranya betul-betul spektakuler. Meriah, gegap gempita. Prestise keluarga dipertaruhkan.
Bagi pemeluk marapu, upacara pemakaman atau penguburan merupakan saat-saat penting untuk melapangkan jalan arwah ke Parai Marapu (surga). Diyakini seseorang tidak dapat menuju Parai Marapu jika tidak ada pertolongan dari leluhur sehingga perlu dilakukan upacara menurut adat istiadat di tanah seribu batu kubur itu. Besarnya arti kematian dapat dilihat dari megahnya kubur megalitik atau batu kubur. Kemewahan sebuah upacara penguburan bervariasi, tergantung status sosial orang yang meninggal dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakan upacara pemakaman itu. Semakin mampu keluarga yang meninggal semakin megah batu kuburnya dan semakin mahal ongkosnya.
Walau peradaban bangsa ini sudah maju, masyarakat Sumba Timur khususnya dan Sumba umumnya, tetap melestarikan tata upacara pemakaman warisan leluhur tanah marapu itu. Kepercayaan terhadap tata upacara pemakaman marapu tak pernah memandang jabatan, pangkat dan status sosial semasa hidup. Bagi masyarakat Sumba Timur, kematian adalah urusan keluarga, urusan marga sehingga embel-embel jabatan yang diemban semasa hidup ditanggalkan, apalagi strata sosial orang yang mati berasal dari keluarga bangsawan atau turunan raja seperti Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur periode 2005-2010 yang meninggal dunia Sabtu 2 Agustus 2008 lalu.
Jenazah Umbu Mehang Kunda disimpan selama 102 hari di uma bokul (rumah besar) di Kampung Prai Awang, Rende, dan baru dimakamkan Senin, 10 November 2008, melalui prosesi adat marapu pemakaman raja-raja Sumba. Semalam sebelum jazad almarhum dihantar ke liang lahat, dilantunkan kisah hidup dan silsilah almarhum Umbu Mehang Kunda melalui nyanyian oleh para wunang (juru bicara) diikuti tangisan papanggang (hamba) perempuan di samping kiri dan kanan jenazah yang disemayamkan di uma bokul (rumah adat).
Para wunang duduk berjejer di balai-balai uma bokul, tepat di pintu masuk menuju tempat persemayaman jenazah. Syair-syair adat dengan bahasa yang dalam dan sulit diterjemahkan terus dilantunkan. Iramanya seperti kidung kematian diawali dengan nada yang sangat tinggi, semakin larut malam nadanya semakin menurun, merdu dan haru. Koor dan solo sahut menyahut diiringi gong irama kandaki manaih.
Menurut Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha, juru bicara keluarga anamburung, nyanyian para wunang selain mengisahkan turun temurun dan perjalanan hidup almarhum, juga memohon kepada Mawulu Tau Maji Tau (sang pencipta manusia yang digambarkan sebagai perempuan yang disebut Ina Pakawurungu (ibu sejagat raya) dan Ama Pakawurungu yang disebut ama ndaba (bapak sejagat raya). Masyarakat Sumba Timur yang masih meyakini kepercayaan marapu percaya kalau Ina mbulu dan Ama ndaba adalah orang yang bermata dan bertelinga besar, Na mabakulu wua mata-na ma mbalaru kahilu, yang dapat melihat dan mendengar dengan sempurna apa yang dikatakan atau permohonan orang hidup dan mengetahui setiap perbuatan manusia. Mereka itulah yang memberikan kesuburan dan kesejahteraan di bumi sandelwood.
Sedangkan tangisan papanggang wanita menyesali mengapa armarhum meninggal. Bagaimana sudah? "Kami tak berkuasa melepas kepergian tuan, kami hanyalah manusia biasa, kami hanyalah orang tak berdaya, yang kami miliki hanyalah tangisan." Saat menangis para papanggang juga memohon kepada Ina mbulu dan Ama ndaba untuk mendengar keluh kesah dan melihat duka nestapa yang mereka alami. Mereka sudah tak berdaya karena ditinggal pergi sang raja, tuan yang dihormati dan disegani, tuan yang mengayomi mereka. Tangisan ini dilantunkan sejak jenazah almarhum disemayamkan di uma bokul.
Semalam sebelum jenazah dihantar ke liang lahat, para papanggang semakin sedih. "Tinggal semalam kami menyembah tuan, tinggal sesaat kami melihat tuan, sebentar lagi tuan akan pergi, pergi meninggalkan kami. Kami siap mengantar tuan menuju alam yang sejahtera."
Menurut Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha, itulah isi singkat dari nyanyian para wunang dan tangisan papanggang menjelang hari pemakaman jenazah almarhum. Nyanyian dan tangisan ini, katanya, bukan hanya untuk almarhum Umbu Mehang Kunda, tapi untuk kematian bangsawan atau raja-raja lain. Cuma pesan yang disampaikan sesuai dengan kesan semasa hidup.
Almarhum Umbu Mehang Kunda adalah orang yang menentang pemberlakukan kasta antara bangsawan dengan papanggang atau hamba. Sejak almarhum menjabat Bupati Sumba Timur tahun 2000, dia melarang kultur pemakaman raja-raja yang diikuti dengan papanggang atau hamba, karena melanggar hak asasi manusia. Ini dibuktikan ketika beliau dimakamkan. Tidak ada papanggang atau hamba setia yang ikut dikuburkan bersama beliau.
Menurut Umbu Maramba Hau, semasa hidupnya Mehang Kunda melarang raja-raja di Sumba Timur mati membawa hamba atau papanggang. Beliau meminta keluarga anamburung memberikan contoh. Apalagi keluarga anamburung telah mengharamkan itu sejak nenek moyang mereka. Keluarga anamburung sangat menghormati dan menghargai sesama manusia sehingga tidak membiasakan raja mati diikuti hamba setia.
Kembali ke nyanyian para wunang dan tangis papanggang. Kidung-kidung yang dilantunkan para wunang juga memohon ampun atas salah dan dosa almarhum semasa hidup dan meminta sang penguasa jagat memberikan jalan yang lebar agar arwahnya tak terhambat saat menuju Prai Marapu (surga).
Malam itu juga disembelih seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk dilihat hati dan tali perutnya. Hati babi dan tali perut ayam Ama bokol hama (Pendeta Marapu) untuk mengetahui isi hati almarhum kepada sanak keluarga yang ditinggalkan. Jika almarhum atau nenek moyang marah, hati babi atau tali perut ayam memberi tanda khusus. Seperti apa hasilnya? (bersambung)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana AhmadPENGANUT kepercayaan marapu meyakini kematian sebagai peristiwa penting dalam kehidupan seseorang menuju kebahagiaan sejati. Walau sudah dibaptis menjadi penganut Kristen, baik Protestan maupun Katolik, masyarakat Sumba Timur khususnya dan Sumba umumnya, masih meyakini kepercayaan warisan leluhur itu, sehingga setiap kematian, tata upacara pemakaman dilakukan secara marapu.
Ada yang melakukan seremoni itu secara sederhana, ada pula yang spektakuler dengan memotong ratusan ekor hewan, dihadiri ratusan rombongan adat. Semuanya tergantung strata sosial di masyarakat. Yang jelas tata upacara pemakaman umbu maramba berbeda dengan hamba atau papanggang. Jika yang meninggal dunia keturunan bangsawan atau raja, apalagi ekonomi sanak keluarga tergolong mampu, maka tata upacaranya betul-betul spektakuler. Meriah, gegap gempita. Prestise keluarga dipertaruhkan.
Bagi pemeluk marapu, upacara pemakaman atau penguburan merupakan saat-saat penting untuk melapangkan jalan arwah ke Parai Marapu (surga). Diyakini seseorang tidak dapat menuju Parai Marapu jika tidak ada pertolongan dari leluhur sehingga perlu dilakukan upacara menurut adat istiadat di tanah seribu batu kubur itu. Besarnya arti kematian dapat dilihat dari megahnya kubur megalitik atau batu kubur. Kemewahan sebuah upacara penguburan bervariasi, tergantung status sosial orang yang meninggal dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakan upacara pemakaman itu. Semakin mampu keluarga yang meninggal semakin megah batu kuburnya dan semakin mahal ongkosnya.
Walau peradaban bangsa ini sudah maju, masyarakat Sumba Timur khususnya dan Sumba umumnya, tetap melestarikan tata upacara pemakaman warisan leluhur tanah marapu itu. Kepercayaan terhadap tata upacara pemakaman marapu tak pernah memandang jabatan, pangkat dan status sosial semasa hidup. Bagi masyarakat Sumba Timur, kematian adalah urusan keluarga, urusan marga sehingga embel-embel jabatan yang diemban semasa hidup ditanggalkan, apalagi strata sosial orang yang mati berasal dari keluarga bangsawan atau turunan raja seperti Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur periode 2005-2010 yang meninggal dunia Sabtu 2 Agustus 2008 lalu.
Jenazah Umbu Mehang Kunda disimpan selama 102 hari di uma bokul (rumah besar) di Kampung Prai Awang, Rende, dan baru dimakamkan Senin, 10 November 2008, melalui prosesi adat marapu pemakaman raja-raja Sumba. Semalam sebelum jazad almarhum dihantar ke liang lahat, dilantunkan kisah hidup dan silsilah almarhum Umbu Mehang Kunda melalui nyanyian oleh para wunang (juru bicara) diikuti tangisan papanggang (hamba) perempuan di samping kiri dan kanan jenazah yang disemayamkan di uma bokul (rumah adat).
Para wunang duduk berjejer di balai-balai uma bokul, tepat di pintu masuk menuju tempat persemayaman jenazah. Syair-syair adat dengan bahasa yang dalam dan sulit diterjemahkan terus dilantunkan. Iramanya seperti kidung kematian diawali dengan nada yang sangat tinggi, semakin larut malam nadanya semakin menurun, merdu dan haru. Koor dan solo sahut menyahut diiringi gong irama kandaki manaih.
Menurut Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha, juru bicara keluarga anamburung, nyanyian para wunang selain mengisahkan turun temurun dan perjalanan hidup almarhum, juga memohon kepada Mawulu Tau Maji Tau (sang pencipta manusia yang digambarkan sebagai perempuan yang disebut Ina Pakawurungu (ibu sejagat raya) dan Ama Pakawurungu yang disebut ama ndaba (bapak sejagat raya). Masyarakat Sumba Timur yang masih meyakini kepercayaan marapu percaya kalau Ina mbulu dan Ama ndaba adalah orang yang bermata dan bertelinga besar, Na mabakulu wua mata-na ma mbalaru kahilu, yang dapat melihat dan mendengar dengan sempurna apa yang dikatakan atau permohonan orang hidup dan mengetahui setiap perbuatan manusia. Mereka itulah yang memberikan kesuburan dan kesejahteraan di bumi sandelwood.
Sedangkan tangisan papanggang wanita menyesali mengapa armarhum meninggal. Bagaimana sudah? "Kami tak berkuasa melepas kepergian tuan, kami hanyalah manusia biasa, kami hanyalah orang tak berdaya, yang kami miliki hanyalah tangisan." Saat menangis para papanggang juga memohon kepada Ina mbulu dan Ama ndaba untuk mendengar keluh kesah dan melihat duka nestapa yang mereka alami. Mereka sudah tak berdaya karena ditinggal pergi sang raja, tuan yang dihormati dan disegani, tuan yang mengayomi mereka. Tangisan ini dilantunkan sejak jenazah almarhum disemayamkan di uma bokul.
Semalam sebelum jenazah dihantar ke liang lahat, para papanggang semakin sedih. "Tinggal semalam kami menyembah tuan, tinggal sesaat kami melihat tuan, sebentar lagi tuan akan pergi, pergi meninggalkan kami. Kami siap mengantar tuan menuju alam yang sejahtera."
Menurut Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha, itulah isi singkat dari nyanyian para wunang dan tangisan papanggang menjelang hari pemakaman jenazah almarhum. Nyanyian dan tangisan ini, katanya, bukan hanya untuk almarhum Umbu Mehang Kunda, tapi untuk kematian bangsawan atau raja-raja lain. Cuma pesan yang disampaikan sesuai dengan kesan semasa hidup.
Almarhum Umbu Mehang Kunda adalah orang yang menentang pemberlakukan kasta antara bangsawan dengan papanggang atau hamba. Sejak almarhum menjabat Bupati Sumba Timur tahun 2000, dia melarang kultur pemakaman raja-raja yang diikuti dengan papanggang atau hamba, karena melanggar hak asasi manusia. Ini dibuktikan ketika beliau dimakamkan. Tidak ada papanggang atau hamba setia yang ikut dikuburkan bersama beliau.
Menurut Umbu Maramba Hau, semasa hidupnya Mehang Kunda melarang raja-raja di Sumba Timur mati membawa hamba atau papanggang. Beliau meminta keluarga anamburung memberikan contoh. Apalagi keluarga anamburung telah mengharamkan itu sejak nenek moyang mereka. Keluarga anamburung sangat menghormati dan menghargai sesama manusia sehingga tidak membiasakan raja mati diikuti hamba setia.
Kembali ke nyanyian para wunang dan tangis papanggang. Kidung-kidung yang dilantunkan para wunang juga memohon ampun atas salah dan dosa almarhum semasa hidup dan meminta sang penguasa jagat memberikan jalan yang lebar agar arwahnya tak terhambat saat menuju Prai Marapu (surga).
Malam itu juga disembelih seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk dilihat hati dan tali perutnya. Hati babi dan tali perut ayam Ama bokol hama (Pendeta Marapu) untuk mengetahui isi hati almarhum kepada sanak keluarga yang ditinggalkan. Jika almarhum atau nenek moyang marah, hati babi atau tali perut ayam memberi tanda khusus. Seperti apa hasilnya? (bersambung)
Wasit: Berkuasa dan Dicerca
DI Inggris sedang ada kampanye besar-besaran untuk menghormati wasit. Sebuah ide mulia dan memang seharusnya, tetapi juga sebuah absurditas mengingat evolusi atau bahkan revolusi yang telah terjadi dalam dunia sepakbola.
Sepakbola, seperti juga permainan lain, awalnya adalah sebuah permainan untuk sekadar bersenang-senang, melupakan rutinitas kehidupan sehari-hari. Sebuah permainan untuk membantu membangun karakter pribadi dan kolektif. Selesai bertanding orang boleh tidak puas, puas, menggerutu, bergembira, bersedih, tapi kemudian melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan sesungguhnya. Kembali ke rutinitas sehari-hari.
Tetapi kini sepakbola bagi mereka yang terlibat dalam dunia sepakbola ini adalah kehidupan itu sendiri. Sepakbola telah menjadi ekspresi pribadi, sosial, politik, dan ekonomi. Nilai kehidupan tergantung padanya.
Dalam situasi ini sangatlah absurd bila hakim, administrator, arbitrator, penentu hitam putihnya di lapangan, masih juga dipegang tunggal oleh wasit -- kecuali kalau wasit adalah entitas maha sempurna tentunya.
Setiap pekan kita bisa melihat sendiri bagaimana wasit sering melakukan kesalahan. Murni bukan kesengajaan. Entah karena lalai, tidak melihat dengan jelas, pemain yang dengan cerdik berpura-pura, dan berbagai sebab lain.
Para komentator sepakbola ataupun penonton televisi diuntungkan oleh replay yang kadang sampai berulang-ulang dengan sudut beragam, tetapi wasit tidak punya kemewahan itu dan harus mengambil keputusan seketika. Betapa susahnya.
Bayangkan perumpamaan ekstrim ini. Dalam pertandingan penentuan degradasi Premier League seorang wasit memutuskan tendangan penalti di detik terakhir dan menjadi penentu kemenangan-kekalahan sebuah tim. Kalau keputusan itu benar tidak akan menjadi masalah. Atau menjadi masalah tetapi dengan dimensi yang lain. Tetapi bagaimana kalau salah?
Satu keputusan salah itu jutaan poundsterling nilainya. Juga bisa merupakan garis tipis dipecat tidaknya seorang manajer, hengkangnya para pemain bagus dari klub bersangkutan, menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi mereka yang terlibat menjalankan kehidupan keseharian klub. Belum lagi berbicara dampak psikologis kolektif bagi pendukung yang kalah secara tidak adil.
Para sejarawan sepakbola tentu tidak akan melupakan babak kualifikasi Piala Dunia 1970 antara Honduras dan El Savador tahun 1969. Ketegangan antara dua negara bertetangga di Amerika Tengah yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu akhirnya menjadi perang terbuka, setelah kedua negara ini bertanding sepakbola. Bayangkan peran dan perasaan wasit di pertandingan itu.
Dengan taruhan yang begitu besar dan kemampuan wasit yang sangat terbatas tetapi keputusannya sangat amat menentukan, tak pelak wasit mudah sekali menjadi sasaran tembak ketidakpuasan. Terutama sekali pemain, manajer, dan penonton, serta tak ketinggalan komentator sepakbola, tidak pernah berberat tangan untuk menghujat mereka. Itulah sebabnya kampanye agar wasit dan keputusannya dihormati 100 persen adalah sebuah absurditas konyol.
Para manajer mengatakan mereka akan menghormati wasit kalau wasit bisa konsisten dan sempurna. Ini kekonyolan dalam bentuk lain. Ini seperti menuntut manusia untuk selalu sempurna setiap saat. Padahal apakah pemain juga bersikap sempurna kalau mereka sering berpura-pura menjatuhkan diri, menarik kaos lawan, dan memprotes keputusan yang sudah sempurna? Apakah manajer juga bersikap sempurna ketika menerima keputusan wasit yang salah tetapi menguntungkan timnya, tetapi begitu dirugikan segala macam perbendaharaan makian mereka keluarkan?
Masih beruntung menjadi wasit di Eropa atau di Inggris ini, coba kalau di Indonesia. Bukan sekadar hujatan yang diterima, bogem mentah dan ketupat bengkulu pun sering dilontarkan. Mengerikan. (dtc)
Sepakbola, seperti juga permainan lain, awalnya adalah sebuah permainan untuk sekadar bersenang-senang, melupakan rutinitas kehidupan sehari-hari. Sebuah permainan untuk membantu membangun karakter pribadi dan kolektif. Selesai bertanding orang boleh tidak puas, puas, menggerutu, bergembira, bersedih, tapi kemudian melupakan semuanya dan kembali ke kehidupan sesungguhnya. Kembali ke rutinitas sehari-hari.
Tetapi kini sepakbola bagi mereka yang terlibat dalam dunia sepakbola ini adalah kehidupan itu sendiri. Sepakbola telah menjadi ekspresi pribadi, sosial, politik, dan ekonomi. Nilai kehidupan tergantung padanya.
Dalam situasi ini sangatlah absurd bila hakim, administrator, arbitrator, penentu hitam putihnya di lapangan, masih juga dipegang tunggal oleh wasit -- kecuali kalau wasit adalah entitas maha sempurna tentunya.
Setiap pekan kita bisa melihat sendiri bagaimana wasit sering melakukan kesalahan. Murni bukan kesengajaan. Entah karena lalai, tidak melihat dengan jelas, pemain yang dengan cerdik berpura-pura, dan berbagai sebab lain.
Para komentator sepakbola ataupun penonton televisi diuntungkan oleh replay yang kadang sampai berulang-ulang dengan sudut beragam, tetapi wasit tidak punya kemewahan itu dan harus mengambil keputusan seketika. Betapa susahnya.
Bayangkan perumpamaan ekstrim ini. Dalam pertandingan penentuan degradasi Premier League seorang wasit memutuskan tendangan penalti di detik terakhir dan menjadi penentu kemenangan-kekalahan sebuah tim. Kalau keputusan itu benar tidak akan menjadi masalah. Atau menjadi masalah tetapi dengan dimensi yang lain. Tetapi bagaimana kalau salah?
Satu keputusan salah itu jutaan poundsterling nilainya. Juga bisa merupakan garis tipis dipecat tidaknya seorang manajer, hengkangnya para pemain bagus dari klub bersangkutan, menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi mereka yang terlibat menjalankan kehidupan keseharian klub. Belum lagi berbicara dampak psikologis kolektif bagi pendukung yang kalah secara tidak adil.
Para sejarawan sepakbola tentu tidak akan melupakan babak kualifikasi Piala Dunia 1970 antara Honduras dan El Savador tahun 1969. Ketegangan antara dua negara bertetangga di Amerika Tengah yang tidak ada hubungannya dengan sepakbola itu akhirnya menjadi perang terbuka, setelah kedua negara ini bertanding sepakbola. Bayangkan peran dan perasaan wasit di pertandingan itu.
Dengan taruhan yang begitu besar dan kemampuan wasit yang sangat terbatas tetapi keputusannya sangat amat menentukan, tak pelak wasit mudah sekali menjadi sasaran tembak ketidakpuasan. Terutama sekali pemain, manajer, dan penonton, serta tak ketinggalan komentator sepakbola, tidak pernah berberat tangan untuk menghujat mereka. Itulah sebabnya kampanye agar wasit dan keputusannya dihormati 100 persen adalah sebuah absurditas konyol.
Para manajer mengatakan mereka akan menghormati wasit kalau wasit bisa konsisten dan sempurna. Ini kekonyolan dalam bentuk lain. Ini seperti menuntut manusia untuk selalu sempurna setiap saat. Padahal apakah pemain juga bersikap sempurna kalau mereka sering berpura-pura menjatuhkan diri, menarik kaos lawan, dan memprotes keputusan yang sudah sempurna? Apakah manajer juga bersikap sempurna ketika menerima keputusan wasit yang salah tetapi menguntungkan timnya, tetapi begitu dirugikan segala macam perbendaharaan makian mereka keluarkan?
Masih beruntung menjadi wasit di Eropa atau di Inggris ini, coba kalau di Indonesia. Bukan sekadar hujatan yang diterima, bogem mentah dan ketupat bengkulu pun sering dilontarkan. Mengerikan. (dtc)
Senin, 24 November 2008
Rombongan Adat, Simbol Kebangsawanan
Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (1)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
SABTU, 2 Agustus 2008, pukul 01.00 Wita. Bumi Matawai Amahu Pada Njara Hamu, trenyu. Ringkik kuda sandel sesaat diam. Goyang rumput sabana terhenti. Umbu, Rambu, Maramba, Hamba, menangis. Sumba Timur diselimuti kabut duka. Duka nestapa atas berpulangnya, Ir. Umbu Mehang Kunda, kepada Sang Khaliq. Lonceng gereja dibunyikan, imam masjid mengumumkan kepada umat bahwa pemimpin yang familiar, komunikatif berada di tengah semua golongan, semua suku dan semua agama telah meninggal dunia.
Ir. Umbu Mehang Kunda bukan hanya seorang bupati di Sumba Timur. Mehang Kunda adalah keturunan Raja Rende. Karenanya tata upacara pemakaman dilakukan secara adat marapu pemakaman raja-raja. Hasil urung rembug keluarga anamburung, marga almarhum sepakat jenazahnya dimakamkan di kampung adat Prai Awang, Rende, 10 November 2008.
Mulai Sabtu (8/11/2008), rangkaian tata upacara pemakaman dilangsungkan. Diawali dengan ibadah syukuran, karena Umbu Mehang Kunda telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan. Semua rangakaian upacara berlangsung di Kampung Prai Awang, tempat ayah almarhum, Umbu Windi Pandji Djawa alias Umbu Nai Hiwa dimakamkan.
Pada hari itu, saya dan Diana (wartawati Pos Kupang di Sumba Timur) menuju Kampung Prai Awang, sekitar 70 kilometer arah timur Kota Waingapu. Kurang lebih dua jam perjalanan, kami memasuki kawasan kampung adat itu. Kami menyaksikan sekitar tanah lapang depan gang masuk kampung, berdiri tegak tenda-tenda untuk tempat makan para tamu. Di tanah lapang itu, juga telah disiapkan tempat parkir. Di samping barat gang masuk ke kampung itu, terdapat sebuah kandang besar yang dipagari batu gunung, tempat pengikatan kuda dan kerbau. Banyak orang berpakaian khas Sumba hilir mudik ke sana ke mari, menyiapkan segala keperluan untuk acara adat pemakaman.
Kampung seluas kurang lebih 0,5 hektar, itu diapiti 23 rumah adat di sisi timur dan barat. Di tengah-tengah kampung terdapat 11 batu kubur besar dan beberapa batu kubur kecil. Salah satu batu kubur besar masih kosong. Batu kubur megalitik yang megah dengan berat 31 ton itu yang disiapkan keluarga anamburung untuk pemakaman jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda. Di tengah kampung, dekat batu kubur yang kosong, terdapat sebuah tenda besar yang sudah dipadati jemaat, para PNS lingkup Setda Sumba Timur, sanak keluarga anamburung dan sahabat kenalan almarhum. Sebuah altar kecil dan sound system tersusun rapi. Rupanya hari itu ada jadwal kebaktian syukur menjelang pemakaman almarhum Umbu Mehang Kunda yang telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan.
Begitu kami mengambil tempat duduk di tenda, langsung disuguhkan kuta dan winnu (sirih pinang) pada baola pahapa (tempat sirih pinang). Walau tidak biasa makan sirih pinang, kami menjamah saja sebagai wujud penghargaan kepada tuan rumah. Menyuguhkan kuta dan winnu merupakan penghormatan tuan rumah terhadap setiap tamu di Sumba Timur. Tuan rumah tersinggung jika tamunya menolak makan atau menjamah baola pahapa yang disuguhkan.
Sekitar pukul 17.00 Wita, kebaktian dimulai, dipimpin langsung Ketua GKS, Pdt. David Umbu Dingu, S.Th. Kebaktian berlangsung sekitar satu jam, dilanjutkan sekapur sirih dari keluarga yang diwakili Umbu Lili Pekualing, adik kandung almarhum Umbu Mehang Kunda, dan makan bersama.
Kami langsung mencari tokoh adat untuk dijadikan narasumber yang bisa menceritakan tata upacara pemakaman raja-raja Sumba. Beberapa orangtua didekati tapi mengaku tidak berhak berbicara. Umbu Lili Pekualing yang adalah adik kandung almarhum, juga mengaku tidak mengetahui secara detail tentang tata upacara itu dan menyarankan menemui juru bicara keluarga anamburung. Ada yang mengaku tahu dan mengerti tapi status mereka yera (ipar) dari almarhum atau status ipar dalam keluarga anamburung. Ada yang tahu tata upacara tapi status sebagai papanggang atau hamba.
Belum menemukan narasumber, kami memilih bergabung dengan tamu lain di bale-bale uma bokul (rumah besar) tempat jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda disemayamkan. Di sana kami bertemu Om Cyrilus, sahabat kental almarhum yang sudah dianggap sebagai keluarga oleh marga anamburung. Om Cyrilus sangat mengenal orang-rang di kampung itu, mengenal baik kerabat dan sanak keluarga almarhum Umbu Mehang Kunda. Dia mengajak kami ke sebuah rumah adat di sebelah timur uma bokul. Di sana kami dipertemukan dengan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha.
Umbu Maramba Hau yang saat itu cukup sibuk mengatur lalu lintas dan tata upacara pemakaman, menuturkan, penyimpanan jenazah, terutama jenazah para raja di Sumba Timur umumnya dan Kampung Prai Awang khususnya, itu hal biasa. Lamanya penyimpanan jenazah tergantung ekonomi. Jika ekonomi keluarga kuat, penyimpanan jenazah paling lama satu tahun langsung dimakamkan. Jika ekonomi keluarga kurang kuat penyimpanannya bisa 5-10 tahun, karena keluarga yang menyelenggarakan pemakaman harus bekerja menyiapkan segala kebutuhan, terutama hewan dan batu kubur.
Biasanya, jadwal pemakaman diambil berdasarkan musyawarah kabihu (rumpun keluarga atau marga). Khusus almarhum Umbu Mehang Kunda, hanya 102 hari penyimpanan, lalu dimakamkan, mengingat beliau punya jasa dan ekonomi keluarganya kuat. Untuk itu, keluarga anamburung mengundang 150 rombongan adat yang terdaftar dan 50 rombongan adat cadangan. Keluarga anamburung sudah siapkan balasan kepada rombongan adat yang membawa kerbau, babi, mamoli dan kain.
Setiap pembawaan rombongan adat akan dibalas sesuai silsila adatnya. Jumlah rombongan adat, pembawaan dan balasan merupakan simbol kebangsawanan orang yang meninggal dan keluarga yang menyelenggarakan pemakaman. Jenis barang bawaan dan balasan harus diurut secara benar untuk melapangkan jalan arwah almarhum menuju Parai Marapu (surga). Penganut marapu meyakini simbol adat yang dilakukan dalam tata upacara pemakaman, berlangsung juga di Parai Marapu. (bersambung)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
SABTU, 2 Agustus 2008, pukul 01.00 Wita. Bumi Matawai Amahu Pada Njara Hamu, trenyu. Ringkik kuda sandel sesaat diam. Goyang rumput sabana terhenti. Umbu, Rambu, Maramba, Hamba, menangis. Sumba Timur diselimuti kabut duka. Duka nestapa atas berpulangnya, Ir. Umbu Mehang Kunda, kepada Sang Khaliq. Lonceng gereja dibunyikan, imam masjid mengumumkan kepada umat bahwa pemimpin yang familiar, komunikatif berada di tengah semua golongan, semua suku dan semua agama telah meninggal dunia.
Ir. Umbu Mehang Kunda bukan hanya seorang bupati di Sumba Timur. Mehang Kunda adalah keturunan Raja Rende. Karenanya tata upacara pemakaman dilakukan secara adat marapu pemakaman raja-raja. Hasil urung rembug keluarga anamburung, marga almarhum sepakat jenazahnya dimakamkan di kampung adat Prai Awang, Rende, 10 November 2008.
Mulai Sabtu (8/11/2008), rangkaian tata upacara pemakaman dilangsungkan. Diawali dengan ibadah syukuran, karena Umbu Mehang Kunda telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan. Semua rangakaian upacara berlangsung di Kampung Prai Awang, tempat ayah almarhum, Umbu Windi Pandji Djawa alias Umbu Nai Hiwa dimakamkan.
Pada hari itu, saya dan Diana (wartawati Pos Kupang di Sumba Timur) menuju Kampung Prai Awang, sekitar 70 kilometer arah timur Kota Waingapu. Kurang lebih dua jam perjalanan, kami memasuki kawasan kampung adat itu. Kami menyaksikan sekitar tanah lapang depan gang masuk kampung, berdiri tegak tenda-tenda untuk tempat makan para tamu. Di tanah lapang itu, juga telah disiapkan tempat parkir. Di samping barat gang masuk ke kampung itu, terdapat sebuah kandang besar yang dipagari batu gunung, tempat pengikatan kuda dan kerbau. Banyak orang berpakaian khas Sumba hilir mudik ke sana ke mari, menyiapkan segala keperluan untuk acara adat pemakaman.
Kampung seluas kurang lebih 0,5 hektar, itu diapiti 23 rumah adat di sisi timur dan barat. Di tengah-tengah kampung terdapat 11 batu kubur besar dan beberapa batu kubur kecil. Salah satu batu kubur besar masih kosong. Batu kubur megalitik yang megah dengan berat 31 ton itu yang disiapkan keluarga anamburung untuk pemakaman jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda. Di tengah kampung, dekat batu kubur yang kosong, terdapat sebuah tenda besar yang sudah dipadati jemaat, para PNS lingkup Setda Sumba Timur, sanak keluarga anamburung dan sahabat kenalan almarhum. Sebuah altar kecil dan sound system tersusun rapi. Rupanya hari itu ada jadwal kebaktian syukur menjelang pemakaman almarhum Umbu Mehang Kunda yang telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan.
Begitu kami mengambil tempat duduk di tenda, langsung disuguhkan kuta dan winnu (sirih pinang) pada baola pahapa (tempat sirih pinang). Walau tidak biasa makan sirih pinang, kami menjamah saja sebagai wujud penghargaan kepada tuan rumah. Menyuguhkan kuta dan winnu merupakan penghormatan tuan rumah terhadap setiap tamu di Sumba Timur. Tuan rumah tersinggung jika tamunya menolak makan atau menjamah baola pahapa yang disuguhkan.
Sekitar pukul 17.00 Wita, kebaktian dimulai, dipimpin langsung Ketua GKS, Pdt. David Umbu Dingu, S.Th. Kebaktian berlangsung sekitar satu jam, dilanjutkan sekapur sirih dari keluarga yang diwakili Umbu Lili Pekualing, adik kandung almarhum Umbu Mehang Kunda, dan makan bersama.
Kami langsung mencari tokoh adat untuk dijadikan narasumber yang bisa menceritakan tata upacara pemakaman raja-raja Sumba. Beberapa orangtua didekati tapi mengaku tidak berhak berbicara. Umbu Lili Pekualing yang adalah adik kandung almarhum, juga mengaku tidak mengetahui secara detail tentang tata upacara itu dan menyarankan menemui juru bicara keluarga anamburung. Ada yang mengaku tahu dan mengerti tapi status mereka yera (ipar) dari almarhum atau status ipar dalam keluarga anamburung. Ada yang tahu tata upacara tapi status sebagai papanggang atau hamba.
Belum menemukan narasumber, kami memilih bergabung dengan tamu lain di bale-bale uma bokul (rumah besar) tempat jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda disemayamkan. Di sana kami bertemu Om Cyrilus, sahabat kental almarhum yang sudah dianggap sebagai keluarga oleh marga anamburung. Om Cyrilus sangat mengenal orang-rang di kampung itu, mengenal baik kerabat dan sanak keluarga almarhum Umbu Mehang Kunda. Dia mengajak kami ke sebuah rumah adat di sebelah timur uma bokul. Di sana kami dipertemukan dengan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha.
Umbu Maramba Hau yang saat itu cukup sibuk mengatur lalu lintas dan tata upacara pemakaman, menuturkan, penyimpanan jenazah, terutama jenazah para raja di Sumba Timur umumnya dan Kampung Prai Awang khususnya, itu hal biasa. Lamanya penyimpanan jenazah tergantung ekonomi. Jika ekonomi keluarga kuat, penyimpanan jenazah paling lama satu tahun langsung dimakamkan. Jika ekonomi keluarga kurang kuat penyimpanannya bisa 5-10 tahun, karena keluarga yang menyelenggarakan pemakaman harus bekerja menyiapkan segala kebutuhan, terutama hewan dan batu kubur.
Biasanya, jadwal pemakaman diambil berdasarkan musyawarah kabihu (rumpun keluarga atau marga). Khusus almarhum Umbu Mehang Kunda, hanya 102 hari penyimpanan, lalu dimakamkan, mengingat beliau punya jasa dan ekonomi keluarganya kuat. Untuk itu, keluarga anamburung mengundang 150 rombongan adat yang terdaftar dan 50 rombongan adat cadangan. Keluarga anamburung sudah siapkan balasan kepada rombongan adat yang membawa kerbau, babi, mamoli dan kain.
Setiap pembawaan rombongan adat akan dibalas sesuai silsila adatnya. Jumlah rombongan adat, pembawaan dan balasan merupakan simbol kebangsawanan orang yang meninggal dan keluarga yang menyelenggarakan pemakaman. Jenis barang bawaan dan balasan harus diurut secara benar untuk melapangkan jalan arwah almarhum menuju Parai Marapu (surga). Penganut marapu meyakini simbol adat yang dilakukan dalam tata upacara pemakaman, berlangsung juga di Parai Marapu. (bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)