Kamis, 21 Agustus 2008

James Abanit Rebut Perunggu

Ade Rai Siswa Raga

BINARAGAWAN NTT, James Abanit berhasil merebut medali perunggu pada kejuaraan Ade Rai Siswa Raga dan Body Fitnes 2008 di Balai Sarbini, Jakarta, 16 Agustus lalu. James Abanit, binaragawan asal Atambua-Belu ini, mengusung nama Ultimate NTT dalam kejuaraan yang diikuti 48 binaragawan dari seluruh Indonesia ini.

"James yang sudah menjadi ikon perusahaan Ultimate ini benar-benar menyita perhatian penonton. Dia tampil sangat luar biasa. Saya pikir kita harus berbangga telah memiliki atlet sekelas James ini," ujar pelatih binaraga NTT, Harry Mandolang di Kupang, Rabu (20/8/2008).

Potensi binaraga di NTT, kata Harry, merujuk pada prestasi yang ditoreh James, ternyata cukup besar. Buktinya, kata Harry, setiap kali dikirim mengikuti kejuaraan, James selalu meraih medali.

"Kami sebenarnya cukup kecewa ketika NTT tidak berhasil meloloskan atlet ke PON XVII lalu, padahal potensinya cukup besar. Untuk itu, kami mohon perhatian dari pemerintah melalui pengurus olahraganya untuk menjaga dan merangkul atlet-atlet potensial di NTT. Kalau semua potensi yang ada bisa diragukan, saya yakin kita bisa membuat nama NTT harum baik di kejuaraan nasional maupun internasional," ujar Harry. (eko)

Menguji Sebuah Tradisi


Oleh Sipri Seko

HARI Sabtu, tanggal 23 Agustus ini, turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup akan kembali bergulir. Sebanyak 16 tim yang dibagi dalam empat grup akan bersaing dalam turnamen antar-klub yang disebut-sebut paling bergengsi di NTT ini. Mari kita berhitung peluang juara mereka.

Di Grup A, akan bergabung Sandelwood, Qanasex, Perselaya, Mandiri. Grup B, Bon Kota Adonara, Garuda Bahari, Tunas Muda, Ikan Paus. Grup C, Persado Oesao, Britama Kupang, Putra Pelangi, Kristal FC. Grup D, Putra Napo, AS Roma, Platina FC dan Putra Samudera.

Sandelwood, Mandiri dan Qanasex memiliki tradisi kuat dalam tiga penyelenggaraan terakhir untuk selalu lolos ke putaran kedua. Mandiri dan Qanasex dengan materi pemain yang pas-pasan dikenal memiliki strategi yang susah ditebak lawan. Klub kuat macam AS Roma dan Britama Kupang sudah pernah menjadi korban strategi mereka. Itu artinya, jangan menghitung kekuatan Mandiri dan Qanasex dari materi pemain yang dimilikinya, tetapi bagaimana tradisi yang membawa mereka untuk menyulitkan lawan-lawannya.

Lukman Hakim, tentu masih mengandalkan Lambert Kadju, Pieter Fomeni, Zulkifly Umar, Ronald Muchtar dan lainnya untuk mempertahankan gengsi Mandiri sebagai juara 2005. Strategi mereka biasanya sangat sederhana. Bermain aman! Dan, ketika tidak kebobolan, curilah peluang untuk mencetak gol. Kemenangan lewat adu penalti pun mereka siap jalani.

Qanasex, yang diperkuat Lisnahan bersaudara, Ba'i, Cha, Sempli, Fadjar, Nofri, Dalman dan lainnya, mereka memiliki kekompakan tim yang tidak dimiliki klub lainnya. Memiliki kualitas pemain yang pas-pasan, mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk meraih kemenangan. Paling tidak, aksi Qanasex pada tiga penyelenggaraan lalu, harus menjadi evaluasi bagi klub lain kalau tidak ingin tersandung.

Bagaimana dengan Sandelwood? Anak-anak asuhan Paul Ngongo Bili ini selalu datang tanpa target. Kalau kali ini beberapa pemain utamanya, seperti Agoes Jose, Pieter Ufi, Adrianus Adi, Bambang Tokan dan lainnya sudah hengkang ke klub lain, jangan langsung menganggap Sandelwood bukan lagi klub yang patut ditakuti. Mereka disebut-sebut memiliki kekuatan tersembunyi untuk membuat kejutan.

Klub lainnya yang cukup fenomenal dari Grup A ini adalah Perselaya Lamahala. Skill pemain dan dukungan ribuan suporternya adalah kekuatan besar mereka untuk meraih prestasi. Tapi, satu yang harus diwaspadai klub asal Adonara, Flores Timur ini, yakni tidak boleh terlena dengan puji-puja suporter, lalu lupa bahwa tujuan bermain bola adalah untuk menang dan atau bukan hanya sekadar tampil di lapangan.

Lalu siapa yang lolos dari Grup A ini? Semua memiliki peluang! Tradisi selalu lolos ke putaran kedua yang masih bertahan, ataukah cukup sampai di sini. Yang jelas, pandai-pandailah memainkan strategi, karena kualitas pemain bukan jaminan utama, ketika faktor eksternal disepelekan.

Bagaimana dengan Grup B? Tunas Muda, juara 2006, kali ini maju dengan mengusung sebuah kebanggaan. Mereka bangga sebagai pemain muda yang mendapat kesempatan melawan senior-senior mereka dari Tunas Muda yang telah bergabung ke klub lain. Usia muda mereka, membuat anak-anak asuhan Anton Kia ini tentunya masih labil. Namun, kekuatan mereka untuk menang adalah bermain tanpa beban didukung skill tinggi dan latihan rutin.

Untuk Bon Kota, mereka adalah klub pertama luar daratan Timor yang pertama merasakan ketatnya persaingan di turnamen ini. Selalu datang dengan ambisi menggebu-gebu, mereka selalu kandas di putaran kedua. Untuk yang ketiga kalinya ini, mereka tentu tidak ingin tersandung. Mengandalkan materi pemain dari Perseftim Flores Timur, Bon Kota sangat layak untuk diunggulkan di Grup B ini.

Bagaimana dengan Garuda Bahari dan Ikan Paus. Kedua klub ini masih asing dan baru. Skuad mereka juga masih misterius. Tapi, ketika berani tampil di turnamen ini, mereka tentu sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi ketika kita berhitung tentang peluang di Grup B ini, jangan cepat menunjuk Bon Kota dan Tunas Muda yang lolos hanya karena sudah mengenal pemain mereka, karena Garuda Bahari dan Ikan Paus juga tahu bagaimana bermain bola yang baik untuk memenangkan pertandingan. (*)

Kisah Celana Bolong di LP Cipinang ...

BERADA di balik jeruji penjara, jangan dikira segala kebutuhan tak bisa terpenuhi. Ketua Persatuan Narapidana Indonesia, Rahardi Ramelan - mantan napi kasus dana Bulog - mengisahkan segala keperluan napi di LP Cipinang tersedia lengkap.

Catatannya satu: ada uang, ada barang. Mulai dari air mineral, minyak tanah, hingga ke reparasi ponsel, semua ada di sana. Itu kebutuhan sehari-hari, lalu bagaimana dengan kebutuhan seks para napi?

Meski tak menceritakan secara detail mengenai hal ini dalam buku terbarunya "Cipinang Desa Tertinggal", namun ada kisah yang tersirat dari istilah dalam Kamus Gaul Cipinang yang disisipkan Rahardi. Ternyata, ada cara sendiri yang dilakukan para napi untuk memenuhi kebutuhan seksnya.

Dalam Kamus Gaul Cipinang, ada istilah "Celana Besukan" atau kadang sering disebut "Celana Bolong". Di halaman 165 bukunya, Rahardi memuat definisi dari istilah itu. Maksudnya, celana laki-laki yang kantongnya sengaja dibuat bolong. Tujuannya, agar pacar atau istri yang mengunjungi dapat memegang alat kelamin si narapidana dengan leluasa.

Saat seorang wartawan iseng menanyakan istilah ini pada Rahardi, mantan Kepala Bulog itu menjawab singkat, "Sudahlah buat pengetahuan saja," katanya sambil tersenyum.

Selain "Celana Besukan", cara lain yang digunakan adalah Baca Koran. Istilah ini digunakan napi, ketika istri mereka melakukan oral seks di ruang kunjungan umum. Sang suami menutupi wilayah intim mereka dengan koran, seolah-olah sedang membaca koran.

"Baca Koran" ini umumnya dilakukan oleh "Anak Bawah" atau "Anak Tengah". "Anak Bawah" adalah julukan bagi napi yang tidak mampu membantu keuangan guna kebutuhan kamar. Para "Anak Bawah", sering mendapatkan perlakuan semena-mena, dan diwajibkan untuk bekerja membersihkan kamar maupun lingkungan blok hunian mereka.

Sedangkan "Anak Tengah" adalah napi yang mendapat kunjungan atau kerabatnya, tetapi jumlah bantuan keuangannya rendah. "Anak Tengah" biasanya bekerja sebagai tukang masak di kamar mereka atau sebagai pelindung "Anak Atas", kasta tertinggi diantara para napi.

Hubungan intim pun tak hanya dilakukan dengan istri. Sebab, ada istilah "Bini" (Bukan Istri Namun Intim) yang merupakan julukan bagi perempuan yang berkunjung dan berhubungan mesra dengan narapidana, tapi jelas bukan istrinya. Gaya bermesraan, layaknya suami istri.

Nah, untuk mendapatkan fasilitas berbuat mesum, ada orang yang mereka sebut "Dantusil", singkatan dari Komandan Tuna Susila. Orang yang menjadi "Dantusil" biasanya "Bokap-bokapan" (pegawai yang dekat dengan narapidana dan banyak membantu keperluan narapidana) atau "Brengos" (narapidana yang menjadi preman di dalam Lapas, sering meminta uang kepada napi dan menyetornya ke petugas). "Dantusil" ini bisa memberikan fasilitas untuk berbuat mesum.

Inggried Dwi Wedhaswary

Selasa, 19 Agustus 2008

Beckham Lawan Kriminal Berpisau


BINTANG sepakbola Inggris yang kini bermain di LA Galaxy, David Beckham, prihatin dengan kriminal anak muda yang makin marak di Inggris. Bersama Rio Ferdinand (Manchester United) dan David James (Portsmouth), mereka menyatakan melawan kriminal tersebut dan aktif dalam kampanye memeranginya.

Pada Senin (18/8), ketiga bintang Inggris itu ikut aktif dalam launching kampanye pemerintah memerangi kriminal di jalan-jalan Inggris. Kampanye itu mengambil moto "I Doesn't Have to Happen" atau "Ini tak Perlu Terjadi".

Kampanye itu digelar pemerintah Inggris, menyusul maraknya kejahatan jalanan di negeri itu. Sabtu (16/8), seorang pemuda berumur 17 tahun menjadi korban penusukan di jalan London Selatan. Dia menjadi remaja ke-23 yang tewas karena penusukan maupun penembakan di jalan selama tahun 2008 ini. Sebuah kasus yang cukup banyak, karena terjadi dalam enam bulan.

Sekretaris Negara Inggris, Jacqui Smith dan ketiga pemain sepakbola tersebut, menyatakan perlawanannya terhadap kriminal. Ketiga pemain itu akan menjadi bagian dari tim yang akan melawan Republik Ceko dalam partai persahabatan di Stadion Wembley, Rabu (20/8).

Menurut Jacqui, sejak Juni 2008 saja, sudah ada 2.500 anak muda yang ditangkap. Sebanyak 1.600 di antaranya membawa pisau dan merencanakan melakukan kriminal di jalanan dengan pisaunya. Juga tercatat sudah ada 55.000 orang yang dicegat di jalanan dengan ancaman pisau.

Beckham yang tumbuh di Leytonstone, London Timur, dalam temu pers mengatakan, dia pernah menyaksikan betapa mengerikan dan menyedihkannya akibat dari kejahatan dengan penusukan ketika dia masih muda.

"Ketika aku masih 13 tahun, saudara dari salah satu teman baikku hampir menandatangani kontrak sebagai pemain Leyton Orient. Suatu sore, dia berjalan-jalan dan tiba-tiba terjadi perkelahian. Dia ditusuk tepat di punggungnya dan akhirnya dilarikan ke rumah sakit," kenangnya.

"Itu terjadi sudah begitu lama. Saat itu, saya tahu betapa sedih dan berdukanya temanku dan keluarganya. Sebagai orangtua, tentu Anda tak mengharapkan salah satu anak Anda yang sedang pergi ke sekolah di suatu pagi, kemudian tak akan kembali lagi. Kampanye memerangi kriminal di jalanan ini sangat penting. Kami, sebagai para pemain sepakbola, berharap bisa membantu kampanye itu," jelas Beckham.

"Kami punya suara dan suara kami akan didengar para remaja dan pemuda. Sangat penting bagi kami untuk terlibat dalam kampanye ini. Sangat penting bahwa kita percaya kejahatan itu bisa dikurangi atau diakhiri," lanjutnya.

David James setuju dengan pendapat itu. Sebagai orang tua, dia juga merasa khawatir dengan keadaan di jalanan. "Aku ppunya tiga anak yang tinggal di London. Jika sedang di London kemudian keluar untuk berpesta, ini tak akan masalah jika kami tidak terlambat pulang. Saat ini, jika anak Anda keluar, pasti ada kekhawatiran besar jika mereka pulang dengan keadaan teruka atau malah lebih buruk lagi," kata David James.

"Ketika kami sedang tumbuh, kami langsung terjun di dunia olahraga. Sehingga, hidup kami tak membosankan. Sekarang ini, banyak anak-anak yang merasa bosan. Saya kira, ini awal masalah kriminal tersebut," jelas James.

Rio Ferdinand juga pernah memiliku pengalaman menyedihkan. Rekan sekolahnya di Peckham, Stephen Lawrence, tewas akibat kejahatan di jalanan pada 1993. Maka, dia sangat antusias ketika pemerintah Inggris mengadakan kampanye memerangi kriminal jalanan.

"Hukuman berat juga sangat penting. Jika seseorang yang melakukan kejahatan dihukum satu atau dua tahun yang akan menyita masa mudanya, maka mereka akan berpikir dua kali untuk membawa pisau," jelasnya.

Sementara itu Sekretaris Negara Jacqui Smith menambahkan, "Beberapa anak muda mungkin berpikir dengan membawa pisau mereka merasa agak aman. Faktanya, justru sebaliknya yang terjadi. Jika Anda membawa pisau, ada risiko akan menggunakannya atau justru akan terkena olehnya."

"Hal itu tak perlu terjadi. Kesedihan akibat kejahatan di jalanan juga tak perlu terjadi. Sehingga, semua keluarga tak perlu hidup dalam ketakutan," tambahnya. (AP)

Senin, 18 Agustus 2008

Pacuan Babi di Gunung Kelimutu


ADA-ADA kreativtas masyarakat di berbagai belahan Bumi Pertiwi merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-63, Minggu (17/8/2008). Acara yang sudah lumrah yang saban tahun bisa disaksikan sampai kepada acara-acara sensasional mengundang tertawa. Tarik tambang, panjat pinang, pacuan kuda, karapan sapi, pertandingan sepakbola bola berkostum sarung sudah bisa diadakan.

Di kawasan Lenteng Agung, Jakarta, tepat di hari ulangtahun kemerdekaan, para suami bersaing menggendong istri. Dalam hati, berbahagilah para suami yang punya istri badan kecil, akan mudah menggendong sambil adu cepat menyentuh garis finis. Namun apalah daya para suami menghadapi para istri dengan bobot badan di atas 75-100 kg. Suami mana yang tahan mengangkat beban istri sambil berlari sampai di garis finis. Pemandangan sungguh menarik dan bikin tertawa terbahak-bahak.

Lain lagi dilakukan masyarakat pedesaan bermukin di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores. Tepat pada hari perayaan paling bersejarah membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan itu, digelar perlombaan unik dan baru pertama kalinya digelar di seluruh wilayah NTT, yakni balap babi.

Gagasan ini dicetuskan pengelola Balai Taman Nasional (BTN) Kelimutu yang menyediakan hadiah uang tunai kepada pemilik babi pemenangan pertama, kedua dan ketiga senilai Rp 1.150.000. Daya tarik hadiah dan keinginan menyaksikan adu cepat babi di lintas membuat warga penasaran.

Pria-wanita, tua-muda, berbondong-bondong memenuhi lokasi balapan terletak di sisi barat Lapangan Desa Woloara, sekitar 53 kilometer (km) dari Kota Ende, usai upacara bendera dipimpin Camat Kelimutu, Yoseph Primus Batho. Sebanyak 22 ekor babi usia 3-6bulan milik warga dari beberapa desa dipusat kecamatan diadu cepat di dalam dua lintasan balap dari bambu sepanjang 25 meter yang telah disediakan panitia.

Antuasiasme masyarakat nampak dalam lomba ini. Sehari menjelang perlombaan hanya tujuh pemilik yang mendaftarkan babinya mengikuti perlombaan ini, namun di pagi hari sebelum upacara bendera dilaksanakan terdaftar lagi 12 pemilik babi bersaing. Koordinator Resor BTN Kelimutu, Falentinus Lape,mengungkapkan balap babi itu dipilih dilombakan karena di NTT belum pernah kedengaran perlombaan ini. Meski potensi babi sangat besar dan dimilik masyarakat.

"Kami pilih balap babi. Ini masih unik, karena di Madura suda ada karapan sapi, di Sumbawa ada karapan kerbau. Kenapa kita tidak bisa manfaatkan potensi lokal yang unik dan memberi nilai tambah kepada masyarakat," kata Falentinus, kepada Pos Kupang dan Kompas.

Camat Kelimutu, Yoseph Primus Bhato, menambahkan gagasan balap babi memanfaatkan potensi babi yang dipelihara sebagian masyarakat. Selama ini, masyarakat Ende umumnya memelihara babi hanya untuk acara adat, pesta keluarga dan dijual menopang kebutuhan dan ekonomi. Jumlah babi di wilayah Kelimutu sekitar 8.000 ekor.

"Ada sisi positifnya, masyakat terhibur. Selama ini belum pernah ada pacuan babi dan bisa mendorong memelihara babi lebih baik mengikuti lomba. Babi dipelihara untuk pesta adat atau pesta kawin," kata Primus.

Kepala (BTNK), Gatot Soebiantoro, menyatakan balap babi untuk mengembangkan potensi lokal dan sajian alternatif wisatawan. "Turis datang ke Kelimutu tak hanya menyaksikan Danau Kelimutu. Masyarakat bisa dimotivasi memelihara ternak babi lebih baik, bukan seperti saat ini dilakukan seadanya. Kegiatan selanjutnya, kami upayakan babi yang dilombakan diuji kesehatannya oleh dewan juri bekerja sama dengan dokter hewan," kata Gatot.

Pemenang pertama balap babi diraih babi milik Hubertus Soka memperoleh uang tunai Rp 500.000. Pemenangan kedua, Acos Bata mendapat Rp 400.000, dan Klemens Seni meraih juara tiga mendapat Rp 250.000. (*)

Kupang Juara Umum Kejurda Sepaktakraw 2008

KONTINGEN Kabupaten Kupang kembali mempertahankan tropi Pengprop PSTI NTT 2008. Kupang menjadi pengumpul medali terbanyak dengan enam medali emas dan satu perak. Penutupan kejuaraan daerah ini dilaksanakan di rumah jabatan Bupati Alor, Senin (11/8/2008) malam.

Sesuai data yang diperoleh dari seksi pertandingan, David Here, enam medali Kupang direbut dari nomor tim senior dan yunior putri, regu senior putri, double event senior putra dan hop putra dan putri. Satu medali perak direbut lewat nomor regu senior putra.

Kota Kupang berada di posisi kedua dengan tiga medali emas, dua perak dan tiga perunggu. Medali emas direbut dari nomor tim yunior putri, regu yunior putri dan hop yunior putri. Medali perak dari nomor tim senior putri dan double event yunior putri, sedangkan medali perunggu dari nomor regu senior putri, double event senior putri dan hop senior putri.

Adapun hasil lengkap Kejurda PSTI NTT 2008, yakni (berdasarkan urutan juara), tim senior putri: Kupang, Kota Kupang, Alor, Manggarai. Tim yunior putri: Kota Kupang, Alor, Manggarai. Tim senior putra: Alor, Kupang, TTS, Manggarai. Regu yunior putri: Kota Kupang, Alor, Manggarai. Double event yunior putra: Manggarai, Lembata, TTS, Alor. Double event senior putri: Kupang, Alor, Kota Kupang, Manggarai. Double event senior putra: Kupang, Manggarai, Lembata, TTS. Double event yunior putri: Alor, Kota Kupang, Manggarai.

Hop senior putra: Kupang, Alor, Lembata, Manggarai. Hop yunior putri: Manggarai, Alor, TTS.
Hop senior putri: Kupang, Alor, Kota Kupang, Manggarai; dan hop yunior putri: Kota Kupang, Alor, Manggarai. (eko)

Matipun Tetap Dijaga Para Hamba


Oleh Adiana Ahmad

TRADISI kehidupan kaum bangsawan Sumba, khususnya Sumba Timur yang selalu diapit para hamba, juga terbawa hingga mereka meninggal dunia. Pengabdian para hamba atau disebut dalam bahasa umum 'orang dalam rumah' bahkan hingga tuannya masuk ke liang lahat.

Menurut penuturan para tokoh adat Sumba Timur, sampai dengan era 1970-an, masih ada hamba yang rela kubur hidup-hidup dalam satu kubur dengan sang tuan. Orang dalam rumah yang ikut terkubur dengan jenazah tuannya, ini tidak dipaksa. Mereka melakukan atas dasar kerelaan karena ingin menjaga dan mengabdi kepada sang tuan. Tradisi seperti ini baru terhenti dalam dua dekade terakhir setelah ada larangan dari pemerintah.

Sejarah pengabdian hamba terhadap para bangsawan Sumba, itu dapat ditemukan di Kampung Praiawang Rende, Kabupaten Sumba Timur yang merupakan kampung adat tempat kelahiran almarhum Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur yang meninggal dunia 2 Agustus 2008 lalu.

Jika baru pertama mengunjungi kampung adat tersebut, kita akan menjumpai sembilan rumah induk yang mengelilingi kampung adat dan kuburan-kuburan batu yang ukuran besar dengan beratnya yang mencapai satu bahkan dua ton di tengah perkampungan. Di atas batu kuburan tersebut, terdapat menara batu dan arca yang dalam bahasa setempat disebut penji. Bahkan ada kubur yang bagian depannya dibuat patung kepala kerbau dengan tanduk yang cukup panjang. Kuburan dengan patung kepala kerbau itu merupakan kuburan bangsawan pertama di kampung tersebut.

Sembilan rumah induk itu melambangkan sembilan keturunan dari para bangasawan dalam kampung adat Praiawang Rende. Rumah-rumah induk itu dengan fungsinya masing-masing. Ada yang namanya rumah besar yang saat ini dijadikan tempat penyimpanan mayat atau dalam bahasa setempat disebut Uma Bokul. Rumah ini merupakan rumah pertama di kampung itu.

Dari rumah ini seluruh keturunan bangsawan Rende keluar dan kemudian mendirikan rumah sendiri-sendiri. Kemudian ada Uma Jangga, yang merupakan rumah tinggal almarhum Ir. Umbu Mehang Kunda sejak kecil. Rumah ini merupakan rumah tempat musyawarah keluarga. Kemudian, Uma Penji merupakan rumah yang ada menaranya. Rumah ini merupakan tempat tinggal Raja Rende (Maramba Rindi), Umbu Hapu Hamba Ndima dan keturunannya. Ada juga Uma Hadung, yakni tempat berkumpul sebelum pergi atau setelah pulang perang atau saat ini dipakai sebagai tempat berkumpul sebelum pergi atau setelah pulang pacuan kuda.

Menurut juru bicara Kampung Adat Rende, Wunu Hiwa (71), zaman dulu di rumah ini juga dipakai sebagai tempat menggantung kepala musuh yang dibunuh dalam peperangan dan tempat merayakan berbagai acara adat setelah memenangkan peperangan. Ada lagi yang namanya Uma Ndewa (rumah para dewa) yang merupakan rumah tempat upacara atau sembahyang para penganut kepercayaan marapu. Juga ada Uma Kopi atau rumah tempat minum kopi.

Kembali ke soal kuburan. Sesuai dengan budaya orang Sumba yang selalu mengedepankan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari, ketika meninggal duniapun, jenazah para bangsawan Sumba, khususnya Sumba Timur dikuburkan dalam satu kuburan yang sama atau satu liang lahat. Dalam satu kubur bisa sampai puluhan orang. Seperti salah satu kubur bangsawan di Kampung Praiwang Rende yang saat ini sedang direnovasi atau diperluas.

Kuburan itu awalnya merupakan kubur dari kakek almarhum Umbu Mehang Kunda bernama Umbu Retang Tamba dan istrinya, Rambu Dupa Luana. Namun dengan budaya kebersamaan tadi, ketika sang adik bernama Umbu Windi Liti alias Umbu Nai Parianga dan tiga istrinya masing-masing, Rambu Konga Emu, Rambu Naha Ana Awang dan Rambu Hara Ata Pawau meninggal dunia, jasad keempatnyanya juga dimasukkan ke kubur yang sama. Tidak hanya itu, anak-anak mereka , Umbu Lili Pekualia alias Umbu Nai Hanggongu anak dari Umbu Retang Tamba dan Rambu Padu Ranu anak dari Umbu Windi, juga dikuburkan di kubur yang sama.

Kubur dari satu keluarga bangsawan di Kampung Rende tersebut dipagari oleh kuburan para hambanya sebanyak 24 orang, terdiri dari bagian kaki empat orang, bagian kepala empat orang, sisi kiri empat orang dan sisi kanan empat. Perlakuan yang sama juga akan berlangsung bagi seluruh bangsawan di kampung itu dan keturunannya, termasuk kuburan almarhum Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur.

Menurut Wunu Hiwa, meski masih satu keturunan dengan pemilik kubur yang dibongkar tersebut, namun jenazah almarhum Ir. Umbu Mehang Kunda sesuai kesepakatan terakhir akan dikuburkan di liang terpisah dengan sang kakek dengan pertimbangan untuk menghormati almarhum.

Hiwa mengatakan, antara kubur almarhum dengan kubur sang kakek hanya terpisah liang lahat tetapi tetap berdampingan. Kubur almarhum Ir. Umbu Mehang Kunda alias Umbu Nai Mbaha Ndjurumbatu berada di sudut kiri bagian depan kubur sang kakek. Sama halnya dengan kubur sang kakek, Wunu Hiwa mengatakan, kubur almarhum juga akan dikelilingi oleh kubur para hambanya. "Kalau ada anak buah almarhum (hamba) dalam rumah yang meninggal nanti, dia akan dikubur di sisi kubur almarhum," kata Hiwa. (*)

Bapak Seperti Sedang ke Luar Kota

Oleh Adiana Ahmad

KEMATIAN adalah takdir. Kapan sesorang mati, itu rahasia Tuhan. Semua manusia tak bisa menghindari kematian. Manusia kerap menyesali kenapa seseorang meninggal begitu cepat. Apalagi yang "pergi" itu adalah orang-orang dekat. Perasaan tidak rela membuat kita sering merasa mustahil dan tak percaya jika saat itu tiba. Apalagi prosesnya begitu cepat.

Begitulah yang dirasakan orang-orang terdekat almarhum Ir. Umbu Mehang Kunda (Bupati Sumba Timur) yang meninggal dunia, Jumat (2/8/2008) lalu. Rambu Kudu Mbali Yuli, S.E, Agnes Lulu Landukura, A.Md, Yuliana Laji, S.Kom dan Syarif.

Mereka adalah sekretaris dan para sopir pribadi almarhum yang sampai saat ini masih belum percaya bahwa almarhum telah tiada. Hari-hari pasca meninggalnya almarhum merupakan hari-hari yang cukup berat bagi mereka. Tanpa aktivitas dan selalu terbayang sosok yang terkadang mendadak hadir di tengah mereka dengan berbagai guyonan dan sapaan-sapaan khasnya.

Selama sepekan sejak almarhum meninggal, sopir, ajudan dan sekretaris pribadi almarhum nyaris tanpa aktivitas. Pukul 07.00 Wita mereka masuk kantor tetapi tidak jelas mau mengerjakan apa. Sementara pintu ruangan, baik di ruang tunggu, ruang rapat maupun ruang kerja masih digembok. Untuk sementara mereka terpaksa dipekerjakan di Bagian Umum. Terkadang mereka juga naik ke lantai dua tempat di mana ruang kerja bupati berada. Namun mereka hanya mampu mengintip dari luar.

Pada Rabu (13/8/2008), ruang kerja bupati sempat dibuka. Namun hanya sebentar. Para sekretaris dan sopir menyempatkan diri untuk masuk ke ruangan kerja mereka yang berada satu ruangan dengan ruang tunggu bupati. Tidak ada aktivitas. Yang keluar dari mulut mereka hanya cerita kenangan bersama almarhum. Sekitar setengah jam, mereka meninggalkan ruangan. Rambu, Agnes, Yuliana dan Syarif yang ditemui di ruang kerja mereka, mengaku hingga saat ini mereka seakan belum percaya, kalau almarhum telah meninggal dunia. Suasana yang mereka rasakan saat ini seperti suasana saat-saat almarhum sedang berada di luar kota.

"Kami masih tidak percaya dengan keadaan ini. Kami seperti merasa bapak sedang bertugas ke luar daerah," kata Rambu dan teman-temannya.

Ketiganya mengatakan, ketika berada di meja kerja mereka, terkadang mereka lupa kalau almarhum telah tiada. "Selama ini bapak memang sering bertugas ke luar daerah. Tetapi aktivitas kita tetap berjalan seperti biasa. Seperti menerima telepon , fax dan surat-surat. Tetapi satu minggu terakhir setelah bapak meninggal dunia, kami nyaris tanpa aktivitas," kata Rambu.

Ketiganya mengaku, saat-saat bersama almarhum merupakan saat terindah. "Bapak itu tidak pernah marah. Terkadang juga bercanda. Kalau meminta sesuatu selalu memanggil kita 'bos'. Kalau mau bertugas ke luar daerah, bapak selalu bilang kamu jaga kantor baik-baik. Saya mau pergi lawere (jalan-jalan, Red)," kenang Rambu, Adnes dan Yuli.

Almarhum juga menyapa para sopir dan ajudannya dengan 'bos'. Panggilan khas ini untuk menciptakan kedekatan almarhum dengan para sopir, ajudan dan sekretaris pribadinya. Bahkan tak jarang, sopir dan ajudan sering diajak makan semeja di ruang makan rumah jabatan.

Sifat almarhum yang tak mau sepi dan suka berdiskusi banyak hal, terkadang membuatnya lupa waktu untuk beristirahat. Meskipun baru selesai kunjungan ke desa-desa yang medannya berat, almarhum masih mete bersama staf untuk bercerita. Jika tidak ada teman diskusi dari kalangan pejabat, sopir, ajudan dan kepala rumah tangga menjadi sasaran untuk dijadikan teman diskusi.
Salah satu sifat almarhum yang sulit dilupakan para sekretaris pribadi, sopir, ajudan dan kepala rumah tangga adalah mudah terenyuh ketika melihat orang lain susah.

Almarhum selalu memperhatikan kesejahteraan sopir, ajudan dan para sekretarisnya. "Kalau menjelang hari raya, bapak sering menyediakan hadiah untuk kami. Biasanya tanggal 24 Desember , bapak selalu beri hadiah untuk kami," kata Rambu yang diamini Adnes dan Yuliana.

Begitu juga dengan sopirnya yang beragama muslim. Mereka menuturkan, ada pengalaman saat almarhum bertugas ke Australia. Dari Asutrali, almarhum menelpon dan menanyakan oleh-oleh apa yang mereka minta dari Australia. "Saat itu, kita bilang apa saja. Akhirnya bapak bawakan kita cokelat dari Australia," kenang mereka.

Mereka mengatakan, ada satu cita-cita almarhum yang belum sempat terealisasi. Almarhum berencana membawa para sekretarisnya untuk ikut bersama ketika ia bertugas ke luar daerah, terutama ke Jawa atau Bali.

"Suatu saat bapak pernah bilang ke protokoler agar bisa memfasilitasi kita supaya bisa ikut dengannya ketika bertugas ke luar daerah. Sayang, niat itu belum terwujud, bapak keburu pergi," kata Adnes.

Kepala Rumah Tangga, Ferli Supusepa menuturkan, almarhum begitu peduli pada nasib orang kecil. Kisah Ferli, suatu saat seorang warga datang ke rumah jabatan meminta uang buat beli beras. Tanpa basa-basi almarhum langsung memberikan uang Rp 700.000. Pernah juga ada seorang pemuda yang membutuhkan uang untuk membeli obat bagi keluarganya yang sakit. Pemuda tersebut membawa seekor ayam dan menjualnya keliling Kota Waingapu. Namun hingga malam ayam tidak laku sehingga dia membawa ke rumah jabatan.

Pemuda itu masuk melalui pintu belakang dan bertemu almarhum sedang duduk di bawah pohon klengkeng. Almarhum menanyakan maksud kedatangan pemuda tersebut. Mengetahui pemuda itu hendak menjual ayam untuk membeli obat bagi keluarganya yang sakit, almarhum
mengeluarkan uang Rp 300.000 dari kantong celananya dan memberikan kepada pemuda tersebut.

Almarhum juga begitu peduli dengan kesejahteraan para pegawainya. Itu dibuktikan dengan sikap almarhum yang tidak pernah menerima honor dari berbagai kegiatan yang ia lakukan.

"Kalau kita mengantar honor beliau, karena tugas-tugas atau kunjungan kerjanya ke desa-desa, tidak pernah beliau ambil. Uang itu akan dikembalikan kepada pegawai yang mengantar honor tersebut, " kata salah seorang staf di Kantor Bupati Sumba Timur.

Tak heran, banyak pegawai yang berebutan jika disuruh mengantar uang honor kepada almarhum. Almarhum juga tidak tanggung-tanggung memberikan tip kepada para pegawainya yang rajin. (*)

Kamis, 14 Agustus 2008

Ki Gendeng Sulit Ditembus Jarum

LAGI-LAGI Ki Gendeng Pamungkas mengundang perhatian banyak orang. Saat menjalani pemeriksaan kesehatan di Poliklinik Afiat, RSU PMI, Jalan Pajajaran, Bogor Utara, Rabu (13/8), paranormal yang memiliki nama asli Imam Santoso ini menarik perhatian paramedis termasuk wartawan.

Ketika Ki Gendeng masuk ke ruang pemeriksaan, paramedis dan dokter menyambut dengan ramah. Gendeng pun sumringah. Penampilannya tenang. Selain Ki Gendeng, calon lain yang menjalani pemeriksaan adalah Syafei Bratasendjaja- Akik Darul Tahkik (Sadar).

Beberapa tahapan pemerik-saan dijalani Ki Gendeng Pamungkas. Tahapan pertama adalah diambil darah. Seorang staf Laboratorium Poliklinik Afiat, Nuri langsung mengikat lengan kanan Ki Gendeng. Selanjutnya, petugas menusukkan jarum, namun tidak bisa menembus kulit lengan kanan Gendeng. Nuri pun grogi.

Nuri mencoba kembali menyuntikkan jarum agar bisa menembus kulit. Lagi-lagi hasilnya nihil. Nuri pun meminta Ki Gendeng agar tidak mengerjainya. Tokoh paranormal itu pun terkekeh-kekeh melihat Nuri. Lalu dia menjentikkan jarinya ke udara tetapi Nuri belum berhasil juga.

"Saya jangan dikerjain dong Pak Iman. Saya jadi grogi nih. Susah amat nih jarum bisa masuk ke kulit Bapak. Tolong dong jangan kerjain saya. Saya jadi gemetar karena jarum suntik susah nembus kulit. Biasa saja Pak, jangan dicandain," pinta Nuri sambil mengganti jarum suntik.

Nuri mencari lokasi lain. Dia pun mengarahkan jarum ke sekitar pergelangan tangan kanan Ki Gendeng. Sambil mengucapkan Bismillahirrahma- nirrahim, akhirnya Nuri berhasil menusukkan jarum suntik itu ke kulit Ki Gendeng. "Jarumnya susah menembus kulit Pak Iman. Itu beneran, bukan dibuat-buat oleh saya. Pada kulit Pak Iman itu seperti ada kayu yang sangat keras, sehingga sangat sulit untuk mengambil darahnya. Ini pengalaman kali pertama saya," kata Nuri seusai mengambil sampel darah Ki Gendeng Pamungkas.

Tak akan nyantet
Bakal calon Wakil Wali Kota Bogor, Iman Santoso atau biasa dipanggil Ki Gendeng Pamungkas mengaku akan menghormati seluruh proses dan peraturan yang berlaku dalam Pilkada Kota Bogor yang akan dilaksanakan pada Oktober mendatang. Dia tidak akan melakukan penyantetan terhadap pihak lain, termasuk anggota KPUD Kota Bogor andaikata nanti tidak meloloskan dia dan pasangannya yaitu Ahmad Chusairi dalam bursa pencalonan Pilkada.

"Saya menghormati seluruh proses dan peraturan untuk mengikuti Pilkada Kota Bogor. Saya tidak akan menggunakan keahlian saya yaitu santet. Kalau saya tidak lolos untuk ikut Pilkada, maka tidak menjadi masalah. Tidak apa-apa. Saya tidak akan menyantet anggota KPUD Kota Bogor," katanya, Rabu (13/8/2008).

Namun, dia tetap meminta agar proses dan peraturan tersebut dapat berjalan sejujurnya. "Kami minta agar KPUD dapat melaksanakan tugasnya dengan baik atau fairplay, supaya hasil pilkada nanti sesuai dengan keingingan semua pihak, khususnya masyarakat Kota Bogor," kata suami Ajeng Safitri ini.

Ayah lima anak ini menegaskan bahwa dirinya ikut serta dalam bursa pencalonan wali kota semata-mata ingin melakukan perubahan di Kota Bogor. Kalau dia dan pasangannya dipercaya untuk memimpin daerah yang terkenal dengan sebutan Kota Angkot tersebut, maka pihaknya berusaha keras memutuskan benang merah rezim Orde Baru yang selama ini membelenggu Indonesia, termasuk di Kota Bogor.

"Saya dan Pak Ahmad Chusairi tidak akan membelenggu kebebasan anggota dewan dalam menyikapi atau mengkritisi kebijakan pemerintahan kami. Tidak usah takut atau khawatir untuk mengkritik kami. Begitu juga masyarakat Kota Bogor. Namun, kami sangat senang kritik itu semata-mata untuk kepentingan masyarakat Kota Bogor sendiri, bukan karena kepentingan kelompok, partai politik maupun pribadi. Mari kita bangun Kota Bogor ini bersama-sama, supaya Kota Bogor menjadi disegani oleh pihak lain," tandasnya.

Sementara itu Ahmad Chusairi, bakal calon Wakil Wali Kota Bogor pendamping Gendeng, optimis bisa ikut pilkada ini. Pihaknya sudah melengkapi data pendukung yang dinilai kurang oleh KPUD Kota Bogor. (persdanetwork/akn)

PROKLAMASI LIGA INGGRIS: INI APA GUNANYA?


MANUSIA ditakar dan dibobot dari apa yang dapat dihasilkan dari dirinya, atau manusia pada dasarnya produsen, kata filsuf Yunani Aristoteles. Karl Marx bersorak kemudian berujar bahwa dalam "hantu kapitalisme" ada budak yang bekerja dan ada pemilik modal yang menindas.

Baik dalam kapitalisme maupun marxisme tersimpan kegilaan serentak kerinduan manusia untuk mencecap pembebasan dengan mengusung syahadat: ini apa gunanya? Ini bukan urut-urutan sejarah dari aras pemikiran sosial abad lalu. Ini juga bukan peta hubungan antara pemilik modal dan buruh atau budak. Ini proklamasi dari obsesi manusia yang ingin memerdekakan diri. Ruang pembebasannya yakni Liga Inggris yang siap bergulir pada Minggu (17/8/2008) waktu setempat. Publik pecinta bola dunia merayakan pesta pembebasan, pesta pemerdekaan.

Publik siap menggenggam tiket prestasi, sedangkan klub-klub elite Liga Inggris siap menyajikan pesona dari "olah bola sejarah". Manchester United, Chelsea, Liverpool dan Arsenal memeragakan taktik, mendemonstrasikan strategi di lapangan dengan mengerahkan seluruh kerjasama lini yang apik.

Buahnya, produktivitas gol, tujuannya, trofi Liga Inggris. Kredonya: kami datang, kami bertanding, kami menang. Publik mendulang makna pencerahan apa dari proklamasi Liga Inggris? Jawabnya satu saja, yakni nilai guna. Tunggu dulu, karena jawaban itu tidak kebal kritik.

Buktinya filsuf Jerman Jurgen Moltmann menghancurkan setiap upaya untuk memberi batasan yang serba baku dan serba kaku bagi makna nilai guna dari bola sejarah. Dalam laga kehidupan manusia, nilai guna bukan satu-satunya. Dalam laga bola, ada kegembiraan spontan, jauh dari kepura-puraan, mewarnai setiap capaian prestasi. Ini pembebasan yang sejati dari proklamasi Liga Inggris.

Amati dan cermati saja apa yang didemonstrasikan oleh Liverpool dan Arsenal yang pekan ini berkutat dengan iming-iming gengsi. Kedua tim elite Inggris itu tengah bersibuk dengan fase penyisihan Liga Champions. Manchester United bersemangat mempertahankan gelar, sementara Chelsea berambisi menembus nomor satu di liga domestik, demikian diwartakan Reuters.

Warta bernas dikumandangkan oleh arsitek Liverpool Rafael Benitez. Pelatih asal Spanyol itu mengatakan, "Saya mendengar sorak sorai dari publik pecinta Liverpool. Kami bersiap untuk Liga Champions. Ini perkembangan negatif karena kami tidak mendulang pemain yang selama ini kami incar. Situasinya sangatlah berbeda. Kami memiliki pemain yang baru saja kembali dari sejumlah pertandingan internasional di musim panas ini dan laga Olimpiade Beijing. Kami memiliki pemain muda berkualitas."

Berkah dari Liga Inggris nyatanya membawa pembebasan bagi para pemain dari Eropa Timur. Lasykar dari Eropa Timur mendulang sukses, meraup pundi poundsterling. Kocek mereka sesak dengan memanfaatkan ramainya lalu lintas legiun asing di Liga Premier. Mereka merasakan makna pembebasan. Para petinggi klub mengincar pemain yang selama ini piawai menempati lini pertahanan.

Contohnya, pemain Kroasia Slaven Bilic tampil sebagai figur pujaan saat dirinya tiba di West Ham pada 1996. Begitu pula dengan Igor Stimac yang meghabiskan empat musim kompetisi dengan segudang kesan saat membela Derby pada 1995. Pemain Serbia Dejan Stefanovic begitu populer bagi publik Sheffield Wednesday dan Portsmouth.

David Suker, striker asal Kroasia menunjukkan taji dengan menyarangkan sepuluh gol dalam dua musim kompetisi ketika bermain bagi Arsenal dan West Ham.

Meski pemain sayap Rumania Ilie Dumi Ilie Dumitrescu dan pemain depan Florin Raducioiu tidak juga bersinar. Striker Ukrainia Serhiy Rebrov bersua dengan kekecewaan saat bermukim di Tottenham.

Mantan striker Dynamo Kyiv Andriy Shevchenko boleh dibilang tidak mampu berbuat banyak di Chelsea. Bahkan playmaker Slovenia Milenko Acimovic dicampakan dari Tottenham. Inilah logika bola: tidak menyumbang prestasi, bersiaplah hengkang.

Ada uang, ada gol, ini syahadat yang dikumandangkan saat pemain merayakan perasaan syukur di katedral yang bernama stadion. Publik berucap, kami sudah mengeluarkan sejumlah uang, silakan pemain memberi yang aneka atraksi terbaik.

Publik berteriak, bebaskan kami dari himpitan hidup dengan sepakbola. Untuk tidak mengecewakan penonton, Liga Inggris mensyaratkan bahwa para pemain perlu memiliki fisik kuat, mental tangguh. Fisik serupa banteng, mental sejenis gladiator. Yang diperlukan sekarang, bukan seremonial sarat gegap gempita upacara, tetapi jawaban atas pertanyaan, ini apa gunanya?

Liga Inggris memerlukan pemain yang menempati posisi bek tengah. Para pemain dari Balkan seperti Bilic dan Stimac memenuhi syarat itu karena bermodalkan fisik tangguh dan teknik sepakbola mumpuni. Bagaikan refrain dalam sebuah lagu, manajer sekelas Sir Alex Ferguson mengolah dan mengembangan nada-nada dasar sepakbola Inggris.

Bos Manchester United itu kemudian memanggil dan mengandalkan Nemanja Vidic yang disebut-sebut sebagai pemain bertahan yang sejatinya mampu bertahan, demikian diwartakan AFP.

Ferguson memaknai proklamasi Liga Inggris bahwa sepakbola Inggris memerlukan pemain-pemain bertahan. Ini jawaban manajer asal Skotlandia atas proklamasi, bahwa ini apa gunanya?

Niko Kranjcar, playmaker Kroasia yang pernah bermain bersama Dinamo Zagreb kemudian Hajduk Split, dan kini berlaga bagi Portsmouth mengatakan, "Peran saya di Portsmouth dan di tim nasional terbilang hampir sama. Ini berbeda ketika saya bermain di Dinamo dan Hajduk. Saya berada di belakang para striker. Dengan begitu saya dapat mendukung operasi para pemain depan untuk menciptakan gol ke gawang lawan."

Kranjcar bukan tanpa usaha. Ia merevolusi diri dari pakem 3-4-1-2 atau 4-3-1-2 yang umumnya diterapkan dalam sepakbola di negeri Balkan, dengan pola lima gelandang.

Di laga Piala Eropa, baik Spanyol maupun Jerman tampak ampuh menerapkan resep 4-2-3-1. Arus utama sepakbola Inggris ini mulai ditangkap dan diterapkan oleh pelatih asal Spanyol Juande Ramos yang kini mengadu nasib di Tottenham. Ia seakan mewakili gerbong Spanyol yang siap berekspansi di Liga Inggris. Ada juga nama Xavi Fernandez.

Apakah Liga Premier bakal menjadi ajang proklamasi bagi para pemain asal Eropa Timur dan Spanyol? Ya, karena ketrampilan teknik, ketangguhan fisik dan kelihaian meramu selaksa teknik umumnya ditunjukan oleh pemain dan pelatih Eropa Timur dan Spanyol. Mereka memetik sukses karena memegang petuah filosofis, ini apa gunanya?

Proklamasi bernada beda dikumandangkan oleh Ferguson. Sukses membawa United menyabet gelar Liga Inggris dan juara di laga Liga Champions, Fergie melayangkan pujian kepada Rio Ferdinand. "Rio kini jadi bek tengah yang terbaik di dunia.

Penampilannya membawa pesona unik karena memberi contoh kepada pemain lain. Ia mampu merespons bola yang bergulir ke lini pertahanan. Pemain depan lawan banyak kali berhitung. Ia pemain luar biasa, meski usianya sudah 30 tahun. Pengalamannya segudang."

Kini Ferguson sedang menyibukkan diri dengan menempa lini depan United. Ia menggarap Carlos Tevez, Ryan Giggs dan Nani, sementara Wayne Rooney tengah berjuang keluar dari serangan virus sekembalinya dari tur ke Nigeria. Cristiano Ronaldo pun belum pulih dari cedera engkel, sedangkan Louis Saha belum juga fit. United juga tengah menyambut kembalinya Gary Neville.

United telah memaknai proklamasi Liga Inggris dengan kerja keras. Para pemain Eropa Timur dan Spanyol menangkap nuansa sejati proklamasi Liga Premier, yang tidak melulu mempertanyakan kegunaan, tetapi menyodok kesadaran publik bahwa sepakbola memuat pertanyaan reflektif, bahwa untuk sebuah perdamaian diperlukan perubahan; untuk sebuah pembebasan diperlukan pemerdekaan dari segala keterasingan. Pembebasan untuk revolusi nurani, ini proklamasi dari Liga Inggris.

Bagaimana mungkin manusia yang kini tengah terperangkap kepura-puraan dapat memerangi keterasingan dirinya itu bagi orang lain? Lebih baik mengobati diri sendiri dulu, ketimbang terus melukai orang lain dengan melontarkan berbagai pidato kosong dan berbagai aktivitas palsu.

Sejatinya proklamasi Liga Inggris berbunyi: bagaimana orang bisa keluar dari lingkaran setan kekerasan, apabila kekerasan diperangi dengan kekerasan, seperti diterapkan dalam sebuah revolusi? Jangan terperosok ke jurang verbalisme dan aktivisme, ini warta reflektif dari laga bola. (**)

SYALOM