Senin, 11 Agustus 2008

Jangan Kasihani Kami


Oleh Sipri Seko

"JANGAN kasihani kami! Perlakukan kami sama seperti warga negara lain!" Kata- kata ini diingat betul oleh pengurus KONI NTT, Ir. Andre W Koreh, M.T saat mengikuti kegiatan olahraga cacat, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Para atlet cacat tidak mau dilihat sebagai orang lemah. Mereka tidak mau dianggap sebagai benalu yang hanya bisa tergantung pada orang lain. Mereka ingin diberi kebebasan untuk berekspresi. Karena mereka yakin kalau mereka bisa berbuat atau berprestasi sama seperti atlet normal lainnya.

Andre Koreh tak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat komitmen para atlet cacat. Dia trenyuh ketika melihat bagaimana atlet buta menjadi pemimpin upacara dan pembaca janji atlet. Seorang atlet berdiri memegang papan, dan seorang lainnya sambil meletaklan tangannya di atas huruf braille membaca janji atlet dengan lantang.

Artinya, meski istilah penyandang cacat sering diartikan sebagai setiap orang yang tidak mampu menjamin dirinya sendiri, seluruh atau sebagian sebagai hasil dari kecatatan mereka, baik yang bersifat bawaan maupun tidak dalam hal kemampuan fisik atau mentalnya, namun mereka tidak ingin disepelekan. Simplisius Paji Abe dkk sudah menunjukkan bahwa mereka juga bisa merebut tiga medali emas, sama seperti atlet normal di PON XVII 2008.

Akan ada kebanggaan tersendiri yang muncul dari diri mereka, karena mereka sudah mendapat penghargaan yang sepantasnya. Pemerintah tidak bisa menutup mata dengan prestasi mereka. Mereka merebut medali emas, sama seperti yang direbut atlet PON, sehingga mereka juga harus mendapat perlakuan yang sama.

Pemerintah dan KONI Propinsi NTT memberikan bonus uang kepada atlet cacat peraih medali Porcanas XIII 2008, sama seperti yang diterima atlet PON XVII. Medali emas dihargai Rp 50 juta, perak Rp 35 juta dan perunggu Rp 25 juta. Dengan demikian, Simplisius Paji Abe yang merebut tiga medali emas harus menerima Rp 150 juta, Maria Kolloh Rp 35 juta dan Tanty Yosefa Rp 25 juta.

Jumlah itu adalah hak mereka sehingga harus diberikan. Mereka tidak beda dengan atlet normal lainnya. Mereka juga telah mengharumkan panji Flobamora di Tanah Air. Demikian pernyataan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L Foenay, M.Si, yang juga adalah Ketua Harian KONI Propinsi NTT ini.

Dalam sebuah deklarasi yang dicetuskan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Resolusi 3447 (XXX) tertanggal 9 Desember 1975 di New York disebutkan bahwa penyandang cacat memiliki hak-hak yang melekat untuk menghormati martabat kemanusiaan mereka. Penyandang cacat, apa pun asal usul, sifat, keseriusan, kecacatan dan ketidakmampuan mereka, memiliki hak-hak dasar yang sama dengan warga negara lain yang berusia sama, termasuk hak untuk menikmati kehidupan yang layak, senormal dan sepenuh mungkin.

Pemberian bonus dari pemerintah kepada atlet cacat maupun normal memang sudah seharusnya dilakukan. Tak ada warga yang akan protes ketika Simplisius Paji Abe yang kakinya tidak normal, mampu berlari dengan cepat untuk menjadi juara atau Maria Kolloh dan Tanty Yosefa yang bisu, berjuang demi nama NTT, diberi bonus.

Kita harus memberikan salut kepada Drs. Frans Lebu Raya dan Ir. Esthon Foenay, M.Si, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) NTT, yang 'berani' memberikan bonus yang dalam sejarah olahraga NTT, adalah yang terbesar. Mereka tidak sedang mencari popularitas atau simpati karena baru saja memenangkan Pilkada Gubernur/Wagub NTT periode 2008-2013. Mereka tahu, seperti itulah sepantasnya penghargaan yang harus diberikan sebagai sebuah penghargaan atas prestasi yang mengharumkan nama daerah.

Penghargaan yang diberikan ini tidak sampai di situ saja. Sesuai instruksi Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan), Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT saat ini tengah mendata para atlet berprestasi untuk diproses pengangkatannya menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Proses ini dilakukan untuk menjawab keluhan beberapa mantan atlet nasional yang merasa tidak dihargai lagi oleh pemerintah ketika pensiun. **

Muka Tembok di Tembok China


Catatan dari Beijing

Laporan wartawan Surya Rusdi Amral

"JANGAN bilang pernah ke Tiongkok, kalau belum menginjak dan memanjat tembok raksasa," demikian goda pemandu wisata ketika kami kebingungan memilih obyek wisata yang paling menarik di negei tirai bambu ini, Minggu (10/8). Terlalu banyak obyek wisata yang layak dikunjungi karena Tiongkok memang kaya akan situs sejarah. Orang bilang, setiap jengkal tanah di Tiongkok menyimpan legenda sejarah.

Tiongkok memang sebuah negara yang mempunyai sejarah lama, kebudayaan gemilang dan kaya dengan sumber obyek wisata. Dengan 29 warisan alam dan warisan budaya dunia yang ada, Tiongkok telah memperlihatkan pada dunia bahwa rakyatnya sejak lama telah memiliki kecerdikan dan kerajinan membangun negaranya. Kini, Tiongkok tidak hanya tercatat sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya paling pesat, tapi juga mampu menggelar pesta Olimpiade yang paling spektakuler sepanjang sejarah.

Hujan deras menyambut kedatangan kami di tempat yang populer disebut The Great Wall itu. Berbekal jas hujan dan payung, kami menapak satu per satu anak tangga untuk mencapai puncak. Beruntung, di tengah jalan terdapat fasilitas cable car (kereta gantung) yang bisa membawa kami ke salah satu puncak tembok raksasa tanpa bersusah payah. Rasa ingin tahu terus mengganggu pikiran kami, apalagi obyek wisata ini telah mendapat cap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

Selama ini kami hanya mengenal cerita tembok raksasa dari film, foto maupun lukisan serta buku sejarah. Obyek wisata ini memang luar biasa. Panjang temboknya saja mencapai 7.000 kilometer dan merupakan bangunan terpanjang dalam sejarah yang pernah dibuat manusia. Konon, inilah bangunan satu-satunya di dunia yang bisa dilihat dari bulan.

Tembok ini melintasi lima provinsi di Tiongkok, membentang dari kawasan Shanhai Pass di timur hingga Lop Nur di barat. Tinggi temboknya belasan meter, dengan lebar yang sama di bagian bawah dan atasnya sekitar lima meter. Dalam jarak setiap 180-270 meter terdapat semacam menara pengintai yang tingginya mencapai 11-12 meter.

Di Indonesia, tidak ada bangunan yang menyerupai tembok raksasa itu. Namun, sebutan muka tembok lumayan banyaknya. Muka tembok diasosiasikan sebagai orang yang tak punya malu untuk berbuat kecurangan, korupsi dan maksiat. Sebutan ini sering dilekatkan pada pejabat birokrat yang korupsi, politikus yang menghalalkan segala cara serta kalangan bisnis yang gemar menyuap pejabat. Di Tiongkok, sudah banyak koruptor dihukum mati, sedang di Indonesia baru sebatas hukuman penjara.

Tidak hanya di Indonesia, manusia julukan muka tembok juga ada di Tiongkok. Mereka adalah pedagang kaki lima yang ada di sepanjang anak tangga tembok raksasa itu. Tidak sedikit pengunjung di tempat ini merasa tertipu oleh ulah pedagang yang memaksa pengunjung membeli barang dagangannya dengan harga tinggi. Seorang pengunjung asal Banjarmasin, misalnya, terpaksa membayar cindera mata seharga 40 yuan, padahal harga barang itu hanya sekitar 10 yuan.

"Mereka (pedagang) menjebak saya setelah tawar menawar di atas tulisan kertas. Setelah barang diambil, pedagang minta barangnya dibeli dengan harga tinggi dan transaksi tidak dapat dibatalkan," keluhnya.

***
Memang pantas Tembok China disebut sebagai salah satu keajaiban dunia. Rasanya, tidak ada lagi manusia yang bisa membangun tembok sepanjang itu. Dibutuhkan waktu lebih dari 2.000 tahun untuk membangun tembok raksasa yang dibuat dengan struktur yang berbeda-beda disesuaikan dengan permukaan bumi yang berbeda pula. Ini juga sekaligus memperlihatkan kepakaran dan kecerdikan bangsa Tiongkok telah lama ada dalam teknik bangunan.

Sebagai proyek pertahanan perang, tembok ini dibuat menurut tinggi rendah lereng gunung dan melintasi padang pasir, padang rumput dan tanah payau. Tembok besar umumnya dibangun di puncak gunung, di sebelahnya adalah lereng gunung terjal yang curam. Pihak musuh akan sukar untuk melancarkan serangan terhadap prajurit yang bertahan di tembok itu.

Tembok raksasa ini dibangun dengan batu dan batu bata panjang, serta tengahnya diisi dengan tanah atau bebatuan. Tinggi tembok umumnya belasan meter dan lebar di atasnya kira-kira lima meter, cukup untuk prajurit bermuda berjalan sejajar di atasnya, mengangkut senjata dan bahan makanan. Prajurit boleh turun dan naik menelusuri tangga dan pintu yang dibuat di sebelah dalam. Banyak kubu pertahanan dibuat sepanjang tembok itu.

Tembok China yang termasyhur ini bisa dimaknai sebagai semangat dan kehebatan bangsa Tiongkok. Bagi kita di Indonesia, semangat dan kehebatan itu bisa dijadikan inspirasi untuk membangun bangsa yang besar, tetapi sekali lagi tidak mencontoh kepalsuan-kepalsuan yang ada pada barang tiruan produk negeri tirai bambu itu. Ambil yang asli-asli saja. **

KURSI


Oleh Dion DB Putra

KURSI kembali membawa pesan menyenangkan. Menambah daftar ceria di tengah masa bulan madu politisi Nusantara. Siapa saja yang mendamba sapaan wakil rakyat yang terhormat, peluang meraih kursi kini terbuka semakin lebar. Banyak kursi kosong telah menanti untuk ditempati tuan dan puan. Pemilu 2009 diam-diam membuka lapangan kerja baru. Banyak orang akan naik status. Status sosial primadona sebuah negeri dengan jumlah partai terbanyak di dunia.

Berterima kasihlah kepada wakil rakyat hasil pemilu lalu yang membuat UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPD, DPR RI dan DPR(D) Propinsi/Kabupaten/Kota. Ini sungguh regulasi terbaru pembawa senyum. KPU Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui juru bicara Hans Ch Louk tanggal 8 Agustus 2008 mengumumkan tambahan jumlah kursi DPRD di sejumlah daerah Flobamora. Koran atau majalah yang mewartakan kabar gembira itu telah dikliping oleh para kandidat wakil rakyat!

Seperti diungkapkan Hans Louk, jumlah kursi DPRD di Kabupaten Sumba Timur, Timor Tengah Selatan (TTS), Manggarai Barat dan Lembata berubah pada Pemilu 2009. Keempat daerah itu masing-masing tambah jatah lima kursi. DPRD Kabupaten TTS naik dari 35 menjadi 40 kursi, Manggarai Barat naik dari 25 menjadi 30 kursi, Sumba Timur naik dari 25 menjadi 30 kursi dan Lembata naik dari 20 menjadi 25 kursi. Perubahan itu mengacu pada pertimbangan luas wilayah dan jumlah penduduk.

Regulasi terbaru juga tidak menyusahkan kabupaten induk. Tiga daerah di NTT yaitu Kabupaten Ngada, Sumba Barat dan Manggarai yang telah melahirkan kabupaten anak bernama Nagekeo, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Manggarai Timur, jumlah kursi DPRD masih seperti dulu. Tidak berkurang jumlahnya. Sama dengan Pemilu 2004. Luas wilayah dan jumlah penduduk yang nyata-nyata berkurang karena pemekaran tidak dipertimbangkan. Induk senang, sang anak senang. Prinsipnya sama-sama senang. Begitulah 'prestasi' wakil kita hasil pemilu empat tahun silam, selain piawai menambah jumlah partai peserta Pemilu 2009 hingga Anda bingung mengingat nama, logo dan benderanya karena beti alias beda tipis.

Secara keseluruhan terjadi penambahan jumlah kursi sebanyak 125 untuk semua DPRD kabupaten/kota se-NTT pada Pemilu 2009. Dalam Pemilu 2004, jumlah total kursi DPRD 480. Tahun depan jumlahnya 605 kursi. Bayangkan kalau 605 orang itu berkumpul. Dibutuhkan aula atau gedung dengan luas memadai agar bisa menampung mereka. Jumlah itu pun suatu kekuatan besar. Bila mereka berontak demi rakyat, berteriak lantang demi keadilan dan kemakmuran marhaen, gegerlah beranda Flobamora karena keceriaan. Apabila mereka diam dan main mata untuk kuasa dan harta, remuk-redamlah nusa tercinta. Kita terantuk lalu masuk lubang yang sama.

***
TAMBAH kursi tambah ongkos. Ongkos politik. Ongkos demokrasi. Itu konsekwensi ikutannya. Segera muncul tambahan pos biaya, daftar pengeluaran untuk ini dan itu. Mulai dari gaji bulanan, tunjangan rumah, kesehatan, tunjangan komunikasi, biaya studi banding dan macam-macam nama yang bakal muncul kemudian. Akan ada ruang kerja baru, mobil baru, kendaraan operasional baru bahkan gedung baru. Pokoknya serba baru.

Alokasi APBD dan ABPN bagi wakil rakyat jelas bertambah. Dengan regulasi pemilu yang baru, secara nasional akan terjadi penambahan jumlah anggota DPRD cukup signifikan. Negeri bhineka ini memasuki era multipartai nyaris tak terkendali. Republik seribu partai, seribu wajah wakil rakyat. Indonesia pun 'ramai rasanya'. Waspadalah!

Pramoedya Ananta Toer dalam novel Korupsi (Hasta Mitra, 2001) berkisah mengenai Bakir, seorang pejabat yang hidup sederhana bersama istri dan empat anaknya. Kendati memimpin sebuah kantor, biaya hidup keluarganya semata bersumber dari gaji dan tunjangan sebagai pegawai negeri. Belasan tahun hidupnya begitu-begitu saja. Anak buahnya di kantor malah lebih makmur. Tinggal di rumah mewah dan memiliki mobil mahal. Bakir tidak mendapat respek dari pegawai kecil di kantornya. Sebaliknya para kepala bagian yang adalah bawahan Bakir, justru lebih dihormati karena bisa membagi-bagikan uang kepada para pegawai kecil.

Lama-kelamaan Bakir tak tahan juga. Dia mulai berhubungan dengan seorang taoke yang selama ini punya hubungan dengan kepala bagian di kantornya. Sekali menikmati uang haram dari taoke, Bakir ketagihan. Dia kaya raya dalam tempo singkat. Gaya hidupnya berubah. Dia akrab dengan wanita, alkohol dan judi. Bakir cerai dan kawin lagi dengan wanita muda yang cantik. Di akhir cerita, Pramoedya menulis, Bakir tertangkap dan masuk penjara. Istri mudanya dibekuk bersama teman selingkuh karena menggandakan uang. Bakir menderita, menyesal dan bertobat. Akhir kisah yang idealis dari seorang Pramoedya.

Dalam kehidupan nyata, boleh jadi tidak selalu demikian. Seorang aktivis idealis terpilih menjadi wakil rakyat. Dua tahun pertama bersih, masih dapat kendalikan diri. Tahun ketiga sudah tak tahan. Larut dan lupa daratan. Maka sebagai rakyat, harapan beta dan Anda mungkin sama dan tidak amat banyak. Jumlah kursi DPRD boleh bertambah asal berkurang jumlah calo proyek, preman berdasi, koruptor berjas, pemeras dan penggarong yang sehari-hari bersidang di rumah rakyat.

(email: dionbata@poskupang.co.id)

Orang Kaya di Kota Terlarang


Catatan dari Beijing

Oleh Dodo Hawe

SEBAGAI obyek wisata paling menarik di dunia, Forbidden City atau Kota Terlarang bukan sekadar istana kerajaan di Tiongkok, tapi tempat berkumpulnya orang-orang kaya dari berbagai penjuru dunia. Mereka sedang menghamburkan uangnya bersama jutaan wisatawan mancanegara lainnya ke Beijing bersamaan dengan maraknya pesta olah raga musim panas Olimpiade ke-29 di Beijing, 8-24 Agustus 2008 ini.

Tidak semuanya yang hadir di istana ini orang kaya asli, ada juga orang kaya tiruan. Mereka umumnya menyesuaikan diri dengan kondisi di Tiongkok yang dikenal dengan produsen utama barang tiruan. Orang kaya dari Indonesia misalnya, banyak yang tampil mencolok dengan hiasan jam tangan mahal bermerek ”Rolex” yang di Tanah Air berharga sekitar Rp 40 juta. Belum lagi tas, sepatu dan pakaian dengan brand ternama di dunia ikut menghiasi pengunjung di tempat ini.

Barang-barang mewah tiruan ini memang mudah dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan di Kota Beijing, seperti di Yashow Market, Nanjang Road atau Yu Garden. Barang-barang mewah ini dapat dibeli dengan harga super miring atau satu persen dari harga aslinya.

Di Yashow Market misalnya, pusat perbelanjaan ini mirip Pusat Perbelanjaan Mangga Dua di Jakarta atau Pasar Atom di Surabaya yang harga barangnya bisa ditawar 70 sampai 90 persen dari harga yang ditawarkan. Tentu sangat menggiurkan bagi wisatawan untuk terus mencari dan menawar barang yang diinginkan.

Jam tangan ”Rolex” yang banyak digunakan pengunjung di Forbidden City misalnya, ditawarkan seharga 500 Yuan atau sekitar Rp 650.000. Namun, dengan sedikit kemampuan seni menawar, pedagang akan melepas jam tangan palsu itu hanya dengan harga 70 Yuan atau sekitar Rp 91.000. Tanpa terasa, sisa uang yang masih ditangan bisa habis dan diganti oleh barang-barang tiruan khas Tiongkok.

***

SELEPAS berbelanja di Yashow Market, tidak puas rasanya bila tidak mengunjungi Forbidden City yang letaknya persis di tengah kota kuno Beijing. Obyek wisata ini merupakan istana kerajaan selama periode Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Di Tiongkok, lokasi tersebut umum dikenal dengan nama Gu Gong atau "bekas istana". Nama yang sekarang dikenal secara umum sebagai "Kota Terlarang" merupakan terjemahan dari Zijin Cheng yang berarti "Kota Terlarang Ungu".

Obyek wisata ini memiliki lahan seluas 72 hektar, jumlah kamarnya 9.999 ruang. Masing-masing kamar tergabung dalam beberapa bangunan megah dengan arsitektur asli Tiongkok yang menawan. Setiap bagian atap bangunan diukir dengan lukisan naga yang melambungkan kekuasaan sang kaisar. Kawasan yang dilengkapi parit dan tembok setinggi 10 meter itu terbagi dalam dua bagian. Di bagian depan yang ada di bagian selatan, berisi enam bangunan utama tempat para kaisar menjalankan kegiatan mengurus kerajaan. Sementara di belakangnya atau bagian utara merupakan tempat tinggal kaisar dan keluarganya.

Di tempat ini ada beberapa pintu masuk. Pintu utara biasa dijadikan para raja mencari selir-selir untuk dijadikannya sebagai pemuas nafsu. Pada zamannya, masing-masing raja dari suatu dinasti mempunyai 3.000 selir.

Menurut cerita, para selir saat menemui raja juga harus telanjang bulat, demi keselamatan sang raja. Bila para selir mengenakan pakaian dikhawatirkan bisa membawa senjata. ”Biasanya raja hanya menggunakan para selir beberapa kali saja. Bahkan saking banyaknya, ada yang tak sempat berhubungan seks dengan raja, sehingga akhirnya tua dan masih perawan,” urai Staly Lu, pemandu wisata di tempat itu. ***

Jumat, 08 Agustus 2008

PASI dan PSSI NTT Protes Sirkuit Oepoi

PROYEK lintasan atletik Stadion Oepoi Kupang senilai Rp 5 miliar lebih yang menggunakan bahan sintetis menuai protes dari Pengprop PASI dan PSSI NTT. Pasalnya, pengerjaan lintasan membuat lebar lapangan sepakbola berkurang dan layout lintasan atletik tidak sesuai ketentuan PASI.

Kepada Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) NTT, Drs. Herman Sagabara di sela-sela meninjau pengerjaan proyek tersebut bersama Sekretaris Pengprop PSSI NTT, Marthinus Meowatu mengatakan, ukuran standar lapangan sepakbola adalah 110 x 75 meter. Namun, saat diukur, lebar lapangan hingga tepi saluran pembuangan air hanya 68 meter.

"Saya sarankan agar lanjutan pengerjaan lintasan ini ditinjau kembali sebelum sintetis dipasang. Sebelumnya lebar dan panjang lapangan sudah memenuhi standar minimal FIFA dan PSSI, namun sekarang sudah tidak layak. Bagi PSSI, pengerjaan lintasan ini juga mubazir dan tidak berguna apabila permukaan lapangan tidak direhab. Karena sistem drainase dari dalam lapangan akan sangat berpengaruh terhadap lintasan sintetis. Kalau pengerjaan ini terus dilakukan, maka lapangan sepakbola tidak layak digunakan karena hasil pertandingan tidak akansah," ujar Meowatu, Rabu (14/11/2007).

Tteknis dari Pengprop PASI NTT, Drs. Lukas M Boleng, M.Kes, mengatakan, yang harus ditinjau dalam pengerjaan ini adalah lintasan lomba lari 100 meter harus di depan tribun utama bukan di tempat lain. "Lintasan lomba 100 meter harus di depan tribun utama dan itu sudah baku. Selain itu, lintasan harus berjumlah delapan buah masing-masing dengan lebar 2,22 meter. Saran kami, Dispora mendiskusikannya dengan PASI NTT yang tahu hal teknis seperti ini," ujar Boleng.

Pantauan Pos Kupang, saat ini pelaksanaan pekerjaan terus dilaksanakan. Lintasan atletik yang dibangun tersebut dikerjakan masuk ke dalam lapangan sepakbola sepanjang delapan meter. Di sekeliling lapangan juga sudah dibuat saluran drainase. Sementara landasan lintasan di beberapa bagian sudah dipenuhi dengan material on side namun belum disebarkan di atas semacam penyaring yang terbuat dari sintetis.

Sekitar tiga orang pekerja yang hendak dimintai komentarnya enggan menjawab. Mereka tak memberikan informasi tentang siapa perusahaan yang mengerjakan proyek yang didanai APBD NTT dan bantuan pusat tersebut. Papan nama proyek pun tak tampak di sekitar lokasi proyek. (eko)


Dispora bertanggungjawab

Pelaksana Tugas (Plt) Kadispora NTT, Drs. Herman Sagabara mengatakan Dispora NTT akan bertanggungjawab terhadap persoalan ini. Namun, pihaknya belum bisa menjelaskan secara detail pertanyaan-pertanyaan tersebut, karena harus berkoordinasi dengan pengelola proyek pada Subdin Sarana dan Prasarana.

"Kasubdin Sarana dan Prasarana dan tim teknisnya sudah kami hubungi namun belum berhasil. Kami sudah meminta mereka melaporkan secara rinci proyek ini, mulai dari nilainya, sumber dana, arsitektur dan teknis lainnya, karena kami sendiri pun hingga saat ini belum tahu mengenai proyek ini, apalagi tentang perusahaan atau kontraktornya. Saya akui bahwa koordinasi kami di dalam kurang, namun karena ini sudah menjadi masalah, maka kami akan meminta mereka untuk segera melaporkannya. Dalam satu atau dua hari ini, kami akan menjelaskannya," jelas Sagabara yang didampingi beberapa kepala seksi dan stafnya.

Menurut Sagabara, berdasarkan data yang diterima, saat ini fisik proyek sudah mencapai 45 persen, sementara dana yang digunakan baru uang muka proyek. Sagabara mengakui saran dari PASI dan PSSI NTT itu akan dilaporkan secara resmi kepada Pemerintah Propinsi NTT.

Kasubdin Sarana dan Prasarana, Dispora NTT, Patrisius Cole yang dihubungi di ruang kerjanya, Rabu (14/11/2007), tidak berada di tempat. Informasi dari seorang stafnya Cole tidak masuk kerja. Sementara, staf teknis Boya, yang langsung mengawasi proyek tersebut saat ini sedang berada di Jakarta. Patris Cole yang beberapa kali dikonfirmasi melalui telepon genggamnya belum berhasil dihubungi. (eko)

Ferry rebut perunggu Singapura Open


ATLET atletik Nusa Tenggara Timur (NTT), Ferry Subnaefu kembali mengukir prestasi internasional. Pada kejuaraan lari maraton Singapura Open yang berlangsung di Singapura, Minggu (5/12), Ferry masuk urutan ketiga dan berhak atas medali perunggu. Kepada Pos Kupang melalui telepon, Senin (6/12), Ferry mengatakan juara pertama direbut pelari Kenya dan kedua pelari Amerika Serikat (AS).

Catatan waktu yang dibuat Ferry adalah 84 menit. Catatan waktu tersebut, menurut Ferry, jauh di bawah rekor yang dipegangnya. "Saya memang kesulitan. Atlet yang dilepas jumlahnya ribuan orang karena selain marathon juga ada semi marathon (21 km) dan 10 km. Atlet yang banyak menyulitkan saya untuk bisa maju ke depan, sementara saya berada di posisi start belakang," ungkap Ferry.

Ferry mengatakan rasa bangganya atas prestasi yang diperoleh tersebut meski persiapannya tidak begitu bagus. "Setelah PON XVI saya praktis istirahat total. Baru dua minggu terakhir kembali latihan. Jadi saya bersyukur bisa juara," ujar Ferry.

Menurut Ferry, dua pelari marathon Indonesia lainnya yakni Erni Ulatningsih (Jawa Tengah) dan I Gde Karangasem (Jateng) gagal meraih juara. Sementara untuk nomor semi marathon, juara pertama, kedua dan ketiga semuanya direbut atlet Indonesia. Menurut Ferry, juara pertama direbut Noce (Jawa Tengah), Wahab (NTB) dan Yehusa dari Propinsi Bangka Belitung.

Ferry menambahkan bahwa usai mengikuti Singapura Open, dirinya langsung menuju ke Surabaya untuk mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) ASEAN. Menurut Ferry, Selasa (7/12) ini, ia akan mulai berlomba di nomor 5.000 meter. Ditanya mengenai kesiapannya untuk nomor tersebut Ferry mengaku tidak ada masalah.

"Ini memang bukan nomor spesialisasi saya, tetapi atlet yang ikut POM kan belum tentu atlet nasional di daerahnya. Jadi saya masih memiliki keyakinan untuk bisa bersaing," ujarnya. Hari ini atlet putri NTT lainnya, Oliva Sadi juga akan berlomba di nomor 800 meter. (eko)

Mandiri jumpa AS Roma

DUA tim unggulan, Mandiri FC dan AS Roma akan bertemu di babak perempatfinal. Kepastian itu diperoleh setelah Mandiri bermain 1-1 me-lawan Putra Nagekeo dalam pertandingan akhir penyisihan grup di Sta-dion Oepoi-Kupang, Rabu (4/7/2007). Pada saat yang sama, AS Roma menang 3-0 atas Celebes Makassar.

Dengan empat poin yang dikantonginya, Mandiri FC tampil sebagai runner-up Grup C. AS Roma yang mengumpulkan poin sempurna jadi juara Grup B. Perempaftinal antara Mandiri melawan AS Roma akan berlangsung, Jumat (6/7/2007).

Lolosnya Mandiri melalui pertandingan yang ketat. Melawan Putra Nagekeo yang butuh tiga poin untuk lolos, Mandiri tidak bisa bermain lepas. Bahkan sepanjang babak kedua, Mandiri selalu berada di bawah tekanan Nagekeo. Tim asuhan Felix Dando dan Helmon Liko begitu mendominasi jalannya pertandingan.

Meski demikian, upaya-upaya me-reka selalu kandas di lini belakang Mandiri yang dikoordinir Lambert Kadju dan Alimin. Selain itu, kiper Mandiri, Ronald Muchtar membuat penyelamatan gemilang sehingga menggagalkan semua peluang emas Nagekeo.

Nagekeo unggul lebih dulu pada menit ke-20. Pemain senior Klethus Gabhe lewat akselerasinya berhasil menaklukkan Ronald. Gol itu mengejutkan anak-anak Mandiri. Tak ingin kecolongan, Pelatih Mandiri, Lukman Hakim langsung menarik tiga pemain, Ones, Ngurah dan Thomas untuk memasukkanJacky, Beni dan Pieter. Strategi ini cukup manjur. Terbukti serangan-serangan mereka lebih bertenaga untuk menekan pertahanan Nagekeo.

Akhirnya pada masa injury time babak pertama, Pieter Fomeni berha-sil menyamakan kedudukan. Terjadinya gol balasan itu berawal dari kesalahan pemain bertahan Nagekeo, Us Dhiu. Us Dhiu yang menguasai bola sengaja menjegal kaki pemain Mandiri, Atus. Dan, Pieter yang menjadi algojo melepaskan tendangan ke tiang jauh yang tidak ditangkap sempurna kiper Nagekeo, Hans Dore.

Di babak kedua, suhu permainan sempat memanas. Target kemenangan membuat Putra Nagekeo tiada henti menggempur pertahanan Mandiri. Pertandingan cenderung keras dan terjadi sejumlah pelanggaran. Beberapa pemain di antaranya, bahkan nyaris berkelahi. Beruntung ketegangan itu bisa didinginkan sehingga tidak ada kericuhan berkelanjutan.Suasana pertandingan menjadi kurang elok ditonton.

Putra Nagekeo sebenarnya memperoleh sedikitnya tiga peluang emas pada babak kedua. Dua tembakan dan satu sundulan nyaris menjebol gawang Mandiri. Dalam suatu kesempatan, pemain depan Nagekeo tinggal menghadapi gawang yang terbuka lebar, tetapi bola yang diceplos tidak mengarah ke mulut gawang. Skor imbang 1-1 bertahan hingga wasit Idris Boli meniup pluit panjang. (eko)


Celebes Makassar tersingkir

PERJUANGAN PS Celebes Makassar untuk meraih satu tiket perempatfinal dari Grup B berakhir sudah. Celebes kalah 0-3 melawan AS Roma dalam pertandingan di Stadion Oepoi-Kupang, Rabu (4/7/2007).

Selama babak penyisihan grup, Celebes meraih tiga poin hasil satu kemenangan atas PS Golewa dan dua kali kalah dari Bon Kota Adonara dan AS Roma. AS Roma tampil sempurna dengan sembilan poin dari tiga kemenangan. Tidak hanya itu, AS Roma hingga saat ini juga menjadi tim tersubur dengan mencetak sebelas gol. Striker Decky Kadja menjadi top skorer sementara dengan empat gol.

Pelatih AS Roma, Zeth Adoe tidak ingin kehilangan muka dari pertandingan ini. Meski sudah pasti lolos, namun dia tetap menurunkan skuad utama. Buktinya, baru satu menit pertandingan berjalan, Oncil Detaq membuka keunggulan AS Roma. Gol ini berawal dari serangan cepat yang dirancang Jimi Hosana. Umpan terobosan yang tidak disangka lini belakang Celebes langsung disambut Oncil yang melepaskan tendangan lob ke sudut jauh. Kiper Celebes, Jufri, yang terlanjur maju tidak bisa menjangkau bola.

Setelah gol ini, Celebes sebenarnya mampu mengimbangi permainan AS Roma. Permainan ngotot anak-anak asuhan Hamril Warsita dan Rudi memaksa pemain depan AS Roma untuk turun membantu pertahanan. AS Roma lebih banyak mengandalkan serangan balik dengan memanfaatkan kecepatan Oncil, Erens, Decky dan Yus. Hingga turun minum tidak ada tambahan gol.

Babak kedua berjalan 15 menit saat Zeth Adoe mena-rik Oncil, Hasim dan Jimi untuk memasukkan Kesa, Johni dan Okto. Baru satu menit masuk, Kesa mencetak gol kedua AS Roma lewat tendangan first time indah. Beberapa saat kemudian, giliran Okto yang mencetak gol ketiga AS Roma.

Zeth Adoe mengatakan, seharusnya AS Roma mencetak lebih dari tiga gol, namun banyak peluang yang disia-siakan. (eko)


Komitmen Dji Sam Soe untuk sepakbola

HASIL yang maksimal tidak serta merta dicapai. Butuh pengorbanan dan waktu yang lama. Sama halnya dengan menggelar turnamen sepakbola. Untuk mendapatkan pemain yang berkualitas, turnamen harus digelar secara kontinyu.

Dji Sam Soe sebagai sponsor utama turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup memiliki komitmen untuk secara rutin menggelar turnamen sepakbola. Komitmen itu diungkapkan Regional Marketing Manager Bali dan Nusa Tenggara, PT HM Sampoerna Tbk, Tiarso Widodo di sela-sela menonton pertandingan antara AS Roma melawan Celebes Makassar di Stadion Oepoi-Kupang, Rabu (4/7/2007).

Menurut Widodo, tujuan Dji Sam Soe untuk menggelar turnamen di Kupang untuk menggairahkan sepakbola NTT. NTT, kata Widodo, sebenarnya memiliki talenta pemain bola yang sangat potensial, namun mereka belum diasah secara benar melalui kompetisi reguler.

"Dji Sam Soe dan sponsor pendukungnya ingin agar suatu saat nanti sepakbola NTT bisa berbicara di tingkat nasional. Potensi untuk itu ada. Baik pemain maupun penonton sangat mendukung. Tapi untuk mencapai target itu tidak langsung jadi. Menggelar turnamen pun tidak bisa hanya sekali, tapi harus secara kontinyu," demikian Widodo.

Widodo yang bersama timnya datang dari Denpasar-Bali untuk menyaksikan langsung jalannya turnamen ini, mengatakan berdasarkan laporan yang diterimanya, ada trend peningkatan prestasi dalam sepakbola NTT. Khusus untuk turnamen Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup saja, kata Widodo, kualitas tim pesertadari tiga kali penyelenggaraan mengalami peningkatan.

"Ada trend peningkatan prestasi. Kalau tahun ini sudah ada peningkatan, maka saya harapkan tahun depan lebih bagus lagi. Kita semua berharap agar sepakbola NTT terus berkembang," ujarnya. Widodo mengajak seluruh masyarakat dan sponsor pendukung di NTT tetap mendukung pembinaan sepakbola. (eko)

Paidjo rebut emas pertama


ATLET Kabupaten Kupang, Merry Paidjo, berhasil merebut medali emas pertama Pekan Olahraga Daerah Daratan Timor (Pordat) 2005 cabang atletik nomor lari 5.000 meter putri di lintasan atletik Stadion Oepoi-Kupang, Selasa (25/10). Merry masuk di urutan pertama dengan catatan waktu 20.01 menit. Juara kedua dan ketiga direbut atlet Timor Tengah Selatan (TTS), Desty Konkase (20.08) dan Sarce Nenokeba (20.38).

Perlombaan atletik dilakukan usai pembukaan Pordat 2005 oleh Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Atletik pada Pordat 2005 ini melombakan tiga nomor putra dan putri, yakni 1.500 meter, 5.000 dan 10.000.

Pada perlombaan yang disaksikan ratusan penonton itu, sejak dilepas oleh Willem Radja dari garis star, dua atlet TTS, Sarce Nenokeba dan Desty Konkase, yang saat ini menghuni PPLP NTT langsung memimpin. Di belakangnya, Merry Paidjo, Novrianti Nope (Kota Kupang), Sherly Tsu (Kabupaten Kupang) yang juga atlet PPLP terus membuntuti. Namun di putaran kelima, perlahan tapi pasti Desty, Sarce dan Merry mulai meninggalkan lawan-lawannya. Sementara itu, atlet TTU, Elisabeth Akon dan dua atlet Belu, M Rangga, dan Angelina Soares jauh tertinggal.

Strategi yang dipakai Merry dalam perlombaan ini cukup bagus. Sadar kalau dua lawannya lebih diunggulkan untuk menang, Merry terus menempel di posisi ketiga dengan tetap menjaga jarak. Memasuki tiga putaran terakhir, Merrry berhasil masuk di posisi kedua di depan Sarce Nenokeba. Dan, mengandalkan langkahnya yang panjang, Merry berhasil mengambil alih pimpinan lomba di dua putaran terakhir yang dipertahankannya hingga finis.

Sarce Nenokeba dan Desty Konkase yang ditemui usai perlombaan tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Keduanya mengaku hanya kalah strategi dari Merry ternyata lebih siap untuk menang.

"Saya kecewa karena kalah. Namun ini akan menjadi catatan sehingga saat lomba nomor 10.000 meter kami bisa mempersembahkan medali emas bagi TTS," ujar Sarce Nenokeba.

Pelatih atletik NTT, Agus Parera, yang dimintai komentarnya tentang hasil tersebut menyatakan para atlet masih perlu latihan secara serius. "Catatan waktunya belum terlalu bagus. Catatan waktu ini masih jauh di bawah rekor NTT. Mereka memang atlet baru sehingga masih butuh dua hingga tiga tahun lagi untuk mencapai rekor yang bagus," ujar Parera.

Usai perlombaan dilakukan upacara penghormatan pemenang dilanjutkan dengan pengalungan medali oleh Wakil Bupati TTS. Drs. Pieter Lobo. Usai pengalungan medali dilakukan foto bersama para atlet juara dengan Drs. Pieter Lobo, Wakil Ketua II/Ketua Harian KONI NTT, Esthon Foenay, M.Si, Ketua Harian KONI Kota Kupang, Yonas Salean, dan para pejabat lainnya. (eko)

Pordat untuk capai prestasi


"HARUS kita akui bahwa perkembangan olahraga di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih jauh dari apa yang diharapkan. Untuk itu tugas dan tanggung jawab kita adalah berusaha untuk memajukannya. Saya harapkan Pordat 2005 ini menjadi ajang untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi."

Demikian Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, ketika membuka Pekan Olahraga Daerah Daratan Timor (Pordat) di Stadion Oepoi-Kupang, Selasa (25/10). Hadir dalam acara pembukaan itu, Wakil Ketua II/Ketua Harian KONI NTT, Esthon Foenay; Ketua DP RD NTT, Mel Adoe; Danrem 1621, APJ Noch Bolla; Danlanud El Tari Kupang, Lalu Amdaniq; Walikota Kupang, SK Lerik; Wakil Bupati Belu, Gregorius Mau Bili; Wakil Bupati TTS, Drs. Pieter Lobo, dan para pejabat lainnya.

Lebu Raya berharap para atlet, pelatih dan ofisial serta pecinta olahraga di NTT untuk memanfaatkan Pordat 2005 ini sebagai ajang menguji kemampuan menuju prestasi gemilang. Untuk mencapai itu Frans Lebu Raya meminta agar persaudaraan, kebersamaan dengan menjunjung tinggi sportifitas harus tetap terjalin.

"Saya berpesan agar jalinan kebersamaan, persaudaraan untuk mencapai prestasi dimulai dari Pordat ini. Tekad untuk menang boleh dicanangkan oleh semua kontingen, tetapi saya minta untuk tetap menjunjung tinggi sportifitas walaupun harapan untuk menang terus bergelora dalam dada," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Pordat 2005, Yonas Salean, dalam laporannya mengatakan, Pordat 2005 diikuti oleh lima kabupaten di daratan Timor, yakni Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU dan Belu. Sebanyak 1.300 atlet yang akan memperebutkan 1.100 medali emas, perak dan perunggu akan bertanding dan berlomba di 13 cabang olahraga. Cabang olahraga pada Pordat 2005 ini, yakni atletik, tinju, kempo, bolavoli, sepaktakraw, pencaksilat, karate, catur, tenis meja, tenis lantai, bulutangkis, taekwondo dan bermotor.

Upacara pembukaan ditandai dengan pelepasan balon oleh Wakil Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, bertuliskan Pordat 2005. Usai pembukaan dilanjutkan dengan show drum band SMAK Giovanni Kupang. Setelah itu dilanjutkan dengan penampilan eksibishi atlet binaraga NTT, yakni Made Dwija, Ahmadi Kandolang, Dedy Koso dan Jefren Asamani. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan perlombaan cabang atletik nomor lari 5.000 meter. (eko)

Tunas Muda spektakuler


SEPAKBOLA tak bisa ditakar secara matematis. Kualitas individu, pengalaman bertanding dan ambisi belum cukup untuk mengantar sebuah tim menuju kemenangan. Motivasi bertanding, tekad untuk menang dan ‘tak merasa diri besar’ juga merupakan kekuatan yang tidak bisa disepelekan.

SSB Tunas Muda menampilkan itu semua di Stadion Oepoi-Kupang, Jumat (4/8) petang. Melawan PS Britama Kupang, SSB Tunas Muda tampil spektakuler untuk memetik prestasi yang tidak banyak diprediksi komunitas masyarakat gila bola (Mas Gibol) Kota Kupang. Bermain imbang 1-1 dalam pertandingan waktu normal 120 menit, tim asuhan Johni Lumba dan Anton Kia itu membungkam tim unggulan, PS Britama Kupang 3-2 dalam drama adu penalti. Tunas Muda lolos ke final untuk melawan AS Roma. Final ideal yang ditunggu Mas Gibol.

Bermain di atas angin, Britama Kupang menguasai permainan sejak kick-off dimulai wasit Herman Willa. Alfred Come, Umbu Yogar, Castello dan Jimi Lebao menguasai irama permainan. Umpan-umpan matang mereka cukupo menekan pertahanan Tunas Muda. Absennya Primus Sivelmus karena akumulasi kartu kuning ternyata tidak berpengaruh pada lini depan Britama. Ferdy Pere yang bertandem dengan Hendra Takunama memainkan perannya dengan baik.

Namun mereka harus berusaha keras untuk menaklukkan Leandro, Pinto Fernandez, Pinto dan Regi Kapilawi di lini belakang Tunas Muda. Permainan lugas Pinto dkk membuat gawang Dion Fernandez selamat dari kebobolan. Usaha-usahaBritama Kupang membuahkan hasil pada menit ke-18. Berawal dari umpan Hendra, Ferdy Pere yang berdiri bebas menanduk bola masuk ke gawang Dion.

Keunggulan bagi Britama tidak mengubah tempo permainan. Namun, anak-anak Tunas Muda mulai berani menekan. Maksi Kami yang menjadi penyerang lubang berhasil mengkoordinir permainan. Terbukti pada menit ke-27 Tunas Muda menciptakan kemelut di depan gawang Britama yang berawal dari tendangan sudut. Tak kuat menahan gempuran, bek Britama, Gadri menyentuh bola dengan tangan di dalam kotak penalti. Wasit Herman Willa menunjuk titik penalti dan Maksi Kami sukses menaklukkan Ridwan Kamahi. Kedudukan 1-1 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua permainan masih berlangsung imbang. Tunas Muda yang begitu termotivasi karena mampu menyamakan kedudukan bermain hidup di semua lini. Sementara di kubu Britama, para pemain terlihat kelelahan. Sadar akan kondisi pemainnya, Helmon Liko menarik Alfred, Umbu Yogar dan Ferdy Pere dan memasukkan Syahlan Umar, Keny dan Sole. Pergantian ini menambah daya dobrak Britama. Namun, usaha-usaha mereka dengan mudah diamankan Dion Fernandez yang tampil cemerlang.

SSB Tunas Muda yang memasukkan Vian Tokan, Ardy Ora, Beny dan Ridwan dapat merusak pola permainan Britama. Alderon dari kiri dan Thomas dari kanan, memaksa lini belakang Britama berjibaku menghalau bola. Suhu pertandingan pun makin meninggi. Tak urung benturan-benturan keras sering terjadi. Tak segan-segan Herman Willa mengeluarkan kartu kuning bagi pemain yang melakukan pelanggaran. Britama yang kena batunya ketika bek kanannya, Algadri harus meninggalkanlapangan karena terkena akumulasi dua kartu kuning.

Bermain dengan sepuluh orang, Helmon Liko rupanya tidak mau mengambil risiko. Sole ditarik untuk memainkan Usman Asafah mengisi posisi bek kanan. Unggul dalam jumlah pemain, Tunas Muda terus menekan. Terhitung dua kali Maksi Kami yang sudah berhadapan dengan gawang yang kosong gagal mencetak gol. Hingga waktu 2x45 selesai, tidak ada tambahan gol yang tercipta.

Pertandingan dilanjutkan dengan tambahan waktu 2x15 menit. Namun hingga masa perpanjangan waktu usai, juga tak ada gol yang tercipta. Penentuan pemenang dilakukan lewat adu penalti. Saat Adu penalti, Dion tampil sebagai pahlawan. Tendangan Castello Branco dan Jimi Lebao berhasil ditepisnya, sedangkan tendangan Hendra Takunama hanya membentur mistar gawang lalu bergulir keluar. Britama hanya berhasil mencetak dua gol lewat Keny Mau dan Thimos Hayon. Sementara dari kubu Tunas Muda, Thomas dan Ardy gagal menaklukkan Ridwan Kamahi sedangkan Pinto, Alderon dan Maksi Kami sukses.

Stadion Oepoi pun pecah dengan teriakan histeris pemain Tunas Muda begitu Maksi Kami mencetak gol penentu. Isak tangis tak tertahankan dari pemain dan ofisial Tunas Muda. Dion Fernandez digendong dan diarak dalam lapangan. Tak ketinggalan ibu-ibu pun turun dari tribun berbaur dalam lapangan. Lolos ke final, Tunas Muda melalui perjalanan yang spektakuler. (eko)


Britama kurang beruntung

MENGACU pada kualitas tim, PS Britama Kupang seharusnya mampu mengalahkan SSB Tunas Muda. Namun, Britama Kupang kurang beruntung dan tidak bisa memanfaatkan peluang yang mereka peroleh. Demikian komentar kapten PS Britama Kupang, Kristoforus Umbu Yogar usai pertandingan melawan Tunas Muda di Stadion Oepoi-Kupang, Jumat (4/8) petang.

Contoh ketidakberuntungan Britama adalah peluang emas yang diperoleh lewat Ferdy Pere pada waktu normal 2x45 menit dan Hendra Takunawa. Hendra gagal mencetak gol dari titik penalti pada masa perpanjangan waktu. Seandainya Hendra sukses, Britama bisa menang 2-1.

Gagal ke final, Umbu Yogar jujur mengaku kecewa namun tetap menerima hasil pertandingan itu. Secara tim, Umbu mengatakan kalau Britama Kupang sudah bermain cukup baik sesuai pola dan strategi yang diinstruksikan Pelatih Helmon Liko. Namun, tambahnya, pola itu tidak berkembang secara maksimal. "Kami sudah kalah dan tidak mau mengkambinghitamkan siapa-siapa. Tetapi semua orang yang ada di stadion melihat bahwa kami banyak dirugikan," ujar Umbu. Umbu mencontohkan keputusan wasit saat timnya mendapat hukuman penalti. Seharusnya, demikian Umbu Yogar, wasit meniup pelanggaran untuk Britama, karena sebelum Gadri menyentuh bola, pemain Tunas Muda lebih dulu melakukan pelanggaran terhadap kiper Ridwan Kamahi.

Umbu Yogar juga memuji penampilan pemain-pemain Tunas Muda yang meski masih berusia belia, namun menampilan permainan berkualitas dan pantang menyerah. Umbu mengharapkan agar pemain-pemain Tunas Muda terus dibina secara baik agar suatu saat bisa mengharumkan nama daerah.

Pelatih SSB Tunas Muda, Johni Muda dan Anton Kia tak bisa menyembunyikan rasa sukacitanya atas hasil tersebut. Dengan berlinang air mata bahagia, Johni dan Anton mengaku nyaris tidak percaya kalau timnya sudah lolos ke final. "Ini hasil yang benar-benar spektakuler. Ketika kami lolos ke semifinal, saya sudah katakan bahwa ini sudah merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Namun, kini kami sudah di final, sesuatu yang tidak pernah kami bayangkan. Saya pikir ini adalah hasil perjuangan keras anak-anak dan dukungan semua pihak," ujar Johni. (eko)


Britama SoE incar juara III

GAGAL lolos ke final tentunya mengewakan PS Britama Kupang karena gagal mencapai target yang sudah dipatok. Namun perasaan itu harus dibuang jauh karena sore ini, Sabtu (5/8), mereka akan bertemu dengan PS Britama SoE untuk memperebutkan tempat ketiga turnamen sepakbola Dji Sam Soe-Pos Kupang Cup 2006.

Pertandingan penuh nuansa. Bagi Britama Kupang, partai ini mungkin tidak lagi bergengsi, tetapi tidak bagi Britama SoE. Klub dengan latar belakang sponsor yang sama bukan berarti yang satu harus mengalah. Gengsi daerah akan menjadi taruhan. Britama SoE tidak akan mengalah karena melawan ‘saudaranya’ sendiri.

Tekad untuk mencatat prestasi jauh-jauh hari sudah diungkapkan manejer Britama SoE, Adi Bisinglasi. "Kami memiliki target sendiri dalam turnamen ini. Kami ingin memberikan pengalaman kepada pemain-pemain muda yang ada. Bermain penuh dan total karena tak ada kata kalah bagi kami sebelum pertandingan berakhir," ujar Adi Bisinglasi.

Pelatih Britama SoE, Mathias Bisinglasi pun mengungkapkan hal yang sama. Mathias mengatakan, ia sudah merancang strategi untuk menghadapi Krisforus Umbu Yogar dkk. Sadar kalau lawan memiliki pemain yang bagus baik tim inti maupun cadangan, Mathias akan menurunkan skuad terbaiknya. "Kami akan menurunkan semua pemain terbaik yang ada. Kami tetap berusaha mencuri kemenangan atau meraih juara III karena target kami bukan hanya habis di turnamen ini," tandasnya.

Bagaimana dengan Britama Kupang? Umbu Yogar dkk tidak ingin dipermalukan di kandangnya sendiri. Target lolos ke final sudah lepas, namun bukan berarti mereka tidak menginginkan tempat ketiga. Britama Kupang yang tahun lalu merebut juara tiga dengan mengalahkan PS Sandel Wood tidak mau menyerah kalah begitu saja. Toh juara dengan merebut juara ketiga berarti prestasi tim asuhan Helmon Liko itu stabil.

Artinya, Krisforus Umbu Yogar dkk harus melupakan ‘kesedihan’ setelah dikalahkan SSB Tunas Muda, Jumat (4/8). Bermain penuh untuk merebut kemenangan tetap menjadi target. "Meski melawan Britama SoE, kami tetap akan bermain penuh untuk memenangkan pertandingan. Semua pemain kami siap, meski ada beberapa yang mendapat akumulasi kartu kuning," ujar Umbu Yogar.

Dua bek kiri dan kanan Britama Kupang, Algadri dan Marcel Bitol memang terkena larangan bertanding. Namun penggantinya, Usman Asafah dan Victor Kapitan memiliki kualitas yang seimbang. Kembalinya Primus Sivelmus akan membuat lini depan Britama Kupang semakin tajam. Namun untuk meraih kemenangan, mereka harus benar-benar melupakan ‘kesedihannya’ seperti tekad Umbu Yogar. Pasalnya, anak-anak SoE yang tentu bermain lepas akan menjadi momok yang mematikan kalau dibiarkan bebas memainkan bola.

Menarik untuk memberikan prediksi tentang hasil pertandingan ini. Britama Kupang akan berusaha untuk menyamai prestasi tahun lalu. Sedangkan Britama SoE yang sudah puas lolos ke semifinal akan bermain tanpa beban. Ada juga kemungkinan kalau jalannya pertandingan akan monoton dan tanpa greget karena keduanya tak saling menjegal. Kalau ini yang terjadi maka permainan bisa berlangsung anti-klimaks. (eko)

SYALOM