Dari Pemakaman Umbu Mehang Kunda (1)
Oleh Gerardus Manyella dan Adiana Ahmad
SABTU, 2 Agustus 2008, pukul 01.00 Wita. Bumi Matawai Amahu Pada Njara Hamu, trenyu. Ringkik kuda sandel sesaat diam. Goyang rumput sabana terhenti. Umbu, Rambu, Maramba, Hamba, menangis. Sumba Timur diselimuti kabut duka. Duka nestapa atas berpulangnya, Ir. Umbu Mehang Kunda, kepada Sang Khaliq. Lonceng gereja dibunyikan, imam masjid mengumumkan kepada umat bahwa pemimpin yang familiar, komunikatif berada di tengah semua golongan, semua suku dan semua agama telah meninggal dunia.
Ir. Umbu Mehang Kunda bukan hanya seorang bupati di Sumba Timur. Mehang Kunda adalah keturunan Raja Rende. Karenanya tata upacara pemakaman dilakukan secara adat marapu pemakaman raja-raja. Hasil urung rembug keluarga anamburung, marga almarhum sepakat jenazahnya dimakamkan di kampung adat Prai Awang, Rende, 10 November 2008.
Mulai Sabtu (8/11/2008), rangkaian tata upacara pemakaman dilangsungkan. Diawali dengan ibadah syukuran, karena Umbu Mehang Kunda telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan. Semua rangakaian upacara berlangsung di Kampung Prai Awang, tempat ayah almarhum, Umbu Windi Pandji Djawa alias Umbu Nai Hiwa dimakamkan.
Pada hari itu, saya dan Diana (wartawati Pos Kupang di Sumba Timur) menuju Kampung Prai Awang, sekitar 70 kilometer arah timur Kota Waingapu. Kurang lebih dua jam perjalanan, kami memasuki kawasan kampung adat itu. Kami menyaksikan sekitar tanah lapang depan gang masuk kampung, berdiri tegak tenda-tenda untuk tempat makan para tamu. Di tanah lapang itu, juga telah disiapkan tempat parkir. Di samping barat gang masuk ke kampung itu, terdapat sebuah kandang besar yang dipagari batu gunung, tempat pengikatan kuda dan kerbau. Banyak orang berpakaian khas Sumba hilir mudik ke sana ke mari, menyiapkan segala keperluan untuk acara adat pemakaman.
Kampung seluas kurang lebih 0,5 hektar, itu diapiti 23 rumah adat di sisi timur dan barat. Di tengah-tengah kampung terdapat 11 batu kubur besar dan beberapa batu kubur kecil. Salah satu batu kubur besar masih kosong. Batu kubur megalitik yang megah dengan berat 31 ton itu yang disiapkan keluarga anamburung untuk pemakaman jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda. Di tengah kampung, dekat batu kubur yang kosong, terdapat sebuah tenda besar yang sudah dipadati jemaat, para PNS lingkup Setda Sumba Timur, sanak keluarga anamburung dan sahabat kenalan almarhum. Sebuah altar kecil dan sound system tersusun rapi. Rupanya hari itu ada jadwal kebaktian syukur menjelang pemakaman almarhum Umbu Mehang Kunda yang telah dibaptis sebagai penganut agama Kristen Protestan.
Begitu kami mengambil tempat duduk di tenda, langsung disuguhkan kuta dan winnu (sirih pinang) pada baola pahapa (tempat sirih pinang). Walau tidak biasa makan sirih pinang, kami menjamah saja sebagai wujud penghargaan kepada tuan rumah. Menyuguhkan kuta dan winnu merupakan penghormatan tuan rumah terhadap setiap tamu di Sumba Timur. Tuan rumah tersinggung jika tamunya menolak makan atau menjamah baola pahapa yang disuguhkan.
Sekitar pukul 17.00 Wita, kebaktian dimulai, dipimpin langsung Ketua GKS, Pdt. David Umbu Dingu, S.Th. Kebaktian berlangsung sekitar satu jam, dilanjutkan sekapur sirih dari keluarga yang diwakili Umbu Lili Pekualing, adik kandung almarhum Umbu Mehang Kunda, dan makan bersama.
Kami langsung mencari tokoh adat untuk dijadikan narasumber yang bisa menceritakan tata upacara pemakaman raja-raja Sumba. Beberapa orangtua didekati tapi mengaku tidak berhak berbicara. Umbu Lili Pekualing yang adalah adik kandung almarhum, juga mengaku tidak mengetahui secara detail tentang tata upacara itu dan menyarankan menemui juru bicara keluarga anamburung. Ada yang mengaku tahu dan mengerti tapi status mereka yera (ipar) dari almarhum atau status ipar dalam keluarga anamburung. Ada yang tahu tata upacara tapi status sebagai papanggang atau hamba.
Belum menemukan narasumber, kami memilih bergabung dengan tamu lain di bale-bale uma bokul (rumah besar) tempat jenazah almarhum Umbu Mehang Kunda disemayamkan. Di sana kami bertemu Om Cyrilus, sahabat kental almarhum yang sudah dianggap sebagai keluarga oleh marga anamburung. Om Cyrilus sangat mengenal orang-rang di kampung itu, mengenal baik kerabat dan sanak keluarga almarhum Umbu Mehang Kunda. Dia mengajak kami ke sebuah rumah adat di sebelah timur uma bokul. Di sana kami dipertemukan dengan Umbu Maramba Hau alias Umbu Maramba Meha.
Umbu Maramba Hau yang saat itu cukup sibuk mengatur lalu lintas dan tata upacara pemakaman, menuturkan, penyimpanan jenazah, terutama jenazah para raja di Sumba Timur umumnya dan Kampung Prai Awang khususnya, itu hal biasa. Lamanya penyimpanan jenazah tergantung ekonomi. Jika ekonomi keluarga kuat, penyimpanan jenazah paling lama satu tahun langsung dimakamkan. Jika ekonomi keluarga kurang kuat penyimpanannya bisa 5-10 tahun, karena keluarga yang menyelenggarakan pemakaman harus bekerja menyiapkan segala kebutuhan, terutama hewan dan batu kubur.
Biasanya, jadwal pemakaman diambil berdasarkan musyawarah kabihu (rumpun keluarga atau marga). Khusus almarhum Umbu Mehang Kunda, hanya 102 hari penyimpanan, lalu dimakamkan, mengingat beliau punya jasa dan ekonomi keluarganya kuat. Untuk itu, keluarga anamburung mengundang 150 rombongan adat yang terdaftar dan 50 rombongan adat cadangan. Keluarga anamburung sudah siapkan balasan kepada rombongan adat yang membawa kerbau, babi, mamoli dan kain.
Setiap pembawaan rombongan adat akan dibalas sesuai silsila adatnya. Jumlah rombongan adat, pembawaan dan balasan merupakan simbol kebangsawanan orang yang meninggal dan keluarga yang menyelenggarakan pemakaman. Jenis barang bawaan dan balasan harus diurut secara benar untuk melapangkan jalan arwah almarhum menuju Parai Marapu (surga). Penganut marapu meyakini simbol adat yang dilakukan dalam tata upacara pemakaman, berlangsung juga di Parai Marapu. (bersambung)
Senin, 24 November 2008
Minggu, 23 November 2008
Sex Humor The Sequel
(Josh Chen – Global Citizen)
Following Mamak's petunjuk and try to start with a bit of English, so I sent this to complement Pak WES with The Sequel..... enjoy.... http://community.kompas.com/read/artikel/879
A judge asked a woman on why she wanted a divorce.
She answered, "Your Honor, he knew I'm a vegetarian
and yet he still insists on putting his meat in my mouth."
Woman: Doctor, ant entered my vagina, please take it out.
Doctor removes her panties and start making love.
Woman: What are you doing?
Doctor: This is the only way to drown the bastard!
Question: What is the closest thing similar to a woman's period?
Answer: YOUR SALARY. It comes once a month last 3 - 4 days & if it doesn't come you are in deep trouble!
A lady visited her doctor again, Doctor said: You look more sick & exhausted then before. Are u having 3 meals a day as I advised?
Lady: WHAT? I thought u said 3 MALES a day!!!!
Women asked God to make The Penis Pretty.
GOD Said "No way; Now As It Is, The Penis is so
ugly & you still suck it. If I make it Pretty You'll Eat It up!!
A nun went for a urine test. The sample got mixed up. When the doctor told her she was pregnant, she cried n said," Shit, we can't even trust cucumber anymore!
A boy pulls down his pants in front of a girl & asked "Do you have this?
The girl lifted up her skirt & said,"My mom said with this I can have a lot of THAT!"
Schoolgirl: I do not want to take the SEX EDUCATION.
Class Teacher: Why not?
Schoolgirl: Someone told me the FINAL EXAM would be ORAL!"
Mother asks daughter, how is married life? Daughter shyly says like BRITISH AIRWAYS ad.
Mother reads the ad and is shocked " 7 DAYS A WEEK,TWICE A DAY, BOTH WAYS!
What is the STRONGEST muscle? Answer: TONGUE- It can raise a woman's hip with just one lick!
The weakest muscle? Answer: PENIS! It can be raised by a woman's tongue!
Lady Immigration officer asked a Korean tourist: Name? Answer the Touris: Park Yu.
The 0fficer become angry & shouted back: F**K YOU! Now what's your full name?
Korean replied: PARK YU TOO!!
Man to wife: Business is bad if you learn to cook we can remove servant.
Wife: A***HOLE! If you learn how to f**k, we can remove driver, gardener & watchman..
COCK say to his two BALLS: I am going to take you with me to a party.
BALLS said: You big f***g liar. You always get INSIDE and leave us waiting OUTSIDE!
A baby dog asked mama dog how papa look like?
Mama dog reply: How I know. Your papa came from behind & I didn't have chance to see his face" !
What's the difference between stress, tension & panic?
Stress is when wife is pregnant, Tension is when girlfriend is pregnant, PANIC is when both are pregnant....
Following Mamak's petunjuk and try to start with a bit of English, so I sent this to complement Pak WES with The Sequel..... enjoy.... http://community.kompas.com/read/artikel/879
A judge asked a woman on why she wanted a divorce.
She answered, "Your Honor, he knew I'm a vegetarian
and yet he still insists on putting his meat in my mouth."
Woman: Doctor, ant entered my vagina, please take it out.
Doctor removes her panties and start making love.
Woman: What are you doing?
Doctor: This is the only way to drown the bastard!
Question: What is the closest thing similar to a woman's period?
Answer: YOUR SALARY. It comes once a month last 3 - 4 days & if it doesn't come you are in deep trouble!
A lady visited her doctor again, Doctor said: You look more sick & exhausted then before. Are u having 3 meals a day as I advised?
Lady: WHAT? I thought u said 3 MALES a day!!!!
Women asked God to make The Penis Pretty.
GOD Said "No way; Now As It Is, The Penis is so
ugly & you still suck it. If I make it Pretty You'll Eat It up!!
A nun went for a urine test. The sample got mixed up. When the doctor told her she was pregnant, she cried n said," Shit, we can't even trust cucumber anymore!
A boy pulls down his pants in front of a girl & asked "Do you have this?
The girl lifted up her skirt & said,"My mom said with this I can have a lot of THAT!"
Schoolgirl: I do not want to take the SEX EDUCATION.
Class Teacher: Why not?
Schoolgirl: Someone told me the FINAL EXAM would be ORAL!"
Mother asks daughter, how is married life? Daughter shyly says like BRITISH AIRWAYS ad.
Mother reads the ad and is shocked " 7 DAYS A WEEK,TWICE A DAY, BOTH WAYS!
What is the STRONGEST muscle? Answer: TONGUE- It can raise a woman's hip with just one lick!
The weakest muscle? Answer: PENIS! It can be raised by a woman's tongue!
Lady Immigration officer asked a Korean tourist: Name? Answer the Touris: Park Yu.
The 0fficer become angry & shouted back: F**K YOU! Now what's your full name?
Korean replied: PARK YU TOO!!
Man to wife: Business is bad if you learn to cook we can remove servant.
Wife: A***HOLE! If you learn how to f**k, we can remove driver, gardener & watchman..
COCK say to his two BALLS: I am going to take you with me to a party.
BALLS said: You big f***g liar. You always get INSIDE and leave us waiting OUTSIDE!
A baby dog asked mama dog how papa look like?
Mama dog reply: How I know. Your papa came from behind & I didn't have chance to see his face" !
What's the difference between stress, tension & panic?
Stress is when wife is pregnant, Tension is when girlfriend is pregnant, PANIC is when both are pregnant....
J dan Sex Humor
WARNING:
* Baca ini jangan sambil minum, makan atau apa, keselek di luar tanggung jawab pengirim
* Pegangan kuat-kuat di kursi, nanti guling-guling di lantai urusan pembaca sendiri....
Satu hari Sultan merasa sungguh "boring n bete abis", jadi dia tanya Bendahara, "Bendahara, siapa paling pandai saat ini?"
"Abunawas" jawab Bendahara. Sultan pun manggil Abunawas n baginda
bertitah: "Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata
mesti dimulai dengan huruf 'J'.
Terperanjat Abunawas, tapi setelah berpikir, diapun mulai bercerita:
Jeng Juminten judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng Juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya - Jakarta. Jamu jagoannya: jamu jahe.
"Jamu-jamuuu ... jamu jahe - jamu jaheee...!" Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.
Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan. Jeng Juminten jerit-jerit: "Jarikku jatuh, jarikku jatuh ..." Juminten jengkel, jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.
Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan, juara judo. Jantungnya Jeng Juminten judes jadi jedag-jedug. Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack.
Johny justru jadi jealous Juminten jadi juliet-nya Jack. Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung. Julukannya, Johny Jago Joget. "Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?" joke-nya Johny.
Jakunnya jadi jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten. "Jangan jealous, John..." jawab Juminten.
Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil jerawatnya Juminten. Juminten jerit-jerit: "Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil! !!" Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal Johny, jebreeet ..., Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jendol, jadi jontor juga jendol ... jeleekk. "John, jangan jahilin Juminten ...! " jerit Jack. Jantungnya Johny jedot-jedotan, "Janji, Jack, janji Johnny jera," jawab Johny. Jack jadikan Johny join jualan jajan jejer Juminten.
Johny jadi jongosnya Jack - Juminten, jagain jongko, jualan jus jengkol jajanan jurumudi jurusan Jogja - Jombang, julukannya Jus Jengkol Johny
"Jolly-jolly Jumper." Jumpalagi, jek........! !!
Jeringatan : Jangan joba-joba jikin jerita jayak jini jagi ja ...!!! JUSAH...!!!
* Baca ini jangan sambil minum, makan atau apa, keselek di luar tanggung jawab pengirim
* Pegangan kuat-kuat di kursi, nanti guling-guling di lantai urusan pembaca sendiri....
Satu hari Sultan merasa sungguh "boring n bete abis", jadi dia tanya Bendahara, "Bendahara, siapa paling pandai saat ini?"
"Abunawas" jawab Bendahara. Sultan pun manggil Abunawas n baginda
bertitah: "Kalau kamu pandai, coba buat satu cerita seratus kata tapi setiap kata
mesti dimulai dengan huruf 'J'.
Terperanjat Abunawas, tapi setelah berpikir, diapun mulai bercerita:
Jeng Juminten judes, jelek jerawatan, jari jempolnya jorok. Jeng Juminten jajal jualan jamu jarak jauh Jogya - Jakarta. Jamu jagoannya: jamu jahe.
"Jamu-jamuuu ... jamu jahe - jamu jaheee...!" Juminten jerit-jerit jajakan jamunya, jelajahi jalanan.
Jariknya jatuh, Juminten jatuh jumpalitan. Jeng Juminten jerit-jerit: "Jarikku jatuh, jarikku jatuh ..." Juminten jengkel, jualan jamunya jungkir-jungkiran, jadi jemu juga.
Juminten jumpa Jack, jejaka Jawa jomblo, juragan jengkol, jantan, juara judo. Jantungnya Jeng Juminten judes jadi jedag-jedug. Juminten janji jera jualan jamu, jadi julietnya Jack.
Johny justru jadi jealous Juminten jadi juliet-nya Jack. Johny juga jejaka jomblo, jalang, juga jangkung. Julukannya, Johny Jago Joget. "Jieehhh, Jack jejaka Jawa, Jum?" joke-nya Johny.
Jakunnya jadi jungkat-jungkit jelalatan jenguk Juminten. "Jangan jealous, John..." jawab Juminten.
Jumat, Johny jambret, jagoannya jembatan Joglo jarinya jawil-jawil jerawatnya Juminten. Juminten jerit-jerit: "Jack, Jack, Johny jahil, jawil-jawil! !!" Jack jumping-in jalan, jembatan juga jemuran. Jack jegal Johny, jebreeet ..., Jack jotos Johny. Jidatnya Johny jendol, jadi jontor juga jendol ... jeleekk. "John, jangan jahilin Juminten ...! " jerit Jack. Jantungnya Johny jedot-jedotan, "Janji, Jack, janji Johnny jera," jawab Johny. Jack jadikan Johny join jualan jajan jejer Juminten.
Johny jadi jongosnya Jack - Juminten, jagain jongko, jualan jus jengkol jajanan jurumudi jurusan Jogja - Jombang, julukannya Jus Jengkol Johny
"Jolly-jolly Jumper." Jumpalagi, jek........! !!
Jeringatan : Jangan joba-joba jikin jerita jayak jini jagi ja ...!!! JUSAH...!!!
Gemuruh Hati Leticia
Oleh Rosalina Langa Woso
WAJAH perempuan berkepala lima itu tampak kusut. Garis-garis ketuaan melingkar hampir di seluruh kelopak matanya. Sambil tersenyum dengan kepala sedikit merunduk, Leticia menyodorkan selembar sertifikat kepada Ara. Lety, begitulah sapaannya, menatap penuh harap. Lima juta rupiah bisa diperolehnya saat itu dengan menggadaikan sertifikat tanah.
Lahan seluas tiga ratus meter persegi dengan bangunan permanen, harus dijual di bawah tangan. Paling tidak, sudah ada modal awal pernikahan putrinya Sonya dengan Andy. Pemuda asal Oepoli, yang melamar via service masage system (SMS) itu nekad buat pahe (paket hemat). Satu minggu ambil cuti, langsung pinang dan bersanding di pelaminan.
Andy, perjaka yang bekerja sebagai buruh pada sebuah perkebunan kelapa sawit di Riau Pekanbaru, Sumatera telah mencuri hati Sonya. Setiap pesan yang masuk melalui handphone, hati karyawan pada sebuah supermarket kenamaan di Kota Kupang itu luluh lantah. Maklum. Andy akan 'memberondong' dengan segudang pertanyaan. Sangat mirip dengan iklan pacar posesif yang terpampang di sudut kota. "Di mana? Dengan siapa? Sudah makan atau belum? Jam berapa kerja? Jam berapa pulang? Siapa yang jemput? Sudah tidur atau belum?" Deretan pertanyaan yang membuat hati Sony geli dan tertawa panjang.
Cinta memang mampu menembus ruang dan waktu. Kedua hatinya rekat hanya melalui pesan yang sebenarnya salah nyasar. Lety tersenyum kecut, bila mengenang wajah Sonya yang ceria dan semangat, menceritakan kisah-kasihnya bersama Andy.
Awalnya, Andy mengirim pesan lamaran itu kepada Rani, teman kelas esempe dulu. Maklum, nomor Rani dan Sony bedanya tiga dan empat di angka terakhir. Pesan melalui dua belas digit itu seharusnya ditujukan kepada Rani, serta nyasar. Pesan itu pun berlalu tanpa dikendalikan.
Sonya yang sibuk layani pembeli dibuat ketar-ketir saat membaca pesan lewat SMS itu. "Kamu sudah siap untuk dilamar? Dua bulan lagi saya pulang." Itulah pesan yang menjadi awal kisah kasih mereka berdua. "Siapa ya? Nomor ini tidak tercatat," balas Sonya tidak kalah tegas.
Lety tersentak. Ara yang dikenalnya dalam kelompok arisan satu kampung itu belum siap menyatakan kesediaan untuk memberikan pinjaman. Padahal, sejak sepuluh menit yang lalu, ayah dua anak itu telah bolak-balik membaca sertifikat rumahnya yang beralamatkan di pesisir pantai Kelurahan Oesapa. Jantungnya berdegup kencang manakalah Ara dengan mesra memanggil istrinya. "Teto..." suara Ara lembut. Agatha tergopoh-gopoh menghampiri suaminya. Dua kali Ara memanggil sebutan itu, pangilan sayang untuk perempuan yang menyimpan berbal- bal cinta untuknya. Cinta tanpa batas, tanpa pamrih yang telah memberinya status ayah dua anak.
"Teto. Ini ada Tanta Lety, mau pinjam uang dengan gadaikan sertifikat tanah," ujar Ara tenang sambil menatap istrinya yang duduk bersisian. "Kenapa tanta harus repot-repot antar sertifikat segala, kalau pun ada uang pasti kami bantu," timpal Agatha.
Agatha sangat mengerti. Perempuan yang nyaris beringsut di hadapan mereka itu telah putus asa untuk mendapatkan uang. Jauh-jauh hari, Sonya telah bercerita, kalau dirinya akan dilamar dan menikah. Tidak heran, ibunya harus pusing tujuh keliling untuk menyiapkan acara resepsi.
Lety bukan perempuan biasa. Tiga puluh tahun silam, dia adalah pemilik tubuh sintal dengan leher jangkung. Rambut hitam legam, panjang terurai sebatas bahu. Dia tampak sempurna dengan bulu mata lentik memagari bola matanya yang bundar, bening dan meneduhkan. Senyumnya menebar pesona dan tertawa lebar sambil memperlihatkan giginya yang gingsul.
Pesona itu masih ada, tersimpan rapi dalam batinnya yang setia dan ramah menyapa siapa saja. Ia lebih banyak diam saat berada dalam pertemuan keluarga, arisan ataupun bersama tetangga menikmati rujak cingur.
Kesulitan mencari lembaran rupiah untuk menyekolahkan tiga buah hati membuatnya lebih bijak dan mandiri. Garis-garis ketuaan di wajahnya yang bundar, merupakan saksi hidup baginya bahwa ia lebih banyak didera kesulitan ekonomi rumah tangga.
Satu persatu kekayaan miliknya ludes tergadai, saat terhimpit kebutuhan rumah tangga. Sofa lusuh satu set berwarna merah yang dideretkan ruang tamu menjadi satu-satunya barang mewah. Ruas jendela yang dipetak-petak dengan kaca nako tampak retak sana sini.
Sementara plafon rumahnya yang terbuat dari tripleks kian lusuh, sobekannya menjuntai nyaris menutupi lampu neon di langit-langit kamar yang disesaki banyak tamu. Sekuat tenaga, perempuan asal Sabu itu membangun tiga petak rumah untuk dijadikan kos-kosan yang sampai saat ini belum berdaun pintu dan jendela.
Rumah induk yang kini dihuni, sebagiannya dikontrakkan kepada mahasiswa, pengantin baru, para pendatang dari pulau seberang. Sementara di sudut dipannya sendiri, berdiri mesin jahit singer yang kusam. Deru mesin tua itu, terdengar ngos-ngosan saat merakit baju, kain pintu, gorden ataupun taplak meja langganannya. Deru mesin yang setia menemani hingga tengah malam, bahkan menjelang subuh saat pesanan jahitan menumpuk.
Lety bekerja serabutan untuk menghidupi hari-harinya yang panjang dan menggetirkan. Tujuh tahun silam, ibu tiga anak itu, pernah tertangkap tangan saat mengisi kayu cendana kelas satu asal SoE dalam tas pakaian.
Aroma santalum album yang terancam punah itu, membuatnya harus satu jam diadili petugas perbatasan. Dia kecewa harus pulang dengan tangan hampa. Tas itu ringan tanpa isian barang selundupan. Padahal, batinnya berbunga-bunga. Sepuluh kilogram kayu cendana itu bisa dijual untuk uang semester anaknya di Universitas Nusa Cendana
Dia sadar, dirinya hanyalah janda yang tidak memiliki kekuatan lobi untuk lolos dalam pemeriksaan itu. Ia pun digiring dan dicerca seperti penjahat perang dengan belasan pertanyaan yang menghina dan menyudutkan bathin. Padahal, dalam ingatannya yang mulai rapuh, dia banyak dengar ada banyak pejabat dan pengusaha lolos membawa berton-ton hasil hutan ke luar daerah.
Lety tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya. Lembaran rupiah berhasil diboyong dari hasil gadaian sertifikat. Dia tersenyum kecil bila mengenang peristiwa itu. Sony telah menyandang gelar sarjana. Pekan depan, perempuan yang mewarisi wajah suaminya itu resmi menjadi nyonya Andy, lelaki yang sebentar lagi memboyongnya ke perkebunan kelapa sawit.
Hari itu, Lety mengenakan kebaya merah hati dipadu dengan sarung sabu, motif lontar dibagian kakinya tampak jelas dipadu dengan sendal slof senada dengan kebaya. Dia anggun dengan sanggul moderen, diapit kembang melati. Mentari kemuning mulai rebah di kaki langit, menjemput sang malam untuk kembali keperaduannya. Wajahnya sedikit gugup, saat Master Ceremony (MC) memintanya untuk berdiri untuk mengapit putrinya menuju kediaman menantunya di Oepoli.
"Poly...," guman Lety dalam hati. Langkahnya gamang saat keluar dari ruang tamu. Tubuhnya nelangsa, bathinnya bergemuruh menahan gejolak yang mendera-dera sepanjang hari itu. "Kamu biarkan saya sendiri mengantar Sonya," ujar Lety sambil menebar senyum kepada penghuni tenda biru.
Pikirannya jauh menembus gedung kokoh di hadapannya. Jemarinya diremas-remas untuk menghalau kegalauan hati. Wajah Poly menari-nari, merasuk sukma, membangkitkan semua kenangan bersama di rumah tua itu. Lelaki yang dikenalinya di sebuah pesta keluarga, dua puluh lima tahun silam.
Kala itu, Poly tampil tenang dan tampan. Rambut cepak rapi dengan kulit wajah hitam manis. Tubuhnya atletis. Ia gagah mengenakan baju coklat berlengan pendek, dadanya bidang dipenuhi rambut, menyembul, saat dua kancing dibiarkan terbuka. Dandannya rapi. Lety tidak berdaya, manakala bola mata lelaki itu mengejarnya tanpa kedip. Memberinya kehangatan dan api cinta.
"Kamu pernah nonton acara balapan, ada yang harus mendahului garis finish. Itu tidak berarti, yang kemudian tidak mencapai garis finish kan ? Sama halnya dengan cinta yang kita rajut. Balapan itu ibaratnya menuju samudra cinta, kau dan aku sama-sama menuju ke garis finish itu," tukas Poly yang bertandang ke rumahnya, saat Lety masih berusia tiga puluh dua tahun.
Lety terdiam. Tubuhnya nyaris tak bergerak, saat Poly mendekapnya dalam-dalam. Lengan kokoh itu terlalu kukuh untuk ditepiskan. Ia biarkan, bibir yang ditumbuhi kumis terawat, mengulum mesra. Gelora cinta mendayu-dayu, menjalar sepanjang tubuh. Merintih, lalu tergolek dalam diam, setelah melepas semua himpitan dalam satu tarikan nafas yang amat panjang.
Mereka terbangun, saat hangat mentari pagi menjilati tumit lewat daun jendela yang tersingkap. Lety terperangkap dalam benih cinta, dia terlanjur dipantuli cahaya. Diam dan pasti, dibiarkan cahaya itu merasuk dalam sukmanya. Ditahtahkan jauh menjalar lewat nadinya yang setia berdenyut. Ia baru sadar, ketika buah hatinya tumbuh dalam rahimnya. Lelaki yang membuahinya itu bukanlah perjaka ting-ting. Ia telah beristri dan beranak tiga.
"Trimakasih, atas kesediaan untuk tidak sentimentil. Kamu bukan perempuan biasa. Ketenanganmu dalam bicara, kemurahan hati dan diam dalam tindakan, membuatku selalu nyaman bersamamu," puji Poly di lain saat, sambil mendekapnya ke dalam dadanya yang bidang.
Pujian itu adalah cemeti baginya untuk tidak terlalu cengeng saat melewati ribuan jam tanpa suami. Tubuhnya nelangsa, ia takut hari-hari hidupnya akan menimpa putra-putrinya. "Tidak, cukup aku saja yang melewati kegetiran ini. Sonya tidak bersalah, ia terlahir dari dua hati kami yang saling mencintai," tepis Lety dalam hati sambil beranjak dari tempat duduknya.
Aku sudah terlanjur mencintai Poly. Cintanya harus kupahami bukan sebagai suatu kesalahan yang harus dihukum. Ia telah mati terkubur dengan nisan yang mulai kabur termakan usia. Jenazahnya sudah menyatu dengan tanah liat, di pekuburan umum yang kini masih jadi polemik akan terjadi pencemaran air bawah tanah.
Didekapnya Sony kuat-kuat, detak jantungnya berpacu lebih cepat. "Pergilah... Andy sangat mencintaimu. Engkau akan merasakan betapa indahnya hidup ini, bila hidup bersanding dengan lelaki yang lebih mencintai daripada dicintai," ujar Lety menahan haru.
Malam itu, akhir November. Cahaya rembulan masih berpendar di atas batu karang, pucuk ilalang muncul setelah sepuluh bulan rebah, hilang di telan bumi. Remang-remang, deru mobil menghilang meninggalkan tenda biru, membawa pergi buah hati. "Poly, kau adalah sebuah kata cinta yang tak bisa kumaknai sampai kapanpun," bathin Lety bergemuruh. *
WAJAH perempuan berkepala lima itu tampak kusut. Garis-garis ketuaan melingkar hampir di seluruh kelopak matanya. Sambil tersenyum dengan kepala sedikit merunduk, Leticia menyodorkan selembar sertifikat kepada Ara. Lety, begitulah sapaannya, menatap penuh harap. Lima juta rupiah bisa diperolehnya saat itu dengan menggadaikan sertifikat tanah.
Lahan seluas tiga ratus meter persegi dengan bangunan permanen, harus dijual di bawah tangan. Paling tidak, sudah ada modal awal pernikahan putrinya Sonya dengan Andy. Pemuda asal Oepoli, yang melamar via service masage system (SMS) itu nekad buat pahe (paket hemat). Satu minggu ambil cuti, langsung pinang dan bersanding di pelaminan.
Andy, perjaka yang bekerja sebagai buruh pada sebuah perkebunan kelapa sawit di Riau Pekanbaru, Sumatera telah mencuri hati Sonya. Setiap pesan yang masuk melalui handphone, hati karyawan pada sebuah supermarket kenamaan di Kota Kupang itu luluh lantah. Maklum. Andy akan 'memberondong' dengan segudang pertanyaan. Sangat mirip dengan iklan pacar posesif yang terpampang di sudut kota. "Di mana? Dengan siapa? Sudah makan atau belum? Jam berapa kerja? Jam berapa pulang? Siapa yang jemput? Sudah tidur atau belum?" Deretan pertanyaan yang membuat hati Sony geli dan tertawa panjang.
Cinta memang mampu menembus ruang dan waktu. Kedua hatinya rekat hanya melalui pesan yang sebenarnya salah nyasar. Lety tersenyum kecut, bila mengenang wajah Sonya yang ceria dan semangat, menceritakan kisah-kasihnya bersama Andy.
Awalnya, Andy mengirim pesan lamaran itu kepada Rani, teman kelas esempe dulu. Maklum, nomor Rani dan Sony bedanya tiga dan empat di angka terakhir. Pesan melalui dua belas digit itu seharusnya ditujukan kepada Rani, serta nyasar. Pesan itu pun berlalu tanpa dikendalikan.
Sonya yang sibuk layani pembeli dibuat ketar-ketir saat membaca pesan lewat SMS itu. "Kamu sudah siap untuk dilamar? Dua bulan lagi saya pulang." Itulah pesan yang menjadi awal kisah kasih mereka berdua. "Siapa ya? Nomor ini tidak tercatat," balas Sonya tidak kalah tegas.
Lety tersentak. Ara yang dikenalnya dalam kelompok arisan satu kampung itu belum siap menyatakan kesediaan untuk memberikan pinjaman. Padahal, sejak sepuluh menit yang lalu, ayah dua anak itu telah bolak-balik membaca sertifikat rumahnya yang beralamatkan di pesisir pantai Kelurahan Oesapa. Jantungnya berdegup kencang manakalah Ara dengan mesra memanggil istrinya. "Teto..." suara Ara lembut. Agatha tergopoh-gopoh menghampiri suaminya. Dua kali Ara memanggil sebutan itu, pangilan sayang untuk perempuan yang menyimpan berbal- bal cinta untuknya. Cinta tanpa batas, tanpa pamrih yang telah memberinya status ayah dua anak.
"Teto. Ini ada Tanta Lety, mau pinjam uang dengan gadaikan sertifikat tanah," ujar Ara tenang sambil menatap istrinya yang duduk bersisian. "Kenapa tanta harus repot-repot antar sertifikat segala, kalau pun ada uang pasti kami bantu," timpal Agatha.
Agatha sangat mengerti. Perempuan yang nyaris beringsut di hadapan mereka itu telah putus asa untuk mendapatkan uang. Jauh-jauh hari, Sonya telah bercerita, kalau dirinya akan dilamar dan menikah. Tidak heran, ibunya harus pusing tujuh keliling untuk menyiapkan acara resepsi.
Lety bukan perempuan biasa. Tiga puluh tahun silam, dia adalah pemilik tubuh sintal dengan leher jangkung. Rambut hitam legam, panjang terurai sebatas bahu. Dia tampak sempurna dengan bulu mata lentik memagari bola matanya yang bundar, bening dan meneduhkan. Senyumnya menebar pesona dan tertawa lebar sambil memperlihatkan giginya yang gingsul.
Pesona itu masih ada, tersimpan rapi dalam batinnya yang setia dan ramah menyapa siapa saja. Ia lebih banyak diam saat berada dalam pertemuan keluarga, arisan ataupun bersama tetangga menikmati rujak cingur.
Kesulitan mencari lembaran rupiah untuk menyekolahkan tiga buah hati membuatnya lebih bijak dan mandiri. Garis-garis ketuaan di wajahnya yang bundar, merupakan saksi hidup baginya bahwa ia lebih banyak didera kesulitan ekonomi rumah tangga.
Satu persatu kekayaan miliknya ludes tergadai, saat terhimpit kebutuhan rumah tangga. Sofa lusuh satu set berwarna merah yang dideretkan ruang tamu menjadi satu-satunya barang mewah. Ruas jendela yang dipetak-petak dengan kaca nako tampak retak sana sini.
Sementara plafon rumahnya yang terbuat dari tripleks kian lusuh, sobekannya menjuntai nyaris menutupi lampu neon di langit-langit kamar yang disesaki banyak tamu. Sekuat tenaga, perempuan asal Sabu itu membangun tiga petak rumah untuk dijadikan kos-kosan yang sampai saat ini belum berdaun pintu dan jendela.
Rumah induk yang kini dihuni, sebagiannya dikontrakkan kepada mahasiswa, pengantin baru, para pendatang dari pulau seberang. Sementara di sudut dipannya sendiri, berdiri mesin jahit singer yang kusam. Deru mesin tua itu, terdengar ngos-ngosan saat merakit baju, kain pintu, gorden ataupun taplak meja langganannya. Deru mesin yang setia menemani hingga tengah malam, bahkan menjelang subuh saat pesanan jahitan menumpuk.
Lety bekerja serabutan untuk menghidupi hari-harinya yang panjang dan menggetirkan. Tujuh tahun silam, ibu tiga anak itu, pernah tertangkap tangan saat mengisi kayu cendana kelas satu asal SoE dalam tas pakaian.
Aroma santalum album yang terancam punah itu, membuatnya harus satu jam diadili petugas perbatasan. Dia kecewa harus pulang dengan tangan hampa. Tas itu ringan tanpa isian barang selundupan. Padahal, batinnya berbunga-bunga. Sepuluh kilogram kayu cendana itu bisa dijual untuk uang semester anaknya di Universitas Nusa Cendana
Dia sadar, dirinya hanyalah janda yang tidak memiliki kekuatan lobi untuk lolos dalam pemeriksaan itu. Ia pun digiring dan dicerca seperti penjahat perang dengan belasan pertanyaan yang menghina dan menyudutkan bathin. Padahal, dalam ingatannya yang mulai rapuh, dia banyak dengar ada banyak pejabat dan pengusaha lolos membawa berton-ton hasil hutan ke luar daerah.
Lety tersenyum sambil memperbaiki posisi duduknya. Lembaran rupiah berhasil diboyong dari hasil gadaian sertifikat. Dia tersenyum kecil bila mengenang peristiwa itu. Sony telah menyandang gelar sarjana. Pekan depan, perempuan yang mewarisi wajah suaminya itu resmi menjadi nyonya Andy, lelaki yang sebentar lagi memboyongnya ke perkebunan kelapa sawit.
Hari itu, Lety mengenakan kebaya merah hati dipadu dengan sarung sabu, motif lontar dibagian kakinya tampak jelas dipadu dengan sendal slof senada dengan kebaya. Dia anggun dengan sanggul moderen, diapit kembang melati. Mentari kemuning mulai rebah di kaki langit, menjemput sang malam untuk kembali keperaduannya. Wajahnya sedikit gugup, saat Master Ceremony (MC) memintanya untuk berdiri untuk mengapit putrinya menuju kediaman menantunya di Oepoli.
"Poly...," guman Lety dalam hati. Langkahnya gamang saat keluar dari ruang tamu. Tubuhnya nelangsa, bathinnya bergemuruh menahan gejolak yang mendera-dera sepanjang hari itu. "Kamu biarkan saya sendiri mengantar Sonya," ujar Lety sambil menebar senyum kepada penghuni tenda biru.
Pikirannya jauh menembus gedung kokoh di hadapannya. Jemarinya diremas-remas untuk menghalau kegalauan hati. Wajah Poly menari-nari, merasuk sukma, membangkitkan semua kenangan bersama di rumah tua itu. Lelaki yang dikenalinya di sebuah pesta keluarga, dua puluh lima tahun silam.
Kala itu, Poly tampil tenang dan tampan. Rambut cepak rapi dengan kulit wajah hitam manis. Tubuhnya atletis. Ia gagah mengenakan baju coklat berlengan pendek, dadanya bidang dipenuhi rambut, menyembul, saat dua kancing dibiarkan terbuka. Dandannya rapi. Lety tidak berdaya, manakala bola mata lelaki itu mengejarnya tanpa kedip. Memberinya kehangatan dan api cinta.
"Kamu pernah nonton acara balapan, ada yang harus mendahului garis finish. Itu tidak berarti, yang kemudian tidak mencapai garis finish kan ? Sama halnya dengan cinta yang kita rajut. Balapan itu ibaratnya menuju samudra cinta, kau dan aku sama-sama menuju ke garis finish itu," tukas Poly yang bertandang ke rumahnya, saat Lety masih berusia tiga puluh dua tahun.
Lety terdiam. Tubuhnya nyaris tak bergerak, saat Poly mendekapnya dalam-dalam. Lengan kokoh itu terlalu kukuh untuk ditepiskan. Ia biarkan, bibir yang ditumbuhi kumis terawat, mengulum mesra. Gelora cinta mendayu-dayu, menjalar sepanjang tubuh. Merintih, lalu tergolek dalam diam, setelah melepas semua himpitan dalam satu tarikan nafas yang amat panjang.
Mereka terbangun, saat hangat mentari pagi menjilati tumit lewat daun jendela yang tersingkap. Lety terperangkap dalam benih cinta, dia terlanjur dipantuli cahaya. Diam dan pasti, dibiarkan cahaya itu merasuk dalam sukmanya. Ditahtahkan jauh menjalar lewat nadinya yang setia berdenyut. Ia baru sadar, ketika buah hatinya tumbuh dalam rahimnya. Lelaki yang membuahinya itu bukanlah perjaka ting-ting. Ia telah beristri dan beranak tiga.
"Trimakasih, atas kesediaan untuk tidak sentimentil. Kamu bukan perempuan biasa. Ketenanganmu dalam bicara, kemurahan hati dan diam dalam tindakan, membuatku selalu nyaman bersamamu," puji Poly di lain saat, sambil mendekapnya ke dalam dadanya yang bidang.
Pujian itu adalah cemeti baginya untuk tidak terlalu cengeng saat melewati ribuan jam tanpa suami. Tubuhnya nelangsa, ia takut hari-hari hidupnya akan menimpa putra-putrinya. "Tidak, cukup aku saja yang melewati kegetiran ini. Sonya tidak bersalah, ia terlahir dari dua hati kami yang saling mencintai," tepis Lety dalam hati sambil beranjak dari tempat duduknya.
Aku sudah terlanjur mencintai Poly. Cintanya harus kupahami bukan sebagai suatu kesalahan yang harus dihukum. Ia telah mati terkubur dengan nisan yang mulai kabur termakan usia. Jenazahnya sudah menyatu dengan tanah liat, di pekuburan umum yang kini masih jadi polemik akan terjadi pencemaran air bawah tanah.
Didekapnya Sony kuat-kuat, detak jantungnya berpacu lebih cepat. "Pergilah... Andy sangat mencintaimu. Engkau akan merasakan betapa indahnya hidup ini, bila hidup bersanding dengan lelaki yang lebih mencintai daripada dicintai," ujar Lety menahan haru.
Malam itu, akhir November. Cahaya rembulan masih berpendar di atas batu karang, pucuk ilalang muncul setelah sepuluh bulan rebah, hilang di telan bumi. Remang-remang, deru mobil menghilang meninggalkan tenda biru, membawa pergi buah hati. "Poly, kau adalah sebuah kata cinta yang tak bisa kumaknai sampai kapanpun," bathin Lety bergemuruh. *
Kebo Lewa Sawe
Oleh Dion DB Putra
LIO mungkin tak lagi asing bagi telinga sebagian besar penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT). Lio adalah salah satu suku di Pulau Flores yang mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Ende sekarang. Yang kerap disapa Ata Lio (orang Lio) juga ada di Kabupaten Sikka yaitu di wilayah Paga, Maulo'o dan sebagian Magepanda.
Seperti umumnya penduduk NTT, kehidupan Ata Lio sangat bergantung pada usaha pertanian lahan kering. Mereka menganut sistem patrilineal agraris. Harta adalah hak milik laki-laki dan keturunan laki-laki. Secara tradisi ada pembagian kerja yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan mengurus rumah tangga. Laki-laki mencari nafkah dan menjalani peran publik. Namun, dalam mengerjakan ladang, laki-laki dan perempuan Lio melakukan secara bersama.
Saya mau menceritakan peran perempuan Lio berkaitan dengan kebo (artinya lumbung pangan). Sebagian suku Lio menyebut lewa. Bangunan kebo terbuat dari bahan lokal seperti bambu, kayu, tali ijuk dan alang-alang atau ijuk untuk atap. Letaknya dekat dengan rumah pemiliknya di kampung. Kebo juga dibangun di kebun ladang bersama mbe'i (pondok).
Sekalipun menganut patrilineal, suku Lio menghargai peran perempuan sebagai penyimpan hasil panen, penjaga lumbung dan pengelola dapur. Hal itu tercermin antara lain dalam ungkapan lesu usu wuni kai kebo bela, tau jila lika banga waja.
Perempuan Lio merupakan manajer kebo yang andal. Dialah yang mengatur isi kebo demi ketahanan pangan keluarga tetap terjamin, baik pada masa surplus maupun paceklik. Semua hasil panen dari kebun seperti padi, jagung, umbi-umbian, sorgum, kacang-kacangan, wijen, timun, labu besi disimpan dalam kebo. Sebagai "penguasa" kebo, perempuan Lio dituntut cerdas dan bijak dalam mengatur penggunaannya. Khusus untuk benih, perempuan Lio memberi perhatian khusus. Hasil panen untuk benih disimpan dalam tempat khusus dan terpisah dengan bagian panenan untuk konsumsi keluarga sehari-hari. Saya masih ingat pada masa kecil dulu melihat mamo (nenek) menyimpan semua benih semisal terung, kacang- kacang, ketimun, labu dalam ruas bambu betho (betung) tua dan kering. Bambu ditutup rapat agar benih tidak rusak diserang lembab. Ketika musim tanam tiba, benih dikeluarkan untuk ditanam. Biasanya diawali dengan upacara adat khusus.
***
KISAH tentang kebo dan peran perempuan Lio sebagai manajer pangan yang andal itu agaknya tinggal kenangan. Ketika menelusuri sejumlah kampung di Lio selatan dan utara pada bulan September dan awal November 2008, saya tak lagi menemukan kebo di kampung dan kebun ladang.
"Eda, kebo lewa sawe do nala," kata Stefanus Eko, paman saya di Kampung Pemo, Desa Wolosoko, Kecamatan Wolowaru, pekan lalu. Kebo lewa (hilang) sawe. Eksistensi lumbung pangan sudah lama memudar dan nyaris hilang dari kehidupan masyarakat petani di Lio. Kalaupun masih ada, jumlahnya sangat sedikit dan fungsinya tak lagi sama seperti dulu. Perempuan Lio masa kini tak lagi akrab dengan kebo. Mereka membeli benih di pasar atau toko. Tidak banyak lagi rumah tangga petani yang memiliki benih tanaman pangan sendiri. Peran perempuan Lio bergeser dari penjaga lumbung menjadi pemegang uang. Mereka lebih mudah mendapatkan uang dari menjual komoditi perdagangan hasil tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, cengkeh, vanili atau jambu mete, dan uang dipakai membeli benih. Pengetahuan tentang benih lokal pun sangat minim. Coba tanyakan kepada perempuan dan laki-laki Lio masa kini, saya yakin tak banyak dari mereka yang tahu benih unggul lokal.
Seperti diakui Stefanus Eko dan Firmus Dawa di Watuneso, Kecamatan Lio Timur, ladang ditanami padi, jagung, sorgum dan kacang-kacangan demi kedaulatan pangan keluarga tidak lagi menjadi perhatian utama. Mereka memilih tanaman perdagangan karena hasil lebih baik dan mudah mendapat uang. "Kami cuma buka kebun baru, tanam padi buat urusan adat. Kalau tidak sempat, beras bisa dibeli di pasar," kata Dawa. Ketergantungan petani Lio pada pasokan pangan dari luar sangat tinggi sehingga masuk akal bila eksistensi kebo tidak penting lagi. Benih tanaman pangan lokal yang unggul pun mereka tinggalkan. Dengan enteng mereka berkata, uma leka rega-rega (artinya, kebun sebagai sumber pangan ada di pasar- pasar. Mudah mendapatkannya asal ada uang). Sungguh sebuah "kehilangan" yang besar. Saya kira bukan hanya terjadi di kampung masyarakat Lio. Masyarakat Flobamora umumnya telah kehilangan warisan bernas itu.
Dulu, leluhur kita tak butuh pasar untuk dapat makan dan minum, demi mempertahankan kelangsungan hidup. Sumber makanan bergizi mereka petik dari hasil kebun sendiri. Mereka berdaulat atas isi perut sendiri. Hari ini, kebutuhan pangan sangat bergantung dari pihak lain. Dan, belum tentu pangan yang sehat.
Kembali menata kampung yang berdaulat dalam hal pangan kiranya menjadi pekerjaan rumah siapa saja. Busung lapar dan gizi buruk yang menjadi "bencana tahunan" Flobamora boleh jadi karena kita telah melupakan kebo. Ya, kebo lewa sawe! (dionbata@poskupang.co.id)
LIO mungkin tak lagi asing bagi telinga sebagian besar penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT). Lio adalah salah satu suku di Pulau Flores yang mendiami sebagian besar wilayah Kabupaten Ende sekarang. Yang kerap disapa Ata Lio (orang Lio) juga ada di Kabupaten Sikka yaitu di wilayah Paga, Maulo'o dan sebagian Magepanda.
Seperti umumnya penduduk NTT, kehidupan Ata Lio sangat bergantung pada usaha pertanian lahan kering. Mereka menganut sistem patrilineal agraris. Harta adalah hak milik laki-laki dan keturunan laki-laki. Secara tradisi ada pembagian kerja yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan mengurus rumah tangga. Laki-laki mencari nafkah dan menjalani peran publik. Namun, dalam mengerjakan ladang, laki-laki dan perempuan Lio melakukan secara bersama.
Saya mau menceritakan peran perempuan Lio berkaitan dengan kebo (artinya lumbung pangan). Sebagian suku Lio menyebut lewa. Bangunan kebo terbuat dari bahan lokal seperti bambu, kayu, tali ijuk dan alang-alang atau ijuk untuk atap. Letaknya dekat dengan rumah pemiliknya di kampung. Kebo juga dibangun di kebun ladang bersama mbe'i (pondok).
Sekalipun menganut patrilineal, suku Lio menghargai peran perempuan sebagai penyimpan hasil panen, penjaga lumbung dan pengelola dapur. Hal itu tercermin antara lain dalam ungkapan lesu usu wuni kai kebo bela, tau jila lika banga waja.
Perempuan Lio merupakan manajer kebo yang andal. Dialah yang mengatur isi kebo demi ketahanan pangan keluarga tetap terjamin, baik pada masa surplus maupun paceklik. Semua hasil panen dari kebun seperti padi, jagung, umbi-umbian, sorgum, kacang-kacangan, wijen, timun, labu besi disimpan dalam kebo. Sebagai "penguasa" kebo, perempuan Lio dituntut cerdas dan bijak dalam mengatur penggunaannya. Khusus untuk benih, perempuan Lio memberi perhatian khusus. Hasil panen untuk benih disimpan dalam tempat khusus dan terpisah dengan bagian panenan untuk konsumsi keluarga sehari-hari. Saya masih ingat pada masa kecil dulu melihat mamo (nenek) menyimpan semua benih semisal terung, kacang- kacang, ketimun, labu dalam ruas bambu betho (betung) tua dan kering. Bambu ditutup rapat agar benih tidak rusak diserang lembab. Ketika musim tanam tiba, benih dikeluarkan untuk ditanam. Biasanya diawali dengan upacara adat khusus.
***
KISAH tentang kebo dan peran perempuan Lio sebagai manajer pangan yang andal itu agaknya tinggal kenangan. Ketika menelusuri sejumlah kampung di Lio selatan dan utara pada bulan September dan awal November 2008, saya tak lagi menemukan kebo di kampung dan kebun ladang.
"Eda, kebo lewa sawe do nala," kata Stefanus Eko, paman saya di Kampung Pemo, Desa Wolosoko, Kecamatan Wolowaru, pekan lalu. Kebo lewa (hilang) sawe. Eksistensi lumbung pangan sudah lama memudar dan nyaris hilang dari kehidupan masyarakat petani di Lio. Kalaupun masih ada, jumlahnya sangat sedikit dan fungsinya tak lagi sama seperti dulu. Perempuan Lio masa kini tak lagi akrab dengan kebo. Mereka membeli benih di pasar atau toko. Tidak banyak lagi rumah tangga petani yang memiliki benih tanaman pangan sendiri. Peran perempuan Lio bergeser dari penjaga lumbung menjadi pemegang uang. Mereka lebih mudah mendapatkan uang dari menjual komoditi perdagangan hasil tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, cengkeh, vanili atau jambu mete, dan uang dipakai membeli benih. Pengetahuan tentang benih lokal pun sangat minim. Coba tanyakan kepada perempuan dan laki-laki Lio masa kini, saya yakin tak banyak dari mereka yang tahu benih unggul lokal.
Seperti diakui Stefanus Eko dan Firmus Dawa di Watuneso, Kecamatan Lio Timur, ladang ditanami padi, jagung, sorgum dan kacang-kacangan demi kedaulatan pangan keluarga tidak lagi menjadi perhatian utama. Mereka memilih tanaman perdagangan karena hasil lebih baik dan mudah mendapat uang. "Kami cuma buka kebun baru, tanam padi buat urusan adat. Kalau tidak sempat, beras bisa dibeli di pasar," kata Dawa. Ketergantungan petani Lio pada pasokan pangan dari luar sangat tinggi sehingga masuk akal bila eksistensi kebo tidak penting lagi. Benih tanaman pangan lokal yang unggul pun mereka tinggalkan. Dengan enteng mereka berkata, uma leka rega-rega (artinya, kebun sebagai sumber pangan ada di pasar- pasar. Mudah mendapatkannya asal ada uang). Sungguh sebuah "kehilangan" yang besar. Saya kira bukan hanya terjadi di kampung masyarakat Lio. Masyarakat Flobamora umumnya telah kehilangan warisan bernas itu.
Dulu, leluhur kita tak butuh pasar untuk dapat makan dan minum, demi mempertahankan kelangsungan hidup. Sumber makanan bergizi mereka petik dari hasil kebun sendiri. Mereka berdaulat atas isi perut sendiri. Hari ini, kebutuhan pangan sangat bergantung dari pihak lain. Dan, belum tentu pangan yang sehat.
Kembali menata kampung yang berdaulat dalam hal pangan kiranya menjadi pekerjaan rumah siapa saja. Busung lapar dan gizi buruk yang menjadi "bencana tahunan" Flobamora boleh jadi karena kita telah melupakan kebo. Ya, kebo lewa sawe! (dionbata@poskupang.co.id)
Rabu, 19 November 2008
Tu'u" Belis di Nusa Lontar
SELAMA beratus tahun, kematian dan pernikahan di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, adalah pesta pora. Bukan pesta biasa, tetapi ritual minum dan makan daging berhari-hari. Puluhan hingga ratusan domba, babi, sapi, atau kuda dikorbankan.
Bagi keluarga bangsawan, itulah waktunya ”mengerahkan” sumber daya untuk pesta bernilai ratusan juta rupiah.
Kemeriahan pesta adalah mutlak, tak peduli empunya pesta si kaya atau miskin. Kemeriahan tak mengenal status ekonomi. Semakin tinggi status sosial keluarga, pesta makin meriah. Seperti dialami keluarga Tolasik, salah seorang bangsawan di Kota Ba’a (sekarang nama ibu kota kabupaten).
Ratusan ternak dikorbankan bagi pesta kematian. Tiada hari tanpa makan daging dan minum. ”Dari keluarga menyiapkan 60 ekor kerbau dan babi, belum termasuk ternak sumbangan,” kata Meslik Tolasik, salah satu cucu mendiang, ketika dikunjungi Kompas dan tim dari World Vision Indonesia (WVI) akhir September 2008.
Secara adat, ”genderang” pesta kematian ditabuh saat buka neneik (tikar), sesaat setelah ada anggota keluarga meninggal. Berhari-hari, kerabat, kenalan, dan tokoh sebaya anggota keluarga yang meninggal duduk- duduk, ngobrol, dan berpantun mengenang mendiang.
Sementara itu, rangkaian pesta pernikahan dimulai saat kedua keluarga calon mempelai memastikan tanggal pernikahan. Saat itulah besaran belis (mas kawin) diketahui.
Umumnya, belis mencapai Rp 20 jutaan, yang ditanggung keluarga besar melalui serangkaian pertemuan tu’u belis (kumpul ongkos kawin). Tahapan itu untuk memastikan kesanggupan kerabat soal besaran sumbangan.
Sumbangan, baik uang maupun ternak, dicatat; nama penyumbang, jumlah uang, hingga kondisi ternak (lingkar perut atau gemuk-tidaknya ternak). Pada setiap tahapan tu’u, pesta daging tak pernah absen.
Setidaknya ada tiga tahapan tu’u belis, yakni tu’u daftar (mendaftar keluarga yang akan diundang), tu’u kumpul keluarga (membicarakan sumbangan yang akan diberikan), dan tu’u penyetoran (menyerahkan sumbangan). Barulah puncak acara tiba; pesta nikah.
Nama penyumbang dan sumbangan disimpan rapi untuk pengembalian. Mengembalikan sumbangan wajib hukumnya. Kalau tidak? ”Yang bersangkutan akan dipermalukan dengan pengumuman saat pesta,” kata Maneleo (kepala suku) Nusak Ba’a John Ndolu (45).
Saling sumbang bernilai jutaan rupiah menjerumuskan warga pada jeratan utang, yang bahkan diwariskan. Dengan kata lain, mempelai langsung menanggung utang secara adat.
Di Rote, tak sedikit kasus putus sekolah karena tak ada biaya. Namun, jangan sampai tak ada uang untuk menyumbang pesta.
Untuk pesta kematian atau pernikahan, tak ada istilah miskin. Warga lebih malu tiada pesta daripada anak-anaknya putus sekolah. ”Bisa dibilang, orang pergi bekerja bukan untuk uang sekolah, tetapi membayar ketentuan adat,” kata Kepala Desa Oelunggu Adrianus Tulle.
Angin perubahan
Beratus tahun eksis, berembus angin perubahan budaya tu’u belis kematian dan pernikahan. Kelompok pembaru atau perevitalisasi budaya muncul.
John Ndolu, Maneleo Nusak Ba’a, adalah tokoh di balik itu. ”Kami hanya menyederhanakan praktik-praktik budaya yang berlebihan. Nilai-nilainya tetap bertahan,” kata maneleo, pilihan warga pada Januari 2006 itu.
Revitalisasi budaya didukung WVI, organisasi nirlaba yang di antaranya mendukung pendidikan dan nutrisi anak. Pesta pora kematian dan pernikahan melanggengkan kemiskinan. ”Kesejahteraan warga dan pendidikan anak-anak terkena dampaknya,” kata Manajer WVI Program Rote Sugiyarto. Cikal bakal WVI di Rote hampir 15 tahun lalu.
Revitalisasi budaya memangkas ongkos pesta belasan juta rupiah. Mas kawin yang dulunya Rp 20 jutaan, disepakati warga cukup Rp 3,65 juta. Pesta pun disepakati sekali dengan menyembelih satu hewan besar dan satu hewan kecil. Dulu, minimal puluhan ekor! ”Pesta pada saat ucapan syukur,” kata John.
Pesta daging pada setiap kumpul keluarga pun ditiadakan. Jika ada, cukup kue dan teh.
Penerimaan warga di luar dugaan, termasuk kerelaan hati memutihkan piutang ternak yang dulu mereka sumbangkan. Sanksi pun diatur, berupa denda Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Contoh pelanggaran, menyembelih ternak berlebihan, atau menyediakan daging mentah untuk dibawa pulang.
”Beberapa orang pernah mencoba melanggar, termasuk menyuap saya dengan bawaan daging mentah. Saya tolak!” kata John. Perlahan tetapi pasti, revitalisasi dipatuhi.
Sejak tahun 2003
Revitalisasi budaya di Rote dimulai tahun 2003. Gerakan itu makin kuat ketika John Ndolu terpilih sebagai Maneleo Nusak Ba’a. Ia memimpin lima leo (kumpulan marga), setara dengan sekitar 1.200-an keluarga.
Dimulai komunitas warga Kunak, lima tahun lalu, kini tiga nusak mengadopsi (nusak Lole, Ba’a, dan Lelain atau Lobalaen). Rote Ndao terdiri atas 19 nusak.
Saat ini, sejumlah nusak mulai merevitalisasi meskipun belum sepenuhnya. Namun, lebih banyak nusak yang masih menolak. Beberapa warga asli Rote di luar pulau pun masih ada yang menolak. Satu alasan, warisan leluhur patut terus dijaga.
Sebenarnya, pesta kematian dan pernikahan masih dijalankan warga ”Nusa Lontar”. Mereka hanya ingin memutus rantai kemiskinan. (kompas.com)
Bagi keluarga bangsawan, itulah waktunya ”mengerahkan” sumber daya untuk pesta bernilai ratusan juta rupiah.
Kemeriahan pesta adalah mutlak, tak peduli empunya pesta si kaya atau miskin. Kemeriahan tak mengenal status ekonomi. Semakin tinggi status sosial keluarga, pesta makin meriah. Seperti dialami keluarga Tolasik, salah seorang bangsawan di Kota Ba’a (sekarang nama ibu kota kabupaten).
Ratusan ternak dikorbankan bagi pesta kematian. Tiada hari tanpa makan daging dan minum. ”Dari keluarga menyiapkan 60 ekor kerbau dan babi, belum termasuk ternak sumbangan,” kata Meslik Tolasik, salah satu cucu mendiang, ketika dikunjungi Kompas dan tim dari World Vision Indonesia (WVI) akhir September 2008.
Secara adat, ”genderang” pesta kematian ditabuh saat buka neneik (tikar), sesaat setelah ada anggota keluarga meninggal. Berhari-hari, kerabat, kenalan, dan tokoh sebaya anggota keluarga yang meninggal duduk- duduk, ngobrol, dan berpantun mengenang mendiang.
Sementara itu, rangkaian pesta pernikahan dimulai saat kedua keluarga calon mempelai memastikan tanggal pernikahan. Saat itulah besaran belis (mas kawin) diketahui.
Umumnya, belis mencapai Rp 20 jutaan, yang ditanggung keluarga besar melalui serangkaian pertemuan tu’u belis (kumpul ongkos kawin). Tahapan itu untuk memastikan kesanggupan kerabat soal besaran sumbangan.
Sumbangan, baik uang maupun ternak, dicatat; nama penyumbang, jumlah uang, hingga kondisi ternak (lingkar perut atau gemuk-tidaknya ternak). Pada setiap tahapan tu’u, pesta daging tak pernah absen.
Setidaknya ada tiga tahapan tu’u belis, yakni tu’u daftar (mendaftar keluarga yang akan diundang), tu’u kumpul keluarga (membicarakan sumbangan yang akan diberikan), dan tu’u penyetoran (menyerahkan sumbangan). Barulah puncak acara tiba; pesta nikah.
Nama penyumbang dan sumbangan disimpan rapi untuk pengembalian. Mengembalikan sumbangan wajib hukumnya. Kalau tidak? ”Yang bersangkutan akan dipermalukan dengan pengumuman saat pesta,” kata Maneleo (kepala suku) Nusak Ba’a John Ndolu (45).
Saling sumbang bernilai jutaan rupiah menjerumuskan warga pada jeratan utang, yang bahkan diwariskan. Dengan kata lain, mempelai langsung menanggung utang secara adat.
Di Rote, tak sedikit kasus putus sekolah karena tak ada biaya. Namun, jangan sampai tak ada uang untuk menyumbang pesta.
Untuk pesta kematian atau pernikahan, tak ada istilah miskin. Warga lebih malu tiada pesta daripada anak-anaknya putus sekolah. ”Bisa dibilang, orang pergi bekerja bukan untuk uang sekolah, tetapi membayar ketentuan adat,” kata Kepala Desa Oelunggu Adrianus Tulle.
Angin perubahan
Beratus tahun eksis, berembus angin perubahan budaya tu’u belis kematian dan pernikahan. Kelompok pembaru atau perevitalisasi budaya muncul.
John Ndolu, Maneleo Nusak Ba’a, adalah tokoh di balik itu. ”Kami hanya menyederhanakan praktik-praktik budaya yang berlebihan. Nilai-nilainya tetap bertahan,” kata maneleo, pilihan warga pada Januari 2006 itu.
Revitalisasi budaya didukung WVI, organisasi nirlaba yang di antaranya mendukung pendidikan dan nutrisi anak. Pesta pora kematian dan pernikahan melanggengkan kemiskinan. ”Kesejahteraan warga dan pendidikan anak-anak terkena dampaknya,” kata Manajer WVI Program Rote Sugiyarto. Cikal bakal WVI di Rote hampir 15 tahun lalu.
Revitalisasi budaya memangkas ongkos pesta belasan juta rupiah. Mas kawin yang dulunya Rp 20 jutaan, disepakati warga cukup Rp 3,65 juta. Pesta pun disepakati sekali dengan menyembelih satu hewan besar dan satu hewan kecil. Dulu, minimal puluhan ekor! ”Pesta pada saat ucapan syukur,” kata John.
Pesta daging pada setiap kumpul keluarga pun ditiadakan. Jika ada, cukup kue dan teh.
Penerimaan warga di luar dugaan, termasuk kerelaan hati memutihkan piutang ternak yang dulu mereka sumbangkan. Sanksi pun diatur, berupa denda Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Contoh pelanggaran, menyembelih ternak berlebihan, atau menyediakan daging mentah untuk dibawa pulang.
”Beberapa orang pernah mencoba melanggar, termasuk menyuap saya dengan bawaan daging mentah. Saya tolak!” kata John. Perlahan tetapi pasti, revitalisasi dipatuhi.
Sejak tahun 2003
Revitalisasi budaya di Rote dimulai tahun 2003. Gerakan itu makin kuat ketika John Ndolu terpilih sebagai Maneleo Nusak Ba’a. Ia memimpin lima leo (kumpulan marga), setara dengan sekitar 1.200-an keluarga.
Dimulai komunitas warga Kunak, lima tahun lalu, kini tiga nusak mengadopsi (nusak Lole, Ba’a, dan Lelain atau Lobalaen). Rote Ndao terdiri atas 19 nusak.
Saat ini, sejumlah nusak mulai merevitalisasi meskipun belum sepenuhnya. Namun, lebih banyak nusak yang masih menolak. Beberapa warga asli Rote di luar pulau pun masih ada yang menolak. Satu alasan, warisan leluhur patut terus dijaga.
Sebenarnya, pesta kematian dan pernikahan masih dijalankan warga ”Nusa Lontar”. Mereka hanya ingin memutus rantai kemiskinan. (kompas.com)
Hemat Listrik Rp 3 Miliar Per Tahun
Oleh Hermina Pello
SAAT ini daya mampu mesin-mesin di PLTD Tenau hanya sekitar 25 megawatt (MW). Jika semua mesin berfungsi sementara pemakaian pada waktu beban puncak, mulai pukul 18.00 hingga pukul 22.00 Wita, maka daya itu mencapai 25,5 MW. Setelah pukul 22.00 Wita, ketika ada warga mulai istirahat sehingga mematikan televisi, lampu dan lainnya, barulah daya yang terpakai mulai berkurang.
"Sudah lama PLN mengampanyekan hemat energi dengan cara mengganti lampu TL atau lampu pijar dengan lampu hemat energi. Juga mematikan dua mata lampu saja untuk setiap pelanggan. Tapi itu belum dituruti secara baik," kata Kepala PLN Cabang Kupang, Willer Marpaung, di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2008).
Menurut dia, mematikan dua mata lampu di mana satu mata lampu 25 watt, jika dua mata lampu dipadamkan, maka akan ada 50 watt yang dipadamkan. Hitung saja, ada 53.000 pelanggan PLN, maka jika masing-masing memadamkan lampu 50 watt, berarti ada sekitar 1.650.000 watt atau 1,6 MW yang dihemat.
Pemadaman yang terjadi sekarang ini, katanya, sebesar 3,5 MW. Jadi, kalau ada penghematan 1,6 MW, maka daya yang digunakan hanya 1,9 MW saja. Jika rata- rata pelanggan PLN dayanya 900 voltampere (vA), maka dari daya sebesar 1,6 MW itu bisa digunakan untuk sekitar 2.000 pelanggan.
Akan tetapi, lanjut Marpaung, kalau hanya satu atau dua orang yang memadamkan dua mata lampu, maka itu tidak akan berarti. Namun, jika semua pelanggan secara bersama-sama melakukan pemadaman dua mata lampu, maka akan sangat berarti bagi pelanggan lainnya.
Kalau dikalkulasi, demikian Marpaung, jumlah penghematan dari segi pembayaran rekening tidak besar. Namun, kalau mematikan lampu 50 watt selama empat jam, berarti 200 watt/hari dikali dengan 30 hari, maka hasilnya 6 KW.
Satu kilowatt itu, kata Marpaung, tarifnya Rp 500 sehingga dalam satu bulan hanya menghemat Rp 3.000,00. Bukan nilai rekeningnya yang dihitung, tetapi bagaimana pelanggan ikut merasakan pemadaman tatkala orang lain mengalami pemadaman sementara yang lain tidak padam.
Menurut dia, ada banyak cara untuk hemat listrik. Tapi itu semua kembali pada diri sendiri, matikan televisi tidak ada yang menonton, atau komputer, jika tidak ada yang menggunakannya dan masih banyak lagi. Atau bagi pelanggan PLN yang mampu, yang memiliki AC namun tidak menghidupkannya AC pada waktu beban puncak, maka banyak orang lain yang bisa terbantu.
Seandainya ada 1.000 unit AC berdaya 1,5 PK yang menggunakan daya listrik sebesar 1.000 watt, maka kalau saja tidak dinyalakan, berarti 1.000 pelanggan PLN lainnya tidak perlu mengalami pemadaman, karena daya yang tidak digunakan itu bisa disalurkan kepada orang lain.
Prinsip hemat energi ini, kata Marpaung, perlu dipahami oleh orang-orang yang duduk di pemerintahan. Karena penghematan energi itu sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Penghematan Energi dan Air. Pemerintah Propinsi NTT semasa Gubernur Piet A Tallo, S.H, juga pernah mengeluarkan surat meminta semua pihak, baik pemerintah kota/kabupaten maupun masyarakat melakukan penghematan energi. Namun sampai sekarang surat itu sepertinya tidak digubris.
Contohnya, jika Anda berjalan pada malam hari di Jalan EL Tari II, maka Anda akan bangga bahwa kota Kupang terang benderang sebab lampu jalan menggunakan lampu merkuri 250 watt. Tapi terangnya lampu jalan itu merupakan bagian dari pemborosan.
Data PLN Cabang Kupang, menyebutkan di Kota Kupang ini terpasang 3.175 lampu jalan merkuri sebesar 250 watt, lampu TL sebanyak 745 unit, ada juga sembilan lampu jalan yang terbuat dari lampu halogen sebesar 250 watt, ada 61 lampu hias dan enam lampu pijar.
Penghematan bisa dilakukan dengan mengganti lampu merkuri atau lampu halogen dengan lampu hemat energi 85 wat. Jika itu yang dilakukan, maka ada penghematan daya 165 watt/lampu. Bila dikalkulasikan maka terjadi penghematan daya 523.875 watt atau sekitar 0,5 MW. Kalau pelanggan PLN kategori rumah tangga memasang daya 450 watt, maka dengan penghematan tersebut sekitar 1.000 pelanggan tidak perlu mengalami pemadaman.
Penghematan itu tidak hanya energi, tetapi juga dalam pembayaran rekening. Pemerintah harus membayar lampu jalan yang menggunakan merkuri atau halogen sebesar Rp 119.065/bulan untuk satu mata lampu. Tetapi kalau diganti dengan lampu hemat energi, maka pemerintah hanya membayar Rp 23.815/bulan.
Itu berarti ada selisih uang Rp 95.250,00/bulan untuk setiap mata lampu. Nilai sebesar Rp 95.250 jika dikalikan dengan 3.175 lampu, maka pemerintah bisa berhemat Rp 302.418.750/bulan dan dalam satu tahun, pemerintah bisa berhemat lebih dari Rp 3 miliar.
Dana sebesar Rp 3 miliar itu, lanjut Marpaung, bisa dialokasikan untuk kesehatan, atau pendidikan atau untuk pembuatan infrastruktur seperti jalan dan lainnya untuk meningkatkan perekonomian suatu wilayah.
Menurut Marpaung, mengganti lampu merkuri atau halogen itu butuh dana, tetapi dalam waktu dua bulan, dana itu sudah bisa tertutupi karena untuk mengganti satu mata lampu membutuhkan dana sekitar Rp 150.000,00. "Tapi kalau dilihat dari selisih pembayaran rekening, dalam waktu dua bulan saja, pemerintah sudah bisa mengganti lampu tersebut," ujar Marpaung.
Dia menyebutkan, terkait permintaan mengganti merkuri dengan lampu hemat energi itu, PLN Cabang Kupang telah melayangkan surat ke semua bupati/walikota yang termasuk dalam daerah pelayanan PLN Cabang Kupang pada 12 September 2008. Namun keseriusan pemerintah itu hingga kini belum diwujudkan secara optimal. (ira)
SAAT ini daya mampu mesin-mesin di PLTD Tenau hanya sekitar 25 megawatt (MW). Jika semua mesin berfungsi sementara pemakaian pada waktu beban puncak, mulai pukul 18.00 hingga pukul 22.00 Wita, maka daya itu mencapai 25,5 MW. Setelah pukul 22.00 Wita, ketika ada warga mulai istirahat sehingga mematikan televisi, lampu dan lainnya, barulah daya yang terpakai mulai berkurang.
"Sudah lama PLN mengampanyekan hemat energi dengan cara mengganti lampu TL atau lampu pijar dengan lampu hemat energi. Juga mematikan dua mata lampu saja untuk setiap pelanggan. Tapi itu belum dituruti secara baik," kata Kepala PLN Cabang Kupang, Willer Marpaung, di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2008).
Menurut dia, mematikan dua mata lampu di mana satu mata lampu 25 watt, jika dua mata lampu dipadamkan, maka akan ada 50 watt yang dipadamkan. Hitung saja, ada 53.000 pelanggan PLN, maka jika masing-masing memadamkan lampu 50 watt, berarti ada sekitar 1.650.000 watt atau 1,6 MW yang dihemat.
Pemadaman yang terjadi sekarang ini, katanya, sebesar 3,5 MW. Jadi, kalau ada penghematan 1,6 MW, maka daya yang digunakan hanya 1,9 MW saja. Jika rata- rata pelanggan PLN dayanya 900 voltampere (vA), maka dari daya sebesar 1,6 MW itu bisa digunakan untuk sekitar 2.000 pelanggan.
Akan tetapi, lanjut Marpaung, kalau hanya satu atau dua orang yang memadamkan dua mata lampu, maka itu tidak akan berarti. Namun, jika semua pelanggan secara bersama-sama melakukan pemadaman dua mata lampu, maka akan sangat berarti bagi pelanggan lainnya.
Kalau dikalkulasi, demikian Marpaung, jumlah penghematan dari segi pembayaran rekening tidak besar. Namun, kalau mematikan lampu 50 watt selama empat jam, berarti 200 watt/hari dikali dengan 30 hari, maka hasilnya 6 KW.
Satu kilowatt itu, kata Marpaung, tarifnya Rp 500 sehingga dalam satu bulan hanya menghemat Rp 3.000,00. Bukan nilai rekeningnya yang dihitung, tetapi bagaimana pelanggan ikut merasakan pemadaman tatkala orang lain mengalami pemadaman sementara yang lain tidak padam.
Menurut dia, ada banyak cara untuk hemat listrik. Tapi itu semua kembali pada diri sendiri, matikan televisi tidak ada yang menonton, atau komputer, jika tidak ada yang menggunakannya dan masih banyak lagi. Atau bagi pelanggan PLN yang mampu, yang memiliki AC namun tidak menghidupkannya AC pada waktu beban puncak, maka banyak orang lain yang bisa terbantu.
Seandainya ada 1.000 unit AC berdaya 1,5 PK yang menggunakan daya listrik sebesar 1.000 watt, maka kalau saja tidak dinyalakan, berarti 1.000 pelanggan PLN lainnya tidak perlu mengalami pemadaman, karena daya yang tidak digunakan itu bisa disalurkan kepada orang lain.
Prinsip hemat energi ini, kata Marpaung, perlu dipahami oleh orang-orang yang duduk di pemerintahan. Karena penghematan energi itu sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Penghematan Energi dan Air. Pemerintah Propinsi NTT semasa Gubernur Piet A Tallo, S.H, juga pernah mengeluarkan surat meminta semua pihak, baik pemerintah kota/kabupaten maupun masyarakat melakukan penghematan energi. Namun sampai sekarang surat itu sepertinya tidak digubris.
Contohnya, jika Anda berjalan pada malam hari di Jalan EL Tari II, maka Anda akan bangga bahwa kota Kupang terang benderang sebab lampu jalan menggunakan lampu merkuri 250 watt. Tapi terangnya lampu jalan itu merupakan bagian dari pemborosan.
Data PLN Cabang Kupang, menyebutkan di Kota Kupang ini terpasang 3.175 lampu jalan merkuri sebesar 250 watt, lampu TL sebanyak 745 unit, ada juga sembilan lampu jalan yang terbuat dari lampu halogen sebesar 250 watt, ada 61 lampu hias dan enam lampu pijar.
Penghematan bisa dilakukan dengan mengganti lampu merkuri atau lampu halogen dengan lampu hemat energi 85 wat. Jika itu yang dilakukan, maka ada penghematan daya 165 watt/lampu. Bila dikalkulasikan maka terjadi penghematan daya 523.875 watt atau sekitar 0,5 MW. Kalau pelanggan PLN kategori rumah tangga memasang daya 450 watt, maka dengan penghematan tersebut sekitar 1.000 pelanggan tidak perlu mengalami pemadaman.
Penghematan itu tidak hanya energi, tetapi juga dalam pembayaran rekening. Pemerintah harus membayar lampu jalan yang menggunakan merkuri atau halogen sebesar Rp 119.065/bulan untuk satu mata lampu. Tetapi kalau diganti dengan lampu hemat energi, maka pemerintah hanya membayar Rp 23.815/bulan.
Itu berarti ada selisih uang Rp 95.250,00/bulan untuk setiap mata lampu. Nilai sebesar Rp 95.250 jika dikalikan dengan 3.175 lampu, maka pemerintah bisa berhemat Rp 302.418.750/bulan dan dalam satu tahun, pemerintah bisa berhemat lebih dari Rp 3 miliar.
Dana sebesar Rp 3 miliar itu, lanjut Marpaung, bisa dialokasikan untuk kesehatan, atau pendidikan atau untuk pembuatan infrastruktur seperti jalan dan lainnya untuk meningkatkan perekonomian suatu wilayah.
Menurut Marpaung, mengganti lampu merkuri atau halogen itu butuh dana, tetapi dalam waktu dua bulan, dana itu sudah bisa tertutupi karena untuk mengganti satu mata lampu membutuhkan dana sekitar Rp 150.000,00. "Tapi kalau dilihat dari selisih pembayaran rekening, dalam waktu dua bulan saja, pemerintah sudah bisa mengganti lampu tersebut," ujar Marpaung.
Dia menyebutkan, terkait permintaan mengganti merkuri dengan lampu hemat energi itu, PLN Cabang Kupang telah melayangkan surat ke semua bupati/walikota yang termasuk dalam daerah pelayanan PLN Cabang Kupang pada 12 September 2008. Namun keseriusan pemerintah itu hingga kini belum diwujudkan secara optimal. (ira)
Senin, 17 November 2008
Sui Wu'u, Lauk yang Terlupakan
Oleh Rosalina Langa Woso
SECARA
geografis Desa Mangulewa menempati posisi tertinggi Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Alam Mangulewa yang dingin, dibalut kabut hampir separuh waktu, membuat warga cenderung 'malas' menyingkap selimut di pagi hari. Banyak aktivitas tertunda. Memindahkan kuda (dheso jara) ke rumput hijau tertunda. Pergi ke kebun (dua uma) pun tertunda.
Tetapi kondisi alam kampungku yang dingin itu dikenal subur. Sayur wortel manis dan segar, pucuk labu, buncis kepompong yang gurih, sawi dan kol berjejer di rebis rumah. Sayur-sayuran itu sangat laris di pasar-pasar tradisional, menembus pasaran Ende, Maumere bahkan Kupang.
Kampungku tidak hanya dikenal sebagai 'gudang sayur'. Ada sumber protein hewani yang diolah oleh nenek moyang sejak tempo dulu. Cara meramu lauk tradisional itu mencegah lahirnya generasi kurang gizi. Sui wu'u menjadi lauk pauk yang digemari masyarakat setempat.
Proses pengawetan sui wu'u tidak menggunakan zat kimia. Daging segar yang tidak habis dikonsumsi dalam suatu pesta perkawinan, pesta adat reba atau acara adat lainnya, dipotong dadu dengan ketebalan 5 cm. Daging itu dibilas hingga bersih lalu ditiriskan hingga kering.
Para ibu rumah tangga selalu menyisihkan tepung jagung (jagung yang ditumbuk pakai lesung) untuk dijadikan bahan pengawet. Tepung jagung yang ditampi warnanya kuning, terasa halus saat dipilin dengan kedua jari tangan. Daging yang telah ditiriskan itu digulung rata dengan tepung jagung. Hampir sama seperti menggulung tepung panir pada menu udang, cumi-cumi ataupun ayam goreng di restoran-restoran kota.
Daging yang terbungkus tepung jagung lalu disimpan dalam tuku (tiga ruas bambu tua) yang kulitnya telah disapih. Ruas bambu dipilih harus sudah tua. Dindingnya dihaluskan dengan sayatan pisau, bagian ujungnya diberi penutup. Fungsinya untuk mengurangi keluar masuknya udara, sehingga daging tidak cepat rusak.
Biasanya tuku yang berisi daging disimpan di dinding sekitar tungku api. Bila dinding dapur tidak luas, biasanya digantung para-para tepat di atas tiga tungku dapur. Pelan tapi pasti, dinding tuku berisi sui wu'u diterpa asap yang mengepul dari tungku api.
Sambil menyelam minum air, itulah ungkapan yang tepat untuk melukiskan proses pengawetan sui wu'u di kampungku. Api yang dinyalakan para ibu rumah tangga tidak hanya untuk menanak nasi, tetapi turut menghangatkan sui wu'u. Daging akan awet sepanjang waktu dengan kehangatan api setiap hari.
Meski daging awet selama beberapa bulan, sui wu'u harus segera dikonsumsi agar aman dan nilai gizinya tetap memenuhi standar kesehatan.
Su'i wu'u biasanya diracik untuk persediaan lauk di masa penceklik atau sebagai bekal untuk menempuh perjalanan jauh. Warga setempat harus meninggalkan perkampungan menuju dataran Zeu (ladang padi dan jagung) yang terkenal subur di Kecamatan Golewa.
Saat ini sui wu'u mulai ditinggalkan. Bisa dihitung dengan jari, masih ada warga Mangulewa yang setia meramunya sebagai lauk keluarga. Kelupaan masyarakat akan sui wu'u dapat dimaklumi karena pesatnya teknologi seperti kulkas, yang mampu mengawetkan daging segar. Padahal, sebelum kulkas hadir dan merajai kota Bajawa, sui wu'u salah satu lauk yang dijamin nyaman untuk konsumsi.
Rasa sui wu'u sama seperti daging yang baru disembelih. Hanya, dalam segi aroma lebih tajam karena diselingi tepung jagung. Sui wu'u akan membangkitkan selera makan bila dibakar dalam bara panas.
Daging ini ditusuk dengan lidi atau kawat kecil, mirip membakar sate. Bara api yang panas membakar seluruh permukaan tepung jagung, aroma menyengat hidung lalu menebar ke atap dapur. Minyak daging yang menetes akan sedap disantap bila dibiarkan jatuh membasahi permukaan helai daun pepaya muda.
Konon daun pepaya akan hilang pahitnya karena telah diluluhlantakkan oleh khasiat minyak sui wu'u. Daging yang telah masak itu diiris sebesar ruas ibu jari. Sui wu'u lalu dibungkus daun pepaya, dicelupkan dalam koro bara lai (lombok yang diberi irisan tomat).
Hem...lebil lezat lagi bila dimakan dengan jagung goreng. Menu ini terasa lengkap kalau diakhiri dengan secangkir tua bhara (tuak putih), yang disadap dari pohon nira di pagi hari.
Kebiasaan untuk meracik sui wu'u bukan sekadar untuk melestarikan budaya nenek moyang. Sejak dulu sui wu'u dijadikan sarana silaturahmi di ladang. Para tamu yang 'gotong royong' menyiangi rumput bisa disuguhi lauk ini. Bila daun pepaya tidak disajikan, sui wu'u nyaman kalau dilahap bersama daun kacang, pucuk labu yang 'dilemaskan' dalam air panas.
Sambil menikmati jagung goreng, sui wu'u dengan seteguk tuak, semua pekerjaaan tanam menanam terasa ringan dan mudah dirampungkan. Usai berladang, mereka duduk bersila (be'i benga) membentuk lingkaran di atas bheja (lantai panggung yang terbuat dari bambu cincang). Punggung disandarkan santai sambil menikmati sui wu'u.
Ada harapan lain yang tersimpan. Agar generasi tidak dicap sebagai generasi kurang gizi, seperti gizi buruk yang terjadi dewasa ini. Sui wu'u, lauk yang bergizi, nyaman, praktis disantap. Sayang, nasibnya menjadi lauk yang terlupakan. *
SECARA
geografis Desa Mangulewa menempati posisi tertinggi Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Alam Mangulewa yang dingin, dibalut kabut hampir separuh waktu, membuat warga cenderung 'malas' menyingkap selimut di pagi hari. Banyak aktivitas tertunda. Memindahkan kuda (dheso jara) ke rumput hijau tertunda. Pergi ke kebun (dua uma) pun tertunda.Tetapi kondisi alam kampungku yang dingin itu dikenal subur. Sayur wortel manis dan segar, pucuk labu, buncis kepompong yang gurih, sawi dan kol berjejer di rebis rumah. Sayur-sayuran itu sangat laris di pasar-pasar tradisional, menembus pasaran Ende, Maumere bahkan Kupang.
Kampungku tidak hanya dikenal sebagai 'gudang sayur'. Ada sumber protein hewani yang diolah oleh nenek moyang sejak tempo dulu. Cara meramu lauk tradisional itu mencegah lahirnya generasi kurang gizi. Sui wu'u menjadi lauk pauk yang digemari masyarakat setempat.
Proses pengawetan sui wu'u tidak menggunakan zat kimia. Daging segar yang tidak habis dikonsumsi dalam suatu pesta perkawinan, pesta adat reba atau acara adat lainnya, dipotong dadu dengan ketebalan 5 cm. Daging itu dibilas hingga bersih lalu ditiriskan hingga kering.
Para ibu rumah tangga selalu menyisihkan tepung jagung (jagung yang ditumbuk pakai lesung) untuk dijadikan bahan pengawet. Tepung jagung yang ditampi warnanya kuning, terasa halus saat dipilin dengan kedua jari tangan. Daging yang telah ditiriskan itu digulung rata dengan tepung jagung. Hampir sama seperti menggulung tepung panir pada menu udang, cumi-cumi ataupun ayam goreng di restoran-restoran kota.
Daging yang terbungkus tepung jagung lalu disimpan dalam tuku (tiga ruas bambu tua) yang kulitnya telah disapih. Ruas bambu dipilih harus sudah tua. Dindingnya dihaluskan dengan sayatan pisau, bagian ujungnya diberi penutup. Fungsinya untuk mengurangi keluar masuknya udara, sehingga daging tidak cepat rusak.
Biasanya tuku yang berisi daging disimpan di dinding sekitar tungku api. Bila dinding dapur tidak luas, biasanya digantung para-para tepat di atas tiga tungku dapur. Pelan tapi pasti, dinding tuku berisi sui wu'u diterpa asap yang mengepul dari tungku api.
Sambil menyelam minum air, itulah ungkapan yang tepat untuk melukiskan proses pengawetan sui wu'u di kampungku. Api yang dinyalakan para ibu rumah tangga tidak hanya untuk menanak nasi, tetapi turut menghangatkan sui wu'u. Daging akan awet sepanjang waktu dengan kehangatan api setiap hari.
Meski daging awet selama beberapa bulan, sui wu'u harus segera dikonsumsi agar aman dan nilai gizinya tetap memenuhi standar kesehatan.
Su'i wu'u biasanya diracik untuk persediaan lauk di masa penceklik atau sebagai bekal untuk menempuh perjalanan jauh. Warga setempat harus meninggalkan perkampungan menuju dataran Zeu (ladang padi dan jagung) yang terkenal subur di Kecamatan Golewa.
Saat ini sui wu'u mulai ditinggalkan. Bisa dihitung dengan jari, masih ada warga Mangulewa yang setia meramunya sebagai lauk keluarga. Kelupaan masyarakat akan sui wu'u dapat dimaklumi karena pesatnya teknologi seperti kulkas, yang mampu mengawetkan daging segar. Padahal, sebelum kulkas hadir dan merajai kota Bajawa, sui wu'u salah satu lauk yang dijamin nyaman untuk konsumsi.
Rasa sui wu'u sama seperti daging yang baru disembelih. Hanya, dalam segi aroma lebih tajam karena diselingi tepung jagung. Sui wu'u akan membangkitkan selera makan bila dibakar dalam bara panas.
Daging ini ditusuk dengan lidi atau kawat kecil, mirip membakar sate. Bara api yang panas membakar seluruh permukaan tepung jagung, aroma menyengat hidung lalu menebar ke atap dapur. Minyak daging yang menetes akan sedap disantap bila dibiarkan jatuh membasahi permukaan helai daun pepaya muda.
Konon daun pepaya akan hilang pahitnya karena telah diluluhlantakkan oleh khasiat minyak sui wu'u. Daging yang telah masak itu diiris sebesar ruas ibu jari. Sui wu'u lalu dibungkus daun pepaya, dicelupkan dalam koro bara lai (lombok yang diberi irisan tomat).
Hem...lebil lezat lagi bila dimakan dengan jagung goreng. Menu ini terasa lengkap kalau diakhiri dengan secangkir tua bhara (tuak putih), yang disadap dari pohon nira di pagi hari.
Kebiasaan untuk meracik sui wu'u bukan sekadar untuk melestarikan budaya nenek moyang. Sejak dulu sui wu'u dijadikan sarana silaturahmi di ladang. Para tamu yang 'gotong royong' menyiangi rumput bisa disuguhi lauk ini. Bila daun pepaya tidak disajikan, sui wu'u nyaman kalau dilahap bersama daun kacang, pucuk labu yang 'dilemaskan' dalam air panas.
Sambil menikmati jagung goreng, sui wu'u dengan seteguk tuak, semua pekerjaaan tanam menanam terasa ringan dan mudah dirampungkan. Usai berladang, mereka duduk bersila (be'i benga) membentuk lingkaran di atas bheja (lantai panggung yang terbuat dari bambu cincang). Punggung disandarkan santai sambil menikmati sui wu'u.
Ada harapan lain yang tersimpan. Agar generasi tidak dicap sebagai generasi kurang gizi, seperti gizi buruk yang terjadi dewasa ini. Sui wu'u, lauk yang bergizi, nyaman, praktis disantap. Sayang, nasibnya menjadi lauk yang terlupakan. *
Cumpe, Rumah di Atas Batu
Oleh Agus Sape
CUKUP lama saya diledek teman-teman sekolah gara-gara kampungku ini. Kampungku dianggap kolot dan tidak berkembang, karena hanya terdiri dari tujuh rumah dan dikelilingi batu-batu. Sakit rasanya diledek seperti itu.
Tetapi, ketika belajar di perguruan tinggi, saya berani membalikkan anggapan-anggapan jelek itu. Kepada teman- teman saya memproklamirkan bahwa sesungguhnya kampungku itu polis -- sama seperti polis Athena, Sparta, dan seterusnya di Yunani, dari mana lahir para filsuf, pemikir hebat. Socrates, Aristoteles, dan sebagainya.
Dengan gaya agak joak, sekali lagi saya memproklamirkan kepada teman-teman bahwa kampungku itu juga sudah melahirkan filsuf. Sekurang-kurangnya saya sendiri. Teman- temanku yang biasa meledek kampungku ini pada bengong.
Kampungku ini namanya Cumpe. Masuk dalam wilayah Desa Golo, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Kalau Anda berangkat dari Pagal, ibukota Kecamatan Cibal, ke timur menuju pusat paroki Rii di Beamese, maka kampung pertama yang Anda lewati adalah Cumpe. Jaraknya tidak sampai 5 km dari Pagal.
Kampungku itu memang kecil saja. Terletak di lereng. Sampai dengan tahun 1980-an, ketika saya masih sekolah di SDK Golo, kampung ini hanya terdiri dari tujuh buah rumah. Rumah-rumah itu dibangun mengelilingi halaman (natas) kampung.
Halaman kampung ini berfondasikan batu cadas. Supaya rata
dan bertambah luas, batu-batu disusun rapi (kota) di sisi utara dan selatan halaman. Di bagian barat (paang), dekat kaki lereng, terdapat batu-batu besar yang memagari sekaligus memisahkan halaman kampung dari jalan umum. Sedangkan di bagian timur (ngaung), terdapat sejumlah batu raksasa. Kampung ini memang dikelilingi batu-batu raksasa. Kalau dihitung dari dasar, ada yang tingginya mencapai puluhan meter. Gamang kalau belum biasa.
Batu-batu itu berfungsi sebagai benteng dan penopang bagi penghuni kampung. Salah satu batu dengan ketinggian belasan meter memiliki permukaan rata. Luasnya bisa mencapai tiga kali luas lapangan tenis. Tapi, bagian lainnya yang menghadap ke halaman (natas) agak landai. Di bagian ini orang bisa turun naik dengan leluasa.
Saya berani mengklaim batu ini sebagai salah satu keajaiban dunia. Bagaimana tidak, di salah satu sisi permukaan batu itu berdiri kokoh sebuah rumah papan (mbaru pesek). Ketika saya lahir pada akhir 1960-an, rumah itu sudah ada. Tiang-tiangnya yang terbuat dari kayu lokal diletakkan saja di atas permukaan batu. Belum pernah rumah itu goyah dihantam angin.
Bagian terbesar dari permukaan batu itu dijadikan halaman. Dari halaman itu warga bisa memandang jauh ke berbagai arah. Kalau cuaca cerah, permukaan laut di pantai utara (Reo) bisa dilihat dari batu ini. Deretan bukit yang membanjar dari utara ke selatan di wilayah Lambaleda dan Elar bisa dilihat dengan jelas.
Sempai dengan usia SD, saya dan teman-teman bermain dan berlari-lari di atas batu itu. Kami tidak takut jatuh.
Saya ingat dua anak pernah jatuh ke jurang batu itu. Tapi, aneh bin ajaib, tidak jatuh sampai di tanah. Yang satu tertahan pada tumbuhan yang menempel di jurang batu. Satu lagi tertahan pada seutas tali yang sangat rapuh. Keduanya berhasil diselamatkan tanpa cedera dan masih hidup sampai sekarang.
Pagi-pagi, sebelum cahaya matahari mencapai bumi, bolanya yang muncul dari balik bukit di wilayah Elar langsung bisa dilihat dari atas batu ini. Maka, saya pun sering menyebut kawasan kampung ini dan sekitarnya sebagai "negeri matahari".
Warga setempat biasa menjemur padi dan kopi langsung di atas permukaan batu itu. Kalau cuaca cerah, dalam tempo dua hari saja kopi sudah kering.
Kampung ini diselimuti pohon-pohon kopi, kemiri dan pohon buah-buahan lainnya. Di bagian yang lebih rendah dari lereng kampung ini terdapat hamparan sawah. Sawah-sawah itu mendapat air dari sejumlah kali yang menuruni lereng. Ada kali Wae Keseng, Wae Nampar dan Wae Munta. Sejumlah kali itu bermuara di Wae Kebong, kali paling besar. Di Wae Kebong warga membangun bendung dan membuka dam untuk mengalirkan air ke sawah.
Sebelum menanam padi pada musim hujan, petak-petak sawah ditanami dengan jagung. Padi ditanam setelah memanen jagung.
Saya tidak mengklaim tanah di kampungku ini subur. Yang pasti warga di kampung ini bisa memenuhi sendiri kebutuhan makan minumnya sepanjang tahun. Mereka punya padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-sayuran di kebun. Bahkan mereka bisa menjualnya pada hari pasar di Pagal. Mereka punya kopi, kemiri, jeruk, pisang dan sebagainya.
Tetapi pada tahun 2007, pada saat jatuh korban tanah longsor di Gapong dan Golo Gega, warga kampungku turut mengungsi ke Pagal. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai anak kampung, saya sedih mendengar warga kampungku lari terbirit-birit takut tertindis tanah longsor.
Memang kampungku sekarang sudah banyak berubah. Kampungku yang dulu gerbangnya dipagari batu-batu besar sudah disingkirkan semuanya untuk membuka jalan raya dari Pagal menuju Beamese. Jalan itu dirintis sejak akhir 1980-an dan sekarang sudah diaspal. Sejak jalan raya dibuka, perlahan- lahan warga keluar dari kampung itu, membangun rumah di pinggir-pinggir jalan raya.
Tetapi yang terancam ditindis longsor pada tahun 2007 itu justru rumah-rumah yang dibangun di tepi jalan raya. Bahkan pada awal tahun 2008 ini, sebuah rumah dan mesin giling tertindis batu yang runtuh dari tebing jalan.
Saya pun sadar, ternyata para pendiri kampungku tidak bodoh. Bahkan mereka boleh disebut pemikir. Ternyata kampungku kecil bukan karena tidak berkembang, tetapi memang bagian yang cocok untuk pemukiman hanya seluas itu. Dulu mereka tidak pernah membangun rumah langsung di kaki lereng atau di sepanjang jalan. Saya pastikan batu-batu yang pernah diletakkan di gerbang kampung justru untuk membendung batu yang mungkin terguling dari atas lereng bukit.
Untuk menampung perkembangan penduduk pada waktu itu, dibangunlah kampung Mawe disusul Wune, dua atau tiga kilometer dari kampung ini. Bukti bahwa warga di dua kampung itu berasal dari kampungku ini, dalam urusan adat dan pemerintahan mereka masih bersama-sama. Kebun mereka juga di lokasi yang sama. (email:asape_2005@yahoo.co.id)
CUKUP lama saya diledek teman-teman sekolah gara-gara kampungku ini. Kampungku dianggap kolot dan tidak berkembang, karena hanya terdiri dari tujuh rumah dan dikelilingi batu-batu. Sakit rasanya diledek seperti itu.
Tetapi, ketika belajar di perguruan tinggi, saya berani membalikkan anggapan-anggapan jelek itu. Kepada teman- teman saya memproklamirkan bahwa sesungguhnya kampungku itu polis -- sama seperti polis Athena, Sparta, dan seterusnya di Yunani, dari mana lahir para filsuf, pemikir hebat. Socrates, Aristoteles, dan sebagainya.
Dengan gaya agak joak, sekali lagi saya memproklamirkan kepada teman-teman bahwa kampungku itu juga sudah melahirkan filsuf. Sekurang-kurangnya saya sendiri. Teman- temanku yang biasa meledek kampungku ini pada bengong.
Kampungku ini namanya Cumpe. Masuk dalam wilayah Desa Golo, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Kalau Anda berangkat dari Pagal, ibukota Kecamatan Cibal, ke timur menuju pusat paroki Rii di Beamese, maka kampung pertama yang Anda lewati adalah Cumpe. Jaraknya tidak sampai 5 km dari Pagal.
Kampungku itu memang kecil saja. Terletak di lereng. Sampai dengan tahun 1980-an, ketika saya masih sekolah di SDK Golo, kampung ini hanya terdiri dari tujuh buah rumah. Rumah-rumah itu dibangun mengelilingi halaman (natas) kampung.
Halaman kampung ini berfondasikan batu cadas. Supaya rata
dan bertambah luas, batu-batu disusun rapi (kota) di sisi utara dan selatan halaman. Di bagian barat (paang), dekat kaki lereng, terdapat batu-batu besar yang memagari sekaligus memisahkan halaman kampung dari jalan umum. Sedangkan di bagian timur (ngaung), terdapat sejumlah batu raksasa. Kampung ini memang dikelilingi batu-batu raksasa. Kalau dihitung dari dasar, ada yang tingginya mencapai puluhan meter. Gamang kalau belum biasa.
Batu-batu itu berfungsi sebagai benteng dan penopang bagi penghuni kampung. Salah satu batu dengan ketinggian belasan meter memiliki permukaan rata. Luasnya bisa mencapai tiga kali luas lapangan tenis. Tapi, bagian lainnya yang menghadap ke halaman (natas) agak landai. Di bagian ini orang bisa turun naik dengan leluasa.
Saya berani mengklaim batu ini sebagai salah satu keajaiban dunia. Bagaimana tidak, di salah satu sisi permukaan batu itu berdiri kokoh sebuah rumah papan (mbaru pesek). Ketika saya lahir pada akhir 1960-an, rumah itu sudah ada. Tiang-tiangnya yang terbuat dari kayu lokal diletakkan saja di atas permukaan batu. Belum pernah rumah itu goyah dihantam angin.
Bagian terbesar dari permukaan batu itu dijadikan halaman. Dari halaman itu warga bisa memandang jauh ke berbagai arah. Kalau cuaca cerah, permukaan laut di pantai utara (Reo) bisa dilihat dari batu ini. Deretan bukit yang membanjar dari utara ke selatan di wilayah Lambaleda dan Elar bisa dilihat dengan jelas.
Sempai dengan usia SD, saya dan teman-teman bermain dan berlari-lari di atas batu itu. Kami tidak takut jatuh.
Saya ingat dua anak pernah jatuh ke jurang batu itu. Tapi, aneh bin ajaib, tidak jatuh sampai di tanah. Yang satu tertahan pada tumbuhan yang menempel di jurang batu. Satu lagi tertahan pada seutas tali yang sangat rapuh. Keduanya berhasil diselamatkan tanpa cedera dan masih hidup sampai sekarang.
Pagi-pagi, sebelum cahaya matahari mencapai bumi, bolanya yang muncul dari balik bukit di wilayah Elar langsung bisa dilihat dari atas batu ini. Maka, saya pun sering menyebut kawasan kampung ini dan sekitarnya sebagai "negeri matahari".
Warga setempat biasa menjemur padi dan kopi langsung di atas permukaan batu itu. Kalau cuaca cerah, dalam tempo dua hari saja kopi sudah kering.
Kampung ini diselimuti pohon-pohon kopi, kemiri dan pohon buah-buahan lainnya. Di bagian yang lebih rendah dari lereng kampung ini terdapat hamparan sawah. Sawah-sawah itu mendapat air dari sejumlah kali yang menuruni lereng. Ada kali Wae Keseng, Wae Nampar dan Wae Munta. Sejumlah kali itu bermuara di Wae Kebong, kali paling besar. Di Wae Kebong warga membangun bendung dan membuka dam untuk mengalirkan air ke sawah.
Sebelum menanam padi pada musim hujan, petak-petak sawah ditanami dengan jagung. Padi ditanam setelah memanen jagung.
Saya tidak mengklaim tanah di kampungku ini subur. Yang pasti warga di kampung ini bisa memenuhi sendiri kebutuhan makan minumnya sepanjang tahun. Mereka punya padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-sayuran di kebun. Bahkan mereka bisa menjualnya pada hari pasar di Pagal. Mereka punya kopi, kemiri, jeruk, pisang dan sebagainya.
Tetapi pada tahun 2007, pada saat jatuh korban tanah longsor di Gapong dan Golo Gega, warga kampungku turut mengungsi ke Pagal. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai anak kampung, saya sedih mendengar warga kampungku lari terbirit-birit takut tertindis tanah longsor.
Memang kampungku sekarang sudah banyak berubah. Kampungku yang dulu gerbangnya dipagari batu-batu besar sudah disingkirkan semuanya untuk membuka jalan raya dari Pagal menuju Beamese. Jalan itu dirintis sejak akhir 1980-an dan sekarang sudah diaspal. Sejak jalan raya dibuka, perlahan- lahan warga keluar dari kampung itu, membangun rumah di pinggir-pinggir jalan raya.
Tetapi yang terancam ditindis longsor pada tahun 2007 itu justru rumah-rumah yang dibangun di tepi jalan raya. Bahkan pada awal tahun 2008 ini, sebuah rumah dan mesin giling tertindis batu yang runtuh dari tebing jalan.
Saya pun sadar, ternyata para pendiri kampungku tidak bodoh. Bahkan mereka boleh disebut pemikir. Ternyata kampungku kecil bukan karena tidak berkembang, tetapi memang bagian yang cocok untuk pemukiman hanya seluas itu. Dulu mereka tidak pernah membangun rumah langsung di kaki lereng atau di sepanjang jalan. Saya pastikan batu-batu yang pernah diletakkan di gerbang kampung justru untuk membendung batu yang mungkin terguling dari atas lereng bukit.
Untuk menampung perkembangan penduduk pada waktu itu, dibangunlah kampung Mawe disusul Wune, dua atau tiga kilometer dari kampung ini. Bukti bahwa warga di dua kampung itu berasal dari kampungku ini, dalam urusan adat dan pemerintahan mereka masih bersama-sama. Kebun mereka juga di lokasi yang sama. (email:asape_2005@yahoo.co.id)
Menyikapi Tawuran Antar-Pelajar
Oleh Sipri Seko
PANITIA turnamen sepakbola antar-pelajar dan mahasiswa Faperta Undana Cup beberapa tahun lalu memberikan sanksi larangan berpartisipasi kepada tim SMKN 2 (STM) Kupang. Mereka dinilai telah mencemarkan visi dan misi Faperta Cup, yakni menjalin kebersamaan antar-sesama pelajar dan mahasiswa di Kota Kupang sambil menggapai prestasi.
Saat tim kalah, suporternya sering membuat ulah dengan menyerang suporter lain. Bahkan mereka tak segan-segan merusak kelengkapan pertandingan. Sanksi tersebut diberikan agar mereka benar-benar jera dan menghargai semangat sportivitas, mengakui adanya kekalahan dan kemenangan.
Dalam satu pekan terakhir ini tawuran antar-pelajar terjadi di Kota Kupang. Pada hari Jumat (7/11/2008), siswa SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 4 Kupang saling lempar batu. Dalam kejadian itu, kaca jendela enam ruangan kelas SMK Negeri 5 pecah berantakan.
Perseoalannya sepele, karena kesalahpahaman. Namun akibatnya, beberapa jendela SMK Negeri 4 juga pecah berantakan dan beberapa orang terluka akibat pecahan kaca. Selain itu, kepala sekolah dua sekolah tersebut dipanggil aparat kepolisian untuk diambil keterangannya.
Tak sampai sepekan, pada Rabu (12/11/2008), sejumlah siswa dari SMAN 1, SMKN 2, SMAN 2 dan SMA PGRI Kupang terlibat tawuran di halaman depan SMAN 1 Kupang. Tak diketahui pasti apa motifnya, namun para siswa bakupukul sehingga harus diamankan pihak kepolisian.
Apa pun motifnya, tawuran antar-pelajar merupakan fenomena sosial yang sangat menarik. Ada banyak pandangan untuk menilai sebab-sebab terjadinya tawuran antar-pelajar. Ada yang menyebutnya karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Akibatnya, mereka mudah tertekan. Ada juga yang bilang karena pelajar sekarang sudah sangat agresif, sementara even untuk mengeksploitasi dirinya sangat minim.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perkembangan zaman yang sangat kompleks dan beragam memberikan rangsangan yang sangat kuat terhadap para pelajar. Akibatnya, kalau mereka tidak mampu memanfaatkannya untuk memajukan dirinya, maka yang terjadi adalah melakukan hal-hal negatif seperti tawuran, mabuk-mabukan, bahkan bukan tidak mungkin akan menjurus kepada free sex dan penggunaan narkotik dan obat-obat terlarang lainnya.
Lalu, bagaimana mengatasinya? Faktor dasarnya adalah pola pembinaan. Pembinaan terhadap anak dari rumah hingga sekolah akan menjadi tolok ukur kepribadian seorang pelajar. Nilai-nilai budi pekerti dan kemampuan untuk menghadapi tekanan sosial harus ditanamkan sejak dini. Pasalnya, saat dia bergabung dalam sebuah lingkungan, biasanya dia akan menyerahkan dirinya secara total. Di sini kalau sudah terlambat diberikan, sementara para pelajar sendiri sudah masuk dalam lingkup yang beragam, mereka biasanya akan sukar untuk memilih. Dan, di saat bingung seperti ini godaan-godaan negatif akan mudah membuat mereka terjerumus.
Ada yang menarik dari peristiwa tawuran antar-pelajar yang terjadi di Kota Kupang. Para pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah-sekolah negeri milik pemerintah. Bahkan SMA Negeri 1 Kupang adalah salah satu sekolah contoh di NTT. Pertanyaannya adalah, apakah fasilitas komplit yang dimiliki sekolah tak mampu menjadikan para siswanya sedikit betah untuk belajar daripada keluyuran di jalanan?
Tampaknya, operasi penertiban yang dilakukan aparat polisi pamong praja harus terus dilakukan. Siswa-siswa yang berkeliaran di jalanan saat jam sekolah harus ditertibkan. Berikan sanksi dan teguran tegas kepada mereka. Arahkan mereka agar mencintai pelajaran di sekolah demi masa depannya.
Ketika para pelajar bakulempar atau bakupukul, kita tidak boleh menyebut itu sebagai sebuah kenakalan remaja. Sebagai seorang pelajar, biasanya mereka terlibat dalam sebuah even karena sedang berusaha untuk menemukan identitas dirinya. Kalau dia senang berkelahi, itu mungkin karena dia ingin disegani di antara rekan- rekannya.
Untuk itu, pembinaan sikap dan mental pelajar harus terus digalakkan. Keberhasilan dan prestasi sebuah sekolah tidak hanya terletak dari persentase lulusannya, tapi apakah lulusannya mampu beradaptasi dengan masyarakat atau tidak. Atau apakah para pelajar memiliki moral yang baik atau tidak. Pasalnya, kelulusan bisa diukur dengan persentasi, tapi moral yang baik hanya bisa dibuktikan dalam tingkah laku anak didiknya. Ketika para pelajar saling tawuran, itu berarti sekolah belum mampu menanamkan sikap moral yang baik kepada siswanya. *
PANITIA turnamen sepakbola antar-pelajar dan mahasiswa Faperta Undana Cup beberapa tahun lalu memberikan sanksi larangan berpartisipasi kepada tim SMKN 2 (STM) Kupang. Mereka dinilai telah mencemarkan visi dan misi Faperta Cup, yakni menjalin kebersamaan antar-sesama pelajar dan mahasiswa di Kota Kupang sambil menggapai prestasi.
Saat tim kalah, suporternya sering membuat ulah dengan menyerang suporter lain. Bahkan mereka tak segan-segan merusak kelengkapan pertandingan. Sanksi tersebut diberikan agar mereka benar-benar jera dan menghargai semangat sportivitas, mengakui adanya kekalahan dan kemenangan.
Dalam satu pekan terakhir ini tawuran antar-pelajar terjadi di Kota Kupang. Pada hari Jumat (7/11/2008), siswa SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 4 Kupang saling lempar batu. Dalam kejadian itu, kaca jendela enam ruangan kelas SMK Negeri 5 pecah berantakan.
Perseoalannya sepele, karena kesalahpahaman. Namun akibatnya, beberapa jendela SMK Negeri 4 juga pecah berantakan dan beberapa orang terluka akibat pecahan kaca. Selain itu, kepala sekolah dua sekolah tersebut dipanggil aparat kepolisian untuk diambil keterangannya.
Tak sampai sepekan, pada Rabu (12/11/2008), sejumlah siswa dari SMAN 1, SMKN 2, SMAN 2 dan SMA PGRI Kupang terlibat tawuran di halaman depan SMAN 1 Kupang. Tak diketahui pasti apa motifnya, namun para siswa bakupukul sehingga harus diamankan pihak kepolisian.
Apa pun motifnya, tawuran antar-pelajar merupakan fenomena sosial yang sangat menarik. Ada banyak pandangan untuk menilai sebab-sebab terjadinya tawuran antar-pelajar. Ada yang menyebutnya karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Akibatnya, mereka mudah tertekan. Ada juga yang bilang karena pelajar sekarang sudah sangat agresif, sementara even untuk mengeksploitasi dirinya sangat minim.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perkembangan zaman yang sangat kompleks dan beragam memberikan rangsangan yang sangat kuat terhadap para pelajar. Akibatnya, kalau mereka tidak mampu memanfaatkannya untuk memajukan dirinya, maka yang terjadi adalah melakukan hal-hal negatif seperti tawuran, mabuk-mabukan, bahkan bukan tidak mungkin akan menjurus kepada free sex dan penggunaan narkotik dan obat-obat terlarang lainnya.
Lalu, bagaimana mengatasinya? Faktor dasarnya adalah pola pembinaan. Pembinaan terhadap anak dari rumah hingga sekolah akan menjadi tolok ukur kepribadian seorang pelajar. Nilai-nilai budi pekerti dan kemampuan untuk menghadapi tekanan sosial harus ditanamkan sejak dini. Pasalnya, saat dia bergabung dalam sebuah lingkungan, biasanya dia akan menyerahkan dirinya secara total. Di sini kalau sudah terlambat diberikan, sementara para pelajar sendiri sudah masuk dalam lingkup yang beragam, mereka biasanya akan sukar untuk memilih. Dan, di saat bingung seperti ini godaan-godaan negatif akan mudah membuat mereka terjerumus.
Ada yang menarik dari peristiwa tawuran antar-pelajar yang terjadi di Kota Kupang. Para pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah-sekolah negeri milik pemerintah. Bahkan SMA Negeri 1 Kupang adalah salah satu sekolah contoh di NTT. Pertanyaannya adalah, apakah fasilitas komplit yang dimiliki sekolah tak mampu menjadikan para siswanya sedikit betah untuk belajar daripada keluyuran di jalanan?
Tampaknya, operasi penertiban yang dilakukan aparat polisi pamong praja harus terus dilakukan. Siswa-siswa yang berkeliaran di jalanan saat jam sekolah harus ditertibkan. Berikan sanksi dan teguran tegas kepada mereka. Arahkan mereka agar mencintai pelajaran di sekolah demi masa depannya.
Ketika para pelajar bakulempar atau bakupukul, kita tidak boleh menyebut itu sebagai sebuah kenakalan remaja. Sebagai seorang pelajar, biasanya mereka terlibat dalam sebuah even karena sedang berusaha untuk menemukan identitas dirinya. Kalau dia senang berkelahi, itu mungkin karena dia ingin disegani di antara rekan- rekannya.
Untuk itu, pembinaan sikap dan mental pelajar harus terus digalakkan. Keberhasilan dan prestasi sebuah sekolah tidak hanya terletak dari persentase lulusannya, tapi apakah lulusannya mampu beradaptasi dengan masyarakat atau tidak. Atau apakah para pelajar memiliki moral yang baik atau tidak. Pasalnya, kelulusan bisa diukur dengan persentasi, tapi moral yang baik hanya bisa dibuktikan dalam tingkah laku anak didiknya. Ketika para pelajar saling tawuran, itu berarti sekolah belum mampu menanamkan sikap moral yang baik kepada siswanya. *
Langganan:
Postingan (Atom)