Minggu, 02 Maret 2008

Wagub minta perhatian Pemkab TTS dan TTU



ATAMBUA, PK -- Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, meminta Pemerintah Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU) untuk turut membantu memikirkan persoalan yang dihadapi warga Belu selatan. Banjir yang terjadi di kali Benanain merupakan imbas dari kerusakan alam di dua daerah itu.
Ketika berdialog dengan ribuan pengungsi korban banjir Benanain di kantor Camat Malaka Barat di Besikama, Jumat (29/2/2008), Wagub menyatakan prihatin atas bencana banjir yang dialami ribuan warga Malaka Barat.
Setelah melihat kondisi warga, kata Lebu Raya, pemprop dapat mengambil kesimpulan bahwa penanganan persoalan banjir Benanain ini tidak bisa dibebankan hanya kepada Pemkab Belu saja, tetapi juga harus melibatkan Pemkab TTS dan TTU karena banjir Benanain juga merupakan banjir kiriman dari kedua daerah tersebut.
"Kita tidak bisa membiarkan kondisi ini terus terjadi. Karena banjir ini merupakan kiriman dari wilayah TTU dan TTS, maka kita perlu duduk bersama membahasnya. Makanya saya minta supaya Pemkab TTS dan TTU ikut membantu dengan melakukan reboisasi di kawasan hulu. Kalau kawasan hulu tetap dibiarkan seperti sekarang ini, maka imbasnya tetap dialami warga di hilir," kata Lebu Raya.
Lebu Raya juga meminta kepada warga ketiga kabupaten ini untuk membudayakan semangat menanam dan menghentikan penebangan hutan. "Jangan kita tebang pohon untuk mendapatkan beras 10 kg, sementara anak cucu kita yang menanggung akibatnya," kata Lebu Raya.
Dia mengatakan, sambil proses penjajakan untuk dialog antara Pemkab Belu, TTS dan TTU, Pemprop NTT melalui Dinas Kimpraswil NTT akan melanjutkan pembangunan tanggul sampai ke titik aman.
Turut hadir pada saat itu, Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili, Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan, Camat Malaka Barat, Remigius Asa, S.H, anggota DPRD NTT, Nelson Matara, S. SoS, mantan Ketua Bappeda NTT, Ir. Esthon Foenay, dan sejumlah pejabat kabupaten dan propinsi NTT. Atas Pemprop NTT, Lebu Raya menyerahkan bantuan kepada para pengungsi Benanain.
Wakil Bupati Belu, Gregorius Mau Bili, atas nama korban banjir menyampaikan terima kasih kepada wagub yang datang melihat kondisi warga, termasuk bantuan yang sudah diberikan, baik kebutuhan makanan maupun kesehatan.
Menurut Mau Bili, untuk sementara warga belum bisa pulang ke rumahnya karena keadaan alam belum menentu.
"Saya juga perlu sampaikan bahwa selama ini Pemkab Belu sudah berupaya dengan membangun tanggul sepanjang 7,2 kilometer dan hasilnya ada beberapa daerah yang selama ini jadi langganan banjir sekarang sudah aman. Kita lagi berencana untuk melanjutkan pembangunan tanggul sepanjang 3,4 kilometer di wilayah Lasaen sehingga warga tidak resah lagi," kata Mau Bili. (yon)

Kami butuh rumah panggung
LANGIT Besikama, ibu kota Kecamatan Malaka Barat, Belu, Jumat (29/2/2008), terik menyengat. Ribuan pengungsi korban luapan banjir kali Benanain sibuk mengurus perabot. Ada kaum ibu yang sibuk mengurus anak yang lagi menangis, sebagian lagi sibuk mencuci pakaian dan memasak.
Bunyi sirene dari mobil patroli LLAJ Kabupaten Belu meraung-raung membuyarkan kesibukan. Semua warga berdiri menatap iringan mobil yang masuk ke lokasi pengungsi. Dari balik kendaraan yang ada, muncul Wagub NTT, Drs. Frans Lebu Raya, didampingi Wabup Belu, drg. Gregorius Mau Bili, Ketua DPRD Belu, Gabriel Dermawan, dan puluhan pejabat.
Para pejabat ini disambut Camat Malaka Barat, Remigius Asa, S.H, yang sejak pagi hari mengatur warga untuk menyambut kedatangan rombongan dari propinsi ini.
Dengan peluh yang terus menetes Wagub langsung menemui warga yang ditampung di tenda-tenda yang disediakan Pemerintah Kabupaten Belu.
"Bapa, mama, anak-anakku sekalian, kamu sudah makan atau belum? Kapan kamu tinggalkan kampung dan tinggal di lokasi ini? Bagaimana dengan kesehatan kamu semua, apakah baik-baik atau tidak," demikian Lebu Raya menyapa warga di tenda pengungsian.
Pertanyaan Wagub Lebu Raya ini disambut warga dengan serentak, "Kami baik-baik saja. Kami sudah makan." Wagub terus mengunjungi lokasi penampungan lainnya dengan pertanyaan yang sama, menanyakan persediaan bahan makanan, tikar, kesehatan anak-anak. Menurut jawaban mereka, semuanya tersedia dengan baik.
"Kamu sekalian harus tabah ya. Percayalah kami tidak akan tinggal diam. Kami berusaha mengatasi persoalan yang dihadapi bapa mama, juga anakku sekalian ini," hibur Lebu Raya.
Kerinduan warga untuk menyampaikan unek-unek kembali terungkap saat dialog yang dipandu Wakil Bupati Belu, drg. Gregorius Mau Bili. Dalam dialog penuh keakraban ini warga menyampaikan harapannya kepada Wagub agar memperhatikan persoalan yang dihadapi warga saat ini.
Mundus Fahik meminta agar tanggul yang ada ditinggikan lagi 2-3 meter. Dengan tanggul yang ada saat ini, banjir akan tetap meluap apabila intensitas hujan di TTU dan TTS tinggi.
Selain itu, dia meminta perhatian soal adanya gagal panen pasca banjir. Ribuan hektar lahan disapu banjir sehingga warga terancam kelaparan dalam tahun ini.
Sementara Yohanes Seran alias Fukun Bere Bria mengusulkan pembuatan rumah panggung. Rumah model ini sudah terbukti aman ketika terjadi banjir.
"Pak Wagub, kami minta kalau bisa tidak dibangun tanggul saja, tetapi perlu juga dibangun rumah panggung. Selama ini kami sudah sengsara dengan banjir, maka harapan satu-satunya adalah rumah panggung ini," kata Seran.
Hal senada diutarakan Kepala Desa Sikun, Yosep Seran Seko. Dia meminta agar pemprop memikirkan pembangunan rumah panggung sehingga warga tidak resah.
Terkait persoalan warga ini, Pemerintah Kecamatan Malaka Barat telah membuat beberapa rekomendasi kepada Pempropi NTT, yakni penanganan DAS Benanain secara komprehensif dan terpadu, rehabilitasi infrastruktur yang rusak akibat banjir, peninggian bibir tanggul yang semula 2,5 meter dinaikkan menjadi 3,5 meter sepanjang 7,2 km, perluasan jaringan listrik di desa-desa yang belum terjangkau agar memudahkan evakuasi warga bila terjadi bencana banjir pada malam hari, pembangunan rumah panggung.
Terhadap harapan dan rekomendasi dari Kecamatan Malaka Barat ini, Wagub Lebu Raya menyatakan akan menindaklanjutinya. (yon)

Kristal juara SFPD Cup 2008



KLUB Kristal Saphire mengukuhkan dirinya menjadi yang terbaik dengan menjuarai turnamen futsal Suzuki Flexi Platina Dispora (SFPD) Cup 2008. Dalam final di GOR Flobamora Kupang, Minggu (24/2/2008) malam, Kristal Saphire menang 5-2 atas Platina A.
Kristal Saphire bukan saja menjadi juara dalam turnamen ini. Kesuksesan anak-anak asuhan Johni Lumba dan Michlen ini dilengkapi dengan terpilihnya pemain mereka, Charles Lapaan menjadi pemain terbaik. Kristal Saphire berhak atas piala bergilir, piala tetap dan bonus Rp 2,5 juta. Sementara Platina A yang menempati posisi kedua menerima uang Rp 1,5 juta.
Posisi ketiga ditempati oleh Ine Rie. Anak-anak asal Kabupaten Ngada ini mengalahkan klub AMIB. Atas prestasinya, Ine Rie mendapat uang tunai Rp 1 juta dan sebuah piala tetap. AMIB yang menerima uang tunai Rp 500 ribu juga menempatkan pemainnya, Dentox sebagai top skore. Dentox mengumpulkan 24 gol mengalahkan striker Platina A, Atus yang mengoleksi 23 gol.
Pimpinan Platina Komputer, Melkisedek Lado Madi, yang mewakili para sponsor dalam sambutannya mengatakan terima kasihnya kepada klub peserta yang mengikuti turnamen ini. Tingginya animo masyarakat Kota Kupang terhadap futsal, kata Madi, membuat para sponsor akan terus menggelar event yang lebih bergengsi. "Tahun depan turnamen ini akan kembali kita gelar. Mungkin dalam waktu dekat juga akan ada turnamen futsal lagi. Untuk itu, kami berharap agar semua klub peserta ini berlatih lebih serius lagi, agar bisa meraih prestasi seperti Kristal Saphire yang hari ini telah menjadi yang terbaik," ujar Madi.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhammad S Wongso dalam sambutannya ketika menutup event tersebut mengatakan bangganya terhadap Mitra Sportindo Event Organizer dan para sponsor yang menggelar event tersebut. "Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri untuk menggelar sebuah event. Untuk itu, atas nama Pemerintah Propinsi NTT, saya mengucapkan terima kasih kepada panitia dan para sponsor yang sangat sukses menggelar event ini. Untuk adik-adik peserta gunakan event-event yang digelar ini untuk meraih prestasi yang lebih berprestasi. Saya sangat bangga, karena lewat futsal ini, hampir semua generasi muda di Kota Kupang ini bersatu dalam semangat kebersamaan," kata Wongso.
Pimpinan Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni dalam laporannya mengatakan, terima kasihnya atas dukungan semua pihak yang ikut menyukseskan event SFPD Cup 2008. Menurut Pieter, turnamen tersebut disponsori oleh Suzuki, Flexi, Platina Komputer, Dispora NTT, SKH Pos Kupang, Timor Express, Rote Ndao Pos, Koran Madika dan DMWS Radio. (eko)
Hasil SFPD Cup 2008
Juara I : Kristal Saphire
Juara II : Platina A
Juara III: Ine Rie
Juara IV: AMIB
Pemain Terbaik : Charles Lapaan (Kristal Saphire)
Top skore : Dentox (AMIB)

Foenay tantang tim pelatih




SEJAK keikutsertaan NTT di PON, keluhan klasik yang sering dilontarkan oleh para pelatih maupun atlet adalah perlengkapan latihan dan minimnya dukungan dana. Meski demikian, dari tahun ke tahun prestasi atlet-atlet NTT terus mengalami peningkatan. Hal itulah yang membuat Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si menantang tim pelatih dan atlet PON XVII NTT untuk menggapai prestasi dalam keterbatasan ini.
"Pemahaman tentang penghematan anggaran harus kita pikirkan bersama. Kekurangan yang kita miliki jangan dijadikan alasan untuk tidak berprestasi. Kemauan dan kemampuan untuk berprestasi baik dari atlet maupun pelatih harus terus dikembangkan secara berimbang. Kita semua tahu, meski serba terbatas, namun atlet-atlet NTT memiliki talenta juara yang tidak dimiliki daerah lain."
Demikian dikatakan Esthon Foenay dalam rapat evaluasi pelaksanaan Pelatda PON XVII 2008 di Sekretariat KONI Propinsi NTT di Kupang, Kamis (28/2/2008).
Dalam rapat yang juga dihadiri pelatih dari cabang tinju, kempo, atletik, taekwondo, sepaktakraw dan pencaksilat itu, tim pemantau pelatda yang dipimpin Drs. Hosea Dally melaporkan beberapa temuan dalam pelaksanaan pelatda. Hosea Dally melaporkan beberapa hal, seperti belum adanya transparansi pelaksanaan program latihan, kesulitan sarana dan prasarana latihan, kehadiran atlet yang belum sempurna sesuai jadwal latihan. Selain itu, menurut Dally, ada beberapa cabang yang mengeluhkan lokasi latihan yang sering dipakai oleh umum sehingga mengganggu jadwal latihan.
Sementara itu, beberapa pelatih mengusulkan beberapa hal, di antaranya agar seluruh atlet dan pelatih diasuransikan, masih ada atlet yang berada di luar Kota Kupang sehingga menyulitkan pantauan. Selain itu, ada beberapa atlet yang tidak bisa sepenuhnya mengikuti latihan karena harus kuliah atau sekolah. Para pelatih juga mengusulkan agar adanya try out dengan mengikuti kejuaraan-kejuaraan tingkat nasional.
Menanggapi masukan-masukan tersebut, Esthon Foenay mengatakan, KONI Propinsi NTT sangat memahami semua kendala tersebut। Namun, Esthon mengatakan, sambil menunggu keputusan alokasi anggaran dari pemerintah, semangat, disiplin dan latihan keras dari atlet tidak boleh surut. "Untuk saat ini saya sarankan agar para pelatih menggunakan peralatan latihan yang diadakan saat pra PON. Mengenai try out, hal ini sangat penting untuk dilaksanakan. Namun, mengingat dana, maka yang dikirim harus betul-betul diseleksi. Saya juga sarankan agar pengurus cabang olahraga atau pelatih terus berkoordinasinya dengan pengurus pusatnya agar regulasi-regulasi atau teknik-teknik baru bisa segera diserap," tegas Esthon. (eko)

Kamis, 21 Februari 2008

Balap motor akan timba ilmu

PEKAN Olahraga Nasional (PON) XVI 2004 di Palembang, Sumatera Selatan, 2-14 September ini, untuk pertama kalinya Ikatan Motor Indonesia (IMI) mempertandingkan Cabang Road Race. Radial Abubakar adalah atlet NTT NTT pertama dan satu-satunya yang lolos ke PON XVI. Dalam kualifikasi pada tiga kali kejuaraan nasiona (kejurnas), Radial mengumpulkan poin yang memenuhi syarat ke PON XVI 2004. Di Palembang, Radial akan bermain di kelas bebek 4T tune up pemula.Lolosnya Radial Abubakar ke PON XVI 2004 adalah suatu prestasi yang cukup menggembirakan. Paling tidak, dengan lolosnya satu racer ke Palembang sudah menjawab keraguan, bahwa olahraga ini hanya milik pembalap-pembalap Jawa dan Bali. Ditanya mengenai persiapannya menuju PON XVI, Radial mengaku sebagai satu-satunya racer yang mewakili NTT tentu beban yang dipikulnya menjadi berat. Racer kelahiran Kupang 11 September 1984 itu mengaku meski minim dalam ujitanding dengan racer yang lebih tangguh, tidak akan membuatnya urunglangkah menghadapi sainga-saingannya. "Saya pikir peluang untuk bisa merebut medali selalu ada. Namun yang menjadi kendala adalah motor yang digunakan. Kalau di daerah lain motornya dirakit di luar negeri, sementara dari NTT dirakit di Kupang. Ini jelas akan sangat berpengaruh di arena, "ujar Vian. Beberapa kejuaraan tingkat nasional yang pernah diikutinya dan selalu menempatkannya di peringkat lima besar, akan digunakannya sebagai bantuan motivasi. "Saya hanya butuh dukungan dan doa dari seluruh masyarakat NTT. Keberhasilan bisa dicapai kalau persatuan dan dukungan selalu ada, "ujarnya.Beber apa prestasi Radial tingkat nasional yakni, rangking lima nasional kelas bebek tune uop 2 tak underbone, rangking tiga nasional bebek 4 tak tune up dan lolos PON XVI di peringkat ketiga kelas bebek 4 tak tune up. Menuju Palembang 2004, Radial kini telah siap. Di bawah bimbingan, Sindy Sine yang bertindak sebagai pelatih, mekanik sekaligus manejer, Radial akan membawa nama NTT bersaing dengan Herdiansyah, Agung Kenceng dan juga Agung PA. Beberapa uji coba di beberapa kejuaraan nasional telah diikuti Radial sebagai persiapan menuju Palembang.Terakhir Radial mengikuti Seri VI Kejurnas Road Race Region III Wilayah NTT, Bali, NTB di Denpasar beberapa waktu lalu. Hasilnya tidak maksimal. Radial memang gagal menunjukan penampilan terbaiknya. Radial terpuruk dibelakang pembalap muda NTT, Rey Ratu Kore dan Jack Zakarias yang tampil luar biasa.Tetapi itu belum bisa dijadikan ukuran. Radial Abubakar memang tampil tidak menjanjikan di Bali. Tetapi, itu belum tentu terjadi di Sirkuit Sky Line/Balap Motor, Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan 6-12 September mendatang. Motivasi dan iklim perlombaannya tentu beda. "Radial masih muda. Dia masih butuh banyak pengalaman dan jam terbang untuk mengasah kemampuannya. Kami tidak menargetkan apaapa di Palembang, tetapi akan berusaha untuk berbuat yang terbaik," ujar Sindy Sine. Tidak mengapa. Lolosnya Radial sudah merupakan pembuktian kepada publik Indonesia bahwa olahraga NTT sedang menggeliat bangkit. Nama Radial telah tercatat sebagai racer, saat Road Race pertama kali di gelar. Apapun hasilnya, di Palembang nanti Radial akan banyak menimba ilmu. Pengalaman di Palembang akan jadi modal untuk menggairahkan olahraga bermotor di NTT. (sipri seko)

Dilaporkan, hasil kejurnas kempo

Ketua Harian KONI Kabupaten Kupang, Alexander Humau, S.H, Sabtu (29/12/2007), melapor kepada Bupati Kupang, Drs. Ibrahim Agustinus Medah mengenai hasil kejuaraan nasional (kejurnas) kempo antar kabupaten/kota di Palembang, Sumatera Selatan. Dalam kejurnas itu, Kabupaten Kupang meraih juara umum I dengan mendapatkan piala bergilir.Di hadapan Bupati Medah, Humau menjelaskan, kejurnas kempo di Palembang berlangsung mulai 28 November sampai 2 Desember 2007, diikuti 46 kabupaten/kota se- Indonesia memperebutkan 35 medali emas, 22 medali perak dan 47 medali perunggu dengan jumlah atlet kurang lebih 600 orang."Peserta dari Kabupaten Kupang sebanyak 39 orang yang terdiri dari tujuh pelatih dan 32 atlet. Perolehan Kabupaten Kupang yakni 14 emas, satu perak dan 4 perunggu. Pencapaian prestasi kejurnas kali ini sangat spektakuler dan menyolok. Dengan demikianpertama dengan mendapat piala bergilir," kata Humau. Humau menjelaskan, perolehan medali tersebut berasal dari embu 11 emas, satu perak dan satu perunggu, randori tiga emas, dan tiga perunggu. Atlet yang telah berhasil memperoleh medali dari nomor randori dan embu yakni emas sebanyak 20 orang, perak dua orang, perunggu lima orang dan non medali tujuh orang.Pada kejurnas tahun 2005 lalu di Sidoarjo, Kabupaten Kupang keluar sebagai juara umum II dan pada kejurnas kempi VIU di Tangerang Banten tahun 2006, Kabupaten Kupang keluar sebagai juara umum pertama.Bupati Kupang, Drs. Ibrahim Agustinus Medah sebagai Ketua Umum Koni menyerahkan bonus berupa peraih medali emas sebesar Rp 1,5 juta, perak Rp 1,250 juta, perunggu Rp 1 juta, non medali Rp 500 ribu dan pelatih mendapatkan bonus Rp 1 juta.(humas/pemkab kupang)

Prioritaskan kesehatan dan fisik

UNTUK tahap pertama pelaksanaan Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) PON XVII 2008, KONI Propinsi NTT memusatkan perhatiannya pada masalah kesehatan dan fisik atlet. Untuk itu, setelah pada dua pekan lalu para atlet diperiksa kesehatannya, maka untuk dua minggu ini, fokus perhatian pada ujicoba ketahanan fisik. Hal tersebut terungkap dalam rapat evaluasi pelaksanaan Pelatda di Sekretariat KONI Propinsi NTT, Sabtu (19/1/2008).Rapat evaluasi tersebut dipimpin Ketua Tim Teknis Pelatda, Drs. Hosea Dally. Hadir juga Ketua Harian KONI Propinsi NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, anggota tim teknis dan pelatih cabang kempo, atletik, pencaksilat, sepaktakraw dan taekwondo. Sementara tim pelatih cabang tinju tidak hadir."Sesuai hasil rekomendasi dari tim dokter RSU Johannes Kupang, ada beberapa atlet yang perlu mendapatkan perhatian serius. Okelah kalau saat ini belum ada pengeluhan dari mereka, namun rekomendasi dari dokter harus terus diawasi. Artinya, kalau mereka merasa pusing atau sakit saat latihan, berikan dia kesempatan untuk istirahat sampai benar-benar pulih. Sementara untuk masalah fisik, tim teknis harus selalu berkonsultasi dengan tim pelatih, karena setiap cabang memiliki perbedaan. Latihan fisik untuk nomor seni tidak sama dengan perkelahiran bebas atau permainan," ujar Esthon.Hosea Dally mengatakan bahwa tim teknis menyerahkan sepenuhnya masalah kepelatihan kepada tim pelatih tiap cabang. Namun, kata Dally, mereka akan terus memantau pelaksanaannya sesuai jadwal dan program latihan yang sudah disusun tiap cabang. "Berdasarkan pengalaman, banyak atlet kita yang berprestasi meski dari sisi medis tidak layak. Tapi, itu jangan jadi patokan kita untuk tidak memperhatikan atlet kita yang direkomendasikan mengalami gangguan. Secara keseluruhan, tidak ada yang sangat prinsip terhadap masalah kesehatan para atlet," ujar Hosea Dally.Hosea Dally pada kesempatan tersebut mengatakan kekecewaannya terhadap tim pelatih tinju yang tidak hadir tanpa pemberitahuan. Kehadiran pelatih dalam rapat evaluasi, kata Dally, sangat penting untuk saling memberi masukan terhadap semua kejadian yang terjadi dalam latihan. "Kami akan memberikan surat resmi kepada tim pelatih tinju untuk lebih disiplin. Disiplin yang baik dari seorang pelatih akan berpengaruh pada atletnya. Kami akan tegas mengenai hal ini," kata Dally. (eko)

Catatan jelang Ruteng 2005 (3)

Biarkan pemain bebas memilih

ARDY Pukan duduk termangu di atas tribun Stadion Oepoi-Kupang melihat para seniman sepakbola dari senatero Flobamora bermain bola. Kakinya terasa gatal ingin bergabung memainkan si kulit bundar. Namun Ardy tak punya daya. Bukan karena kakinya yang tak kuat menopang tubuhnya untuk menendang bola tetapi karena aturan yang melarangnya tidak boleh bermain.Itu cerita lalu saat El Tari Memorial Cup di gelar di Kupang November 2000 lalu. Saat itu, siapa yang tidak kenal Ardy Pukan? Dia adalah striker nomor wahid yang paling ditakuti pemain belakang lawan. Delapan gol yang dilesakannya untuk Persim Manggarai saat El Tari Memorial Cup 1999 di Ende menjadikannya sebagai top skore menggeser Vevi Kumaninereng, Lody Mitan (Perse) dan Zulkifly Umar (PSKK) yang mencetak lima gol, cukup untuk memberi bukti. Di Kupang 2000, Ardy Kupang kembali membuat sensasi. Namun kali ini bukan sebagai top skore, tetapi dilarang untuk bermain oleh Pengda PSSI NTT karena diperebutkan oleh Persim Manggarai dan Perse Ende. "Ardy adalah pemain Persim Manggarai." Begitu pelatih Persim, Bona Jenadut waktu itu. Namun Heron Goa dari Perse Ende tetap memasukan Ardy Pukan dalam skuadnya. Tak ingin berpolemik, Ketua Pengda PSSI, Frans Skera mengambil tindakan tegas untuk tidak memainkan Ardy Pukan baik untuk Perse maupun Persim.El Tari Memorial Cup 2005 tinggal sepekan lagi akan digelar di Ruteng-Manggarai. Kalau di tahun 2000, hanya Ardy Pukan seorang yang dipermasalahkan kali ini beda. Polemik alih status pemain yang belakangan mengemuka terjadi antara Perserond Rote Ndao, PS Kota Kupang dan PS Kabupaten Kupang. Sekretaris PS Kabupaten Kupang, Helmit Markus mengecam manajemen Perserond yang 'mencuri' dua pemainnya, Adi Tuka dan Oscar Markus. Namun kecaman itu ditanggapi oleh Ketua Perserond, Ory Boeky bahwa Adi Tuka dan Oscar Markus sudah resmi menjadi pemainnya. Menjelang Ruteng 2005 digelar masalah alih status memang mencuri perhatian pecinta bola di NTT. Percaya atau tidak, bukan hanya Adi Tuka dan Oscar Markus yang akan menjadi masalah tetapi di perserikatan lainnya juga akan muncul. Tidak adanya kompetisi di hampir semua perserikatan di NTT membuat para pemain tidak merasa diikat. Mereka dengan semaunya setiap tahun berpindah dari satu perserikatan ke perserikatan lain. Apa itu salah? kalau salah, lalu siapa yang mau disalahkan? Apakah pengcab atau Pengda PSSI yang harus bertanggungjawab. Kalau benar, apa memang harus demikian?Pengda PSSI NTT memang jauh-jauh hari sudah meminta pengcab-pengcab agar alih status pemain diatur dengan baik. Mereka tentu tidak ingin nantinya pemain-pemain potensial yang ada hanya bisa menonton dari tepi lapangan hanya karena administrasi perpindahannya tidak lengkap. Iming-iming bonus dan pekerjaan dari perserikatan lain memang membuat para pemain sering lupa profesionalisme.Domisili atau tempat bekerja kiranya belum tepat untuk dijadikan alasan dalam merekrut pemain. Pengda PSSI NTT memang sudah memberikan sinyal positif agar perserikatan boleh merekrut pemain dari luar perserikatannya dalam wilayah NTT. Namun pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana dengan perserikatan yang mendatangkan pemain dari luar NTT? Persoalannya akan semakin rumit kalau hanya karena marga, warna kulit dan logat kita langsung mengklaim bahwa perserikaan lain memakai 'pemain haram.' Satu solusi sederhana yang harus dipikirkan untuk menyelesaikan persoalan ini adalah biarkan para pemain bebas memilih perserikatan. Kalau memang sekarang mereka ingin pindah ke perserikatan lain, mungkin di sana jaminan untuk masa depannya lebih bagus. Bukannya kita juga belum memiliki sesuatu yang bisa mengikat mereka untuk tidak pindah? Tetapi bagaimanapun juga jawabannya ada pada para pengurus sepakbola. (sipri seko/habis)

Catatan jelang Ruteng 2005 (2)

Ingat niat suci EL Tari

TIDAK sampai satu pekan lagi turnamen sepakbola El Tari Memorial Cup akan kembali digelar. Satu persatu kesebelasan peserta baik dari daratan Timor, Flores, Sumba maupun Alor mulai menginjakan kakinya di kota dingin Ruteng-Manggarai.Tanpa pamrih Kraeng dan Enu menyambut hangat kedatangan Umbu, To'o, Ka'e, Eja dan Kuinyadu yang berkunjung di kampung halamannya. Dinginnya udara terasa hangat dirayu aroma harumnya kopi yang menggelitik hidung dan lezatnya kompiang yang membuat perut keroncongan. Tidak ada rasa saling curiga apalagi dendam. Yang ada hanya semangat persaudaraan, sesama anak Flobamora.Harus diakui kalau sepakbola belum berbuat banyak bagi perkembangan prestasi olahraga di NTT. Namun percaya atau tidak, lebih dari 80 persen rakyat di Bumi Flobamora ini adalah maniak bola. Hal itulah yang kemudian ditangkap oleh almarhum Gubernur NTT, EL Tari. Dia ingin menjadikan sepakbola sebagai media untuk meraih prestasi sekaligus merajut persatuan dan kesatuan. Di ajang ini, EL Tari sebenarnya tidak ingin melihat anak-anak NTT berpikir saya orang Sumba, orang Flores, orang Timor, Alor atau lainnya. Dia ingin yang ada dibenak anak-anak NTT hanya ada kata Flobamora. Pertanyaannya, apakah niat suci itu masih ada hingga penyelenggaraan ke-21 kalinya ini?Mantan pelatih PS Kota Kupang, Johni Lumba, yakin kalau saat ini sepakbola di NTT sudah ternoda. Bukan hanya pemain, pelatih, pengurus hingga penonton pun harus bertanggungjawab. "Kalau kita melihat ke belakang, kita seharusnya malu pada diri sendiri. Dengan sadar kita menghianati semangat sportifitas dan arti sesungguhnya olahraga itu. Perpindahan pemain, atur skor, wasit yang tidak berkualitas hingga pengurus yang tidak benar adalah buktinya," ujar Johni Lumba.Sekiranya Johni benar, lalu siapa yang harus diminta pertanggunganjawabannya? Sebentar lagi 'perang' akan dimulai. Caci ala Manggarai, Hedung ala Lamaholot, Kayaka anak-anak Sumba atau Likurai anak Timor akan ditarikan oleh seniman-seniman bola NTT selama 12 hari di Golodukal dan Motangrua. Bumi Congkasae akan bersorak menyaksikan luapan emosi anak-anak negeri. Berakhir bersih ataukah ternoda, masih misteri.Rasa sakit hati mungkin tidak hanya dirasakan oleh raksasa sepakbola NTT, PSN Ngada ketika secara menyakitkan terkesan kuat Persesba Sumba Barat mengalah dari Persami Maumere. Semua orang juga tidak percaya ketika Persami Maumere begitu mudahnya kalah 0-7 dari Persewa Waingapu untuk kemudian dengan enteng mengalahkan Perserond Rote Ndao 2-1 yang di atas kertas sulit dilakukan.Yang jelas kejadian-kejadian seperti ini jelas menunjukan bahwa kualitas tim bukan di atas segala-galanya. Kiranya benar apa yang dikhawatirkan Mathias Bisinglasi dan Johni Lumba bahwa segala cara yang tidak sportif akan dipakai untuk menjadi juara termasuk kualitas wasit yang masih di bawah standar.Perseteruan antarpemain, pemain dengan wasit, wasit dengan ofisial hingga pengawas pertandingan acapkali muncul. Isu SARA masih sering dipakai kelompok tertentu untuk memuluskan tujuan menjadi juara. Di sini Pengda PSSI NTT sebagai pemilik hajatan tidak boleh tinggal diam. Aturan-aturan yang disepakati harus ditegakan. Mumpung belum digelar dan sekadar untuk mengingatkan panitia dan Pengda PSSI NTT agar turnamen El Tari Memorial Cup 2005 ini diramu menjadi yang terbaik. Maniak bola di NTT tentu tidak ingin dengan alasan akan dibenahi tahun depan semua masalah diselesaikan sesuai aturan. Skorsing pemain, kesebelasan atau wasit yang melanggar aturan harus ditegakan. Ini tentu agar kita semua tidak mengkhianati niat suci almarhum EL Tari. Kita tentu tidak ingin para leluhur menangis melihat anak cucunya berseteru di saat persatuan, kebersamaa dalam kekeluargaan terasa mahal untuk diraih. (sipri seko/bersambung)

Catatan jelang Ruteng 2005 (1)

Jangan buat Kraeng dan Enu kecewa

DIBANDINGKAN dengan penyelenggaraan tahun 2004 lalu di Waikabubak-Sumba Barat, gaung El Tari Memorial Cup 2005 kali ini di Ruteng-Manggarai 10-22 Oktober terasa lebih menggema. Jatah tiga perserikatan yang akan mewakili NTT ke kualifikasi Divisi III Liga Indonesia kiranya cukup melecut semangat perserikatan untuk mempersiapkan skuadnya dengan baik.Beragam komentar, pendapat dan harapan mulai diungkapkan perserikatan peserta. Di saat yang sama, memori Waikabubak 2004 kembali terkuak. Ada yang menargetkan juara, namun ada yang masih malu-malu memasang target. Rasa sakit hati, kecewa, tidak puas ataupun puas, senang, sedih dan beragam perasaan lainnya masih sangat membekas dihati anak-anak bola Flobamora. Di Waikabubak 2005 persoalan yang melilit dunia sepakbola NTT memang sangat kompleks. Ada kesebelasan yang pulang dengan arak-arakan kemenangan, namun ada pula yang pulang dengan kepala terunduk dibalut wajah muram.Dilihat dari polemik yang belakangan mencuat ke permukaan, bukan tidak mungkin masalah yang sama akan kembali terjadi. Alih status dan perekrutan pemain adalah persoalan kruisal yang paling banyak diperdebatkan saat ini. Pada pertemuan teknis yang dipimpin, Hironimus Buyanaya dari Pengda PSSI NTT di Gedung Wanita Waikabubak persoalan pemain menjadi perdebatan yang serius. Ketiadaan database tentang pemain dari semua perserikatan di NTT membuat Pengda PSSI NTT tidak bisa berbuat banyak meski ada protes dari beberapa perserikatan. Lagi pula semua perserikatan di NTT tidak pernah mendaftarkan klub dan pemainnya kepada pengda untuk dipantau. Namun dia berjanji bahwa di El Tari Memorial Cup 2005 akan ada pengetatan terhadap perpindahan pemain. Tidak hanya itu, masalah kualitas wasit juga harus menjadi perhatian. Pelatih Perss SoE, Mathias Bisinglasi di Kupang, Selasa (4/10), mengatakan optimismenya kalau timnya bisa menembus hingga empat besar. Namun satu yang masih mengganjal hatinya adalah kualitas dan independensi wasit. "Kalau wasit yang memimpin pertandingan masih yang itu-itu, jangan harap sepakbola bisa maju. Saya harap Pengda PSSI NTT harus serius menangani masalah perwasitan," ujarnya. Kualitas wasit yang masih di bawah standar acapkali memicu perseteruan antarpemain, ofisial, penonton bahkan pemain dengan wasit. Terkadang sebagai ungkapan ketidakpuasan, ada tim yang memilih keluar dari lapangan. Salah satu contoh kasus saat Waikabubak 2004 misalnya ketika wasit Anis Kellen asal Maumere-Sikka yang sudah mengeluarkan kartu merah kepada pemain Persebata Lembata, Salem Mustafa, menariknya kembali karena tidak tahan dengan protes pelatih dan ofisial Persebata. Kasus pertandingan antara Persesba Waikabubak melawan Perse Ende ketika para pemain Perse membiarkan gawangnya kosong saat striker 'asing' Persesba, Rano Tri Sutrisno melakukan eksekusi penalti. Atau menghentikan pertandingan antara Persap Alor melawan Persamba Manggarai Barat ketika pertandingan baru berjalan enam menit. Tanpa melalui proses yang jelas, Alor dimenangkan. Kita tentu tidak mau kalau kemudian ada komentar bahwa perbuatan-perbuatan tersebut adalah pelecehan terhadap korps wasit. Kini menjelang Ruteng 2005, berbagai kasus di Waikabubak 2004 kembali menggangu benak maniak bola di NTT. Akankah semuanya terulang kembali? Megahnya Stadion Golodukal dan Motangrua akan menjadi saksi realiasi janji PSSI NTT untuk membuat perubahan. Ketua Pengda PSSI NTT, Drs. Frans Leburaya dalam rapat pengurus di ruang kerjanya, Rabu (5/10), secara tegas meminta pengurusnya untuk tegas menegakan aturan. Leburaya berharap polemik perebutan pemain atau mendatangkan pemain asing dibicarakan dengan arif.Kita tentu tidak ingin masalah status pemain yang sudah mencuat sejak tahun 2000 lalu hingga 2005 ini belum ada penyelesaianya. Menyelesaikan dengan hati dingin, oke-oke saja. Namun apakah harus terus membiarkan perserikatan caplok pemain sana sini atau wasit yang belum teruji kualitasnya terus terjadi? Bukankah sepakbola adalah olahraga milik rakyat? Selain untuk prestasi, sepakbola juga untuk merajut persatuan dan kesatuan. Rakyat Bumi Congkasae tentu ingin menikmati indah dan nikmatnya menonton si kulit bundar dimainkan. Untuk itu jangan kotori sucinya sepakbola, sehingga membuat Kraeng dan Enu di Manggarai dikecewakan. (sipri seko/bersambung)

Catatan untuk PSKK

Hanya Lerik yang bisa menjawab

Oleh Sipri Seko

SEJAK tahun 1976 turnamen sepakbola El Tari Cup yang kemudian berubah nama menjadi El Tari Memorial Cup pada tahun 1979, sudah 19 kali digelar. Piala El Tari Memorial hampir 11 tahun bermukim di Kota Kupang. Sejak tahun 1986 dominasi PSK sulit ditembus tim-tim dari Flores, Sumba maupun Alor. PS Kota Kupang (PSKK) yang sebelumnya masih satu dengan Kabupaten Kupang (PSK), mencatat gelar juara terbanyak yakni tujuh kali. Koleksi gelar PSKK makin sulit dikejar menyusul saingan utamanya PSN Ngada yang enam kali juara lolos ke Divisi II Liga Indonesia. Sementara itu Persami Maumere dua kali, Perseftim, Perse, Pers SoE dan Persewa Waingapu masing-masing satu kali juara. Artinya dari 16 pengcab PSSI di NTT baru enam daerah yang pernah mencapai puncak prestasi.Sejak menjuarai El Tari Memorial Cup 2002 lalu di Maumere-Sikka, prestasi sepakbola Kota Kupang sudah tidak lagi masuk hitungan. Rasa kecewa para pemainnya akibat gagal mengikuti Divisi III Liga Indonesia di Denpasar-Bali tahun 2003 lalu membuat mereka memilih hengkang ke perserikatan lain. Sebut saja, Primus Sivelmus, Victor Kapitan dan Ornes Loengi (Persewa), Jimi Hosana, Maksi Kami, Yus Ressie, Castello Branco (Perserond Rote Ndao), Kristoforus Umbu Yogar (Persesba) dan di perserikatan lainnya.Perekrutan pemain yang tidak jelas membuat para pemain enggan bergabung. Minimnya turnamen dan kinerja kepengurusan PSKK yang banyak mendapat sorotan membuat kiblat sepakbola Kota Kupang makin muram. Keputusan yang dianggap tidak populer dari Ketua PSKK, SK Lerik untuk absen dalam El Tari Memorial Cup 2005 ini membuat Kupang yang sebelumnya dijadikan barometer kemajuan sepakbola NTT seolah-olah sudah tidak memiliki harga diri lagi. Turnamen seperti Beringin Cup atau Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup yang bertujuan ingin kembali menggairahkan sepakbola Kota Kupang dianggap angin lalu. PSKK tetap pada keputusannya untuk tidak ke Ruteng 2005. Kiranya betul apa yang dikatakan maniak bola kalau sepakbola Kota Kupang sudah mati suri. Petrus Abanat yang datang khusus dari Alor, Yos Wangga dari Maumere atau Bastian Udjan dari Lembata boleh berdecak kagum melihat kualitas pemain-pemain Kota Kupang saat berlaga di invitasi Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup. "Saya ingin belajar dari Kota Kupang agar nantinya bisa diterapkan di Lembata," begitu komentar Bastian Udjan yang adalah Ketua Persebata Lembata.Namun apalah artinya kekaguman dan keinginan untuk belajar yang harus dibawa pulang oleh Bastian Udjan, Yos Wangga dan Petrus Abanat kalau PSKK saja tidak ikut ke El Tari Memorial Cup 2005? Anton Kia, Jack Lay ataupun Johni Lumba boleh setiap hari 'makan debu' di Stadion Merdeka dan Stadion Oepoi untuk melatih talenta-talenta berbakat yang dimilikinya. Namun kini mereka sudah tidak tahu, Hendra Takunama, Jimi Lebao, Dion Fernandez, Ibrahim Tupong, Marcel Bitol, David Pramono, Thomas Aquino dan lainnya diapakan.Percaya atau tidak, sepakbola masih merupakan olahraganya masyarakat. Taekwondo, tinju, atletik ataupun kempo boleh saja berprestasi hingga tingkat internasional, tapi harus diakui masih kalah tenar dengan sepakbola. Lihat dan bandingkan saja jumlah penonton sepakbola dengan cabang olahraga lainnya. Musa Paulus Langkameng saja yang harus menopang kedua kakinya dengan tongkat untuk berjalan tak pernah absen menyaksikan, Ardiles Kana, Digo Maradona, Almeida da Concecao, Edi Atolan, Dody Lisnahan dan lainnya di Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup.Mungkin sudah saatnya pengurus PSKK, pelatih, pemain dan maniak bola saling berbuka untuk mencari solusi. Para pengurus harus berani berkomentar bahwa bukan karena masalah dana PSKK absen di turnamen sepakbola paling bergengsi di bumi Flobamora ini. Kualitas pemain yang rendah, belum tentu. Ataukah PSKK yang 'sombong' untuk menggandeng swasta mengelolah sepakbola? Bagaimana pun juga keberadaan PSKK di El Tari Memorial Cup akan memberikan warna yang berbeda. Kraeng dan Enu di Ruteng tentu ingin melihat nyong-nyong Kupang bergoyang indah memainkan si kulit bundar. Komentar di media massa tidak bisa dijadikan senjata pemungkas untuk mencari titik terang. Cibiran, sinisme dan komentar miring dengan tentang sepakbola Kota Kupang hanya bisa dijawab oleh SK Lerik sebagai Ketua PSKK.

SYALOM