Oleh Hermina Pello
SUDAH puluhan tahun, Jeremias August Pah menekuni pembuatan sasando, alat musik tradisional dari Rote. Meski sudah puluhan tahun, tapi pembuatan alat musik itu bukan satu- satunya mata pencaharian dari Jeremias. Ia bersama salah seorang anaknya, Djitron Pah menekuni pembuatan sasando semata-mata untuk melestarikan alat musik tradisional khas NTT itu dari kepunahan perkembangan zaman.
Pindah dari Rote ke Kupang tahun 1985, Jeremias bersama keluarganya menetap di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Di Jalan Timor Raya Km 22 Desa Oebelo itulah Jeremias meneruskan warisan ayahnya melestarikan alat musik sasando. Berkat ketekunannya mengembangkan dan memperkenalkan alat musik sasando kepada masyarakat, bahkan hingga di luar negeri (Jepang), pada akhir Desember 2007, pemerintah pusat melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, memberikan penghargaan kepada Jeremias, sebagai seniman senior Indonesia (maestro) yang melestarikan dan mengembangkan seni tradisional musik sasando (Sinar Harapan, Rabu, 8 Agustus 2008).
Jika tidak ada undangan untuk memainkan alat musik sasando atau kegiatan lainnya di luar rumah, Jeremias setiap hari hanya membuat alat musik sasando. Jeremias bersama dua orang pegawainya dengan cekatan membuat alat musik yang terbuat dari daun lontar dan bambo. Membuat sasando harus pandai mengatur senda (alas dari kayu yang berada di bawah tali), agar bisa membentuk nada-nada yang indah.
Jeremias adalah orang yang berjasa mengenalkan alat musik dengan 32 tali senar ini kepada dunia luar. Dan, atas jasanya ini ia akhirnya mendapat penghargaan dari pemerintah pusat melalui Menteri Kebudayaan RI, Jero Wacik.
Sasando pulalah yang mengantar Jeremias ke negeri Sakura, Jepang. Selama di sana ia sempat mengajarkan beberapa orang Jepang memainkan alat musik sasando. Meski sudah dikena dunia luas hingga di luar negeri, namun Jeremias belum memikirkan untuk mendaftarkan hak paten alat musik sasando sebagai alat musik tradisional dari Rote.
"Saya belum pernah memikirkan untuk mendaftarkan alat musik ini untuk mendapatkan hak paten. Betul juga, jangan sampai suatu saat orang dari luar mengklaim bahwa alat musik sasando ini berasal dari daerah mereka. Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk mengurus hak paten," kata Jeremias, ketika ditemui di kediamannnya di Desa Oebelo, beberapa waktu lalu.
Jeremias tidak hanya memproduksi sasando tradisional, juga membuat alat musik sasando yang dimodifikasi menjadi sasando listrik. Hampir setiap orang di Indonesia pernah melihat sasando walaupun hanya dalam bentuk gambar, seperti gambar pada uang kertas Rp 5.000, emisi tahun 1992.
Itu salah satu potensi budaya NTT. Ada banyak kekayaan budaya NTT yang jika dikelola dengan baik bisa memberi nilai tambah secara ekonomis bagi masyarakat NTT. Misalnya, tenun ikat, di mana setiap daerah memiliki kekhasan motifnya. Selain motif, bahan baku pembuatan tenun ikat ini dari bahan-bahan alami.
Semangat dari mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, yang mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) memakai pakaian (baju) motif daerah pada setiap hari Kamis, dalam perkembangan ke depan harus tetap dilestarikan. Bahkan dianjurkan agar pemerintah daerah perlu memperjuangkan tenun ikat di setiap daerah di NTT harus memiliki hak paten atau hak cipta. Ini merupakan bentuk perlindungan terhadap kekayaan budaya lokal NTT. Dengan memiliki hak paten atau hak cipta akan membantu para pengrajin tenun ikat secara ekonomi sekaligus mengangkat tenun ikat dari NTT.
Kita jangan kaget ketika kita ke Yogyakarta dan Bali, di sana kita temui kain produksi pabrik bermotif tenun ikat NTT, seperti motif tenun ikat Sumba, dan ini sudah berlangsung sejak lama. Juga kain produksi pabrik bermotif tenun ikat dari Ende, dapat kita temui di Bandung, Jawa Barat. Kain produksi pabrik yang meniru motif tenun ikat dari NTT ini diakui oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Ende, Ny. Sisilia Domi, beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi NTT, Ir. Eddy H Ismail, M.M, yang ditemui di ruang kerjanya pekan lalu menyebutkan, bagian dari Hak Kekayaan Intelektual (HKI), yakni hak cipta, hak paten, merek, rahasia dagang, design industri, desain tata letak sirkuit terpadu dan perlindungan varietas tanaman. Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya ataupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi batasan menurut aturan perundang-undangan yang berlaku.
Hak paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara kepada investor atas hasil invensinya di bidang teknologi untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri invensinya atau memberikan persetujuannnya kepada orang lain untuk melaksanannya.
Pemerintah khususnya pemerintah daerah melalui Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) baru melirik tenun ikat untuk didaftarkan. Itupun belum semua pemerintah daerah di NTT menyadari akan pentingnya hak paten produk-produk budaya lokal. Hingga saat ini baru ada dua kabupaten, yakni Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Ende yang sudah mendaftarkan motif tenun ikatnya di Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (Depkeh dan HAM). motif tenun ikat dua daerah ini sudah mendapat predikat bahwa motif itu milik masyarakat di daerah setempat.
Motif tenun ikat dari TTU sudah mendapat perlindungan tahun 2002 sebanyak lima motif tenun ikat, antara lain buna, sotis, sotis buna dan mapauf. Motif tentun ikat dari Kabupaten Ende yang mendapat predikat sebagai milik masyarakat pada tahun 2006 sebanyak 11 motif tenun ikat, yakni motif mangga, belekale, soke mata loo, mata rote, samba, nggaja, soke mataria, sona, maru, pundi dan kelimara.
Pada tahun 2008, ada beberapa daerah yang dalam proses pendaftaran ke Depkeh HAM, difasilitasi oleh Dinas Perindag NTT, yaitu Sumba Timur sebanyak 11 motif tenun ikat, antara lain motif ayam, kuda, udang, kakatua, rusa, manusia telanjang, tengkorak dan motif lainnya, Kabupaten Sumba Barat mengajukan sembilan motif, kabupaten Sikka 24 motif, Manggarai tujuh motif dan Ende 28 motif lagi. Setelah didaftar butuh waktu untuk penelusuran karena Depkeh dan HAM harus menelusuri ke seluruh dunia, apakah benar motif itu belum ada yang mengajukannya.
Kekayaan budaya masyarakat agak sulit untuk mendapatkan hak cipta atau hak paten karena terkait sifat kepemilikannya. Tetapi, pemerintah daerah bisa mendaftarkan budaya tersebut untuk diumumkan bahwa budaya itu milik masyarakat setempat. Untuk mendaftar, misalnya, motif tenun ikat, kapan motif itu dibuat, oleh siapa dan bagaimana menemukan motif tersebut serta arti dari motif itu. "Ini yang sulit ditelusuri. Kebudayaan perlu dilestarikan dan harus terdokumentasi dengan baik," kata Ismail.
Selama ini, pemerintah melalui Dinas Perindag NTT hanya berupaya memfasilitasi untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman HKI kepada masyarakat khususnya pelaku usaha, agar masyarakat sadar tentang perlunya mendaftarkan temuan mereka atau apa yang menjadi milik masyarakat.
Tetapi sejauh ini, belum banyak yang sadar akan pentingnya mendaftarkan produk-produk temuan masyarakat, karena berkaitan dengan ekonomi. Sesuai dengan ketetapan organisasi perdagangan dunia, setiap anggota berkewajiban mematuhi segenap ketentuan termasuk trade related aspects if intellectual property right, yaitu ketentuan yang berkaitan dengan HKI. Berkaitan dengan itu, Indonesia sudah menerbitkan UU Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang. Juga UU Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industry, UU Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, UU Nomor 14 Tahun 2001 tentang Hak Paten, UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek dan UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.
Hak paten berkaitan dengan teknologi baru, misalnya, di NTT ada seorang pengusaha, Paulus Watang yang telah mendapatkan hak paten untuk mesin palwa.
Untuk makanan, misalnya, jagung titi dari Flores Timur yang sudah menembus dunia, bisa saja suatu waktu ada yang mengklaim bahwa itu berasal dari daerah lain (Pos Kupang, Jumat 15/12/2008). Jagung titi telah menjadi komoditas makanan unggulan yang menghidupkan home industry petani di Flores Timur, atau daging se'i yang juga menjadi makanan khas Kota Kupang. Juga gula sabu dari Sabu, gula air dari Rote dan masih banyak jenis makanan lainnya yang merupakan makanan lokal yang bisa dikembangkan dan memiliki nilai secara ekonomis.
Makanan lokal yang memiliki ciri khas tersendiri itu bisa didaftarkan ke HKI untuk mendapatkan hak merek atau rahasia dagang. Dengan menampilkan merek tertentu, maka bisa saja makanan itu menjadi lebih terkenal. Kita bisa mengambil contoh, misalnya, produksi batik di Jawa, ada merek batik keris, danar hadi dan lainnya, sama-sama batik, tetapi mereka sudah memiliki merek masing-masing sehingga pada waktu orang mau mencari batik, yang ada dalam benaknya merek apa yang akan dia cari.
Pimpinan Sentra Tenun Ikat Lepo Lerun dari Nita, Kabupaten Sikka, Alfonsa Horeng, beberapa waktu lalu sudah memikirkan untuk mengurus hak paten atau rahasia dagang terkait pewarnaan alami dengan menggunakan tanaman-tanaman lokal untuk pembuatan tenun ikat.
Sebab, proses pencampuran warna alami itu sudah didemo di berbagai tempat, termasuk di Australia. Meski untuk mengurusnya mudah, tetapi dia masih menunggu agar bisa gratis. "Kalau mau urus sendiri, butuh biaya yang besar. Karena itu, saya tunggu yang gratis yang difasilitasi oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan," ujarnya saat ditemui di Kupang, Senin (1/12/2008).
Sudah saatnya pemerintah daerah di NTT menginventarisir produk-produk (budaya) lokal untuk didaftarkan ke Depkeh dan HAM sebagai produk milik masyarakat. Sebaiknya tidak hanya menginventarisir, tetapi langsung diusulkan karena tidak membutuhkan biaya yang besar. Kalau menunggu dari masyarakat, bisa-bisa kita terlambat dan akhirnya kita menyesal karena daerah lain sudah mendahului kita.
Pemerintah harus serius dan mengalokasikan anggaran untuk melindungi apa yang menjadi milik masyarakat. Untuk mengurus merek, misalnya, hanya membutuhkan biaya pendaftaran Rp 450 ribu. Untuk mengurus permohonan hak cipta biayanya Rp 75 ribu. Jadi, dari segi biaya relatif murah daripada pemerintah membuat kebanggaan secara simbolik, seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao membuat bangunan dengan simbol alat musik tradisional sasando, yang membutuhkan biaya besar hanya untuk mencirikan bahwa alat musik sasando milik orang Rote.
Sebaiknya mendaftarkan hak paten alat musik sasando ke Depkeh dan HAM. Kita jangan kaget jika suatu saat nanti, alat musik sasando diproduksi oleh daerah lain, termasuk oleh orang di luar negeri, lalu dipasarkan sebagai produk lokal mereka. Demikian juga kekayaan budaya (lokal) lainnya di NTT, sudah saatnya dilindungi dengan mendaftarkan pada Depkeh dan HAM untuk memiliki hak paten, hak cipta, rahasia dagang, merek dan desain industri. **
Senin, 08 Desember 2008
Uta Tabha
Oleh Apolonia Matilde Dhiu
UTA tabha...cu...cu..cu. Menu ini mengingatkan aku akan kampung halamanku Boua, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Sebuah kampung yang hanya berjarak lima kilometer dari Kota Bajawa. Letaknya cukup strategis, berada tepat di jalan negara Bajawa-Ende.
Meski dekat dengan Kota Bajawa, kehidupan masyarakat di kampung ini pada dasarnya masih tradisional. Kalau saat ini orang mengenal bubur manado dengan bahan dasar beras, di kampungku ada uta tabha. Sederhana, tapi menjadi menu andalan warga kampungku pada masa paceklik. Ketika masyarakat tidak bisa menjangkau beras di pasar atau pangan jagung sudah tidak mencukupi lagi. Biasanya terjadi pada bulan Januari dan Februari.
Maklum, penghasilan utama masyarakat di kampungku adalah jagung. Rata-rata warga menanam jagung. Kalau ada yang menanam padi biasanya padi ladang. Itu pun mereka menggarap kebun penduduk di desa lain, seperti Belu, Bejo, Langa bahkan sampai di Zeu, Kecamatan Golewa, atau di Soa, Kecamatan Soa. Sedangkan warga yang tidak memiliki handai taulan di kampung-kampung tersebut biasanya tidak ada alternatif lain kecuali menanam jagung. Untuk mendapatkan beras mereka harus membeli di pasar Bajawa. Syukur kalau ada pembagian beras masyarakat miskin (raskin) dari pemerintah desa.
Walau jarang mengonsumsi beras (dhea), masyarakat di kampungku tidak pernah kelaparan ataupun busung lapar. Uta Tabha memiliki keunikan yang luar biasa. Menu ini terdiri dari beberapa bahan lokal yang dicampur menjadi satu ketika dimasak.
Bahan dasarnya jagung (sae) atau beras jagung (dhea sae), kacang merah atau brenebon (boji), labu siam kuning (besi), ubi jalar merah (dhao), daun pepaya muda (uta padu), kelapa dan garam. Boji atau brenebon bisa diganti dengan kacang hutan atau kacang polong (lebha). Selain buahnya, daunnya (sawa lebha) juga bisa menggantikan daun pepaya (uta padu) untuk uta tabha.
Cara membuatnya gampang sekali. Jagung yang sudah ditumbuk diambil biji besarnya atau jagung bulat, baik yang muda maupun yang tua, dicampur dengan kacang dan daun pepaya. Direbus di periuk (bhogi) atau periuk tanah (bhogi tana) sampai lembek. Setelah lembek, masukkan labu siam yang diiris dadu atau ubi jalar (dhao) dipotong bulat. Kacang bisa macam- macam. Bisa kacang merah atau brenebon. Bisa juga kacang hutan atau kacang polong. Orang di kampungku menyebutnya li'e lebha. Selain buahnya (li'e lebha), daunnya (sawa lebha) juga bisa digunakan sebagai pengganti uta padu (daun pepaya). Setelah direbus lembek, masukkan kelapa yang diparut kasar dan garam secukupnya. Parutan kelapa biasanya menggunakan parut tradisional (regu), bentuknya seperti garpu dengan ujung yang dikikir kecil-kecil dan ditancapkan pada kayu berbentuk seperti kuda. Karena daun pepaya rasanya pahit, garam sebaiknya dimasukkan sedikit saja. Lezat memang kalau dihidangkan saat perut lapar.
Untuk menambah cita rasa biasanya ditambah dengan sambal. Sambalnya sederhana saja. Lombok diulek sampai halus ditambah sedikit garam, masukkan tomat yang diiris-iris kecil. Di kampungku banyak daun kemangi dan bawang. Mereka biasa menanamnya di samping rumah. Sambal ini menambah khas menu uta tabha, sehingga menambah selera makan.
Berbicara uta tabha memang paling menjengkelkan saya pada masa kecil dulu. Mulut komat-kamit ketika pulang sekolah melihat uta tabha di periuk yang dimasak mama. Kadang malas makan, tetapi karena tuntutan perut ya, makan juga. Soalnya, tidak ada menu lain kalau musim lapar. Apalagi, cuaca di luar rumah hujan sepanjang hari. Mau ke kebun untuk mencari bahan lain susah. Mau tidak mau masak apa adanya, karena menu yang tersedia di rumah hanya jagung dan kacang. Ya, itulah yang saya alami waktu kecil. Tetapi, makanan seperti itu tidak pernah membuat kami sakit atau kelaparan.
Uta tabha tetap menjadi konsumsi masyarakat di kampungku sampai sekarang. Saudara-saudara yang datang dari kota kadang-kadang tidak mau makan kalau melihat menu tersebut. Tapi, bagi kami di kampung, uta tabha adalah makanan pokok.
Nasi (maki) bagi kami adalah barang langka. Kalau ada yang mengonsumsinya, hanya orang-orang tertentu seperti guru atau pegawai. Kalau bisa makan nasi, itu rezeki luar biasa. Ya, begitulah kampungku.
Semasa waktu kecil tahun '80-an, saya kadang bertanya, "Kapan saya bisa makan nasi? Soalnya, makanan pokok kami jagung. Namun, menu seperti ini ternyata telah membuat saya menjadi orang yang sehat dan berprestasi di sekolah. Saya selalu mendapat peringkat satu di SD, dan sepuluh besar di SMP dan SMA. Bagi saya ini prestasi luar biasa, walau saya hanya mengonsumsi uta tabha.
Setelah dewasa dan datang ke Kupang untuk melanjutkan sekolah, saya menjadi ketagihan dan merindukan masakan uta tabha. Walau sedikit pahit, karena dicampur dengan labu siam (besi mawu), rasanya nikmat sekali. Sekali makan bisa menahan lapar sampai siang walau kita sedang pacul kebun atau bekerja apa saja di kampung.
Suatu saat, ketika saya sudah bekerja di Pos Kupang, saya mendapat kesempatan meliput sebuah pelatihan mengenal makanan lokal yang mengandung nilai gizi tinggi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat di Hotel Sasando Kupang. Saya bersyukur bisa mengikuti acara tersebut. Dari situlah saya mendapatkan jawabannya, kenapa walau hanya jagung (sae), kacang merah (boji atau brenebon) dan labu siam kuning dan sawa lebha (kacang polong dan daunnya), aku dan adik-adikku bisa berprestasi.
Menurut pengkajian dan penelitian dari instansi tersebut, kacang merah (brenebon) dan labu kuning dari daerah Bajawa memiliki nilai gizi tinggi dan kualitas nomor satu di dunia. Inilah kembanggaanku akan kampungku.
Ya, semoga saat ini orang tidak lagi semata-mata makan nasi dan lauk-pauk yang banyak dibubuhi zat pengawet, tetapi juga kembali kepada tradisi nenek moyang yakni makanan lokal yang sarat nilai gizi. *
UTA tabha...cu...cu..cu. Menu ini mengingatkan aku akan kampung halamanku Boua, Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada. Sebuah kampung yang hanya berjarak lima kilometer dari Kota Bajawa. Letaknya cukup strategis, berada tepat di jalan negara Bajawa-Ende.
Meski dekat dengan Kota Bajawa, kehidupan masyarakat di kampung ini pada dasarnya masih tradisional. Kalau saat ini orang mengenal bubur manado dengan bahan dasar beras, di kampungku ada uta tabha. Sederhana, tapi menjadi menu andalan warga kampungku pada masa paceklik. Ketika masyarakat tidak bisa menjangkau beras di pasar atau pangan jagung sudah tidak mencukupi lagi. Biasanya terjadi pada bulan Januari dan Februari.
Maklum, penghasilan utama masyarakat di kampungku adalah jagung. Rata-rata warga menanam jagung. Kalau ada yang menanam padi biasanya padi ladang. Itu pun mereka menggarap kebun penduduk di desa lain, seperti Belu, Bejo, Langa bahkan sampai di Zeu, Kecamatan Golewa, atau di Soa, Kecamatan Soa. Sedangkan warga yang tidak memiliki handai taulan di kampung-kampung tersebut biasanya tidak ada alternatif lain kecuali menanam jagung. Untuk mendapatkan beras mereka harus membeli di pasar Bajawa. Syukur kalau ada pembagian beras masyarakat miskin (raskin) dari pemerintah desa.
Walau jarang mengonsumsi beras (dhea), masyarakat di kampungku tidak pernah kelaparan ataupun busung lapar. Uta Tabha memiliki keunikan yang luar biasa. Menu ini terdiri dari beberapa bahan lokal yang dicampur menjadi satu ketika dimasak.
Bahan dasarnya jagung (sae) atau beras jagung (dhea sae), kacang merah atau brenebon (boji), labu siam kuning (besi), ubi jalar merah (dhao), daun pepaya muda (uta padu), kelapa dan garam. Boji atau brenebon bisa diganti dengan kacang hutan atau kacang polong (lebha). Selain buahnya, daunnya (sawa lebha) juga bisa menggantikan daun pepaya (uta padu) untuk uta tabha.
Cara membuatnya gampang sekali. Jagung yang sudah ditumbuk diambil biji besarnya atau jagung bulat, baik yang muda maupun yang tua, dicampur dengan kacang dan daun pepaya. Direbus di periuk (bhogi) atau periuk tanah (bhogi tana) sampai lembek. Setelah lembek, masukkan labu siam yang diiris dadu atau ubi jalar (dhao) dipotong bulat. Kacang bisa macam- macam. Bisa kacang merah atau brenebon. Bisa juga kacang hutan atau kacang polong. Orang di kampungku menyebutnya li'e lebha. Selain buahnya (li'e lebha), daunnya (sawa lebha) juga bisa digunakan sebagai pengganti uta padu (daun pepaya). Setelah direbus lembek, masukkan kelapa yang diparut kasar dan garam secukupnya. Parutan kelapa biasanya menggunakan parut tradisional (regu), bentuknya seperti garpu dengan ujung yang dikikir kecil-kecil dan ditancapkan pada kayu berbentuk seperti kuda. Karena daun pepaya rasanya pahit, garam sebaiknya dimasukkan sedikit saja. Lezat memang kalau dihidangkan saat perut lapar.
Untuk menambah cita rasa biasanya ditambah dengan sambal. Sambalnya sederhana saja. Lombok diulek sampai halus ditambah sedikit garam, masukkan tomat yang diiris-iris kecil. Di kampungku banyak daun kemangi dan bawang. Mereka biasa menanamnya di samping rumah. Sambal ini menambah khas menu uta tabha, sehingga menambah selera makan.
Berbicara uta tabha memang paling menjengkelkan saya pada masa kecil dulu. Mulut komat-kamit ketika pulang sekolah melihat uta tabha di periuk yang dimasak mama. Kadang malas makan, tetapi karena tuntutan perut ya, makan juga. Soalnya, tidak ada menu lain kalau musim lapar. Apalagi, cuaca di luar rumah hujan sepanjang hari. Mau ke kebun untuk mencari bahan lain susah. Mau tidak mau masak apa adanya, karena menu yang tersedia di rumah hanya jagung dan kacang. Ya, itulah yang saya alami waktu kecil. Tetapi, makanan seperti itu tidak pernah membuat kami sakit atau kelaparan.
Uta tabha tetap menjadi konsumsi masyarakat di kampungku sampai sekarang. Saudara-saudara yang datang dari kota kadang-kadang tidak mau makan kalau melihat menu tersebut. Tapi, bagi kami di kampung, uta tabha adalah makanan pokok.
Nasi (maki) bagi kami adalah barang langka. Kalau ada yang mengonsumsinya, hanya orang-orang tertentu seperti guru atau pegawai. Kalau bisa makan nasi, itu rezeki luar biasa. Ya, begitulah kampungku.
Semasa waktu kecil tahun '80-an, saya kadang bertanya, "Kapan saya bisa makan nasi? Soalnya, makanan pokok kami jagung. Namun, menu seperti ini ternyata telah membuat saya menjadi orang yang sehat dan berprestasi di sekolah. Saya selalu mendapat peringkat satu di SD, dan sepuluh besar di SMP dan SMA. Bagi saya ini prestasi luar biasa, walau saya hanya mengonsumsi uta tabha.
Setelah dewasa dan datang ke Kupang untuk melanjutkan sekolah, saya menjadi ketagihan dan merindukan masakan uta tabha. Walau sedikit pahit, karena dicampur dengan labu siam (besi mawu), rasanya nikmat sekali. Sekali makan bisa menahan lapar sampai siang walau kita sedang pacul kebun atau bekerja apa saja di kampung.
Suatu saat, ketika saya sudah bekerja di Pos Kupang, saya mendapat kesempatan meliput sebuah pelatihan mengenal makanan lokal yang mengandung nilai gizi tinggi dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Naibonat di Hotel Sasando Kupang. Saya bersyukur bisa mengikuti acara tersebut. Dari situlah saya mendapatkan jawabannya, kenapa walau hanya jagung (sae), kacang merah (boji atau brenebon) dan labu siam kuning dan sawa lebha (kacang polong dan daunnya), aku dan adik-adikku bisa berprestasi.
Menurut pengkajian dan penelitian dari instansi tersebut, kacang merah (brenebon) dan labu kuning dari daerah Bajawa memiliki nilai gizi tinggi dan kualitas nomor satu di dunia. Inilah kembanggaanku akan kampungku.
Ya, semoga saat ini orang tidak lagi semata-mata makan nasi dan lauk-pauk yang banyak dibubuhi zat pengawet, tetapi juga kembali kepada tradisi nenek moyang yakni makanan lokal yang sarat nilai gizi. *
Selasa, 02 Desember 2008
Petisi Kupang, Suara Kaum Minoritas
Oleh Sipri Seko
DUA bendera Bintang Kejora ditemukan di lereng Gunung Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua dan di Pantai Kwami, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (1/12/2008). Pengibaran bendera ini bertepatan dengan HUT Organisasi Papua Merdeka, 1 Desember 2008.
Sudah begitu jauhkah keinginan masyarakat Papua untuk berpisah dari Indonesia? Apa maksud pengibaran bendera tersebut? Ataukah mereka sengaja membuat sensasi agar mendapat perhatian dunia? Tak ada yang tahu. Tapi yang pasti, mereka ingin merayakan hari ulang tahun organisasinya.
Sabtu, 29 November 2008, massa utusan dari Propinsi Papua, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti pawai budaya bertajuk "Selamatkan Bhineka Tunggal Ika," di Kota Kupang. Peserta menggelorakan Petisi Kupang sebagai hasil konsolidasi Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Regional Sunda Kecil di Kupang, 26-29 November 2008. Aksi yang sama juga telah dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, 22-25 November yang diberi nama Deklarasi Surabaya. Petisi Kupang dan Deklarasi Surabaya dibuka oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Untuk Petisi Kupang, ada tujuh keputusan yang dilahirkan. Inti yang digelorakan adalah menegakkan dan mempertahankan kebhinekaan sesuai kearifan leluhur pusaka bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Aksi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk keprihatinan masyarakat sipil terhadap maraknya upaya pengkhianatan terhadap konstitusi, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Siapa pun yang menandatangani petisi dan mewakili siapa, bagi kita sebenarnya bukan menjadi persoalan. Yang harus dipetik dari petisi tersebut adalah sebuah bentuk atau upaya kebangkitan dari kaum minoritas. Masyarakat di Indonesia bagian timur yang selama ini kurang diperhatikan berusaha untuk menampilkan keberadaannya. Mereka sebenarnya bukan melawan pemerintahan yang sah, namun mereka juga ingin ke luar dari keterpurukan.
Apakah selama ini Papua, Papua Barat, Bali, NTB dan NTT tidak mendapat perhatian pemerintah? Bukankah APBN dan bantuan-bantuan lainnya yang selama ini diterima masyarakat berasal dari pemerintah pusat? Ada betulnya. Tapi lihat saja kesenjangan pembangunan di daerah lain dibandingkan dengan di Indonesia bagian timur. Upaya membentuk Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pun tak banyak membantu. Indonesia bagian timur masih seperti anak tiri.
Hal ini kemudian diperburuk lagi dengan munculnya regulasi-regulasi yang dinilai hanya mementingkan kelompok tertentu. Ada kelompok yang dilindungi, namun ada pula yang dibiarkan tertekan. Tak heran kalau kemudian, ANBTI Regional Sunda Kecil dan Tanah Papua mendesak pemerintah untuk segera membentuk aturan pelaksana terhadap pasal 18 B ayat 1 dan 2 UUD 1945, mengenai pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya dan segera mencabut UU yang tidak mengakomodir hak masyarakat adat.
Mereka juga menolak pemberlakuan UU Pornografi maupun perundangan lainnya yang memasukkan dengan paksa nilai agama tertentu dan budaya asing yang bersifat diskriminatif untuk dijadikan landasan hukum bernegara. Kebijakan investasi dan pengelolaan sumber daya alam juga dikritisi. Untuk itu seluruh rakyat Indonesia, apa pun latar belakang agama dan sukunya, harus terus bergandengan tangan dan menjaga persatuan bangsa dengan melawan segala bentuk pemaksaan kehendak dan pengkhianatan yang dilakukan secara konstitusional oleh segolongan masyarakat yang memiliki kepentingan tertentu dengan kehancuran Indonesia.
Bagaimana sikap kita terhadap Petisi Kupang? Sebagai masyarakat modern, transparansi sudah menjadi hal yang lumrah. Saling mengkritisi sudah bukan hal yang tabu lagi. Masyarakat sudah bisa memilih dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Petisi Kupang ataupun Deklarasi Surabaya boleh disebut sebagai bentuk perwujudan aspirasi masyarakat yang sebenarnya. UU Pornografi, misalnya, sudah ditolak pengesahannya oleh masyarakat, namun pemerintah 'dengan kepentingannya' tetap mengesahkannya.
Satu yang pasti, ketika aksi ini digelorakan oleh banyak orang dari aneka suku, agama, etnis dan golongan, ini sudah menunjukkan keakuan terhadap kebhinekaan di Indonesia. Mereka akan terus memberontak kalau kebhinekaan tersebut dinodai oleh kepentingan mayoritas. **
DUA bendera Bintang Kejora ditemukan di lereng Gunung Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua dan di Pantai Kwami, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (1/12/2008). Pengibaran bendera ini bertepatan dengan HUT Organisasi Papua Merdeka, 1 Desember 2008.Sudah begitu jauhkah keinginan masyarakat Papua untuk berpisah dari Indonesia? Apa maksud pengibaran bendera tersebut? Ataukah mereka sengaja membuat sensasi agar mendapat perhatian dunia? Tak ada yang tahu. Tapi yang pasti, mereka ingin merayakan hari ulang tahun organisasinya.
Sabtu, 29 November 2008, massa utusan dari Propinsi Papua, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti pawai budaya bertajuk "Selamatkan Bhineka Tunggal Ika," di Kota Kupang. Peserta menggelorakan Petisi Kupang sebagai hasil konsolidasi Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Regional Sunda Kecil di Kupang, 26-29 November 2008. Aksi yang sama juga telah dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, 22-25 November yang diberi nama Deklarasi Surabaya. Petisi Kupang dan Deklarasi Surabaya dibuka oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Untuk Petisi Kupang, ada tujuh keputusan yang dilahirkan. Inti yang digelorakan adalah menegakkan dan mempertahankan kebhinekaan sesuai kearifan leluhur pusaka bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Aksi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk keprihatinan masyarakat sipil terhadap maraknya upaya pengkhianatan terhadap konstitusi, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Siapa pun yang menandatangani petisi dan mewakili siapa, bagi kita sebenarnya bukan menjadi persoalan. Yang harus dipetik dari petisi tersebut adalah sebuah bentuk atau upaya kebangkitan dari kaum minoritas. Masyarakat di Indonesia bagian timur yang selama ini kurang diperhatikan berusaha untuk menampilkan keberadaannya. Mereka sebenarnya bukan melawan pemerintahan yang sah, namun mereka juga ingin ke luar dari keterpurukan.
Apakah selama ini Papua, Papua Barat, Bali, NTB dan NTT tidak mendapat perhatian pemerintah? Bukankah APBN dan bantuan-bantuan lainnya yang selama ini diterima masyarakat berasal dari pemerintah pusat? Ada betulnya. Tapi lihat saja kesenjangan pembangunan di daerah lain dibandingkan dengan di Indonesia bagian timur. Upaya membentuk Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pun tak banyak membantu. Indonesia bagian timur masih seperti anak tiri.
Hal ini kemudian diperburuk lagi dengan munculnya regulasi-regulasi yang dinilai hanya mementingkan kelompok tertentu. Ada kelompok yang dilindungi, namun ada pula yang dibiarkan tertekan. Tak heran kalau kemudian, ANBTI Regional Sunda Kecil dan Tanah Papua mendesak pemerintah untuk segera membentuk aturan pelaksana terhadap pasal 18 B ayat 1 dan 2 UUD 1945, mengenai pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya dan segera mencabut UU yang tidak mengakomodir hak masyarakat adat.
Mereka juga menolak pemberlakuan UU Pornografi maupun perundangan lainnya yang memasukkan dengan paksa nilai agama tertentu dan budaya asing yang bersifat diskriminatif untuk dijadikan landasan hukum bernegara. Kebijakan investasi dan pengelolaan sumber daya alam juga dikritisi. Untuk itu seluruh rakyat Indonesia, apa pun latar belakang agama dan sukunya, harus terus bergandengan tangan dan menjaga persatuan bangsa dengan melawan segala bentuk pemaksaan kehendak dan pengkhianatan yang dilakukan secara konstitusional oleh segolongan masyarakat yang memiliki kepentingan tertentu dengan kehancuran Indonesia.
Bagaimana sikap kita terhadap Petisi Kupang? Sebagai masyarakat modern, transparansi sudah menjadi hal yang lumrah. Saling mengkritisi sudah bukan hal yang tabu lagi. Masyarakat sudah bisa memilih dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Petisi Kupang ataupun Deklarasi Surabaya boleh disebut sebagai bentuk perwujudan aspirasi masyarakat yang sebenarnya. UU Pornografi, misalnya, sudah ditolak pengesahannya oleh masyarakat, namun pemerintah 'dengan kepentingannya' tetap mengesahkannya.
Satu yang pasti, ketika aksi ini digelorakan oleh banyak orang dari aneka suku, agama, etnis dan golongan, ini sudah menunjukkan keakuan terhadap kebhinekaan di Indonesia. Mereka akan terus memberontak kalau kebhinekaan tersebut dinodai oleh kepentingan mayoritas. **
Dongeng Si Bocah Tua
Cerpen Roby B Kapitan
DERU kendaran baru terlewat. Aku tidur di pembaringan tua itu. Seharian telah kuhabiskan energiku untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Senyum kemenanganku baru saja berakhir kala senja pergi tak tersisa.
Itu tanda kemenanganku, tanda hidup matiku, tanda aku telah mencapai sisa hari ini. Bapaku selalu bercerita tentang akhir hari yang selalu indah pada pukul 18.00. Entah apa yang dimaksudkannya, namun ketika senja hari tiba ia selalu duduk di beranda rumah sambil memandang ke arah barat. Aku terkadang mencuri perhatian dengan mengamatinya.
Dalam hati aku selalu bertanya "apa gerangan yang dipikirkan oleh si pekerja keras ini? Apa ia lagi menikmati indahnya pukul 18.00? Ada sesuatu yang indah di balik terbenamnya mentari? Mungkinkah ia mengingat kembali moment saat ia jatuh cinta pertama kalinya dengan bundaku? Atau malah sebaliknya, ia sedang berpikir tentang masa depan kami anak-anaknya?
Kini di pembaringan aku terlelap. Aku baru saja menyelesaikan tugasku hari ini. Si nyonya tua telah puas dengan karyaku. Iya..itulah kerjanya si nyonya tua, ia tak akan puas kalau aku tak bekerja dengan seserius mungkin. Apalagi kalau aku membuang waktu sedetik sajaàmungkin saja dunia ini bisa runtuh dan akibatnya nasib kerjaku bisa dikorbankan. Kadang aku tak mengerti keinginan si nyonya tua ini.
Ketika aku bekerja tanpa bicara karena kupusatkan konsentrasi terhadap pekerjaanku, ia malah mendakwaku dengan berbagai pendapat streotipnya. Katanya, aku tidak humanlah.., atau aku tu orangnya terlalu pendiam. Pokonya banyak sekali tanpa bisa kuingat lagi. "Dasar orang sinting" kilahku bila ingin menghibur diriku.
Namun ketika aku terlambat sedetik saja kerena menanyakan sesutu yang tak dapat kumengerti kepada teman kerjaku, omelannya langsung mendamprat dan memojokanku. Sungguh sial hidupku ini. Hidup di jaman eyangku dulu, mungkin lebih baik dan barangkali aku tidak senaas ini. "Nasib.. nasib.., sepertinya Tuhan salah memilihku untuk diciptakan!"
Kini di pembaringan aku terlelap. Sekali lagi aku terlelap dalam tidurku. Inilah saat yang kurasa paling indah dalam hidupku. Dalam lelapku, aku selalu bermimpi bahwa aku tak akan pernah lagi mendengar bising suara senapan dan meriam.
Aku tak akan pernah lagi mendengar jerit tangis tetanggaku yang baru saja dilanda musibah. Musuh "si musibah" itu datang tak pernah diundang. Saat tidur malampun, ia datang mengedor pintu rumah-rumah di dusunku.
Entah apa gerangan maunya, terkadang aku berpikir ia gila dengan cita-citanya. Musuh "si musibah" itu datang merenggut dan mencabik bocah-bocah tanpa nama. Aku muak dengan tingkahnya yang sok jagoan tetapi isi kepalanya kosong. Ditanya perkalian satu kali satu saja, pasti minta bantuan pada cucunya. Nah, untuk soal datang pada malam hari, dia jagonya. Ketika binatang peliharaan saja sudah tidur ia masih mau mengusik bocah-bocah yang baru datang kemarin. Mungkin saja bocah-bocah itu belum tahu menangis, namun musuh "si musibah" itu telah datang merenggutnya untuk kembali.
Naas sungguh sial nasibnya, andaikan sang dewi cinta telah meramalkan sang bocah untuk jadi penganti romeo dan juliet dalam drama cinta abadi, bagaiman impian malam ini dapat terwujud? "Iya itu mungkin takdirnya". Kilahku.
"Bukan takdir tolol..!!!" Malah musuh si musibah itu bisa merenggut nyawa dalam satu kampung. Mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika dianiaya dan dirajam sampai dibakar dengan seluruh isi rumahnya. Kejam benar musuh "si musibah" itu. Ia datang bagai awan yang gelap di musim panas dan pergi entah kemana rimbanya.
"Tok...tok....tok...!!!" bunyi sebuah benda keras yang menyentuh "black street" itu.
Aku tertegun, rupanya ada yang lewat di seberang sana. Bayangan hitam, tinggi besar. Firasatku mengatakan sesuatu yang lain. Aku tak tenang, kepalaku linglung, dahiku berkerut. Mau kemana lagi langkahku ini. Tidak puaskah ia datang dan pergi terus dihadapan ku? " bosanàaku benci kamu" dalam hatiku, aku mengutuk diriku.
Aku mencoba menahan napas. Kuturunkan kakiku dari pembaringan itu. Dingin sungguh saat kakiku menyentuh tanah, namun lebih kecut lagi nyaliku di saat-saat seperti ini. Darahku sejenak berhenti mengalir. Nadiku serasa tak berdenyut. Kalau ditempat terang mungkin aku dapat melihat betapa pucatnya wajahku di depan cermin. Ibuku tentu akan membantu memegangkan cermin dan aku akan melihatnya. Namun Inilah nasib, saat mau matipun, tak ada lagi ingatan akan bentuk wajah dan konstruksi tulang pipihku.
Bayangan itu mendekat. Sejenak kupalingkan wajahku sedikit ke kiri dan ke kanan. Ternyata baru kusadari bukannya hanya satu saja bayangan itu. Kuperkirakan akan hadir lima bayangan yang menatapku sebentar nanti. Ya...nampaknya bayangan itu bergerombolan. Mereka seperti kawanan pencuri yang setia sekawan.
Dalam taktiknya, mereka mampu mengelabui mangsa dengan cuma menampakan satu bayangan. Makin dekat bayangan itu, makin besar pula penglihatanku akan bayangan-bayangan itu. "Diam... !!!" terdengar suara dari salah satunya. Mereka berhenti mengerakkan kakinya. Kucoba mengintip dari celah sarungku, "wah..sungguh indah bayangan itu".
Aku meyadari keherananku, serentak otakku berputar dan dalam hati kubuat sebuah pernyataan "ternyata ada bayangan yang bisa mematung." Berarti, teori dari guru sekolah dasarku bahwa patung dibuat dari benda-benda materi belum sepenuhnya lengkap. "Ha...ha...ha...! Aku tahu, ternyata bayangan pun bisa jadi patung."
Aku tahu bayangan itu akan selalu merenggut nyawaku kapan dan dimana saja. Aku tahu dalam situasi ini bayangan itu mampu melenyapkan jiwaku. Patung itu punya nyali untuk mendatangkan maut terhadapku.
Patung itu ciptaan jiwa manusia tetapi patung itu mau melenyapkan jiwaku. "Inilah jiwaku yang dipenjara bagai patung dirimu. Jangan kau apa-apakan jiwaku, aku tuan bagimu" Kilahku.
Pada titik ini, Aku teringat Guru Sekolah Dasarku, ia sering menganalogikan jiwa dengan bayangan. Katanya " jiwa mausia itu seperti bayangan dirimu. Dia akan pergi kemana kau pergi, namun dia tak bisa kamu indrai."
Benarkah demikian? Kalau persoalan ini dihadapkan pada meja filsafat, para filsuf akan mati-matian mempertahankan jawaban masing-masing dengan berbagai alasan yang logis dan masuk akal. Itulah ciri khas para filsuf yang tak puas dengan satu jawaban, samapai-sampai realitas dunia pun tak pernah dirasakan memberi jawaban yang meyakinkan kepadanya.
Namun itu soal filsuf, mereka juga akan merefleksikan kematian, namun kematiannya tak akan bisa direfleksikannya. Kini, aku dihadapan bayangan. Bayangan kematian yang akan merenggut nyawaku.
Lima menit berlalu, bayangan itu tak kunjung pergi. Apa gerangan yang terjadi dengan bayangan itu? Dalam hatiku aku berbisik "Tuhan kalau sampai ajalku ambil saja nyawaku, tapi jangan kau ambil bayanganku. Aku tahu hidupku di dunia ini tidak berarti lagi.
Pemuja cintaku telah pergi selamanya. Pengeran tampanku yang pertama ikut bersama ibundanya. Bunga dahliaku telah dipetik paksa pada malam kelam. Untuk apa hidupku ini? aku orang asing di tanahku sendiri. Aku datang dari negeri seberang mencari serpihan bayanganku yang masih tersisa.
Aku mati di tanahku sendiri, tanah tumpah air mata dan darahku. Kini aku di pembaringan, aku ingin bermimpi di malam jumat, tetapi jangan kau ambil bayanganku"
"Aku pria malam Aku duduk di perapian Tidurku di balik awan Matiku di balik jaman". *
DERU kendaran baru terlewat. Aku tidur di pembaringan tua itu. Seharian telah kuhabiskan energiku untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Senyum kemenanganku baru saja berakhir kala senja pergi tak tersisa.
Itu tanda kemenanganku, tanda hidup matiku, tanda aku telah mencapai sisa hari ini. Bapaku selalu bercerita tentang akhir hari yang selalu indah pada pukul 18.00. Entah apa yang dimaksudkannya, namun ketika senja hari tiba ia selalu duduk di beranda rumah sambil memandang ke arah barat. Aku terkadang mencuri perhatian dengan mengamatinya.
Dalam hati aku selalu bertanya "apa gerangan yang dipikirkan oleh si pekerja keras ini? Apa ia lagi menikmati indahnya pukul 18.00? Ada sesuatu yang indah di balik terbenamnya mentari? Mungkinkah ia mengingat kembali moment saat ia jatuh cinta pertama kalinya dengan bundaku? Atau malah sebaliknya, ia sedang berpikir tentang masa depan kami anak-anaknya?
Kini di pembaringan aku terlelap. Aku baru saja menyelesaikan tugasku hari ini. Si nyonya tua telah puas dengan karyaku. Iya..itulah kerjanya si nyonya tua, ia tak akan puas kalau aku tak bekerja dengan seserius mungkin. Apalagi kalau aku membuang waktu sedetik sajaàmungkin saja dunia ini bisa runtuh dan akibatnya nasib kerjaku bisa dikorbankan. Kadang aku tak mengerti keinginan si nyonya tua ini.
Ketika aku bekerja tanpa bicara karena kupusatkan konsentrasi terhadap pekerjaanku, ia malah mendakwaku dengan berbagai pendapat streotipnya. Katanya, aku tidak humanlah.., atau aku tu orangnya terlalu pendiam. Pokonya banyak sekali tanpa bisa kuingat lagi. "Dasar orang sinting" kilahku bila ingin menghibur diriku.
Namun ketika aku terlambat sedetik saja kerena menanyakan sesutu yang tak dapat kumengerti kepada teman kerjaku, omelannya langsung mendamprat dan memojokanku. Sungguh sial hidupku ini. Hidup di jaman eyangku dulu, mungkin lebih baik dan barangkali aku tidak senaas ini. "Nasib.. nasib.., sepertinya Tuhan salah memilihku untuk diciptakan!"
Kini di pembaringan aku terlelap. Sekali lagi aku terlelap dalam tidurku. Inilah saat yang kurasa paling indah dalam hidupku. Dalam lelapku, aku selalu bermimpi bahwa aku tak akan pernah lagi mendengar bising suara senapan dan meriam.
Aku tak akan pernah lagi mendengar jerit tangis tetanggaku yang baru saja dilanda musibah. Musuh "si musibah" itu datang tak pernah diundang. Saat tidur malampun, ia datang mengedor pintu rumah-rumah di dusunku.
Entah apa gerangan maunya, terkadang aku berpikir ia gila dengan cita-citanya. Musuh "si musibah" itu datang merenggut dan mencabik bocah-bocah tanpa nama. Aku muak dengan tingkahnya yang sok jagoan tetapi isi kepalanya kosong. Ditanya perkalian satu kali satu saja, pasti minta bantuan pada cucunya. Nah, untuk soal datang pada malam hari, dia jagonya. Ketika binatang peliharaan saja sudah tidur ia masih mau mengusik bocah-bocah yang baru datang kemarin. Mungkin saja bocah-bocah itu belum tahu menangis, namun musuh "si musibah" itu telah datang merenggutnya untuk kembali.
Naas sungguh sial nasibnya, andaikan sang dewi cinta telah meramalkan sang bocah untuk jadi penganti romeo dan juliet dalam drama cinta abadi, bagaiman impian malam ini dapat terwujud? "Iya itu mungkin takdirnya". Kilahku.
"Bukan takdir tolol..!!!" Malah musuh si musibah itu bisa merenggut nyawa dalam satu kampung. Mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika dianiaya dan dirajam sampai dibakar dengan seluruh isi rumahnya. Kejam benar musuh "si musibah" itu. Ia datang bagai awan yang gelap di musim panas dan pergi entah kemana rimbanya.
"Tok...tok....tok...!!!" bunyi sebuah benda keras yang menyentuh "black street" itu.
Aku tertegun, rupanya ada yang lewat di seberang sana. Bayangan hitam, tinggi besar. Firasatku mengatakan sesuatu yang lain. Aku tak tenang, kepalaku linglung, dahiku berkerut. Mau kemana lagi langkahku ini. Tidak puaskah ia datang dan pergi terus dihadapan ku? " bosanàaku benci kamu" dalam hatiku, aku mengutuk diriku.
Aku mencoba menahan napas. Kuturunkan kakiku dari pembaringan itu. Dingin sungguh saat kakiku menyentuh tanah, namun lebih kecut lagi nyaliku di saat-saat seperti ini. Darahku sejenak berhenti mengalir. Nadiku serasa tak berdenyut. Kalau ditempat terang mungkin aku dapat melihat betapa pucatnya wajahku di depan cermin. Ibuku tentu akan membantu memegangkan cermin dan aku akan melihatnya. Namun Inilah nasib, saat mau matipun, tak ada lagi ingatan akan bentuk wajah dan konstruksi tulang pipihku.
Bayangan itu mendekat. Sejenak kupalingkan wajahku sedikit ke kiri dan ke kanan. Ternyata baru kusadari bukannya hanya satu saja bayangan itu. Kuperkirakan akan hadir lima bayangan yang menatapku sebentar nanti. Ya...nampaknya bayangan itu bergerombolan. Mereka seperti kawanan pencuri yang setia sekawan.
Dalam taktiknya, mereka mampu mengelabui mangsa dengan cuma menampakan satu bayangan. Makin dekat bayangan itu, makin besar pula penglihatanku akan bayangan-bayangan itu. "Diam... !!!" terdengar suara dari salah satunya. Mereka berhenti mengerakkan kakinya. Kucoba mengintip dari celah sarungku, "wah..sungguh indah bayangan itu".
Aku meyadari keherananku, serentak otakku berputar dan dalam hati kubuat sebuah pernyataan "ternyata ada bayangan yang bisa mematung." Berarti, teori dari guru sekolah dasarku bahwa patung dibuat dari benda-benda materi belum sepenuhnya lengkap. "Ha...ha...ha...! Aku tahu, ternyata bayangan pun bisa jadi patung."
Aku tahu bayangan itu akan selalu merenggut nyawaku kapan dan dimana saja. Aku tahu dalam situasi ini bayangan itu mampu melenyapkan jiwaku. Patung itu punya nyali untuk mendatangkan maut terhadapku.
Patung itu ciptaan jiwa manusia tetapi patung itu mau melenyapkan jiwaku. "Inilah jiwaku yang dipenjara bagai patung dirimu. Jangan kau apa-apakan jiwaku, aku tuan bagimu" Kilahku.
Pada titik ini, Aku teringat Guru Sekolah Dasarku, ia sering menganalogikan jiwa dengan bayangan. Katanya " jiwa mausia itu seperti bayangan dirimu. Dia akan pergi kemana kau pergi, namun dia tak bisa kamu indrai."
Benarkah demikian? Kalau persoalan ini dihadapkan pada meja filsafat, para filsuf akan mati-matian mempertahankan jawaban masing-masing dengan berbagai alasan yang logis dan masuk akal. Itulah ciri khas para filsuf yang tak puas dengan satu jawaban, samapai-sampai realitas dunia pun tak pernah dirasakan memberi jawaban yang meyakinkan kepadanya.
Namun itu soal filsuf, mereka juga akan merefleksikan kematian, namun kematiannya tak akan bisa direfleksikannya. Kini, aku dihadapan bayangan. Bayangan kematian yang akan merenggut nyawaku.
Lima menit berlalu, bayangan itu tak kunjung pergi. Apa gerangan yang terjadi dengan bayangan itu? Dalam hatiku aku berbisik "Tuhan kalau sampai ajalku ambil saja nyawaku, tapi jangan kau ambil bayanganku. Aku tahu hidupku di dunia ini tidak berarti lagi.
Pemuja cintaku telah pergi selamanya. Pengeran tampanku yang pertama ikut bersama ibundanya. Bunga dahliaku telah dipetik paksa pada malam kelam. Untuk apa hidupku ini? aku orang asing di tanahku sendiri. Aku datang dari negeri seberang mencari serpihan bayanganku yang masih tersisa.
Aku mati di tanahku sendiri, tanah tumpah air mata dan darahku. Kini aku di pembaringan, aku ingin bermimpi di malam jumat, tetapi jangan kau ambil bayanganku"
"Aku pria malam Aku duduk di perapian Tidurku di balik awan Matiku di balik jaman". *
Tiga Warna Kenangan
Oleh Gusty Fahik
DANAU itu punya tiga warna, sayang Konon di puncak bukit itu pernah bertakhta seorang penguasa yang berhak menentukan nasib setiap arwah yang beralih dari dunia ini ke alam akhirat. Setiap arwah punya tempat masing-masing di sana. Warna-warna danau itu melambangkan tempat setiap arwah. Karena itu berusahalah untuk hidup baik selama di dunia ini bila engkau ingin meraih tempat yang baik di sana.
Di situ kita pernah bersama menghabiskan waktu yang amat terbatas. Mengapa Tuhan harus menjadikan waktu yang terbatas buat manusia sementara Dia sendiri memiliki waktu yang tak terbatas?
"Bukankah itu berarti Ia seorang yang amat egois?"
"Dia tidak egois, sayang. Dia memberi kita yang terbatas agar kita tahu menggunakannya secara bijaksana, agar kita tahu bersyukur atas apa yang sedang kita nikmati, dan agar kita tahu mengisinya dengan hal-hal yang bermakna".
"Tidakkah yang kekal itu lebih bermakna?"
"Sayang, justru yang sementara itu lebih bermakna sebab kita sedang menciptakan makna kesementaraan untuk membikin abadi apa yang sebenarnya tidak abadi, ialah makna itu sendiri".
Tentang makna, itulah yang kita percakapkan ketika kita berada di antara ketiga warna danau itu. Kita tahu, danau itu bukan hanya punya tiga warna sebab warna-warna yang waktu itu nampak ternyata tidak abadi. Tahukah kau bahwa warna-warna itu sekarang telah berubah menjadi warna-warna lain, warna-warna yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali. Warna putih yang dulu kau sukai kini telah berubah menjadi hitam. Warna biru telah berubah menjadi hijau muda,. Sementara warna cokelat tua ternyata telah menggantikan tempat warna merah. Tak ada apa pun yang abadi di bawah matahari, semuanya berubah. Yang tetap ialah perubahan itu. Hati kita pun kini telah berubah.
"Kalau boleh meminta sesuatu pada Tuhan sekarang, aku ingin meminta agar kita berdua berada selamanya di sini. Kita jadikan danau-danau ini tempat tinggal kita, surga kita, surga cinta kita," katamu waktu itu.
"Itu hanya mungkin kalau kita meninggal kelak, sebab arwah kita akan bersemayam dalam keabadian di sini".
"Aku takut kita tidak akan pernah bersama di sini. Jangan sampai aku di danau berwarna putih sementara engkau di danau berwarna merah," engkau berkelakar.
"Itu tergantung amal kita di dunia. Kalau ingin tetap bersama, kita harus hidup baik, atau hidup jahat selama berada di dunia".
"Aku ingin hidup baik dengan mencintaimu dan semua orang selama sisa hidupku di dunia ini".
Kita terus berbicara tentang kebaikan, kejahatan, cinta benci, rasa sakit, pernikahan , punya anak, sampai soal kematian, sementara kabut turun perlahan mengisi setiap kawah dengan amat perlahan. Lalu angin berhembus membawa kabut beranjak meninggalkan setiap kawah yang serupa rumah yang selalu disinggahinya, sebuah rumah yang juga sebagai dunia kecil baginya. Kabut yang berlalu dari setiap kawah seakan ingin membiarkan kita memandang dan mengagumi setiap warna dalam danau itu. Engkau lalu bertutur.
"Alkisah setelah membinasakan dunia dengan air bah Tuhan ingin berdamai dengan alam ciptaan-Nya. Sebagai tanda perdamaian Ia menaruh pelangi di ujung cakrawala agar manusia tahu bahwa Tuhan itu setia akan janji-Nya. Tuhan memikirkan bagaimana Ia harus menggambar warna-warni pelangi itu. Ia ingin turun ke bumi dan menggambar pelangi dari satu tempat di bumi. Ia mencari-cari tempat yang kering agar Ia bisa duduk dan mulai menggambar. Dari surga mata-Nya menangkap sebuah bukit yang telah kering dan cukup rata. Tuhan turun ke puncak bukit itu membawa serta semua peralatan menggambar milik-Nya. Ia mulai membuat setiap lengkungan pelangi dengan warna-warni yang dibawa-Nya. Tuhan lupa bahwa ia telah lebih dahulu menyuruh angin bertiup untuk menyurutkan air bah. Maka Ia terpaksa harus menggambar dengan tergesa-gesa sebab angin kencang terus berhembus sedang Tuhan tidak memakai baju hangat atau jaket. Karena tidak tahan terhadap hembusan angin maka Tuhan kembali dengan agak terburu-buru setelah menyelesaikan lengkung-lengkung pelangi. Dan Ia pergi meninggalkan sebagian peralatan menggambar milik-Nya. Apa yang ditinggalkan-Nya itulah yang kini kita saksikan di hadapan kita, tiga buah kawah di puncak bukit dengan warna-warni yang begitu indah," engkau mengakhiri kisahmu dengan senyuman simpul.
Aku tahu engkau telah membaca tuntas kisah Alkitab tentang Nabi Nuh dan dengan imajinasimu engkau membuat kisahmu yang berhubungan dengan danau itu.
"Kalau demikian berarti tempat ini dulu pernah dipijaki Tuhan, bahkan Ia pernah duduk di sini untuk menggambar pelangi," aku berujar.
"Kalau engkau berpegang pada kisahku maka itu benar, sebab tempat ini pun dipandang amat sakral oleh masyarakat kita". Lalu engkau menatapku, dan kulihat ada cinta di matamu, cinta yang begitu tulus dan indah, seindah danau itu. Hari itu, aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.
***
Danau itu punya tiga warna, sayang. Tiga belas tahun setelah percakapan kita, aku kembali ke sana. Warna-warni danau itu telah berubah oleh waktu. Rupanya kita lupa bahwa waktu adalah pencuri paling alami yang tak pernah kita sadari kehadirannya. Ia bukan saja mencuri warna-warni danau yang pernah kita lihat dulu, ia juga telah mencurimu dariku.
Namun, waktu juga ternyata adalah pencuri paling bijaksana, sebab ia toh tak pernah mencuri kenangan dari manusia. Ia tak akan sanggup melakukannya sebab setiap kenangan adalah pemberian waktu dan waktu tak pernah mengambil kembali apa yang telah diberikannya.
Waktu, kekasihku, telah membawamu pergi, tetapi ia pernah memberi lembaran-lembarannya untuk kujadikan tempat kita melukis setiap kenangan. Setiap kali kurindukan dirimu aku selalu membuka lembaran waktu, sekedar membaca lagi peristiwa-peristiwa yang pernah kita goreskan di atasnya. Kita memang tidak pernah abadi, tetapi kenangan tentang kita selalu abadi dalam waktu.
Menatap warna-warni danau itu, aku teringat akan keindahan matamu, mata terindah yang pernah menatapku. Danau itu berbicara tentang dirimu, tentang kenangan kita, tentang hidup kita, tentang kefanaan kita. Sayang, engkau tak lagi ada di sana bersamaku. Di puncak bukit itu, di tepi danau berwarna hijau, aku teringat akan ceritamu tentang pelangi. Betapa aku rindu untuk ingin mendengarmu menuturkan kisah itu lagi. Tahukah kau aku tak pernah akan bosan mendengar kisah yang engkau tuturkan. Kisah tentang kesetiaan Tuhan, dan cinta-Nya pada dunia. Namun, engkau tak ada di sana.
Aku berdiri menatap kabut yang perlahan beranjak meninggalkan permuakaan air, bersama angin menerpa wajahku, lembut sekali. Aku terus menatapnya dengan harapan akan melihat wajahmu tersenyum dari dalam kawah itu. Bukankah danau hijau adalah tempat bersemayamnya orang-orang muda, seperti dirimu ketika meninggalkanku?
Kita memang tak akan pernah bersama entah di dunia maupun di alam baka. Aku telah tua kini, dan kalau waktuku menjelang, aku tak mungkin bersamamu di danau berwarna hijau itu. Tempatku ialah danau berwarna cokelat tua. Sayang, kini aku ingin mensyukuri waktu. Mengapa Tuhan memberi kita waktu yang fana, ialah agar kita mengisinya deengan bijaksana, dengan sesuatu yang bermakna, agar kita tahu mensyukurinya. Kini aku bersyukur atas setiap detik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku, terlebih detik-detik ketika kita berdua bersama mengukir kenangan. Manusia selalu hidup untuk mengukir kenangan yang bakal ditinggalkannya ketika ia kembali kepada keabadian.
Kulihat air danau beriak kecil, membentuk lengkungan yang memantul kembali setiap kali menyentuh bibir tebing. Bagiku lengkung riak-riak itu adalah lengkung senyum di bibirmu. Kutahu engkau sedang tersenyum padaku dari tempatmu di dasar danau itu. Senyum yang pernah membuatku merasa sebagai laki-laki paling bahagia di dunia. Hari ini rasa itu kembali menguasaiku. Aku masih laki-laki paling bahagia di dunia.
Danau itu punya tiga warna, sayang. *
DANAU itu punya tiga warna, sayang Konon di puncak bukit itu pernah bertakhta seorang penguasa yang berhak menentukan nasib setiap arwah yang beralih dari dunia ini ke alam akhirat. Setiap arwah punya tempat masing-masing di sana. Warna-warna danau itu melambangkan tempat setiap arwah. Karena itu berusahalah untuk hidup baik selama di dunia ini bila engkau ingin meraih tempat yang baik di sana.
Di situ kita pernah bersama menghabiskan waktu yang amat terbatas. Mengapa Tuhan harus menjadikan waktu yang terbatas buat manusia sementara Dia sendiri memiliki waktu yang tak terbatas?
"Bukankah itu berarti Ia seorang yang amat egois?"
"Dia tidak egois, sayang. Dia memberi kita yang terbatas agar kita tahu menggunakannya secara bijaksana, agar kita tahu bersyukur atas apa yang sedang kita nikmati, dan agar kita tahu mengisinya dengan hal-hal yang bermakna".
"Tidakkah yang kekal itu lebih bermakna?"
"Sayang, justru yang sementara itu lebih bermakna sebab kita sedang menciptakan makna kesementaraan untuk membikin abadi apa yang sebenarnya tidak abadi, ialah makna itu sendiri".
Tentang makna, itulah yang kita percakapkan ketika kita berada di antara ketiga warna danau itu. Kita tahu, danau itu bukan hanya punya tiga warna sebab warna-warna yang waktu itu nampak ternyata tidak abadi. Tahukah kau bahwa warna-warna itu sekarang telah berubah menjadi warna-warna lain, warna-warna yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali. Warna putih yang dulu kau sukai kini telah berubah menjadi hitam. Warna biru telah berubah menjadi hijau muda,. Sementara warna cokelat tua ternyata telah menggantikan tempat warna merah. Tak ada apa pun yang abadi di bawah matahari, semuanya berubah. Yang tetap ialah perubahan itu. Hati kita pun kini telah berubah.
"Kalau boleh meminta sesuatu pada Tuhan sekarang, aku ingin meminta agar kita berdua berada selamanya di sini. Kita jadikan danau-danau ini tempat tinggal kita, surga kita, surga cinta kita," katamu waktu itu.
"Itu hanya mungkin kalau kita meninggal kelak, sebab arwah kita akan bersemayam dalam keabadian di sini".
"Aku takut kita tidak akan pernah bersama di sini. Jangan sampai aku di danau berwarna putih sementara engkau di danau berwarna merah," engkau berkelakar.
"Itu tergantung amal kita di dunia. Kalau ingin tetap bersama, kita harus hidup baik, atau hidup jahat selama berada di dunia".
"Aku ingin hidup baik dengan mencintaimu dan semua orang selama sisa hidupku di dunia ini".
Kita terus berbicara tentang kebaikan, kejahatan, cinta benci, rasa sakit, pernikahan , punya anak, sampai soal kematian, sementara kabut turun perlahan mengisi setiap kawah dengan amat perlahan. Lalu angin berhembus membawa kabut beranjak meninggalkan setiap kawah yang serupa rumah yang selalu disinggahinya, sebuah rumah yang juga sebagai dunia kecil baginya. Kabut yang berlalu dari setiap kawah seakan ingin membiarkan kita memandang dan mengagumi setiap warna dalam danau itu. Engkau lalu bertutur.
"Alkisah setelah membinasakan dunia dengan air bah Tuhan ingin berdamai dengan alam ciptaan-Nya. Sebagai tanda perdamaian Ia menaruh pelangi di ujung cakrawala agar manusia tahu bahwa Tuhan itu setia akan janji-Nya. Tuhan memikirkan bagaimana Ia harus menggambar warna-warni pelangi itu. Ia ingin turun ke bumi dan menggambar pelangi dari satu tempat di bumi. Ia mencari-cari tempat yang kering agar Ia bisa duduk dan mulai menggambar. Dari surga mata-Nya menangkap sebuah bukit yang telah kering dan cukup rata. Tuhan turun ke puncak bukit itu membawa serta semua peralatan menggambar milik-Nya. Ia mulai membuat setiap lengkungan pelangi dengan warna-warni yang dibawa-Nya. Tuhan lupa bahwa ia telah lebih dahulu menyuruh angin bertiup untuk menyurutkan air bah. Maka Ia terpaksa harus menggambar dengan tergesa-gesa sebab angin kencang terus berhembus sedang Tuhan tidak memakai baju hangat atau jaket. Karena tidak tahan terhadap hembusan angin maka Tuhan kembali dengan agak terburu-buru setelah menyelesaikan lengkung-lengkung pelangi. Dan Ia pergi meninggalkan sebagian peralatan menggambar milik-Nya. Apa yang ditinggalkan-Nya itulah yang kini kita saksikan di hadapan kita, tiga buah kawah di puncak bukit dengan warna-warni yang begitu indah," engkau mengakhiri kisahmu dengan senyuman simpul.
Aku tahu engkau telah membaca tuntas kisah Alkitab tentang Nabi Nuh dan dengan imajinasimu engkau membuat kisahmu yang berhubungan dengan danau itu.
"Kalau demikian berarti tempat ini dulu pernah dipijaki Tuhan, bahkan Ia pernah duduk di sini untuk menggambar pelangi," aku berujar.
"Kalau engkau berpegang pada kisahku maka itu benar, sebab tempat ini pun dipandang amat sakral oleh masyarakat kita". Lalu engkau menatapku, dan kulihat ada cinta di matamu, cinta yang begitu tulus dan indah, seindah danau itu. Hari itu, aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.
***
Danau itu punya tiga warna, sayang. Tiga belas tahun setelah percakapan kita, aku kembali ke sana. Warna-warni danau itu telah berubah oleh waktu. Rupanya kita lupa bahwa waktu adalah pencuri paling alami yang tak pernah kita sadari kehadirannya. Ia bukan saja mencuri warna-warni danau yang pernah kita lihat dulu, ia juga telah mencurimu dariku.
Namun, waktu juga ternyata adalah pencuri paling bijaksana, sebab ia toh tak pernah mencuri kenangan dari manusia. Ia tak akan sanggup melakukannya sebab setiap kenangan adalah pemberian waktu dan waktu tak pernah mengambil kembali apa yang telah diberikannya.
Waktu, kekasihku, telah membawamu pergi, tetapi ia pernah memberi lembaran-lembarannya untuk kujadikan tempat kita melukis setiap kenangan. Setiap kali kurindukan dirimu aku selalu membuka lembaran waktu, sekedar membaca lagi peristiwa-peristiwa yang pernah kita goreskan di atasnya. Kita memang tidak pernah abadi, tetapi kenangan tentang kita selalu abadi dalam waktu.
Menatap warna-warni danau itu, aku teringat akan keindahan matamu, mata terindah yang pernah menatapku. Danau itu berbicara tentang dirimu, tentang kenangan kita, tentang hidup kita, tentang kefanaan kita. Sayang, engkau tak lagi ada di sana bersamaku. Di puncak bukit itu, di tepi danau berwarna hijau, aku teringat akan ceritamu tentang pelangi. Betapa aku rindu untuk ingin mendengarmu menuturkan kisah itu lagi. Tahukah kau aku tak pernah akan bosan mendengar kisah yang engkau tuturkan. Kisah tentang kesetiaan Tuhan, dan cinta-Nya pada dunia. Namun, engkau tak ada di sana.
Aku berdiri menatap kabut yang perlahan beranjak meninggalkan permuakaan air, bersama angin menerpa wajahku, lembut sekali. Aku terus menatapnya dengan harapan akan melihat wajahmu tersenyum dari dalam kawah itu. Bukankah danau hijau adalah tempat bersemayamnya orang-orang muda, seperti dirimu ketika meninggalkanku?
Kita memang tak akan pernah bersama entah di dunia maupun di alam baka. Aku telah tua kini, dan kalau waktuku menjelang, aku tak mungkin bersamamu di danau berwarna hijau itu. Tempatku ialah danau berwarna cokelat tua. Sayang, kini aku ingin mensyukuri waktu. Mengapa Tuhan memberi kita waktu yang fana, ialah agar kita mengisinya deengan bijaksana, dengan sesuatu yang bermakna, agar kita tahu mensyukurinya. Kini aku bersyukur atas setiap detik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku, terlebih detik-detik ketika kita berdua bersama mengukir kenangan. Manusia selalu hidup untuk mengukir kenangan yang bakal ditinggalkannya ketika ia kembali kepada keabadian.
Kulihat air danau beriak kecil, membentuk lengkungan yang memantul kembali setiap kali menyentuh bibir tebing. Bagiku lengkung riak-riak itu adalah lengkung senyum di bibirmu. Kutahu engkau sedang tersenyum padaku dari tempatmu di dasar danau itu. Senyum yang pernah membuatku merasa sebagai laki-laki paling bahagia di dunia. Hari ini rasa itu kembali menguasaiku. Aku masih laki-laki paling bahagia di dunia.
Danau itu punya tiga warna, sayang. *
Senin, 01 Desember 2008
SMPN Tobu-TTS Membanggakan
Oleh Muhlis Al Alawi
UJIAN Nasional telah menjadi momok paling menakutkan bagi siswa dan sekolah. Kegagalan siswa dan sekolah menggapai predikat lulus akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan sekolan itu. Sekolah yang gagal meluluskan siswanya mengikuti Ujian Nasional (UN) akan dicap tidak mampu mendidik para siswa.
Berbekal masalah tersebut, saat ini banyak sekolah yang berlomba-lomba mempersiapkan para siswanya yang akan mengikuti UN sedini mungkin. Tak terkecuali Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tobu yang berlokasi di Desa Tobu, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sekolah ini terbilang berprestasi karena sudah tiga tahun berturut-turut siswa peserta UN di sekolah ini lulus 100 persen. Sekolah ini tidak main-main mempersiapkan para siswa menghadapi UN. Meski berada di pedesaan sekitar -- 50 km dari Kota SoE, SMPN Tobu di bawah pimpinan Feliphus Benmetan, S.Pd sudah jauh-jauh hari mempersiapkan anak didiknya menghadapi UN.
"Sejak September siswa-siswi kelas III sudah mengikuti les usai sekolah dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 Wita. Les ini kami adakan hingga satu minggu menjelang UN digelar. Untuk kegiatan lesnya, kami lebih menekankan siswa dilatih banyak menyelesaikan soal-soal yang dihimpun dari berbagai sumber," ujar Benmetan kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (21/11/2008) siang.
Menurut Benmetan, himpunan soal itu berasal dari ujian tahun-tahun sebelumnya dan kumpulan soal dari SMPK Giovanni Kupang dan SMP Mercusuar Kupang. Berbekal kumpulan soal itu, siswa dilatih menghadapi, menyiasati dan menjawab setiap soal yang disodorkan. Bila dalam les hanya mengulang pelajaran kelas I dan II saja, maka siswa akan menjadi bosan dan mengantuk.
Benmetan mengakui banyaknya siswa yang tinggal di wilayah pegunungan sehingga menyulitkan mereka mengikuti kegiatan belajar tepat waktu. Untuk menyiasati hal tersebut, sejak September siswa kelas III sudah tinggal di asrama sekolah. Asrama itu khusus menampung siswa kelas III untuk mempersiapkan diri mengikuti UN.
"Khusus untuk siswi yang rumahnya jauh dari sekolah ditampung para guru yang mengajar di SMPN Tobu. Persoalan dispilin, mungkin lantaran anak-anak di desa, mereka lebih tepat waktu masuk sekolah," kata Benmetan.
Untuk memberikan motivasi kepada anak didiknya mengikuti pelajaran, SMPN Tobu tidak ketinggalan dalam berinovasi. Sejak dini SMPN Tobu memperkenalkan kepada anak didiknya untuk mengenal teknologi informasi. Pada mata pelajaran tertentu para guru menggunakan laptop yang kemudian diproyeksikan dengan proyektor ke papan saat menyampaikan materi pelajaran.
"Kami juga menggunakan televisi yang materinya disampaikan dalam bentuk video compact disc (VCD). Dengan pengenalan teknologi sejak dini kami ingin menghilangkan cap anak-anak yang bersekolah di desa itu selalu "tenganga dan kemomos" terhadap teknologi baru," jelas Benmetan.
Tak hanya siswanya saja masuk asrama, 17 guru pendidik yang semuanya menyandang gelar sarjana pendidikan di sekolah itu juga diberikan tempat tinggal berupa mess yang layak di lingkungan sekolah. Mess itu diberikan kepada guru yang tempat tinggal aslinya jauh dari sekolah. Tempat tinggal guru yang berdekata dengan sekolah tidak menjadikan kegiatan belajar mengajar terlambat lantaran tenaga pendidiknya datang telat.
Bagi Benmetan guru sebagai pendidik adalah ujung tombak maju-mundurnya satu sekolah. Bila nasib para guru tidak diperhatikan, ia yakin sekolah yang dipimpinnya tak akan menghasilkan kelulusan siswa seratus persen tiga tahun berturut-turut.
Perhatian kepada guru, lanjut Benmetan, tidak sekadar tempat tinggal dan gaji yang diterima setiap bulan. Bagi guru yang memberikan lest tambahan juga diberikan insentif yang layak. Ia menyebutkan setiap bulannya, guru yang rajin memberikan les bagi siswa kelas III bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp 800.000.
"Saya selalu menyampaikan kepada guru dan staf untuk mengelola dan memajukan sekolah ini harus dikelola secara kolektif. Tidak boleh ada yang menyatakan dirinya yang paling hebat dan paling berjasa memajukan sekolah. Dengan demikian, budaya kekeluargaan dan kebersamaan memiliki tanggung jawab bersama memajukan sekolah menjadi motor penggerak lembaga pendidikan kami," kata Benmetan.
Terkait bantuan dana dari pemerintah, Benmetan mengatakan, setiap kali dana bantuan masuk ke sekolah itu, dia selalu mengundang seluruh guru untuk bersama-sama membicarakan penggunaannya. Harapannya, manajemen pengelolaan dana yang partisipatif, transparan dan akuntabel akan memudahkan dalam aplikasi dan pertanggungjawabannya.
Berkali-kali Benmetan menunjukkan tumpukan buku pertanggungjawaban yang disusun rapi permasing-masing bantuan dana yang diterima sekolahnya.
"Lembaga mana pun yang datang hendak mengaudit dan memeriksa penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan, kami selalu siap. Tinggal dana bantuan mana yang hendak diperiksa, kami langsung menyodorkan buku pertanggungjawaban yang sudah kami susun jauh hari sebelumnya," jelas Benmetan sambil mengatakan SMPN Tobu merupakan calon sekolah standar nasional.
Meski demikian, Benmetan mengakui pemerintah pusat dan propinsi malah yang lebih memperhatikan keberadaan SMPN Tobu dengan program binaan proyek perluasan peningkatan mutu. Ia mendeskripsikan pembangunan sembilan ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium, dan kantor dananya berasal dari pemerintah pusat dan propinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten terkesan adem ayem terhadap sekolah ini. *
Data kelulusan SMPN Tobu:
Tahun 2006 jumlah siswa 42 orang lulus semua
Tahun 2007 jumlah siswa 63 orang lulus semua
Tahun 2008 jumlah siswa 56 orang lulus semua
Tahun 2009 jumlah siswa 81 orang ...........
Total siswa kelas I, II dan III sebanyak 265 siswa.
UJIAN Nasional telah menjadi momok paling menakutkan bagi siswa dan sekolah. Kegagalan siswa dan sekolah menggapai predikat lulus akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan sekolan itu. Sekolah yang gagal meluluskan siswanya mengikuti Ujian Nasional (UN) akan dicap tidak mampu mendidik para siswa.
Berbekal masalah tersebut, saat ini banyak sekolah yang berlomba-lomba mempersiapkan para siswanya yang akan mengikuti UN sedini mungkin. Tak terkecuali Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tobu yang berlokasi di Desa Tobu, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sekolah ini terbilang berprestasi karena sudah tiga tahun berturut-turut siswa peserta UN di sekolah ini lulus 100 persen. Sekolah ini tidak main-main mempersiapkan para siswa menghadapi UN. Meski berada di pedesaan sekitar -- 50 km dari Kota SoE, SMPN Tobu di bawah pimpinan Feliphus Benmetan, S.Pd sudah jauh-jauh hari mempersiapkan anak didiknya menghadapi UN.
"Sejak September siswa-siswi kelas III sudah mengikuti les usai sekolah dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 Wita. Les ini kami adakan hingga satu minggu menjelang UN digelar. Untuk kegiatan lesnya, kami lebih menekankan siswa dilatih banyak menyelesaikan soal-soal yang dihimpun dari berbagai sumber," ujar Benmetan kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (21/11/2008) siang.
Menurut Benmetan, himpunan soal itu berasal dari ujian tahun-tahun sebelumnya dan kumpulan soal dari SMPK Giovanni Kupang dan SMP Mercusuar Kupang. Berbekal kumpulan soal itu, siswa dilatih menghadapi, menyiasati dan menjawab setiap soal yang disodorkan. Bila dalam les hanya mengulang pelajaran kelas I dan II saja, maka siswa akan menjadi bosan dan mengantuk.
Benmetan mengakui banyaknya siswa yang tinggal di wilayah pegunungan sehingga menyulitkan mereka mengikuti kegiatan belajar tepat waktu. Untuk menyiasati hal tersebut, sejak September siswa kelas III sudah tinggal di asrama sekolah. Asrama itu khusus menampung siswa kelas III untuk mempersiapkan diri mengikuti UN.
"Khusus untuk siswi yang rumahnya jauh dari sekolah ditampung para guru yang mengajar di SMPN Tobu. Persoalan dispilin, mungkin lantaran anak-anak di desa, mereka lebih tepat waktu masuk sekolah," kata Benmetan.
Untuk memberikan motivasi kepada anak didiknya mengikuti pelajaran, SMPN Tobu tidak ketinggalan dalam berinovasi. Sejak dini SMPN Tobu memperkenalkan kepada anak didiknya untuk mengenal teknologi informasi. Pada mata pelajaran tertentu para guru menggunakan laptop yang kemudian diproyeksikan dengan proyektor ke papan saat menyampaikan materi pelajaran.
"Kami juga menggunakan televisi yang materinya disampaikan dalam bentuk video compact disc (VCD). Dengan pengenalan teknologi sejak dini kami ingin menghilangkan cap anak-anak yang bersekolah di desa itu selalu "tenganga dan kemomos" terhadap teknologi baru," jelas Benmetan.
Tak hanya siswanya saja masuk asrama, 17 guru pendidik yang semuanya menyandang gelar sarjana pendidikan di sekolah itu juga diberikan tempat tinggal berupa mess yang layak di lingkungan sekolah. Mess itu diberikan kepada guru yang tempat tinggal aslinya jauh dari sekolah. Tempat tinggal guru yang berdekata dengan sekolah tidak menjadikan kegiatan belajar mengajar terlambat lantaran tenaga pendidiknya datang telat.
Bagi Benmetan guru sebagai pendidik adalah ujung tombak maju-mundurnya satu sekolah. Bila nasib para guru tidak diperhatikan, ia yakin sekolah yang dipimpinnya tak akan menghasilkan kelulusan siswa seratus persen tiga tahun berturut-turut.
Perhatian kepada guru, lanjut Benmetan, tidak sekadar tempat tinggal dan gaji yang diterima setiap bulan. Bagi guru yang memberikan lest tambahan juga diberikan insentif yang layak. Ia menyebutkan setiap bulannya, guru yang rajin memberikan les bagi siswa kelas III bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp 800.000.
"Saya selalu menyampaikan kepada guru dan staf untuk mengelola dan memajukan sekolah ini harus dikelola secara kolektif. Tidak boleh ada yang menyatakan dirinya yang paling hebat dan paling berjasa memajukan sekolah. Dengan demikian, budaya kekeluargaan dan kebersamaan memiliki tanggung jawab bersama memajukan sekolah menjadi motor penggerak lembaga pendidikan kami," kata Benmetan.
Terkait bantuan dana dari pemerintah, Benmetan mengatakan, setiap kali dana bantuan masuk ke sekolah itu, dia selalu mengundang seluruh guru untuk bersama-sama membicarakan penggunaannya. Harapannya, manajemen pengelolaan dana yang partisipatif, transparan dan akuntabel akan memudahkan dalam aplikasi dan pertanggungjawabannya.
Berkali-kali Benmetan menunjukkan tumpukan buku pertanggungjawaban yang disusun rapi permasing-masing bantuan dana yang diterima sekolahnya.
"Lembaga mana pun yang datang hendak mengaudit dan memeriksa penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan, kami selalu siap. Tinggal dana bantuan mana yang hendak diperiksa, kami langsung menyodorkan buku pertanggungjawaban yang sudah kami susun jauh hari sebelumnya," jelas Benmetan sambil mengatakan SMPN Tobu merupakan calon sekolah standar nasional.
Meski demikian, Benmetan mengakui pemerintah pusat dan propinsi malah yang lebih memperhatikan keberadaan SMPN Tobu dengan program binaan proyek perluasan peningkatan mutu. Ia mendeskripsikan pembangunan sembilan ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium, dan kantor dananya berasal dari pemerintah pusat dan propinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten terkesan adem ayem terhadap sekolah ini. *
Data kelulusan SMPN Tobu:
Tahun 2006 jumlah siswa 42 orang lulus semua
Tahun 2007 jumlah siswa 63 orang lulus semua
Tahun 2008 jumlah siswa 56 orang lulus semua
Tahun 2009 jumlah siswa 81 orang ...........
Total siswa kelas I, II dan III sebanyak 265 siswa.
Papanggang, Mediator Sang Arwah
Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (4)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
TERIK mentari membakar bumi sandelwood. Warga Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, tumpah rua ke Prai Awang-Rende untuk menyaksikan pemakaman bupati yang dekat dengan rakyat itu. Di tengah terik membakar kampung Prai Awang, sekejap puting beliung menyapu tanah lapang di tengah kampung yang diapiti rumah-rumah adat dan batu kubur leluhur anamburung itu. Saat itu, tua adat setempat sedang melakukan ritual menyeleksi ata atau hamba yang bertugas sebagai papanggang untuk mengantar almarhum Umbu Mehang Kunda ke liang lahat.
Hari itu, Senin (10/11/2008). Sekitar pukul 14.30 Wita, tua adat setempat menyeleksi beberapa ata atau hamba diambil empat orang, terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang wanita untuk menjadi papanggang. Mereka bertugas mengantar jenazah almarhum Mehang Kunda ke liang lahat. Keempat papanggang ini disucikan melalui ritual adat lalu didandani dengan pakaian khusus kebesaran raja-raja yang dilengkapi dengan manik-manik dan perhiasan emas. Para papanggang mengenakan lamba, mamoli, kanatar, muti salak yang dinggelu (kalung). Ritual ini menjadi tontonan sekitar 20 ribu pelayat yang memadati kampung adat itu.
Disaksikan Pos Kupang, sejak pagi keluarga anamburung menerima tamu atau rombongan adat dengan bawaan masing-masing. Tamu yang diundang terdiri dari ery aya (kakak-adik), ina rendi ama manu (raja/bangsawan), juru watu uma dallar (keluarga satu marga), tana nua watulihhi (tetangga kampung), kajuanga angu todu (lembah tempat tinggal bersama) dan ana kawini (saudari). Setiap rombongan tamu (satu marga) disambut dengan gong dan tangisan wanita penunggu jenazah. Tamu wanita memasuki ruang jenazah (kaheli bokul) lalu menangis dengan bahasa lawiti kemudian mendapat sirih pinang dari penerima tamu wanita. Tamu pria duduk di balai-balai (bangga), juga mendapat layanan sirih pinang oleh penerima tamu pria. Salah seorang dari rombongan tamu memberitahu pembawaan mereka. Setelah kaum wanita keluar dari tempat jenazah, rombongan dipersilahkan menempati tempat yang telah disiapkan untuk menikmati sirih pinang dan kopi.
Di balai-balai rumah jenazah, para wunang berbicara secara adat mengenai pembawaan dan permintaan mereka (pulu dungu). Jika sepakat maka ditikam babi (kameti). Babi kameti dibagi dua, setengah dimasak untuk dimakan di rumah duka dan setengah dibawa pulang. Ana kawini (saudari) diberi kain/sarung sedangkan yera (ipar atau besan) diberi hewan atau mamoli. Tata cara ini hanya dilakukan keluarga bangsawan/raja yang ekonominya kuat seperti almarhum Umbu Mehang Kunda.
Penerimaan tamu seperti ini juga berlaku terhadap rombongan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Gubernur bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si; Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe; Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk dan Wakil, Umbu Dondu; Bupati Sumba Barat, Drs. Julianus Pote Leba; Bupati Sumba Barat Daya (SBD) terpilih, dr. Kornelius Kodi Mete; Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe; Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin; Sekda Kabupaten Kupang, Bernabas nDjurumana,S.H, dan pejabat lainnya, diterima di balai-balai uma bokul, lalu wunang mulai berbicara. Rombongan gubernur juga disiapkan wunang untuk berbicara dengan wunang tuan rumah dalam bahasa adat yang disebut luluk. Hiku tua mayangara, hiku kea lama lidi (sehingga disebut sebagai keluarga), inilah pesan yang disampaikan para wunang dalam luluknya. Mereka menyampaikan, gubernur dengan almarhum ada ikatan kerja, selaku hubungan secara pribadi disebut keluarga.
Tepat pukul 15.30 Wita, upacara pemakaman dimulai. Diawali sambutan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dan wakil keluarga yang disampaikan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha. Umbu Maramba Hau melanjutkan memimpin tata upacara pemakaman secara adat tersebut. Seekor kerbau jantan kecil digiring masuk ke tengah kampung lalu disembeli oleh orang yang ditugaskan. Pemotongan harus berlangsung satu kali, kerbau atau kudanya tewas. Jika diulang, itu berarti ada sesuatu yang mengganjal. Disusul delapan ekor kerbau dan delapan ekor kuda yang dibantai di halaman tengah kampung itu. Pembantaian hewan ini menjadi tontonan para pelayat yang penuh sesak di areal yang luasnya kurang lebih setengah hektare itu.
Menyusul seekor kuda jantan merah digiring masuk ke halaman tengah. Kuda yang diyakini sebagai kuda tunggang (njara kaliti) almarhum menuju Lama Paka Jiu Jagang Lama Patana Rara 'negeri orang mati' yang diyakini banyak pohon cemara yang tumbuh di tanah merah atau Uma Manda Mobu Kaheli Manda Mbata, rumah yang tak pernah lapuk dan balai-balai yang tak pernah rubuh, dirias dengan emas, pelananya dari kain tenun ikat motif bangsawan, dilengkapi dengan payung yang dihias dengan manik-manik emas. Diyakini apa yang dirias pada kuda dan pakaian serta manik-manik emas yang dikenakan papanggang, itu yang dikenakan almarhum menuju alam baka.
Salah seorang papanggang yang berpakaian khusus lengkap dengan perhiasan adat dipapah dan dinaikkan ke punggung kuda (njara kaliti), kemudian dibawa ke kubur dengan iringan gong. Papanggang ini tidak boleh menyentuh tanah sehingga digendong saat naik dan turun dari kuda oleh petugas yang disiapkan. Papanggang ini mempunyai peran unik karena diyakini sebagai pengantara arwah. Dia dinaikkan di atas batu kubur sampai upacara penutupan kubur selesai, lalu diturunkan, lalu dinaikkan di atas kuda untuk seterusnya dibawa ke uma bokul. Papanggang ini tidak boleh mandi dan meninggalkan rumah sampai acara pahili mbuala (acara khusus memandikan papanggang) melalui ritual khusus di sungai.
Seorang papanggang pria ditutup kepala dan wajahnya dengan kain merah. Tugasnya bersama papanggang wanita mengantar jenazah ke liang lahat. Di sana mereka berada di samping kubur dan terus menangis hingga kubur ditutup. Saat itu, ada papanggang yang kesurupan, dia menjadi mediator antara arwah dengan keluarga. Disaat kesurupan, dia menyampaikan pesan-pesan arwah dalam bahasa daerah setempat. Seperti apa pesannya? Hanya dapat diketahui oleh keluarga inti dan itu akan dibicarakan setelah semua rangkaian prosesi pemakaman selesai.
Usai penutupan batu kubur dipotong lagi delapan ekor kuda dan delapan ekor kebau jantan dan betina induk. Ama bokol hama memotong lagi ayam yang dibawa papanggang wanita ke kubur untuk dilihat tali perutnya. Hati kuda juga diambil untuk dilihat lalu dimasak pada katoda, buat sesajian bagi leluhur. Para pengusung jenazah ke liang lahat mencuci tangan dengan air kelapa.
Selesai penguburan tamu-tamu diajak untuk beristirahat sejenak. Bagi tamu bangsawan masih ada percakapan adat. Upacara pakameting (memberi makan kepada rombongan adat) dilangsungkan setelah penguburan. Semua rombongan adat dengan bawaan dibalas berdasarkan silsilah masing-masing. Balasan terhadap pembawaan rombongan tamu disesuaikan dengan pembicaraan wunang, ana kawini mendapat kain/sarung, yera mendapat hewan atau mamoli. (habis)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
TERIK mentari membakar bumi sandelwood. Warga Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, tumpah rua ke Prai Awang-Rende untuk menyaksikan pemakaman bupati yang dekat dengan rakyat itu. Di tengah terik membakar kampung Prai Awang, sekejap puting beliung menyapu tanah lapang di tengah kampung yang diapiti rumah-rumah adat dan batu kubur leluhur anamburung itu. Saat itu, tua adat setempat sedang melakukan ritual menyeleksi ata atau hamba yang bertugas sebagai papanggang untuk mengantar almarhum Umbu Mehang Kunda ke liang lahat.
Hari itu, Senin (10/11/2008). Sekitar pukul 14.30 Wita, tua adat setempat menyeleksi beberapa ata atau hamba diambil empat orang, terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang wanita untuk menjadi papanggang. Mereka bertugas mengantar jenazah almarhum Mehang Kunda ke liang lahat. Keempat papanggang ini disucikan melalui ritual adat lalu didandani dengan pakaian khusus kebesaran raja-raja yang dilengkapi dengan manik-manik dan perhiasan emas. Para papanggang mengenakan lamba, mamoli, kanatar, muti salak yang dinggelu (kalung). Ritual ini menjadi tontonan sekitar 20 ribu pelayat yang memadati kampung adat itu.
Disaksikan Pos Kupang, sejak pagi keluarga anamburung menerima tamu atau rombongan adat dengan bawaan masing-masing. Tamu yang diundang terdiri dari ery aya (kakak-adik), ina rendi ama manu (raja/bangsawan), juru watu uma dallar (keluarga satu marga), tana nua watulihhi (tetangga kampung), kajuanga angu todu (lembah tempat tinggal bersama) dan ana kawini (saudari). Setiap rombongan tamu (satu marga) disambut dengan gong dan tangisan wanita penunggu jenazah. Tamu wanita memasuki ruang jenazah (kaheli bokul) lalu menangis dengan bahasa lawiti kemudian mendapat sirih pinang dari penerima tamu wanita. Tamu pria duduk di balai-balai (bangga), juga mendapat layanan sirih pinang oleh penerima tamu pria. Salah seorang dari rombongan tamu memberitahu pembawaan mereka. Setelah kaum wanita keluar dari tempat jenazah, rombongan dipersilahkan menempati tempat yang telah disiapkan untuk menikmati sirih pinang dan kopi.
Di balai-balai rumah jenazah, para wunang berbicara secara adat mengenai pembawaan dan permintaan mereka (pulu dungu). Jika sepakat maka ditikam babi (kameti). Babi kameti dibagi dua, setengah dimasak untuk dimakan di rumah duka dan setengah dibawa pulang. Ana kawini (saudari) diberi kain/sarung sedangkan yera (ipar atau besan) diberi hewan atau mamoli. Tata cara ini hanya dilakukan keluarga bangsawan/raja yang ekonominya kuat seperti almarhum Umbu Mehang Kunda.
Penerimaan tamu seperti ini juga berlaku terhadap rombongan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Gubernur bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si; Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe; Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk dan Wakil, Umbu Dondu; Bupati Sumba Barat, Drs. Julianus Pote Leba; Bupati Sumba Barat Daya (SBD) terpilih, dr. Kornelius Kodi Mete; Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe; Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin; Sekda Kabupaten Kupang, Bernabas nDjurumana,S.H, dan pejabat lainnya, diterima di balai-balai uma bokul, lalu wunang mulai berbicara. Rombongan gubernur juga disiapkan wunang untuk berbicara dengan wunang tuan rumah dalam bahasa adat yang disebut luluk. Hiku tua mayangara, hiku kea lama lidi (sehingga disebut sebagai keluarga), inilah pesan yang disampaikan para wunang dalam luluknya. Mereka menyampaikan, gubernur dengan almarhum ada ikatan kerja, selaku hubungan secara pribadi disebut keluarga.
Tepat pukul 15.30 Wita, upacara pemakaman dimulai. Diawali sambutan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dan wakil keluarga yang disampaikan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha. Umbu Maramba Hau melanjutkan memimpin tata upacara pemakaman secara adat tersebut. Seekor kerbau jantan kecil digiring masuk ke tengah kampung lalu disembeli oleh orang yang ditugaskan. Pemotongan harus berlangsung satu kali, kerbau atau kudanya tewas. Jika diulang, itu berarti ada sesuatu yang mengganjal. Disusul delapan ekor kerbau dan delapan ekor kuda yang dibantai di halaman tengah kampung itu. Pembantaian hewan ini menjadi tontonan para pelayat yang penuh sesak di areal yang luasnya kurang lebih setengah hektare itu.
Menyusul seekor kuda jantan merah digiring masuk ke halaman tengah. Kuda yang diyakini sebagai kuda tunggang (njara kaliti) almarhum menuju Lama Paka Jiu Jagang Lama Patana Rara 'negeri orang mati' yang diyakini banyak pohon cemara yang tumbuh di tanah merah atau Uma Manda Mobu Kaheli Manda Mbata, rumah yang tak pernah lapuk dan balai-balai yang tak pernah rubuh, dirias dengan emas, pelananya dari kain tenun ikat motif bangsawan, dilengkapi dengan payung yang dihias dengan manik-manik emas. Diyakini apa yang dirias pada kuda dan pakaian serta manik-manik emas yang dikenakan papanggang, itu yang dikenakan almarhum menuju alam baka.
Salah seorang papanggang yang berpakaian khusus lengkap dengan perhiasan adat dipapah dan dinaikkan ke punggung kuda (njara kaliti), kemudian dibawa ke kubur dengan iringan gong. Papanggang ini tidak boleh menyentuh tanah sehingga digendong saat naik dan turun dari kuda oleh petugas yang disiapkan. Papanggang ini mempunyai peran unik karena diyakini sebagai pengantara arwah. Dia dinaikkan di atas batu kubur sampai upacara penutupan kubur selesai, lalu diturunkan, lalu dinaikkan di atas kuda untuk seterusnya dibawa ke uma bokul. Papanggang ini tidak boleh mandi dan meninggalkan rumah sampai acara pahili mbuala (acara khusus memandikan papanggang) melalui ritual khusus di sungai.
Seorang papanggang pria ditutup kepala dan wajahnya dengan kain merah. Tugasnya bersama papanggang wanita mengantar jenazah ke liang lahat. Di sana mereka berada di samping kubur dan terus menangis hingga kubur ditutup. Saat itu, ada papanggang yang kesurupan, dia menjadi mediator antara arwah dengan keluarga. Disaat kesurupan, dia menyampaikan pesan-pesan arwah dalam bahasa daerah setempat. Seperti apa pesannya? Hanya dapat diketahui oleh keluarga inti dan itu akan dibicarakan setelah semua rangkaian prosesi pemakaman selesai.
Usai penutupan batu kubur dipotong lagi delapan ekor kuda dan delapan ekor kebau jantan dan betina induk. Ama bokol hama memotong lagi ayam yang dibawa papanggang wanita ke kubur untuk dilihat tali perutnya. Hati kuda juga diambil untuk dilihat lalu dimasak pada katoda, buat sesajian bagi leluhur. Para pengusung jenazah ke liang lahat mencuci tangan dengan air kelapa.
Selesai penguburan tamu-tamu diajak untuk beristirahat sejenak. Bagi tamu bangsawan masih ada percakapan adat. Upacara pakameting (memberi makan kepada rombongan adat) dilangsungkan setelah penguburan. Semua rombongan adat dengan bawaan dibalas berdasarkan silsilah masing-masing. Balasan terhadap pembawaan rombongan tamu disesuaikan dengan pembicaraan wunang, ana kawini mendapat kain/sarung, yera mendapat hewan atau mamoli. (habis)
Le Kebote
Oleh Yosep Sudarso
MENYEBUT le kebote, pikiranku langsung terbawa ke sosok Ema Bewa yang dengan busur di tangan, ia terus berlari-lari menghindari lemparan anak-anak yang mengejarnya. Dengan cara apa pun, perempuan dengan tinggi semampai itu berjuang agar tak satu pun lemparan mengenai dirinya. Bukan karena ia takut terluka atau benjol, tetapi karena pemali apabila sampai terkena lemparan.
Maklumlah, ketika dikejar dan dilempar anak-anak, Ema Bewa sebetulnya mewakili perjuangan hidup seorang bayi lelaki yang ari-arinya baru ia gantungkan di sebuah pohon di lewo oking (kampung lama/kampung induk). Walaupun mengakui bahwa nafas kehidupan tergantung pada lera wulan tana ekan (pencipta dan penyelenggara kehidupan), perjuangan mengisi hidup adalah tugas dan tanggung jawab atadiken (anak manusia).
Ema Bewa. Perempuan itu sudah lama meninggal. Sepanjang hidupnya dihabiskan di desa asalnya, Lamika, Kecamatan Demong Pagong, Flores Timur. Dan, selama belasan tahun ia berperan sebagai pembawa ari-ari bayi laki-laki maupun perempuan di desa itu untuk digantung pada pohon agar tidak sampai dimakan binatang.
Le kebote (tradisi gantung ari-ari pada pohon) memang sudah menjadi tradisi di Lamika. Desa yang jaraknya sekitar 30 km dari Larantuka ini awalnya terdiri dari tiga dusun, yakni Lewomikel (Dusun I), Lewonuha (Dusun II) dan Lewomuda (Dusun III). Namun setelah gempa tektonik 12 Desember 1992 yang meluluhlantakkan sebagian Pulau Flores, 60 KK dari sekitar 300 KK di desa itu mengikuti program pemerintah dengan berpindah ke lokasi baru di pinggir jalan raya utama Larantuka-Maumere. Pemukiman baru ini sekarang membentuk dusun sendiri dengan nama Lewowuung (kampung baru).
Seperti desa tetangga lain, yaitu Lewokluok, Wolo, Kawalelo, Blepanawa dan Bama (beberapa desa ini dulu termasuk kompeks Wolo), hampir semua penduduk Desa Lamika bermata pencaharian petani dengan pola berpindah-pindah ladang. Dahulu, sebuah mang/netak (areal ladang) dikerjakan selama dua tahun sekali. Namun sekitar 15 tahun lalu mulai terjadi pergeseran pola berladang.
Sejak petani mengenal tanaman kepayuk (jambu mete) sebagai tanaman komoditi yang potensial, ladang tidak lagi menjadi milik bersama. Sebelumnya, hampir tidak ada ladang yang dikerjakan sendirian, tetapi selalu kneu (bersama-sama) maksimal tiga kepala keluarga. Kini, sejak ladang dipenuhi jambu mete, mau tidak mau, ladang harus dibagi. Mang/netak menjadi milik pribadi. Salah satu dampaknya adalah potensi konflik terbuka lebar terutama ketika para perantau (umumnya di Malaysia) yang belum punya ladang kembali menetap di kampung halaman.
Selain itu, bila dahulu tanah digarap paling lama dua tahun dan baru digarap lagi delapan tahun kemudian (setelahnya pepohonan mulai besar dan tanah sudah berhumus), kini ladang yang sama digarap setiap tahun. Kalau hasilnya seperti beras dan jagung tidak lagi mencukupi, biasanya dibuka lagi lahan baru tetapi lahan lama tetap dibersihkan.
Selain bergantung pada padi dan jagung, penduduk Desa Lamika juga menyuling arak dari pohon lontar. Dahulu, hampir semua pria dewasa mengiris tuak kemudian menyulingnya menjadi arak untuk selanjutnya dijual ke Pasar Boru (ibukota Kecamatan Wulanggitang). Namun beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga yang mengiris tuak dan menyuling arak bisa dihitung dengan jari.
Banyak hal berubah. Nilai-nilai sosial budaya bergeser skalanya. Dari yang "serba bersama-sama" ke "urus sendiri- sendiri". Suku memang masih dan akan tetap ada, tetapi perannya dalam kehidupan setiap keluarga mulai berkurang.
Di titik ini, barangkali tradisi le kebote yang menurut Kepala Desa Lamika, Vincent Openg, masih tetap dipelihara, bisa menjembatani fenomena degradasi nilai-nilai warisan leluhur. Setidaknya dapat meredam perilaku dan pola hidup generasi muda yang menggelisahkan banyak tetua adat dan sesepuh kampung. Judi, mabuk-mabukan dan mencuri bukan lagi cerita di tempat lain.
Semoga tradisi le kebote (terutama pada bayi lelaki) yang mengisyaratkan perjuangan hidup, daya juang dan kerja keras dalam kebersamaan bisa menggugah hati generasi penerus di kampungku. Karena ketika ari-ari seorang bayi dipotong, diawetkan dengan keawuk (abu dapur) dalam anyaman lontar, digantungkan di pohon, hingga sang pembawanya seperti Ema Bewa harus menyilih lemparan agar selamat kembali ke rumah, di sana sudah terpatri nilai tanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan. (*)
MENYEBUT le kebote, pikiranku langsung terbawa ke sosok Ema Bewa yang dengan busur di tangan, ia terus berlari-lari menghindari lemparan anak-anak yang mengejarnya. Dengan cara apa pun, perempuan dengan tinggi semampai itu berjuang agar tak satu pun lemparan mengenai dirinya. Bukan karena ia takut terluka atau benjol, tetapi karena pemali apabila sampai terkena lemparan.
Maklumlah, ketika dikejar dan dilempar anak-anak, Ema Bewa sebetulnya mewakili perjuangan hidup seorang bayi lelaki yang ari-arinya baru ia gantungkan di sebuah pohon di lewo oking (kampung lama/kampung induk). Walaupun mengakui bahwa nafas kehidupan tergantung pada lera wulan tana ekan (pencipta dan penyelenggara kehidupan), perjuangan mengisi hidup adalah tugas dan tanggung jawab atadiken (anak manusia).
Ema Bewa. Perempuan itu sudah lama meninggal. Sepanjang hidupnya dihabiskan di desa asalnya, Lamika, Kecamatan Demong Pagong, Flores Timur. Dan, selama belasan tahun ia berperan sebagai pembawa ari-ari bayi laki-laki maupun perempuan di desa itu untuk digantung pada pohon agar tidak sampai dimakan binatang.
Le kebote (tradisi gantung ari-ari pada pohon) memang sudah menjadi tradisi di Lamika. Desa yang jaraknya sekitar 30 km dari Larantuka ini awalnya terdiri dari tiga dusun, yakni Lewomikel (Dusun I), Lewonuha (Dusun II) dan Lewomuda (Dusun III). Namun setelah gempa tektonik 12 Desember 1992 yang meluluhlantakkan sebagian Pulau Flores, 60 KK dari sekitar 300 KK di desa itu mengikuti program pemerintah dengan berpindah ke lokasi baru di pinggir jalan raya utama Larantuka-Maumere. Pemukiman baru ini sekarang membentuk dusun sendiri dengan nama Lewowuung (kampung baru).
Seperti desa tetangga lain, yaitu Lewokluok, Wolo, Kawalelo, Blepanawa dan Bama (beberapa desa ini dulu termasuk kompeks Wolo), hampir semua penduduk Desa Lamika bermata pencaharian petani dengan pola berpindah-pindah ladang. Dahulu, sebuah mang/netak (areal ladang) dikerjakan selama dua tahun sekali. Namun sekitar 15 tahun lalu mulai terjadi pergeseran pola berladang.
Sejak petani mengenal tanaman kepayuk (jambu mete) sebagai tanaman komoditi yang potensial, ladang tidak lagi menjadi milik bersama. Sebelumnya, hampir tidak ada ladang yang dikerjakan sendirian, tetapi selalu kneu (bersama-sama) maksimal tiga kepala keluarga. Kini, sejak ladang dipenuhi jambu mete, mau tidak mau, ladang harus dibagi. Mang/netak menjadi milik pribadi. Salah satu dampaknya adalah potensi konflik terbuka lebar terutama ketika para perantau (umumnya di Malaysia) yang belum punya ladang kembali menetap di kampung halaman.
Selain itu, bila dahulu tanah digarap paling lama dua tahun dan baru digarap lagi delapan tahun kemudian (setelahnya pepohonan mulai besar dan tanah sudah berhumus), kini ladang yang sama digarap setiap tahun. Kalau hasilnya seperti beras dan jagung tidak lagi mencukupi, biasanya dibuka lagi lahan baru tetapi lahan lama tetap dibersihkan.
Selain bergantung pada padi dan jagung, penduduk Desa Lamika juga menyuling arak dari pohon lontar. Dahulu, hampir semua pria dewasa mengiris tuak kemudian menyulingnya menjadi arak untuk selanjutnya dijual ke Pasar Boru (ibukota Kecamatan Wulanggitang). Namun beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga yang mengiris tuak dan menyuling arak bisa dihitung dengan jari.
Banyak hal berubah. Nilai-nilai sosial budaya bergeser skalanya. Dari yang "serba bersama-sama" ke "urus sendiri- sendiri". Suku memang masih dan akan tetap ada, tetapi perannya dalam kehidupan setiap keluarga mulai berkurang.
Di titik ini, barangkali tradisi le kebote yang menurut Kepala Desa Lamika, Vincent Openg, masih tetap dipelihara, bisa menjembatani fenomena degradasi nilai-nilai warisan leluhur. Setidaknya dapat meredam perilaku dan pola hidup generasi muda yang menggelisahkan banyak tetua adat dan sesepuh kampung. Judi, mabuk-mabukan dan mencuri bukan lagi cerita di tempat lain.
Semoga tradisi le kebote (terutama pada bayi lelaki) yang mengisyaratkan perjuangan hidup, daya juang dan kerja keras dalam kebersamaan bisa menggugah hati generasi penerus di kampungku. Karena ketika ari-ari seorang bayi dipotong, diawetkan dengan keawuk (abu dapur) dalam anyaman lontar, digantungkan di pohon, hingga sang pembawanya seperti Ema Bewa harus menyilih lemparan agar selamat kembali ke rumah, di sana sudah terpatri nilai tanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan. (*)
Kamis, 27 November 2008
Leluhur Masih Marah
Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (3)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
MALAM sebelum pemakaman dilakukan hamayang (sembahyang) oleh ama bokol hama (pendeta marapu). Doa persiapan ini berlangsung di uma bokul, rumah besar milik almarhum. Keluarga anamburung menyiapkan seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk disembelih.
Hati babi dan tali perut ayam dibaca oleh ama bokol hama untuk mengetahui pesan-pesan almarhum, pesan-pesan leluhur untuk keluarga yang ditinggalkan. Hati babi dimasak pada tungku di dekat katoda dan ayamnya dibakar untuk diletakkan di tempat sesajian bersama nasi yang disebut uhu mange'ijing agar leluhur bisa menyantapnya.
Ada lima ekor ayam yang harus disembelih, masing-masing seekor untuk almarhum, seekor untuk umbu tamo (nenek moyang yang namanya digunakan oleh almarhum), seekor untuk nenek moyang, seekor untuk papanggang atau hambanya alrmahum dan seekor untuk marapu. Khusus untuk almarhum ayamnya harus berbulu merah. Ayam itu bisa jantan semua, bisa betina semua, bisa campur-campur antara jantan dan betina.
Juru bicara keluarga anamburung, Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha yang ditemui di sela-sela upacara pemakaman, menuturkan, ayam itu hanya bisa disembelih oleh ama bokol hama (pendeta marapu) atau pendampingnya. Yang menyembelih babi bisa dari salah satu ama bokol hama.
Hasil penglihatan ama bokol hama,di hati babi terdapat tanda khusus. Sedangkan tali perut ayam menunjukkan marapu memberi izin, umbu tamo juga memberi izin, almarhum sendiri ada izin, dia sudah siap menuju Parai Marapu (surga) dan papanggang atau hamba juga siap mendampingi almarhum. Yang tidak memberikan izin adalah nenek moyang yang ditandai dengan noda pada hati babi. Itu berarti masih ada akibatnya, baik keluarga dalam maupun keluarga luar. Keluarga perlu membuat upacara lagi untuk memohon ampun setelah penguburan. Jika belum diselesaikan, setiap hati babi yang disembelih pasti tetap ada tanda. Keluarga harus mencaritahu terus sampai mengetahui persoalannya mengapa nenek moyang marah. Upacara adat ini harus tuntas sehingga arwah almarhum tenang dan diterima penguasa jagat raya.
Jika diabaikan keluarga akan mendapat pahala. Seperti apa pahalanya? Baik ama bokol hama maupun tua adat lainnya tidak dapat meramalkan. Menurut Umbu Maramba Hau, pengalaman selama ini, pahalanya bisa berupa sakit, kebakaran, banjir, disambar petir bahkan kematian. Untuk menghindari hal-hal ini, keluarga akan berunding lagi dan melakukan upacara permohonan maaf kepada nenek moyang dengan menyembelih babi dan hamayang oleh ama bokol hama. Tapi untuk upacara permohonan maaf, baru akan dilakukan setelah amarah nenek moyang itu redah. Sama seperti manusia, disaat dia sedang marah sebaiknya kita jangan dulu meminta maaf, karena amarahnya akan mendidih bahkan akibatnya fatal. Bisa jadi emosinya tidak dapat dikendalikan lalu terjadi tindakan di luar yang diinginkan.
Masyarakat Sumba Timur meyakini suasana seperti itu, juga terjadi pada arwah nenek moyang. Untuk itu, dalam melakukan upacara permohonan maaf, butuh waktu jedah. Jika emosi seseorang sudah redah, mudah memaafkan. Saat itulah upacara itu dapat dilakukan. Keluarga dalam menyelenggarakan upacara permohonan maaf kepada leluhur yang marah, juga akan membaca suasana hati leluhur tersebut.
Perpisahan dan pemberian makan oleh keluarga kepada arwah orang yang meninggal dan arwah leluhur yang datang dengan cara memotong ayam (manu kanjiku reti) dan hamayang sebelum jenazah diberangkatkan ke liang lahat, merupakan penghormatan terakhir. Selain ayam, juga kuda (njara ndangang) sebagai kurban. Hati kuda diambil untuk diramal lalu dimasak pada tungku dekat uma bokul untuk dibuat sesajian, memberi makan kepada roh leluhur yang siap menjemput kedatangan arwah almarhum.
Umbu Maramba Hau menuturkan, almarhum Umbu Mehang Kunda sama sekali tidak meninggalkan pesan kepada keluarga. Keluarga juga tidak mendapat firasat kalau beliau akan meninggal dunia. Untuk itu, keluarga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga leluhur masih marah saat dilangsungkannya tata upacara pemakaman. Kesan umum yang keluarga terima, almarhum orangnya penyayang, tidak pernah dendam, mudah memaafkan dan sederhana. Semasa hidupnya tidak pernah marah kepada keluarga. Kalaupun marah, sebentar saja, lalu memaafkannya dengan cara guyon.
Itu yang membuat keluarga betul-betul kehilangan seorang bapak, seorang tokoh panutan. Kesan seperti ini, mungkin juga dirasakan pegawai negeri di lingkup Setda Sumba Timur dan masyarakat daerah itu umumnya. (bersambung)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
MALAM sebelum pemakaman dilakukan hamayang (sembahyang) oleh ama bokol hama (pendeta marapu). Doa persiapan ini berlangsung di uma bokul, rumah besar milik almarhum. Keluarga anamburung menyiapkan seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk disembelih.
Hati babi dan tali perut ayam dibaca oleh ama bokol hama untuk mengetahui pesan-pesan almarhum, pesan-pesan leluhur untuk keluarga yang ditinggalkan. Hati babi dimasak pada tungku di dekat katoda dan ayamnya dibakar untuk diletakkan di tempat sesajian bersama nasi yang disebut uhu mange'ijing agar leluhur bisa menyantapnya.
Ada lima ekor ayam yang harus disembelih, masing-masing seekor untuk almarhum, seekor untuk umbu tamo (nenek moyang yang namanya digunakan oleh almarhum), seekor untuk nenek moyang, seekor untuk papanggang atau hambanya alrmahum dan seekor untuk marapu. Khusus untuk almarhum ayamnya harus berbulu merah. Ayam itu bisa jantan semua, bisa betina semua, bisa campur-campur antara jantan dan betina.
Juru bicara keluarga anamburung, Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha yang ditemui di sela-sela upacara pemakaman, menuturkan, ayam itu hanya bisa disembelih oleh ama bokol hama (pendeta marapu) atau pendampingnya. Yang menyembelih babi bisa dari salah satu ama bokol hama.
Hasil penglihatan ama bokol hama,di hati babi terdapat tanda khusus. Sedangkan tali perut ayam menunjukkan marapu memberi izin, umbu tamo juga memberi izin, almarhum sendiri ada izin, dia sudah siap menuju Parai Marapu (surga) dan papanggang atau hamba juga siap mendampingi almarhum. Yang tidak memberikan izin adalah nenek moyang yang ditandai dengan noda pada hati babi. Itu berarti masih ada akibatnya, baik keluarga dalam maupun keluarga luar. Keluarga perlu membuat upacara lagi untuk memohon ampun setelah penguburan. Jika belum diselesaikan, setiap hati babi yang disembelih pasti tetap ada tanda. Keluarga harus mencaritahu terus sampai mengetahui persoalannya mengapa nenek moyang marah. Upacara adat ini harus tuntas sehingga arwah almarhum tenang dan diterima penguasa jagat raya.
Jika diabaikan keluarga akan mendapat pahala. Seperti apa pahalanya? Baik ama bokol hama maupun tua adat lainnya tidak dapat meramalkan. Menurut Umbu Maramba Hau, pengalaman selama ini, pahalanya bisa berupa sakit, kebakaran, banjir, disambar petir bahkan kematian. Untuk menghindari hal-hal ini, keluarga akan berunding lagi dan melakukan upacara permohonan maaf kepada nenek moyang dengan menyembelih babi dan hamayang oleh ama bokol hama. Tapi untuk upacara permohonan maaf, baru akan dilakukan setelah amarah nenek moyang itu redah. Sama seperti manusia, disaat dia sedang marah sebaiknya kita jangan dulu meminta maaf, karena amarahnya akan mendidih bahkan akibatnya fatal. Bisa jadi emosinya tidak dapat dikendalikan lalu terjadi tindakan di luar yang diinginkan.
Masyarakat Sumba Timur meyakini suasana seperti itu, juga terjadi pada arwah nenek moyang. Untuk itu, dalam melakukan upacara permohonan maaf, butuh waktu jedah. Jika emosi seseorang sudah redah, mudah memaafkan. Saat itulah upacara itu dapat dilakukan. Keluarga dalam menyelenggarakan upacara permohonan maaf kepada leluhur yang marah, juga akan membaca suasana hati leluhur tersebut.
Perpisahan dan pemberian makan oleh keluarga kepada arwah orang yang meninggal dan arwah leluhur yang datang dengan cara memotong ayam (manu kanjiku reti) dan hamayang sebelum jenazah diberangkatkan ke liang lahat, merupakan penghormatan terakhir. Selain ayam, juga kuda (njara ndangang) sebagai kurban. Hati kuda diambil untuk diramal lalu dimasak pada tungku dekat uma bokul untuk dibuat sesajian, memberi makan kepada roh leluhur yang siap menjemput kedatangan arwah almarhum.
Umbu Maramba Hau menuturkan, almarhum Umbu Mehang Kunda sama sekali tidak meninggalkan pesan kepada keluarga. Keluarga juga tidak mendapat firasat kalau beliau akan meninggal dunia. Untuk itu, keluarga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga leluhur masih marah saat dilangsungkannya tata upacara pemakaman. Kesan umum yang keluarga terima, almarhum orangnya penyayang, tidak pernah dendam, mudah memaafkan dan sederhana. Semasa hidupnya tidak pernah marah kepada keluarga. Kalaupun marah, sebentar saja, lalu memaafkannya dengan cara guyon.
Itu yang membuat keluarga betul-betul kehilangan seorang bapak, seorang tokoh panutan. Kesan seperti ini, mungkin juga dirasakan pegawai negeri di lingkup Setda Sumba Timur dan masyarakat daerah itu umumnya. (bersambung)
Selasa, 25 November 2008
Menunggu Keseriusan Polisi di NTT
Oleh Dion DB Putra
KETIKA sebagian warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) mungkin telah lupa dan kehabisan harapan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghidupkan kembali harapan akan datangnya keadilan di bumi Flobamora. Sesuai cara kerja mereka yang tak banyak cakap, KPK datang ke Kupang dan melakukan gelar perkara penanganan kasus-kasus korupsi di Propinsi NTT.
Empat kasus korupsi yang sebelumnya dihentikan penyidikannya oleh aparat kepolisian di NTT bakal dibuka kembali oleh KPK. Penyidikan ditangani bersama KPK dan Polda NTT. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Resese Kriminal Kepolisian Daerah NTT, AKBP Mohamad Slamet, dua dari empat kasus yang digelar hari Kamis (20/11/2008), terdapat di Kabupaten Kupang. Dua kasus lainnya di Kota Kupang dan Belu.
Keempat kasus tersebut adalah kasus korupsi pengadaan kapal ikan di Kabupaten Kupang yang merugikan negara Rp 294 juta lebih yang diduga melibatkan Bupati Kupang, Drs. IA Medah. Kasus korupsi dana operasional di DPRD Kabupaten Kupang tahun 1999-2004 yang merugikan negara Rp 1 miliar, kasus korupsi dana operasional DPRD Kota Kupang tahun anggaran (TA) 1999-2004 senilai Rp 2,5 miliar, dan kasus korupsi dana tunjangan anggota DPRD Belu TA 1999-2004 senilai Rp 954.683.382. Total kerugian negara dari keempat kasus tersebut bukan jumlah yang sedikit.
Bukan pertama kali media massa lokal NTT dan media massa nasional memberitakan kasus dugaan korupsi tersebut. Dalam catatan kita, media massa memberi ruang yang cukup memadai terhadap berita tersebut. Perkembangannya dilaporkan secara rutin. Dalam spirit transparansi dan demi penegakan hukum, pers mengungkap fakta dan data. Sejumlah komponen masyarakat juga mendukung kerja polisi dengan memberikan data pendukung serta dukungan moril. Namun, semua tahu dan maklum. Setelah BAP-nya bolak-balik sekian kali, kasus-kasus tersebut berakhir dengan SP3. Prosesnya berhenti tanpa penjelasan memadai mengapa berhenti.
Masyarakat pencari keadilan sebatas tahu bahwa penyidikan suatu kasus dihentikan (SP3) karena tidak ditemukan cukup bukti. Apabila ingin membuka kembali kasus tersebut, penyidik membutuhkan novum atau bukti baru. Seperti diakui Slamet, peluang membuka kembali kasus itu terbuka lebar sepanjang ada novum.
Menurut pandangan kita, KPK telah menunjukkan keseriusannya untuk membuka kembali kasus ini bersama penyidik Polda. Kehadiran KPK di Kupang tidak sekadar menjalani tugas rutin. Lembaga itu telah meraih kepercayaan publik yang luar biasa besar karena sikap profesional yang mereka tunjukkan. Mereka telah menunjuk bukti berupa daftar panjang para koruptor yang masuk penjara karena menggarong uang rakyat. KPK akan memantau kinerja penyidik kepolisian di NTT dalam menangani kasus-kasus tersebut.
Penyidik Polri di sini hendaknya tidak tinggal diam karena masyarakat menunggu kelanjutan aksi yang lebih konkret. Tentu dibutuhkan kerja keras dan kerja secara cerdas untuk mendapatkan bukti baru. Korupsi merupakan kasus yang rumit dan pelik. Banyak cara yang harus ditempuh guna mengumpulknan bukti agar seseorang dapat diproses atau tidak.
Menangani kasus korupsi pun menghadapi banyak kendala, cobaan dan godaan. Jika mudah putus asa dan enteng tergoda , maka kehadiran KPK menggelar ulang kasus dugaan korupsi di atas tidak ada manfaatnya apa-apa. Kita akan kembali ke persoalan yang sama yakni penyidikan kasus korupsi jalan di tempat dan mereka yang diduga terlibat hidup bebas merdeka.
Kiranya diingat bahwa catatan penegakan hukum di Nusa Tenggara Timur selama era reformasi masih jauh dari menggembirakan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Khsus kasus tindak pidana korupsi, tidak sedikit pejabat publik yang lolos dari jeratan hukum. Kenyataan seperti itu tidak boleh terulang. Yang bersalah harus diproses secara hukum agar keadilan sungguh ditegakkan di tengah masyarakat Flobamora. **
KETIKA sebagian warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) mungkin telah lupa dan kehabisan harapan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghidupkan kembali harapan akan datangnya keadilan di bumi Flobamora. Sesuai cara kerja mereka yang tak banyak cakap, KPK datang ke Kupang dan melakukan gelar perkara penanganan kasus-kasus korupsi di Propinsi NTT.Empat kasus korupsi yang sebelumnya dihentikan penyidikannya oleh aparat kepolisian di NTT bakal dibuka kembali oleh KPK. Penyidikan ditangani bersama KPK dan Polda NTT. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Resese Kriminal Kepolisian Daerah NTT, AKBP Mohamad Slamet, dua dari empat kasus yang digelar hari Kamis (20/11/2008), terdapat di Kabupaten Kupang. Dua kasus lainnya di Kota Kupang dan Belu.
Keempat kasus tersebut adalah kasus korupsi pengadaan kapal ikan di Kabupaten Kupang yang merugikan negara Rp 294 juta lebih yang diduga melibatkan Bupati Kupang, Drs. IA Medah. Kasus korupsi dana operasional di DPRD Kabupaten Kupang tahun 1999-2004 yang merugikan negara Rp 1 miliar, kasus korupsi dana operasional DPRD Kota Kupang tahun anggaran (TA) 1999-2004 senilai Rp 2,5 miliar, dan kasus korupsi dana tunjangan anggota DPRD Belu TA 1999-2004 senilai Rp 954.683.382. Total kerugian negara dari keempat kasus tersebut bukan jumlah yang sedikit.
Bukan pertama kali media massa lokal NTT dan media massa nasional memberitakan kasus dugaan korupsi tersebut. Dalam catatan kita, media massa memberi ruang yang cukup memadai terhadap berita tersebut. Perkembangannya dilaporkan secara rutin. Dalam spirit transparansi dan demi penegakan hukum, pers mengungkap fakta dan data. Sejumlah komponen masyarakat juga mendukung kerja polisi dengan memberikan data pendukung serta dukungan moril. Namun, semua tahu dan maklum. Setelah BAP-nya bolak-balik sekian kali, kasus-kasus tersebut berakhir dengan SP3. Prosesnya berhenti tanpa penjelasan memadai mengapa berhenti.
Masyarakat pencari keadilan sebatas tahu bahwa penyidikan suatu kasus dihentikan (SP3) karena tidak ditemukan cukup bukti. Apabila ingin membuka kembali kasus tersebut, penyidik membutuhkan novum atau bukti baru. Seperti diakui Slamet, peluang membuka kembali kasus itu terbuka lebar sepanjang ada novum.
Menurut pandangan kita, KPK telah menunjukkan keseriusannya untuk membuka kembali kasus ini bersama penyidik Polda. Kehadiran KPK di Kupang tidak sekadar menjalani tugas rutin. Lembaga itu telah meraih kepercayaan publik yang luar biasa besar karena sikap profesional yang mereka tunjukkan. Mereka telah menunjuk bukti berupa daftar panjang para koruptor yang masuk penjara karena menggarong uang rakyat. KPK akan memantau kinerja penyidik kepolisian di NTT dalam menangani kasus-kasus tersebut.
Penyidik Polri di sini hendaknya tidak tinggal diam karena masyarakat menunggu kelanjutan aksi yang lebih konkret. Tentu dibutuhkan kerja keras dan kerja secara cerdas untuk mendapatkan bukti baru. Korupsi merupakan kasus yang rumit dan pelik. Banyak cara yang harus ditempuh guna mengumpulknan bukti agar seseorang dapat diproses atau tidak.
Menangani kasus korupsi pun menghadapi banyak kendala, cobaan dan godaan. Jika mudah putus asa dan enteng tergoda , maka kehadiran KPK menggelar ulang kasus dugaan korupsi di atas tidak ada manfaatnya apa-apa. Kita akan kembali ke persoalan yang sama yakni penyidikan kasus korupsi jalan di tempat dan mereka yang diduga terlibat hidup bebas merdeka.
Kiranya diingat bahwa catatan penegakan hukum di Nusa Tenggara Timur selama era reformasi masih jauh dari menggembirakan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Khsus kasus tindak pidana korupsi, tidak sedikit pejabat publik yang lolos dari jeratan hukum. Kenyataan seperti itu tidak boleh terulang. Yang bersalah harus diproses secara hukum agar keadilan sungguh ditegakkan di tengah masyarakat Flobamora. **
Langganan:
Postingan (Atom)