Jumat, 08 Agustus 2008

Jaga citra dengan sportivitas


KETUA Propinsi (Pengprop) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengharapkan 16 tim peserta turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2005 menjaga citra even ini dengan menjunjung tinggi sportivitas. Sportivitas, kata Lebu Raya, merupakan modal untuk mencapai prestasi sekaligus mempererat persaudaraan dan kebersamaan.

"Saya minta semua peserta menjaga citra invitasi sepakbola ini dengan sportivitas. Boleh kejar prestasi tetapi harus sportif karena invitasi ini hendaknya lebih mengeratkan persaudaraan dan kebersamaan kita," ujar Frans Lebu Raya saat membuka turnamen itu di Stadion Oepoi-Kupang, Minggu (21/8) petang.

Acara pembukaan dihadiri Pemimpin Umum SKH Pos Kupang, Damyan Godho, Wakil Pemimpin Umum, Marcel Weter Gobang, Pemimpin Perusahaan PT Timor Media Grafika, Daud Sutikno, Pimpinan PT HM Sampoerna Tbk Cabang Kupang, Danang Pamungkas, Pemimpin Redaksi SKH Pos Kupang, Dion DB Putra, Kepala Cabang BRI Kupang, Gatot Satrio, Ketua Panitia, Pieter Fomeni dari Mitra Sportindo Event Organizer serta undangan lainnya.

Frans Lebu Raya yang juga Wakil Gubernur NTT itu menggarisbawahi pentingnya sportivitas semua pihak yang terlibat dalam even ini mengingat keributan atau kekisruhan masih saja terjadi dalam sejumlah turnamen. "Saya harapkan tidak terjadi hal semacam itu selama kejuaraan ini berlangsung," ujarnya.

Frans Lebu Raya mengucapkan terima kasih kepada Dji Sam Soe, Pos Kupang dan Mitra Sportindo yang memprakarsai terselenggaranya even tersebut. "Selaku Ketua Pengda PSSI NTT, saya ucapkan terima kasih karena ada pihak lain yang mendukung upaya memajukan sepakbola di NTT. Mudah-mudahan ini adalah awal untuk mengembalikan pamor PSKK sebagai barometer sepakbola di NTT," katanya.

Ia juga mengharapkan agar invitasi tersebut jangan hanya sekali ini digelar tetapi dilaksanakan secara berkelanjutan. "Dari waktu ke waktu prestasi sepakbola NTT makin meningkat. Terbukti dengan lolosnya PSN Ngada dan Persewa Waingapu ke Divisi III Liga Indonesia. Saya meyakini kalau kompetisi bergulir maka sepakbola kita akan terus berkembang," katanya.

Frans Lebu Raya pada kesempatan tersebut juga memberikan tambahan bonus uang kepada juara pertama hingga kelima dan pemain terbaik even masing-masing Rp 500 ribu. "Bonus dari saya hanya untuk motivasi tidak lebih dari itu. Juara atau tidak ditentukan oleh Anda sendiri," ujarnya disambut aplaus para pemain.

Acara pembukaan invitasi sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup I di Stadion Oepoi berlangsung semarak. Diiringi drumband SMAK Giovanni Kupang acara diawali dengan defile 16 kontingen peserta. Selain itu juga dibentangkan sebuah bendera berukuran 2,5 x 2,5 meter yang bergambarkan logo FIFA Fair Play. Usai pembukaan dilanjutkan pertandingan perdana antara kesebelasan Persado Oesao melawan Putra Samudera yang berakhir seri 1-1. Sebelum kedua tim berlaga, Frans Lebu Raya melakukan tendangan bola pertama di tengah lapangan. (eko)

Sebening renungan Pos Kupang Cup


Oleh Pius Rengka *

SERU tapi menyenangkan!!! Pertandingan bola sepak, Dji Sam Soe dan Pos Kupang Cup, hari-hari ini berlangsung seru di Stadion Oepoi Kupang. Orang sekaliber Ir. Esthon Foenay, M.Si (Ketua Harian KONI NTT) ikut menyaksikan pertandingan yang terbilang akbar untuk NTT itu, dari sebuah sudut di stadion.

Pertandingan ini, tak hanya dihiasi baliho. Umbul-umbul para sponsor melambai-lambai mengiringi giringan bola sepak yang lari liar dari satu sudut ke sudut lain, dan terpental badai dari satu kaki ke kaki lain. Tetapi, tetap sportif.

Pabrik rokok Dji Sam Soe, Telpon Flexi, Harian Umum Pos Kupang, BRI, Platina Computer, PLN Cabang Kupang, Radio DMWS, Hotel Kristal, Merpati, KKSS, MPM Motor, Pemprop NTT, Mitra Sportindo, dibukukan sebagai sponsor. Tak tanggung-tanggung total hadiah yang diperebutkan pun, termasuk menggoda, Rp 30 juta, termasuk sebuah sepeda motor jenis bebek jadi rebutan.

Namun, pertandingan bola sepak ini pun didaulat penuh oleh Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Leburaya, Kepala Dispora, Drs. Mad Wongso. Di mimbar utama di stadion Oepoi, tampak para sponsor mendampingi Wagub Leburaya. Hadir pula di situ, Wakil Bupati Flores Timur, Drs. Yosni Herin. Ia mengaku datang dengan kapasitas Ketua KONI Flotim.

Bahkan pertandingan ini pun dihujani aneka hadiah lain dari para sponsor. Pokoknya serulah!! Bahkan, perempuan jelita, Olga Lidya, utusan khusus untuk urusan buntu dari PresidenRepublik Mimpi, datang juga sambil mengusung harapan, agar pertandingan ini berjalan licin semulus kulit langsatnya yang ranum merekah. Eko Bebek pun, datang memberi dukungan. Pelawak cerdas ini, menggiring pertandingan bola sepak ini dengan banyolan yang cerdas memproduksi tawa. Tentu saja, Eko Bebek, ingin agar pertandingan bola sepak Dji Sam Soe dan Pos Kupang Cup hanyalah arena tempat di mana kita menemukan sahabat sejati. Total, demi kebaikan bersama. Lima hari sudah berlalu, lalu apa yang kita temukan?

Liga Eropa

Liga sepakbola negara-negara Eropa musim kompetisi 2006-2007 baru usai, termasuk Liga Champions Eropa yang menarik perhatian penggemar bola dari seluruh dunia itu. Apakah ada semacam pesan sosial yang patut ditautkan dengan fenomena cara pikir pelaku sepakbola? Itulah pertanyaan pokoknya.

Pertanyaan ini, tak hanya bernuansa reflektif, tetapi darinya pula ditemukan hikmah. Tiap momentum kehidupan, kiranya memiliki nilai konstruktif terhadap hidup manakala darinya dapat ditarik ke dalam proses pikir yang dibangun secara sadar. Memang, benar bahwa pemikiran dapat dimulai dari realitas sebagai fenomena empirik. Tetapi juga, tak disangkal bahwa tidak mungkin ada realita tanpa pemikiran. Dengan demikian, baik realita sebagai produk pemikiran, maupun pemikiran karena ada realita adalah dua soal dalam satu perkara.

Begitu pula perihal bermain bola. Bahwa benar pada dasarnya bola yang bergulir dari satu sudut ke sudut lain di lapangan hijau, hanyalah merupakan suatu permainan manusia yang berkesadaran. Tetapi, manusia yang memainkan bola itu, tidak mungkin sekadar memainkan dan mempermainkan bola,karena bukan bolalah yang menjadi tujuannya, melainkan manusia yang memainkan bola itu.

Manusia tidak main-main memainkan bola, tetapi bola tidak dijadikan sebagai satu-satunya tujuan permainan. Manusia sedang bermain dan mempermainkan cara pikir manusia dengan satu kesadaran utuh. Meski demikian, manusia tidak hendak berbuat main-main dengan totalitas manusia, karena manusia menggunakan bola sebagai alat main guna mempermainkan para pemain.

Pada peringkat itulah, peradaban manusia diuji. Tatkala bola sepak dijadikan alat untuk menikmati cara pikir para pemain, maka serentak dengan itu manusia sedang mengolah dan berolah peringkat kebudayaan sesama pemain.

Manusia, memang, kelihatannya sedang menggunakan tubuhnya dalam permainan, tetapi sebenarnya tubuh manusia itu sekadar medium guna mengekspresikan tingkat berpikir. Dengan demikian, dapatlah dikatakan, jika manusia makin beradab, cara main pun makin menarik dan cantik. Dengan kata lain, cara bermain bola pada dirinya sendiri memantulkan cara pikir sekaligus melukiskan peringkat peradaban para pemain.

Lalu, manusia mengevaluasi. Bahwa cara main kesebelasan A, misalnya, sangat indah. Kesan itu diperoleh karena formasi yang diciptakan kesebelasan A, memperlihatkan dekorasi serasi antara bola menyerang sambil bertahan, atau pola bertahan dengan cara terus menyerang. Bahkan, sepakbola dapat dikatakan sebagai suatu karya seni, karena para pemain menjadikan bola sebagai sarana dan kanvas ekspresi teknik dan taktik bermain.

Pada bagian ini, kita sama menyaksikan, betapa tayangan sepakbola Liga Eropa, mengajarkan kepada kita bagaimanamestinya bermain bola. Bola yang bergulir bodoh itu seolah-olah kepada kita diperlihatkan proses berpikir yang sistematik. Tendangan melingkar, liukan Christian Ronaldo, seolah memperlihatkan konstruksi premis-premis yang logis. Karena itu, kalau sepakbola kemudian menyebabkan terangsangnya rasa marah, hal itu karena peradaban pemainnya sedang dalam uji coba yang sungguh serius. Tetapi, kalau kemudian pertandingan membuahkan perkelahian, hal itu karena manusia menjadikan bola sebagai tujuan.

Kalau bermain bola sepak berbanding lurus dengan pola pikir, maka bermain bola sepak itu sendiri adalah wujud dari perdebatan yang mengandalkan otak, tetapi disalurkan melalui otot. Sementara teknik bermain bola sepak adalah sejumput argumentasinya.

Nah, kalau karena main bola para pemain kemudian marah lalu berkelahi, hal tersebut hanya mau mengatakan satu hal penting yaitu bahwa cara berpikir masih dangkal dan argumentasinya sangat lemah. Refleksi selanjutnya adalah ini: Main bola sepak tidak lagi sebagai ajang perlombaan peradaban, melainkan hanya panggung yang mempertontonkan keterbelakangan.

Namun, Liga Eropa 2007, sudah sungguh berlalu. Kita menemukan hikmahnya, sambil menjahitnya dengan pengalaman main bola sepak di Indonesia.

Pertandingan main bola sepak di Indonesia hampir pasti selalu dicederai perkelahian dan pukul wasit. Yang menyedihkan, terutama saya, bola yang disepak-sepak itu sepertinya menjadi medium balas dendam dan menyumbar nafsu otot (daging) yang digerakkan secara sangat spektakuler oleh emosi tak terkendali. Nafsu melumpuhkan otak dan bahkan moral.

Otak (nalar), pada saat itu menjadi bagian yang paling dihina.Strategi tidak lagi sebagai cara agar manusia sampai pada tujuan kemanusiaan, tetapi dipakai atau seolah-olah dipakai sebagai bentuk lain dari penggusuran martabat pemainnya sendiri. Karena itu, pola hubungan para pemain tatkala bermain bola, tidak menempatkan lawan tanding sebagai kawan bermain, tetapi lawan main dipandang sebagai momok yang patut ditawan.

Bahwa benar, bermain bola sepak, artinya berusaha sekuat-kuatnya supaya menang, tetapi kerap berubah menjadi tuntutan "harus" menang. Karena harus menang, maka segala cara pun dihalalkan atau terhalalkan. Lalu yang terjadi, ada orang tidak lagi mencari dan menyepak bola bundar yang terlepas lari di lapangan, malah mencari dua bola lain milik orang lain, yang seharusnya masih aman melekat di tubuh dibungkus pakaian seragam. Tetapi, halnya akan berbeda jika bermain bola sebaik-baiknya dan sekuat-kuatnya supaya bisa menang. Jika ternyata lawan main lebih unggul dan menang, maka yang dibuat adalah belajar bermain bola sepak lebih baik lagi di kemudian hari, dan belajar dari kemenangan orang lain.

Kita belajar dari orang lain, bukan saja karena orang lain itu lebih lain dari kelainan yang kita punyai, tetapi terutama karena kita perlu mengakui bahwa kelainan orang lain perlu dipelajari agar kali lain kita bisa mengungguli kelainannya. Lalu, satu ketika, klub bola sepak yang kita punyai patut diperhitungkan orang lain di lain megara. Nah, itulah sebening renungan untuk Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007. Terimakasih!!

* Penulis, penduduk Kota Kupang, tinggal di Jl. Antarnusa, penonton setia pertanding sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup

Mandiri lebih beruntung


SEPERTI diprediksikan, duel babak semifinal Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup antara PS Britama melawan Mandiri FC berlangsung ketat, menarik dan menghibur penonton. Pertemuan dua tim berkualitas tinggi di Stadion Oepoi-Kupang, Senin (5/9/2005) petang itu berlangsung ketat selama 120 menit dengan skor 1-1. Tetapi akhirnya Mandiri FC lebih beruntung. Mereka menang adu penalti 5-4.

Di babak final, Kamis (8/9/2005), Mandiri FC akan melawan pemenang laga QFC BTN vs Sandelwood, Selasa (6/9/2005). Sedangkan Britama akan memperebutkan juara ketiga melawan tim yang kalah petang nanti.

Pertandingan Britama melawan Mandiri berlangsung dalam tempo tinggi dan keras. Namun pada menit-menit awal, kedua tim terkesan bermain ekstra hati-hati. Serangan yang dibangun tidak terburu-buru, lebih mengandalkan umpan terobosan dari tengah. Para pemain belakang mengamankan daerahnya dengan menendang bola sejauh mungkin dari area gawang.

Striker Mandiri, Zulkifly Umar sempat mengejutkan pemain Britama dengan gol cepatnya ketika pertandingan baru berjalan empat menit. Namun, gol tersebut dianulir Wasit Alberth Lisnahan karena Zulkifly terlebih dahulu melakukan pelanggaran terhadap libero Britama, Ibrahim Tupong. Keputusan Lisnahan sempat diprotes para pemain Mandiri namun wasit tetap pada keputusannya.

Pertandingan selanjutnya yang disaksikan sekitar 2.500 penonton tersebut berlangsung ketat dan keras. Begitu tingginya suhu pertandingan membuat sejumlah pemain sempat bersitegang setelah berbenturan fisik saat memperebutkan bola.

Hendra Takunama membuat Britama lebih dulu unggul lewat golnya pada menit ke-35. Memanfaatkan kemelut di depan gawang, Hendra yang mendapat bola mental dari Lambert Kadju dengan mudah menaklukkan kiper Mandiri, Ronald Mukhtar. Keunggulan 1-0 untuk Mandiri bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, pertandingan yang dipimpin wasit Alberth Lisnahan dibantu Yaya Huru dan Ferdy Takoy tersebut tetap memikat. Sorak-sorai pendukung kedua tim terus membahana sepanjang pertandingan.

Striker Mandiri, Zulkifly Umar dan Fanus Patipelohi tercatattiga kali mendapat peluang emas yang gagal dimanfaatkan. Namun, stoper Mandiri, Us, berhasil menyelamatkan timnya dengan gol yang dicetak pada menit ke-79. Lima menit setelah gol balasan Mandiri, sebuah tendangan lambung Jimi Lebao kurang sempurna dipetik Ronald Mukthar. Bola yang jatuh terlihat melewati garis, namun wasit Lisnahan tetap menginstruksikan pertandingan dilanjutkan. Hal tersebut sempat menyulut protes pemain dan ofisial Britama. Mereka menilai bola tendangan Jimi Lebao sudah melewati garis gawang, namun Lisnahan tetap pada keputusannya bahwa bola belum masuk.

Hingga akhir pertandingan kedudukan tetap 1-1. Begitupun saat perpanjangan waktu 2x15 menit tidak ada lagi gol yang tercipta. Saat adu penalti, Jimi Lebao dan Yohanes Ie gagal mengeksekusi bola untuk Britama dan hanya Kristoforus Umbu Yogar, Hendra Takunama, Odus Piri dan Victor Kapitan yang berhasil. Sementara dari Mandiri, selain Lambert Kadju yang gagal, Pieter Fomeni, Nelson Sula, Mad Ivan, Fanus Patipelohi dan Zulkifly Umar sukses jadi algojo.

Dalam pertandingan ini, Wasir Alberth Lisnahan memberikan kartu kuning untuk kapten Mandiri, Lambert Kadju serta dua pemain Britama, Imam Santoso dan Hendra Takunama. Lambert Kadju sudah dua kali menerima kartu kuning sehingga akan absen pada partai final.

Manajer Mandiri FC, Frangky Amalo yang ditemui usai pertandingan tidak bisa mengembunyikan kegembiraannya. "Anak-anak bermain sangat bagus. Mereka menempatkan diri sebagai underdog, sehingga bermain lepas namun dengan motivasi tinggi," ujar Amalo.

Amalo mengakui kalau PS Britama memiliki pemain-pemain dengan kualitas tinggi, namun fakta pertandingan menunjukkan bahwa Mandiri bisa mengimbangi mereka dan menang adu penalti. "Pemain-pemain kami siap kalah dan menang. Jadi kami bermain tanpa beban," kata Amalo. (eko)

Afriana rebut emas POP ASEAN


ATLET atletik NTT, Afriana Paidjo kembali mengukir prestasi. Sukses merebut dua medali emas di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2007 bulan lalu, Afriana dipanggil untuk memperkuat Indonesia pada ASEAN School Athletic Championship di Jakarta 20-24 Agustus 2007 ini.

Pada perlombaan hari pertama cabang atletik nomor lari 1.500 meter di Stadion Madya Jakarta, Senin (20/8/2007), Afriana berhasil meraih medali perunggu dengan catatan waktu 4.51.97 menit. Medali emas direbut atlet Vietnam dan perak olah Thailand. Demikian diinformasikan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) NTT, Drs. Muhammad Wongso, melalui Kepala Seksi Olahraga Prestasi, Ary Mulyadi, Senin (20/7/2007) malam.

"Afriana kembali merebut prestasi. Ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan, karena ternyata kita tidak kekurangan bibit-bibit muda dari cabang atletik. Ini adalah motivasi yang sangat besar bagi kita untuk terus melakukan pembinaan," ujar Ary yang juga pengurus Pengprop PASI NTT itu.

Menurut Ary, hari ini, Selasa (21/8/2007), Afriana masih akan berlomba pada nomor lari 3.000 meter. Berdasarkan catatan waktu yang diraihnya saat Popnas, demikian Ary, Afriana masih dijagokan untuk merebut medali di nomor ini. "Dia punya peluang untuk merebut medali di nomor ini karena catatan waktunya cukup bagus. Kita doakan saja mudah-mudahan dia tidak mendapat halangan," harap Ary.

Atas prestasi Afriana, kata Ary, dia juga telah ditawari oleh pemerintah pusat untuk masuk pemusatan latihan nasional (Pelatnas) jangka panjang di Ragunan, Jakarta. "Penawaran secara lisan terhadap Afriana untuk masuk sekolah atlet Ragunan sudah kamiperoleh. Mudah-mudahan dengan prestasinya ini, dia bisa langsung mendapat rekomendasi ke Ragunan. Kalau sudah masuk ke Ragunan, Afriana bisa lebih fokus pada latihan sehingga prestasinya akan terus meningkat," kata Ary. (eko)

Eltari Cup: Say No To Drugs

(Catatan Ringan di tengah penyelenggaraan Eltari Cup 2007 )

Oleh : Gabriel Adur

Bola Kaki bukan sekedar sebuah olah raga tetapi juga merupakan sebuah agama dan kepercayaan baru umat manusia. Bahkan sekarang Bola Kaki menjadi Opium bagi manusia, (Er ist heute das wirkliche Opium des Volkes) demikian komentar Umberto Eco, penulis dan Filsuf berkebangsaan Italia itu. Pernyataan sang Filsuf di atas, mau menjelaskan bahwa Bola Kaki sebagai sebuah olah raga yang menyedot perhatian hampir seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia pada dasarnya baik dan mulia, tetapi bola kaki kadang-kadang membuat orang melek terhadap nilai-nilai positif yang disabdakan oleh olah raga ini.

Bola Kaki : Opium bagi Manusia

Bola kaki adalah sebuah penemuan yang sangat fantastis untuk kehidupan kita hingga saat ini. Penemuan ini bahkan menjadi sebuah penemuan yang melahirkan berbagai keajabain baru. Bola kaki, memberikan sejuta inspirasi untuk mempererat tali persaudaraan antara umat manusia.

Untuk mencapai tujuan ini, maka lahir ide untuk menyelenggarakan Piala Dunia Bola Kaki oleh Carl Anton Willem Hirschmann pada Kongres FIFA kedua pada 28 Mei 1930. Untuk merealisasikan Keberpihakan pada persahabatan universal manusia ini, maka sejak tahun 1930 (Piala Dunia pertama di Uruguay) sampai 2006 di German (yang merupakan penyelenggaraan piala dunia ke 18) seluruh umat manusia menyelenggarakan pesta kemanusiaan- lewat Bola Kaki. Di sini, bola kaki menjadi sebuah alternative global yang beroreintasi pada kemanusiaan.

Sejalan dengan perkembangan waktu Bola Kaki menjadi sebuah olah raga yang menjanjikan keuntungan ekonomis dan bisnis yang membutuhkan investasi. Di sini, Bola Kaki menjadi sebuah orientasi bisnis demi keuntungan ekonomis. Tak heran dalam klub-klub elite di Eropa, sebagai contoh yang signifikan, merekrut para pemain yang didatangkan dari berbagai bangsa dengan daya beli yang tinggi berdasarkan daya dan kualitas permainan sang pemain.

Di samping itu, stadion-stadion bola dari setiap klub dibangun di tempat-tempat strategis seperti dekat dengan Bandara Udara atau paling kurang tidak jauh dari Stasiun-stasiun kereta. Stadion-stadion Bola kaki di Eropa misalnya, menjadi Kathedral bagi pemain dan fans-fans bola yang selalu penuh dan sering dikunjungi. Di mana mereka bisa mengidungkan nyanyian dan pujian yang dimadahkan untuk para bintang. Di samping itu mereka membangun sistem bisnis tersendiri yang mengandalkan bakat dan talenta pemain bintang dan membangun budaya fans yang sangat apik. Transaksi pemain juga menjadi sebuah alternative untuk membangun eksistensi klub ke depan (Klaus Schmech, Titel, Tore und Transaktion). Di sinilah bola kaki tidak hanya bersifat politik tetapi juga bernilai ekonomis.

Dengan berorientasi pada keuntungan bisnis perlahan bola kaki mengalami evolusi makna. Para pemain yang dibeli dengan bayaran tinggi bermain dengan target untuk memenangkan pertandingan. Dengan berbagai cara seperti memprovokasi lawan dan pelanggaran yang bisa mencedrakan lawan mereka berusaha untuk menang( ingat Kasus Tandukan Maut Zidane dan Matterasi pada piala dunia 2006). Manajer klub berupaya dengan keras untuk memprovokasi dan mempengaruhi wasit (contoh kasus adalah Mafia Perwasitan di Liga Italia tahun 2006). Kehendak Untuk Menang dari Fans bagi team-team kesayangan mereka menciptkan masalah tersendiri. Bagi mereka yang terbaik adalah klub kesayangan mereka. Tifosi Italia dan The Holligans dari Inggris, misalnya, sering menciptakan kekacauan kalau team mereka kalah.

Di sini orang tidak lagi sadar atau melek terhadap nilai-nila positif dari olah raga ini seperti persaudaraan, solidaritas, dan persahabatan. Justeru inilah opium-opium yang membuat citra persepakbolaan menjadi rusak. Dengan itu di Liga Spanyol Ronaldinho dan Samuel Etho, Luzio dan Zee Roberto di Liga German menjadi motivator yang intens untuk berkampanye melawan bentuk kekerasan dan rasismus melalui bola kaki. Mereka menyatakan penolakan terhadap berbagai bentuk kekerasan dalam bola kaki. Hal ini tentu disambut dengan hangat oleh publik untuk tetap menjaga kualitas persepakbolaan dunia.

Eltari Cup, Kita (t)Orang Bersaudara!

Eltari Cup kembali digelar. Moment ini menjadi sebuah moment yang selalu dinantikan dan dirindukan oleh pencinta bola dan seluruh masyarakat NTT. Tentunya orang merindukan tarian para bintang yang memperlihatkan kelincahan mereka menari Ja,i, menari ndundundake, berokatenda-ria, menari hedung, berdolo-dolo ria, berdansa tombak-ria dan menari Likurai di hadapan publik dan pencinta bola di NTT. Eltari Cup tidak sekedar menjadi sebuah hiburan yang menyenangkan orang NTT tetapi juga merupakan sebuah pesta rakyat yang memperat kerukunan dan persaudaraan.

Beberapa Makna Penantian dari penyelenggaraan Eltari Cup.

Pertama, Eltari Cup sebagai olah raga rakyat NTT membawa sabda bahwa dengan moment akbar ini, kita sadar, kita orang NTT masih bersaudara. Di sinilah Eltari Cup memiliki pesan yang bermakna untuk menata kembali silahturahmi masyarakat NTT yang mungkin sering terprovokasi oleh berbagai sentimen suku, kelompok , golongan dan mungkin terus menerus menjadi lawan bagi yang lain oleh brutalisme dan wandalisme politikus yang mencari keuntungan diri dengan cara memprovokasi masyarakat. Pesan kemanusiaan ini juga menuntut tanggungjawab dan kesadaran dari pencinta bola NTT untuk tidak hanya membangun budaya fans yang mengutamkan kehendak untuk Menang yang tinggi dan membenarkan segala cara, tetapi tetap menjaga keutuahan dan kesetiakawanan yang utuh. Dengan demikian kekerasan dan brutalisme dapat dihindari selama Eltari Cup diselenggarakan.

Kedua, sabda kedua yang dibawa oleh Eltari Cup mendatang dapat diformulasikan dengan kalimat ini , Eltari Cup: Say no to Drugs. Ungkapan ini adalah sebuah seruan yang perlu ditindaklanjut oleh para pemain, pengurus klub, penyelenggara dan publik NTT, karena ingat bahwa Eltari Cup adalah saat untuk mengidungkan lagu-lagu persaudaraan orang NTT dan menarikan tarian-tarian kehidupan sebagai orang NTT.

Ketiga, Eltari Cup bukanlah opium-opium atau Drugs yang membuat kita melek akan nilai-nila luhur dari sepak bola. Dengan demikian kita bisa secara bahu membahu memperbaiki kualitas persepakbolaan kita di NTT. Perbaikan kualitas dan jaminan hidup para pemain yang merupakan pejuang-pejuang di Lapangan hijau dan harapan tanah NTT. Perbaikan kualitas perwasitan demi sebuah jaminan dan rasa aman selama pertandingan berjalan. Perbaikan kualitas penyelenggaran dan pengurus klub untuk selalu menata persepakbolaan NTT secara profesional dengan menekankan spotivitasa dan kerja-keras. Di samping itu moment ini merupakan salah satu bentuk pengujian terhadap kualitas mental publik dan pencinta bola NTT, apakah kita sudah lebih sportif dan mengutamakan nilai persahabatan sebagai orang NTT, ataukah masih memelihara mentalitas yang selalu melihat orang lain sebagai lawan yang harus dibinasakan.

Mentalitas publik yang sportif dan menghargai persahabatan dari publik NTT sangat penting, agar tidak terulang kembali kesalahan –kesalahan masa lampau. Eltari Cup diselenggarakan dari kita oleh kita dan untuk kita. inilah saatnya kita berdendang dan bernyanyi bersama.Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi yang melakukan hal itu. Vini, vidi, vici. VIVA NTT. (*)

Simplisius Paji Abe Spektakuler


LUAR biasa! Pujian ini patut diberikan kepada atlet cacat NTT, Simplisius Paji Abe. Setelah sukses merebut medali emas nomor lari 100 dan 200 meter, atlet tunadaksa ini kembali merebut medali emas nomor lompat jauh Pekan Olahraga Cacat Nasional (Porcanas) 2008, dalam lomba di Stadion Utama Palaran, Samarinda-Kalimantan Timur, Rabu (6/8/2008).

Wakil Sekretaris Umum KONI Propinsi NTT, Eduard Setty, dari Samarinda, usai lomba mengatakan, dengan hasil ini, Simplisius sudah berhasil merebut tiga medali emas. Simplisius merebut medali emas lompat jauh tunadaksa, dengan jarak lompatan, 5,05 meter. Medali perak direbut Rasydin (Aceh), dengan jarak lompatan 4.82 meter dan perunggu, Decky dari Sulawesi Utara, dengan jauh lompatan 4,70 meter.

"Ini adalah hasil yang sangat spektakuler. Seorang atlet cacat bisa merebut tiga medali emas sama seperti yang diraih atlet normal. Saya pikir prestasi ini harus dihargai dengan sepantasnya," ujar Setty.

Simplisius yang dihubungi melalui pelatihnya, Budi, tidak mau berkomentar banyak tentang prestasi yang diraihnya tersebut. "Dia hanya ingin berbuat yang terbaik bagi NTT sesuai kemampuan yang dimilikinya. Dia hanya ingin agar dengan prestasi yang telah dicapainya ini mendapat perhatian dari pemerintah. Dia tidak butuh sanjungan dan pujian, tapi dia ingin diberikan pekerjaan yang layak sesuai dengan sertifikasi yang dimilikinya, yakni service alat-alat elektronika," ujar Budi.

Menurut Eduard Setty, selain prestasi Simplisius, NTT juga mendapat tambahan satu medali perak dan satu perunggu. Medali perak direbut Maria Kolloh dari nomor lari 400 meter tunarungu dan perunggu oleh Tanty Yosefa juga dari 400 meter tunarungu. Medali emas nomor ini direbut oleh Sulastri dari Jambi.

"Peluang merebut medali masih terbuka bagi NTT, karena besok (hari ini) Damianus dan Lembert masih akan tampil di nomor lompat jauh tunadaksa. Saat ini mereka sangat siap untuk bertanding, sehingga kita harapkan jangan ada halangan non teknis seperti Sarlin Amalo yang cedera kaki," ujar Setty. (eko)

Data Diri
Nama : Simplisius Paji Abe
Lahir : Adonara, 13 Mei 1981
Keterampilan : Service eletronika
Cabang : Atletik
Prestasi : Porcanas 2004 di Palembang, medali emas lari 100 meter dan lompat jauh. ASEAN Paragame 2005, medali emas lari 100 meter dan lompat jauh, medali perak lari 200 meter. Porcanas 2008 di Samarida, medali emas lari 100, 200 meter dan lompat jauh.

PSKK Harus Jadi Klub Yang di Segani di NTT

PERSATUAN Sepak Bola Kota Kupang (PSKK) berobsesi menjadi sebuah klub yang tangguh dan disegani oleh klub-klub lain di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam setiap turnamen sepak bola di provinsi kepulauan ini.

"Untuk mewujudkan obsesi tersebut, tidak ada pilihan lain kecuali melakukan turnamen atau kompetisi secara teratur dan berkelanjutan antarklub yang ada di Kota Kupang guna menjaring bibit-bibit pesepakbola berbakat di kota ini," kata Manajer Pertandingan Dji Sam Soe-HU Pos Kupang Cup I, Danang Pemungkas di Kupang, Jumat (19/08).

Dia mengemukakan hal ini berkaitan dengan keinginan PT HM Sampoerna Cabang Kupang bekerjasama dengan Harian Umum Pos Kupang dan Mitra Sportindo sebagai Event Organizer menyelenggarakan turnamen sepakbola antarklub di Kota Kupang.

Turnamen yang diikuti 16 klub di Kota Kupang itu akan berlangsung dari 21 Agustus-8 September mendatang.

"Kota Kupang sangat potensial, tetapi karena kurangnya kompetisi, sehingga potensi yang tersedia tidak bisa dipadukan menjadi sebuah tim yang tangguh dan disegani," kata Danang yang didampingi Pemimpin Redaksi HU Pos Kupang, Dion DB Putra dan Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni.

Karena itu, PT HM Sampoerna sebagai sebuah perusahan yang sudah sejak lama memiliki komitmen untuk memajukan olahraga di Tanah Air merasa terpanggil untuk membangun olahraga di NTT, khususnya sepak bola.

Turnamen ini diharapkan dapat mengilhami lahirnya embrio jalannya kompetisi secara terencana, berkala dan berkesinambungan, dengan didukung manajemen yang profesional untuk membangun sebuah tim yang solid, handal dan berkualitas.

Selain itu, dari turnamen ini pula akan lahir bibit-bibit atau atlet berbakat yang nantinya bisa direkrut untuk memperkuat PSKK di turnamen antarperserikatan di NTT maupun di tingkat nasional, kata Danang.

Pemimpin Redaksi Harian Umum Pos Kupang, Dion DB Putra menambahkan, tanggungjawab pembinaan olahraga tidak bisa lagi dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah.

"Semua komponen masyarakat harus terlibat aktif untuk secara bersama-sama membangun olahraga di daerah ini. Jangan tunggu pemerintah, karena pemerintah juga punya keterbatasan dalam membangun dunia olahraga," katanya.

Dia berharap, turnamen ini bisa berjalan secara berkesinambungan setiap tahun agar sepakbola Kota Kupang yang sudah mati suri selama ini bisa bangkit dan menjadi tim yang paling disegani di NTT.

"Masyarakat Kota Kupang sangat rindu melihat PSKK menjadi klub yang disegani di NTT seperti ketika empat kali berturut-turut menjuarai El Tari Memorial Cup pada 1988, 1991, 1993 dan 1995. Masyarakat Kota Kupang tidak ingin PSKK hanya menjadi sumber poin bagi tim lain," kata Dion Putra. (eko)

Tergantung strategi

KEPALA Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT, Drs. Muhammad Wongso, dengan mata berbinar-binar bercerita tentang betapa fanatiknya orang Lamahala-Adonara ketika bercerita sepakbola. Tak heran kalau sebagai penasehat Persatuan Sepakbola (PS) Perselaya-Lamahala, Muhammad Wongso, ingin agar timnya bisa merasakan ketatnya persaingan dalam turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007.

Sebagai tokoh pemuda, Wongso sangat yakin bahwa lewat olahraga generasi muda bisa diajak untuk membangun. Tak heran kalau dia sangat mengagungkan sportivitas dan kualitas. "Sepakbola bukan tawuran atau perkelahian. Tunjukan kualitas dan sportivitas, baru kamu bisa disebut pemain hebat," kata Wongso.

Wongso tidak main-main dengan ucapannya. Buktinya, PS Perselaya-Lamahala adalah tim pertama dari luar Kota Kupang yang tiba di Kupang. Bersama Britama Kupang, Putra Nagekeo dan Mandiri FC, PS Perselaya akan tergabung di Grup D. Ketat dan berkualitas. Kualitas, skill, teknik dan pengalaman akan jadi tontonan.

Di sini, Britama Kupang dan Mandiri FC akan berusaha mempertahankan gengsi sepakbola Kota Kupang. Sementara Pserselaya-Lamahala dan Putra Nagekeo ingin berkata bahwa sepakbola bukan lagi milik Kota Kupang. Bukan tanpa kualitas ketika PS Perselaya-Lamahala mengungkapkan optimismenya. Siapa tak kenal Subhan Goran Tokan, Ardy Pukan, Kaharuddin Ali, Syukur, Santos dan Firdaus Tokan, dalam sepakbola NTT? Itu berarti, mereka sudah berhitung tentang apa yang harus dilakukannya di Kupang. Britama, Mandiri dan Nagekeo bukan tim sembarangan.

Bagaimana dengan Britama Kupang? Dari tiga kali penyelenggaraannya, tim ini selalu menuai protes terutama perekrutan pemainnya. Kalau tahun lalu, Castello Branco menuai protes dari AS Roma, kini mereka kembali diprotes. Setelah Keny Mau ‘dirmapas’ Britama tahun lalu, kini pelatih Sandelwood, Paul Ngongo Billi sudah tak tahan lagi ketika Adrianus Adi dan Bambang Tokan ikut hengkang. Namun, apa mau dikata oleh Ngongo Billi, ketika Adi dan Bambang lebih memilih Britama.

Nama Britama adalah kualitas. Ketika sang kapten, Kristoforus Umbu Yogar, dan pelatihnya, Mathias Bisinglasi hadir di lapangan tidak ada satu pun yang bisa meragukan kemampuan mereka. Ferdy Pere, Thimos Hayon, Kiser Mbou, Ridwan Kamahi, Jimi Lebao, Pieter Kellan, dan lainnya bisa berbuat apa saja ketika bola ada di kakinya.

Namun, jangan bilang kalau mereka bisa mulus. Bukan saja dari PS Perselaya-Lamahala tetapi dari Mandiri FC. Pada Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2005, Mandiri menjegal Britama Kupang di semifinal. Pada Menpora Cup 2006 lalu, Mandiri juga mengalahkan Britama Kupang di perebutan tempat ketiga. Apakah Mandiri adalah penjegal Britama?

Jawabannya ada pada Lukman Hakim dan skuadnya. Mengaku memiliki strategi sederhana yang tidak dimiliki tim lainnya, Lukman Hakim lebih banyak mengandalkan pemain berpengalaman. Pieter Fomeni, Mujibu Rahman, Zulkifly Umar, Ismail, Ivan, Ronald Muchtar, Lambert Kadju, Atus dan lainnya adalah senior dalam sepakbola Kota Kupang. Stamina boleh kalah, namun mereka tahu bagaimana mencetak gol. "Kami selalu berusaha untuk memanfaatkan semua peluang menjadi gol. Kami akan bermain sebagai underdog karena kami tahu bahwa lawan-lawan kali ini sangat berkualitas," kata Lukman Hakim.

Satu tim di Grup D ini yang layak masuk hitungan adalah Putra Nagekeo. Dukungan Pemkab Nagekeo kepada tim ini tidak main-main. "Kami ingin Nagekeo selalu muncul dalam bidang apa saja. Kalah menang bukan persoalan, yang terutama adalah bagaimana memunculkan Nagekeo," kata Sekab Nagekeo, Elpi Parera.

Itu kata-kata seorang pejabat. Kehadiran Putra Nagekeo tidak bisa dilihat sebagai pelengkap. Felix Dando dan Helmon Liko adalah dedengkot dalam sepakbola NTT. Mereka tentuk sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk Putra Nagekeo. Samuel Dando, Thomas Gotha, Awin Soba, Mus Nanga, Maskur, Beny Wasa, Markus, Mikel, Mekos, Jaga, Lopez, Gusty, Bento, Kletus Ghabe, Tadeus Wala, Yolis Poro, Man Baker dan Daud Ndiwa akan menjadi andalan.

Berhitung tentang peluang lolos dari Grup D ini memang berat. Semua berkualitas. Di sini, keberuntungan dan strategi akan menjadi andalan. Ketika di grup lain ada tim yang lebih diunggulkan, untuk Grup D harus berhitung dulu sebelum menentukan unggulan. Satu yang harus diperhatikan adalah sportifitas. Kambing hitam jangan jadi alasan ketika kalah. Spekulasi boleh dilakukan. Kematangan pemain boleh jadi andalan, tetapi kemenangan akan menjadi mahal. Kita lihat saja. (sipri seko)

Kurniawan, Olga dan Eko launching Pos Kupang Cup 2007

MENURUT rencana, hari ini Jumat (22/6/2007), akan diadakan launching (peluncuran) turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007 di Hotel Kristal Kupang. Launching yang digelar pukul 19.00 Wita itu akan dihadiri artis nasional Olga Lydia dan Eko Bebek, striker timnas Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, tokoh olahraga NTT, pemain klub peserta dan komunitas masyarakat gila bola (Mas Gibol). Demikian diinformasikan panitia pelaksana dari Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni, di Kupang, Kamis (21/6/2007).

"Sebelumnya, kami berencana mendatangkan Rony Patinasarani, namun dia ditugaskan oleh PSSI Pusat ke Thailand. Namun, Kurniawan Dwi Yulianto, Olga Lydia dan Eko Bebek tetap akan hadir. Kami harapkan kehadiran mereka, selain menambah semaraknya turnamen, juga dapat memberikan masukan-masukan tentang pembinaan sepakbola yang baik. Untuk itu, kami juga mengundang tokoh-tokoh olahraga, pemain sepakbola dan pengurus PSSI di NTT untuk terlibat dalam acara ini," kata Pieter.

Menurut Pieter, sebelum launching di Hotel Kristal Kupang, Kurniawan, Olga dan Eko akan berkunjung ke Redaksi SKH Pos Kupang. Kunjungan tersebut, kata Pieter, selain untuk silaturahmi, juga untuk berdiskusi dengan para reporter Pos Kupang tentang sepakbola, entertain dan lain-lain.

Mengenai launching, kata Pieter, sebelum acara ‘baomong bola’ yang melibatkan Kurniawan, Olga dan Eko, akan ada acara perkenalan klub peserta. "Kami harapkan semua kapten, pelatih dan manajer klub peserta hadir, karena perkenalan klub ini sangat penting. Ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi kami ingin agar para pemain termotivasi dan benar-benar menyatu serta memiliki turnamen ini," kata Pieter.

Sebelumnya, pada Kamis petang, panitia bersama salah satu sponsornya, Telkom Flexi, mengarak piala bergilir Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2007 mengelilingi Kota Kupang. Menurut panitia pelaksana, Abdul Muis dan Ven Helmy, arak-arakan tersebut adalah bagian dari aktivasi untuk menggelorakan semangat menyambut penyelenggaraan turnamen. (eko)

Ditunda Hingga 23 Agustus

PENGERJAAN lintasan atletik di Stadion Oepoi Kupang yang baru akan berakhir tanggal 20 Agustus membuat turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2008 harus ditunda. Pertandingan baru akan digelar tanggal 23 Agustus. Demikian ketua panitia dari Mitra Sportindo Event Organizer, Pieter Fomeni di Stadion Oepoi, Minggu (27/7/2008).
"Sesuai jadwal seharusnya turnamen ini selesai tanggal 16 Agustus, namun karena ada pengerjaan lintasan sintetis berstandar internasional, maka turnamen harus ditunda. Sesuai pemberitahuan yang kami terima dari pengelola stadion, pengerjaan baru akan selesai tanggal 20 Agustus, sehingga turnamen baru akan digelar lagi tanggal 23 Agustus," jelas Pieter.
Terkait penundaan ini, Pieter mengatakan, telah disepakati oleh 16 klub peserta. "Klub-klub menyadari kondisi ini sehingga semuanya sepakat. Dan, karena ada konsekuensi terhadap dana bagi klub peserta, maka untuk klub dari Flores saat ini mereka belum datang. Kepada mereka, kami sudah beritahukan tentang kondisi ini sehingga mereka juga tidak datang untuk ikut pembukaan," jelasnya.
Dalam rentang waktu ini, Pieter mengatakan, klub-klub diminta untuk terus meningkatkan latihannya. "Undian grup sudah dilakukan sehingga kami persilahkan kepada klub-klub yang ada di Kota Kupang ini untuk saling ujitanding," ujarnya. (eko)

SYALOM