Jumat, 08 Agustus 2008

Eltari Cup: Say No To Drugs

(Catatan Ringan di tengah penyelenggaraan Eltari Cup 2007 )

Oleh : Gabriel Adur

Bola Kaki bukan sekedar sebuah olah raga tetapi juga merupakan sebuah agama dan kepercayaan baru umat manusia. Bahkan sekarang Bola Kaki menjadi Opium bagi manusia, (Er ist heute das wirkliche Opium des Volkes) demikian komentar Umberto Eco, penulis dan Filsuf berkebangsaan Italia itu. Pernyataan sang Filsuf di atas, mau menjelaskan bahwa Bola Kaki sebagai sebuah olah raga yang menyedot perhatian hampir seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia pada dasarnya baik dan mulia, tetapi bola kaki kadang-kadang membuat orang melek terhadap nilai-nilai positif yang disabdakan oleh olah raga ini.

Bola Kaki : Opium bagi Manusia

Bola kaki adalah sebuah penemuan yang sangat fantastis untuk kehidupan kita hingga saat ini. Penemuan ini bahkan menjadi sebuah penemuan yang melahirkan berbagai keajabain baru. Bola kaki, memberikan sejuta inspirasi untuk mempererat tali persaudaraan antara umat manusia.

Untuk mencapai tujuan ini, maka lahir ide untuk menyelenggarakan Piala Dunia Bola Kaki oleh Carl Anton Willem Hirschmann pada Kongres FIFA kedua pada 28 Mei 1930. Untuk merealisasikan Keberpihakan pada persahabatan universal manusia ini, maka sejak tahun 1930 (Piala Dunia pertama di Uruguay) sampai 2006 di German (yang merupakan penyelenggaraan piala dunia ke 18) seluruh umat manusia menyelenggarakan pesta kemanusiaan- lewat Bola Kaki. Di sini, bola kaki menjadi sebuah alternative global yang beroreintasi pada kemanusiaan.

Sejalan dengan perkembangan waktu Bola Kaki menjadi sebuah olah raga yang menjanjikan keuntungan ekonomis dan bisnis yang membutuhkan investasi. Di sini, Bola Kaki menjadi sebuah orientasi bisnis demi keuntungan ekonomis. Tak heran dalam klub-klub elite di Eropa, sebagai contoh yang signifikan, merekrut para pemain yang didatangkan dari berbagai bangsa dengan daya beli yang tinggi berdasarkan daya dan kualitas permainan sang pemain.

Di samping itu, stadion-stadion bola dari setiap klub dibangun di tempat-tempat strategis seperti dekat dengan Bandara Udara atau paling kurang tidak jauh dari Stasiun-stasiun kereta. Stadion-stadion Bola kaki di Eropa misalnya, menjadi Kathedral bagi pemain dan fans-fans bola yang selalu penuh dan sering dikunjungi. Di mana mereka bisa mengidungkan nyanyian dan pujian yang dimadahkan untuk para bintang. Di samping itu mereka membangun sistem bisnis tersendiri yang mengandalkan bakat dan talenta pemain bintang dan membangun budaya fans yang sangat apik. Transaksi pemain juga menjadi sebuah alternative untuk membangun eksistensi klub ke depan (Klaus Schmech, Titel, Tore und Transaktion). Di sinilah bola kaki tidak hanya bersifat politik tetapi juga bernilai ekonomis.

Dengan berorientasi pada keuntungan bisnis perlahan bola kaki mengalami evolusi makna. Para pemain yang dibeli dengan bayaran tinggi bermain dengan target untuk memenangkan pertandingan. Dengan berbagai cara seperti memprovokasi lawan dan pelanggaran yang bisa mencedrakan lawan mereka berusaha untuk menang( ingat Kasus Tandukan Maut Zidane dan Matterasi pada piala dunia 2006). Manajer klub berupaya dengan keras untuk memprovokasi dan mempengaruhi wasit (contoh kasus adalah Mafia Perwasitan di Liga Italia tahun 2006). Kehendak Untuk Menang dari Fans bagi team-team kesayangan mereka menciptkan masalah tersendiri. Bagi mereka yang terbaik adalah klub kesayangan mereka. Tifosi Italia dan The Holligans dari Inggris, misalnya, sering menciptakan kekacauan kalau team mereka kalah.

Di sini orang tidak lagi sadar atau melek terhadap nilai-nila positif dari olah raga ini seperti persaudaraan, solidaritas, dan persahabatan. Justeru inilah opium-opium yang membuat citra persepakbolaan menjadi rusak. Dengan itu di Liga Spanyol Ronaldinho dan Samuel Etho, Luzio dan Zee Roberto di Liga German menjadi motivator yang intens untuk berkampanye melawan bentuk kekerasan dan rasismus melalui bola kaki. Mereka menyatakan penolakan terhadap berbagai bentuk kekerasan dalam bola kaki. Hal ini tentu disambut dengan hangat oleh publik untuk tetap menjaga kualitas persepakbolaan dunia.

Eltari Cup, Kita (t)Orang Bersaudara!

Eltari Cup kembali digelar. Moment ini menjadi sebuah moment yang selalu dinantikan dan dirindukan oleh pencinta bola dan seluruh masyarakat NTT. Tentunya orang merindukan tarian para bintang yang memperlihatkan kelincahan mereka menari Ja,i, menari ndundundake, berokatenda-ria, menari hedung, berdolo-dolo ria, berdansa tombak-ria dan menari Likurai di hadapan publik dan pencinta bola di NTT. Eltari Cup tidak sekedar menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan orang NTT tetapi juga merupakan sebuah pesta rakyat yang memperat kerukunan dan persaudaraan.

Beberapa Makna Penantian dari penyelenggaraan Eltari Cup.

Pertama, Eltari Cup sebagai olah raga rakyat NTT membawa sabda bahwa dengan moment akbar ini, kita sadar, kita orang NTT masih bersaudara. Di sinilah Eltari Cup memiliki pesan yang bermakna untuk menata kembali silahturahmi masyarakat NTT yang mungkin sering terprovokasi oleh berbagai sentimen suku, kelompok , golongan dan mungkin terus menerus menjadi lawan bagi yang lain oleh brutalisme dan wandalisme politikus yang mencari keuntungan diri dengan cara memprovokasi masyarakat. Pesan kemanusiaan ini juga menuntut tanggungjawab dan kesadaran dari pencinta bola NTT untuk tidak hanya membangun budaya fans yang mengutamkan kehendak untuk Menang yang tinggi dan membenarkan segala cara, tetapi tetap menjaga keutuahan dan kesetiakawanan yang utuh. Dengan demikian kekerasan dan brutalisme dapat dihindari selama Eltari Cup diselenggarakan.

Kedua, sabda kedua yang dibawa oleh Eltari Cup mendatang dapat diformulasikan dengan kalimat ini , Eltari Cup: Say no to Drugs. Ungkapan ini adalah sebuah seruan yang perlu ditindaklanjut oleh para pemain, pengurus klub, penyelenggara dan publik NTT, karena ingat bahwa Eltari Cup adalah saat untuk mengidungkan lagu-lagu persaudaraan orang NTT dan menarikan tarian-tarian kehidupan sebagai orang NTT.

Ketiga, Eltari Cup bukanlah opium-opium atau Drugs yang membuat kita melek akan nilai-nila luhur dari sepak bola. Dengan demikian kita bisa secara bahu membahu memperbaiki kualitas persepakbolaan kita di NTT. Perbaikan kualitas dan jaminan hidup para pemain yang merupakan pejuang-pejuang di Lapangan hijau dan harapan tanah NTT. Perbaikan kualitas perwasitan demi sebuah jaminan dan rasa aman selama pertandingan berjalan. Perbaikan kualitas penyelenggaran dan pengurus klub untuk selalu menata persepakbolaan NTT secara profesional dengan menekankan spotivitasa dan kerja-keras. Di samping itu moment ini merupakan salah satu bentuk pengujian terhadap kualitas mental publik dan pencinta bola NTT, apakah kita sudah lebih sportif dan mengutamakan nilai persahabatan sebagai orang NTT, ataukah masih memelihara mentalitas yang selalu melihat orang lain sebagai lawan yang harus dibinasakan.

Mentalitas publik yang sportif dan menghargai persahabatan dari publik NTT sangat penting, agar tidak terulang kembali kesalahan –kesalahan masa lampau. Eltari Cup diselenggarakan dari kita oleh kita dan untuk kita. inilah saatnya kita berdendang dan bernyanyi bersama.Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi yang melakukan hal itu. Vini, vidi, vici. VIVA NTT. (*)

Simplisius Paji Abe Spektakuler


LUAR biasa! Pujian ini patut diberikan kepada atlet cacat NTT, Simplisius Paji Abe. Setelah sukses merebut medali emas nomor lari 100 dan 200 meter, atlet tunadaksa ini kembali merebut medali emas nomor lompat jauh Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) 2008, dalam lomba di Stadion Utama Palaran, Samarinda-Kalimantan Timur, Rabu (6/8/2008).

Wakil Sekretaris Umum KONI Propinsi NTT, Eduard Setty, dari Samarinda, usai lomba mengatakan, dengan hasil ini, Simplisius sudah berhasil merebut tiga medali emas. Simplisius merebut medali emas lompat jauh tunadaksa, dengan jarak lompatan, 5,05 meter. Medali perak direbut Rasydin (Aceh), dengan jarak lompatan 4.82 meter dan perunggu, Decky dari Sulawesi Utara, dengan jauh lompatan 4,70 meter.

"Ini adalah hasil yang sangat spektakuler. Seorang atlet cacat bisa merebut tiga medali emas sama seperti yang diraih atlet normal. Saya pikir prestasi ini harus dihargai dengan sepantasnya," ujar Setty.

Simplisius yang dihubungi melalui pelatihnya, Budi, tidak mau berkomentar banyak tentang prestasi yang diraihnya tersebut. "Dia hanya ingin berbuat yang terbaik bagi NTT sesuai kemampuan yang dimilikinya. Dia hanya ingin agar dengan prestasi yang telah dicapainya ini mendapat perhatian dari pemerintah. Dia tidak butuh sanjungan dan pujian, tapi dia ingin diberikan pekerjaan yang layak sesuai dengan sertifikasi yang dimilikinya, yakni service alat-alat elektronika," ujar Budi.

Menurut Eduard Setty, selain prestasi Simplisius, NTT juga mendapat tambahan satu medali perak dan satu perunggu. Medali perak direbut Maria Kolloh dari nomor lari 400 meter tunarungu dan perunggu oleh Tanty Yosefa juga dari 400 meter tunarungu. Medali emas nomor ini direbut oleh Sulastri dari Jambi.

"Peluang merebut medali masih terbuka bagi NTT, karena besok (hari ini) Damianus dan Lembert masih akan tampil di nomor lompat jauh tunadaksa. Saat ini mereka sangat siap untuk bertanding, sehingga kita harapkan jangan ada halangan non teknis seperti Sarlin Amalo yang cedera kaki," ujar Setty. (eko)

Data Diri
Nama : Simplisius Paji Abe
Lahir : Adonara, 13 Mei 1981
Keterampilan : Service eletronika
Cabang : Atletik
Prestasi : Porcanas 2004 di Palembang, medali emas lari 100 meter dan lompat jauh. ASEAN Paragame 2005, medali emas lari 100 meter dan lompat jauh, medali perak lari 200 meter. Porcanas 2008 di Samarida, medali emas lari 100, 200 meter dan lompat jauh.

PSKK Harus Jadi Klub Yang di Segani di NTT

PERSATUAN Sepak Bola Kota Kupang (PSKK) berobsesi menjadi sebuah klub yang tangguh dan disegani oleh klub-klub lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam setiap turnamen sepak bola di provinsi kepulauan ini.

"Untuk mewujudkan obsesi tersebut, tidak ada pilihan lain kecuali melakukan turnamen atau kompetisi secara teratur dan berkelanjutan antarklub yang ada di Kota Kupang guna menjaring bibit-bibit pesepakbola berbakat di kota ini," kata Manajer Pertandingan Dji Sam Soe-HU Pos Kupang Cup I, Danang Pemungkas di Kupang, Jumat (19/08).

Dia mengemukakan hal ini berkaitan dengan keinginan PT HM Sampoerna Cabang Kupang bekerjasama dengan Harian Umum Pos Kupang dan Mitra Sportindo sebagai Event Organizer menyelenggarakan turnamen sepakbola antarklub di Kota Kupang.

Turnamen yang diikuti 16 klub di Kota Kupang itu akan berlangsung dari 21 Agustus-8 September mendatang.

"Kota Kupang sangat potensial, tetapi karena kurangnya kompetisi, sehingga potensi yang tersedia tidak bisa dipadukan menjadi sebuah tim yang tangguh dan disegani," kata Danang yang didampingi Pemimpin Redaksi HU Pos Kupang, Dion DB Putra dan Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni.

Karena itu, PT HM Sampoerna sebagai sebuah perusahan yang sudah sejak lama memiliki komitmen untuk memajukan olahraga di Tanah Air merasa terpanggil untuk membangun olahraga di NTT, khususnya sepak bola.

Turnamen ini diharapkan dapat mengilhami lahirnya embrio jalannya kompetisi secara terencana, berkala dan berkesinambungan, dengan didukung manajemen yang profesional untuk membangun sebuah tim yang solid, handal dan berkualitas.

Selain itu, dari turnamen ini pula akan lahir bibit-bibit atau atlet berbakat yang nantinya bisa direkrut untuk memperkuat PSKK di turnamen antarperserikatan di NTT maupun di tingkat nasional, kata Danang.

Pemimpin Redaksi Harian Umum Pos Kupang, Dion DB Putra menambahkan, tanggungjawab pembinaan olahraga tidak bisa lagi dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah.

"Semua komponen masyarakat harus terlibat aktif untuk secara bersama-sama membangun olahraga di daerah ini. Jangan tunggu pemerintah, karena pemerintah juga punya keterbatasan dalam membangun dunia olahraga," katanya.

Dia berharap, turnamen ini bisa berjalan secara berkesinambungan setiap tahun agar sepakbola Kota Kupang yang sudah mati suri selama ini bisa bangkit dan menjadi tim yang paling disegani di NTT.

"Masyarakat Kota Kupang sangat rindu melihat PSKK menjadi klub yang disegani di NTT seperti ketika empat kali berturut-turut menjuarai El Tari Memorial Cup pada 1988, 1991, 1993 dan 1995. Masyarakat Kota Kupang tidak ingin PSKK hanya menjadi sumber poin bagi tim lain," kata Dion Putra. (eko)

Tergantung strategi

KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhammad Wongso, dengan mata berbinar-binar bercerita tentang betapa fanatiknya orang Lamahala-Adonara ketika bercerita sepakbola. Tak heran kalau sebagai penasehat Persatuan Sepakbola (PS) Perselaya-Lamahala, Muhammad Wongso, ingin agar timnya bisa merasakan ketatnya persaingan dalam turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007.

Sebagai tokoh pemuda, Wongso sangat yakin bahwa lewat olahraga generasi muda bisa diajak untuk membangun. Tak heran kalau dia sangat mengagungkan sportivitas dan kualitas. "Sepakbola bukan tawuran atau perkelahian. Tunjukan kualitas dan sportivitas, baru kamu bisa disebut pemain hebat," kata Wongso.

Wongso tidak main-main dengan ucapannya. Buktinya, PS Perselaya-Lamahala adalah tim pertama dari luar Kota Kupang yang tiba di Kupang. Bersama Britama Kupang, Putra Nagekeo dan Mandiri FC, PS Perselaya akan tergabung di Grup D. Ketat dan berkualitas. Kualitas, skill, teknik dan pengalaman akan jadi tontonan.

Di sini, Britama Kupang dan Mandiri FC akan berusaha mempertahankan gengsi sepakbola Kota Kupang. Sementara Pserselaya-Lamahala dan Putra Nagekeo ingin berkata bahwa sepakbola bukan lagi milik Kota Kupang. Bukan tanpa kualitas ketika PS Perselaya-Lamahala mengungkapkan optimismenya. Siapa tak kenal Subhan Goran Tokan, Ardy Pukan, Kaharuddin Ali, Syukur, Santos dan Firdaus Tokan, dalam sepakbola NTT? Itu berarti, mereka sudah berhitung tentang apa yang harus dilakukannya di Kupang. Britama, Mandiri dan Nagekeo bukan tim sembarangan.

Bagaimana dengan Britama Kupang? Dari tiga kali penyelenggaraannya, tim ini selalu menuai protes terutama perekrutan pemainnya. Kalau tahun lalu, Castello Branco menuai protes dari AS Roma, kini mereka kembali diprotes. Setelah Keny Mau ‘dirmapas’ Britama tahun lalu, kini pelatih Sandelwood, Paul Ngongo Billi sudah tak tahan lagi ketika Adrianus Adi dan Bambang Tokan ikut hengkang. Namun, apa mau dikata oleh Ngongo Billi, ketika Adi dan Bambang lebih memilih Britama.

Nama Britama adalah kualitas. Ketika sang kapten, Kristoforus Umbu Yogar, dan pelatihnya, Mathias Bisinglasi hadir di lapangan tidak ada satu pun yang bisa meragukan kemampuan mereka. Ferdy Pere, Thimos Hayon, Kiser Mbou, Ridwan Kamahi, Jimi Lebao, Pieter Kellan, dan lainnya bisa berbuat apa saja ketika bola ada di kakinya.

Namun, jangan bilang kalau mereka bisa mulus. Bukan saja dari PS Perselaya-Lamahala tetapi dari Mandiri FC. Pada Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2005, Mandiri menjegal Britama Kupang di semifinal. Pada Menpora Cup 2006 lalu, Mandiri juga mengalahkan Britama Kupang di perebutan tempat ketiga. Apakah Mandiri adalah penjegal Britama?

Jawabannya ada pada Lukman Hakim dan skuadnya. Mengaku memiliki strategi sederhana yang tidak dimiliki tim lainnya, Lukman Hakim lebih banyak mengandalkan pemain berpengalaman. Pieter Fomeni, Mujibu Rahman, Zulkifly Umar, Ismail, Ivan, Ronald Muchtar, Lambert Kadju, Atus dan lainnya adalah senior dalam sepakbola Kota Kupang. Stamina boleh kalah, namun mereka tahu bagaimana mencetak gol. "Kami selalu berusaha untuk memanfaatkan semua peluang menjadi gol. Kami akan bermain sebagai underdog karena kami tahu bahwa lawan-lawan kali ini sangat berkualitas," kata Lukman Hakim.

Satu tim di Grup D ini yang layak masuk hitungan adalah Putra Nagekeo. Dukungan Pemkab Nagekeo kepada tim ini tidak main-main. "Kami ingin Nagekeo selalu muncul dalam bidang apa saja. Kalah menang bukan persoalan, yang terutama adalah bagaimana memunculkan Nagekeo," kata Sekab Nagekeo, Elpi Parera.

Itu kata-kata seorang pejabat. Kehadiran Putra Nagekeo tidak bisa dilihat sebagai pelengkap. Felix Dando dan Helmon Liko adalah dedengkot dalam sepakbola NTT. Mereka tentuk sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk Putra Nagekeo. Samuel Dando, Thomas Gotha, Awin Soba, Mus Nanga, Maskur, Beny Wasa, Markus, Mikel, Mekos, Jaga, Lopez, Gusty, Bento, Kletus Ghabe, Tadeus Wala, Yolis Poro, Man Baker dan Daud Ndiwa akan menjadi andalan.

Berhitung tentang peluang lolos dari Grup D ini memang berat. Semua berkualitas. Di sini, keberuntungan dan strategi akan menjadi andalan. Ketika di grup lain ada tim yang lebih diunggulkan, untuk Grup D harus berhitung dulu sebelum menentukan unggulan. Satu yang harus diperhatikan adalah sportifitas. Kambing hitam jangan jadi alasan ketika kalah. Spekulasi boleh dilakukan. Kematangan pemain boleh jadi andalan, tetapi kemenangan akan menjadi mahal. Kita lihat saja. (sipri seko)

Kurniawan, Olga dan Eko launching Pos Kupang Cup 2007

MENURUT rencana, hari ini Jumat (22/6/2007), akan diadakan launching (peluncuran) turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007 di Hotel Kristal Kupang. Launching yang digelar pukul 19.00 Wita itu akan dihadiri artis nasional Olga Lydia dan Eko Bebek, striker timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, tokoh olahraga NTT, pemain klub peserta dan komunitas masyarakat gila bola (Mas Gibol). Demikian diinformasikan panitia pelaksana dari Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni, di Kupang, Kamis (21/6/2007).

"Sebelumnya, kami berencana mendatangkan Rony Patinasarani, namun dia ditugaskan oleh PSSI Pusat ke Thailand. Namun, Kurniawan Dwi Yulianto, Olga Lydia dan Eko Bebek tetap akan hadir. Kami harapkan kehadiran mereka, selain menambah semaraknya turnamen, juga dapat memberikan masukan-masukan tentang pembinaan sepakbola yang baik. Untuk itu, kami juga mengundang tokoh-tokoh olahraga, pemain sepakbola dan pengurus PSSI di NTT untuk terlibat dalam acara ini," kata Pieter.

Menurut Pieter, sebelum launching di Hotel Kristal Kupang, Kurniawan, Olga dan Eko akan berkunjung ke Redaksi SKH Pos Kupang. Kunjungan tersebut, kata Pieter, selain untuk silaturahmi, juga untuk berdiskusi dengan para reporter Pos Kupang tentang sepakbola, entertain dan lain-lain.

Mengenai launching, kata Pieter, sebelum acara ‘baomong bola’ yang melibatkan Kurniawan, Olga dan Eko, akan ada acara perkenalan klub peserta. "Kami harapkan semua kapten, pelatih dan manajer klub peserta hadir, karena perkenalan klub ini sangat penting. Ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi kami ingin agar para pemain termotivasi dan benar-benar menyatu serta memiliki turnamen ini," kata Pieter.

Sebelumnya, pada Kamis petang, panitia bersama salah satu sponsornya, Telkom Flexi, mengarak piala bergilir Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007 mengelilingi Kota Kupang. Menurut panitia pelaksana, Abdul Muis dan Ven Helmy, arak-arakan tersebut adalah bagian dari aktivasi untuk menggelorakan semangat menyambut penyelenggaraan turnamen. (eko)

Ditunda Hingga 23 Agustus

PENGERJAAN lintasan atletik di Stadion Oepoi Kupang yang baru akan berakhir tanggal 20 Agustus membuat turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 harus ditunda. Pertandingan baru akan digelar tanggal 23 Agustus. Demikian ketua panitia dari Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni di Stadion Oepoi, Minggu (27/7/2008).
"Sesuai jadwal seharusnya turnamen ini selesai tanggal 16 Agustus, namun karena ada pengerjaan lintasan sintetis berstandar internasional, maka turnamen harus ditunda. Sesuai pemberitahuan yang kami terima dari pengelola stadion, pengerjaan baru akan selesai tanggal 20 Agustus, sehingga turnamen baru akan digelar lagi tanggal 23 Agustus," jelas Pieter.
Terkait penundaan ini, Pieter mengatakan, telah disepakati oleh 16 klub peserta. "Klub-klub menyadari kondisi ini sehingga semuanya sepakat. Dan, karena ada konsekuensi terhadap dana bagi klub peserta, maka untuk klub dari Flores saat ini mereka belum datang. Kepada mereka, kami sudah beritahukan tentang kondisi ini sehingga mereka juga tidak datang untuk ikut pembukaan," jelasnya.
Dalam rentang waktu ini, Pieter mengatakan, klub-klub diminta untuk terus meningkatkan latihannya. "Undian grup sudah dilakukan sehingga kami persilahkan kepada klub-klub yang ada di Kota Kupang ini untuk saling ujitanding," ujarnya. (eko)

Platina Kalahkan Britama 2-1

PLATINA FC menang 2-1 atas PS Britama Kupang dalam pertandingan ujicoba turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008, di Stadion Oepoi Kupang, Minggu (27/7/2008). Pertandingan resmi baru akan digelar tanggal 23 Agustus karena saat ini sedang dibangun lintasan sintetis di Stadion.

Pertandingan antara Britama melawan Platina yang dipandu wasit Yudikar Praing ini berlangsung ketat. Kedua tim yang diunggulkan untuk menjuarai turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 ini langsung menurunkan pemain terbaiknya. Britama menurunkan Umbu Yogar, Dody Lisnahan, Kiser Mbou, Yusuf Mahemba, Pinto Fernandez, Borju, Marcel Bitol, Jilet, Adrianus Adi, Digo Maradona dan Qadar Malik. Sementara Platina menurunkan Adi, Jabur, Leandro, Pinto, Nelis, Ardi, Novan, Thomas, Frans, Atus dan Zola. Babak pertama berakhir tanpa gol.

Di babak kedua, Britama, tim asuhan Mathias Bisinglasi lebih dulu menekan. Umbu Yogar dan Adrianus Adi berhasil membangun serangan dari lini tengah. Dan, ketika pertandingan memasuki menit kesepuluh, pelanggaran keras dilakukan Nelis terhadap Digo Maradona di dalam kotak penalti. Adrianus Adi yang melakukan tendangan penalti berhasil merobek gawang Platina.

Ketinggalan, Platina melakukan beberapa pergantian di antaranya dengan menarik Novan untuk memasukkan Ardiansyah. Beberapa saat kemudian, Zola yang ditarik menjadi penyerang sayap berhasil menyundul bola tendangan sudut Thomas Gotha untuk menyamakan kedudukan.

Pertandingan menjadi menarik ketika Platina lebih menekan ke pertahanan Britama. Yusuf Mahemba dan Kiser Mbou pun dipaksa berjibaku menjaga daerah pertahanannya. Meski demikian, gawang Dody akhirnya bobol. Berawal dari umpan sayap Thomas Gotha, Dody tidak sempurna menangkap bola. Bola liar jatuh tepat di kaki Zola dan dengan mudah menjebol gawang Britama yang sudah kosong.

Saat kedudukan 2-1 untuk Platina, jalannya permainan justru menjadi monoton. Stamina yang nampak belum prima membuat serangan dan tekanan mulai melemah. Dan, hingga Yudikar meniup pluit panjang tak ada gol tambahan. (eko)

NTT Peringkat 18 Porcanas XIII 2008


HINGGA pertandingan dan perlombaan, Kamis (7/8/2008), NTT berada di posisi 18 klasemen sementara perolehan medali Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) XIII 2008. NTT meraup tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu. Demikian diinformasikan Wakil Sekretaris Umum KONI Propinsi NTT, Eduard Setty, dari Samarinda, Kalimantan Timur.

"Pada perlombaan hari ini (kemarin) Lambertus dan Damianus tidak berhasil merebut medali di nomor lompat jauh. Demikian juga dengan Victor Haning dari cabang catur. Dengan demikian, semua atlet NTT sudah selesai bertanding dan akan membawa pulang tiga medali emas, satu perak dan satu perunggu," jelasnya.

Tiga medali emas NTT semuanya disabet Simplisius Paji Abe dari cabang atletik nomor lari 100 dan 200 meter serta nomor lompat jauh. Medali perak direbut Maria Kolloh dari nomor lari 400 meter, sedangkan perunggu oleh Tanty Yosefa juga dari nomor lari 400 meter putri tunarungu.

Dalam Porcanas XIII 2008 ini, NTT membawa sepuluh atlet, yakni dari cabang atletik, Simplisius Paji Abe, Damianus Kia Masan, Lambert Sabon Blaon, Sarlin Amalo, Maria Kolloh, Tanty Yosefa, Heidi Julia Rafael dan Alexander Amtiran. Dari cabang catur, Victor Haning dan Samuel Killa.

"Atlet NTT akan kembali ke Kupang tanggal 10 Agustus ini. Mereka akan langsung disambut Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay dan semua pengurus KONI di Bandara El Tari Kupang. Belum ada keputusan berapa dan berupa apa bonus yang diberikan kepada para peraih medali, tapi yang jelas pasti akan ada bonus yang diberikan," kata Setty. (eko)

Kalau Aparat Bermain Mata.....


Dari Forum Silaturahmi Media Massa Anti Narkoba

Oleh Kanis Jehola

JIDAT Karni Ilyas mengkerut saat membedah materi berjudul "Membangun komitmen media massa sebagai sarana informasi edukatif Program P4GN (Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba)."

Pemimpin Redaksi TVOne itu mempertanyakan mengapa kasus penyalahgunaan narkoba di negeri ini semakin hari makin banyak. Para pelakunya tidak jera. Bahkan kuantitas dan kualitas kasus ini mengalami pertumbuhan yang signifikan. Padahal, dari berita yang dilansir media massa, baik cetak maupun elektronik, hampir setiap hari terjadi penangkapan para pengguna narkoba.

Keheranan Karni ini bukannya tanpa alasan. Sebagaimana dilaporkan GATRA dalam edisi No.32 Tahun XIV, 19-25 Juni 2008, pada tahun 1980-an, Indonesia hanya dianggap sebagai daerah transit narkoba menuju wilayah peredarannya di Australia dan Eropa. Namun sejak tahun 2000, Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu produsen sekaligus sebagai pasar besar narkoba. Julukan ini mulai melekat setelah ditemukan sejumlah pabrik narkoba beroperasi di tanah Air. Temuan menggemparkan terjadi tahun 2002 ketika polisi menggerebek pabrik ekstasi di Cikande, Tangerang milik Ang Kim Soei yang diperkirakan telah memproduksi 27 juta butir ekstasi.

Perkembangan kasus ini mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dalam rentang waktu lima tahun terakhir, grafik perkembangan kasus ini memang meningkat sangat tajam. Sekretaris BNN, Drs. H Sri Soegiarto dalam laporannya pada forum silaturahmi media massa anti narkoba di Jakarta, 10 Juli 2008, mengatakan, pada tahun 2003 terjadi 7.140 kasus dengan jumlah tersangka 9.717 orang. Pada tahun 2007, jumlahnya melonjak menjadi 22.630 kasus dengan jumlah tersangka 36.169 orang. Dan, pada periode Januari - April 2008 telah terungkap 9.096 kasus dengan 11.960 orang tersangka.

Ini baru kasus yang berhasil diungkap dan muncul ke permukaan. Jika ditelusuri, kasus penyalahgunaan narkoba ini ibarat gunung es. Yang berada di bawah permukaan/tersembunyi jauh lebih banyak dari yang muncul ke permukaan. "Diperkirakan kasus peredaran narkoba yang terungkap baru sekitar 10 persen dari yang sesungguhnya," kata Ketua Gerakan Nasional Anti-Narkotika (Granat), Henry Yosodiningrat. Bahkan BNN memperkirakan penderitanya sudah melampaui angka empat juta jiwa. Secara nasional setiap tahun 15.000 jiwa melayang oleh barang terlarang ini, atau rata-rata 40 orang per hari menemui ajal.

Barang bukti yang berhasil disita juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Narkotika jenis ganja pada tahun 2006 berjumlah 1.019.307 batang, dan tahun 2007 berjumlah 1.828.803 batang atau naik 79 persen. Heroin tahun 2006 berjumlah 11.902 gram, dan tahun 2007 berjumlah 14.691 gram atau naik 23 persen. Sementara psikotropika jenis ekstasi tablet yang berhasil disita berjumlah 466.907 tablet pada tahun 2006 meningkat menjadi 1.195.305 tablet atau naik 156 persen pada tahun 2007.

Celakanya lagi, berdasarkan kelompok usia, yang menjadi penyalahguna terbesar adalah usia 16 - 29 tahun, yakni sebanyak 123.584 orang pada periode 2003 hingga April 2008. Berdasarkan klasifikasi pendidikan, 13.551 penyalahguna merupakan siswa/i sekolah dasar (SD), 105.401 penyalahguna merupakan siswa/I SLTP dan SLTA serta 4.632 penyalahguna berasal dari perguruan tinggi.

Trend data yang dibeberkan ini cukup mengejutkan. Karena yang menjadi mayoritas penyalahguna narkoba adalah para generasi muda yang jelas-jelas merupakan tulang punggung bangsa sebagai generasi penerus. Bila kondisi tersebut tidak segera ditangani dengan segera, maka para generasi muda Indonesia di masa yang akan datang akan menjadi generasi yang terbelenggu oleh narkoba. Kondisi ini tentu akan sangat merugikan kita semua dan bangsa Indonesia khususnya.

"Kalau seperti ini, buat apa ada BNN? Dan di polisi buat apa ada yang namanya direktur narkoba?" tanya Karni retoris sembari menggeleng-gelengkan kepala.

Menurut Karni, salah satu penyebab meningkatnya grafik penyalahgunaan narkoba ini karena masyarakat Indonesia sendiri tidak perduli terhadap masalah narkoba ini. "Kondisi ini sangat dirasakan dalam lima tahun terakhir ini. Masyarakat Indonesia baru perduli kalau anaknya mengkonsumsi narkoba," kata Karni.

Tapi bukan ini masalah satu-satunya. Salah satu masalah serius yang terjadi selama ini ialah kurang komitnya aparat penyidik dalam bertindak. "Saya pahami penyelidikan dan penyidikan polisi terhadap kasus narkoba harus rahasia, tapi harus ada yang buka agar publik tahu. Saya punya pengalaman, ketika dengar polisi tangkap pelaku narkoba, saya lalu minta wartawan meliput. Tapi ketika wartawan pergi, pelaku tidak bisa dilihat/diambil gambarnya karena sudah diamankan/ditutup- tutupi oleh polisi. Ini harus jelas, kapan tutup. Semua kejadian itu perlu publik tahu," kata Karni.

Dugaan keterlibatan aparat dalam peredaran narkoba begitu kuat. Aparat diduga ikut bermain mata dengan para pengedar narkoba, dan atau menjadi pengedar narkoba itu sendiri. Kasus yang melibatkan Kapolsek Bogor Utara, Jawa Barat, AKP Endang Rudiannes, atau Briptu Irwanto di Polda NTT yang kini menjadi tersangka karena kasus shabu-shabu merupakan contoh nyata. Dan, berdasarkan penelusuran Indonesia Police Watch (IPW), tahun 2000 saja tercatat 398 personil polisi terlibat narkoba, terdiri 358 pemakai, 27 pengedar, dan sisanya menjadi beking. Pangkat mereka ada yang perwira menengah, perwira pertama dan bintara.

Apa yang diharapkan jika aparat seperti ini? "Ini sudah keterlaluan. Aparat yang mestinya melindungi bangsa ini dari narkoba kok malah terjerumus menjadi pecandu dan pengedar narkoba," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane. (*)

Kamis, 07 Agustus 2008

Dicoba, Langsung Ketagihan


Dari Forum Silaturahmi Media Massa Anti Narkoba

Oleh Kanis Jehola

HARI Kamis, 10 Juli 2008 pukul 10.00 Wita. Ruangan Puri Agung Lantai 2 Hotel Sahid Jaya Jakarta di Jalan Jenderal Sudirman tampak sepi. Padahal, puluhan wartawan peserta kegiatan forum silaturahmi media massa anti narkoba, baik dari media massa cetak maupun elektronik lagi duduk mengitari meja masing-masing di ruangan itu. Mereka mengisi waktu dengan bercerita tentang berbagai hal sambil menunggu datangnya para petinggi Badan Narkotika Nasional (BNN) dan para nara sumber.

Lima belas menit setelah jadwal acara dimulai, para petinggi BNN dan para nara sumber datang. Mereka duduk di tempat yang sudah disediakan sembari menunggu acara dimulai. Tak lama setelah para petinggi BNN dan nara sumber datang, acara seremoni pun dimulai satu persatu.

Suasana sepi di ruangan yang terkesan sedikit remang itu langsung berubah menjadi ramai tatkala pembawa acara membacakan nama Sandra Dewi tampil berdiri di depan ruangan. Tepuk tangan para peserta yang kebanyakan wartawan bergemuruh di ruang full AC itu ketika Sandra Dewi yang mengenakan baju biru langit dan jaket hitam dari BNN itu berdiri dari tempat duduknya menuju ke depan ruangan. "Inilah duta anti narkoba," kata pembawa acara memperkenalkan Sandra Dewi. Sandra Dewi pun tersenyum sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala kepada para peserta.

Tampilnya artis pendatang baru terfavorit 2008 yang bernama lengkap Monica Nichole Sandra Dewi Gunawan ini hanya untuk melakukan salah satu acara seremoni pemasangan atribut kampanye duta anti narkoba oleh Kapus Cegah Lakhar BNN, Drs. Anang Iskandar, S.H, M.H.

Kedatangan Sandra Dewi saat itu pun tidak disia-siakan oleh para wartawan. Selesai pemasangan atribut, para wartawan langsung mengerubuti Sandra Dewi untuk berwawancara tentang pandangan dan rencana kerjanya sebagai duta anti narkoba ke depan. Tak cuma itu, ada yang memanfaatkan moment tersebut untuk foto bersama.

***
MENGAPA Sandra Dewi disambut dengan tepuk tangan membahana? Ya, jujur diakui bahwa hari itu merupakan moment berharga bagi peserta yang sebagian besar berasal dari daerah. Kalau selama ini mereka hanya melihat kecantikan seorang Sandra Dewi di layar televisi, hari itu sosok Sandra Dewi yang mereka lihat di layar televisi benar-benar menyata, melihat secara langsung.

Tapi bukan itu sebetulnya yang membuat sambutan terhadap Sandra Dewi menghangat. Hal paling penting ialah karena Sandra Dewi yang dilantik menjadi Duta Anti Narkoba oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, 26 Juni 2008 lalu, merupakan seorang selebriti. Profesi yang selama ini dikenal dengan gaya hidup glamor, hura-hura, yang sering berkiblat dengan urusan asmara dan perceraian, serta sering terlibat dalam kasus narkoba. Tampilnya Sandra Dewi sebagai Duta Anti Narkoba dinilai sebagai suatu kondisi yang sangat kontradiktif dengan kehidupan kebanyakan selebriti saat ini yang selalu dirundung masalah, termasuk masalah narkoba.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa cerita tentang selebriti akhir-akhir ini hampir tidak bisa dilepaspisahkan dengan cerita tentang perceraian dan narkoba. Konon, makin tenar seorang selebriti justru makin dekat dengan narkoba. Atau sebaliknya, urusan asmara dan narkoba bisa menjadi seorang selebriti makin tenar. Sebab, hampir semua media massa memberitakan berbagai hal tentang selebriti ini.

Sebut saja beberapa artis terkenal seperti Hengky Tornado, Roy Marthen, Ahmad Albar, Margono alias Gogon, Arri Laso, Doyok, serta beberapa artis lainnya. Citra Hengky Tornado sebagai aktor laga yang kerap memerani kejahatan buyar ketika ia dikhabarkan terlibat narkoba tahun 2000.

Yang paling mengagetkan juga adalah Roy Marthen. Selama ini Roy yang dianggap sebagai sosok yang lurus, seperti perannya dalam sejumlah sinetron yang dibintanginya, dan kiprahnya yang aktif di dunia agama ikut menguatkan citranya ternyata telah dicoreng narkoba. Duakali Roy menghuni hotel prodeo karena kasus yang sama.

Begitu juga dengan sosok Sudarmaji alias Doyok yang lucu juga tercoreng ketika dirinya kedapatan mengonsumsi 0,5 gram shabu-shabu pada pertengahan tahun 2000. Tak berapa lama, rekannya sesama komedian Barata Nugraha alias Polo juga mengalami nasib yang sama. Bahkan Polo kembali diciduk tahun 2004 karena kasus yang sama. Juga Gogon masuk bui Agustus tahun 2007 karena terbukti memiliki shabu dan ekstasi.

Tidak hanya di Indonesia. Di luar negeri, narkoba ibarat sahabat kedua para selebriti. Daftar nama pengguna narkoba yang berasal dari artis Hollywood saja sangat panjang. Sebut saja George Clooney. Menurutnya, pemakaian barang haram itu membuatnya percaya diri. "Dia seperti pakaian untuk sebuah pesta. Tapi saya tak pernah sampai ke pesta itu," katanya sebagaimana dikutip GATRA. Demikian juga penyanyi Amy Winehouse, Pete Doherty. Keduanya juga terjerembab dalam dunia terlarang itu.

Selain para pengguna, ada juga selebriti yang tewas karena narkoba. Sebut saja Judy Garland, Marilyn Manroe, John Bonham (drummer Led Zeppelin), Brian Epstein (manajer The Beatles), Elvis Presley, hingga Anna Nicole Smith. Penyebab kematian mereka kebanyakan karena pemakaian obat-obatan yang melebihi dosis.

Menurut cerita para selebriti pengguna narkoba, kecanduan mereka pada barang terlarang itu mula-mula karena pemberian teman dan coba-coba untuk meningkatkan rasa percaya diri. "Rasanya kok enak," kata Doyok sebagaimana dikutip GATRA. Setelah coba-coba dan kecanduan langsung ketagihan. Dan setelah ketagihan dan mulai memiliki rasa ketergantungan mereka mulai merogo kocek sendiri untuk membelanjakan barang terlarang itu.

Lalu bagaimana dengan Sandra Dewi? Konon Sandra Dewi masih bersih. Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai duta anti narkoba karena Sandra Dewi dinilai sebagai sosok selebriti yang tidak dekat dengan narkoba. Sandra Dewi juga dinilai sebagai sosok yang konsen dan bisa mengkampanyekan anti narkoba. "Saya memang tidak suka narkoba. Lebih baik beli makanan daripada beli narkoba," kata Sandra Dewi.

Sandra Dewi yakin dirinya tidak akan terpengaruh selebriti lainnya menggunakan narkoba untuk meningkatkan gairah dan kepercayaan dirinya sebagai seorang selebriti, meskipun cerita tentang kedekatan selebriti dan narkoba akhir-akhir ini kian marak. Akankah kasus narkoba ini bisa diminimalisir dengan hadirnya Sandra Dewi, cs sebagai duta narkoba? (*)

SYALOM