Kamis, 21 Februari 2008

Catatan untuk PSKK

Hanya Lerik yang bisa menjawab

Oleh Sipri Seko

SEJAK tahun 1976 turnamen sepakbola El Tari Cup yang kemudian berubah nama menjadi El Tari Memorial Cup pada tahun 1979, sudah 19 kali digelar. Piala El Tari Memorial hampir 11 tahun bermukim di Kota Kupang. Sejak tahun 1986 dominasi PSK sulit ditembus tim-tim dari Flores, Sumba maupun Alor. PS Kota Kupang (PSKK) yang sebelumnya masih satu dengan Kabupaten Kupang (PSK), mencatat gelar juara terbanyak yakni tujuh kali. Koleksi gelar PSKK makin sulit dikejar menyusul saingan utamanya PSN Ngada yang enam kali juara lolos ke Divisi II Liga Indonesia. Sementara itu Persami Maumere dua kali, Perseftim, Perse, Pers SoE dan Persewa Waingapu masing-masing satu kali juara. Artinya dari 16 pengcab PSSI di NTT baru enam daerah yang pernah mencapai puncak prestasi.Sejak menjuarai El Tari Memorial Cup 2002 lalu di Maumere-Sikka, prestasi sepakbola Kota Kupang sudah tidak lagi masuk hitungan. Rasa kecewa para pemainnya akibat gagal mengikuti Divisi III Liga Indonesia di Denpasar-Bali tahun 2003 lalu membuat mereka memilih hengkang ke perserikatan lain. Sebut saja, Primus Sivelmus, Victor Kapitan dan Ornes Loengi (Persewa), Jimi Hosana, Maksi Kami, Yus Ressie, Castello Branco (Perserond Rote Ndao), Kristoforus Umbu Yogar (Persesba) dan di perserikatan lainnya.Perekrutan pemain yang tidak jelas membuat para pemain enggan bergabung. Minimnya turnamen dan kinerja kepengurusan PSKK yang banyak mendapat sorotan membuat kiblat sepakbola Kota Kupang makin muram. Keputusan yang dianggap tidak populer dari Ketua PSKK, SK Lerik untuk absen dalam El Tari Memorial Cup 2005 ini membuat Kupang yang sebelumnya dijadikan barometer kemajuan sepakbola NTT seolah-olah sudah tidak memiliki harga diri lagi. Turnamen seperti Beringin Cup atau Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup yang bertujuan ingin kembali menggairahkan sepakbola Kota Kupang dianggap angin lalu. PSKK tetap pada keputusannya untuk tidak ke Ruteng 2005. Kiranya betul apa yang dikatakan maniak bola kalau sepakbola Kota Kupang sudah mati suri. Petrus Abanat yang datang khusus dari Alor, Yos Wangga dari Maumere atau Bastian Udjan dari Lembata boleh berdecak kagum melihat kualitas pemain-pemain Kota Kupang saat berlaga di invitasi Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup. "Saya ingin belajar dari Kota Kupang agar nantinya bisa diterapkan di Lembata," begitu komentar Bastian Udjan yang adalah Ketua Persebata Lembata.Namun apalah artinya kekaguman dan keinginan untuk belajar yang harus dibawa pulang oleh Bastian Udjan, Yos Wangga dan Petrus Abanat kalau PSKK saja tidak ikut ke El Tari Memorial Cup 2005? Anton Kia, Jack Lay ataupun Johni Lumba boleh setiap hari 'makan debu' di Stadion Merdeka dan Stadion Oepoi untuk melatih talenta-talenta berbakat yang dimilikinya. Namun kini mereka sudah tidak tahu, Hendra Takunama, Jimi Lebao, Dion Fernandez, Ibrahim Tupong, Marcel Bitol, David Pramono, Thomas Aquino dan lainnya diapakan.Percaya atau tidak, sepakbola masih merupakan olahraganya masyarakat. Taekwondo, tinju, atletik ataupun kempo boleh saja berprestasi hingga tingkat internasional, tapi harus diakui masih kalah tenar dengan sepakbola. Lihat dan bandingkan saja jumlah penonton sepakbola dengan cabang olahraga lainnya. Musa Paulus Langkameng saja yang harus menopang kedua kakinya dengan tongkat untuk berjalan tak pernah absen menyaksikan, Ardiles Kana, Digo Maradona, Almeida da Concecao, Edi Atolan, Dody Lisnahan dan lainnya di Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup.Mungkin sudah saatnya pengurus PSKK, pelatih, pemain dan maniak bola saling berbuka untuk mencari solusi. Para pengurus harus berani berkomentar bahwa bukan karena masalah dana PSKK absen di turnamen sepakbola paling bergengsi di bumi Flobamora ini. Kualitas pemain yang rendah, belum tentu. Ataukah PSKK yang 'sombong' untuk menggandeng swasta mengelolah sepakbola? Bagaimana pun juga keberadaan PSKK di El Tari Memorial Cup akan memberikan warna yang berbeda. Kraeng dan Enu di Ruteng tentu ingin melihat nyong-nyong Kupang bergoyang indah memainkan si kulit bundar. Komentar di media massa tidak bisa dijadikan senjata pemungkas untuk mencari titik terang. Cibiran, sinisme dan komentar miring dengan tentang sepakbola Kota Kupang hanya bisa dijawab oleh SK Lerik sebagai Ketua PSKK.

Tidak ada komentar:

SYALOM