Kamis, 21 Februari 2008

Catatan jelang Ruteng 2005 (2)

Ingat niat suci EL Tari

TIDAK sampai satu pekan lagi turnamen sepakbola El Tari Memorial Cup akan kembali digelar. Satu persatu kesebelasan peserta baik dari daratan Timor, Flores, Sumba maupun Alor mulai menginjakan kakinya di kota dingin Ruteng-Manggarai.Tanpa pamrih Kraeng dan Enu menyambut hangat kedatangan Umbu, To'o, Ka'e, Eja dan Kuinyadu yang berkunjung di kampung halamannya. Dinginnya udara terasa hangat dirayu aroma harumnya kopi yang menggelitik hidung dan lezatnya kompiang yang membuat perut keroncongan. Tidak ada rasa saling curiga apalagi dendam. Yang ada hanya semangat persaudaraan, sesama anak Flobamora.Harus diakui kalau sepakbola belum berbuat banyak bagi perkembangan prestasi olahraga di NTT. Namun percaya atau tidak, lebih dari 80 persen rakyat di Bumi Flobamora ini adalah maniak bola. Hal itulah yang kemudian ditangkap oleh almarhum Gubernur NTT, EL Tari. Dia ingin menjadikan sepakbola sebagai media untuk meraih prestasi sekaligus merajut persatuan dan kesatuan. Di ajang ini, EL Tari sebenarnya tidak ingin melihat anak-anak NTT berpikir saya orang Sumba, orang Flores, orang Timor, Alor atau lainnya. Dia ingin yang ada dibenak anak-anak NTT hanya ada kata Flobamora. Pertanyaannya, apakah niat suci itu masih ada hingga penyelenggaraan ke-21 kalinya ini?Mantan pelatih PS Kota Kupang, Johni Lumba, yakin kalau saat ini sepakbola di NTT sudah ternoda. Bukan hanya pemain, pelatih, pengurus hingga penonton pun harus bertanggungjawab. "Kalau kita melihat ke belakang, kita seharusnya malu pada diri sendiri. Dengan sadar kita menghianati semangat sportifitas dan arti sesungguhnya olahraga itu. Perpindahan pemain, atur skor, wasit yang tidak berkualitas hingga pengurus yang tidak benar adalah buktinya," ujar Johni Lumba.Sekiranya Johni benar, lalu siapa yang harus diminta pertanggunganjawabannya? Sebentar lagi 'perang' akan dimulai. Caci ala Manggarai, Hedung ala Lamaholot, Kayaka anak-anak Sumba atau Likurai anak Timor akan ditarikan oleh seniman-seniman bola NTT selama 12 hari di Golodukal dan Motangrua. Bumi Congkasae akan bersorak menyaksikan luapan emosi anak-anak negeri. Berakhir bersih ataukah ternoda, masih misteri.Rasa sakit hati mungkin tidak hanya dirasakan oleh raksasa sepakbola NTT, PSN Ngada ketika secara menyakitkan terkesan kuat Persesba Sumba Barat mengalah dari Persami Maumere. Semua orang juga tidak percaya ketika Persami Maumere begitu mudahnya kalah 0-7 dari Persewa Waingapu untuk kemudian dengan enteng mengalahkan Perserond Rote Ndao 2-1 yang di atas kertas sulit dilakukan.Yang jelas kejadian-kejadian seperti ini jelas menunjukan bahwa kualitas tim bukan di atas segala-galanya. Kiranya benar apa yang dikhawatirkan Mathias Bisinglasi dan Johni Lumba bahwa segala cara yang tidak sportif akan dipakai untuk menjadi juara termasuk kualitas wasit yang masih di bawah standar.Perseteruan antarpemain, pemain dengan wasit, wasit dengan ofisial hingga pengawas pertandingan acapkali muncul. Isu SARA masih sering dipakai kelompok tertentu untuk memuluskan tujuan menjadi juara. Di sini Pengda PSSI NTT sebagai pemilik hajatan tidak boleh tinggal diam. Aturan-aturan yang disepakati harus ditegakan. Mumpung belum digelar dan sekadar untuk mengingatkan panitia dan Pengda PSSI NTT agar turnamen El Tari Memorial Cup 2005 ini diramu menjadi yang terbaik. Maniak bola di NTT tentu tidak ingin dengan alasan akan dibenahi tahun depan semua masalah diselesaikan sesuai aturan. Skorsing pemain, kesebelasan atau wasit yang melanggar aturan harus ditegakan. Ini tentu agar kita semua tidak mengkhianati niat suci almarhum EL Tari. Kita tentu tidak ingin para leluhur menangis melihat anak cucunya berseteru di saat persatuan, kebersamaa dalam kekeluargaan terasa mahal untuk diraih. (sipri seko/bersambung)

Tidak ada komentar:

SYALOM