Selasa, 02 Desember 2008

Petisi Kupang, Suara Kaum Minoritas

Oleh Sipri Seko

DUA bendera Bintang Kejora ditemukan di lereng Gunung Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua dan di Pantai Kwami, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Senin (1/12/2008). Pengibaran bendera ini bertepatan dengan HUT Organisasi Papua Merdeka, 1 Desember 2008.

Sudah begitu jauhkah keinginan masyarakat Papua untuk berpisah dari Indonesia? Apa maksud pengibaran bendera tersebut? Ataukah mereka sengaja membuat sensasi agar mendapat perhatian dunia? Tak ada yang tahu. Tapi yang pasti, mereka ingin merayakan hari ulang tahun organisasinya.

Sabtu, 29 November 2008, massa utusan dari Propinsi Papua, Papua Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti pawai budaya bertajuk "Selamatkan Bhineka Tunggal Ika," di Kota Kupang. Peserta menggelorakan Petisi Kupang sebagai hasil konsolidasi Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Regional Sunda Kecil di Kupang, 26-29 November 2008. Aksi yang sama juga telah dilakukan di Surabaya, Jawa Timur, 22-25 November yang diberi nama Deklarasi Surabaya. Petisi Kupang dan Deklarasi Surabaya dibuka oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Untuk Petisi Kupang, ada tujuh keputusan yang dilahirkan. Inti yang digelorakan adalah menegakkan dan mempertahankan kebhinekaan sesuai kearifan leluhur pusaka bangsa yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945. Aksi tersebut bisa dibilang sebagai bentuk keprihatinan masyarakat sipil terhadap maraknya upaya pengkhianatan terhadap konstitusi, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Siapa pun yang menandatangani petisi dan mewakili siapa, bagi kita sebenarnya bukan menjadi persoalan. Yang harus dipetik dari petisi tersebut adalah sebuah bentuk atau upaya kebangkitan dari kaum minoritas. Masyarakat di Indonesia bagian timur yang selama ini kurang diperhatikan berusaha untuk menampilkan keberadaannya. Mereka sebenarnya bukan melawan pemerintahan yang sah, namun mereka juga ingin ke luar dari keterpurukan.

Apakah selama ini Papua, Papua Barat, Bali, NTB dan NTT tidak mendapat perhatian pemerintah? Bukankah APBN dan bantuan-bantuan lainnya yang selama ini diterima masyarakat berasal dari pemerintah pusat? Ada betulnya. Tapi lihat saja kesenjangan pembangunan di daerah lain dibandingkan dengan di Indonesia bagian timur. Upaya membentuk Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia pun tak banyak membantu. Indonesia bagian timur masih seperti anak tiri.

Hal ini kemudian diperburuk lagi dengan munculnya regulasi-regulasi yang dinilai hanya mementingkan kelompok tertentu. Ada kelompok yang dilindungi, namun ada pula yang dibiarkan tertekan. Tak heran kalau kemudian, ANBTI Regional Sunda Kecil dan Tanah Papua mendesak pemerintah untuk segera membentuk aturan pelaksana terhadap pasal 18 B ayat 1 dan 2 UUD 1945, mengenai pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya dan segera mencabut UU yang tidak mengakomodir hak masyarakat adat.

Mereka juga menolak pemberlakuan UU Pornografi maupun perundangan lainnya yang memasukkan dengan paksa nilai agama tertentu dan budaya asing yang bersifat diskriminatif untuk dijadikan landasan hukum bernegara. Kebijakan investasi dan pengelolaan sumber daya alam juga dikritisi. Untuk itu seluruh rakyat Indonesia, apa pun latar belakang agama dan sukunya, harus terus bergandengan tangan dan menjaga persatuan bangsa dengan melawan segala bentuk pemaksaan kehendak dan pengkhianatan yang dilakukan secara konstitusional oleh segolongan masyarakat yang memiliki kepentingan tertentu dengan kehancuran Indonesia.

Bagaimana sikap kita terhadap Petisi Kupang? Sebagai masyarakat modern, transparansi sudah menjadi hal yang lumrah. Saling mengkritisi sudah bukan hal yang tabu lagi. Masyarakat sudah bisa memilih dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Petisi Kupang ataupun Deklarasi Surabaya boleh disebut sebagai bentuk perwujudan aspirasi masyarakat yang sebenarnya. UU Pornografi, misalnya, sudah ditolak pengesahannya oleh masyarakat, namun pemerintah 'dengan kepentingannya' tetap mengesahkannya.

Satu yang pasti, ketika aksi ini digelorakan oleh banyak orang dari aneka suku, agama, etnis dan golongan, ini sudah menunjukkan keakuan terhadap kebhinekaan di Indonesia. Mereka akan terus memberontak kalau kebhinekaan tersebut dinodai oleh kepentingan mayoritas. **

Dongeng Si Bocah Tua

Cerpen Roby B Kapitan

DERU
kendaran baru terlewat. Aku tidur di pembaringan tua itu. Seharian telah kuhabiskan energiku untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Senyum kemenanganku baru saja berakhir kala senja pergi tak tersisa.

Itu tanda kemenanganku, tanda hidup matiku, tanda aku telah mencapai sisa hari ini. Bapaku selalu bercerita tentang akhir hari yang selalu indah pada pukul 18.00. Entah apa yang dimaksudkannya, namun ketika senja hari tiba ia selalu duduk di beranda rumah sambil memandang ke arah barat. Aku terkadang mencuri perhatian dengan mengamatinya.

Dalam hati aku selalu bertanya "apa gerangan yang dipikirkan oleh si pekerja keras ini? Apa ia lagi menikmati indahnya pukul 18.00? Ada sesuatu yang indah di balik terbenamnya mentari? Mungkinkah ia mengingat kembali moment saat ia jatuh cinta pertama kalinya dengan bundaku? Atau malah sebaliknya, ia sedang berpikir tentang masa depan kami anak-anaknya?

Kini di pembaringan aku terlelap. Aku baru saja menyelesaikan tugasku hari ini. Si nyonya tua telah puas dengan karyaku. Iya..itulah kerjanya si nyonya tua, ia tak akan puas kalau aku tak bekerja dengan seserius mungkin. Apalagi kalau aku membuang waktu sedetik sajaàmungkin saja dunia ini bisa runtuh dan akibatnya nasib kerjaku bisa dikorbankan. Kadang aku tak mengerti keinginan si nyonya tua ini.

Ketika aku bekerja tanpa bicara karena kupusatkan konsentrasi terhadap pekerjaanku, ia malah mendakwaku dengan berbagai pendapat streotipnya. Katanya, aku tidak humanlah.., atau aku tu orangnya terlalu pendiam. Pokonya banyak sekali tanpa bisa kuingat lagi. "Dasar orang sinting" kilahku bila ingin menghibur diriku.

Namun ketika aku terlambat sedetik saja kerena menanyakan sesutu yang tak dapat kumengerti kepada teman kerjaku, omelannya langsung mendamprat dan memojokanku. Sungguh sial hidupku ini. Hidup di jaman eyangku dulu, mungkin lebih baik dan barangkali aku tidak senaas ini. "Nasib.. nasib.., sepertinya Tuhan salah memilihku untuk diciptakan!"

Kini di pembaringan aku terlelap. Sekali lagi aku terlelap dalam tidurku. Inilah saat yang kurasa paling indah dalam hidupku. Dalam lelapku, aku selalu bermimpi bahwa aku tak akan pernah lagi mendengar bising suara senapan dan meriam.

Aku tak akan pernah lagi mendengar jerit tangis tetanggaku yang baru saja dilanda musibah. Musuh "si musibah" itu datang tak pernah diundang. Saat tidur malampun, ia datang mengedor pintu rumah-rumah di dusunku.

Entah apa gerangan maunya, terkadang aku berpikir ia gila dengan cita-citanya. Musuh "si musibah" itu datang merenggut dan mencabik bocah-bocah tanpa nama. Aku muak dengan tingkahnya yang sok jagoan tetapi isi kepalanya kosong. Ditanya perkalian satu kali satu saja, pasti minta bantuan pada cucunya. Nah, untuk soal datang pada malam hari, dia jagonya. Ketika binatang peliharaan saja sudah tidur ia masih mau mengusik bocah-bocah yang baru datang kemarin. Mungkin saja bocah-bocah itu belum tahu menangis, namun musuh "si musibah" itu telah datang merenggutnya untuk kembali.

Naas sungguh sial nasibnya, andaikan sang dewi cinta telah meramalkan sang bocah untuk jadi penganti romeo dan juliet dalam drama cinta abadi, bagaiman impian malam ini dapat terwujud? "Iya itu mungkin takdirnya". Kilahku.

"Bukan takdir tolol..!!!" Malah musuh si musibah itu bisa merenggut nyawa dalam satu kampung. Mereka tak mampu berbuat apa-apa ketika dianiaya dan dirajam sampai dibakar dengan seluruh isi rumahnya. Kejam benar musuh "si musibah" itu. Ia datang bagai awan yang gelap di musim panas dan pergi entah kemana rimbanya.

"Tok...tok....tok...!!!" bunyi sebuah benda keras yang menyentuh "black street" itu.

Aku tertegun, rupanya ada yang lewat di seberang sana. Bayangan hitam, tinggi besar. Firasatku mengatakan sesuatu yang lain. Aku tak tenang, kepalaku linglung, dahiku berkerut. Mau kemana lagi langkahku ini. Tidak puaskah ia datang dan pergi terus dihadapan ku? " bosanàaku benci kamu" dalam hatiku, aku mengutuk diriku.

Aku mencoba menahan napas. Kuturunkan kakiku dari pembaringan itu. Dingin sungguh saat kakiku menyentuh tanah, namun lebih kecut lagi nyaliku di saat-saat seperti ini. Darahku sejenak berhenti mengalir. Nadiku serasa tak berdenyut. Kalau ditempat terang mungkin aku dapat melihat betapa pucatnya wajahku di depan cermin. Ibuku tentu akan membantu memegangkan cermin dan aku akan melihatnya. Namun Inilah nasib, saat mau matipun, tak ada lagi ingatan akan bentuk wajah dan konstruksi tulang pipihku.

Bayangan itu mendekat. Sejenak kupalingkan wajahku sedikit ke kiri dan ke kanan. Ternyata baru kusadari bukannya hanya satu saja bayangan itu. Kuperkirakan akan hadir lima bayangan yang menatapku sebentar nanti. Ya...nampaknya bayangan itu bergerombolan. Mereka seperti kawanan pencuri yang setia sekawan.

Dalam taktiknya, mereka mampu mengelabui mangsa dengan cuma menampakan satu bayangan. Makin dekat bayangan itu, makin besar pula penglihatanku akan bayangan-bayangan itu. "Diam... !!!" terdengar suara dari salah satunya. Mereka berhenti mengerakkan kakinya. Kucoba mengintip dari celah sarungku, "wah..sungguh indah bayangan itu".

Aku meyadari keherananku, serentak otakku berputar dan dalam hati kubuat sebuah pernyataan "ternyata ada bayangan yang bisa mematung." Berarti, teori dari guru sekolah dasarku bahwa patung dibuat dari benda-benda materi belum sepenuhnya lengkap. "Ha...ha...ha...! Aku tahu, ternyata bayangan pun bisa jadi patung."

Aku tahu bayangan itu akan selalu merenggut nyawaku kapan dan dimana saja. Aku tahu dalam situasi ini bayangan itu mampu melenyapkan jiwaku. Patung itu punya nyali untuk mendatangkan maut terhadapku.

Patung itu ciptaan jiwa manusia tetapi patung itu mau melenyapkan jiwaku. "Inilah jiwaku yang dipenjara bagai patung dirimu. Jangan kau apa-apakan jiwaku, aku tuan bagimu" Kilahku.

Pada titik ini, Aku teringat Guru Sekolah Dasarku, ia sering menganalogikan jiwa dengan bayangan. Katanya " jiwa mausia itu seperti bayangan dirimu. Dia akan pergi kemana kau pergi, namun dia tak bisa kamu indrai."

Benarkah demikian? Kalau persoalan ini dihadapkan pada meja filsafat, para filsuf akan mati-matian mempertahankan jawaban masing-masing dengan berbagai alasan yang logis dan masuk akal. Itulah ciri khas para filsuf yang tak puas dengan satu jawaban, samapai-sampai realitas dunia pun tak pernah dirasakan memberi jawaban yang meyakinkan kepadanya.

Namun itu soal filsuf, mereka juga akan merefleksikan kematian, namun kematiannya tak akan bisa direfleksikannya. Kini, aku dihadapan bayangan. Bayangan kematian yang akan merenggut nyawaku.

Lima menit berlalu, bayangan itu tak kunjung pergi. Apa gerangan yang terjadi dengan bayangan itu? Dalam hatiku aku berbisik "Tuhan kalau sampai ajalku ambil saja nyawaku, tapi jangan kau ambil bayanganku. Aku tahu hidupku di dunia ini tidak berarti lagi.

Pemuja cintaku telah pergi selamanya. Pengeran tampanku yang pertama ikut bersama ibundanya. Bunga dahliaku telah dipetik paksa pada malam kelam. Untuk apa hidupku ini? aku orang asing di tanahku sendiri. Aku datang dari negeri seberang mencari serpihan bayanganku yang masih tersisa.

Aku mati di tanahku sendiri, tanah tumpah air mata dan darahku. Kini aku di pembaringan, aku ingin bermimpi di malam jumat, tetapi jangan kau ambil bayanganku"

"Aku pria malam Aku duduk di perapian Tidurku di balik awan Matiku di balik jaman". *

Tiga Warna Kenangan

Oleh Gusty Fahik

DANAU itu punya tiga warna, sayang Konon di puncak bukit itu pernah bertakhta seorang penguasa yang berhak menentukan nasib setiap arwah yang beralih dari dunia ini ke alam akhirat. Setiap arwah punya tempat masing-masing di sana. Warna-warna danau itu melambangkan tempat setiap arwah. Karena itu berusahalah untuk hidup baik selama di dunia ini bila engkau ingin meraih tempat yang baik di sana.

Di situ kita pernah bersama menghabiskan waktu yang amat terbatas. Mengapa Tuhan harus menjadikan waktu yang terbatas buat manusia sementara Dia sendiri memiliki waktu yang tak terbatas?

"Bukankah itu berarti Ia seorang yang amat egois?"

"Dia tidak egois, sayang. Dia memberi kita yang terbatas agar kita tahu menggunakannya secara bijaksana, agar kita tahu bersyukur atas apa yang sedang kita nikmati, dan agar kita tahu mengisinya dengan hal-hal yang bermakna".

"Tidakkah yang kekal itu lebih bermakna?"

"Sayang, justru yang sementara itu lebih bermakna sebab kita sedang menciptakan makna kesementaraan untuk membikin abadi apa yang sebenarnya tidak abadi, ialah makna itu sendiri".

Tentang makna, itulah yang kita percakapkan ketika kita berada di antara ketiga warna danau itu. Kita tahu, danau itu bukan hanya punya tiga warna sebab warna-warna yang waktu itu nampak ternyata tidak abadi. Tahukah kau bahwa warna-warna itu sekarang telah berubah menjadi warna-warna lain, warna-warna yang tidak pernah kita bayangkan sama sekali. Warna putih yang dulu kau sukai kini telah berubah menjadi hitam. Warna biru telah berubah menjadi hijau muda,. Sementara warna cokelat tua ternyata telah menggantikan tempat warna merah. Tak ada apa pun yang abadi di bawah matahari, semuanya berubah. Yang tetap ialah perubahan itu. Hati kita pun kini telah berubah.

"Kalau boleh meminta sesuatu pada Tuhan sekarang, aku ingin meminta agar kita berdua berada selamanya di sini. Kita jadikan danau-danau ini tempat tinggal kita, surga kita, surga cinta kita," katamu waktu itu.

"Itu hanya mungkin kalau kita meninggal kelak, sebab arwah kita akan bersemayam dalam keabadian di sini".

"Aku takut kita tidak akan pernah bersama di sini. Jangan sampai aku di danau berwarna putih sementara engkau di danau berwarna merah," engkau berkelakar.

"Itu tergantung amal kita di dunia. Kalau ingin tetap bersama, kita harus hidup baik, atau hidup jahat selama berada di dunia".

"Aku ingin hidup baik dengan mencintaimu dan semua orang selama sisa hidupku di dunia ini".

Kita terus berbicara tentang kebaikan, kejahatan, cinta benci, rasa sakit, pernikahan , punya anak, sampai soal kematian, sementara kabut turun perlahan mengisi setiap kawah dengan amat perlahan. Lalu angin berhembus membawa kabut beranjak meninggalkan setiap kawah yang serupa rumah yang selalu disinggahinya, sebuah rumah yang juga sebagai dunia kecil baginya. Kabut yang berlalu dari setiap kawah seakan ingin membiarkan kita memandang dan mengagumi setiap warna dalam danau itu. Engkau lalu bertutur.

"Alkisah setelah membinasakan dunia dengan air bah Tuhan ingin berdamai dengan alam ciptaan-Nya. Sebagai tanda perdamaian Ia menaruh pelangi di ujung cakrawala agar manusia tahu bahwa Tuhan itu setia akan janji-Nya. Tuhan memikirkan bagaimana Ia harus menggambar warna-warni pelangi itu. Ia ingin turun ke bumi dan menggambar pelangi dari satu tempat di bumi. Ia mencari-cari tempat yang kering agar Ia bisa duduk dan mulai menggambar. Dari surga mata-Nya menangkap sebuah bukit yang telah kering dan cukup rata. Tuhan turun ke puncak bukit itu membawa serta semua peralatan menggambar milik-Nya. Ia mulai membuat setiap lengkungan pelangi dengan warna-warni yang dibawa-Nya. Tuhan lupa bahwa ia telah lebih dahulu menyuruh angin bertiup untuk menyurutkan air bah. Maka Ia terpaksa harus menggambar dengan tergesa-gesa sebab angin kencang terus berhembus sedang Tuhan tidak memakai baju hangat atau jaket. Karena tidak tahan terhadap hembusan angin maka Tuhan kembali dengan agak terburu-buru setelah menyelesaikan lengkung-lengkung pelangi. Dan Ia pergi meninggalkan sebagian peralatan menggambar milik-Nya. Apa yang ditinggalkan-Nya itulah yang kini kita saksikan di hadapan kita, tiga buah kawah di puncak bukit dengan warna-warni yang begitu indah," engkau mengakhiri kisahmu dengan senyuman simpul.

Aku tahu engkau telah membaca tuntas kisah Alkitab tentang Nabi Nuh dan dengan imajinasimu engkau membuat kisahmu yang berhubungan dengan danau itu.

"Kalau demikian berarti tempat ini dulu pernah dipijaki Tuhan, bahkan Ia pernah duduk di sini untuk menggambar pelangi," aku berujar.

"Kalau engkau berpegang pada kisahku maka itu benar, sebab tempat ini pun dipandang amat sakral oleh masyarakat kita". Lalu engkau menatapku, dan kulihat ada cinta di matamu, cinta yang begitu tulus dan indah, seindah danau itu. Hari itu, aku adalah lelaki paling bahagia di dunia.

***
Danau itu punya tiga warna, sayang. Tiga belas tahun setelah percakapan kita, aku kembali ke sana. Warna-warni danau itu telah berubah oleh waktu. Rupanya kita lupa bahwa waktu adalah pencuri paling alami yang tak pernah kita sadari kehadirannya. Ia bukan saja mencuri warna-warni danau yang pernah kita lihat dulu, ia juga telah mencurimu dariku.

Namun, waktu juga ternyata adalah pencuri paling bijaksana, sebab ia toh tak pernah mencuri kenangan dari manusia. Ia tak akan sanggup melakukannya sebab setiap kenangan adalah pemberian waktu dan waktu tak pernah mengambil kembali apa yang telah diberikannya.

Waktu, kekasihku, telah membawamu pergi, tetapi ia pernah memberi lembaran-lembarannya untuk kujadikan tempat kita melukis setiap kenangan. Setiap kali kurindukan dirimu aku selalu membuka lembaran waktu, sekedar membaca lagi peristiwa-peristiwa yang pernah kita goreskan di atasnya. Kita memang tidak pernah abadi, tetapi kenangan tentang kita selalu abadi dalam waktu.

Menatap warna-warni danau itu, aku teringat akan keindahan matamu, mata terindah yang pernah menatapku. Danau itu berbicara tentang dirimu, tentang kenangan kita, tentang hidup kita, tentang kefanaan kita. Sayang, engkau tak lagi ada di sana bersamaku. Di puncak bukit itu, di tepi danau berwarna hijau, aku teringat akan ceritamu tentang pelangi. Betapa aku rindu untuk ingin mendengarmu menuturkan kisah itu lagi. Tahukah kau aku tak pernah akan bosan mendengar kisah yang engkau tuturkan. Kisah tentang kesetiaan Tuhan, dan cinta-Nya pada dunia. Namun, engkau tak ada di sana.

Aku berdiri menatap kabut yang perlahan beranjak meninggalkan permuakaan air, bersama angin menerpa wajahku, lembut sekali. Aku terus menatapnya dengan harapan akan melihat wajahmu tersenyum dari dalam kawah itu. Bukankah danau hijau adalah tempat bersemayamnya orang-orang muda, seperti dirimu ketika meninggalkanku?

Kita memang tak akan pernah bersama entah di dunia maupun di alam baka. Aku telah tua kini, dan kalau waktuku menjelang, aku tak mungkin bersamamu di danau berwarna hijau itu. Tempatku ialah danau berwarna cokelat tua. Sayang, kini aku ingin mensyukuri waktu. Mengapa Tuhan memberi kita waktu yang fana, ialah agar kita mengisinya deengan bijaksana, dengan sesuatu yang bermakna, agar kita tahu mensyukurinya. Kini aku bersyukur atas setiap detik yang pernah diberikan Tuhan kepadaku, terlebih detik-detik ketika kita berdua bersama mengukir kenangan. Manusia selalu hidup untuk mengukir kenangan yang bakal ditinggalkannya ketika ia kembali kepada keabadian.

Kulihat air danau beriak kecil, membentuk lengkungan yang memantul kembali setiap kali menyentuh bibir tebing. Bagiku lengkung riak-riak itu adalah lengkung senyum di bibirmu. Kutahu engkau sedang tersenyum padaku dari tempatmu di dasar danau itu. Senyum yang pernah membuatku merasa sebagai laki-laki paling bahagia di dunia. Hari ini rasa itu kembali menguasaiku. Aku masih laki-laki paling bahagia di dunia.

Danau itu punya tiga warna, sayang. *

Senin, 01 Desember 2008

SMPN Tobu-TTS Membanggakan

Oleh Muhlis Al Alawi

UJIAN Nasional telah menjadi momok paling menakutkan bagi siswa dan sekolah. Kegagalan siswa dan sekolah menggapai predikat lulus akan berdampak pada rendahnya mutu pendidikan sekolan itu. Sekolah yang gagal meluluskan siswanya mengikuti Ujian Nasional (UN) akan dicap tidak mampu mendidik para siswa.

Berbekal masalah tersebut, saat ini banyak sekolah yang berlomba-lomba mempersiapkan para siswanya yang akan mengikuti UN sedini mungkin. Tak terkecuali Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) Tobu yang berlokasi di Desa Tobu, Kecamatan Tobu, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sekolah ini terbilang berprestasi karena sudah tiga tahun berturut-turut siswa peserta UN di sekolah ini lulus 100 persen. Sekolah ini tidak main-main mempersiapkan para siswa menghadapi UN. Meski berada di pedesaan sekitar -- 50 km dari Kota SoE, SMPN Tobu di bawah pimpinan Feliphus Benmetan, S.Pd sudah jauh-jauh hari mempersiapkan anak didiknya menghadapi UN.

"Sejak September siswa-siswi kelas III sudah mengikuti les usai sekolah dari pukul 14.00 hingga pukul 17.00 Wita. Les ini kami adakan hingga satu minggu menjelang UN digelar. Untuk kegiatan lesnya, kami lebih menekankan siswa dilatih banyak menyelesaikan soal-soal yang dihimpun dari berbagai sumber," ujar Benmetan kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (21/11/2008) siang.

Menurut Benmetan, himpunan soal itu berasal dari ujian tahun-tahun sebelumnya dan kumpulan soal dari SMPK Giovanni Kupang dan SMP Mercusuar Kupang. Berbekal kumpulan soal itu, siswa dilatih menghadapi, menyiasati dan menjawab setiap soal yang disodorkan. Bila dalam les hanya mengulang pelajaran kelas I dan II saja, maka siswa akan menjadi bosan dan mengantuk.

Benmetan mengakui banyaknya siswa yang tinggal di wilayah pegunungan sehingga menyulitkan mereka mengikuti kegiatan belajar tepat waktu. Untuk menyiasati hal tersebut, sejak September siswa kelas III sudah tinggal di asrama sekolah. Asrama itu khusus menampung siswa kelas III untuk mempersiapkan diri mengikuti UN.

"Khusus untuk siswi yang rumahnya jauh dari sekolah ditampung para guru yang mengajar di SMPN Tobu. Persoalan dispilin, mungkin lantaran anak-anak di desa, mereka lebih tepat waktu masuk sekolah," kata Benmetan.

Untuk memberikan motivasi kepada anak didiknya mengikuti pelajaran, SMPN Tobu tidak ketinggalan dalam berinovasi. Sejak dini SMPN Tobu memperkenalkan kepada anak didiknya untuk mengenal teknologi informasi. Pada mata pelajaran tertentu para guru menggunakan laptop yang kemudian diproyeksikan dengan proyektor ke papan saat menyampaikan materi pelajaran.

"Kami juga menggunakan televisi yang materinya disampaikan dalam bentuk video compact disc (VCD). Dengan pengenalan teknologi sejak dini kami ingin menghilangkan cap anak-anak yang bersekolah di desa itu selalu "tenganga dan kemomos" terhadap teknologi baru," jelas Benmetan.

Tak hanya siswanya saja masuk asrama, 17 guru pendidik yang semuanya menyandang gelar sarjana pendidikan di sekolah itu juga diberikan tempat tinggal berupa mess yang layak di lingkungan sekolah. Mess itu diberikan kepada guru yang tempat tinggal aslinya jauh dari sekolah. Tempat tinggal guru yang berdekata dengan sekolah tidak menjadikan kegiatan belajar mengajar terlambat lantaran tenaga pendidiknya datang telat.

Bagi Benmetan guru sebagai pendidik adalah ujung tombak maju-mundurnya satu sekolah. Bila nasib para guru tidak diperhatikan, ia yakin sekolah yang dipimpinnya tak akan menghasilkan kelulusan siswa seratus persen tiga tahun berturut-turut.

Perhatian kepada guru, lanjut Benmetan, tidak sekadar tempat tinggal dan gaji yang diterima setiap bulan. Bagi guru yang memberikan lest tambahan juga diberikan insentif yang layak. Ia menyebutkan setiap bulannya, guru yang rajin memberikan les bagi siswa kelas III bisa mendapatkan tambahan penghasilan hingga Rp 800.000.

"Saya selalu menyampaikan kepada guru dan staf untuk mengelola dan memajukan sekolah ini harus dikelola secara kolektif. Tidak boleh ada yang menyatakan dirinya yang paling hebat dan paling berjasa memajukan sekolah. Dengan demikian, budaya kekeluargaan dan kebersamaan memiliki tanggung jawab bersama memajukan sekolah menjadi motor penggerak lembaga pendidikan kami," kata Benmetan.

Terkait bantuan dana dari pemerintah, Benmetan mengatakan, setiap kali dana bantuan masuk ke sekolah itu, dia selalu mengundang seluruh guru untuk bersama-sama membicarakan penggunaannya. Harapannya, manajemen pengelolaan dana yang partisipatif, transparan dan akuntabel akan memudahkan dalam aplikasi dan pertanggungjawabannya.

Berkali-kali Benmetan menunjukkan tumpukan buku pertanggungjawaban yang disusun rapi permasing-masing bantuan dana yang diterima sekolahnya.

"Lembaga mana pun yang datang hendak mengaudit dan memeriksa penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan, kami selalu siap. Tinggal dana bantuan mana yang hendak diperiksa, kami langsung menyodorkan buku pertanggungjawaban yang sudah kami susun jauh hari sebelumnya," jelas Benmetan sambil mengatakan SMPN Tobu merupakan calon sekolah standar nasional.

Meski demikian, Benmetan mengakui pemerintah pusat dan propinsi malah yang lebih memperhatikan keberadaan SMPN Tobu dengan program binaan proyek perluasan peningkatan mutu. Ia mendeskripsikan pembangunan sembilan ruang kelas, ruang perpustakaan, laboratorium, dan kantor dananya berasal dari pemerintah pusat dan propinsi. Sedangkan pemerintah kabupaten terkesan adem ayem terhadap sekolah ini. *

Data kelulusan SMPN Tobu:
Tahun 2006 jumlah siswa 42 orang lulus semua
Tahun 2007 jumlah siswa 63 orang lulus semua
Tahun 2008 jumlah siswa 56 orang lulus semua
Tahun 2009 jumlah siswa 81 orang ...........
Total siswa kelas I, II dan III sebanyak 265 siswa.

Papanggang, Mediator Sang Arwah

Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (4)

Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad

TERIK
mentari membakar bumi sandelwood. Warga Kota Waingapu, Ibu kota Kabupaten Sumba Timur, tumpah rua ke Prai Awang-Rende untuk menyaksikan pemakaman bupati yang dekat dengan rakyat itu. Di tengah terik membakar kampung Prai Awang, sekejap puting beliung menyapu tanah lapang di tengah kampung yang diapiti rumah-rumah adat dan batu kubur leluhur anamburung itu. Saat itu, tua adat setempat sedang melakukan ritual menyeleksi ata atau hamba yang bertugas sebagai papanggang untuk mengantar almarhum Umbu Mehang Kunda ke liang lahat.

Hari itu, Senin (10/11/2008). Sekitar pukul 14.30 Wita, tua adat setempat menyeleksi beberapa ata atau hamba diambil empat orang, terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang wanita untuk menjadi papanggang. Mereka bertugas mengantar jenazah almarhum Mehang Kunda ke liang lahat. Keempat papanggang ini disucikan melalui ritual adat lalu didandani dengan pakaian khusus kebesaran raja-raja yang dilengkapi dengan manik-manik dan perhiasan emas. Para papanggang mengenakan lamba, mamoli, kanatar, muti salak yang dinggelu (kalung). Ritual ini menjadi tontonan sekitar 20 ribu pelayat yang memadati kampung adat itu.

Disaksikan Pos Kupang, sejak pagi keluarga anamburung menerima tamu atau rombongan adat dengan bawaan masing-masing. Tamu yang diundang terdiri dari ery aya (kakak-adik), ina rendi ama manu (raja/bangsawan), juru watu uma dallar (keluarga satu marga), tana nua watulihhi (tetangga kampung), kajuanga angu todu (lembah tempat tinggal bersama) dan ana kawini (saudari). Setiap rombongan tamu (satu marga) disambut dengan gong dan tangisan wanita penunggu jenazah. Tamu wanita memasuki ruang jenazah (kaheli bokul) lalu menangis dengan bahasa lawiti kemudian mendapat sirih pinang dari penerima tamu wanita. Tamu pria duduk di balai-balai (bangga), juga mendapat layanan sirih pinang oleh penerima tamu pria. Salah seorang dari rombongan tamu memberitahu pembawaan mereka. Setelah kaum wanita keluar dari tempat jenazah, rombongan dipersilahkan menempati tempat yang telah disiapkan untuk menikmati sirih pinang dan kopi.

Di balai-balai rumah jenazah, para wunang berbicara secara adat mengenai pembawaan dan permintaan mereka (pulu dungu). Jika sepakat maka ditikam babi (kameti). Babi kameti dibagi dua, setengah dimasak untuk dimakan di rumah duka dan setengah dibawa pulang. Ana kawini (saudari) diberi kain/sarung sedangkan yera (ipar atau besan) diberi hewan atau mamoli. Tata cara ini hanya dilakukan keluarga bangsawan/raja yang ekonominya kuat seperti almarhum Umbu Mehang Kunda.

Penerimaan tamu seperti ini juga berlaku terhadap rombongan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Gubernur bersama Wakil Gubernur, Ir. Esthon Foenay, M.Si; Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe; Bupati Sumba Tengah, Drs. Umbu Sappi Pateduk dan Wakil, Umbu Dondu; Bupati Sumba Barat, Drs. Julianus Pote Leba; Bupati Sumba Barat Daya (SBD) terpilih, dr. Kornelius Kodi Mete; Bupati Alor, Ir. Ans Takalapeta; Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe; Wakil Bupati Flores Timur, Yoseph Lagadoni Herin; Sekda Kabupaten Kupang, Bernabas nDjurumana,S.H, dan pejabat lainnya, diterima di balai-balai uma bokul, lalu wunang mulai berbicara. Rombongan gubernur juga disiapkan wunang untuk berbicara dengan wunang tuan rumah dalam bahasa adat yang disebut luluk. Hiku tua mayangara, hiku kea lama lidi (sehingga disebut sebagai keluarga), inilah pesan yang disampaikan para wunang dalam luluknya. Mereka menyampaikan, gubernur dengan almarhum ada ikatan kerja, selaku hubungan secara pribadi disebut keluarga.

Tepat pukul 15.30 Wita, upacara pemakaman dimulai. Diawali sambutan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, dan wakil keluarga yang disampaikan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha. Umbu Maramba Hau melanjutkan memimpin tata upacara pemakaman secara adat tersebut. Seekor kerbau jantan kecil digiring masuk ke tengah kampung lalu disembeli oleh orang yang ditugaskan. Pemotongan harus berlangsung satu kali, kerbau atau kudanya tewas. Jika diulang, itu berarti ada sesuatu yang mengganjal. Disusul delapan ekor kerbau dan delapan ekor kuda yang dibantai di halaman tengah kampung itu. Pembantaian hewan ini menjadi tontonan para pelayat yang penuh sesak di areal yang luasnya kurang lebih setengah hektare itu.

Menyusul seekor kuda jantan merah digiring masuk ke halaman tengah. Kuda yang diyakini sebagai kuda tunggang (njara kaliti) almarhum menuju Lama Paka Jiu Jagang Lama Patana Rara 'negeri orang mati' yang diyakini banyak pohon cemara yang tumbuh di tanah merah atau Uma Manda Mobu Kaheli Manda Mbata, rumah yang tak pernah lapuk dan balai-balai yang tak pernah rubuh, dirias dengan emas, pelananya dari kain tenun ikat motif bangsawan, dilengkapi dengan payung yang dihias dengan manik-manik emas. Diyakini apa yang dirias pada kuda dan pakaian serta manik-manik emas yang dikenakan papanggang, itu yang dikenakan almarhum menuju alam baka.

Salah seorang papanggang yang berpakaian khusus lengkap dengan perhiasan adat dipapah dan dinaikkan ke punggung kuda (njara kaliti), kemudian dibawa ke kubur dengan iringan gong. Papanggang ini tidak boleh menyentuh tanah sehingga digendong saat naik dan turun dari kuda oleh petugas yang disiapkan. Papanggang ini mempunyai peran unik karena diyakini sebagai pengantara arwah. Dia dinaikkan di atas batu kubur sampai upacara penutupan kubur selesai, lalu diturunkan, lalu dinaikkan di atas kuda untuk seterusnya dibawa ke uma bokul. Papanggang ini tidak boleh mandi dan meninggalkan rumah sampai acara pahili mbuala (acara khusus memandikan papanggang) melalui ritual khusus di sungai.

Seorang papanggang pria ditutup kepala dan wajahnya dengan kain merah. Tugasnya bersama papanggang wanita mengantar jenazah ke liang lahat. Di sana mereka berada di samping kubur dan terus menangis hingga kubur ditutup. Saat itu, ada papanggang yang kesurupan, dia menjadi mediator antara arwah dengan keluarga. Disaat kesurupan, dia menyampaikan pesan-pesan arwah dalam bahasa daerah setempat. Seperti apa pesannya? Hanya dapat diketahui oleh keluarga inti dan itu akan dibicarakan setelah semua rangkaian prosesi pemakaman selesai.

Usai penutupan batu kubur dipotong lagi delapan ekor kuda dan delapan ekor kebau jantan dan betina induk. Ama bokol hama memotong lagi ayam yang dibawa papanggang wanita ke kubur untuk dilihat tali perutnya. Hati kuda juga diambil untuk dilihat lalu dimasak pada katoda, buat sesajian bagi leluhur. Para pengusung jenazah ke liang lahat mencuci tangan dengan air kelapa.

Selesai penguburan tamu-tamu diajak untuk beristirahat sejenak. Bagi tamu bangsawan masih ada percakapan adat. Upacara pakameting (memberi makan kepada rombongan adat) dilangsungkan setelah penguburan. Semua rombongan adat dengan bawaan dibalas berdasarkan silsilah masing-masing. Balasan terhadap pembawaan rombongan tamu disesuaikan dengan pembicaraan wunang, ana kawini mendapat kain/sarung, yera mendapat hewan atau mamoli. (habis)

Le Kebote

Oleh Yosep Sudarso

MENYEBUT le kebote, pikiranku langsung terbawa ke sosok Ema Bewa yang dengan busur di tangan, ia terus berlari-lari menghindari lemparan anak-anak yang mengejarnya. Dengan cara apa pun, perempuan dengan tinggi semampai itu berjuang agar tak satu pun lemparan mengenai dirinya. Bukan karena ia takut terluka atau benjol, tetapi karena pemali apabila sampai terkena lemparan.

Maklumlah, ketika dikejar dan dilempar anak-anak, Ema Bewa sebetulnya mewakili perjuangan hidup seorang bayi lelaki yang ari-arinya baru ia gantungkan di sebuah pohon di lewo oking (kampung lama/kampung induk). Walaupun mengakui bahwa nafas kehidupan tergantung pada lera wulan tana ekan (pencipta dan penyelenggara kehidupan), perjuangan mengisi hidup adalah tugas dan tanggung jawab atadiken (anak manusia).

Ema Bewa. Perempuan itu sudah lama meninggal. Sepanjang hidupnya dihabiskan di desa asalnya, Lamika, Kecamatan Demong Pagong, Flores Timur. Dan, selama belasan tahun ia berperan sebagai pembawa ari-ari bayi laki-laki maupun perempuan di desa itu untuk digantung pada pohon agar tidak sampai dimakan binatang.

Le kebote (tradisi gantung ari-ari pada pohon) memang sudah menjadi tradisi di Lamika. Desa yang jaraknya sekitar 30 km dari Larantuka ini awalnya terdiri dari tiga dusun, yakni Lewomikel (Dusun I), Lewonuha (Dusun II) dan Lewomuda (Dusun III). Namun setelah gempa tektonik 12 Desember 1992 yang meluluhlantakkan sebagian Pulau Flores, 60 KK dari sekitar 300 KK di desa itu mengikuti program pemerintah dengan berpindah ke lokasi baru di pinggir jalan raya utama Larantuka-Maumere. Pemukiman baru ini sekarang membentuk dusun sendiri dengan nama Lewowuung (kampung baru).

Seperti desa tetangga lain, yaitu Lewokluok, Wolo, Kawalelo, Blepanawa dan Bama (beberapa desa ini dulu termasuk kompeks Wolo), hampir semua penduduk Desa Lamika bermata pencaharian petani dengan pola berpindah-pindah ladang. Dahulu, sebuah mang/netak (areal ladang) dikerjakan selama dua tahun sekali. Namun sekitar 15 tahun lalu mulai terjadi pergeseran pola berladang.

Sejak petani mengenal tanaman kepayuk (jambu mete) sebagai tanaman komoditi yang potensial, ladang tidak lagi menjadi milik bersama. Sebelumnya, hampir tidak ada ladang yang dikerjakan sendirian, tetapi selalu kneu (bersama-sama) maksimal tiga kepala keluarga. Kini, sejak ladang dipenuhi jambu mete, mau tidak mau, ladang harus dibagi. Mang/netak menjadi milik pribadi. Salah satu dampaknya adalah potensi konflik terbuka lebar terutama ketika para perantau (umumnya di Malaysia) yang belum punya ladang kembali menetap di kampung halaman.

Selain itu, bila dahulu tanah digarap paling lama dua tahun dan baru digarap lagi delapan tahun kemudian (setelahnya pepohonan mulai besar dan tanah sudah berhumus), kini ladang yang sama digarap setiap tahun. Kalau hasilnya seperti beras dan jagung tidak lagi mencukupi, biasanya dibuka lagi lahan baru tetapi lahan lama tetap dibersihkan.

Selain bergantung pada padi dan jagung, penduduk Desa Lamika juga menyuling arak dari pohon lontar. Dahulu, hampir semua pria dewasa mengiris tuak kemudian menyulingnya menjadi arak untuk selanjutnya dijual ke Pasar Boru (ibukota Kecamatan Wulanggitang). Namun beberapa tahun terakhir, jumlah keluarga yang mengiris tuak dan menyuling arak bisa dihitung dengan jari.

Banyak hal berubah. Nilai-nilai sosial budaya bergeser skalanya. Dari yang "serba bersama-sama" ke "urus sendiri- sendiri". Suku memang masih dan akan tetap ada, tetapi perannya dalam kehidupan setiap keluarga mulai berkurang.

Di titik ini, barangkali tradisi le kebote yang menurut Kepala Desa Lamika, Vincent Openg, masih tetap dipelihara, bisa menjembatani fenomena degradasi nilai-nilai warisan leluhur. Setidaknya dapat meredam perilaku dan pola hidup generasi muda yang menggelisahkan banyak tetua adat dan sesepuh kampung. Judi, mabuk-mabukan dan mencuri bukan lagi cerita di tempat lain.

Semoga tradisi le kebote (terutama pada bayi lelaki) yang mengisyaratkan perjuangan hidup, daya juang dan kerja keras dalam kebersamaan bisa menggugah hati generasi penerus di kampungku. Karena ketika ari-ari seorang bayi dipotong, diawetkan dengan keawuk (abu dapur) dalam anyaman lontar, digantungkan di pohon, hingga sang pembawanya seperti Ema Bewa harus menyilih lemparan agar selamat kembali ke rumah, di sana sudah terpatri nilai tanggung jawab terhadap hidup dan kehidupan. (*)

Kamis, 27 November 2008

Leluhur Masih Marah

Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (3)

Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad

MALAM sebelum pemakaman dilakukan hamayang (sembahyang) oleh ama bokol hama (pendeta marapu). Doa persiapan ini berlangsung di uma bokul, rumah besar milik almarhum. Keluarga anamburung menyiapkan seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk disembelih.

Hati babi dan tali perut ayam dibaca oleh ama bokol hama untuk mengetahui pesan-pesan almarhum, pesan-pesan leluhur untuk keluarga yang ditinggalkan. Hati babi dimasak pada tungku di dekat katoda dan ayamnya dibakar untuk diletakkan di tempat sesajian bersama nasi yang disebut uhu mange'ijing agar leluhur bisa menyantapnya.

Ada lima ekor ayam yang harus disembelih, masing-masing seekor untuk almarhum, seekor untuk umbu tamo (nenek moyang yang namanya digunakan oleh almarhum), seekor untuk nenek moyang, seekor untuk papanggang atau hambanya alrmahum dan seekor untuk marapu. Khusus untuk almarhum ayamnya harus berbulu merah. Ayam itu bisa jantan semua, bisa betina semua, bisa campur-campur antara jantan dan betina.

Juru bicara keluarga anamburung, Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha yang ditemui di sela-sela upacara pemakaman, menuturkan, ayam itu hanya bisa disembelih oleh ama bokol hama (pendeta marapu) atau pendampingnya. Yang menyembelih babi bisa dari salah satu ama bokol hama.

Hasil penglihatan ama bokol hama,di hati babi terdapat tanda khusus. Sedangkan tali perut ayam menunjukkan marapu memberi izin, umbu tamo juga memberi izin, almarhum sendiri ada izin, dia sudah siap menuju Parai Marapu (surga) dan papanggang atau hamba juga siap mendampingi almarhum. Yang tidak memberikan izin adalah nenek moyang yang ditandai dengan noda pada hati babi. Itu berarti masih ada akibatnya, baik keluarga dalam maupun keluarga luar. Keluarga perlu membuat upacara lagi untuk memohon ampun setelah penguburan. Jika belum diselesaikan, setiap hati babi yang disembelih pasti tetap ada tanda. Keluarga harus mencaritahu terus sampai mengetahui persoalannya mengapa nenek moyang marah. Upacara adat ini harus tuntas sehingga arwah almarhum tenang dan diterima penguasa jagat raya.

Jika diabaikan keluarga akan mendapat pahala. Seperti apa pahalanya? Baik ama bokol hama maupun tua adat lainnya tidak dapat meramalkan. Menurut Umbu Maramba Hau, pengalaman selama ini, pahalanya bisa berupa sakit, kebakaran, banjir, disambar petir bahkan kematian. Untuk menghindari hal-hal ini, keluarga akan berunding lagi dan melakukan upacara permohonan maaf kepada nenek moyang dengan menyembelih babi dan hamayang oleh ama bokol hama. Tapi untuk upacara permohonan maaf, baru akan dilakukan setelah amarah nenek moyang itu redah. Sama seperti manusia, disaat dia sedang marah sebaiknya kita jangan dulu meminta maaf, karena amarahnya akan mendidih bahkan akibatnya fatal. Bisa jadi emosinya tidak dapat dikendalikan lalu terjadi tindakan di luar yang diinginkan.

Masyarakat Sumba Timur meyakini suasana seperti itu, juga terjadi pada arwah nenek moyang. Untuk itu, dalam melakukan upacara permohonan maaf, butuh waktu jedah. Jika emosi seseorang sudah redah, mudah memaafkan. Saat itulah upacara itu dapat dilakukan. Keluarga dalam menyelenggarakan upacara permohonan maaf kepada leluhur yang marah, juga akan membaca suasana hati leluhur tersebut.

Perpisahan dan pemberian makan oleh keluarga kepada arwah orang yang meninggal dan arwah leluhur yang datang dengan cara memotong ayam (manu kanjiku reti) dan hamayang sebelum jenazah diberangkatkan ke liang lahat, merupakan penghormatan terakhir. Selain ayam, juga kuda (njara ndangang) sebagai kurban. Hati kuda diambil untuk diramal lalu dimasak pada tungku dekat uma bokul untuk dibuat sesajian, memberi makan kepada roh leluhur yang siap menjemput kedatangan arwah almarhum.

Umbu Maramba Hau menuturkan, almarhum Umbu Mehang Kunda sama sekali tidak meninggalkan pesan kepada keluarga. Keluarga juga tidak mendapat firasat kalau beliau akan meninggal dunia. Untuk itu, keluarga tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga leluhur masih marah saat dilangsungkannya tata upacara pemakaman. Kesan umum yang keluarga terima, almarhum orangnya penyayang, tidak pernah dendam, mudah memaafkan dan sederhana. Semasa hidupnya tidak pernah marah kepada keluarga. Kalaupun marah, sebentar saja, lalu memaafkannya dengan cara guyon.

Itu yang membuat keluarga betul-betul kehilangan seorang bapak, seorang tokoh panutan. Kesan seperti ini, mungkin juga dirasakan pegawai negeri di lingkup Setda Sumba Timur dan masyarakat daerah itu umumnya. (bersambung)

Selasa, 25 November 2008

Menunggu Keseriusan Polisi di NTT

Oleh Dion DB Putra
KETIKA sebagian warga masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) mungkin telah lupa dan kehabisan harapan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghidupkan kembali harapan akan datangnya keadilan di bumi Flobamora. Sesuai cara kerja mereka yang tak banyak cakap, KPK datang ke Kupang dan melakukan gelar perkara penanganan kasus-kasus korupsi di Propinsi NTT.

Empat kasus korupsi yang sebelumnya dihentikan penyidikannya oleh aparat kepolisian di NTT bakal dibuka kembali oleh KPK. Penyidikan ditangani bersama KPK dan Polda NTT. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Resese Kriminal Kepolisian Daerah NTT, AKBP Mohamad Slamet, dua dari empat kasus yang digelar hari Kamis (20/11/2008), terdapat di Kabupaten Kupang. Dua kasus lainnya di Kota Kupang dan Belu.

Keempat kasus tersebut adalah kasus korupsi pengadaan kapal ikan di Kabupaten Kupang yang merugikan negara Rp 294 juta lebih yang diduga melibatkan Bupati Kupang, Drs. IA Medah. Kasus korupsi dana operasional di DPRD Kabupaten Kupang tahun 1999-2004 yang merugikan negara Rp 1 miliar, kasus korupsi dana operasional DPRD Kota Kupang tahun anggaran (TA) 1999-2004 senilai Rp 2,5 miliar, dan kasus korupsi dana tunjangan anggota DPRD Belu TA 1999-2004 senilai Rp 954.683.382. Total kerugian negara dari keempat kasus tersebut bukan jumlah yang sedikit.

Bukan pertama kali media massa lokal NTT dan media massa nasional memberitakan kasus dugaan korupsi tersebut. Dalam catatan kita, media massa memberi ruang yang cukup memadai terhadap berita tersebut. Perkembangannya dilaporkan secara rutin. Dalam spirit transparansi dan demi penegakan hukum, pers mengungkap fakta dan data. Sejumlah komponen masyarakat juga mendukung kerja polisi dengan memberikan data pendukung serta dukungan moril. Namun, semua tahu dan maklum. Setelah BAP-nya bolak-balik sekian kali, kasus-kasus tersebut berakhir dengan SP3. Prosesnya berhenti tanpa penjelasan memadai mengapa berhenti.

Masyarakat pencari keadilan sebatas tahu bahwa penyidikan suatu kasus dihentikan (SP3) karena tidak ditemukan cukup bukti. Apabila ingin membuka kembali kasus tersebut, penyidik membutuhkan novum atau bukti baru. Seperti diakui Slamet, peluang membuka kembali kasus itu terbuka lebar sepanjang ada novum.

Menurut pandangan kita, KPK telah menunjukkan keseriusannya untuk membuka kembali kasus ini bersama penyidik Polda. Kehadiran KPK di Kupang tidak sekadar menjalani tugas rutin. Lembaga itu telah meraih kepercayaan publik yang luar biasa besar karena sikap profesional yang mereka tunjukkan. Mereka telah menunjuk bukti berupa daftar panjang para koruptor yang masuk penjara karena menggarong uang rakyat. KPK akan memantau kinerja penyidik kepolisian di NTT dalam menangani kasus-kasus tersebut.

Penyidik Polri di sini hendaknya tidak tinggal diam karena masyarakat menunggu kelanjutan aksi yang lebih konkret. Tentu dibutuhkan kerja keras dan kerja secara cerdas untuk mendapatkan bukti baru. Korupsi merupakan kasus yang rumit dan pelik. Banyak cara yang harus ditempuh guna mengumpulknan bukti agar seseorang dapat diproses atau tidak.

Menangani kasus korupsi pun menghadapi banyak kendala, cobaan dan godaan. Jika mudah putus asa dan enteng tergoda , maka kehadiran KPK menggelar ulang kasus dugaan korupsi di atas tidak ada manfaatnya apa-apa. Kita akan kembali ke persoalan yang sama yakni penyidikan kasus korupsi jalan di tempat dan mereka yang diduga terlibat hidup bebas merdeka.

Kiranya diingat bahwa catatan penegakan hukum di Nusa Tenggara Timur selama era reformasi masih jauh dari menggembirakan dan memenuhi rasa keadilan masyarakat. Khsus kasus tindak pidana korupsi, tidak sedikit pejabat publik yang lolos dari jeratan hukum. Kenyataan seperti itu tidak boleh terulang. Yang bersalah harus diproses secara hukum agar keadilan sungguh ditegakkan di tengah masyarakat Flobamora. **

Menangislah Bila Harus Menangis

Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis,
dan manusia pun bisa mengambil hikmah

KAPAN
kali Anda menangis? Saat menonton film sedih, saat bertengkar dengan kekasih, atau sudah lama tidak menangis? Seharusnya Anda tak perlu takut mencucurkan air mata. Seperti sepenggal lirik dari lagu Air Mata yang dinyanyikan oleh grup band Dewa di atas. Sebagai manusia, wajar jika kita menangis, baik pria maupun wanita. Apalagi, menangis banyak manfaatnya.

Menurut penelitian, perempuan menangis sekitar 47 kali dalam setahun, sedangkan laki-laki hanya tujuh kali. Tingginya hormon prolaktin dalam tubuh wanita diduga jadi penyebabnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan para ahli di Amerika Serikat menyebutkan, 9 dari 10 orang mengaku merasa lebih lega setelah menangis. Bahkan, para ahli juga percaya kalau menangis bisa menyembuhkan sakit dan meningkatkan kadar hormon adrenalin.

"Menangis adalah pelepasan emosi yang paling tepat saat kita tak bisa mengungkapkannya lewat kata-kata," kata Dr Simon Moore, psikolog dari London Metropolitan University. Menurut Profesor William Frey, ahli tangis dari AS, air mata yang dikeluarkan saat kita sedang emosional mengandung hormon endorphin atau stres sehingga bisa membuat perasaan lebih plong. Menangis juga diketahui bisa menurunkan tekanan darah dan denyut nadi.

Bila ada yang masih takut disebut cengeng karena menangis, sebaiknya simak manfaat dari mencucurkan air mata berikut ini.

* Minta tolong
Tak semua hal bisa diungkapkan lewat kata-kata. Demikian juga saat kita sedang membutuhkan bantuan orang lain. Saat air mata mengalir, ini bisa jadi tanda Anda butuh dibantu. Tangisan juga kerap menimbulkan rasa iba orang lain.

* Melepas stres
Setelah menangis hati yang sesak pun langsung terasa lega. Penelitian pun menunjukkan bahwa air mata yang keluar bisa melegakan rasa stres.

* Meredakan sakit
Sebuah studi yang dilakukan di Jepang menunjukkan, orang yang lebih sering menangis lebih jarang mengalami sakit encok. Para ahli menduga hal itu berkaitan dengan dikeluarkannya hormon endorphins atau hormon antisakit saat kita menangis.

* Lebih kuat
Selama dan setelah menangis kita akan menarik napas dalam sehingga kadar oksigen dalam darah meningkat. Hal ini akan membuat mental dan fisik terasa lebih kuat.

Melihat banyaknya manfaat dari tangisan, para peneliti di AS kini merekomendasikan terapi menangis untuk orang-orang tertentu, terutama mereka yang punya kesulitan dalam mengekspresikan emosinya. (the sun)

Tinggal Sesaat Kami Melihat Tuan...

Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (2)

Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad

PENGANUT kepercayaan marapu meyakini kematian sebagai peristiwa penting dalam kehidupan seseorang menuju kebahagiaan sejati. Walau sudah dibaptis menjadi penganut Kristen, baik Protestan maupun Katolik, masyarakat Sumba Timur khususnya dan Sumba umumnya, masih meyakini kepercayaan warisan leluhur itu, sehingga setiap kematian, tata upacara pemakaman dilakukan secara marapu.

Ada yang melakukan seremoni itu secara sederhana, ada pula yang spektakuler dengan memotong ratusan ekor hewan, dihadiri ratusan rombongan adat. Semuanya tergantung strata sosial di masyarakat. Yang jelas tata upacara pemakaman umbu maramba berbeda dengan hamba atau papanggang. Jika yang meninggal dunia keturunan bangsawan atau raja, apalagi ekonomi sanak keluarga tergolong mampu, maka tata upacaranya betul-betul spektakuler. Meriah, gegap gempita. Prestise keluarga dipertaruhkan.

Bagi pemeluk marapu, upacara pemakaman atau penguburan merupakan saat-saat penting untuk melapangkan jalan arwah ke Parai Marapu (surga). Diyakini seseorang tidak dapat menuju Parai Marapu jika tidak ada pertolongan dari leluhur sehingga perlu dilakukan upacara menurut adat istiadat di tanah seribu batu kubur itu. Besarnya arti kematian dapat dilihat dari megahnya kubur megalitik atau batu kubur. Kemewahan sebuah upacara penguburan bervariasi, tergantung status sosial orang yang meninggal dan kemampuan ekonomi keluarga yang menyelenggarakan upacara pemakaman itu. Semakin mampu keluarga yang meninggal semakin megah batu kuburnya dan semakin mahal ongkosnya.

Walau peradaban bangsa ini sudah maju, masyarakat Sumba Timur khususnya dan Sumba umumnya, tetap melestarikan tata upacara pemakaman warisan leluhur tanah marapu itu. Kepercayaan terhadap tata upacara pemakaman marapu tak pernah memandang jabatan, pangkat dan status sosial semasa hidup. Bagi masyarakat Sumba Timur, kematian adalah urusan keluarga, urusan marga sehingga embel-embel jabatan yang diemban semasa hidup ditanggalkan, apalagi strata sosial orang yang mati berasal dari keluarga bangsawan atau turunan raja seperti Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur periode 2005-2010 yang meninggal dunia Sabtu 2 Agustus 2008 lalu.

Jenazah Umbu Mehang Kunda disimpan selama 102 hari di uma bokul (rumah besar) di Kampung Prai Awang, Rende, dan baru dimakamkan Senin, 10 November 2008, melalui prosesi adat marapu pemakaman raja-raja Sumba. Semalam sebelum jazad almarhum dihantar ke liang lahat, dilantunkan kisah hidup dan silsilah almarhum Umbu Mehang Kunda melalui nyanyian oleh para wunang (juru bicara) diikuti tangisan papanggang (hamba) perempuan di samping kiri dan kanan jenazah yang disemayamkan di uma bokul (rumah adat).

Para wunang duduk berjejer di balai-balai uma bokul, tepat di pintu masuk menuju tempat persemayaman jenazah. Syair-syair adat dengan bahasa yang dalam dan sulit diterjemahkan terus dilantunkan. Iramanya seperti kidung kematian diawali dengan nada yang sangat tinggi, semakin larut malam nadanya semakin menurun, merdu dan haru. Koor dan solo sahut menyahut diiringi gong irama kandaki manaih.

Menurut Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha, juru bicara keluarga anamburung, nyanyian para wunang selain mengisahkan turun temurun dan perjalanan hidup almarhum, juga memohon kepada Mawulu Tau Maji Tau (sang pencipta manusia yang digambarkan sebagai perempuan yang disebut Ina Pakawurungu (ibu sejagat raya) dan Ama Pakawurungu yang disebut ama ndaba (bapak sejagat raya). Masyarakat Sumba Timur yang masih meyakini kepercayaan marapu percaya kalau Ina mbulu dan Ama ndaba adalah orang yang bermata dan bertelinga besar, Na mabakulu wua mata-na ma mbalaru kahilu, yang dapat melihat dan mendengar dengan sempurna apa yang dikatakan atau permohonan orang hidup dan mengetahui setiap perbuatan manusia. Mereka itulah yang memberikan kesuburan dan kesejahteraan di bumi sandelwood.

Sedangkan tangisan papanggang wanita menyesali mengapa armarhum meninggal. Bagaimana sudah? "Kami tak berkuasa melepas kepergian tuan, kami hanyalah manusia biasa, kami hanyalah orang tak berdaya, yang kami miliki hanyalah tangisan." Saat menangis para papanggang juga memohon kepada Ina mbulu dan Ama ndaba untuk mendengar keluh kesah dan melihat duka nestapa yang mereka alami. Mereka sudah tak berdaya karena ditinggal pergi sang raja, tuan yang dihormati dan disegani, tuan yang mengayomi mereka. Tangisan ini dilantunkan sejak jenazah almarhum disemayamkan di uma bokul.

Semalam sebelum jenazah dihantar ke liang lahat, para papanggang semakin sedih. "Tinggal semalam kami menyembah tuan, tinggal sesaat kami melihat tuan, sebentar lagi tuan akan pergi, pergi meninggalkan kami. Kami siap mengantar tuan menuju alam yang sejahtera."

Menurut Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha, itulah isi singkat dari nyanyian para wunang dan tangisan papanggang menjelang hari pemakaman jenazah almarhum. Nyanyian dan tangisan ini, katanya, bukan hanya untuk almarhum Umbu Mehang Kunda, tapi untuk kematian bangsawan atau raja-raja lain. Cuma pesan yang disampaikan sesuai dengan kesan semasa hidup.

Almarhum Umbu Mehang Kunda adalah orang yang menentang pemberlakukan kasta antara bangsawan dengan papanggang atau hamba. Sejak almarhum menjabat Bupati Sumba Timur tahun 2000, dia melarang kultur pemakaman raja-raja yang diikuti dengan papanggang atau hamba, karena melanggar hak asasi manusia. Ini dibuktikan ketika beliau dimakamkan. Tidak ada papanggang atau hamba setia yang ikut dikuburkan bersama beliau.

Menurut Umbu Maramba Hau, semasa hidupnya Mehang Kunda melarang raja-raja di Sumba Timur mati membawa hamba atau papanggang. Beliau meminta keluarga anamburung memberikan contoh. Apalagi keluarga anamburung telah mengharamkan itu sejak nenek moyang mereka. Keluarga anamburung sangat menghormati dan menghargai sesama manusia sehingga tidak membiasakan raja mati diikuti hamba setia.

Kembali ke nyanyian para wunang dan tangis papanggang. Kidung-kidung yang dilantunkan para wunang juga memohon ampun atas salah dan dosa almarhum semasa hidup dan meminta sang penguasa jagat memberikan jalan yang lebar agar arwahnya tak terhambat saat menuju Prai Marapu (surga).

Malam itu juga disembelih seekor babi jantan dan lima ekor ayam untuk dilihat hati dan tali perutnya. Hati babi dan tali perut ayam Ama bokol hama (Pendeta Marapu) untuk mengetahui isi hati almarhum kepada sanak keluarga yang ditinggalkan. Jika almarhum atau nenek moyang marah, hati babi atau tali perut ayam memberi tanda khusus. Seperti apa hasilnya? (bersambung)

SYALOM