Senin, 22 Desember 2008

The Conquerors Create History

KOMPETISI balap jet darat Formula One (F1) musim 2008 memberikan banyak kejutan. Mengejar ketertinggalan pada dua lap terakhir, seorang pembalap fenomenal yang finish di posisi kelima Grand Prix dan beberapa kali dikenai penalti berhasil menjadi juara dunia F1.

Musim ini, F1 melahirkan seorang juara baru, Lewis Hamilton. Pembalap muda McLaren ini dinobatkan sebagai jawara F1 musim 2008, 2 November 2008. Bukan sekadar juara, pembalap asal Inggris 23 tahun tersebut tercatat sebagai juara dunia termuda dalam sejarah F1.

Fenomena jejak juara Hamilton bukan tanpa celah. Juga tidak mudah. Kemenangannya di laga kompetisi balap mobil supercepat ini memang dinantikan. Mahkota juara bukan hanya utang setelah gagal merebut gelar juara, musim 2007, tahun pertamanya berkarir di F1. Gelar ini menjadi sebuah prestise bagi satu-satunya pembalap kulit berwarna (kulit hitam) pertama yang mencicipi balapan kelas atas.

Tak heran, kemenangan Hamilton kemudian diwarnai sentimen rasis. Fans fanatik F1 menyerang The Briton melalui pesan rasial di situs internet dan menyebutnya "monyet". Meski demikian, Hamilton memilih tenang. Karena dalam kondisi apapun, gelar juaranya tak mungkin ditarik kembali.

Konfrontasi anti-Hamilton bukan hanya muncul menjelang selebrasinya di Grand Prix Brasil, November. Pemuda yang sewaktu kecil pernah melontarkan hasrat menjadi juara F1 itu juga mengalami perlakuan tidak menyenangkan di Barcelona, Februari lalu. Nahas, kejutan negatif untuk Hamilton, saat itu, bertepatan dengan kampanye FIA terkait isu anti-rasis.

Hamilton tidak hanya fenomenal, tapi juga sensasional. Tahun lalu, kekasih vokalis Pussycat Dolls Nicole Scherzinger itu sempat mendapat cercaan. Penyebabnya, baru enam bulan turun laga di ajang balap F1, Hamilton dinilai berani dengan meluncurkan biografi "My Story". Tahun ini, belum genap dua pekan menggenggam atribut juara dunia F1, up-grade "My Story" dalam kemasan hard-cover diluncurkan di pasaran.

Bukan hanya Hamilton yang berstatus pemenang, musim ini. Pembalap debutan Scuderia Toro Rosso (STR) Sebastian Vettel tak kalah mencatatkan nama dalam sejarah balap F1. Mengejutkan! Vettel berhasil menjadi juara Grand Prix Italia di Monza, 14 September silam.

Ini jelas membuat skuad utama Red Bull Racing kebakaran jenggot. Betapa tidak, STR, tim karbitan dengan pembalap debutan muda bisa menang laga Grand Prix yang kebanyakan dikuasai pembalap dan tim papan atas.

Pembalap Jerman yang masih berusia 21 tahun itu disebut-sebut sebagai regenerasi juara. Banyak pihak mengharapkan, suatu hari "si anak ajaib" Vettel akan menandingi rekor yang pernah ditorehkan oleh rekan senegaranya, mantan pembalap Ferrari Michael Schumacher.

Dibanding dua pembalap muda di atas, pembalap Scuderia Ferrari Felipe Massa tak kalah bermental juara. Massa memang belum menorehkan nama besarnya dalam jajaran jawara F1 setelah kembali menuai kegagalan musim ini. Kendati harus puas dengan peringkat dua klasemen F1, pembalap Brasil 26 tahun kemudian dikenal sebagai juara di hati fans dan skuad.

Massa pun memenangi Grand Prix terbanyak musim ini, unggul satu GP dibanding Hamilton yang mengecap lima podium.

Massa menjadi kebanggaan skuad Kuda Jingkrak setelah menunjukkan sportivitas, menerima kekalahan dari Hamilton di Sirkuit Interlagos. Praktis, sikap mental pembalap yang mencicipi Grand Prix pertamanya musim 2002 silam itu mendapat penghargaan istimewa dari presiden tim, Luca di Montezemolo beserta tim.

Di kubu Ferrari, terselip nama juara dunia F1 2007 Kimi Raikkonen. Sayang, musim ini Raikkonen tak banyak unjuk gigi. Gagal di banyak GP membuatnya jadi bayang-bayang pembalap jagoan skuad merah Italia.

Pembalap Finlandia ini pun terpaksa menyerah dalam perebutan mahkota juara dunia 2008 dan harus siap menjadi tumbal Massa di setiap gelaran laga Grand Prix.

Meski ikhlas jadi yang kedua, Raikkonen tetap menjalankan tugas tim dengan baik: membantu Massa meraih gelar juara untuk Ferrari. Tampak jelas saat duel maut pada Grand Prix China di Shanghai International Circuit, 19 Oktober lalu. Enam lap menjelang finish, The Iceman rela melambatkan laju dan memberi jalan untuk Massa mengambil posisi di depan, nomor dua setelah Hamilton.

Nama terakhir yang tak bisa disingkirkan adalah Robert Kubica. Pembalap BMW Sauber ini memang tak banyak menggarap prestasi, musim ini. Namun, Kubica mendapat prestise khusus sebagai si kuda hitam.

Tidak pernah diperhitungkan tidak membuat pembalap Polandia itu berkecil hati. Kendati hanya sekali naik podium pada GP Kanada di Montreal, 8 Juni lalu, ternyata skuad papan atas termasuk Ferrari dan McLaren menilai Kubica sebagai pembalap berbahaya.

Kubica memang sukses menjadi ancaman beberapa pembalap lain di trek. Apalagi, di beberapa GP terakhir, Kubica justru terlihat semakin kuat dan garang di lintasan. Tak heran, pembalap 24 tahun ini bisa bertahan di posisi ketiga klasemen pembalap hingga beberapa pekan; sebelum peringkat itu diambil alih Kimi Raikkonen yang mengantongi poin sama, 75.

Please Welcome, First Night-Racing Ever
Sirkuit jalan raya 5.067 kilometer Marina Bay, Singapura, menjadi venue pertama dalam sejarah panjang perjalanan Formula One (F1) sebagai gelaran tunggal balapan malam Grand Prix.

Ya, 27 September 2008 lalu pembalap F1 disuguhi fenomena menarik; laga balap jet darat supercepat di bawah 1.500 sorot lampu dan aplikasi DigiFlag (bendera digital) pertama di arena F1.

Balapan malam kali pertama digelar ini sempat menuai banyak komentar. Layaknya sirkuit jalan raya Valencia dan Monaco, Marina Bay menghadirkan keunikan tersendiri. Perbedaan waktu antara Eropa dan Asia, venue berliku penuh tikungan tajam dan kondisi trek yang bergelombang membuat banyak pihak mempertanyakan jaminan keselamatan pembalap. Belum lagi prediksi hujan yang membuat pembalap mengkhawatirkan jalannya duel tersebut.

Sebagaimana diperkirakan, Marina Bay menuai korban. Selain pembalap Renault Nelson Piquet Jr dan Adrian Sutil dari Force India, Ferrari pun kehilangan laju dua pembalap utamanya. Impian Felipe Massa memenangi balapan malam pertama ini kandas setelah diterpa masalah pitstop; selang bahan bakar masih menempel di F2008 saat Massa hendak meninggalkan pitstop.

Menyerah pada Massa, skuad Tim Merah Italia itu ternyata gagal pula menggantungkan harapan pada Kimi Raikkonen. Mengira jalannya mulus, Kimi melaju kencang hingga tidak dapat mengendalikan mobilnya. Praktis, The Finn menabrak dinding pembatas lintasan, empat lap sebelum balapan berakhir.

Pembalap Renault Fernando Alonso yang sejak awal laga sempat beberapa kali menjadi yang terdepan pun akhirnya menjadi juara dengan aplikasi tipe ban compound super-soft. El Nano kemudian mengulang tradisi juara pada Grand Prix berikutnya di Jepang dengan menaklukkan Sirkuit Fuji Speedway, di mana tak seorang pembalap pun mengenal venue berdarah ini. Ya, Fuji Speedway pernah menelan dua korban pada 1977, kali terakhir sirkuit itu digunakan.

Time to Say Goodbye?
Kompetisi balap jet darat Formula One musim 2008 juga memberi kejutan buruk. Ya, dengan alasan ambruknya kondisi finansial, Tim Super Aguri gulung tikar, 6 Juni lalu. Praktis, dua pembalapnya Takuma Sato dan Anthony Davidson terlantar.

Keluarnya Super Aguri membuat F1 melalui musim ini dengan 10 tim saja. Kendati demikian, tidak satu pihak pun bakal tahu ada yang mengikuti jejak Aguri setelah musim 2008 menentukan juaranya.

Mengejutkan! Honda Racing secara resmi menyatakan keluar dari ajang balap bergengsi tingkat dunia, 5 Desember kemarin. Alasannya pun tak jauh beda, bangkrut. Hanya saja, kendati menderita kerugian jutaan dollar setelah dinilai terlalu boros merancang anggaran sepanjang musim 2008, Honda Racing masih bisa bersembunyi di balik kedok terkena imbas krisis keuangan global.

Pihak Honda Racing sempat menyatakan, mereka akan tetap bersama F1, dengan satu syarat. Ada pihak yang mau membeli Honda, sekaligus membayar utang-utangnya. Maka sekarang, baik Honda maupun dua pembalapnya terpaksa rehat dan menunggu keajaiban. (*)

Tidak ada komentar:

SYALOM