Sabtu, 20 September 2008

Ronny Pattinasarany, Kapten yang Penuh Kasih

ERA 70-an hingga 80-an, sepakbola Indonesia menjadi salah satu raksasa di Asia Tenggara, bahkan di kawasan Asia. Orang yang ikut melambungkan nama tim merah-putih itu adalah Ronny Pattinasary.

Pria berdarah Ambon yang lahir di Makassar itu menorehkan namanya sebagai sosok pemain papan atas. Buktinya, dia bukan cuma mendapat kehormatan untuk memakai ban kapten tim nasional, namun dirinya juga menyabet beberapa trofi.

Penghargaan yang diperolehnya seperti Pemain All Star Asia tahun 1982, Olahragawan Terbaik Nasional tahun 1976 dan 1981, Pemain Terbaik Galatama tahun 1979 dan 1980, dan meraih Medali Perak SEA Games 1979 dan 1981.

Menjadi bintang sepakbola merupakan obsesi Ronny sejak dia masih kanak-kanak. Karena mendapat dukungan semangat dari ayahnya, Nus Pattinasarany, yang dikenal sebagai pesepakbola tangguh di era sebelum kemerdekaan, dia pun bisa mewujudkan impiannya tersebut.

Perjalanan kariernya sebagai pemain bola dimulai bersama PSM Junior pada tahun 1966. Tak perlu waktu lama bagi pria kelahiran 9 Februari 1949 itu untuk menembus level senior tim PSM Makassar, karena dua tahun berselang dia sudah masuk skuad "Ayam Jantan dari Timur".

Dari Makassar, Ronny hengkang ke klub Galatama, Warna Agung, yang dibelanya dari tahun 1978 hingga 1982. Nah, di sinilah kariernya mulai menanjak sehingga dia pun terpilih masuk timnas--dan jadi kapten--, serta menyabet beberapa penghargaan.

Tahun 1982, Ronny hengkang ke klub Tunas Inti. Hanya setahun di sana, dia pun memutuskan untuk gantung sepatu dan beralih profesi sebagai pelatih.

Ada beberapa klub yang pernah merasakan sentuhan tangannya, yakni Persiba Balikpapan, Krama Yudha Tiga Berlian, Persita Tangerang, Petrokimia Gresik, Makassar Utama, Persitara Jakarta Utara dan Persija Jakarta. Namun prestasi terbaik yang pernah ditorehkan Ronny adalah ketika menangani Petrokimia Putra.

Pasalnya, dia sukses mempersembahkan beberapa trofi bagi klub tersebut yang saat ini sudah bubar dan melebur dalam Gresik United (GU). Ya, Ronny membawa Petrokimia meraih Juara Surya Cup, Petro Cup, dan runner-up Tugu Muda Cup.

Tapi kariernya sebagai pelatih tak berlangsung lama karena dia dihadapkan pada sebuah dilema: tetap berkarier atau memikirkan masa depan anak-anaknya. Ya, dua putranya yang sedang terjerat dunia narkoba perlu bimbingan sang ayah agar bisa keluar dari masalah tersebut.

Akhirnya, Ronny memutuskan untuk berhenti sebagai pelatih demi mengapteni keluarganya. Dia meletakkan jabatannya sebagai pelatih Petrokimia dan konsentrasi menyembuhkan anak keduanya, Henry Jacques Pattinasarany yang akrab disapa Yerry, yang menjadi pecandu narkoba jenis putaw--waktu itu Yerry baru berusia 15 tahun.

"Saya dihadapkan dua pilihan yang sangat sulit, sepak bola atau anak. Saya akhirnya memutuskan meninggalkan sepakbola meski saat itu tidak tahu apa yang akan saya lakukan," kenang Ronny.

Setelah Yerry sembuh, badai kembali menghampiri keluarga Ronny. Kali ini putra pertamanya, Robenno Pattrick Pattinasarany yang akrab dipanggil Benny, juga jatuh ke jurang yang sama. Bahkan Benny lebih lagi karena memakai narkoba di luar rumah.

Meskipun demikian, Ronny tetap sabar dan penuh kasih membimbingnya. Dia menganggap semua itu sebagai cobaan sekaligus teguran. Menurut pria yang memperistrikan Stella Maria tersebut, selama berkarier di dunia sepakbola, dia merasa menjauh dari sang Pencipta.

Setelah kesadarannya itu muncul, Ronny pun mendekatkan dirinya lagi kepada Tuhan. Benny dan Yerry pun dituntun untuk lebih mendalami kehidupan rohani dan usaha tersebut berhasil, karena kehidupan keluarganya kembali seperti dulu.

Dari sana, Ronny kembali terjun ke sepakbola, dunia yang membesarkan namanya. Meskipun bukan sebagai pelatih lagi, namun dia aktif dalam kegiatan yang mendukung kemajuan sepakbola Indonesia, seperti menjadi Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI (2006), Wakil Ketua Komdis (2006) dan Tim Monitoring Timnas (2007).

Tapi kinerja Ronny yang termasuk perokok berat itu terganggu oleh penyakit yang menggerogotinya. Dia terserang kanker hati sehingga sejak bulan Desember 2007, Ronny harus menjalani pengobatan di Guangzhou dan sudah empat kali ke kota yang terletak di China tersebut.

Sayang, Tuhan berkehendak lain. Meskipun segala upaya telah dilakukan, tetapi maut akhirnya menjemput pria yang gencar melawan narkoba tersebut dan keluarganya pun telah ikhlas melepas kepergian sang pahlawan.

Pada Jumat (19/9) sekitar pukul 13.30 WIB, Ronny meregang nyawa di Rumah Sakit Omni Medical Center Pulomas, Jakarta Timur. Jenazahnya akan disemayamkan di rumah duka, Jalan Pulomas Blok III B/9, Pulomas, Jakarta Timur, selanjutnya akan dimakamkan di San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, pada Minggu (21/9).

Selamat jalan Ronny, jasamu kan selalu dikenang dan perjuangan hidupmu semoga bisa menjadi inspirasi untuk kemajuan sepakbola Indonesia. (LOU)

Profil singkat

Nama: Ronny Pattinasarany
Lahir: 9 Februari 1949

Karier

- Pemain: PSM Junior (1966)
PSM Makassar 1968-1976
Timnas (1979-1985)
Warna Agung (1978-1982)
Tunas Inti (1982)

- Pelatih: Persiba Balikpapan
Krama Yudha Tiga Berlian
Persita Tangerang
Petrokimia Gresik
Makassar Utama
Persitara Jakarta Utara
Persija Jakarta

- Lain-lain: Direktur Pembinaan Usia Muda PSSI 2006
Wakil Ketua Komdis 2006
Tim Monitoring Timnas 2007

Prestasi

- Pemain: Pemain Asia All Star (1982)
Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981)
Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980)
Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981)

- Pelatih: Petrokimia Juara Surya Cup
Petrokimia Juara Petro Cup
Petrokimia menjadi runner-up Tugu Muda Cup

Mitologi "Cinta" Batu di Mazoola

”DAPAT menciptakan telekomunikasi secara telepati dengan seseorang begitu mudahnya, terutama jika keduanya memegang batu ini.” Begitu tertulis di secarik kertas berlapis plastik yang dipasang berdampingan dengan kristal berwarna biru kemilau tertimpa sorotan lampu.

Kynite Blade, nama kristal itu seperti tertulis pada kertas pemandu. Data soal kristal ini dilengkapi pula dengan unsur yang terkandung dalam batu ini. Begitu pula dengan asal batunya, yaitu dari Brasil, Swiss, Myanmar, dan Kenya. Kristal ini tersimpan dalam lemari kaca terkunci, dipercantik dengan sorotan ringan lampu.


Di sisi-sisinya juga terdapat batu lain yang tak kalah cantik. Namun, ada pula batu yang bentuknya tidak beraturan dan warnanya tak semenarik Kynite Blade. Batu-batu itu hanya sebagian kecil dari bebatuan yang dipamerkan di Gems Stone Gallery di Maharani Zoo dan Gua Lamongan (Mazoola), Jawa Timur.

”Batu-batu ini membuat saya bisa bersyukur. Menyaksikan warna-warna indah ini menunjukkan kekuasaan Tuhan,” kata Pujiono Suryanto (34), warga Tlogoanyar, Lamongan, yang mengunjungi Mazoola akhir Agustus lalu.

Referensi

Pujiono yang berkunjung bersama 11 anggota keluarganya ini terpesona dengan Gems Stone Gallery meski di Mazoola juga terdapat kebun binatang dan ruang diorama satwa. Bagi Pujiono, daya tarik terbesar terletak pada aneka bentuk batu yang jarang ditemui. Apalagi, di batu-batu itu juga dilengkapi dengan mitos yang mengiringi.

Sebut saja, misalnya, Rose Quarts Sphere berbentuk kristal trigonal, Fuschite, dan Rough Variscite. Serupa dengan Kynite Blade, di sisi batu-batu ini terpampang pula keterangan singkat. Rose Quarts Sphere disebut-sebut mampu memberi energi cinta, kelembutan, dan perasaan tenang. Singkat kata, dalam diri seseorang akan timbul rasa cinta jika berada di dekat kristal ini.

Kristal lainnya, Fuschite asal India, disebut-sebut menimbulkan energi positif yang tinggi. Bekerja dengan batu ini bisa mendorong seseorang menggunakan kelebihan pikiran dan dipandu oleh hati yang bijaksana. Kalau sedang butuh kedamaian hati, cinta, kejelasan, dan penyembuhan emosi, Rough Variscite bisa menjadi referensi. Setidaknya, begitulah yang tertera dalam petunjuk yang menyertai kristal tersebut.

Selain kristal dan bebatuan berwarna, di galeri ini juga bisa ditemui sejumlah fosil, seperti trilobite, sejenis binatang berbuku-buku (segmented creature) yang hidup sekitar 535 juta tahun lalu. Batu-batu dalam lemari kaca bening menciptakan kesan apik berbalut suasana gua alamiah yang eksotis.

Pengelola Mazoola, Ma’mun (35), mengungkapkan, koleksi batu di Gems Stone Gallery mencapai 430 buah. Batuan ini 60 persen milik investor Mazoola, sedangkan sisanya dipinjamkan oleh sejumlah kolektor. Masuknya unsur mitologi di galeri bebatuan ini tidak terlepas dari upaya untuk mengisahkan batu yang tidak sekadar batu. Ada makna di balik bebatuan itu. Dipajanglah narasi yang menggugah pengunjung untuk mengenal lebih dalam, tidak sekadar tertarik dengan warna-warni belaka.

Cerita di balik batu ini, yakni seputar cinta, kedamaian, telepati, dan kebijaksanaan, bukan dibuat sembarangan. Semua melalui riset dan penelitian. Sumbernya bisa dari ensiklopedia dan situs internet. ”Makanya, kalau kami belum dapat data tentang batu itu, belum ada referensi yang dipasang. Takut malah bikin malu kalau salah. Apalagi, kalau memberi informasi yang salah kepada anak- anak yang study tour ke sini,” kata Ma’mun.

Apalagi, Mazoola memang memiliki target pasar sebagai obyek wisata edukasi. Pengunjung, selain diajak berekreasi, juga diberi tambahan pengetahuan. Konsep ini juga tampak dari penataan kebun binatang dan ruang diorama satwa. Wahana andalan lain dari Mazoola itu memanfaatkan keaslian Gua Maharani.

Wahana lain

Kebun binatang yang dikonsep dengan warna mencolok ini menawarkan kedekatan pengunjung dengan hewan di sana. Pagar pembatas tidak terlalu tinggi sehingga memudahkan pengunjung menyaksikan tindak-tanduk hewan tersebut. Meski demikian, keamanan tetap terjaga dengan menilik sifat setiap hewan. Misalnya, area orangutan diberi pagar pembatas dan kawat beraliran listrik, dikelilingi dengan pembatas air karena biasanya hewan ini tidak menyukai air.

Namun, hingga menjelang akhir Agustus, di kebun binatang ini masih didominasi papan bergambar hewan dengan tulisan ”akan segera hadir”. Kandangnya sudah siap, tetapi hewan-hewan penghuninya belum tiba. Wahana belajar juga bisa didapat dari diorama satwa. Sebagian tulang-belulang dan hewan yang sudah diawetkan bisa disaksikan di ruang kecil tetapi padat ini.

Belulang ikan paus, replika belulang dinosaurus, serta sejumlah jenis macan dan kura-kura yang sudah diawetkan juga bisa ditemukan di wahana ini. Sayangnya, belum ada petunjuk singkat mengenai sejarah dan cerita unik di balik hewan- hewan ini. ”Ini memang sengaja karena kami akan menyediakan pemandu. Nanti mereka yang cerita supaya ada interaksi,” ujar Anna (20-an), petugas jaga di ruang diorama satwa.

Menurut Ma’mun, Mazoola yang terkoneksi dengan Wisata Bahari Lamongan (WBL) dan Tanjung Kodok memiliki nilai jual masing-masing. Agar tidak saling memakan pangsa pasar, bidikan pasarnya dibuat berbeda, tetapi saling dukung. WBL yang berada persis di depan Mazoola menawarkan ”Dunia Fantasi” ala Lamongan, dengan keterbatasan alat, tetapi kaya imajinasi. Wisata ini memanfaatkan potensi pantai meski pengelola mereklamasi sebagian garis pantai. Pangsa pasar bidikan WBL lebih kepada keluarga yang berlibur, sedangkan Mazoola membidik siswa sekolah dengan mengedepankan unsur edukasi dan wisata.

Dengan interkoneksi ini, Mazoola membidik pasar dari Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah bagian timur. Lokasi wisata seluas 3,2 hektar ini cukup strategis, berada di tepi Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) di pesisir pantai utara Pulau Jawa. Mazoola bisa ditempuh 1,5 jam dari Surabaya, sekitar 50 menit dari Kota Lamongan, dan sekitar 40 menit dari Tuban.

Sejak diresmikan akhir Mei 2008, pengunjung dari Rembang, Pati, Kudus, Semarang, dan Ungaran (Kabupaten Semarang) juga sudah mulai berdatangan. ”Untuk mendukung konsep ini, kami sedang menyusun buku panduan tentang semua isi Mazoola. Nanti akan dibagikan kepada pengunjung,” kata Ma’mun.

Tentu, dengan demikian, pengunjungnya tidak sekadar mendapat mitologi ”cinta” batu, tetapi juga mendapat pengetahuan dan kesenangan, berbalur narasi unik di dalamnya.


Sumber : Kompas Cetak

Danding

Oleh Hyeron Modo

HENTAKAN
kaki ditingkahi syair lagu berbalas pantun memecah kesunyian malam. Suara laki-laki dan perempuan dalam pentas danding membangunkan saya di tengah malam ketika sedang tertidur lelap. Itulah suasana di kampungku Ngusu, Desa Rana Mbeling, Kecamatan Kota Komba.

Suasana itu saya alami ketika masih duduk di sekolah dasar (SD) di tahun 1970-an. Saya dan teman-teman sebayaku pun berbaur bersama anak-anak muda, orang tua laki-laki dan perempuan, ikut danding (tandak). Danding biasanya dimainkan saat Ghan Woja (bahasa Manggarai versi Manus) atau dalam bahasa Manggarai umum disebut Penti. Upacara adat Ghan Woja atau Penti biasanya dilaksanakan setelah panen padi dan jagung di ladang atau sawah. Acara ini sebagai ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerahNya, panen padi dan jagung berhasil. Tetapi, danding di wilayah Manus tidak hanya saat Ghan Woja.

Di kampung saya, Ngusu, danding biasanya dipentaskan warga kampung setiap akhir pekan ketika musim panen usai. Pentas tarian tradisional usai panen ini sambil menunggu penentuan bulan pelaksanaan acara tradisional Ghan Woja. Pentas tandak menjelang pesta adat Ghan Woja ini disebut danding marang.

Danding dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh. Peserta danding, laki-laki dan perempuan, tua dan muda berdiri membentuk lingkaran. Jika peserta banyak, biasanya dibentuk dua lingkaran dengan konfigurasi peserta perempuan dan laki-laki selang-seling. Para peserta sambil memegang tangan bernyanyi berbalas pantun dengan hentakan kaki mengikuti irama lagu. Salah seorang yang cukup mahir memandu acara, berdiri di tengah lingkaran dan memegang giring-giring untuk memberi aba-aba kapan hentakan kaki dilakukan bersama sambil menjawab syair lagu yang dinyanyikan kaum perempuan atau laki-laki dalam lingkaran itu. Pemandu atau komando acara juga berperan untuk menggantikan syair lagu berikutnya dengan cara poka (jeda) dan sako (solo).

Pementasan danding ini menjadi tontonan menarik bagi warga kampung yang tidak mengambil bagian dalam pentas tradisional tersebut. Ketika warga di kampung saya sedang asyik mementaskan danding sekelompok warga dari kampung tetangga datang untuk mengikuti danding. Syair-syair lagu yang dinyanyikan saat danding tidak sekadar acara hiburan. Syair-syair lagu dalam danding sarat makna dan mengandung pesan moral yang luar biasa. Ada syair lagu danding yang mengingatkan dan mengajak sesama warga untuk saling membantu dalam hidup bermasyarakat. Jadi, danding merupakan forum kritik sosial dengan cara menghibur (dalam bentuk nyanyi berbalas pantun). Dalam perkembangan dewasa sekarang, danding lebih dipahami sebagai selebrasi muda-mudi di kampung.

Salah satu syair lagu yang mengandung pesan moral dan bermakna peringatan dan atau ajakan, misalnya, waeng koe e e, waeng koe e wake'n a o o u u wake'n waeng koe/melo ga a e e a a kala melo ga. Artinya, sirih sudah layu perlu disiram sehingga segar kembali. Jika dimaknai secara luas, maka syair lagu danding tersebut bermakna mengajak sesama warga untuk membantu sesama warga lainnya dalam kampung yang mengalami kesusahan atau kesulitan hidup dalam hal apa saja.

Syair lagu Waeng koe wake'n waeng koe/Melo ga kala melo ga, juga bermakna ajakan melestarikan lingkungan hidup. Sebab, lingkungan telah memberi kehidupan bagi manusia. Karena itu, manusia wajib menjaga kelestarian lingkungannya. Pendekatan yang disampaikan melalui syair-syair lagu danding lebih diterima oleh warga di kampung saya ketimbang pendekatan formal yang dilakukan pemerintah. Tetapi, apakah danding masih menjadi salah satu kearifan lokal untuk mendorong atau mengajak partisipasi masyarakat dalam pembangunan? Semuanya kembali kepada masyarakat itu sendiri, terutama generasi penerus untuk melestarikan budaya yang diturunkan nenek moyang. (hyeron_modo@yahoo.co.id)

Stop Stigma Propinsi TKI

Oleh Yosep Sudarso

DURANTE degli Alighieri, alias Dante (1 Juni 1265 - 13/14 September 1321), penyair dari Firenze, Italia, itu pernah berkata, "Kalau Anda memberi orang cahaya, ia akan menemukan jalannya sendiri." Menjelang usia emas NTT Desember nanti, petuah Dante ini bisa memberi inspirasi terutama dihubungkan dengan fakta 98.230 penganggur masih menyebar di 20 kabupaten/kota se-NTT (data Dinas Nakertrans NTT per 13 September 2008).

Persoalan tenaga kerja memang bukan persoalan NTT semata melainkan permasalahan global. Rasio yang tidak seimbang antara lapangan kerja yang tersedia dengan penambahan usia produktif menjadi penyebab utama masalah ini. Di NTT, rata-rata lowongan kerja setiap tahun hanya mampu menyerap sekitar belasan ribu tenaga kerja. Itu pun sebagiannya disumbangkan dari pos penerimaan CPNSD.

Walaupun demikian, data dari Dinas Nakertrans NTT juga memperlihatkan fakta lain yang menarik. Di tengah-tengah kesulitan pencari kerja mendapatkan pekerjaan, ternyata hingga September masih ada 206 lowongan kerja pada sektor swasta yang belum terisi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Nakertrans NTT, Lanang Ardike, berpendapat, lowongan kerja yang belum terisi ini disebabkan antara lain tidak tersedianya tenaga sesuai dengan kebutuhan. Beberapa kontraktor, misalnya, membutuhkan tenaga sopir alat-alat berat, namun di NTT berlimpah sopir angkot dan bus. Demikian pula tenaga-tenaga khusus untuk mencuci mutiara masih dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan pengembang mutiara di NTT.

Merujuk pada penjelasan ini, ternyata persoalan tidak terserapnya sejumlah lowongan terkait erat dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Tentang hal ini, saya teringat pada ucapan Frans Seda, salah satu tokoh nasional asal NTT. Pada sebuah kesempatan di Hotel Kristal, ketika menemani Direktur Kelomok Kompas Gramedia (KKG), Yacob Utama, ia berucap, pemerintah dan seluruh rakyat sebaiknya memfokuskan perhatian pada pendidikan, entah formal maupun informal. Dengan topografi NTT seperti ini, menurutnya, sumber dana yang terbatas sebaiknya "diboroskan" pada peningkatan SDM.

Seda, saat itu, menyoroti perlunya disiapkan tenaga-tenaga terampil pada bidang yang cocok dengan alam NTT, seperti tenaga PPL pertanian, peternakan dan kelautan. Tetapi ia juga tidak lupa menggarisbawahi pentingnya ditanamkan keuletan bekerja, semangat gotong royong, pola hidup sederhana dan gemar menabung. Watak-watak ini dibutuhkan dalam membentuk karakter seseorang agar berdaya saing dan survive dalam persaingan dewasa ini.

Problematika tenaga kerja di NTT dewasa ini memang jauh lebih kompleks dari beberapa dekade lalu. Di kampung-kampung di beberapa kabupaten seperti Lembata, Flores Timur, Sikka, dan Ende, persoalan tenaga kerja sudah hampir sama usianya dengan perjalanan propinsi ini. Tidak ada dokumen tertulis, tetapi pengalaman menunjukkan di daerah-daerah itu fakta pengiriman tenaga kerja (baca: merantau) sudah berlangsung sejak tahun enam puluhan. Nama-nama tempat seperti Tawau, Kinabalu, Johor tidak lagi asing bagi warga-warga di pedalaman Adonara, Flores Timur, di daerah timur Sikka ataupun di sebagian wilayah Lio, Ende.

Awalnya, perantauan dilakukan oleh segelintir orang tetapi sejak dasawarsa 70-an hingga saat ini, perantauan sudah menjadi tren yang digemari warga NTT tidak saja dari kabupaten-kabupaten yang disebutkan tadi. Beberapa tahun terakhir, dengan agak gampang kita menyaksikan pengiriman tenaga kerja baik legal maupun ilegal dari kabupaten lain di daratan Timor, Sumba, Alor, Rote Ndao serta Manggarai, Ngada dan Nagekeo di Pulau Flores.

Bila dicermati lebih jauh, perantauan atau dalam bahasa birokrasi pengiriman TKI adalah strategi untuk mengatasi kemelut ekonomi. Artinya, faktor ekonomi masih menjadi pemicu utama keputusan seorang perantau pergi ke Tawau ataupun kebijakan pemerintah setempat mengirim TKI. Data terakhir menunjukkan, selama 2008 sudah 7.476 TKI (di antaranya 6.558 perempuan) yang dikirim ke luar negeri. Jumlah yang tidak jauh berbeda, terjadi setiap tahun dalam lima tahun belakangan.

Tetapi pada titik ini, kita dihadapkan dengan sebuah ironi. Setiap tahun, tidak kecil juga jumlah orang dari daerah lain di negeri ini yang menyerbu NTT. Para pedagang bakso dari Jawa, pengusaha rumah-rumah makan dari Padang, pedagang beras dan kayu dari Makassar adalah fakta di depan mata kita bahwa bumi NTT ternyata masih bisa memberikan kehidupan, bahkan berlimpah, kepada anak- anaknya.

Di saat kita merayakan emas NTT, bisakah ironi ini menjadi pijak permenungan kita bersama? Mengapa kita tidak berani membalikkan kebijakan untuk tidak terlalu gencar mengampanyekan pengiriman TKI? Bukankah persoalan perantauan tidak sedikit meninggalkan pula ekses sosial dalam rumah tangga dan masyarakat?

Radzi Saleh, dalam bukunya, "Breaking Fee, Harga Sebuah Kesuksesan," mengisahkan perjuangannya sebagai seorang anak desa yang mampu membawa ribuan orang mencapai impiannya masing-masing. Mengutip Denis Waitley, ia menulis, dalam hidup ini hanya ada dua pilihan: menerima keadaan hidup sebagaimana adanya atau menerima tanggung jawab untuk mengubah keadaan itu. "Kunci sukses saya, ialah, saya memilih yang kedua, bahkan saya merasa bertanggung jawab untuk selalu mendorong siapa pun untuk memilih hal itu-- menerima tanggung jawab untuk mengubah keadaan hidup kita," kata Radzi Saleh.

Jiwa enterpreneur. Semangat kewirausahaan. Barangkali inilah kekurangan kita rakyat NTT. Tidak perlu semua tenaga kerja produktif memiliki jiwa ini. Namun dari 4 juta lebih penduduk NTT, sekiranya satu sampai lima persen di antaranya berjiwa wirausaha, bisa dipastikan taraf dan mutu hidup masyarkat kita jauh lebih baik.

Tidak fair bila ikhtiar ini kita bebankan semata pada pemerintah. Meskipun duet Lebu Raya-Esthon Foenay ketika dalam kampanye mencari simpati masyarakat sudah menjanjikan membuka lapangan kerja, tanggung jawab mestinya tetap dibebankan pada pundak kita bersama. Tentu untuk satu tujuan: demi generasi NTT lima puluh tahun ke depan. (Pos kupang/19/9/2008)

Stadion Butuh Pembenahan

Catatan Yang Tersisa

Oleh Sipri Seko

KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhamad Wongso komit pada janjinya bahwa tanggal 20 Agustus, pengerjaan lintasan sintetis di Stadion Oepoi Kupang akan rampung. Pengerjaan lintasan dikebut agar penyelenggaraan turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008, terlaksana sesuai jadwal tanggal 23 Agustus.

Lintasan sintetis tuntas dikerjakan, namun permukaan lapangan menimbulkan masalah. Tumpukan tanah yang belum dikeraskan membuat permukaan lapangan menjadi labil. Tumpuan untuk berlari atau menendang bola menjadi tidak stabil. Akibat lainnya, para pemain sering terjatuh. Ada upaya untuk menanam rumput di atasnya, namun tidak cukup membantu karena baru ditanam satu minggu sebelum turnamen digelar.

Stadion Oepoi memang sedang direhab. Namun, yang diperbaiki adalah tembok pagar, atap tribun, pintu masuk, pintu ruangan dan lainnya. Permukaan lapangan tidak termasuk dalam item pengerjaan tersebut. "Butuh dana besar untuk pengerjaan permukaan lapangan. Kami sudah pernah melakukan presentasi di hadapan Dewan, namun belum ada rekomendasi untuk pengalokasian dana. Kalau permukaan lapangan bisa direhab, ditambah lampu stadion, saya yakin stadion kita ini akan menjadi salah satu yang terbaik di wilayah Indonesia Timur," ujar Kasubdin Sarana dan Prasarana Dispora NTT, Drs. Patris Cole.

Dibanding stadion lain di NTT seperti Golodukal di Manggarai, Batunirwala di Alor atau Haliwen di Belu, Stadion Oepoi jelas kalah. Namun, sebagai stadion pertama di NTT yang letaknya ada di ibukota propinsi, Stadion Oepoi memiliki nilai kebanggaan tersendiri bagi para pemain sepakbola. Menurut mereka, prestasi pemain sepakbola di NTT tidak lengkap kalau belum bermain di Stadion Oepoi. Tak heran kalau gengsi turnamen akan menjadi naik kalau pertandingannya digelar di Stadion Oepoi.

Dji Sam Soe dan Pos Kupang pun sama. Mereka tidak mau Mitra Sportindo Event Organizer menggelar turnamen yang disponsorinya di lapangan sepakbola lain selain Stadion Oepoi. "Gengsinya beda," kata Pimpinan Area Marketing PT HM Sampoerna Tbk Kupang, Danang Pamungkas.

Dengan kondisi 'harap maklum' turnamen tetap dilaksanakan di Stadion Oepoi. Sarana dan prasarana olahraga di NTT memang belum mendapat perhatian yang baik dari pemerintah. Padahal, untuk mendapatkan atlet berprestasi sarana olahraga yang representatif adalah tuntutan utama. Tidak hanya itu, dengan stadion yang bagus, kita juga bisa menggelar event-event tingkat nasional.

Seharusnya kita protes kepada PSSI mengapa kita tidak pernah menjadi tuan rumah pra PON cabang sepakbola. Kita memang tidak punya alasan kuat untuk itu. Stadion kita dinilai belum layak menggelar event nasional. Kalaupun Batunirwala dan Golodukal pernah menggelar Divisi II Liga Indonesia, itu karena sudah masuk dalam standard minimal, sementara Stadion Oepoi sama sekali tidak layak.

Tahun depan, Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup pasti kembali digelar. Semua pemain bola dan penonton partai final antara Britama melawan Kristal mendengar janji Ketua Bidang Organisasi KONI Propinsi NTT, Ir. Andre Koreh, M.T, saat penutupan bahwa dia akan mengusulkan ke Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya agar dialokasikan dana perbaikan permukaan lapangan. Kalau ini benar-benar terwujud, maka keinginan akan makin banyak turnamen yang digelar hampir pasti akan tercapai.

Lintasan atletik di Stadion Oepoi 'menggoda' para atlet atletik untuk berlatih lebih keras. Ada harapan prestasi atletik NTT akan meningkat. Mungkinkah bila permukaan lapangan ikut diperbaiki, maka sepakbola NTT bisa berbicara di level nasional? Kita semua menunggu! (bersambung)

Jumat, 19 September 2008

Dudy dan Jason Ikut Korea Open

DUA taekwondoin NTT, Dudy Baranuri dan Jason Hornay akan mewakili Indonesia dalam kejuaraan dunia Korea Open bulan Oktober mendatang. Saat ini keduanya sudah berada di pelatihan terpusat nasional (Pelatda) di Jakarta. Demikian diinformasikan Wakil Sekretaris Pengprop TI NTT, Gabriel Wio, di Kupang, Kamis (18/9/2008).

Menurut Wio, Dudy dan Jason yang memperkuat NTT dalam PON XVII 2008 lalu langsung dipanggil masuk pelatnas di Jakarta sejak satu bulan lalu. Karena mengalami kemajuan teknis, kata Wio, Dudy dan Jason akan dikirim ke Korea Open sebagai ajang ujicoba menghadapi SEA Games bulan November mendatang.

"Jason meski tidak merebut medali di PON, namun oleh PB TI dianggap memiliki potensi. Dia dipanggil ke pelatnas sehingga untuk sementara dia dititipkan untuk sekolah di SMA Ragunan. Ada harapan saat mereka pulang, banyak ilmu yang bisa ditularkan ke atlet-atlet kita di NTT. Berdasarkan evaluasi tim pelatih pelatnas yang kami peroleh, kedua atlet kita ini mengalami kemajuan teknik dan fisik yang cukup bagus. Kita harapkan Dudy dan Jason bisa meraih hasil yang menggembirakan di Korea," kata Wio.

Selain Dudy dan Jason, menurut Wio, atlet kelahiran Kupang, Alfred Blegur, yang mutasi ke Kalimantan Timur juga akan dikirim ke kejuaraan dunia, Amerika Open. "Dikirimnya tiga atlet kita menunjukkan bahwa taekwondo NTT sudah masuk level nasional. Ini akan menjadi tantangan pembinaan di NTT," ujarnya.

Terkait kegiatan di tingkat Pengprop TI NTT, Wio mengatakan, direncanakan akan digelar kejuaraan daerah (Kejurda) pada bulan November nanti. "Panitia kejurda sudah terbentuk. Kami juga sudah menghubungi pengurus tingkat kabupaten untuk mempersiapkan atletnya karena kejurda ini juga akan menjadi ajang seleksi atlet menghadapi kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional tahun depan," ujarnya. (eko)

PSK Tolak Ikut ETMC


PS Kabupaten Kupang (PSK) menolak untuk ikut dalam turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) 2008. Alasannya, penundaan pelaksanaan pada bulan November oleh panitia hanya sepihak tanpa alasan yang kuat. Demikian dikatakan Sekretaris PSK, Helmit Marcus, S.H, ketika menghubungi Pos Kupang, Kamis (18/9/2008).

"Kalau pelaksanaan El Tari Cup dilakukan bulan November maka kami menolak ikut. Alasan kami adalah November sudah turun hujan, sehingga kalau dipertandingkan, jelas target pembinaan tidak akan tercapai. Sampai saat ini pun kami belum menerima surat pemberitahuan dari panitia bahwa akan ditunda. Informasi yang kami peroleh, Pengprop PSSI sudah membatalkannya dan event penggantinya adalah Piala Gubernur," ujar Helmit.

Menurut Helmit, setelah mendapat informasi pembatalan ETMC 2008, pihaknya langsung menghentikan latihan. PSK, kata Helmit, baru akan melanjutkan latihannya pekan depan sebagai persiapan menghadapi Piala Gubernur. "Sudah satu bulan kami hentikan latihan untuk El Tari Cup. Kami akan kembali berlatih minggu depan untuk menghadapi Piala Gubernur. Bagi kami di PSK, ini lebih bagus, daripada harus bermain di El Tari Cup. Saya sudah kontak Pak Tinus (Marthinus Meowatu/Sekretaris PSSI NTT) dan dia bilang surat pembatalan El Tari Cup dan pelaksanaan Piala Gubernur sudah disiapkan tapi belum dikirim ke perserikatan karena belum ditandatangani Ketua PSSI (Frans Lebu Raya)," ujar Helmit.

Sebelumnya, Sekretaris Panitia ETMC 2008, Ferdy Burah mengatakan, pihaknya menunda pelaksanaan ETMC 2008 dari tanggal 13 Oktober ke 2 November dengan alasan, pada saat bersamaan ada delapan perserikatan yang sedang melangsungkan pemilihan kepala daerah. Menurutnya, pemkab dan masyarakat Ngada telah siap menyukseskan event tersebut. (eko)

Wasit Jadi Kambing Hitam

Catatan Yang Tersisa


Oleh Sipri Seko

MANAJER Platina FC, Melkisedek L Madi dan pelatih Bon Kota Adonara, Asril Laba, mengeluarkan statemen bahwa klubnya tidak akan ikut turnamen sepakbola di Kota Kupang, kalau wasit-wasit yang ada masih dipakai memimpin pertandingan. Mereka menilai wasit yang ada sudah terlalu tua untuk memimpin pertandingan dengan tempo tinggi. Pengaduan yang sama sebenarnya datang dari sebagian besar pelatih peserta turnamen yang diterima panitia.

Panitia pelaksana dari Mitra Sportindo Event Organizer tidak bisa berkomentar banyak menerima pengaduan ini. Urusan perwasitan, berhubungan langsung dengan Pengprop PSSI NTT. Panitia hanya sebatas menginformasikan pengaduan itu, namun urusan menentukan siapa yang memimpin dan bagaimana kualitas kepemimpinannya, bukan menjadi urusannya.

Urusan wasit dalam turnamen sepakbola di NTT masih menjadi persoalan. Ada banyak contoh kericuhan dalam turnamen-turnamen resmi yang penyebab utamanya berawal dari kepemimpinan wasit. Contoh paling nyata adalah dipenjaranya striker Kristal FC, Maksi Kami, karena memukul wasit, Ruben Huru saat penyelenggaraan turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007. Kasus ini pun menjadi pelajaran penting bagi para pemain dan pelatih. Mereka mungkin geram terhadap keputusan wasit, namun mereka juga tak ingin menginap di 'hotel pordeo.'

Dari sisi kualitas dan pemahaman terhadap aturan, sebenarnya wasit-wasit kita sangat mampu. Yang jadi soal mungkin usia mereka. Dengan usia rata-rata di atas 45 tahun, kebugaran mereka, baik fisik maupun konsentrasi menjadi pertanyaan. Ketidakmampuan untuk terus berlari mendekati bola sesuai aturan FIFA membuat mereka terkadang masih salah mengambil keputusan. Tapi, apakah kita harus terus mempersalahkan mereka?

Itulah kelemahan kita bersama. Belum ada yang memikirkan peran wasit dalam memajukan sepakbola. Kita masih sebatas yang penting bersertifikat, masih mau memimpin dan tahu aturan, dia layak pimpin pertandingan. Padahal, badan sepakbola dunia, FIFA, memiliki aturan tentang pembatasan usia wasit. Contoh nyata adalah wasit ternama asal Italia, Piarluigi Collina yang harus pensiun di usia 45 tahun, meski masih menjadi wasit terbaik dunia saat ini.

Lalu, apa penyebab kita tidak melakukan regenerasi wasit? Banyak potensi yang seharusnya bisa dibina menjadi wasit berkualitas, namun belum dilaksanakan. Lihat saja keputusan Mitra Sportindo untuk menggunakan mahasiswa jurusan olahraga dari FKIP Unkris memimpin pertandingan ujicoba atau turnamen tak resmi lainnya yang mereka selenggarakan. Yudikar Praing, Musa Luluporo dkk menunjukkan kualitas yang cukup bagus. Mereka juga mampu berlari dan berkonsentrasi penuh selama pertandingan berlangsung. Sayangnya, mereka belum memiliki sertifikasi untuk memimpin pertandingan.

Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama. PSSI, klub, pemain, pelatih, ofisial, penyelenggara maupun sponsor harus duduk bersama dan sepakat untuk mencarikan solusinya. Para wasit senior yang ada harus dimintai tanggapannya. Mereka harus diajak untuk bersama-sama melahirkan generasi-generasi baru yang bisa melanjutkan tugas mereka memimpin dan menegakan aturan permainan.

Kita semua tahu profesi wasit sepakbola di NTT, bukan merupakan tempat mencari makan. Para wasit lebih memimpin hanya demi sepakbola. Mereka juga tentu tak ingin namanya terus diteriaki pemain, pelatih, ofisial atau bahkan dilempari penonton. Mereka juga memiliki keluarga yang sangat menghormati mereka sama seperti orang kebanyakan lainnya.

Untuk itu, kalau memang wasit masih terus diprotes klub peserta, mereka masih dituding sebagai kambing hitam di balik kekalahan tim maka harus ada solusinya. Harus ada aksi bersama. Kalau memang sudah saatnya regenerasi, lakukanlah itu. Kalau memang jumlah wasit yang ada masih sangat sedikit sehingga mereka terus dipaksa memimpin, gelarlah pelatihan minimal bersertifikasi C3 untuk memimpin turnamen-turnamen antar-klub di daerah. Namun, yang harus dicatat, kalau mau menggelar sertifikasi wasit, faktor usia harus jadi persyaratan mutlak. (bersambung)

Kamis, 18 September 2008

ETMC Digelar 2 November

PEMERINTAH dan masyarakat Kabupaten Ngada akan tetap menggelar turnamen sepakbola El Tari Memorial Cup (ETMC) 2008. Semula direncanakan akan digelar tanggal 13 Oktober, namun dengan berbagai pertimbangan teknis, pelaksanaannya diundur pada tanggal 2 November. Demikian diinformasikan Sekretaris Panitia Pelaksana (Panlak) ETMC 2008, Ir. Ferdi Burah, M.T, melalui telepon, Rabu (17/9/2008).

"Pemkab dan masyarakat Ngada mendukung pelaksanaan ETMC 2008. Jadwal semula sesuai buku panduan ETMC 2008 yang diterima semua perserikatan seharusnya turnamen digelar tanggal 13 Oktober, tapi karena ada delapan kabupaten yang melaksanakan pilkada, sehingga setelah dilakukan beberapa kali pertemuan, ditentukan tanggal 2 November. Jadi saya mau klarifikasi bahwa tidak ada pembatalan, tapi siap dilaksanakan," jelas Burah.

Menurut Burah, pihaknya terkejut saat mendengar informasi bahwa Pengprop PSSI NTT membatalkan pelaksanaan ETMC 2008 di Ngada dengan alasan kondisi lapangan yang belum siap.

"Tidak benar kalau lapangan belum siap, karena lapangan yang kami siapkan ada dua, yakni di Golewa dan Bajawa. Kalaupun ada perbaikan-perbaikan, saya pikir ini adalah hal wajar agar nantinya pertandingan bisa berlangsung lebih baik. Panpel telah siap melaksanakan turnamen. Dan, Kalau PSSI NTT yang membatalkannya dengan alasan teknis, mereka harus menyampaikannya ke Pemkab Ngada karena sudah banyak dana yang dikeluarkan. Dan, kalaupun pembatalan dilakukan oleh kami, kami pasti memberitahukannya ke perserikatan lain," ujar Burah.

Mengenai kesiapan pemain, menurut Burah, tidak menjadi masalah. "Pemain kami sangat siap. Hampir sebagian besar pemain kami yang ikut El Tari tahun lalu di Atambua berusia di bawah 21 tahun. Beberapa di antara mereka malah memperkuat NTT di pra PON. Jadi untuk pemain, PSN Ngada sudah sangat siap," ujarnya. (eko)

Persiapan Klub Tidak Maksimal

Catatan Yang Tersisa

Oleh Sipri Seko

HERMAN Tunliu, pemain Perss SoE dari klub Dinamit FC tak habis pikir kalau Kristal FC bisa bermain di final melawan PS Britama Kupang. Dia mengira kalau AS Roma, Platina FC atau klub-klub asal Flores yang akan bermain di final.

"Mereka pernah ujicoba di SoE melawan kami dan kami mengalahkan mereka. Saya penasaran jadi harus datang menonton," ujarnya. Herman lebih terkejut lagi ketika dia melihat skuad Kristal FC yang minim bintang, tidak sama seperti klub-klub lainnya.

Kristal FC memang tampil mengejutkan. Tak diperhitungkan, Johni Lumba membawa Dicky Lapitonung dkk menjadi champions 2008. Tim-tim besar ditumbangkan. Mereka tampil sangat fenomenal. Apakah ini berarti kualitas peserta turnamen sudah merata?

Sepakbola NTT terhenyak ketika Flores Timur mengirimkan empat timnya berpartisipasi dalam turnamen ini. Fanatisme terhadap sepakbola dan mimpi ingin bermain bola di ibukota propinsi membuat Bon Kota, Perselaya, Putra Napo dan Pelangi Putra tak memikirkan berapa duit yang mereka keluarkan untuk membiayai hidup mereka selama turnamen berlangsung. Tapi, justru di sinilah persoalannya. Kualitas permainan mereka jauh di bawah penampilan mereka tahun lalu.

Harus diakui bahwa ada ironi menarik tentang kualitas tim peserta. Bukan hanya tim asal Flores Timur dan Ende, tapi klub-klub asal Kota Kupang juga memiliki masalah yang sama. Persoalannya adalah bukan karena pemain-pemainnya yang tidak berkualitas, tapi nampaknya pada persiapan yang tidak maksimal.

AS Roma, Kelimutu FC, Mandiri FC, Bon Kota Adonara, Garuda Bahari, Putra Napo dan Pelangi Putra yang memiliki pemain-pemain berkualitas dan sarat pengalaman, namun bermasalah dalam stamina dan komunikasi permainan. Penampilan mereka sangat berbeda dengan penampilan anak-anak belia SSB Tunas Muda yang begitu bertenaga meski melawan tim-tim besar.

Kalau demikian, masalah kualitas tidak terlepas dari persiapan tim. Pola latihan, berapa lama persiapan yang dilakukan, apakah pelatihnya tahu teknik melatih atau tidak dan lainnya belum menjadi perhatian. Hanya mengandalkan pengalaman bertanding, mereka mau bermain. Akibatnya adalah kekalahan yang dibawa pulang.

Prestasi Kristal FC adalah contoh nyata tim yang mempersiapkan dirinya dengan baik. Latihan rutin dan terprogram membuat mereka sangat paham apa yang harus dilakukannya dalam lapangan. Komunikasi sudah terbangun dengan baik, karena mereka sudah sering sama-sama berlatih. Mereka tidak copot pemain sana sini untuk menutup kelemahan di lini-lini tertentu hanya untuk mengejar nama dan gelar di turnamen. Pemain inti dan pelapis sudah sama siapnya.

Kalau demikian, seharusnya klub-klub peserta terutama yang sudah lolos otomatis harus mempersiapkan diri dengan baik. Pieter Fomeni dkk dari Mitra Sportindo Event Organizer sudah mematok jadwal penyelenggaraan, yakni bulan Juli hingga September. Itu artinya, klub-klub sudah harus memiliki jadwal latihan yang terprogram, mulai dari latihan ringan, teknik, pola, fisik, ujitanding/try out hingga masa tenang menyambut pertandingan.

Di era di mana olahraga sudah menjadi teknologi, jangan harap kalau pola latihan langsung masuk lapangan dan bermain bola akan membuat sebuah klub bisa menang. Pengetahuan dasar bermain bola harus diberikan. Tenik menyerang dan bertahan harus diajarkan. Komunikasi dan saling tahu tipe permainan teman harus diketahui dan masih banyak lagi. Semua ini dilakukan agar jangan hanya sekadar berpartisipasi dan menghabiskan duit hanya dengan alasan yang penting bisa bermain bola.

Turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup sudah memiliki kelas tersendiri dalam sepakbola antar-klub di NTT. Pieter Fomeni dkk, ketika menggandeng Dji Sam Soe dan Pos Kupang untuk mensponsori event ini tidak memiliki target untuk meraup keuntungan financial. Mereka hanya ingin sepakbola NTT bisa bangkit dan bersaing di level nasional. Mereka yakin dengan semakin banyak orang bermain bola, maka tradisi bola akan muncul sehingga dibina menuju prestasi yang lebih tinggi. (bersambung)

SYALOM