SELAMA beratus tahun, kematian dan pernikahan di Pulau Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, adalah pesta pora. Bukan pesta biasa, tetapi ritual minum dan makan daging berhari-hari. Puluhan hingga ratusan domba, babi, sapi, atau kuda dikorbankan.
Bagi keluarga bangsawan, itulah waktunya ”mengerahkan” sumber daya untuk pesta bernilai ratusan juta rupiah.
Kemeriahan pesta adalah mutlak, tak peduli empunya pesta si kaya atau miskin. Kemeriahan tak mengenal status ekonomi. Semakin tinggi status sosial keluarga, pesta makin meriah. Seperti dialami keluarga Tolasik, salah seorang bangsawan di Kota Ba’a (sekarang nama ibu kota kabupaten).
Ratusan ternak dikorbankan bagi pesta kematian. Tiada hari tanpa makan daging dan minum. ”Dari keluarga menyiapkan 60 ekor kerbau dan babi, belum termasuk ternak sumbangan,” kata Meslik Tolasik, salah satu cucu mendiang, ketika dikunjungi Kompas dan tim dari World Vision Indonesia (WVI) akhir September 2008.
Secara adat, ”genderang” pesta kematian ditabuh saat buka neneik (tikar), sesaat setelah ada anggota keluarga meninggal. Berhari-hari, kerabat, kenalan, dan tokoh sebaya anggota keluarga yang meninggal duduk- duduk, ngobrol, dan berpantun mengenang mendiang.
Sementara itu, rangkaian pesta pernikahan dimulai saat kedua keluarga calon mempelai memastikan tanggal pernikahan. Saat itulah besaran belis (mas kawin) diketahui.
Umumnya, belis mencapai Rp 20 jutaan, yang ditanggung keluarga besar melalui serangkaian pertemuan tu’u belis (kumpul ongkos kawin). Tahapan itu untuk memastikan kesanggupan kerabat soal besaran sumbangan.
Sumbangan, baik uang maupun ternak, dicatat; nama penyumbang, jumlah uang, hingga kondisi ternak (lingkar perut atau gemuk-tidaknya ternak). Pada setiap tahapan tu’u, pesta daging tak pernah absen.
Setidaknya ada tiga tahapan tu’u belis, yakni tu’u daftar (mendaftar keluarga yang akan diundang), tu’u kumpul keluarga (membicarakan sumbangan yang akan diberikan), dan tu’u penyetoran (menyerahkan sumbangan). Barulah puncak acara tiba; pesta nikah.
Nama penyumbang dan sumbangan disimpan rapi untuk pengembalian. Mengembalikan sumbangan wajib hukumnya. Kalau tidak? ”Yang bersangkutan akan dipermalukan dengan pengumuman saat pesta,” kata Maneleo (kepala suku) Nusak Ba’a John Ndolu (45).
Saling sumbang bernilai jutaan rupiah menjerumuskan warga pada jeratan utang, yang bahkan diwariskan. Dengan kata lain, mempelai langsung menanggung utang secara adat.
Di Rote, tak sedikit kasus putus sekolah karena tak ada biaya. Namun, jangan sampai tak ada uang untuk menyumbang pesta.
Untuk pesta kematian atau pernikahan, tak ada istilah miskin. Warga lebih malu tiada pesta daripada anak-anaknya putus sekolah. ”Bisa dibilang, orang pergi bekerja bukan untuk uang sekolah, tetapi membayar ketentuan adat,” kata Kepala Desa Oelunggu Adrianus Tulle.
Angin perubahan
Beratus tahun eksis, berembus angin perubahan budaya tu’u belis kematian dan pernikahan. Kelompok pembaru atau perevitalisasi budaya muncul.
John Ndolu, Maneleo Nusak Ba’a, adalah tokoh di balik itu. ”Kami hanya menyederhanakan praktik-praktik budaya yang berlebihan. Nilai-nilainya tetap bertahan,” kata maneleo, pilihan warga pada Januari 2006 itu.
Revitalisasi budaya didukung WVI, organisasi nirlaba yang di antaranya mendukung pendidikan dan nutrisi anak. Pesta pora kematian dan pernikahan melanggengkan kemiskinan. ”Kesejahteraan warga dan pendidikan anak-anak terkena dampaknya,” kata Manajer WVI Program Rote Sugiyarto. Cikal bakal WVI di Rote hampir 15 tahun lalu.
Revitalisasi budaya memangkas ongkos pesta belasan juta rupiah. Mas kawin yang dulunya Rp 20 jutaan, disepakati warga cukup Rp 3,65 juta. Pesta pun disepakati sekali dengan menyembelih satu hewan besar dan satu hewan kecil. Dulu, minimal puluhan ekor! ”Pesta pada saat ucapan syukur,” kata John.
Pesta daging pada setiap kumpul keluarga pun ditiadakan. Jika ada, cukup kue dan teh.
Penerimaan warga di luar dugaan, termasuk kerelaan hati memutihkan piutang ternak yang dulu mereka sumbangkan. Sanksi pun diatur, berupa denda Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Contoh pelanggaran, menyembelih ternak berlebihan, atau menyediakan daging mentah untuk dibawa pulang.
”Beberapa orang pernah mencoba melanggar, termasuk menyuap saya dengan bawaan daging mentah. Saya tolak!” kata John. Perlahan tetapi pasti, revitalisasi dipatuhi.
Sejak tahun 2003
Revitalisasi budaya di Rote dimulai tahun 2003. Gerakan itu makin kuat ketika John Ndolu terpilih sebagai Maneleo Nusak Ba’a. Ia memimpin lima leo (kumpulan marga), setara dengan sekitar 1.200-an keluarga.
Dimulai komunitas warga Kunak, lima tahun lalu, kini tiga nusak mengadopsi (nusak Lole, Ba’a, dan Lelain atau Lobalaen). Rote Ndao terdiri atas 19 nusak.
Saat ini, sejumlah nusak mulai merevitalisasi meskipun belum sepenuhnya. Namun, lebih banyak nusak yang masih menolak. Beberapa warga asli Rote di luar pulau pun masih ada yang menolak. Satu alasan, warisan leluhur patut terus dijaga.
Sebenarnya, pesta kematian dan pernikahan masih dijalankan warga ”Nusa Lontar”. Mereka hanya ingin memutus rantai kemiskinan. (kompas.com)
Rabu, 19 November 2008
Hemat Listrik Rp 3 Miliar Per Tahun
Oleh Hermina Pello
SAAT ini daya mampu mesin-mesin di PLTD Tenau hanya sekitar 25 megawatt (MW). Jika semua mesin berfungsi sementara pemakaian pada waktu beban puncak, mulai pukul 18.00 hingga pukul 22.00 Wita, maka daya itu mencapai 25,5 MW. Setelah pukul 22.00 Wita, ketika ada warga mulai istirahat sehingga mematikan televisi, lampu dan lainnya, barulah daya yang terpakai mulai berkurang.
"Sudah lama PLN mengampanyekan hemat energi dengan cara mengganti lampu TL atau lampu pijar dengan lampu hemat energi. Juga mematikan dua mata lampu saja untuk setiap pelanggan. Tapi itu belum dituruti secara baik," kata Kepala PLN Cabang Kupang, Willer Marpaung, di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2008).
Menurut dia, mematikan dua mata lampu di mana satu mata lampu 25 watt, jika dua mata lampu dipadamkan, maka akan ada 50 watt yang dipadamkan. Hitung saja, ada 53.000 pelanggan PLN, maka jika masing-masing memadamkan lampu 50 watt, berarti ada sekitar 1.650.000 watt atau 1,6 MW yang dihemat.
Pemadaman yang terjadi sekarang ini, katanya, sebesar 3,5 MW. Jadi, kalau ada penghematan 1,6 MW, maka daya yang digunakan hanya 1,9 MW saja. Jika rata- rata pelanggan PLN dayanya 900 voltampere (vA), maka dari daya sebesar 1,6 MW itu bisa digunakan untuk sekitar 2.000 pelanggan.
Akan tetapi, lanjut Marpaung, kalau hanya satu atau dua orang yang memadamkan dua mata lampu, maka itu tidak akan berarti. Namun, jika semua pelanggan secara bersama-sama melakukan pemadaman dua mata lampu, maka akan sangat berarti bagi pelanggan lainnya.
Kalau dikalkulasi, demikian Marpaung, jumlah penghematan dari segi pembayaran rekening tidak besar. Namun, kalau mematikan lampu 50 watt selama empat jam, berarti 200 watt/hari dikali dengan 30 hari, maka hasilnya 6 KW.
Satu kilowatt itu, kata Marpaung, tarifnya Rp 500 sehingga dalam satu bulan hanya menghemat Rp 3.000,00. Bukan nilai rekeningnya yang dihitung, tetapi bagaimana pelanggan ikut merasakan pemadaman tatkala orang lain mengalami pemadaman sementara yang lain tidak padam.
Menurut dia, ada banyak cara untuk hemat listrik. Tapi itu semua kembali pada diri sendiri, matikan televisi tidak ada yang menonton, atau komputer, jika tidak ada yang menggunakannya dan masih banyak lagi. Atau bagi pelanggan PLN yang mampu, yang memiliki AC namun tidak menghidupkannya AC pada waktu beban puncak, maka banyak orang lain yang bisa terbantu.
Seandainya ada 1.000 unit AC berdaya 1,5 PK yang menggunakan daya listrik sebesar 1.000 watt, maka kalau saja tidak dinyalakan, berarti 1.000 pelanggan PLN lainnya tidak perlu mengalami pemadaman, karena daya yang tidak digunakan itu bisa disalurkan kepada orang lain.
Prinsip hemat energi ini, kata Marpaung, perlu dipahami oleh orang-orang yang duduk di pemerintahan. Karena penghematan energi itu sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Penghematan Energi dan Air. Pemerintah Propinsi NTT semasa Gubernur Piet A Tallo, S.H, juga pernah mengeluarkan surat meminta semua pihak, baik pemerintah kota/kabupaten maupun masyarakat melakukan penghematan energi. Namun sampai sekarang surat itu sepertinya tidak digubris.
Contohnya, jika Anda berjalan pada malam hari di Jalan EL Tari II, maka Anda akan bangga bahwa kota Kupang terang benderang sebab lampu jalan menggunakan lampu merkuri 250 watt. Tapi terangnya lampu jalan itu merupakan bagian dari pemborosan.
Data PLN Cabang Kupang, menyebutkan di Kota Kupang ini terpasang 3.175 lampu jalan merkuri sebesar 250 watt, lampu TL sebanyak 745 unit, ada juga sembilan lampu jalan yang terbuat dari lampu halogen sebesar 250 watt, ada 61 lampu hias dan enam lampu pijar.
Penghematan bisa dilakukan dengan mengganti lampu merkuri atau lampu halogen dengan lampu hemat energi 85 wat. Jika itu yang dilakukan, maka ada penghematan daya 165 watt/lampu. Bila dikalkulasikan maka terjadi penghematan daya 523.875 watt atau sekitar 0,5 MW. Kalau pelanggan PLN kategori rumah tangga memasang daya 450 watt, maka dengan penghematan tersebut sekitar 1.000 pelanggan tidak perlu mengalami pemadaman.
Penghematan itu tidak hanya energi, tetapi juga dalam pembayaran rekening. Pemerintah harus membayar lampu jalan yang menggunakan merkuri atau halogen sebesar Rp 119.065/bulan untuk satu mata lampu. Tetapi kalau diganti dengan lampu hemat energi, maka pemerintah hanya membayar Rp 23.815/bulan.
Itu berarti ada selisih uang Rp 95.250,00/bulan untuk setiap mata lampu. Nilai sebesar Rp 95.250 jika dikalikan dengan 3.175 lampu, maka pemerintah bisa berhemat Rp 302.418.750/bulan dan dalam satu tahun, pemerintah bisa berhemat lebih dari Rp 3 miliar.
Dana sebesar Rp 3 miliar itu, lanjut Marpaung, bisa dialokasikan untuk kesehatan, atau pendidikan atau untuk pembuatan infrastruktur seperti jalan dan lainnya untuk meningkatkan perekonomian suatu wilayah.
Menurut Marpaung, mengganti lampu merkuri atau halogen itu butuh dana, tetapi dalam waktu dua bulan, dana itu sudah bisa tertutupi karena untuk mengganti satu mata lampu membutuhkan dana sekitar Rp 150.000,00. "Tapi kalau dilihat dari selisih pembayaran rekening, dalam waktu dua bulan saja, pemerintah sudah bisa mengganti lampu tersebut," ujar Marpaung.
Dia menyebutkan, terkait permintaan mengganti merkuri dengan lampu hemat energi itu, PLN Cabang Kupang telah melayangkan surat ke semua bupati/walikota yang termasuk dalam daerah pelayanan PLN Cabang Kupang pada 12 September 2008. Namun keseriusan pemerintah itu hingga kini belum diwujudkan secara optimal. (ira)
SAAT ini daya mampu mesin-mesin di PLTD Tenau hanya sekitar 25 megawatt (MW). Jika semua mesin berfungsi sementara pemakaian pada waktu beban puncak, mulai pukul 18.00 hingga pukul 22.00 Wita, maka daya itu mencapai 25,5 MW. Setelah pukul 22.00 Wita, ketika ada warga mulai istirahat sehingga mematikan televisi, lampu dan lainnya, barulah daya yang terpakai mulai berkurang.
"Sudah lama PLN mengampanyekan hemat energi dengan cara mengganti lampu TL atau lampu pijar dengan lampu hemat energi. Juga mematikan dua mata lampu saja untuk setiap pelanggan. Tapi itu belum dituruti secara baik," kata Kepala PLN Cabang Kupang, Willer Marpaung, di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2008).
Menurut dia, mematikan dua mata lampu di mana satu mata lampu 25 watt, jika dua mata lampu dipadamkan, maka akan ada 50 watt yang dipadamkan. Hitung saja, ada 53.000 pelanggan PLN, maka jika masing-masing memadamkan lampu 50 watt, berarti ada sekitar 1.650.000 watt atau 1,6 MW yang dihemat.
Pemadaman yang terjadi sekarang ini, katanya, sebesar 3,5 MW. Jadi, kalau ada penghematan 1,6 MW, maka daya yang digunakan hanya 1,9 MW saja. Jika rata- rata pelanggan PLN dayanya 900 voltampere (vA), maka dari daya sebesar 1,6 MW itu bisa digunakan untuk sekitar 2.000 pelanggan.
Akan tetapi, lanjut Marpaung, kalau hanya satu atau dua orang yang memadamkan dua mata lampu, maka itu tidak akan berarti. Namun, jika semua pelanggan secara bersama-sama melakukan pemadaman dua mata lampu, maka akan sangat berarti bagi pelanggan lainnya.
Kalau dikalkulasi, demikian Marpaung, jumlah penghematan dari segi pembayaran rekening tidak besar. Namun, kalau mematikan lampu 50 watt selama empat jam, berarti 200 watt/hari dikali dengan 30 hari, maka hasilnya 6 KW.
Satu kilowatt itu, kata Marpaung, tarifnya Rp 500 sehingga dalam satu bulan hanya menghemat Rp 3.000,00. Bukan nilai rekeningnya yang dihitung, tetapi bagaimana pelanggan ikut merasakan pemadaman tatkala orang lain mengalami pemadaman sementara yang lain tidak padam.
Menurut dia, ada banyak cara untuk hemat listrik. Tapi itu semua kembali pada diri sendiri, matikan televisi tidak ada yang menonton, atau komputer, jika tidak ada yang menggunakannya dan masih banyak lagi. Atau bagi pelanggan PLN yang mampu, yang memiliki AC namun tidak menghidupkannya AC pada waktu beban puncak, maka banyak orang lain yang bisa terbantu.
Seandainya ada 1.000 unit AC berdaya 1,5 PK yang menggunakan daya listrik sebesar 1.000 watt, maka kalau saja tidak dinyalakan, berarti 1.000 pelanggan PLN lainnya tidak perlu mengalami pemadaman, karena daya yang tidak digunakan itu bisa disalurkan kepada orang lain.
Prinsip hemat energi ini, kata Marpaung, perlu dipahami oleh orang-orang yang duduk di pemerintahan. Karena penghematan energi itu sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 2 Tahun 2008 tanggal 5 Mei 2008 tentang Penghematan Energi dan Air. Pemerintah Propinsi NTT semasa Gubernur Piet A Tallo, S.H, juga pernah mengeluarkan surat meminta semua pihak, baik pemerintah kota/kabupaten maupun masyarakat melakukan penghematan energi. Namun sampai sekarang surat itu sepertinya tidak digubris.
Contohnya, jika Anda berjalan pada malam hari di Jalan EL Tari II, maka Anda akan bangga bahwa kota Kupang terang benderang sebab lampu jalan menggunakan lampu merkuri 250 watt. Tapi terangnya lampu jalan itu merupakan bagian dari pemborosan.
Data PLN Cabang Kupang, menyebutkan di Kota Kupang ini terpasang 3.175 lampu jalan merkuri sebesar 250 watt, lampu TL sebanyak 745 unit, ada juga sembilan lampu jalan yang terbuat dari lampu halogen sebesar 250 watt, ada 61 lampu hias dan enam lampu pijar.
Penghematan bisa dilakukan dengan mengganti lampu merkuri atau lampu halogen dengan lampu hemat energi 85 wat. Jika itu yang dilakukan, maka ada penghematan daya 165 watt/lampu. Bila dikalkulasikan maka terjadi penghematan daya 523.875 watt atau sekitar 0,5 MW. Kalau pelanggan PLN kategori rumah tangga memasang daya 450 watt, maka dengan penghematan tersebut sekitar 1.000 pelanggan tidak perlu mengalami pemadaman.
Penghematan itu tidak hanya energi, tetapi juga dalam pembayaran rekening. Pemerintah harus membayar lampu jalan yang menggunakan merkuri atau halogen sebesar Rp 119.065/bulan untuk satu mata lampu. Tetapi kalau diganti dengan lampu hemat energi, maka pemerintah hanya membayar Rp 23.815/bulan.
Itu berarti ada selisih uang Rp 95.250,00/bulan untuk setiap mata lampu. Nilai sebesar Rp 95.250 jika dikalikan dengan 3.175 lampu, maka pemerintah bisa berhemat Rp 302.418.750/bulan dan dalam satu tahun, pemerintah bisa berhemat lebih dari Rp 3 miliar.
Dana sebesar Rp 3 miliar itu, lanjut Marpaung, bisa dialokasikan untuk kesehatan, atau pendidikan atau untuk pembuatan infrastruktur seperti jalan dan lainnya untuk meningkatkan perekonomian suatu wilayah.
Menurut Marpaung, mengganti lampu merkuri atau halogen itu butuh dana, tetapi dalam waktu dua bulan, dana itu sudah bisa tertutupi karena untuk mengganti satu mata lampu membutuhkan dana sekitar Rp 150.000,00. "Tapi kalau dilihat dari selisih pembayaran rekening, dalam waktu dua bulan saja, pemerintah sudah bisa mengganti lampu tersebut," ujar Marpaung.
Dia menyebutkan, terkait permintaan mengganti merkuri dengan lampu hemat energi itu, PLN Cabang Kupang telah melayangkan surat ke semua bupati/walikota yang termasuk dalam daerah pelayanan PLN Cabang Kupang pada 12 September 2008. Namun keseriusan pemerintah itu hingga kini belum diwujudkan secara optimal. (ira)
Senin, 17 November 2008
Sui Wu'u, Lauk yang Terlupakan
Oleh Rosalina Langa Woso
SECARA
geografis Desa Mangulewa menempati posisi tertinggi Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Alam Mangulewa yang dingin, dibalut kabut hampir separuh waktu, membuat warga cenderung 'malas' menyingkap selimut di pagi hari. Banyak aktivitas tertunda. Memindahkan kuda (dheso jara) ke rumput hijau tertunda. Pergi ke kebun (dua uma) pun tertunda.
Tetapi kondisi alam kampungku yang dingin itu dikenal subur. Sayur wortel manis dan segar, pucuk labu, buncis kepompong yang gurih, sawi dan kol berjejer di rebis rumah. Sayur-sayuran itu sangat laris di pasar-pasar tradisional, menembus pasaran Ende, Maumere bahkan Kupang.
Kampungku tidak hanya dikenal sebagai 'gudang sayur'. Ada sumber protein hewani yang diolah oleh nenek moyang sejak tempo dulu. Cara meramu lauk tradisional itu mencegah lahirnya generasi kurang gizi. Sui wu'u menjadi lauk pauk yang digemari masyarakat setempat.
Proses pengawetan sui wu'u tidak menggunakan zat kimia. Daging segar yang tidak habis dikonsumsi dalam suatu pesta perkawinan, pesta adat reba atau acara adat lainnya, dipotong dadu dengan ketebalan 5 cm. Daging itu dibilas hingga bersih lalu ditiriskan hingga kering.
Para ibu rumah tangga selalu menyisihkan tepung jagung (jagung yang ditumbuk pakai lesung) untuk dijadikan bahan pengawet. Tepung jagung yang ditampi warnanya kuning, terasa halus saat dipilin dengan kedua jari tangan. Daging yang telah ditiriskan itu digulung rata dengan tepung jagung. Hampir sama seperti menggulung tepung panir pada menu udang, cumi-cumi ataupun ayam goreng di restoran-restoran kota.
Daging yang terbungkus tepung jagung lalu disimpan dalam tuku (tiga ruas bambu tua) yang kulitnya telah disapih. Ruas bambu dipilih harus sudah tua. Dindingnya dihaluskan dengan sayatan pisau, bagian ujungnya diberi penutup. Fungsinya untuk mengurangi keluar masuknya udara, sehingga daging tidak cepat rusak.
Biasanya tuku yang berisi daging disimpan di dinding sekitar tungku api. Bila dinding dapur tidak luas, biasanya digantung para-para tepat di atas tiga tungku dapur. Pelan tapi pasti, dinding tuku berisi sui wu'u diterpa asap yang mengepul dari tungku api.
Sambil menyelam minum air, itulah ungkapan yang tepat untuk melukiskan proses pengawetan sui wu'u di kampungku. Api yang dinyalakan para ibu rumah tangga tidak hanya untuk menanak nasi, tetapi turut menghangatkan sui wu'u. Daging akan awet sepanjang waktu dengan kehangatan api setiap hari.
Meski daging awet selama beberapa bulan, sui wu'u harus segera dikonsumsi agar aman dan nilai gizinya tetap memenuhi standar kesehatan.
Su'i wu'u biasanya diracik untuk persediaan lauk di masa penceklik atau sebagai bekal untuk menempuh perjalanan jauh. Warga setempat harus meninggalkan perkampungan menuju dataran Zeu (ladang padi dan jagung) yang terkenal subur di Kecamatan Golewa.
Saat ini sui wu'u mulai ditinggalkan. Bisa dihitung dengan jari, masih ada warga Mangulewa yang setia meramunya sebagai lauk keluarga. Kelupaan masyarakat akan sui wu'u dapat dimaklumi karena pesatnya teknologi seperti kulkas, yang mampu mengawetkan daging segar. Padahal, sebelum kulkas hadir dan merajai kota Bajawa, sui wu'u salah satu lauk yang dijamin nyaman untuk konsumsi.
Rasa sui wu'u sama seperti daging yang baru disembelih. Hanya, dalam segi aroma lebih tajam karena diselingi tepung jagung. Sui wu'u akan membangkitkan selera makan bila dibakar dalam bara panas.
Daging ini ditusuk dengan lidi atau kawat kecil, mirip membakar sate. Bara api yang panas membakar seluruh permukaan tepung jagung, aroma menyengat hidung lalu menebar ke atap dapur. Minyak daging yang menetes akan sedap disantap bila dibiarkan jatuh membasahi permukaan helai daun pepaya muda.
Konon daun pepaya akan hilang pahitnya karena telah diluluhlantakkan oleh khasiat minyak sui wu'u. Daging yang telah masak itu diiris sebesar ruas ibu jari. Sui wu'u lalu dibungkus daun pepaya, dicelupkan dalam koro bara lai (lombok yang diberi irisan tomat).
Hem...lebil lezat lagi bila dimakan dengan jagung goreng. Menu ini terasa lengkap kalau diakhiri dengan secangkir tua bhara (tuak putih), yang disadap dari pohon nira di pagi hari.
Kebiasaan untuk meracik sui wu'u bukan sekadar untuk melestarikan budaya nenek moyang. Sejak dulu sui wu'u dijadikan sarana silaturahmi di ladang. Para tamu yang 'gotong royong' menyiangi rumput bisa disuguhi lauk ini. Bila daun pepaya tidak disajikan, sui wu'u nyaman kalau dilahap bersama daun kacang, pucuk labu yang 'dilemaskan' dalam air panas.
Sambil menikmati jagung goreng, sui wu'u dengan seteguk tuak, semua pekerjaaan tanam menanam terasa ringan dan mudah dirampungkan. Usai berladang, mereka duduk bersila (be'i benga) membentuk lingkaran di atas bheja (lantai panggung yang terbuat dari bambu cincang). Punggung disandarkan santai sambil menikmati sui wu'u.
Ada harapan lain yang tersimpan. Agar generasi tidak dicap sebagai generasi kurang gizi, seperti gizi buruk yang terjadi dewasa ini. Sui wu'u, lauk yang bergizi, nyaman, praktis disantap. Sayang, nasibnya menjadi lauk yang terlupakan. *
SECARA
geografis Desa Mangulewa menempati posisi tertinggi Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Alam Mangulewa yang dingin, dibalut kabut hampir separuh waktu, membuat warga cenderung 'malas' menyingkap selimut di pagi hari. Banyak aktivitas tertunda. Memindahkan kuda (dheso jara) ke rumput hijau tertunda. Pergi ke kebun (dua uma) pun tertunda.Tetapi kondisi alam kampungku yang dingin itu dikenal subur. Sayur wortel manis dan segar, pucuk labu, buncis kepompong yang gurih, sawi dan kol berjejer di rebis rumah. Sayur-sayuran itu sangat laris di pasar-pasar tradisional, menembus pasaran Ende, Maumere bahkan Kupang.
Kampungku tidak hanya dikenal sebagai 'gudang sayur'. Ada sumber protein hewani yang diolah oleh nenek moyang sejak tempo dulu. Cara meramu lauk tradisional itu mencegah lahirnya generasi kurang gizi. Sui wu'u menjadi lauk pauk yang digemari masyarakat setempat.
Proses pengawetan sui wu'u tidak menggunakan zat kimia. Daging segar yang tidak habis dikonsumsi dalam suatu pesta perkawinan, pesta adat reba atau acara adat lainnya, dipotong dadu dengan ketebalan 5 cm. Daging itu dibilas hingga bersih lalu ditiriskan hingga kering.
Para ibu rumah tangga selalu menyisihkan tepung jagung (jagung yang ditumbuk pakai lesung) untuk dijadikan bahan pengawet. Tepung jagung yang ditampi warnanya kuning, terasa halus saat dipilin dengan kedua jari tangan. Daging yang telah ditiriskan itu digulung rata dengan tepung jagung. Hampir sama seperti menggulung tepung panir pada menu udang, cumi-cumi ataupun ayam goreng di restoran-restoran kota.
Daging yang terbungkus tepung jagung lalu disimpan dalam tuku (tiga ruas bambu tua) yang kulitnya telah disapih. Ruas bambu dipilih harus sudah tua. Dindingnya dihaluskan dengan sayatan pisau, bagian ujungnya diberi penutup. Fungsinya untuk mengurangi keluar masuknya udara, sehingga daging tidak cepat rusak.
Biasanya tuku yang berisi daging disimpan di dinding sekitar tungku api. Bila dinding dapur tidak luas, biasanya digantung para-para tepat di atas tiga tungku dapur. Pelan tapi pasti, dinding tuku berisi sui wu'u diterpa asap yang mengepul dari tungku api.
Sambil menyelam minum air, itulah ungkapan yang tepat untuk melukiskan proses pengawetan sui wu'u di kampungku. Api yang dinyalakan para ibu rumah tangga tidak hanya untuk menanak nasi, tetapi turut menghangatkan sui wu'u. Daging akan awet sepanjang waktu dengan kehangatan api setiap hari.
Meski daging awet selama beberapa bulan, sui wu'u harus segera dikonsumsi agar aman dan nilai gizinya tetap memenuhi standar kesehatan.
Su'i wu'u biasanya diracik untuk persediaan lauk di masa penceklik atau sebagai bekal untuk menempuh perjalanan jauh. Warga setempat harus meninggalkan perkampungan menuju dataran Zeu (ladang padi dan jagung) yang terkenal subur di Kecamatan Golewa.
Saat ini sui wu'u mulai ditinggalkan. Bisa dihitung dengan jari, masih ada warga Mangulewa yang setia meramunya sebagai lauk keluarga. Kelupaan masyarakat akan sui wu'u dapat dimaklumi karena pesatnya teknologi seperti kulkas, yang mampu mengawetkan daging segar. Padahal, sebelum kulkas hadir dan merajai kota Bajawa, sui wu'u salah satu lauk yang dijamin nyaman untuk konsumsi.
Rasa sui wu'u sama seperti daging yang baru disembelih. Hanya, dalam segi aroma lebih tajam karena diselingi tepung jagung. Sui wu'u akan membangkitkan selera makan bila dibakar dalam bara panas.
Daging ini ditusuk dengan lidi atau kawat kecil, mirip membakar sate. Bara api yang panas membakar seluruh permukaan tepung jagung, aroma menyengat hidung lalu menebar ke atap dapur. Minyak daging yang menetes akan sedap disantap bila dibiarkan jatuh membasahi permukaan helai daun pepaya muda.
Konon daun pepaya akan hilang pahitnya karena telah diluluhlantakkan oleh khasiat minyak sui wu'u. Daging yang telah masak itu diiris sebesar ruas ibu jari. Sui wu'u lalu dibungkus daun pepaya, dicelupkan dalam koro bara lai (lombok yang diberi irisan tomat).
Hem...lebil lezat lagi bila dimakan dengan jagung goreng. Menu ini terasa lengkap kalau diakhiri dengan secangkir tua bhara (tuak putih), yang disadap dari pohon nira di pagi hari.
Kebiasaan untuk meracik sui wu'u bukan sekadar untuk melestarikan budaya nenek moyang. Sejak dulu sui wu'u dijadikan sarana silaturahmi di ladang. Para tamu yang 'gotong royong' menyiangi rumput bisa disuguhi lauk ini. Bila daun pepaya tidak disajikan, sui wu'u nyaman kalau dilahap bersama daun kacang, pucuk labu yang 'dilemaskan' dalam air panas.
Sambil menikmati jagung goreng, sui wu'u dengan seteguk tuak, semua pekerjaaan tanam menanam terasa ringan dan mudah dirampungkan. Usai berladang, mereka duduk bersila (be'i benga) membentuk lingkaran di atas bheja (lantai panggung yang terbuat dari bambu cincang). Punggung disandarkan santai sambil menikmati sui wu'u.
Ada harapan lain yang tersimpan. Agar generasi tidak dicap sebagai generasi kurang gizi, seperti gizi buruk yang terjadi dewasa ini. Sui wu'u, lauk yang bergizi, nyaman, praktis disantap. Sayang, nasibnya menjadi lauk yang terlupakan. *
Cumpe, Rumah di Atas Batu
Oleh Agus Sape
CUKUP lama saya diledek teman-teman sekolah gara-gara kampungku ini. Kampungku dianggap kolot dan tidak berkembang, karena hanya terdiri dari tujuh rumah dan dikelilingi batu-batu. Sakit rasanya diledek seperti itu.
Tetapi, ketika belajar di perguruan tinggi, saya berani membalikkan anggapan-anggapan jelek itu. Kepada teman- teman saya memproklamirkan bahwa sesungguhnya kampungku itu polis -- sama seperti polis Athena, Sparta, dan seterusnya di Yunani, dari mana lahir para filsuf, pemikir hebat. Socrates, Aristoteles, dan sebagainya.
Dengan gaya agak joak, sekali lagi saya memproklamirkan kepada teman-teman bahwa kampungku itu juga sudah melahirkan filsuf. Sekurang-kurangnya saya sendiri. Teman- temanku yang biasa meledek kampungku ini pada bengong.
Kampungku ini namanya Cumpe. Masuk dalam wilayah Desa Golo, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Kalau Anda berangkat dari Pagal, ibukota Kecamatan Cibal, ke timur menuju pusat paroki Rii di Beamese, maka kampung pertama yang Anda lewati adalah Cumpe. Jaraknya tidak sampai 5 km dari Pagal.
Kampungku itu memang kecil saja. Terletak di lereng. Sampai dengan tahun 1980-an, ketika saya masih sekolah di SDK Golo, kampung ini hanya terdiri dari tujuh buah rumah. Rumah-rumah itu dibangun mengelilingi halaman (natas) kampung.
Halaman kampung ini berfondasikan batu cadas. Supaya rata
dan bertambah luas, batu-batu disusun rapi (kota) di sisi utara dan selatan halaman. Di bagian barat (paang), dekat kaki lereng, terdapat batu-batu besar yang memagari sekaligus memisahkan halaman kampung dari jalan umum. Sedangkan di bagian timur (ngaung), terdapat sejumlah batu raksasa. Kampung ini memang dikelilingi batu-batu raksasa. Kalau dihitung dari dasar, ada yang tingginya mencapai puluhan meter. Gamang kalau belum biasa.
Batu-batu itu berfungsi sebagai benteng dan penopang bagi penghuni kampung. Salah satu batu dengan ketinggian belasan meter memiliki permukaan rata. Luasnya bisa mencapai tiga kali luas lapangan tenis. Tapi, bagian lainnya yang menghadap ke halaman (natas) agak landai. Di bagian ini orang bisa turun naik dengan leluasa.
Saya berani mengklaim batu ini sebagai salah satu keajaiban dunia. Bagaimana tidak, di salah satu sisi permukaan batu itu berdiri kokoh sebuah rumah papan (mbaru pesek). Ketika saya lahir pada akhir 1960-an, rumah itu sudah ada. Tiang-tiangnya yang terbuat dari kayu lokal diletakkan saja di atas permukaan batu. Belum pernah rumah itu goyah dihantam angin.
Bagian terbesar dari permukaan batu itu dijadikan halaman. Dari halaman itu warga bisa memandang jauh ke berbagai arah. Kalau cuaca cerah, permukaan laut di pantai utara (Reo) bisa dilihat dari batu ini. Deretan bukit yang membanjar dari utara ke selatan di wilayah Lambaleda dan Elar bisa dilihat dengan jelas.
Sempai dengan usia SD, saya dan teman-teman bermain dan berlari-lari di atas batu itu. Kami tidak takut jatuh.
Saya ingat dua anak pernah jatuh ke jurang batu itu. Tapi, aneh bin ajaib, tidak jatuh sampai di tanah. Yang satu tertahan pada tumbuhan yang menempel di jurang batu. Satu lagi tertahan pada seutas tali yang sangat rapuh. Keduanya berhasil diselamatkan tanpa cedera dan masih hidup sampai sekarang.
Pagi-pagi, sebelum cahaya matahari mencapai bumi, bolanya yang muncul dari balik bukit di wilayah Elar langsung bisa dilihat dari atas batu ini. Maka, saya pun sering menyebut kawasan kampung ini dan sekitarnya sebagai "negeri matahari".
Warga setempat biasa menjemur padi dan kopi langsung di atas permukaan batu itu. Kalau cuaca cerah, dalam tempo dua hari saja kopi sudah kering.
Kampung ini diselimuti pohon-pohon kopi, kemiri dan pohon buah-buahan lainnya. Di bagian yang lebih rendah dari lereng kampung ini terdapat hamparan sawah. Sawah-sawah itu mendapat air dari sejumlah kali yang menuruni lereng. Ada kali Wae Keseng, Wae Nampar dan Wae Munta. Sejumlah kali itu bermuara di Wae Kebong, kali paling besar. Di Wae Kebong warga membangun bendung dan membuka dam untuk mengalirkan air ke sawah.
Sebelum menanam padi pada musim hujan, petak-petak sawah ditanami dengan jagung. Padi ditanam setelah memanen jagung.
Saya tidak mengklaim tanah di kampungku ini subur. Yang pasti warga di kampung ini bisa memenuhi sendiri kebutuhan makan minumnya sepanjang tahun. Mereka punya padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-sayuran di kebun. Bahkan mereka bisa menjualnya pada hari pasar di Pagal. Mereka punya kopi, kemiri, jeruk, pisang dan sebagainya.
Tetapi pada tahun 2007, pada saat jatuh korban tanah longsor di Gapong dan Golo Gega, warga kampungku turut mengungsi ke Pagal. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai anak kampung, saya sedih mendengar warga kampungku lari terbirit-birit takut tertindis tanah longsor.
Memang kampungku sekarang sudah banyak berubah. Kampungku yang dulu gerbangnya dipagari batu-batu besar sudah disingkirkan semuanya untuk membuka jalan raya dari Pagal menuju Beamese. Jalan itu dirintis sejak akhir 1980-an dan sekarang sudah diaspal. Sejak jalan raya dibuka, perlahan- lahan warga keluar dari kampung itu, membangun rumah di pinggir-pinggir jalan raya.
Tetapi yang terancam ditindis longsor pada tahun 2007 itu justru rumah-rumah yang dibangun di tepi jalan raya. Bahkan pada awal tahun 2008 ini, sebuah rumah dan mesin giling tertindis batu yang runtuh dari tebing jalan.
Saya pun sadar, ternyata para pendiri kampungku tidak bodoh. Bahkan mereka boleh disebut pemikir. Ternyata kampungku kecil bukan karena tidak berkembang, tetapi memang bagian yang cocok untuk pemukiman hanya seluas itu. Dulu mereka tidak pernah membangun rumah langsung di kaki lereng atau di sepanjang jalan. Saya pastikan batu-batu yang pernah diletakkan di gerbang kampung justru untuk membendung batu yang mungkin terguling dari atas lereng bukit.
Untuk menampung perkembangan penduduk pada waktu itu, dibangunlah kampung Mawe disusul Wune, dua atau tiga kilometer dari kampung ini. Bukti bahwa warga di dua kampung itu berasal dari kampungku ini, dalam urusan adat dan pemerintahan mereka masih bersama-sama. Kebun mereka juga di lokasi yang sama. (email:asape_2005@yahoo.co.id)
CUKUP lama saya diledek teman-teman sekolah gara-gara kampungku ini. Kampungku dianggap kolot dan tidak berkembang, karena hanya terdiri dari tujuh rumah dan dikelilingi batu-batu. Sakit rasanya diledek seperti itu.
Tetapi, ketika belajar di perguruan tinggi, saya berani membalikkan anggapan-anggapan jelek itu. Kepada teman- teman saya memproklamirkan bahwa sesungguhnya kampungku itu polis -- sama seperti polis Athena, Sparta, dan seterusnya di Yunani, dari mana lahir para filsuf, pemikir hebat. Socrates, Aristoteles, dan sebagainya.
Dengan gaya agak joak, sekali lagi saya memproklamirkan kepada teman-teman bahwa kampungku itu juga sudah melahirkan filsuf. Sekurang-kurangnya saya sendiri. Teman- temanku yang biasa meledek kampungku ini pada bengong.
Kampungku ini namanya Cumpe. Masuk dalam wilayah Desa Golo, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai. Kalau Anda berangkat dari Pagal, ibukota Kecamatan Cibal, ke timur menuju pusat paroki Rii di Beamese, maka kampung pertama yang Anda lewati adalah Cumpe. Jaraknya tidak sampai 5 km dari Pagal.
Kampungku itu memang kecil saja. Terletak di lereng. Sampai dengan tahun 1980-an, ketika saya masih sekolah di SDK Golo, kampung ini hanya terdiri dari tujuh buah rumah. Rumah-rumah itu dibangun mengelilingi halaman (natas) kampung.
Halaman kampung ini berfondasikan batu cadas. Supaya rata
dan bertambah luas, batu-batu disusun rapi (kota) di sisi utara dan selatan halaman. Di bagian barat (paang), dekat kaki lereng, terdapat batu-batu besar yang memagari sekaligus memisahkan halaman kampung dari jalan umum. Sedangkan di bagian timur (ngaung), terdapat sejumlah batu raksasa. Kampung ini memang dikelilingi batu-batu raksasa. Kalau dihitung dari dasar, ada yang tingginya mencapai puluhan meter. Gamang kalau belum biasa.
Batu-batu itu berfungsi sebagai benteng dan penopang bagi penghuni kampung. Salah satu batu dengan ketinggian belasan meter memiliki permukaan rata. Luasnya bisa mencapai tiga kali luas lapangan tenis. Tapi, bagian lainnya yang menghadap ke halaman (natas) agak landai. Di bagian ini orang bisa turun naik dengan leluasa.
Saya berani mengklaim batu ini sebagai salah satu keajaiban dunia. Bagaimana tidak, di salah satu sisi permukaan batu itu berdiri kokoh sebuah rumah papan (mbaru pesek). Ketika saya lahir pada akhir 1960-an, rumah itu sudah ada. Tiang-tiangnya yang terbuat dari kayu lokal diletakkan saja di atas permukaan batu. Belum pernah rumah itu goyah dihantam angin.
Bagian terbesar dari permukaan batu itu dijadikan halaman. Dari halaman itu warga bisa memandang jauh ke berbagai arah. Kalau cuaca cerah, permukaan laut di pantai utara (Reo) bisa dilihat dari batu ini. Deretan bukit yang membanjar dari utara ke selatan di wilayah Lambaleda dan Elar bisa dilihat dengan jelas.
Sempai dengan usia SD, saya dan teman-teman bermain dan berlari-lari di atas batu itu. Kami tidak takut jatuh.
Saya ingat dua anak pernah jatuh ke jurang batu itu. Tapi, aneh bin ajaib, tidak jatuh sampai di tanah. Yang satu tertahan pada tumbuhan yang menempel di jurang batu. Satu lagi tertahan pada seutas tali yang sangat rapuh. Keduanya berhasil diselamatkan tanpa cedera dan masih hidup sampai sekarang.
Pagi-pagi, sebelum cahaya matahari mencapai bumi, bolanya yang muncul dari balik bukit di wilayah Elar langsung bisa dilihat dari atas batu ini. Maka, saya pun sering menyebut kawasan kampung ini dan sekitarnya sebagai "negeri matahari".
Warga setempat biasa menjemur padi dan kopi langsung di atas permukaan batu itu. Kalau cuaca cerah, dalam tempo dua hari saja kopi sudah kering.
Kampung ini diselimuti pohon-pohon kopi, kemiri dan pohon buah-buahan lainnya. Di bagian yang lebih rendah dari lereng kampung ini terdapat hamparan sawah. Sawah-sawah itu mendapat air dari sejumlah kali yang menuruni lereng. Ada kali Wae Keseng, Wae Nampar dan Wae Munta. Sejumlah kali itu bermuara di Wae Kebong, kali paling besar. Di Wae Kebong warga membangun bendung dan membuka dam untuk mengalirkan air ke sawah.
Sebelum menanam padi pada musim hujan, petak-petak sawah ditanami dengan jagung. Padi ditanam setelah memanen jagung.
Saya tidak mengklaim tanah di kampungku ini subur. Yang pasti warga di kampung ini bisa memenuhi sendiri kebutuhan makan minumnya sepanjang tahun. Mereka punya padi, jagung, ubi-ubian, dan sayur-sayuran di kebun. Bahkan mereka bisa menjualnya pada hari pasar di Pagal. Mereka punya kopi, kemiri, jeruk, pisang dan sebagainya.
Tetapi pada tahun 2007, pada saat jatuh korban tanah longsor di Gapong dan Golo Gega, warga kampungku turut mengungsi ke Pagal. Tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai anak kampung, saya sedih mendengar warga kampungku lari terbirit-birit takut tertindis tanah longsor.
Memang kampungku sekarang sudah banyak berubah. Kampungku yang dulu gerbangnya dipagari batu-batu besar sudah disingkirkan semuanya untuk membuka jalan raya dari Pagal menuju Beamese. Jalan itu dirintis sejak akhir 1980-an dan sekarang sudah diaspal. Sejak jalan raya dibuka, perlahan- lahan warga keluar dari kampung itu, membangun rumah di pinggir-pinggir jalan raya.
Tetapi yang terancam ditindis longsor pada tahun 2007 itu justru rumah-rumah yang dibangun di tepi jalan raya. Bahkan pada awal tahun 2008 ini, sebuah rumah dan mesin giling tertindis batu yang runtuh dari tebing jalan.
Saya pun sadar, ternyata para pendiri kampungku tidak bodoh. Bahkan mereka boleh disebut pemikir. Ternyata kampungku kecil bukan karena tidak berkembang, tetapi memang bagian yang cocok untuk pemukiman hanya seluas itu. Dulu mereka tidak pernah membangun rumah langsung di kaki lereng atau di sepanjang jalan. Saya pastikan batu-batu yang pernah diletakkan di gerbang kampung justru untuk membendung batu yang mungkin terguling dari atas lereng bukit.
Untuk menampung perkembangan penduduk pada waktu itu, dibangunlah kampung Mawe disusul Wune, dua atau tiga kilometer dari kampung ini. Bukti bahwa warga di dua kampung itu berasal dari kampungku ini, dalam urusan adat dan pemerintahan mereka masih bersama-sama. Kebun mereka juga di lokasi yang sama. (email:asape_2005@yahoo.co.id)
Menyikapi Tawuran Antar-Pelajar
Oleh Sipri Seko
PANITIA turnamen sepakbola antar-pelajar dan mahasiswa Faperta Undana Cup beberapa tahun lalu memberikan sanksi larangan berpartisipasi kepada tim SMKN 2 (STM) Kupang. Mereka dinilai telah mencemarkan visi dan misi Faperta Cup, yakni menjalin kebersamaan antar-sesama pelajar dan mahasiswa di Kota Kupang sambil menggapai prestasi.
Saat tim kalah, suporternya sering membuat ulah dengan menyerang suporter lain. Bahkan mereka tak segan-segan merusak kelengkapan pertandingan. Sanksi tersebut diberikan agar mereka benar-benar jera dan menghargai semangat sportivitas, mengakui adanya kekalahan dan kemenangan.
Dalam satu pekan terakhir ini tawuran antar-pelajar terjadi di Kota Kupang. Pada hari Jumat (7/11/2008), siswa SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 4 Kupang saling lempar batu. Dalam kejadian itu, kaca jendela enam ruangan kelas SMK Negeri 5 pecah berantakan.
Perseoalannya sepele, karena kesalahpahaman. Namun akibatnya, beberapa jendela SMK Negeri 4 juga pecah berantakan dan beberapa orang terluka akibat pecahan kaca. Selain itu, kepala sekolah dua sekolah tersebut dipanggil aparat kepolisian untuk diambil keterangannya.
Tak sampai sepekan, pada Rabu (12/11/2008), sejumlah siswa dari SMAN 1, SMKN 2, SMAN 2 dan SMA PGRI Kupang terlibat tawuran di halaman depan SMAN 1 Kupang. Tak diketahui pasti apa motifnya, namun para siswa bakupukul sehingga harus diamankan pihak kepolisian.
Apa pun motifnya, tawuran antar-pelajar merupakan fenomena sosial yang sangat menarik. Ada banyak pandangan untuk menilai sebab-sebab terjadinya tawuran antar-pelajar. Ada yang menyebutnya karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Akibatnya, mereka mudah tertekan. Ada juga yang bilang karena pelajar sekarang sudah sangat agresif, sementara even untuk mengeksploitasi dirinya sangat minim.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perkembangan zaman yang sangat kompleks dan beragam memberikan rangsangan yang sangat kuat terhadap para pelajar. Akibatnya, kalau mereka tidak mampu memanfaatkannya untuk memajukan dirinya, maka yang terjadi adalah melakukan hal-hal negatif seperti tawuran, mabuk-mabukan, bahkan bukan tidak mungkin akan menjurus kepada free sex dan penggunaan narkotik dan obat-obat terlarang lainnya.
Lalu, bagaimana mengatasinya? Faktor dasarnya adalah pola pembinaan. Pembinaan terhadap anak dari rumah hingga sekolah akan menjadi tolok ukur kepribadian seorang pelajar. Nilai-nilai budi pekerti dan kemampuan untuk menghadapi tekanan sosial harus ditanamkan sejak dini. Pasalnya, saat dia bergabung dalam sebuah lingkungan, biasanya dia akan menyerahkan dirinya secara total. Di sini kalau sudah terlambat diberikan, sementara para pelajar sendiri sudah masuk dalam lingkup yang beragam, mereka biasanya akan sukar untuk memilih. Dan, di saat bingung seperti ini godaan-godaan negatif akan mudah membuat mereka terjerumus.
Ada yang menarik dari peristiwa tawuran antar-pelajar yang terjadi di Kota Kupang. Para pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah-sekolah negeri milik pemerintah. Bahkan SMA Negeri 1 Kupang adalah salah satu sekolah contoh di NTT. Pertanyaannya adalah, apakah fasilitas komplit yang dimiliki sekolah tak mampu menjadikan para siswanya sedikit betah untuk belajar daripada keluyuran di jalanan?
Tampaknya, operasi penertiban yang dilakukan aparat polisi pamong praja harus terus dilakukan. Siswa-siswa yang berkeliaran di jalanan saat jam sekolah harus ditertibkan. Berikan sanksi dan teguran tegas kepada mereka. Arahkan mereka agar mencintai pelajaran di sekolah demi masa depannya.
Ketika para pelajar bakulempar atau bakupukul, kita tidak boleh menyebut itu sebagai sebuah kenakalan remaja. Sebagai seorang pelajar, biasanya mereka terlibat dalam sebuah even karena sedang berusaha untuk menemukan identitas dirinya. Kalau dia senang berkelahi, itu mungkin karena dia ingin disegani di antara rekan- rekannya.
Untuk itu, pembinaan sikap dan mental pelajar harus terus digalakkan. Keberhasilan dan prestasi sebuah sekolah tidak hanya terletak dari persentase lulusannya, tapi apakah lulusannya mampu beradaptasi dengan masyarakat atau tidak. Atau apakah para pelajar memiliki moral yang baik atau tidak. Pasalnya, kelulusan bisa diukur dengan persentasi, tapi moral yang baik hanya bisa dibuktikan dalam tingkah laku anak didiknya. Ketika para pelajar saling tawuran, itu berarti sekolah belum mampu menanamkan sikap moral yang baik kepada siswanya. *
PANITIA turnamen sepakbola antar-pelajar dan mahasiswa Faperta Undana Cup beberapa tahun lalu memberikan sanksi larangan berpartisipasi kepada tim SMKN 2 (STM) Kupang. Mereka dinilai telah mencemarkan visi dan misi Faperta Cup, yakni menjalin kebersamaan antar-sesama pelajar dan mahasiswa di Kota Kupang sambil menggapai prestasi.
Saat tim kalah, suporternya sering membuat ulah dengan menyerang suporter lain. Bahkan mereka tak segan-segan merusak kelengkapan pertandingan. Sanksi tersebut diberikan agar mereka benar-benar jera dan menghargai semangat sportivitas, mengakui adanya kekalahan dan kemenangan.
Dalam satu pekan terakhir ini tawuran antar-pelajar terjadi di Kota Kupang. Pada hari Jumat (7/11/2008), siswa SMA Negeri 5 dan SMK Negeri 4 Kupang saling lempar batu. Dalam kejadian itu, kaca jendela enam ruangan kelas SMK Negeri 5 pecah berantakan.
Perseoalannya sepele, karena kesalahpahaman. Namun akibatnya, beberapa jendela SMK Negeri 4 juga pecah berantakan dan beberapa orang terluka akibat pecahan kaca. Selain itu, kepala sekolah dua sekolah tersebut dipanggil aparat kepolisian untuk diambil keterangannya.
Tak sampai sepekan, pada Rabu (12/11/2008), sejumlah siswa dari SMAN 1, SMKN 2, SMAN 2 dan SMA PGRI Kupang terlibat tawuran di halaman depan SMAN 1 Kupang. Tak diketahui pasti apa motifnya, namun para siswa bakupukul sehingga harus diamankan pihak kepolisian.
Apa pun motifnya, tawuran antar-pelajar merupakan fenomena sosial yang sangat menarik. Ada banyak pandangan untuk menilai sebab-sebab terjadinya tawuran antar-pelajar. Ada yang menyebutnya karena tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan. Akibatnya, mereka mudah tertekan. Ada juga yang bilang karena pelajar sekarang sudah sangat agresif, sementara even untuk mengeksploitasi dirinya sangat minim.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perkembangan zaman yang sangat kompleks dan beragam memberikan rangsangan yang sangat kuat terhadap para pelajar. Akibatnya, kalau mereka tidak mampu memanfaatkannya untuk memajukan dirinya, maka yang terjadi adalah melakukan hal-hal negatif seperti tawuran, mabuk-mabukan, bahkan bukan tidak mungkin akan menjurus kepada free sex dan penggunaan narkotik dan obat-obat terlarang lainnya.
Lalu, bagaimana mengatasinya? Faktor dasarnya adalah pola pembinaan. Pembinaan terhadap anak dari rumah hingga sekolah akan menjadi tolok ukur kepribadian seorang pelajar. Nilai-nilai budi pekerti dan kemampuan untuk menghadapi tekanan sosial harus ditanamkan sejak dini. Pasalnya, saat dia bergabung dalam sebuah lingkungan, biasanya dia akan menyerahkan dirinya secara total. Di sini kalau sudah terlambat diberikan, sementara para pelajar sendiri sudah masuk dalam lingkup yang beragam, mereka biasanya akan sukar untuk memilih. Dan, di saat bingung seperti ini godaan-godaan negatif akan mudah membuat mereka terjerumus.
Ada yang menarik dari peristiwa tawuran antar-pelajar yang terjadi di Kota Kupang. Para pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah-sekolah negeri milik pemerintah. Bahkan SMA Negeri 1 Kupang adalah salah satu sekolah contoh di NTT. Pertanyaannya adalah, apakah fasilitas komplit yang dimiliki sekolah tak mampu menjadikan para siswanya sedikit betah untuk belajar daripada keluyuran di jalanan?
Tampaknya, operasi penertiban yang dilakukan aparat polisi pamong praja harus terus dilakukan. Siswa-siswa yang berkeliaran di jalanan saat jam sekolah harus ditertibkan. Berikan sanksi dan teguran tegas kepada mereka. Arahkan mereka agar mencintai pelajaran di sekolah demi masa depannya.
Ketika para pelajar bakulempar atau bakupukul, kita tidak boleh menyebut itu sebagai sebuah kenakalan remaja. Sebagai seorang pelajar, biasanya mereka terlibat dalam sebuah even karena sedang berusaha untuk menemukan identitas dirinya. Kalau dia senang berkelahi, itu mungkin karena dia ingin disegani di antara rekan- rekannya.
Untuk itu, pembinaan sikap dan mental pelajar harus terus digalakkan. Keberhasilan dan prestasi sebuah sekolah tidak hanya terletak dari persentase lulusannya, tapi apakah lulusannya mampu beradaptasi dengan masyarakat atau tidak. Atau apakah para pelajar memiliki moral yang baik atau tidak. Pasalnya, kelulusan bisa diukur dengan persentasi, tapi moral yang baik hanya bisa dibuktikan dalam tingkah laku anak didiknya. Ketika para pelajar saling tawuran, itu berarti sekolah belum mampu menanamkan sikap moral yang baik kepada siswanya. *
Sabtu, 08 November 2008
Catatan dari JPI dan BPAP 2008 (3)
Perhatikan Pemuda NTT
Oleh Sipri Seko
NIKSON Zakarias punya obsesi yang hingga kini belum tercapai. Kemahirannya
memainkan alat musik sasando dengan sempurna membuat dia sudah berulangkali diajak tampil dalam berbagai even, dalam negeri hingga di Australia dan Jepang.
Namun, Nikson masih tergantung pada orang lain. Padahal dia sudah ingin mandiri. Dia punya mimpi suatu saat harus menggelar konser tunggal. Dia ingin memiliki manajemen sendiri. Dia ingin menjadi pemusik tradisional yang profesional. Dia yakin bahwa kalau potensi yang dimilikinya diatur oleh manajemen yang baik pasti akan mendatangkan penghasilan yang besar.
Yang menjadi ganjalan dalam diri Nikson adalah karena dia belum mendapatkan orang yang tepat. Selama ini dia mengisi berbagai acara karena diajak orang. "Paling banyak adalah orang pemerintah yang ajak, sehingga paling-paling saya hanya dapat uang saku," ujar Nikson.
Karena kemampuannya itulah Nikson kemudian diajak Lembaga Pemuda Flobamora (LPF) sebagai panitia Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) tingkat Propinsi NTT. Nikson membayar kepercayaan itu dengan tuntas. Dia bukan hanya menghipnotis penonton, tapi juga membuat NTT bangga karena mampu bersaing di tingkat nasional
***
Ada banyak yel-yel yang sering digunakan oleh para orator, pemakalah atau pejabat yang memberikan sambutan untuk menyebut identitas pemuda. Pemuda sering mereka sebut sebagai pilar bangsa, tulang punggung negara, aset negara, masa depan bangsa dan lainnya. Mereka adalah elemen yang harus diberdayakan, karena tanpa mereka maka semua sendi pembangunan tidak akan berjalan normal.
Kehadiran Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) diikuti pembentukan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) di NTT merupakan angin segar pembinaan kepemudaan di NTT. Posisi pemuda yang selama ini baru sebatas dipuja-puji dalam yel-yel pidato, akan mendapat porsi yang berimbang dengan sektor pembangunan lainnya.
Perhatian pemerintah pusat terhadap pemuda ditunjukkan dengan kehadiran RUU Kepemudaan yang dalam bulan Desember ini akan ditetapkan menjadi undang-undang. Anak-anak muda yang menjadi pencetus semangat kebangkitan nasional dengan melahirkan Sumpah Pemuda harus mendapat pengayoman.
Apakah pemuda NTT sudah dianggap sebagai elemen pembangunan? Agak susah untuk menjawabnya. Okelah kalau selama ini sudah ada pendampingan terhadap para pemuda, namun harus diakui kalau itu belum merata. Masih banyak kaum muda yang belum tersentuh, padahal mereka memiliki potensi alamiah yang kalau dieksploitasi dengan total, akan menjadi modal pembangunan yang tak terhingga nilainya.
Sebut saja keinginan Nikson untuk menjadikan potensi dirinya menjadi lahan usaha yang mandiri. Atau ketika anak-anak NTT tampil memukau di Jambore Pemuda Indonesia. Ajang kreativitas para pemuda harus terus digelar. Kalau di Indonesia ada JPI dan BPAP tak ada salahnya kita di NTT menggelar Jambore Pemuda NTT atau Bakti Pemuda Antar Kabupaten.
Kegiatan-kegiatan seperti ini akan lebih bermanfaat ketimbang kita mengumpulkan para pemuda lalu berpidato atau menasehati mereka agar jangan memakai narkoba, tawuran dan lainnya. Mereka yang terbaik dipilih mewakili NTT ke JPI dan BPAP tingkat nasional.
Usai mengikuti JPI dan BPAP, bulan Desember nanti wakil-wakil NTT akan kembali ke daerahnya masing-masing. Bagi yang kuliah akan kembali ke kampus. Tapi bagi mereka yang tidak, akan kembali duduk termenung di rumah. Mereka baru akan bisa ber-ja'i, dolo-dolo atau gawi kalau ada pesta. Kegirangan mereka saat memukau pemuda se-Indonesia di Cibubur hanya akan menjadi cerita kenangan yang membanggakan.
Haruskah kita biarkan mereka kembali berjalan sendirian? Jangan! Dispora sebagai instansi pemerintah penanggung jawab pembinaan kepemudaan di NTT harus diberi keluasan kreasi untuk mengeksploitasi potensi pemuda di NTT. Sebagai pemimpin yang memiliki pengalaman dalam organisasi kepemudaan, pasangan Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si, seharusnya sudah tahu apa yang mesti dilakukan.
Jangan pernah sepelekan pemuda hanya karena mereka tidak pernah diberi kesempatan mengekspresikan diri. Potensi dan daya saing pemuda NTT dalam keragaman budaya dan agamanya harus dimaksimalkan, kalau kita tidak ingin NTT terus tertinggal. (habis)
Oleh Sipri Seko
NIKSON Zakarias punya obsesi yang hingga kini belum tercapai. Kemahirannya
memainkan alat musik sasando dengan sempurna membuat dia sudah berulangkali diajak tampil dalam berbagai even, dalam negeri hingga di Australia dan Jepang.Namun, Nikson masih tergantung pada orang lain. Padahal dia sudah ingin mandiri. Dia punya mimpi suatu saat harus menggelar konser tunggal. Dia ingin memiliki manajemen sendiri. Dia ingin menjadi pemusik tradisional yang profesional. Dia yakin bahwa kalau potensi yang dimilikinya diatur oleh manajemen yang baik pasti akan mendatangkan penghasilan yang besar.
Yang menjadi ganjalan dalam diri Nikson adalah karena dia belum mendapatkan orang yang tepat. Selama ini dia mengisi berbagai acara karena diajak orang. "Paling banyak adalah orang pemerintah yang ajak, sehingga paling-paling saya hanya dapat uang saku," ujar Nikson.
Karena kemampuannya itulah Nikson kemudian diajak Lembaga Pemuda Flobamora (LPF) sebagai panitia Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) tingkat Propinsi NTT. Nikson membayar kepercayaan itu dengan tuntas. Dia bukan hanya menghipnotis penonton, tapi juga membuat NTT bangga karena mampu bersaing di tingkat nasional
***
Ada banyak yel-yel yang sering digunakan oleh para orator, pemakalah atau pejabat yang memberikan sambutan untuk menyebut identitas pemuda. Pemuda sering mereka sebut sebagai pilar bangsa, tulang punggung negara, aset negara, masa depan bangsa dan lainnya. Mereka adalah elemen yang harus diberdayakan, karena tanpa mereka maka semua sendi pembangunan tidak akan berjalan normal.
Kehadiran Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) diikuti pembentukan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) di NTT merupakan angin segar pembinaan kepemudaan di NTT. Posisi pemuda yang selama ini baru sebatas dipuja-puji dalam yel-yel pidato, akan mendapat porsi yang berimbang dengan sektor pembangunan lainnya.
Perhatian pemerintah pusat terhadap pemuda ditunjukkan dengan kehadiran RUU Kepemudaan yang dalam bulan Desember ini akan ditetapkan menjadi undang-undang. Anak-anak muda yang menjadi pencetus semangat kebangkitan nasional dengan melahirkan Sumpah Pemuda harus mendapat pengayoman.
Apakah pemuda NTT sudah dianggap sebagai elemen pembangunan? Agak susah untuk menjawabnya. Okelah kalau selama ini sudah ada pendampingan terhadap para pemuda, namun harus diakui kalau itu belum merata. Masih banyak kaum muda yang belum tersentuh, padahal mereka memiliki potensi alamiah yang kalau dieksploitasi dengan total, akan menjadi modal pembangunan yang tak terhingga nilainya.
Sebut saja keinginan Nikson untuk menjadikan potensi dirinya menjadi lahan usaha yang mandiri. Atau ketika anak-anak NTT tampil memukau di Jambore Pemuda Indonesia. Ajang kreativitas para pemuda harus terus digelar. Kalau di Indonesia ada JPI dan BPAP tak ada salahnya kita di NTT menggelar Jambore Pemuda NTT atau Bakti Pemuda Antar Kabupaten.
Kegiatan-kegiatan seperti ini akan lebih bermanfaat ketimbang kita mengumpulkan para pemuda lalu berpidato atau menasehati mereka agar jangan memakai narkoba, tawuran dan lainnya. Mereka yang terbaik dipilih mewakili NTT ke JPI dan BPAP tingkat nasional.
Usai mengikuti JPI dan BPAP, bulan Desember nanti wakil-wakil NTT akan kembali ke daerahnya masing-masing. Bagi yang kuliah akan kembali ke kampus. Tapi bagi mereka yang tidak, akan kembali duduk termenung di rumah. Mereka baru akan bisa ber-ja'i, dolo-dolo atau gawi kalau ada pesta. Kegirangan mereka saat memukau pemuda se-Indonesia di Cibubur hanya akan menjadi cerita kenangan yang membanggakan.
Haruskah kita biarkan mereka kembali berjalan sendirian? Jangan! Dispora sebagai instansi pemerintah penanggung jawab pembinaan kepemudaan di NTT harus diberi keluasan kreasi untuk mengeksploitasi potensi pemuda di NTT. Sebagai pemimpin yang memiliki pengalaman dalam organisasi kepemudaan, pasangan Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si, seharusnya sudah tahu apa yang mesti dilakukan.
Jangan pernah sepelekan pemuda hanya karena mereka tidak pernah diberi kesempatan mengekspresikan diri. Potensi dan daya saing pemuda NTT dalam keragaman budaya dan agamanya harus dimaksimalkan, kalau kita tidak ingin NTT terus tertinggal. (habis)
Catatan dari JPI dan BPAP 2008 (2)
NTT Indonesia Mini
Oleh Sipri Seko
ADA rasa risih ketika melihat penampilan anak-anak NTT saat pembukaan Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) di lapangan sepakbola Taman Wiladatika, Cibubur-Jakarta, 25 Oktober 2008 lalu. Saat wakil dari daerah lain tampil dengan pakaian seragam kedaerahannya, anak-anak NTT justru memakai baju motif dengan aneka corak yang berbeda-beda.
Tidak adakah dana sehingga penampilan mereka harus demikian? Tida bolehkah mereka memakai pakaian seragam sama seperti daerah lain? Ataukah karena persiapan yang sangat singkat sehingga panitia tidak punya cukup waktu untuk mengadakan pakaian seragam? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut baru terungkap usai acara pembukaan.
Penyelenggaraan JPI dan BPAP diawali ide untuk menyatukan kebhinekaan pemuda-pemuda Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari kebhinekaan yang ada, para pemuda disatukan untuk menjadi motor utama penggerak pembangunan mulai dari tingkat bawah. Tak heran kalau Lembaga Pemuda Flobamora (LPF) sebagai panitia yang menyiapkan peserta JPI dan BPAP ingin menampilkan kebhinekaan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di NTT ada etnis Flores, Sumba, Timor dan Alor (Flobamora) yang sudah sangat terkenal. Kebhinekaan tersebut harus dimunculkan. Ketika tema JPI dan BPAP yang diangkat, maka keragaman budaya juga yang harus ditampilkan. Ada motif Sumba, Timor, Flores, Rote, Sabu, Alor dan lain-lain yang nampak sangat mencolok di antara 33 propinsi peserta lainnya.
Kebhinekaan NTT yang sangat nampak dari NTT adalah agamanya. Dikenal sebagai daerah mayoritas kristen, justru ada anggota kontingen NTT yang memakai jilbab terselip di antara topi ti'i langga. Tak heran kalau kemudian muncul pertanyaan dari peserta daerah lain, "Betulkah di NTT banyak orang asli yang beragama Islam?"
Di bawah koordinasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, LPF tak salah saat merekrut 24 wakil NTT. Keragaman budaya NTT makin nampak ketika anak-anak NTT bernyanyi dan menari di stand pamerannya. Mulai dari lagu Flobamora, Dapa Usir, Kuan SoE, Kuan Amarasi, Owa Kewa, Ovalangga, Bo Lele Bo dan lain-lain, dinyanyikan dengan lancar. Sementara tarian ja'i, gawi, dolo-dolo dan sebagainya ditampilkan tanpa cela.
Tak heran kalau kemudian stand NTT menjadi paling ramai dikunjungi. Mereka tidak hanya datang untuk melihat barang pajangan dalam stand, tapi mereka datang belajar menari dan menyanyi tarian dan lagu daerah NTT. Bagaimana tidak, diiringi alunan musik sasando yang dimainkan Zakarias, anak-anak NTT bisa bernyanyi sambil menari ja'i, dolo-dolo, gawi dan lain-lainnya.
Saat NTT tampil dalam malam pagelaran seni dan budaya, ratusan penonton di bawah panggung pun ikut bergoyang ja'i mengikuti irama anak-anak NTT.
"Keanekaragaman ini yang membuat NTT tahun lalu keluar sebagai juara pertama. Saat tampil mereka bisa membawakan lima lagu dan tarian daerah hanya dalam waktu sepuluh menit, hal yang tidak bisa dilakukan daerah lain. Mereka harus serba bisa. Pemuda Belu harus tahu adat Lamaholot, begitu pula sebaliknya untuk semua daerah," jelas Kepala Seksi Kepemudaan Dispora NTT, Rony Fernandez, S.E.
Mungkin yang paling tenar di antara semua anggota kontingen NTT selama JPI adalah Nikson Zakarias. Pemuda kelahiran Rote ini menjadi idola peserta lainnya. Kemahirannya memainkan alat musik sasando membuat para pengunjung selalu ingin pose bersamanya.
Pesona Nikson Zakarias tidak hanya sampai di situ. Saat tampil dalam acara peragaan pembuatan produk daerah, dia berhasil menghipnotis penonton. Waktu yang diberikan panitia kepada Zakarias adalah 60 menit untuk memperagakan cara pembuatan alat musik sasando. Zakarias ternyata hanya butuh tak lebih dari 30 menit untuk menyelesaikan tugasnya. Dibantu enam orang rekannya yang menyiapkan daun lontar, obeng, tang, paku, lem, senar, pewarna dan lain-lain, Zakarias melaksanakan tugasnya dengan sangat terampil.
Belum selesai! Usai membuat sasando, Zakarias langsung memainkan lagu Ovalangga. Penonton yang terhipnotis ikut bergoyang. "Apakah alat musik sasando hanya bisa mengiringi lagu-lagu daerah," tanya seorang penonton. Zakarias tak menjawab, tapi langsung memainkan sebuah lagu berirama country, diikuti sebuah lagu milik John Bon Jovi. Tepuk tangan dan aplaus penonton mengiringi alunan musik sasando yang dimainkan Zakarias.
***
Potensi brilian! Kata-kata itu sangat cocok dialamatkan kepada pemuda-pemuda NTT. Mereka membalikkan stigma nasional yang hanya melihat keterbelakangan NTT dari sisi materi. Mereka menunjukkan kualitas dan daya saing di era global, saat mana budaya tradisional sudah mulai pudar.
"Pemuda NTT sangat potensial. Ada banyak pemuda NTT yang juara dan ahli di semua bidang. Setiap tahun anggota kontingen yang kita bawa selalu menampilkan kualitas yang berbeda. Mereka hanya kurang diekspose sehingga banyak yang belum mengenalnya. Kami sebagai pengelola dan fasilitator akan berusaha untuk membuat mereka tampil dengan nuansa baru setiap tahun. Saat tampil, oleh daerah lain, NTT disamakan dengan Indonesia mini. Banyak budaya, banyak suku, ras, agama dan sebagainya, namun sangat kompak," kata Kadispora NTT, Drs. Muhammad Wongso.
Lalu, apakah mereka hanya cukup sampai di JPI dan BPAP? Apakah mereka harus kembali ke jalanan dan nongkrong di terminal, halte atau deker karena tak tahu apa yang harus dikerjakannya setelah pulang ke NTT?
"Budaya yang mereka pelajari di daerah lain harus membuat mereka bisa mandiri. Pemuda harus mampu berusaha sendiri tanpa atau dengan dukungan pihak lain. Itu tujuan yang harus kita capai," ujar Muhammad Wongso. (bersambung)
Oleh Sipri Seko
ADA rasa risih ketika melihat penampilan anak-anak NTT saat pembukaan Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) di lapangan sepakbola Taman Wiladatika, Cibubur-Jakarta, 25 Oktober 2008 lalu. Saat wakil dari daerah lain tampil dengan pakaian seragam kedaerahannya, anak-anak NTT justru memakai baju motif dengan aneka corak yang berbeda-beda.
Tidak adakah dana sehingga penampilan mereka harus demikian? Tida bolehkah mereka memakai pakaian seragam sama seperti daerah lain? Ataukah karena persiapan yang sangat singkat sehingga panitia tidak punya cukup waktu untuk mengadakan pakaian seragam? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut baru terungkap usai acara pembukaan.
Penyelenggaraan JPI dan BPAP diawali ide untuk menyatukan kebhinekaan pemuda-pemuda Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari kebhinekaan yang ada, para pemuda disatukan untuk menjadi motor utama penggerak pembangunan mulai dari tingkat bawah. Tak heran kalau Lembaga Pemuda Flobamora (LPF) sebagai panitia yang menyiapkan peserta JPI dan BPAP ingin menampilkan kebhinekaan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di NTT ada etnis Flores, Sumba, Timor dan Alor (Flobamora) yang sudah sangat terkenal. Kebhinekaan tersebut harus dimunculkan. Ketika tema JPI dan BPAP yang diangkat, maka keragaman budaya juga yang harus ditampilkan. Ada motif Sumba, Timor, Flores, Rote, Sabu, Alor dan lain-lain yang nampak sangat mencolok di antara 33 propinsi peserta lainnya.
Kebhinekaan NTT yang sangat nampak dari NTT adalah agamanya. Dikenal sebagai daerah mayoritas kristen, justru ada anggota kontingen NTT yang memakai jilbab terselip di antara topi ti'i langga. Tak heran kalau kemudian muncul pertanyaan dari peserta daerah lain, "Betulkah di NTT banyak orang asli yang beragama Islam?"
Di bawah koordinasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, LPF tak salah saat merekrut 24 wakil NTT. Keragaman budaya NTT makin nampak ketika anak-anak NTT bernyanyi dan menari di stand pamerannya. Mulai dari lagu Flobamora, Dapa Usir, Kuan SoE, Kuan Amarasi, Owa Kewa, Ovalangga, Bo Lele Bo dan lain-lain, dinyanyikan dengan lancar. Sementara tarian ja'i, gawi, dolo-dolo dan sebagainya ditampilkan tanpa cela.
Tak heran kalau kemudian stand NTT menjadi paling ramai dikunjungi. Mereka tidak hanya datang untuk melihat barang pajangan dalam stand, tapi mereka datang belajar menari dan menyanyi tarian dan lagu daerah NTT. Bagaimana tidak, diiringi alunan musik sasando yang dimainkan Zakarias, anak-anak NTT bisa bernyanyi sambil menari ja'i, dolo-dolo, gawi dan lain-lainnya.
Saat NTT tampil dalam malam pagelaran seni dan budaya, ratusan penonton di bawah panggung pun ikut bergoyang ja'i mengikuti irama anak-anak NTT.
"Keanekaragaman ini yang membuat NTT tahun lalu keluar sebagai juara pertama. Saat tampil mereka bisa membawakan lima lagu dan tarian daerah hanya dalam waktu sepuluh menit, hal yang tidak bisa dilakukan daerah lain. Mereka harus serba bisa. Pemuda Belu harus tahu adat Lamaholot, begitu pula sebaliknya untuk semua daerah," jelas Kepala Seksi Kepemudaan Dispora NTT, Rony Fernandez, S.E.
Mungkin yang paling tenar di antara semua anggota kontingen NTT selama JPI adalah Nikson Zakarias. Pemuda kelahiran Rote ini menjadi idola peserta lainnya. Kemahirannya memainkan alat musik sasando membuat para pengunjung selalu ingin pose bersamanya.
Pesona Nikson Zakarias tidak hanya sampai di situ. Saat tampil dalam acara peragaan pembuatan produk daerah, dia berhasil menghipnotis penonton. Waktu yang diberikan panitia kepada Zakarias adalah 60 menit untuk memperagakan cara pembuatan alat musik sasando. Zakarias ternyata hanya butuh tak lebih dari 30 menit untuk menyelesaikan tugasnya. Dibantu enam orang rekannya yang menyiapkan daun lontar, obeng, tang, paku, lem, senar, pewarna dan lain-lain, Zakarias melaksanakan tugasnya dengan sangat terampil.
Belum selesai! Usai membuat sasando, Zakarias langsung memainkan lagu Ovalangga. Penonton yang terhipnotis ikut bergoyang. "Apakah alat musik sasando hanya bisa mengiringi lagu-lagu daerah," tanya seorang penonton. Zakarias tak menjawab, tapi langsung memainkan sebuah lagu berirama country, diikuti sebuah lagu milik John Bon Jovi. Tepuk tangan dan aplaus penonton mengiringi alunan musik sasando yang dimainkan Zakarias.
***
Potensi brilian! Kata-kata itu sangat cocok dialamatkan kepada pemuda-pemuda NTT. Mereka membalikkan stigma nasional yang hanya melihat keterbelakangan NTT dari sisi materi. Mereka menunjukkan kualitas dan daya saing di era global, saat mana budaya tradisional sudah mulai pudar.
"Pemuda NTT sangat potensial. Ada banyak pemuda NTT yang juara dan ahli di semua bidang. Setiap tahun anggota kontingen yang kita bawa selalu menampilkan kualitas yang berbeda. Mereka hanya kurang diekspose sehingga banyak yang belum mengenalnya. Kami sebagai pengelola dan fasilitator akan berusaha untuk membuat mereka tampil dengan nuansa baru setiap tahun. Saat tampil, oleh daerah lain, NTT disamakan dengan Indonesia mini. Banyak budaya, banyak suku, ras, agama dan sebagainya, namun sangat kompak," kata Kadispora NTT, Drs. Muhammad Wongso.
Lalu, apakah mereka hanya cukup sampai di JPI dan BPAP? Apakah mereka harus kembali ke jalanan dan nongkrong di terminal, halte atau deker karena tak tahu apa yang harus dikerjakannya setelah pulang ke NTT?
"Budaya yang mereka pelajari di daerah lain harus membuat mereka bisa mandiri. Pemuda harus mampu berusaha sendiri tanpa atau dengan dukungan pihak lain. Itu tujuan yang harus kita capai," ujar Muhammad Wongso. (bersambung)
Catatan dari JPI dan BPAP Cibubur 2008 (1)
Bermodalkan Status Juara Bertahan
Oleh Sipri Seko
KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhammad S Wongso menginginkan Gubernur atau Wakil Gubernur NTT berdialog dengan wakil NTT yang akan dibawa ke Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) 2008 di Cibubur, Jakarta, 24-29 Oktober 2008. Dia sangat yakin, motivasi dan kreativitas para pemuda akan meningkat kalau bisa berdialog atau bertatap muka dengan pemimpinnya.
Muhammad Wongso tahu bahwa dengan spirit, motivasi dan semangat kecintaan terhadap daerahnya, generasi muda akan memiliki pijakan yang kuat dalam menjalankan perannya di tengah tarikan percaturan global. Dia ingin agar para pemuda dari berbagai etnis dan latar belakang itu pulang dengan membawa kebanggaan, pernah masuk di ruang kerja pemimpinnya.
Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, yang adalah aktivis organisasi kepemudaan, rupanya sangat paham dengan motivasi ini. Dia yakin, pemuda NTT akan menjadi pilar utama pembangunan kalau dimaksimalkan potensinya. Karena itu saat berdialog dengan utusan JPI dan BPAP di ruang kerjanya, Esthon meminta mereka agar tidak hanya bisa menuntut, tetapi juga harus sanggup menampilkan potensi dan daya saing.
"Pemuda NTT harus tahu daerahnya. Dia harus tahu sekarang ini di NTT sudah ada berapa kabupaten. Dia juga harus tahu siapa pengarang lagu Flobamora itu. Jangan sampai nanti mengaku sebagai wakil NTT, namun nilai-nilai dasar budaya NTT saja tidak diketahuinya. Pemuda NTT harus mampu menunjukkan potensi dan daya saing, baru menuntut haknya," kata Esthon.
****
Mempersiapkan para pemuda untuk mengikuti JPI dan BPAP memang bukan hal yang mudah. Mereka yang dikirim harus mengenal budayanya. Dia harus tahu tarian daerahnya, lagu daerahnya, adat istiadat dan potensi daerahnya. Tak heran kalau Dispora NTT menggandeng Lembaga Pemuda Flobamora (LPF) sebagai panitia. LPF bertugas melatih 24 pemuda NTT yang ikut JPI dan BPAP agar tahu tarian dan lagu daerah, juga dilatih membuat produk khas daerah.
Persiapan peserta JPI dan BPAP dengan waktu hanya sepuluh hari memang tidak maksimal. Apalagi menurut pengakuan penanggung jawab kegiatan, Rony Fernandes, S.E dan Wakil Ketua LPF, Yuliana Loak, ST, ada daerah yang apatis menanggapi surat permintaan agar mengirim wakilnya. "Daerah menanggung biaya pengiriman ke Kupang, tapi nantinya akan diganti panitia sebab semua biaya peserta sudah disiapkan pemerintah. Namun hal itu tidak ditanggapi, sehingga ada beberapa kabupaten yang tidak mengirim utusannya," kata Rony Fernandes yang adalah Kepala Seksi Kepemudaan Dispora NTT itu.
Setelah berkoordinasi dengan beberapa organisasi kepemudaan, Dispora dan LPF mendapatkan 24 orang pemuda bersama delapan orang pendamping yang akan menjadi utusan NTT. Waktu untuk persiapan menjadi berkurang, namun itu bukan masalah. Dengan bermodalkan status sebagai juara bertahan yang direbutnya tahun 2007 lalu, para pemuda dilatih berbagai tarian dan lagu daerah. Mereka juga diberikan pemahaman tentang bagaimana bergaul dan berbaur dengan masyarakat di daerah dengan budaya dan agama yang berbeda.
Apa saja yang dilakukan di JPI dan BPAP? Saat JPI yang berlangsung di Taman Wiladatika, Cibubur-Jakarta itu, para pemuda mengikuti pameran produk daerah. Mereka juga harus tampil di atas panggung membawakan tarian dan lagu daerah. Mereka juga harus memperagakan bagaimana membuat produk khas daerahnya. Dalam JPI ini, para pemuda tidur di tenda-tenda perkemahan.
Untuk BPAP, utusan NTT dibagi dalam tiga kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang. Mereka akan dikirim ke Propinsi Jawa Timur, Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat. NTT sendiri harus menerima wakil dari Propinsi Jawa Timur, Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat yang kegiatannya dipusatkan di Atambua, Belu. Usai pelaksanaan JPI, pada tanggal 29 Oktober pemnuda utusan NTT langsung di berangkatkan ke daerah tujuannya.
Selama 45 hari di daerah tujuannya, para pemuda tersebut harus mengenal semua budaya di sana. Mereka harus berbaur dan bergaul dengan masyarakat di daerah tujuannya. "Indonesia terkenal dengan kebhinekaananya. Kebhinekaan tersebut harus diketahui oleh semua komponen masyarakatnya. Dan, karena pemuda adalah generasi penerus pembangunan bangsa, maka kepada mereka sejak dini sudah harus diberi tahu tentang budaya daerah lain agar nantinya mereka mencintai Indonesia secara utuh," ujar staf Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora), Drs. Thobias Thubulau. (bersambung)
Oleh Sipri Seko
KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhammad S Wongso menginginkan Gubernur atau Wakil Gubernur NTT berdialog dengan wakil NTT yang akan dibawa ke Jambore Pemuda Indonesia (JPI) dan Bakti Pemuda Antar Propinsi (BPAP) 2008 di Cibubur, Jakarta, 24-29 Oktober 2008. Dia sangat yakin, motivasi dan kreativitas para pemuda akan meningkat kalau bisa berdialog atau bertatap muka dengan pemimpinnya.
Muhammad Wongso tahu bahwa dengan spirit, motivasi dan semangat kecintaan terhadap daerahnya, generasi muda akan memiliki pijakan yang kuat dalam menjalankan perannya di tengah tarikan percaturan global. Dia ingin agar para pemuda dari berbagai etnis dan latar belakang itu pulang dengan membawa kebanggaan, pernah masuk di ruang kerja pemimpinnya.
Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, yang adalah aktivis organisasi kepemudaan, rupanya sangat paham dengan motivasi ini. Dia yakin, pemuda NTT akan menjadi pilar utama pembangunan kalau dimaksimalkan potensinya. Karena itu saat berdialog dengan utusan JPI dan BPAP di ruang kerjanya, Esthon meminta mereka agar tidak hanya bisa menuntut, tetapi juga harus sanggup menampilkan potensi dan daya saing.
"Pemuda NTT harus tahu daerahnya. Dia harus tahu sekarang ini di NTT sudah ada berapa kabupaten. Dia juga harus tahu siapa pengarang lagu Flobamora itu. Jangan sampai nanti mengaku sebagai wakil NTT, namun nilai-nilai dasar budaya NTT saja tidak diketahuinya. Pemuda NTT harus mampu menunjukkan potensi dan daya saing, baru menuntut haknya," kata Esthon.
****
Mempersiapkan para pemuda untuk mengikuti JPI dan BPAP memang bukan hal yang mudah. Mereka yang dikirim harus mengenal budayanya. Dia harus tahu tarian daerahnya, lagu daerahnya, adat istiadat dan potensi daerahnya. Tak heran kalau Dispora NTT menggandeng Lembaga Pemuda Flobamora (LPF) sebagai panitia. LPF bertugas melatih 24 pemuda NTT yang ikut JPI dan BPAP agar tahu tarian dan lagu daerah, juga dilatih membuat produk khas daerah.
Persiapan peserta JPI dan BPAP dengan waktu hanya sepuluh hari memang tidak maksimal. Apalagi menurut pengakuan penanggung jawab kegiatan, Rony Fernandes, S.E dan Wakil Ketua LPF, Yuliana Loak, ST, ada daerah yang apatis menanggapi surat permintaan agar mengirim wakilnya. "Daerah menanggung biaya pengiriman ke Kupang, tapi nantinya akan diganti panitia sebab semua biaya peserta sudah disiapkan pemerintah. Namun hal itu tidak ditanggapi, sehingga ada beberapa kabupaten yang tidak mengirim utusannya," kata Rony Fernandes yang adalah Kepala Seksi Kepemudaan Dispora NTT itu.
Setelah berkoordinasi dengan beberapa organisasi kepemudaan, Dispora dan LPF mendapatkan 24 orang pemuda bersama delapan orang pendamping yang akan menjadi utusan NTT. Waktu untuk persiapan menjadi berkurang, namun itu bukan masalah. Dengan bermodalkan status sebagai juara bertahan yang direbutnya tahun 2007 lalu, para pemuda dilatih berbagai tarian dan lagu daerah. Mereka juga diberikan pemahaman tentang bagaimana bergaul dan berbaur dengan masyarakat di daerah dengan budaya dan agama yang berbeda.
Apa saja yang dilakukan di JPI dan BPAP? Saat JPI yang berlangsung di Taman Wiladatika, Cibubur-Jakarta itu, para pemuda mengikuti pameran produk daerah. Mereka juga harus tampil di atas panggung membawakan tarian dan lagu daerah. Mereka juga harus memperagakan bagaimana membuat produk khas daerahnya. Dalam JPI ini, para pemuda tidur di tenda-tenda perkemahan.
Untuk BPAP, utusan NTT dibagi dalam tiga kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang. Mereka akan dikirim ke Propinsi Jawa Timur, Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat. NTT sendiri harus menerima wakil dari Propinsi Jawa Timur, Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat yang kegiatannya dipusatkan di Atambua, Belu. Usai pelaksanaan JPI, pada tanggal 29 Oktober pemnuda utusan NTT langsung di berangkatkan ke daerah tujuannya.
Selama 45 hari di daerah tujuannya, para pemuda tersebut harus mengenal semua budaya di sana. Mereka harus berbaur dan bergaul dengan masyarakat di daerah tujuannya. "Indonesia terkenal dengan kebhinekaananya. Kebhinekaan tersebut harus diketahui oleh semua komponen masyarakatnya. Dan, karena pemuda adalah generasi penerus pembangunan bangsa, maka kepada mereka sejak dini sudah harus diberi tahu tentang budaya daerah lain agar nantinya mereka mencintai Indonesia secara utuh," ujar staf Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora), Drs. Thobias Thubulau. (bersambung)
Kamis, 06 November 2008
Sehari di Beranda Oepoli (3)
Posisi di Pohon Asam
Oleh Benny Dasman
DI OELBINOSE. Angin senja menusuk kulit. Dingin. Tarsi, pengendali roda empat, menepikan kendaraan. Dia memberi pengumuman singkat. "Sebentar lagi kita memasuki kawasan di luar jangkauan. Ini tempat sinyal terakhir. Lebih baik te kita telepon memang. Waktunya 15 menit."
Tarsi langsung beraksi. Sambil menikmati horison sore dan 'moleknya' Gunung Mutis, kegiatan pencet-memencet hand phone (HP) melemaskan jemari yang kaku. Ber-SMS ria, telepon. Asyik sendiri-sendiri.
Romo Bento tak ketinggalan. Berhalo-halo dengan kolega di Kefamenanu dan Kupang. Mengabarkan rute perjalanan sudah sampai di Oelbinose, Miomaffo Barat. Juga mengecek kendaraan yang membawa genzet dan bahan bangunan lainnya apakah sudah keluar dari Kefamenanu atau belum. Rencananya berjalan berbarengan. Kelangkaan BBM (solar) di Kefamenanu saat itu membuat skenario perjalanan gagal.
Silvester, lain lagi. Ogah ber-SMS, telepon. Si kepala plontos itu memanfaatkan waktu bercuap-cuap melalui handy talky (HT). Bermain kata-kata dengan teman lama di pos-pos perbatasan. Bahasa Tetum, Porto, campur aduk. Romo Bento juga ikut nimbrung. Ternyata yang bercuap-cuap di baliknya teman lama di Naibonat. Bertemu lagi, meski lewat udara. Betapa senangnya.
Dead line waktu yang diberikan Tarsi sudah habis. "Ayo kita cabut lagi," Tarsi mengingatkan. HP diamankan. Tak diutak-atik lagi sampai di Oepoli. Selepas Oelbinose, Tarsi berujar lagi, "Kita sudah memasuki kawasan di luar jangkauan. Aman, orang tidak mengganggu kita lagi. Kita nikmati perjalanan ini."
Selepas Aplal, saya mencoba mengaktifkan HP. Ternyata benar, tak ada sinyal. Komunikasi putus. Tarsi benar, kawasan itu benar-benar di luar jangkauan. Diksi 'di luar jangkauan' pun menjadi bumbu perjalanan. "Coba di Kefa tadi kita beli memang dengan sinyal bae, pasti tidak di luar jangkauan. Sekarang ini di luar jangkauan semua. Bagaimana kalau ha'rim saya telepon," Silvester membuka guyonan. "Kalau pun ada sinyal, jawab saja di luar jangkauan. Sebab ini kawasan di luar jangkauan," Tarsi menjawab sahabat karibnya itu.
Saya menyela. Di Manggarai lain lagi. Kalau orang membeli HP, baba pemilik toko menanyakan kepada si pembeli. "Di tempatmu ada sinyal atau tidak. Jangan sampai di luar jangkauan." Dasar pembeli, sudah kebelet memiliki HP. "Kalau baba ada jual sinyal, bungkus sekalian saja dengan HP-nya," jawab si pembeli. Ha..ha..ha. Semuanya terbahak.
***
DI OEPOLI, situasi tetap prihatin, di luar jangkauan. HP dibuka, yang nongol SMS. Tak bisa dibalas. "Hari sudah malam. Besok saja baru kita balas SMS-nya. Pergi di pohon asam sana, pohon sinyal. Lima kilometer arah barat Oepoli ini," ujar Romo Bento, Senin (13/10/2008) malam.
'Penderitaan' Oepoli semakin lengkap. Semuanya terisolasi. Darat, laut dan udara. Malam gelap gulita. Tak ada listrik. Andalkan lampu teplok. Bangun pagi hidung berasap, hitam.
"Kami di sini benar-benar menderita. Kalau mau telepon, SMS, berkeringat dulu. Jalan jauh pergi ke tempat sinyal di pohon asam. Kalau saya telepon Pak Benny di Kupang, misalnya, posisi saya saat itu di pohon asam. Kalau kita sudah di pohon asam, ya bisa habiskan waktu sampai satu jam. Balas SMS, telepon dan sebagainya," kenang Romo Bento.
Romo Bento mengakui, sekitar 3.000 pelanggan potensial di Oepoli jika telkomsel melebarkan jangkauannya. "Ya, cukup migrasikan satu Base Transceiver Station (BTS) di sini, kerinduan warga Oepoli bisa terjawab. Ini peluang bagi telkomsel atau operator lainnya. Tapi, kendalanya itu tadi, sarana transportasi sangat buruk. Orang bangun BTS di sini makan ongkos. Pikir-pikir juga," katanya.
Tak ingin berlarut dalam litani keprihatinan Romo Bento, Tarsi, Silvester, Frangky pergi 'menemui' sinyal di pohon asam. Melepas kangen dan rindu di sana. Hari itu, Selasa (14/10/2008), saya dan Romo Bento beragenda lain. Bertamu di rumah Frans Bria di Pantai Oepoli. Mendengar curhat para prajurit penjaga Pulau Batek. Mereka tak mengeluh soal komunikasi. "Di Batek sinyal bagus. Tak ada masalah. Persoalannya kalau kami kehabisan BBM (solar). Genzet tak bisa dihidupkan. HP tak bisa di-cash. Itu saja," ujar Joanico dos Santos, penembak jitu.
Hari Rabu (15/10/1008) pagi, ditemani Tarsi, saya berkesempatan 'bertamu' di pohon asam, pohon sinyal. Dua kilometer selepas Oepoli, ada kawasan ditumbuhi pohon asam. Berbuah lebat. "Sinyalnya bukan di pohon asam yang ini, pak. Ke barat lagi, tiga kilometer," ujar Tarsi menjawab pertanyaanku.
Tarsi menepikan kendaraan. Sudah sampai. "Ini dia pak pohon asamnya," katanya. Pemandangan dari tempat ini sangat tampan. Pulau Batek bersanding jelas. Gulungan ombak Pantai Oepoli terlihat garang. "Jalan ini terus ke Naikliu. Berabu tebal. Sampai di sana abunya tebal begini," Tarsi menjelaskan.
Duduk di bawah pohon asam, pohon sinyal, jari-jemari beraksi. Saya dan Tarsi asyik sendiri-sendiri. Ber-SMS, telepon. Tak ada yang rahasia. Saya berhalo-halo ke Kupang. Biasa, mengabarkan kepulangan kepada maitua. Tapi tak masuk, di luar jangkauan. Ganti SMS, bisa. Tarsi pun tak kalah. Telepon ke Kefamenanu dan sebagainya. Lebih lama. Sepertinya kami sedang mengikuti perlombaan telepon. Semua bersuara keras.
Tak langsung pulang, saya dan Tarsi mengamat-amati situasi di sekitar pohon sinyal itu. Pohon asam itu rindang, berbuat lebat. Asyik untuk berteduh. Di bawah pohon itu ada bekas bakaran api. "Biasa, untuk menghangatkan badan kalau orang datang ke sini malam-malam," ujar Tarsi yang mengaku sudah beberapa kali mendatangi pohon sinyal itu.
Di sekitar pohon sinyal itu ada kebun. "Dulu, kebun ini ada pagarnya. Tapi sekarang tak ada. Kayu-kayunya sudah dicopot untuk bakar di bawah pohon ini. Dilakukan oleh orang yang datang bertelepon malam-malam," tutur Tarsi.
Setiap hari, aku Tarsi, orang mendatangi pohon sinyal itu. Banyak orang datang berkelompok. Tentara-tentara penjaga perbatasan, kata Tarsi, juga datang ke pohon sinyal ini untuk berkomunikasi. "Lebih banyak datang siang atau sore hari. Kalau malam hari, orang datang berkelompok. Sendirian takut," cerita Tarsi.
"Mengapa? Ada penunggunya? Jin?" tanyaku. Tarsi menyebut alasannya. Pernah, katanya, seorang pemuda datang sendirian ke pohon sinyal ini. Malam hari. "Ketika sang pemuda itu mulai menelepon dan menyapa halo, dari atas pohon terdengar suara jawaban, halo.... Suara perempuan. Tapi orangnya tak ada. Sampai beberapa kali perempuan itu menjawab," kisah Tarsi.
Sang pemuda itu pun tak melanjutkan temu kangennya. Dengan ha'rim. Dia memilih langkah seribu meninggalkan lokasi. "Pemuda itu lari terbirit-birit, ketakutan. Siapa pun kalau mengalami keanehan seperti itu, pasti takut. Bisa-bisa mati konyol karena menabrak pohon-pohon yang ada di sekitar sini. Lari tanpa arah takut jin," ujar Tarsi sambil tertawa.
Berita ini cepat tersiar di seantero Oepoli. Dan, orangpun ogah menemui pohon sinyal itu sendirian pada malam hari. "Percaya atau tidak, ceritanya begitu. Tapi, saya yakin pohon asam ini ada penunggunya. Jin perempuan," tukas Tarsi. Bulu kudukku berdiri.
Pohon sinyal, episod terakhir petualangan saya di Oepoli. Keterpencilan, keterisolasian, membuat semuanya bermakna. "Halo..., posisi saya di pohon asam sekarang," Romo Bento membuka percakapan ketika menelepon saya dari Oepoli, Senin (3/11/2008) lalu. Memoriku tentang Oepoli disegarkan kembali. Saya pun menjawab Romo Bento, "Ke Oepoli aku kan kembali." (habis)
Oleh Benny Dasman DI OELBINOSE. Angin senja menusuk kulit. Dingin. Tarsi, pengendali roda empat, menepikan kendaraan. Dia memberi pengumuman singkat. "Sebentar lagi kita memasuki kawasan di luar jangkauan. Ini tempat sinyal terakhir. Lebih baik te kita telepon memang. Waktunya 15 menit."
Tarsi langsung beraksi. Sambil menikmati horison sore dan 'moleknya' Gunung Mutis, kegiatan pencet-memencet hand phone (HP) melemaskan jemari yang kaku. Ber-SMS ria, telepon. Asyik sendiri-sendiri.
Romo Bento tak ketinggalan. Berhalo-halo dengan kolega di Kefamenanu dan Kupang. Mengabarkan rute perjalanan sudah sampai di Oelbinose, Miomaffo Barat. Juga mengecek kendaraan yang membawa genzet dan bahan bangunan lainnya apakah sudah keluar dari Kefamenanu atau belum. Rencananya berjalan berbarengan. Kelangkaan BBM (solar) di Kefamenanu saat itu membuat skenario perjalanan gagal.
Silvester, lain lagi. Ogah ber-SMS, telepon. Si kepala plontos itu memanfaatkan waktu bercuap-cuap melalui handy talky (HT). Bermain kata-kata dengan teman lama di pos-pos perbatasan. Bahasa Tetum, Porto, campur aduk. Romo Bento juga ikut nimbrung. Ternyata yang bercuap-cuap di baliknya teman lama di Naibonat. Bertemu lagi, meski lewat udara. Betapa senangnya.
Dead line waktu yang diberikan Tarsi sudah habis. "Ayo kita cabut lagi," Tarsi mengingatkan. HP diamankan. Tak diutak-atik lagi sampai di Oepoli. Selepas Oelbinose, Tarsi berujar lagi, "Kita sudah memasuki kawasan di luar jangkauan. Aman, orang tidak mengganggu kita lagi. Kita nikmati perjalanan ini."
Selepas Aplal, saya mencoba mengaktifkan HP. Ternyata benar, tak ada sinyal. Komunikasi putus. Tarsi benar, kawasan itu benar-benar di luar jangkauan. Diksi 'di luar jangkauan' pun menjadi bumbu perjalanan. "Coba di Kefa tadi kita beli memang dengan sinyal bae, pasti tidak di luar jangkauan. Sekarang ini di luar jangkauan semua. Bagaimana kalau ha'rim saya telepon," Silvester membuka guyonan. "Kalau pun ada sinyal, jawab saja di luar jangkauan. Sebab ini kawasan di luar jangkauan," Tarsi menjawab sahabat karibnya itu.
Saya menyela. Di Manggarai lain lagi. Kalau orang membeli HP, baba pemilik toko menanyakan kepada si pembeli. "Di tempatmu ada sinyal atau tidak. Jangan sampai di luar jangkauan." Dasar pembeli, sudah kebelet memiliki HP. "Kalau baba ada jual sinyal, bungkus sekalian saja dengan HP-nya," jawab si pembeli. Ha..ha..ha. Semuanya terbahak.
***
DI OEPOLI, situasi tetap prihatin, di luar jangkauan. HP dibuka, yang nongol SMS. Tak bisa dibalas. "Hari sudah malam. Besok saja baru kita balas SMS-nya. Pergi di pohon asam sana, pohon sinyal. Lima kilometer arah barat Oepoli ini," ujar Romo Bento, Senin (13/10/2008) malam.
'Penderitaan' Oepoli semakin lengkap. Semuanya terisolasi. Darat, laut dan udara. Malam gelap gulita. Tak ada listrik. Andalkan lampu teplok. Bangun pagi hidung berasap, hitam.
"Kami di sini benar-benar menderita. Kalau mau telepon, SMS, berkeringat dulu. Jalan jauh pergi ke tempat sinyal di pohon asam. Kalau saya telepon Pak Benny di Kupang, misalnya, posisi saya saat itu di pohon asam. Kalau kita sudah di pohon asam, ya bisa habiskan waktu sampai satu jam. Balas SMS, telepon dan sebagainya," kenang Romo Bento.
Romo Bento mengakui, sekitar 3.000 pelanggan potensial di Oepoli jika telkomsel melebarkan jangkauannya. "Ya, cukup migrasikan satu Base Transceiver Station (BTS) di sini, kerinduan warga Oepoli bisa terjawab. Ini peluang bagi telkomsel atau operator lainnya. Tapi, kendalanya itu tadi, sarana transportasi sangat buruk. Orang bangun BTS di sini makan ongkos. Pikir-pikir juga," katanya.
Tak ingin berlarut dalam litani keprihatinan Romo Bento, Tarsi, Silvester, Frangky pergi 'menemui' sinyal di pohon asam. Melepas kangen dan rindu di sana. Hari itu, Selasa (14/10/2008), saya dan Romo Bento beragenda lain. Bertamu di rumah Frans Bria di Pantai Oepoli. Mendengar curhat para prajurit penjaga Pulau Batek. Mereka tak mengeluh soal komunikasi. "Di Batek sinyal bagus. Tak ada masalah. Persoalannya kalau kami kehabisan BBM (solar). Genzet tak bisa dihidupkan. HP tak bisa di-cash. Itu saja," ujar Joanico dos Santos, penembak jitu.
Hari Rabu (15/10/1008) pagi, ditemani Tarsi, saya berkesempatan 'bertamu' di pohon asam, pohon sinyal. Dua kilometer selepas Oepoli, ada kawasan ditumbuhi pohon asam. Berbuah lebat. "Sinyalnya bukan di pohon asam yang ini, pak. Ke barat lagi, tiga kilometer," ujar Tarsi menjawab pertanyaanku.
Tarsi menepikan kendaraan. Sudah sampai. "Ini dia pak pohon asamnya," katanya. Pemandangan dari tempat ini sangat tampan. Pulau Batek bersanding jelas. Gulungan ombak Pantai Oepoli terlihat garang. "Jalan ini terus ke Naikliu. Berabu tebal. Sampai di sana abunya tebal begini," Tarsi menjelaskan.
Duduk di bawah pohon asam, pohon sinyal, jari-jemari beraksi. Saya dan Tarsi asyik sendiri-sendiri. Ber-SMS, telepon. Tak ada yang rahasia. Saya berhalo-halo ke Kupang. Biasa, mengabarkan kepulangan kepada maitua. Tapi tak masuk, di luar jangkauan. Ganti SMS, bisa. Tarsi pun tak kalah. Telepon ke Kefamenanu dan sebagainya. Lebih lama. Sepertinya kami sedang mengikuti perlombaan telepon. Semua bersuara keras.
Tak langsung pulang, saya dan Tarsi mengamat-amati situasi di sekitar pohon sinyal itu. Pohon asam itu rindang, berbuat lebat. Asyik untuk berteduh. Di bawah pohon itu ada bekas bakaran api. "Biasa, untuk menghangatkan badan kalau orang datang ke sini malam-malam," ujar Tarsi yang mengaku sudah beberapa kali mendatangi pohon sinyal itu.
Di sekitar pohon sinyal itu ada kebun. "Dulu, kebun ini ada pagarnya. Tapi sekarang tak ada. Kayu-kayunya sudah dicopot untuk bakar di bawah pohon ini. Dilakukan oleh orang yang datang bertelepon malam-malam," tutur Tarsi.
Setiap hari, aku Tarsi, orang mendatangi pohon sinyal itu. Banyak orang datang berkelompok. Tentara-tentara penjaga perbatasan, kata Tarsi, juga datang ke pohon sinyal ini untuk berkomunikasi. "Lebih banyak datang siang atau sore hari. Kalau malam hari, orang datang berkelompok. Sendirian takut," cerita Tarsi.
"Mengapa? Ada penunggunya? Jin?" tanyaku. Tarsi menyebut alasannya. Pernah, katanya, seorang pemuda datang sendirian ke pohon sinyal ini. Malam hari. "Ketika sang pemuda itu mulai menelepon dan menyapa halo, dari atas pohon terdengar suara jawaban, halo.... Suara perempuan. Tapi orangnya tak ada. Sampai beberapa kali perempuan itu menjawab," kisah Tarsi.
Sang pemuda itu pun tak melanjutkan temu kangennya. Dengan ha'rim. Dia memilih langkah seribu meninggalkan lokasi. "Pemuda itu lari terbirit-birit, ketakutan. Siapa pun kalau mengalami keanehan seperti itu, pasti takut. Bisa-bisa mati konyol karena menabrak pohon-pohon yang ada di sekitar sini. Lari tanpa arah takut jin," ujar Tarsi sambil tertawa.
Berita ini cepat tersiar di seantero Oepoli. Dan, orangpun ogah menemui pohon sinyal itu sendirian pada malam hari. "Percaya atau tidak, ceritanya begitu. Tapi, saya yakin pohon asam ini ada penunggunya. Jin perempuan," tukas Tarsi. Bulu kudukku berdiri.
Pohon sinyal, episod terakhir petualangan saya di Oepoli. Keterpencilan, keterisolasian, membuat semuanya bermakna. "Halo..., posisi saya di pohon asam sekarang," Romo Bento membuka percakapan ketika menelepon saya dari Oepoli, Senin (3/11/2008) lalu. Memoriku tentang Oepoli disegarkan kembali. Saya pun menjawab Romo Bento, "Ke Oepoli aku kan kembali." (habis)
Sehari di Beranda Oepoli (2)
Seharusnya 'Oelupa' atau 'Oepilu'
Oleh Benny Dasman
SAYA 'menyapa' bumi Oepoli dari bukit Tataum-Netemnanu. Hamparan sawah tak bertepi membentang luas di hadapanku. Subur. Pun laut biru berarus garang. Sebuah ikon untuk melegendakan Oepoli sebagai 'tanah terjanji.'
'Dikawal' Romo Bento dan Servas, warga Tataum, saya berusaha melengkapi koleksi tentang Oepoli. Di utara memperlihatkan rumah-rumah warga Netemnanu beratapkan daun rumbia. Berdinding bebak. Sejuk di musim panas, prihatin di musim hujan. Bocor!
Panorama yang memperlihatkan buah keterpencilan dan keterisolasian. Membiarkan warga melakoni hidup dengan karakter keras. Tak cukup sebagai magnet untuk menarik perhatian sang 'bos' di singgasana. Padahal butuh sedikit sentuhan saja, eksotisme Oepoli, yang kini berhabitat alamiah, akan berubah menjadi 'surga.' Banyak orang merebutnya.
"Sentuhan dari siapa. Pejabat saja jarang ke sini. Sehabis panen lahan sawah ini 'libur' karena ketiadaan air. Kalaupun ada yang mengelolanya untuk menanam sayur, dia pasti kewalahan untuk menjaga ternak liar. Hanya sekali panen saja. Tapi hasilnya bisa memenuhi kebutuhan dua tahun ke depan," ujar Servas, Selasa (14/10/2008) pagi.
Servas menggelengkan kepala. Tanda keprihatinan. Menatap jauh memandang tanah kelahiran yang membentang luas di hadapannya. "Kami begini saja, bertani sekenanya. Tak ada penyuluhan-penyuluhan. Berdasarkan apa yang kami tahu. Kalau sudah panen, ya hasilnya dijual, murah. Yang lainnya disimpan," tuturnya.
Pemandangan di Netemnanu Selatan tak jauh berbeda. Tak ada profil rumah mentereng. Citra keterbatasan dan keterpencilan semakin tampak. Tapi mereka bukan orang 'terpencil.' Mereka tampil agresif menangkap 'mangsa' seperti rusa, babi hutan, 'mencabik-cabik' dagingnya, menampilkan profil manusia yang berpotensi. Daya jelajah memburu rusa menampilkan daya pukau yang luar biasa.
Sayang, keterbatasan sarana dan prasarana serta keuangan memaksa lahan subur Oepoli masih "menggigil kedinginan." Menanti sentuhan teknologi. Padahal, dengan sedikit saja polesan 'gincu' teknologi, potensi-potensi yang masih tidur itu sejatinya sangat layak dijual. Realitasnya memang seperti itu. Tapi fakta berbicara lain. Komoditi dijual murah, menyerah di tangan renternir. Itu potensi di darat.
***
Pesona laut, lebih wah lagi. Eksotik, Bentangan laut dihiasi batu-batu warna dan pasir putih yang bersih. Aset wisata itu makin disempurnakan keberadaan hijauan bakau. Sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung. "Di sini bisa dijumpai ratusan spesies burung di mana beberapa jenis di antaranya bersifat endemik. Belum lagi di Pulau Batek," ujar Frans Bria, warga Oepoli.
Dari deretan panjang potensi wisata itu ternyata semuanya masih 'menggigil.' Tak banyak yang terekspos ke permukaan. Nyaris tak terdengar. Tak banyak dijamah. Melengkapi penderitaan Oepoli sebagai kawasan perbatasan terpencil.
Pemkab Kupang dan masyarakat setempat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal. Gemerincing dolar sangat jauh dari kesan riuh. Bahkan, bisa disebut sunyi senyap. Ini tantangan besar bagi Pemkab Kupang untuk mendandan Oepoli sebagai kawasan perbatasan pesona wisata.
Bahwa masih ada 'surga' pariwisata lain selain Taman Nasional Komodo. Dan, surga itu adalah Oepoli. Ini bukan mimpi.
"Pantai Oepoli ini sangat berpotensi untuk 'disulap' menjadi obyek wisata. Apalagi dekat Pulau Batek. Kalau orang ke Oepoli, pasti ke Batek juga. Bisa dikemas sepaket," ujar Yan Benu, warga Kefamenanu, pengawas proyek di Batek.
Yan Benu tidak bombastis. Sebuah pernyataan murni lahir dari rasa kekaguman menyata. Ternyata Pantai Oepoli bisa menaut hati para wisatawan yang maniak berpetualang. "Karena keterbatasan struktur-infrastruktur, khususnya akses jalan menuju Oepoli, potensi wisata yang ada masih tertidur pulas. Jangankan dikunjungi wisatawan, nama obyek itu saja belum sampai ke telinga mereka," kata Yan Benu dengan nada getir.
Ya, Oepoli, menyembulkan daratan yang subur. Pantai yang eksotik. Sayang, perlu perjuangan berat untuk menikmatinya menjadi berharga. Jalan akses menuju Oepoli sangat jauh dari kesan layak karena kurang dijelajahi kendaraan umum. "Kami memang sangat miskin infrastruktur. Ini kendala terberat kami dalam membangun Oepoli sehingga tetap terisolir," ujar Romo Bento jujur.
***
Selain Oepoli, di wilayah Kabupaten Kupang masih terdapat bentangan dataran rendah yang cukup luas dan subur. Sebut saja dataran rendah Tarus, Oesao, Nunkurus, Pariti, dan Sulamu. Juga masih tertidur pulas. Tapi, dari semuanya, Oepoli menyimpan keprihatinan yang mendalam. Padahal wilayah di Kecamatan Amfoang Timur itu berbatasan langsung dengan Distrik Ambenu, Negara Timor Leste, menebarkan aroma budaya yang unik. Juga lahan wisata.
Berdasarkan penuturan sejarah dari tokoh adat masyarakat Netemnanu Utara, penduduk Distrik Ambenu (Negara Timor Leste) merupakan bagian atau masih memiliki hubungan kekeluargaan. Kondisi ini dapat dibuktikan melalui upacara adat-istiadat yang sama dan juga pada acara-acara perkawinan.
Setiap tahun, sebelum terjadi gejolak kemerdekaan tahun 1999, prosesi adat pasca panen masih tetap dilaksanakan dalam bentuk upacara-upacara adat untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Untuk mempererat hubungan kekeluargaan tersebut, masyarakat Amfoang menyerahkan sebagian lahan di Naktuka kepada masyarakat Ambenu. Pasca kemerdekaan Timor Leste, kegiatan tersebut terhenti disebabkan oleh penjagaan ketat kedua negara. Prosesi budaya ini belum menyembul ke permukaan. Masih menggigil.
Penyebabnya hanya satu. Akses ke wilayah seluas 273,03 kilometer persegi itu cukup sulit, masih terisolasi. Posisinya jauh dari jantung Kota Kupang. Pun kondisi geografisnya tidak menguntungkan. Kondisi ini menyebabkan transportasi melalui darat sangat sulit karena harus melewati banyak sungai yang belum dilengkapi fasilitas jembatan.
Buntutnya, Oepoli tetap nomor buntut. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah. Sampai kapan? "Kalau melihat kondisi yang ada, Oepoli seharusnya bernama Oe..lupa atau Oe..pilu..!" kata Servas berguyon. Pilu dan terlupakan. Benar juga. (bersambung)
Oleh Benny Dasman
SAYA 'menyapa' bumi Oepoli dari bukit Tataum-Netemnanu. Hamparan sawah tak bertepi membentang luas di hadapanku. Subur. Pun laut biru berarus garang. Sebuah ikon untuk melegendakan Oepoli sebagai 'tanah terjanji.'
'Dikawal' Romo Bento dan Servas, warga Tataum, saya berusaha melengkapi koleksi tentang Oepoli. Di utara memperlihatkan rumah-rumah warga Netemnanu beratapkan daun rumbia. Berdinding bebak. Sejuk di musim panas, prihatin di musim hujan. Bocor!
Panorama yang memperlihatkan buah keterpencilan dan keterisolasian. Membiarkan warga melakoni hidup dengan karakter keras. Tak cukup sebagai magnet untuk menarik perhatian sang 'bos' di singgasana. Padahal butuh sedikit sentuhan saja, eksotisme Oepoli, yang kini berhabitat alamiah, akan berubah menjadi 'surga.' Banyak orang merebutnya.
"Sentuhan dari siapa. Pejabat saja jarang ke sini. Sehabis panen lahan sawah ini 'libur' karena ketiadaan air. Kalaupun ada yang mengelolanya untuk menanam sayur, dia pasti kewalahan untuk menjaga ternak liar. Hanya sekali panen saja. Tapi hasilnya bisa memenuhi kebutuhan dua tahun ke depan," ujar Servas, Selasa (14/10/2008) pagi.
Servas menggelengkan kepala. Tanda keprihatinan. Menatap jauh memandang tanah kelahiran yang membentang luas di hadapannya. "Kami begini saja, bertani sekenanya. Tak ada penyuluhan-penyuluhan. Berdasarkan apa yang kami tahu. Kalau sudah panen, ya hasilnya dijual, murah. Yang lainnya disimpan," tuturnya.
Pemandangan di Netemnanu Selatan tak jauh berbeda. Tak ada profil rumah mentereng. Citra keterbatasan dan keterpencilan semakin tampak. Tapi mereka bukan orang 'terpencil.' Mereka tampil agresif menangkap 'mangsa' seperti rusa, babi hutan, 'mencabik-cabik' dagingnya, menampilkan profil manusia yang berpotensi. Daya jelajah memburu rusa menampilkan daya pukau yang luar biasa.
Sayang, keterbatasan sarana dan prasarana serta keuangan memaksa lahan subur Oepoli masih "menggigil kedinginan." Menanti sentuhan teknologi. Padahal, dengan sedikit saja polesan 'gincu' teknologi, potensi-potensi yang masih tidur itu sejatinya sangat layak dijual. Realitasnya memang seperti itu. Tapi fakta berbicara lain. Komoditi dijual murah, menyerah di tangan renternir. Itu potensi di darat.
***
Pesona laut, lebih wah lagi. Eksotik, Bentangan laut dihiasi batu-batu warna dan pasir putih yang bersih. Aset wisata itu makin disempurnakan keberadaan hijauan bakau. Sangat tepat dikunjungi oleh para wisatawan pecinta burung. "Di sini bisa dijumpai ratusan spesies burung di mana beberapa jenis di antaranya bersifat endemik. Belum lagi di Pulau Batek," ujar Frans Bria, warga Oepoli.
Dari deretan panjang potensi wisata itu ternyata semuanya masih 'menggigil.' Tak banyak yang terekspos ke permukaan. Nyaris tak terdengar. Tak banyak dijamah. Melengkapi penderitaan Oepoli sebagai kawasan perbatasan terpencil.
Pemkab Kupang dan masyarakat setempat belum mampu menangguk berkah pariwisata itu secara optimal. Gemerincing dolar sangat jauh dari kesan riuh. Bahkan, bisa disebut sunyi senyap. Ini tantangan besar bagi Pemkab Kupang untuk mendandan Oepoli sebagai kawasan perbatasan pesona wisata.
Bahwa masih ada 'surga' pariwisata lain selain Taman Nasional Komodo. Dan, surga itu adalah Oepoli. Ini bukan mimpi.
"Pantai Oepoli ini sangat berpotensi untuk 'disulap' menjadi obyek wisata. Apalagi dekat Pulau Batek. Kalau orang ke Oepoli, pasti ke Batek juga. Bisa dikemas sepaket," ujar Yan Benu, warga Kefamenanu, pengawas proyek di Batek.
Yan Benu tidak bombastis. Sebuah pernyataan murni lahir dari rasa kekaguman menyata. Ternyata Pantai Oepoli bisa menaut hati para wisatawan yang maniak berpetualang. "Karena keterbatasan struktur-infrastruktur, khususnya akses jalan menuju Oepoli, potensi wisata yang ada masih tertidur pulas. Jangankan dikunjungi wisatawan, nama obyek itu saja belum sampai ke telinga mereka," kata Yan Benu dengan nada getir.
Ya, Oepoli, menyembulkan daratan yang subur. Pantai yang eksotik. Sayang, perlu perjuangan berat untuk menikmatinya menjadi berharga. Jalan akses menuju Oepoli sangat jauh dari kesan layak karena kurang dijelajahi kendaraan umum. "Kami memang sangat miskin infrastruktur. Ini kendala terberat kami dalam membangun Oepoli sehingga tetap terisolir," ujar Romo Bento jujur.
***
Selain Oepoli, di wilayah Kabupaten Kupang masih terdapat bentangan dataran rendah yang cukup luas dan subur. Sebut saja dataran rendah Tarus, Oesao, Nunkurus, Pariti, dan Sulamu. Juga masih tertidur pulas. Tapi, dari semuanya, Oepoli menyimpan keprihatinan yang mendalam. Padahal wilayah di Kecamatan Amfoang Timur itu berbatasan langsung dengan Distrik Ambenu, Negara Timor Leste, menebarkan aroma budaya yang unik. Juga lahan wisata.
Berdasarkan penuturan sejarah dari tokoh adat masyarakat Netemnanu Utara, penduduk Distrik Ambenu (Negara Timor Leste) merupakan bagian atau masih memiliki hubungan kekeluargaan. Kondisi ini dapat dibuktikan melalui upacara adat-istiadat yang sama dan juga pada acara-acara perkawinan.
Setiap tahun, sebelum terjadi gejolak kemerdekaan tahun 1999, prosesi adat pasca panen masih tetap dilaksanakan dalam bentuk upacara-upacara adat untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Untuk mempererat hubungan kekeluargaan tersebut, masyarakat Amfoang menyerahkan sebagian lahan di Naktuka kepada masyarakat Ambenu. Pasca kemerdekaan Timor Leste, kegiatan tersebut terhenti disebabkan oleh penjagaan ketat kedua negara. Prosesi budaya ini belum menyembul ke permukaan. Masih menggigil.
Penyebabnya hanya satu. Akses ke wilayah seluas 273,03 kilometer persegi itu cukup sulit, masih terisolasi. Posisinya jauh dari jantung Kota Kupang. Pun kondisi geografisnya tidak menguntungkan. Kondisi ini menyebabkan transportasi melalui darat sangat sulit karena harus melewati banyak sungai yang belum dilengkapi fasilitas jembatan.
Buntutnya, Oepoli tetap nomor buntut. Tingkat kesejahteraan masyarakat masih rendah. Sampai kapan? "Kalau melihat kondisi yang ada, Oepoli seharusnya bernama Oe..lupa atau Oe..pilu..!" kata Servas berguyon. Pilu dan terlupakan. Benar juga. (bersambung)
Langganan:
Postingan (Atom)