AMA Tobo su pake celana renang deng reben. Tua rencana mo pi mandi di Pante Kelapa Lima. Dia rencana dar ruma pake itu pakian memang. Ko mo pusing apa ju eee. Biar orang di jalan lia heran deng tahedek ju tua son farduli.
"Lu son malu sadiki ko. Maksot apa hanya pake itu celana color sa. Mo pasmen ko. Ato mo bekin kaco itu ana muda di jalan sana," Ina Feok omong dia pung laki. Ma Ama Tobo son huhe ju. Tua mala maken bagaya, maken PeDe.
"Ma..mi. Bisa antar sang beta ko," Ama Tobo basengaja ajak dia pung bini. Dia pung cara tu supaya Ina Feok jang talalu bacuriga deng dia. Ma Ina Feok maken manyala. "Ko lu mo pi bagatal na neu," maitua masparak Tobo dengan suara ton tinggi.
Ma Tobo pung cara omong tu laen lai. Dia bilang kalo mau na pulang mandi langsong singga pi toko apa ko untuk beli gelas deng piring. Ini karena su berapa hari dong makan taro di landas sa. Ko piring samua su pica na.
Pas jalan, Tobo tanya Ina Feok. Mo pi mandi di Pante Kelapa Lima, Pante LLBK, Pante Lasiana ato Kali Dendeng. Kalo samua pante Ina Feok bilang dia su parna pi. " Ketong pi Kali Dendeng sa. Bisa ko bu," ini kali dia panggel Ama Tobo sebage bu.
"Beta ju satuju. Ko itu tampa be belom perna pi na. Ketong pi lia. Bilang pamarenta dong mo bekin sebagai kolam renang untuk warga kota," Tobo anggok kapala ulang-ulang. Partama karena dia son perna pi. Kadua banya orang bacerita bilang itu tampa baek. Tiap hari libur deng hari Minggu samua orang kas ponu.
Dong dua laki bini ju pergi. Kamudian di deng puas di itu tampa. Maitua ju bilang kalo pamarenta dong mo pake sebagai obyek wisata musti benahi deng baek. Bekin itu tampa ganti, kamar WC deng hal laen. Musti ju kas tunjuk itu tampa untuk ana kici deng orang besar dong mo mandi. Trus Ina Feok bilang lai, pamarenta kas orang yang kalola tu deng baek. Jang sampe hanya kas bunyi peluit sa. Sama deng patugas parkir dong.
Kalo yang namanya fasilitas umum tu, pelayanan musti kasi deng baek. Kalo orang datang na layani deng baek. Patugas dong jang basuka mara karena nanti orang dong bisa lari.
Pas pulang dong dua laki bini maen jalan lenggang kangkong sambel bapelok. Ma ini kali Tobo son pake pakean renang lai. Ko ada maitua. Kalo mo iko mau nanti tau sa to. Maitua bisa masparak, bisa ju nae tangan. Lia maitua bagitu Tobo rencana mo pi lapor polisi. Sakarang tu dunia aga tabale. Bini dong yang maen papoko laki. Kacian-kacian de lu. (thomas duran)
Senin, 01 September 2008
Mari Urus Halaman Rumah Kita
Oleh Paul Burin
"KUPANG sebagai kota tua yang bermodal gede menjadi kota besar yang cantik, memang asli banget tidak didukung warga kotanya. Kesadaran warga sebagai anak tanah untuk ikut mendukung program merawat, sambil mengembangkan kotanya serta ikut bebersih dan berbenah-benah, demi keasrian lingkungan hidup sang kota, rasanya masih jauh dari harapan normal".
Itulah kritikan wartawan senior Rudy Badil melalui tulisannya di Harian Kompas edisi Senin 17 Oktober 2005.
Di bagian lain tulisannya yang diberi judul "Anak Tanah Kota Kupang" itu Rudy Badil melanjutkan kritiknya, "... Kupang sebenarnya tambah tahun tambah kumuh, juga rada ngacak tata kotanya. Kota itu boleh dikata tidak ada apa-apanya lagi dalam urusan konservasi dan pelestarian alam kotanya. Bangunan hunian, perkantoran, dan gedung lainnya kebanyakan hanya merupakan hiasan kota tanpa kejelasan makna artistiknya, serta tidak karuan sentuhan inti estetikanya. Celakanya lagi, kerumunan bangunan orang kota itu sama sekali tidak diimbangi dengan keteduhan dan kehijauan tanaman lingkungan perkotaannya".
Dalam beberapa kali diskusi terbatas, Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra menyebut kota Kupang sebagai kota yang "tidak berjenis kelamin". Tidak terlihat gairah penghuni kota untuk memoles kota ini agar terlihat jelas sebagai "kampung halaman" orang NTT. Bangunan-bangunan di kota ini tidak punya "makna artistik", meminjam istilah Rudy Badil.
Juga tidak ada lagi bekas-bekas yang menandakan bahwa kota ini menyimpan sejarah suku Helong dan rajanya sebagai penghuni pertama. Padahal, nama kota ini diambil dari Nai Kopan/Lai Kopan, Raja Helong. Belanda menyebut Kopan ini dengan Koepan dan dalam perkembangan bahasa menjadi Kupang (http://www.kotakupang.com/webkota/).
Kita tidak boleh melupakan sejarah. Apalagi mengabaikan pemilik nama kota ini, Raja Lai Kopan. Nenek moyang tak boleh dibuat marah, sebab kita bisa kualat.
***
Dua hari setelah kita merayakan HUT ke-63 RI, tiga bangunan toko di Jalan Siliwangi, rubuh di saat subuh menjelang. Ambruknya toko di "halaman rumah raja Helong" itu tentu bukan karena Raja Lai Kopan murka. Itu akibat ibukota propinsi ini mungkin salah urus. Pantai tak lagi diberi ruang yang cukup agar ombak bisa mendatangkan keindahan dan kenyamanan bagi warga.
Ambruknya tiga bangunan toko itu pertanda bahwa manusia tidak boleh melawan alam. Manusia harus menyesuaikan diri dengan alam. Jika kita terus bertahan dan "melawan" gulungan ombak sepanjang Jalan Siliwangi itu, maka entah apa yang terjadi 10, 20 atau 30 tahun yang akan datang.
Kawasan sepanjang Siliwangi merupakan kawasan kota tua. Punya nilai sejarah dan patut dilestarikan. Langkah-langkah yang diambil adalah melakukan konservasi dan revitalisasi. Konservasi adalah upaya untuk mengembalikan dan kemudian mempertahankan fungsi dan citra dari suatu kawasan bersejarah. Sedangkan revitalisasi adalah upaya meningkatkan dan memperbaiki kondisi lingkungan agar kekhasannya tetap ada.
Pemerintah Kota Kupang pun telah mengidentifikasi kawasan ini untuk segera ditangani. Ada beberapa kawasan yang masuk dalam kategori penanganan, yakni kota tua, kawasan Lasiana, kawasan Kuanino, kawasan Jalan El Tari dan rumah dinas Walikota Kupang.
Tetapi melalui serangkaian penelitian, Pemkot Kupang menetapkan Kawasan Kota Tua sebagai prioritas. Pertanyaannya, apakah upaya ini sudah diwujudkan? Rasanya masih jauh dari harapan. Kita belum melihatnya mulai dari kawasan Benteng Concordia, Kali Dendeng, koridor Jalan Soekarno bagian utara, koridor Jalan Sukarno bagian selatan, koridor Jalan Siliwangi, Pantai Kampung Solor dan koridor Jalan Garuda.
Dalam buku penyusunan detail engineering design, disebutkan bahwa penataan kawasan Kota Kupang, terutama kawasan kota tua harus dilakukan karena merupakan kawasan bersejarah. Tempat ini, dulu kala dihuni suku Helong, kemudian orang Cina, warga asal Pulau Solor dan etnis Arab. Orang Helong menghuni kawasan yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan LLBK.
Etnis Cina yang berdagang di sana membentuk pemukiman di wilayah LLBK, dekat Benteng Concordia. Pelaut-pelaut asal Solor menghuni kawasan pantai yang saat ini disebut Kampung Solor. Sedangkan etnis Arab yang juga datang berdagang dan menyebarkan agama, menempati kawasan di Kelurahan Air Mata. Di sinilah masjid pertama Al Kudus dibangun.
Pusat-pusat pemukiman tua itu pun membekas melalui bangunan-bangunan rumah ibadah. Di Kelurahan Air Mata, berdiri masjid pertama, Al Kudus. Di kawasan LLBK ada Gereja (tua) Kota Kupang.
Dari beberapa fakta sejarah ini kita mencatat bahwa wilayah ini memiliki sejumlah kelebihan. Di sini menjadi awal kota ini, menjadi pusat perdagangan dan pariwisata. Juga aktivitas religius ditunjukkan dengan keberadaan fasilitas keagamaan masjid, gereja dan kelenteng.
Yang kita harapkan adalah kerja keras pemerintah untuk menata kawasan ini agar tetap mempertahankan kelestariannya. Tentunya wilayah lain di kota ini perlahan tapi pasti mulai ditata pula.
Pemerintah dapat menata kota ini dari aspek fasilitas bagi pejalan kaki, menyediakan fasilitas penyeberangan dan tempat tunggu angkutan, drainase yang baik, menyediakan tempat-tempat sampah, lampu jalan, papan nama dan petunjuk arah serta menghindari kawasan kumuh yang semakin terasa di kota ini. Juga menanam pohon dan membuat taman kota.
Kupang sebagai ibukota Propinsi NTT, "kampung halamannya" orang NTT tidak boleh kehilangan halamannya. Sebab kota bukan kerumuman bangunan bertingkat. Kota, sejatinya adalah halaman yang harus punya halaman. Halaman tempat anak-anak kota bermain bola kaki, bermain bola kasti atau bola voli. Agar anak-anak kota tak hanya manfaatkan waktu hujan untuk main bola di jalan-jalan raya.
Lasiana harus diurus dengan benar dan profesional agar layak menjadi teras samping timur kota ini. Di sana tetamu kita dari mancanegara, pun kita sendiri yang ingin menikmati jagung bakar, bisa berjemur diri di pantai nan indah itu. Pantai Namosain, Pantai Teddy's, juga demikian. Jangan tutup pemandangan ke arah pantai. Janganlah mendirikan bangunan bertingkat menghalangi pandangan ke pantai. Pantai adalah hak semua orang untuk menikmatinya setiap saat.
Kawasan Penfui, halaman rumah kita yang menjadi saksi kecamuk Perang Dunia butuh penataan agar asri dan bernilai. Bunker-bunker Jepang yang tidak diurus itu kita pugar karena itu situs bersejarah. Intinya, pada usia emas NTT tahun ini tak haruslah kita berpikir berbuat sesuatu yang mewah. Mari mulai menata ibu kota kita, Kupang, agar halamannya indah, sejuk nan asri. Mewujudkannya menjadi kota yang manusiawi sampai 50, 100, bahkan hingga 1.000 tahun yang akan datang.*
"KUPANG sebagai kota tua yang bermodal gede menjadi kota besar yang cantik, memang asli banget tidak didukung warga kotanya. Kesadaran warga sebagai anak tanah untuk ikut mendukung program merawat, sambil mengembangkan kotanya serta ikut bebersih dan berbenah-benah, demi keasrian lingkungan hidup sang kota, rasanya masih jauh dari harapan normal".
Itulah kritikan wartawan senior Rudy Badil melalui tulisannya di Harian Kompas edisi Senin 17 Oktober 2005.
Di bagian lain tulisannya yang diberi judul "Anak Tanah Kota Kupang" itu Rudy Badil melanjutkan kritiknya, "... Kupang sebenarnya tambah tahun tambah kumuh, juga rada ngacak tata kotanya. Kota itu boleh dikata tidak ada apa-apanya lagi dalam urusan konservasi dan pelestarian alam kotanya. Bangunan hunian, perkantoran, dan gedung lainnya kebanyakan hanya merupakan hiasan kota tanpa kejelasan makna artistiknya, serta tidak karuan sentuhan inti estetikanya. Celakanya lagi, kerumunan bangunan orang kota itu sama sekali tidak diimbangi dengan keteduhan dan kehijauan tanaman lingkungan perkotaannya".
Dalam beberapa kali diskusi terbatas, Pemimpin Redaksi Pos Kupang, Dion DB Putra menyebut kota Kupang sebagai kota yang "tidak berjenis kelamin". Tidak terlihat gairah penghuni kota untuk memoles kota ini agar terlihat jelas sebagai "kampung halaman" orang NTT. Bangunan-bangunan di kota ini tidak punya "makna artistik", meminjam istilah Rudy Badil.
Juga tidak ada lagi bekas-bekas yang menandakan bahwa kota ini menyimpan sejarah suku Helong dan rajanya sebagai penghuni pertama. Padahal, nama kota ini diambil dari Nai Kopan/Lai Kopan, Raja Helong. Belanda menyebut Kopan ini dengan Koepan dan dalam perkembangan bahasa menjadi Kupang (http://www.kotakupang.com/webkota/).
Kita tidak boleh melupakan sejarah. Apalagi mengabaikan pemilik nama kota ini, Raja Lai Kopan. Nenek moyang tak boleh dibuat marah, sebab kita bisa kualat.
***
Dua hari setelah kita merayakan HUT ke-63 RI, tiga bangunan toko di Jalan Siliwangi, rubuh di saat subuh menjelang. Ambruknya toko di "halaman rumah raja Helong" itu tentu bukan karena Raja Lai Kopan murka. Itu akibat ibukota propinsi ini mungkin salah urus. Pantai tak lagi diberi ruang yang cukup agar ombak bisa mendatangkan keindahan dan kenyamanan bagi warga.
Ambruknya tiga bangunan toko itu pertanda bahwa manusia tidak boleh melawan alam. Manusia harus menyesuaikan diri dengan alam. Jika kita terus bertahan dan "melawan" gulungan ombak sepanjang Jalan Siliwangi itu, maka entah apa yang terjadi 10, 20 atau 30 tahun yang akan datang.
Kawasan sepanjang Siliwangi merupakan kawasan kota tua. Punya nilai sejarah dan patut dilestarikan. Langkah-langkah yang diambil adalah melakukan konservasi dan revitalisasi. Konservasi adalah upaya untuk mengembalikan dan kemudian mempertahankan fungsi dan citra dari suatu kawasan bersejarah. Sedangkan revitalisasi adalah upaya meningkatkan dan memperbaiki kondisi lingkungan agar kekhasannya tetap ada.
Pemerintah Kota Kupang pun telah mengidentifikasi kawasan ini untuk segera ditangani. Ada beberapa kawasan yang masuk dalam kategori penanganan, yakni kota tua, kawasan Lasiana, kawasan Kuanino, kawasan Jalan El Tari dan rumah dinas Walikota Kupang.
Tetapi melalui serangkaian penelitian, Pemkot Kupang menetapkan Kawasan Kota Tua sebagai prioritas. Pertanyaannya, apakah upaya ini sudah diwujudkan? Rasanya masih jauh dari harapan. Kita belum melihatnya mulai dari kawasan Benteng Concordia, Kali Dendeng, koridor Jalan Soekarno bagian utara, koridor Jalan Sukarno bagian selatan, koridor Jalan Siliwangi, Pantai Kampung Solor dan koridor Jalan Garuda.
Dalam buku penyusunan detail engineering design, disebutkan bahwa penataan kawasan Kota Kupang, terutama kawasan kota tua harus dilakukan karena merupakan kawasan bersejarah. Tempat ini, dulu kala dihuni suku Helong, kemudian orang Cina, warga asal Pulau Solor dan etnis Arab. Orang Helong menghuni kawasan yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan LLBK.
Etnis Cina yang berdagang di sana membentuk pemukiman di wilayah LLBK, dekat Benteng Concordia. Pelaut-pelaut asal Solor menghuni kawasan pantai yang saat ini disebut Kampung Solor. Sedangkan etnis Arab yang juga datang berdagang dan menyebarkan agama, menempati kawasan di Kelurahan Air Mata. Di sinilah masjid pertama Al Kudus dibangun.
Pusat-pusat pemukiman tua itu pun membekas melalui bangunan-bangunan rumah ibadah. Di Kelurahan Air Mata, berdiri masjid pertama, Al Kudus. Di kawasan LLBK ada Gereja (tua) Kota Kupang.
Dari beberapa fakta sejarah ini kita mencatat bahwa wilayah ini memiliki sejumlah kelebihan. Di sini menjadi awal kota ini, menjadi pusat perdagangan dan pariwisata. Juga aktivitas religius ditunjukkan dengan keberadaan fasilitas keagamaan masjid, gereja dan kelenteng.
Yang kita harapkan adalah kerja keras pemerintah untuk menata kawasan ini agar tetap mempertahankan kelestariannya. Tentunya wilayah lain di kota ini perlahan tapi pasti mulai ditata pula.
Pemerintah dapat menata kota ini dari aspek fasilitas bagi pejalan kaki, menyediakan fasilitas penyeberangan dan tempat tunggu angkutan, drainase yang baik, menyediakan tempat-tempat sampah, lampu jalan, papan nama dan petunjuk arah serta menghindari kawasan kumuh yang semakin terasa di kota ini. Juga menanam pohon dan membuat taman kota.
Kupang sebagai ibukota Propinsi NTT, "kampung halamannya" orang NTT tidak boleh kehilangan halamannya. Sebab kota bukan kerumuman bangunan bertingkat. Kota, sejatinya adalah halaman yang harus punya halaman. Halaman tempat anak-anak kota bermain bola kaki, bermain bola kasti atau bola voli. Agar anak-anak kota tak hanya manfaatkan waktu hujan untuk main bola di jalan-jalan raya.
Lasiana harus diurus dengan benar dan profesional agar layak menjadi teras samping timur kota ini. Di sana tetamu kita dari mancanegara, pun kita sendiri yang ingin menikmati jagung bakar, bisa berjemur diri di pantai nan indah itu. Pantai Namosain, Pantai Teddy's, juga demikian. Jangan tutup pemandangan ke arah pantai. Janganlah mendirikan bangunan bertingkat menghalangi pandangan ke pantai. Pantai adalah hak semua orang untuk menikmatinya setiap saat.
Kawasan Penfui, halaman rumah kita yang menjadi saksi kecamuk Perang Dunia butuh penataan agar asri dan bernilai. Bunker-bunker Jepang yang tidak diurus itu kita pugar karena itu situs bersejarah. Intinya, pada usia emas NTT tahun ini tak haruslah kita berpikir berbuat sesuatu yang mewah. Mari mulai menata ibu kota kita, Kupang, agar halamannya indah, sejuk nan asri. Mewujudkannya menjadi kota yang manusiawi sampai 50, 100, bahkan hingga 1.000 tahun yang akan datang.*
Sabtu, 30 Agustus 2008
50 Tahun NTT: Ironi di Era Otonomi

Oleh Alfons Nedabang
PADA awalnya daerah Swatantra Tingkat I meliputi Swa praja Flores, Sumba dan Timor. Ini untuk membedakan NTT dari daerah Swatantra Bali dan Nusa Tenggara Barat yang sebelumnya tergabung dengan nama Propinsi Sunda Kecil. Pemisahan itu terjadi 1958.
Perjuangan menjadi daerah otonom dilakukan dewan raja-raja serta masyarakat. Tentunya dengan kesadaran yang tinggi bahwa sudah waktunya NTT berdiri sendiri. Semangat pemisahan adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan mempercepat laju pembangunan daerah.
Lahirnya Undang-undang tentang Pembentukan daerah-daerah Tingkat II mengharuskan Swatantra NTT dibagi menjadi 12 daerah Tingkat II yaitu Sumba Barat, Sumba Timur, Manggarai, Ngada, Ende, Sikka, Flores Timur, Alor, Kupang, TTS, TTU dan Belu.
Tahun 1965 sebutan Swatantra diubah menyusul diberlakukannya UU No 18/1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan daerah. Swatantra Tingkat I NTT diubah menjadi Propinsi NTT, sedangkan daerah Tingkat II menjadi kabupaten. Jumlah daerah tingkat dua bertambah tatkala pada tahun 1986 Kota Administratif Kupang berubah status menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Kupang.
Tumbangnya rezim Orde Baru yang ditandai dengan lengsernya Soeharto dari kursi presiden membawa angin segar di berbagai bidang, di antaranya bidang tata kepemerintahan. Reformasi melahirkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, yang mulai diberlakukan Januari 2001. Selama periode 1999-2003, NTT bertambah tiga kabupaten yaitu Lembata, Rote Ndao dan Manggarai Barat.
Tidak berhenti di situ. Pemekaran terus berlanjut hingga sampai saat ini jumlah kabupaten/kota di NTT menjadi 20. Pemekaran tahap kedua selama periode 2004 - 2007 terbentuk kabupaten Manggarai Timur, Nagekeo, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Sangat mungkin jumlah kabupaten/kota di NTT terus bertambah. Pasalnya, angin segar UU Otonomi Daerah membuat hampir semua daerah berlomba-lomba memekarkan diri. Keranjingan! Wacana pemekaran tidak surut.
Sabu sudah merasa 'tidak nyaman' dalam dekapan Kabupaten Kupang sehingga memproklamirkan ingin memisahkan diri. Malaka mulai bergolak menuntut lepas dari Belu. Adonara bangkit ingin pisah setelah sekian lama tidur lelap di pangkuan Flores Timur. Molo yang selama ini dibuai manis TTS, tidak ketinggalan. Dengan suara lantang Molo berteriak ingin otonomi. Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka sedang diperjuangkan menjadi Kota Madya. Dan, yang lain pasti menyusul.
Otonomi Daerah menurut UU No 22/1999 dipahami sebagai kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
Dengan otonomi berarti telah memindahkan sebagian besar kewenangan yang tadinya berada di tangan pemerintah pusat diserahkan kepada daerah otonom, sehingga pemerintah daerah otonom dapat lebih cepat dalam merespon tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Dengan otonomi daerah berarti pula pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan akan dapat berjalan lebih cepat dan lebih berkualitas. Pasalnya, kewenangan membuat kebijakan sepenuhnya menjadi wewenang daerah otonom.
Kunci keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah sangat tergantung pada kemampuan keuangan daerah (PAD), sumber daya manusia serta kemampuan daerah untuk mengembangkan segenap potensi yang ada di daerah otonom.
Implementasinya? Masih masih jauh dari semangat otonomi daerah. Pelayanan publik belum demikian baik. Pengurusan kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mendirikan bangunan (IMB) dan surat izin tempat usaha (SITU), prosesnya lama nian. Pungutannya juga macam-macam, belum lagi perilaku aparat yang selalu meminta uang pelicin. Tidak heran jika warga senantiasa mengeluh dan berteriak.
Pemerintah daerah ternyata belum mampu membangun kelembagaan daerah yang kondusif, sehingga dapat mendesain standar pelayanan publik yang mudah, murah dan cepat.
Pengisian formasi jabatan tidak mengedepankan profesionalisme. Banyak yang terjebak pada fanatisme sempit berupa kesukuan, golongan, dia pendukung atau tim sukses. Persatuan dan kesatuan di era otonom kian terusik.
Upaya peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) juga tidak maksimal sehingga hasilnya pun tidak signifikan. Ada daerah yang stagnan bahwa banyak daerah otonomi baru, PAD jongkok terus. Padahal pelaksananaan otonomi telah diwarnai dengan kecenderungan Pemda untuk meningkatkan PAD dengan cara membuat Perda yang berisi retribusi dan pembebanan pajak-pajak daerah.
Kabupaten Lembata, misalnya. Setahun pemekaran (2000) PAD hanya Rp 500 juta lebih. Lima tahun kemudian (2005), pencapaian PAD Lembata Rp 4,5 miliar dari target sebesar Rp 8,8 miliar. Pada tahun 2007, naik mendekati angka Rp 10 miliar. Sedangkan pada 2008 PAD-nya mencapai Rp 11 miliar.
PAD Rote Ndao juga relatif kecil. Pada tahun 2004 penerimaan PAD Rp 1,51 miliar, selanjutnya Rp 6,69 miliar (2005) dan Rp 8,15 miliar (2006). Kecilnya PAD di antaranya disebabkan kurang kreatifnya daerah untuk memanfaatnya potensi daerah masing-masing. Pantai Nemberala yang menjadi salah satu obyek wisata andalan, ditelantarkan selama empat tahun. Dan, masih banyak lagi potensi yang belum digarap.
Kecilnya PAD inilah yang membuat ketergantungan daerah pada program pemerintah pusat sangat tinggi. Banyak dana mengalir ke daerah. Tapi banyak pula dana yang dikelola tidak tepat sasaran. Program mubasir. Ikutannya, banyak orang daerah - entah kepala daerah, anggota DPRD, pejabat lainnya dan pengusaha - tersandung kasus korupsi. Anggapan bahwa desentralisasi korupsi melalui otonomi daerah, ada benarnya.
Pengelolaan dana yang dikelola tidak tepat sasar, sudah tentu berkorelasi negatif pada kondisi masyarakat dan daerah. Persoalan krusial seperti rawan pangan, kekurangan gizi, terisolasi dari daerah lain karena minimnya jaringan, sarana dan prasarana transportasi serta kekurangan air bersih, senantiasa membelengu masyarakat. Stigma kemiskinan pun melekat. Yang lebih fatal adalah otonomi daerah diterjemahkan sebagai upaya mencari dan membagi-bagi kekuasaan. Inilah ironi pembangunan di era otonomi daerah.
Sewindu sudah kita melaksanakan otonomi daerah. Pada tahun ke-8, pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan 50 tahun NTT. Kedua momen ini kita kawinkan dan menjadikannya momentum untuk refleksi. Refleksi tentang seberapa besar manfaat pemekaran daerah untuk tujuan percepatan pembangunan, pendekatan pelayanan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semangat pemekaran yang mengebu-gebu hendaknya dibarengi dengan semangat membangun daerah. Agar kita tidak dibilang pemekaran daerah bertujuan untuk kepentingan kekuasaan semata. Jika ini yang terjadi, sangatlah mungkin tidak ada ada perubahan -- berapa pun banyak daerah dimekarkan. Pemekaran menjadi malapetaka karena melahirkan persoalan baru bagi NTT.**
Atlet FKTI NTT Dapat Bonus

KEBERHASILAN karateka NTT yang meraih juara umum Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Karate Tradisional Menpora Cup 2008 di Wonogiri-Jawa Tengah, 22-23 Agustus lalu mendapat perhatian. Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya saat menerima mereka di ruang kerjanya, Jumat (29/8/2008), langsung memberikan bonus uang kepada mereka.
Untuk peraih medali emas masing-masing diberi Rp 7,5 juta. Medali perak menerima Rp 6 juta dan perunggu Rp 5 juta. Sebelumnya, pada Kamis (28/8/2008), para atlet disambut Danrem 161 Wirasakti Kupang, Kolonel Winston Simanjuntak di Bandara El Tari Kupang.
"Penghargaan dari gubernur ini adalah sesuatu yang membanggakan. Para atlet merasa dihargai karena sudah mengharumkan nama NTT di tingkat nasional. Kami cukup bangga, karena meski tidak mendapat dukungan dana dari pemerintah daerah seperti dari kabupaten lain, namun kami bisa membawa pulang prestasi," ujar pelatih asal Nagekeo, Udin, usai pertemuan dengan Gubernur Lebu Raya.
Untuk diketahui, Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) NTT meraih juara umum Menpora Cup 2 di Wonogiri-Jawa Tengah dengan 16 medali emas, tujuh perak dan tujuh perunggu. Karateka Nagekeo menjadi pengumpul medali terbanyak, yakni 13 emas yang direbut Yoktan Taneo (4 emas), Sovia Taneo (5 emas), Marlin Safrudin (2 emas, 1 perak dan 1 perunggu) dan Leni Djafra (2 emas, 1 perak, 1 perunggu).
Karateka Sikka, Ricky Ricardo merebut dua emas dan satu perak dan Righ Lecomte (1 emas). Hasil lainnya, karateka Manggarai, Robert Kana dan Guido Nagor masing-masing satu perak, satu perunggu. Dari Ngada, Ikram Mahben (1 perak), Raymundus Sudin (1 perunggu), Ewal Baba (1 perunggu). "Keberhasilan tim karate ini adalah berkat bimbingan dari Sensei Frans Fernando (Dan VI) selaku Ketua ASKI NTT," ujar Udin. (eko)
Afriana Rebut 2 Perak

Asean School Championship
ATLET NTT, Afriana Paijo berhasil merebut dua medali perak pada kejuaraan atletik pelajar Asia Tenggara (Asean School Championship) ke-23 di Danang, Vietnam, 22-28 Agustus 2008. Dua medali perak direbut dari nomor 3.000 meter dan 1.500 meter. Demikian diinformasikan pelatih atletik NTT, Soleman Natonis, yang mendampingi 20 atlet Indonesia di kejuaraan tersebut, Jumat (29/8/2008).
Menurut Soleman, di kejuaraan ini, Indonesia berada di peringkat ketiga klasemen perolehan medali setelah Thailand dan Vietnam dengan perolehan tiga medali emas dan enam perak. Maria Londa, atlet asal Bali, meraup dua medali emas dari nomor lompat jauh dan lompat jangkit dan Yuliana Dika asal Kalimantan Barat merebut satu medali emas dari nomor lempar cakram.
Hasil lainnya, Hendro meraih medali perak jalan cepat, Franklin Burumi asal Papua merebut dua medali perak dari lari 200 meter dan estafet dan Yuaris Dianto asal Jawa Tengah merebut satu medali perak dari nomor tolak peluru.
"Afriana Paijo mendapat dua perak dari nomor 3.000 meter dengan catatan waktu 10.30 detik dan nomor 1.500 meter dengan waktu 4.42 detik. Ini adalah sebuah prestasi yang menggembirakan, karena prestasinya mengalami peningkatan," ujar Natonis.
Pada bulan Juni lalu, Afriana mewakili Indonesia mengikuti kejuaraan atletik yunior di Jakarta. Afriana terpilih setelah menjadi yang terbaik dalam beberapa kejuaraan resmi yang masuk dalam kalender kejuaraan PB PASI. Afriana memecahkan rekornas Kejurnas Antar-PPLP di Papua tahun 2007 dan juga meraih medali emas di kejuaraan Asian School Athletic Championship di Jakarta tahun 2007. (eko)
Jumat, 29 Agustus 2008
Pembelajaran Politik yang Baik

ANGIN reformasi yang ditiupkan mahasiswa ketika menjatuhkan rezim Soeharto pada tahun 1998 lalu disambut gembira. Harapan akan perubahan hidup bermunculan. Rakyat kini bebas menentukan pilihannya.
Kran politik, informasi dan lainnya yang selama ini hanya dinikmati kelompok elite tertentu mulai terbuka. Kalau sebelumnya masyarakat masih takut memrotes pemerintah, kini kebebasan mengeluarkan pendapat tidak dibatasi lagi. Tidak ada yang kebal hukum. Siapa pun dia, jika bersalah pasti mendapat hukuman yang setimpal.
Era reformasi itu memang membawa banyak perubahan. Tak hanya peraturan pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri atau peraturan daerah ikut diubah, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pun ikut diamandemen. Semuanya memiliki satu tujuan, yakni untuk kesejahteraan masyarakat.
Selain perubahan di bidang informasi dan komunikasi, perubahan mencolok terjadi juga di bidang politik nasional hingga daerah. Berbagai regulasi lama diganti dengan regulasi-regulasi baru yang lebih komunikatif. Masyarakat diberikan kebebasan untuk mendirikan partai politik asalkan memenuhi ketentuan yang ditetapkan. Tidak sampai di situ saja, undang-undang pemilihan presiden/wapres, kepala daerah dan anggota legislatif pun dirubah.
Tugas memilih kepala daerah bukan lagi urusan DPRD dan pemerintah, tapi rakyat langsung menentukan pilihannya. Rakyat diberi kebebasan untuk memilih figur yang pantas sesuai dengan aspirasi yang diinginkannya. Lalu, apakah semua perubahan itu sudah sesuai dengan semangat perjuangan reformasi?
Tampaknya masih jauh dari harapan. Antara paham aturan dan tidak paham, hanya beda-beda tipis. Akibatnya, banyak yang terjebak dan kebablasan dalam permainan politiknya sendiri. Banyak sudah persoalan politik di NTT, yang seharusnya sudah menjadi pelajaran penting bagi kita. Kurang pahamnya masyarakat terhadap regulasi-regulasi politik membuat mereka sering menjadi korban penipuan, pembohongan dan manipulasi dari kelompok elite tertentu.
Sebut saja kasus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat pemilihan Walikota/Wakil Walikota Kupang tahun lalu. Ada kubu yang mendaftar Guido Fulbertus, namun ada juga yang mendaftarkan Daniel Adoe. Saat pemilihan gubernur dan Wakil Gubernur NTT beberapa waktu lalu kembali terjadi. Ada partai yang mendaftar paket Gaspar Ehok-Julius Bhobo dan Beni Harman-Alfred Kase, PKB mengaku diusung oleh PKB.
Kasus terbaru adalah yang terjadi di Kabupaten Ende. Sekretaris I DPD PDI- Perjuangan NTT yang merangkap sebagai DPC PDI-P Ende, Victor Mado Watun mengatakan, pihaknya hanya mencalonkan Drs. Don Bosco Wangge-Achmad Mochdar (paket DO'A) sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Ende. PDI-P, katanya, tidak mengusung Bernadus Gadobani, S.Ag, sebagai calon Bupati Ende. Pencalonan Gadobani adalah kemauan pribadi.
Apa pun alasannya, polemik-polemik seperti ini bisa disebut sebagai sebuah pembelajaran politik yang membingungkan masyarakat. Masyarakat jadinya tidak bisa membedakan mana yang disebut demokrasi dan mana itu kepentingan pribadi. Para elite politik dengan sedikit kuasa dan kewenangan yang dimilikinya melakukan manuver-manuver politik yang cukup menyita perhatian. Lihat saja aksi Gadobani yang sudah mengundurkan diri dari kepengurusan PDI-P Ende, namun mendaftarkan diri di KPU Ende sebagai calon dari PDI-P.
Dari sini akan sangat jelas dan terbaca sejauh mana peran partai politik yang salah satu tugasnya adalah memberikan pelajaran politik kepada masyarakat. Masyarakat biasanya akan melihat dan menilai. Dan, ketika mereka menjadi bingung, bisa saja berubah menjadi apatis. Hal ini yang tidak kita inginkan. Masyarakat harus diajak untuk berperan.
Untuk itu, harus ada jiwa besar dan rasa menghormati demokrasi yang ditunjukkan elite politik. Harus dewasa dalam berpolitik. Ambisi boleh besar, namun harus ada kesadaran bahwa jauh di sana ada kelompok masyarakat yang sedang melihat dan memberikan penilaian.
Simpatisan PDI-P di Ende yang melihat para elitenya berseteru untuk kepentingan pribadinya tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Maksudnya adalah bahwa manuver dan intrik-intrik politik yang dilakukan hendaknya jangan memecah-belah masyarakat. Tunjuklanlah kedewasaan dalam berpolitik dengan tameng kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. *
Kran politik, informasi dan lainnya yang selama ini hanya dinikmati kelompok elite tertentu mulai terbuka. Kalau sebelumnya masyarakat masih takut memrotes pemerintah, kini kebebasan mengeluarkan pendapat tidak dibatasi lagi. Tidak ada yang kebal hukum. Siapa pun dia, jika bersalah pasti mendapat hukuman yang setimpal.
Era reformasi itu memang membawa banyak perubahan. Tak hanya peraturan pemerintah, keputusan presiden, keputusan menteri atau peraturan daerah ikut diubah, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pun ikut diamandemen. Semuanya memiliki satu tujuan, yakni untuk kesejahteraan masyarakat.
Selain perubahan di bidang informasi dan komunikasi, perubahan mencolok terjadi juga di bidang politik nasional hingga daerah. Berbagai regulasi lama diganti dengan regulasi-regulasi baru yang lebih komunikatif. Masyarakat diberikan kebebasan untuk mendirikan partai politik asalkan memenuhi ketentuan yang ditetapkan. Tidak sampai di situ saja, undang-undang pemilihan presiden/wapres, kepala daerah dan anggota legislatif pun dirubah.
Tugas memilih kepala daerah bukan lagi urusan DPRD dan pemerintah, tapi rakyat langsung menentukan pilihannya. Rakyat diberi kebebasan untuk memilih figur yang pantas sesuai dengan aspirasi yang diinginkannya. Lalu, apakah semua perubahan itu sudah sesuai dengan semangat perjuangan reformasi?
Tampaknya masih jauh dari harapan. Antara paham aturan dan tidak paham, hanya beda-beda tipis. Akibatnya, banyak yang terjebak dan kebablasan dalam permainan politiknya sendiri. Banyak sudah persoalan politik di NTT, yang seharusnya sudah menjadi pelajaran penting bagi kita. Kurang pahamnya masyarakat terhadap regulasi-regulasi politik membuat mereka sering menjadi korban penipuan, pembohongan dan manipulasi dari kelompok elite tertentu.
Sebut saja kasus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat pemilihan Walikota/Wakil Walikota Kupang tahun lalu. Ada kubu yang mendaftar Guido Fulbertus, namun ada juga yang mendaftarkan Daniel Adoe. Saat pemilihan gubernur dan Wakil Gubernur NTT beberapa waktu lalu kembali terjadi. Ada partai yang mendaftar paket Gaspar Ehok-Julius Bhobo dan Beni Harman-Alfred Kase, PKB mengaku diusung oleh PKB.
Kasus terbaru adalah yang terjadi di Kabupaten Ende. Sekretaris I DPD PDI- Perjuangan NTT yang merangkap sebagai DPC PDI-P Ende, Victor Mado Watun mengatakan, pihaknya hanya mencalonkan Drs. Don Bosco Wangge-Achmad Mochdar (paket DO'A) sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Ende. PDI-P, katanya, tidak mengusung Bernadus Gadobani, S.Ag, sebagai calon Bupati Ende. Pencalonan Gadobani adalah kemauan pribadi.
Apa pun alasannya, polemik-polemik seperti ini bisa disebut sebagai sebuah pembelajaran politik yang membingungkan masyarakat. Masyarakat jadinya tidak bisa membedakan mana yang disebut demokrasi dan mana itu kepentingan pribadi. Para elite politik dengan sedikit kuasa dan kewenangan yang dimilikinya melakukan manuver-manuver politik yang cukup menyita perhatian. Lihat saja aksi Gadobani yang sudah mengundurkan diri dari kepengurusan PDI-P Ende, namun mendaftarkan diri di KPU Ende sebagai calon dari PDI-P.
Dari sini akan sangat jelas dan terbaca sejauh mana peran partai politik yang salah satu tugasnya adalah memberikan pelajaran politik kepada masyarakat. Masyarakat biasanya akan melihat dan menilai. Dan, ketika mereka menjadi bingung, bisa saja berubah menjadi apatis. Hal ini yang tidak kita inginkan. Masyarakat harus diajak untuk berperan.
Untuk itu, harus ada jiwa besar dan rasa menghormati demokrasi yang ditunjukkan elite politik. Harus dewasa dalam berpolitik. Ambisi boleh besar, namun harus ada kesadaran bahwa jauh di sana ada kelompok masyarakat yang sedang melihat dan memberikan penilaian.
Simpatisan PDI-P di Ende yang melihat para elitenya berseteru untuk kepentingan pribadinya tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Maksudnya adalah bahwa manuver dan intrik-intrik politik yang dilakukan hendaknya jangan memecah-belah masyarakat. Tunjuklanlah kedewasaan dalam berpolitik dengan tameng kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. *
Minggu, 24 Agustus 2008
Faktor Mental Juara

Oleh Sipri Seko
ZETH Adoe tak habis pikir, mengapa dia selalu kandas di final. Dua tahun berturut-turut, AS Roma hanya bisa menjadi runner- up. Tahun 2006 kandas dari SSB Tunas Muda. Tahun lalu, mereka takluk dari Britama Kupang. Kalau tahun ini sang pelatih, Zeth Adoe, langsung menargetkan juara, apakah mereka layak?
Jangan cepat menjawab sebelum melihat skuad mereka dan calon lawannya. Mereka bergabung bersama Putra Napo, Platina Komputer dan Putra Samudera di Grup D. Grup maut! Tapi, Zeth Adoe dan Buce Lioe tak terlalu khawatir. Menggabungkan skuad utama Persab Belu dan Perserond Rote Ndao dalam tim AS Roma, Zeth begitu yakin kalau keinginannya untuk menjadi juara bukan sebuah sesumbar kosong.
Tapi untuk mencapainya, Zeth Adoe harus melewati hadangan Putra Napo. Tampil mengejutkan dan lolos hingga empat besar tahun lalu, Putra Napo kini mengincar prestasi yang lebih tinggi. Abubakar yang menjadi arsitek, tentu tak ingin mengecewakan Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, yang melepas mereka dengan resmi di Mananga, Solor. Diperkuat beberapa pemain dari Tarakan, Kalimantan Timur, Putra Napo memiliki kekuatan dan kualitas yang harus diperhitungkan.
Bagaimana dengan kekuatan Platina Komputer? Helmon Liko dan Melkisedek Lado Madi sekarang tentu lagi berpikir keras bagaimana meramu skuad dalam timnya. Memiliki pemain- pemain berkualitas tinggi, Helmon dan Melkisedek dituntut untuk meramu mereka menjadi kekuatan yang bukan hanya berkualitas tapi juga kompak untuk meraih gelar.
Menggabungkan pemain PS Kota Kupang (PSKK) dan PSN Ngada, Platina Komputer memang patut diunggulkan. Siapa tidak kenal Frans Saboen, Hendro Toda, John Liko, Leandro, Hery Nuwa, Atus Kapitang, Ardy Valendra, Zola, Ardy Ora, Pinto Abrao, Thomas Gotha dan Justinus Jabur? Mereka adalah pemain-pemain terbaik di posisi masing-masing.
Satu tim lainnya yang bergabung di Grup D ini adalah Putra Samudera (Pusam). Tidak seperti AS Roma, Putra Napo dan Platina Komputer yang menargetkan juara, Pusam memilih tampil sebagai underdog. Namun, lolos lewat jalur play-off, anak-anak asuhan Ako Dethan ini tak boleh dipandang remeh. Lihat saja ketika strikernya Agoes Jose mencetak empat gol untuk mempermalukan Primus Sivelmus dan Castelo Branco yang memperkuat Kelimutu FC saat play-off. Artinya, ketika Pusam tahu calon lawannya lebih diunggulkan, pemainnya tidak akan mau melihat gawangnya dibobol.
Kalau demikian, nampaknya susah untuk menentukan dua tim yang akan lolos dari Grup D. AS Roma, Putra Napo dan Platina Komputer akan mengandalkan kualitas lebih pemainnya untuk merebut kemenangan. Biasanya, kalau ini yang terjadi, faktor mental juara akan sangat menentukan. Siapa yang siap, dia yang menang. Tapi, ketika ketiganya tidak menghiraukan dan menganggap remeh keberadaan Pusam, maka Ako Dethan, akan 'permisi' kepada mereka untuk lolos ke putaran kedua. (**)
ZETH Adoe tak habis pikir, mengapa dia selalu kandas di final. Dua tahun berturut-turut, AS Roma hanya bisa menjadi runner- up. Tahun 2006 kandas dari SSB Tunas Muda. Tahun lalu, mereka takluk dari Britama Kupang. Kalau tahun ini sang pelatih, Zeth Adoe, langsung menargetkan juara, apakah mereka layak?
Jangan cepat menjawab sebelum melihat skuad mereka dan calon lawannya. Mereka bergabung bersama Putra Napo, Platina Komputer dan Putra Samudera di Grup D. Grup maut! Tapi, Zeth Adoe dan Buce Lioe tak terlalu khawatir. Menggabungkan skuad utama Persab Belu dan Perserond Rote Ndao dalam tim AS Roma, Zeth begitu yakin kalau keinginannya untuk menjadi juara bukan sebuah sesumbar kosong.
Tapi untuk mencapainya, Zeth Adoe harus melewati hadangan Putra Napo. Tampil mengejutkan dan lolos hingga empat besar tahun lalu, Putra Napo kini mengincar prestasi yang lebih tinggi. Abubakar yang menjadi arsitek, tentu tak ingin mengecewakan Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin, yang melepas mereka dengan resmi di Mananga, Solor. Diperkuat beberapa pemain dari Tarakan, Kalimantan Timur, Putra Napo memiliki kekuatan dan kualitas yang harus diperhitungkan.
Bagaimana dengan kekuatan Platina Komputer? Helmon Liko dan Melkisedek Lado Madi sekarang tentu lagi berpikir keras bagaimana meramu skuad dalam timnya. Memiliki pemain- pemain berkualitas tinggi, Helmon dan Melkisedek dituntut untuk meramu mereka menjadi kekuatan yang bukan hanya berkualitas tapi juga kompak untuk meraih gelar.
Menggabungkan pemain PS Kota Kupang (PSKK) dan PSN Ngada, Platina Komputer memang patut diunggulkan. Siapa tidak kenal Frans Saboen, Hendro Toda, John Liko, Leandro, Hery Nuwa, Atus Kapitang, Ardy Valendra, Zola, Ardy Ora, Pinto Abrao, Thomas Gotha dan Justinus Jabur? Mereka adalah pemain-pemain terbaik di posisi masing-masing.
Satu tim lainnya yang bergabung di Grup D ini adalah Putra Samudera (Pusam). Tidak seperti AS Roma, Putra Napo dan Platina Komputer yang menargetkan juara, Pusam memilih tampil sebagai underdog. Namun, lolos lewat jalur play-off, anak-anak asuhan Ako Dethan ini tak boleh dipandang remeh. Lihat saja ketika strikernya Agoes Jose mencetak empat gol untuk mempermalukan Primus Sivelmus dan Castelo Branco yang memperkuat Kelimutu FC saat play-off. Artinya, ketika Pusam tahu calon lawannya lebih diunggulkan, pemainnya tidak akan mau melihat gawangnya dibobol.
Kalau demikian, nampaknya susah untuk menentukan dua tim yang akan lolos dari Grup D. AS Roma, Putra Napo dan Platina Komputer akan mengandalkan kualitas lebih pemainnya untuk merebut kemenangan. Biasanya, kalau ini yang terjadi, faktor mental juara akan sangat menentukan. Siapa yang siap, dia yang menang. Tapi, ketika ketiganya tidak menghiraukan dan menganggap remeh keberadaan Pusam, maka Ako Dethan, akan 'permisi' kepada mereka untuk lolos ke putaran kedua. (**)
Jumat, 22 Agustus 2008
Sepakbola, Gay, Hingga Bunuh Diri

AKHIR-akhir ini, Indonesia digegerkan masalah gay yang dipicu oleh pembunuhan berantai yang dilakukan Veri Idham Henyansyah alias Ryan (30). Kelompok heteroseksual itu sering menjadi bahan kontroversi. Hal itu juga pernah terjadi di dunia sepakbola.
Terutama pada awal 1990, ketika pemain sepakbola Inggris, Jjustin Fashanu, mengaku kepada publik bahwa dirinya seorang gay. Tak ayal, dunia sepakbola pun langsung gegera. Sebab, cabang olahraga ini identik dengan komunitas macho. Maka, banyak orang yang menentang kehadiran Fashanu di sepakbola.
Kariernya pun langsung tenggelam. Padahal, Justin Fashanu merupakan pemain kulit hitam pertama yang dikontrak mencapai 1 juta pounds pada 1980, ketika dibeli Notthingham Forest dari Norwich City. Banyak yang berharap bahwa dirinya akan menjadi bintang klub tersebut.
Namun, kehiduan homoseksualnya membuat kariernya tersendat. Meski belum mengumumkan dirinya gay pada 1980-an, namun banyak orang mencurigainya sebagai gay. Apalagi, dia sering berkunjung ke bar gay, Heaven, dan sering berduaan dengan sesama jenis. Bahkan, pelatih Notthingham waktu iitu, Brian Clough, menyindirnya, "Dia berdarah homo."
Fashanu pun semakin tertekan. Apalagi, waktu itu rasisme di sepakbola masih kuat. Setiap bermain, dia disoraki sebagai homoseksual dan diejek sebagai kera. Bahkan, sering suporter melemparkan pisang kepadanya.
Tekanan demi tekanan semakin besar, setelah dia mengaku sebagai gay pada 1990. Kariernya pun semakin meredup. Meski punya bakat besar, tak ada klub elite yang bersedia mengontrak pemain keturunan Nigeria itu.
Apalagi, pada tahun 1990, teman laki-lakinya yang baru berumur 17 tahun, tewas karena bunuh diri. Fashanu semakin tenggelam dalam kesedihan, hinaan, dan cercaan.
Dia pernah mengatkaan kepada rekan dekatnya, Peter Tatchell, sebenanyar banyak pemain sepakbola yang gay. Di Inggris awal 1990-an saja, setidaknya ada 12 pemain yang gay. Hanya saja, mereka tak berani mengambil keputusan seperti dirinya untuk mengumumkan keberadaannya. Fashanu membuka keberadaannya sebagai gay dengan harapan komunitas itu diterima di sepakbola. Yang terjadi justru sebaliknya, hingga banyak pemain gay tak berani mengakui diri.
Fashanu semakin tersudut. Pada 1998, dia pergi ke Amerika Serikat. Tepatnya 25 Maret 1998, dia diadukan seorang pemuda dengan tuduhan melakukan pelecehan seksual kepadanya. Kala polisi Amerika akan menangkapnya, dia keburu kembali ke Inggris.
Ternyata, dia punya rencana tersendiri. Pada Mei 1998, dia memutuskan bunuh diri dengan cara menggantung diri di garasi rumahnya di Shoreditch, London. Dia meninggalkan catatan, "Aku sadar telah dianggap sebagai kesalahan. Aku tak ingin terus mempermalukan teman-teman dan keluargaku. Aku harap, Jesus yang kucinta, akan menerimaku dan akhirnya akan menemukan kedamaian."
Sekian tahun kasus Fashanu telah berlalu, isu gay di sepakbola tak pernah terdengar lagi. Sampai tiba-tiba pada awal 2008, gelandang Real Madrid, Guti, ditemukan sedang berciuman bibir secara mesra dengan rekan laki-lakinya. Adegan itu tertangkap kamera dan dimuat majalah Cuore.
Sontak saja, isu bahwa Guti adalah seorang gay semakin merebak. Padahal, dia sudah menikah dengan wanit cantik, Arancha de Benito, sejak 1999. Mereka juga sudah dikaruniai dua anak.
Namun, isu bahwa dia gay malah terus berkembang. Lewat wakilnya, Zoran Vekic, Guti membantah dirinya gay. Menurutnya, orang yang dia cium itu bukan laki-laki, melainkan perempuan. Dan, dia tak lain adalah adiknya sendiri yang mengajak keluarga makan di restauran merayakan kehamilannya. Maka, Guti pun melayangkan gugatan kepada Cuore yang dinilai membuat berita palsu.
Meski begitu, isu gay di sepakbola kembali muncul. sampai-sampai, mantan direktur Juventus, Luciano Moggi mengeluarkan komentar pedasnya. "Tak ada tempat bbuat gay di sepakbola," katanya.
Meski begitu, seperti kata almarhum Fashanu, sepakbola tak steril dari homoseksual. Hanya saja, mereka takut mengungkapkan jati diirinya.
Oh, ya? Siapa saja pemain bola yang gay? Sejauh ini hanya sebatas spekulasi. Banyak pemain yang dicurigai gay. Bahkan, Cristiano Roanldo pun pernah dicurigai sebagai homoseksual, meski akhirnya tak terbukti. (Hery Prasetyo)
Kualitas Yang Memenangkan

Oleh Sipri Seko
"KAMI hanya bawa dua pemain senior, selebihnya adalah pemain-pemain yunior dengan usia 21 tahun ke bawah. Saat ini kami sudah siap bertanding. Kami tidak memiliki target yang muluk-muluk, namun turnamen ini akan menjadi pengalaman berharga untuk dievaluasi sebelum berangkat ke El Tari Cup di Bajawa."
Itu pernyataan pelatih Persado Oesao, Ferdy Lape. Menuju Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini, Persado Oesao memang tidak ingin muluk-muluk. Berada di Grup C, Persado Oesao akan bersaing dengan Britama Kupang, Putra Pelangi, Kristal FC. Menurunkan pemain-pemain yunior, Persado Oesao memang tidak diunggulkan, minimal lolos dari penyisihan grup.
Manajer Persado, Helmit Marcus, S.H, senang dengan status non unggulan. Bermain lepas dengan mengandalkan semangat juang dan kekompakan tim, dia sangat yakin kalau mereka akan membuat lawan kerepotan.
Tim lainnya, Britama Kupang, masih diunggulkan untuk mempertahankan prestasinya menjadi kampiun turnamen. Mathias Bisinglasi, dikenal memiliki strategi tinggi dan punya kemampuan membaca permainan dengan sangat baik. Dengan skuad yang dimilikinya, Britama Kupang nampaknya tidak akan kesulitan mengatasi lawannya, minimal di penyisihan grup. Umbu Yogar, Adrianus Adi, Dody Lisnahan, Kiser Mbou, Digo Maradona, Suparman Bara, Borju, Yusuf Mahemba, Marcel Bitol, Hendra Takunama dan lainnya, adalah jaminan kualitas yang sudah teruji.
Bagaimana dengan Kristal FC? Pelatih bertangan dingin, Johni Lumba yang saat ini sedang kuliah doktoral olahraga di Surabaya khusus didatangkan untuk menukangi Deni Bengu dkk. Tahun lalu, Johni memberi bukti kalau Kristal FC yang tidak diunggulkan berhasil menempati peringkat ketiga. Skuad yang sama masih akan dipakai untuk bertarung di tahun ini.
Lalu, apakah Kristal lantas ikut diunggulkan untuk lolos? Jangan cepat memvonis. Dengan hanya dua tim yang lolos dari grup, selain Britama dan Persado, Kristal harus melewati hadangan Putra Pelangi. Anak-anak asal Pulau Solor, Flores Timur ini jauh-jauh datang ke Kupang bukan hendak berwisata. Mereka memiliki kualitas untuk menjadi unggulan. Buktiknya adalah ketika menahan imbang Platina FC, 2-2 dalam laga persahabatan di lapangan TNI AU, Penfui-Kupang, Kamis (21/8/2008).
Sang pelatih, Elman Ibrahim, sangat tahu karakter bermain anak-anak Kupang. Di masanya, Elman, bersama pelatih Britama, Mathias Bisinglasi, pelatih Persado, Ferdy Lape dan pelatih Kristal, Johni Lumba adalah pemain terbaik di posisinya. Elman, Mathias, Helmit Marcus dan Ferdy Lape, sama-sama pemain PSK yang pada tahun 1980-an hingga awal 1990-an membuat tim ini disegani dalam sepakbola NTT.
Kali ini, mereka kembali bertemu bukan lagi sebagai pemain, tetapi sebagai pelatih. Adu strategi dan kematangan akan menjadi duel yang layak disimak. Britama memiliki nama besar dengan skuad sarat pengalaman. Persado memiliki pemain muda penuh talenta yang tidak bisa dianggap remeh. Ketika Johni Lumba mengantar Kristal menempati peringkat tiga tahun lalu, semua baru percaya, bukan kualitas semata yang memenangkan, tetapi juga kekompakan dan kemauan menjadi juara.
Tiga tim asal Kota Kupang 'akan mengepung' Putra Pelangi yang seharusnya sudah tahu apa yang mesti dilakukan. Kalau begitu, haruskah kita mengatakan, Persado, Britama, Kristal dan Putra Pelangi memiliki peluang yang sama di Grup C? **
Kamis, 21 Agustus 2008
Ditinggal Istri karena Mencintai Aston Villa

PERTANDINGAN liga utama Inggris musim 2008-2009 baru dibuka. Namun, belum lagi pertandingan pembuka musim kompetisi dimulai, seorang istri di Inggris mencampakkan suaminya yang menaruh perhatian lebih besar ke pertandingan sepakbola ketimbang dirinya.
Sang istri yang tidak diketahui pasti identitasnya tak tanggung-tanggung menanyakan sikap suaminya itu dengan memasang sebuah spanduk di sebuah jembatan penyeberangan. Sang istri yang merasa kehadirannya tersingkir oleh pertandingan sepakbola liga utama Inggris mempertanyakan di dalam pesan spanduk apakah suaminya lebih mementingkan sepakbola atau dirinya.
Walaupun tidak diketahui secara pasti pasangan yang dimaksud, namun dari isi spanduk dengan goresan cat hitam itu diketahui sang suami yang mempunyai sebutan nama Jack telah ditinggal pergi oleh istrinya yang mempunyai sebutan Jess. Spanduk berukuran 90 kali 90 sentimeter itu berisi pesan : 'Jack, apakah Villa lebih penting ketimbang pernikahan kita? Pernikahan itu sudah berakhir, tertanda Jess'
Spanduk itu dipasang di jembatan penyeberangan yang ramai dilewati oleh kendaraan yang berlalu lalang di dekat West Bromwich sehingga kehadiran spanduk itu tidak lepas dari tatapan ribuan pengemudi yang melintas di bawah jembatan tersebut pada jam sibuk. Dari Spanduk diketahui bahwa Jack adalah salah satu penggemar Aston Villa yang akan berhadapan dengan Manchester City pada 17 Agustus nanti.
Paul Brenna, salah satu pendukung Aston Villa, mempunyai komentar tersendiri terhadap spanduk itu. "Saya menyukai Villa, tetapi saya juga selalu mencintai pasangan saya," ujarnya. "Spanduk itu merupakan cara terburuk memutuskan hubungan, walaupun saya tidak mengetahui siapa mereka atau apa yang terjadi pada mereka."
Sementara seorang pengemudi van, yang merupakan pendukung West Bromwich Albion, mempunyai komentar lain. "Seharusnya pria tidak dihadapkan pada pilihan wanita kesayangan atau tim sepakbola favorit. Saya tidak perduli siapa wanita di spanduk itu, tetapi saya yakin pria tersebut akan lebih baik hidup tanpa dirinya." **
Sang istri yang tidak diketahui pasti identitasnya tak tanggung-tanggung menanyakan sikap suaminya itu dengan memasang sebuah spanduk di sebuah jembatan penyeberangan. Sang istri yang merasa kehadirannya tersingkir oleh pertandingan sepakbola liga utama Inggris mempertanyakan di dalam pesan spanduk apakah suaminya lebih mementingkan sepakbola atau dirinya.
Walaupun tidak diketahui secara pasti pasangan yang dimaksud, namun dari isi spanduk dengan goresan cat hitam itu diketahui sang suami yang mempunyai sebutan nama Jack telah ditinggal pergi oleh istrinya yang mempunyai sebutan Jess. Spanduk berukuran 90 kali 90 sentimeter itu berisi pesan : 'Jack, apakah Villa lebih penting ketimbang pernikahan kita? Pernikahan itu sudah berakhir, tertanda Jess'
Spanduk itu dipasang di jembatan penyeberangan yang ramai dilewati oleh kendaraan yang berlalu lalang di dekat West Bromwich sehingga kehadiran spanduk itu tidak lepas dari tatapan ribuan pengemudi yang melintas di bawah jembatan tersebut pada jam sibuk. Dari Spanduk diketahui bahwa Jack adalah salah satu penggemar Aston Villa yang akan berhadapan dengan Manchester City pada 17 Agustus nanti.
Paul Brenna, salah satu pendukung Aston Villa, mempunyai komentar tersendiri terhadap spanduk itu. "Saya menyukai Villa, tetapi saya juga selalu mencintai pasangan saya," ujarnya. "Spanduk itu merupakan cara terburuk memutuskan hubungan, walaupun saya tidak mengetahui siapa mereka atau apa yang terjadi pada mereka."
Sementara seorang pengemudi van, yang merupakan pendukung West Bromwich Albion, mempunyai komentar lain. "Seharusnya pria tidak dihadapkan pada pilihan wanita kesayangan atau tim sepakbola favorit. Saya tidak perduli siapa wanita di spanduk itu, tetapi saya yakin pria tersebut akan lebih baik hidup tanpa dirinya." **
Langganan:
Postingan (Atom)